cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 913 Documents
Rumah Adat Kampung Pulo Cangkuang Kabupaten Garut sebagai Konsep Hunian Masa Kini Sriwardani, Nani; Savitri, Savitri
PANGGUNG Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i3.1013

Abstract

ABSTRACT The traditional house of Kampung Pulo could be categorized as a dwelling or a house for a family. Referring to its inhabitants consisting of 4-5 people in one house, as well as space that suit with the need its inhabitants. This research aims to assess the characteristic of the form of traditional house of Kampung Pulo, that is expected to be a basic concept of a contemporary dwelling. Methods used to analyze is descriptive with a qualitative approach. Data collection techniques employ interview, observation, and documentation. The data that is described, refer to various references,. The results are the prominent characteristic of the house forms in Kampung Pulo based on the proportion, material, meanings, and function. The continuity of this research is to be applied in design recommendations for housing planning, so that it could enrich a dwelling without lost its local elements.Keywords: Characteristic, a traditional house, Kampung Pulo, a traditional design, an alternative modern house.  ABSTRAK Rumah adat dari Kampung Pulo dapat dikategorikan sebagai suatu hunian atau rumah tinggal sebuah keluarga. Hal ini dikarenakan di dalam satu rumah adat hanya terdiri dari satu kepala keluarga yang anggotanya berjumlah 4-5 orang, serta luas yang sesuai kebutuhan dan aktivitas penghuninya. Bahasan ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik bentuk rumah adat Kampung Pulo, diharapkan dapat menjadi dasar dalam memenuhi  konsep hunian masa kini. Metode yang digunakan deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu studi rumah adat Kampung  Pulo, berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data dideskripsikan mengacu dari berbagai referensi, dan diolah untuk dianalisis. Hasilnya ditemukan keunggulan karakteristik bentuk rumah Kampung Pulo yaitu berdasarkan proporsi, material, makna dan fungsi. Keberlanjutan penelitian ini dapat diterapkan dalam suatu rekomendasi desain atau kebijakan untuk perancangan rumah sehingga memperkaya bangunan hunian tanpa kehilangan unsur-unsur lokal.Kata kunci: Karakteristik, rumah adat, Kampung Pulo, desain tradisional, alternatif rumah modern.
Memahami Makna Seni dalam Pencak Silat Ediyono, Suryo; Widodo, Sahid Teguh
PANGGUNG Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i3.1014

Abstract

ABSTRACTThe martial art or pencak silat is a combating method that philosophically teaches both spiritual and physical education helping the enthusiasts to live with the noble moral values in their society. The material object of this study is pencak silat and the formal object is the philosophy of arts or aesthetics of the pencak silat. This study aims to examine (1) norms or manners of pencak silat, (2) pencak silat style, (3)  pencak silat categories and pencak silat equipments. This research employs factual-historical method by means of description, analysis, and synthesis. The results are (1) norms of pencak silat are conceptually found in the attitude of performance, steps (gerak langkah), attack (serangan), and defense (belaan), (2) martial arts style consists of the mental-spiritual aspects, martial arts, arts, and sport, (3) arts in martial arts are subdivided into wiraga, wirama, and wirasa, and the martial arts equipments include specific use of costumes, weapons, and traditional music acompaniments. Keywords: martial arts style, pencak silat, philosophical values, wiraga-wirama-wirasa ABSTRAK Seni bela diri pencak silat sebagai metode bertarung secara filosofis mengajarkan pendidikan spiritual dan fisik untuk membantu para peminatnya dalam menghayati nilai-nilai moral yang luhur di dalamnya. Objek material dari penelitian ini adalah pencak silat dan objek formal adalah filsafat seni atau estetika dari pencak silat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menguji (1) norma atau perilaku pencak silat, (2) gaya pencak silat, (3) kategori pencak silat dan peralatannya. Penelitian ini menggunakan metode faktual-historis melalui deskripsi, analisis, dan sintesis. Hasilnya adalah (1) norma pencak silat yang secara konseptual ditemukan dalam sikap kinerja, gerak langkah, serangan, dan pertahanan (belaan), (2) gaya seni bela diri (aliran gaya) yang terdiri dari aspek mental-spiritual, bela diri, seni, dan olahraga, (3) seni dalam seni bela diri dibagi menjadi wiraga, wirama, dan wirasa serta peralatan seni bela diri termasuk penggunaan kostum, senjata khusus, dan pengiring musik tradisional.Kata kunci: gaya seni bela diri, pencak silat, nilai filosofis, wiraga-wirama-wirasa
KOMPARASI INTERIOR RUMAH TRADISIONAL NUSANTARA: RUMAH JOGLO YOGYAKARTA INDONESIA DAN RUMAH MELAKA MALAYSIA Anggriani, Swastika Dhesti; -, Ponimin; Sidyawati, Lisa; Ujang, Norsidah
PANGGUNG Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i3.1024

Abstract

This study aims to determine the differences and similarities between traditional houses in Nusantara with research samples taken from 2 countries namely Joglo traditional hoise in Yogyakarta Indonesia and Melaka traditional house in Melaka Malaysia. The research method used is qualitative by means of descriptive research that takes the type of comparative activities of traditional house in Nusantara. Data obtained from direct observation to the location (Yogyakarta and Malaysia), interviews with informants, and taking documents data in the form of photos, layout drawings, and images. The results showed similarities and differences between the Joglo traditional house in Yogyakarta, Indonesia and the Melaka tarditional house in Malaysia. Judging from the aspect of the building, the Joglo house was built directly above ground level while the Melaka house was built with a stage system. The different types of buildings, plus the different users and spatial activities, lead to differences in interior layout. However, both Joglo traditional house and Melaka traditional house were built in 1 building mass. Both houses also still use wood material in some parts of the house. In addition, the house is also supported by poles that use wood material. Keyword: Comparation, Interior, Traditional House, Joglo, Melaka  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan persamaan diantara rumah tradisional Nusantara dengan sampel penelitian yang diambil dari 2 negara yaitu rumah tradisional Joglo Yogyakarta Indonesia dan rumah tradisional Melaka Malaysia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan cara penelitian deskripsi yang mengambil jenis kegiatan komparasi rumah tinggal tradisional Nusantara. Data diperoleh dari observasi langsung ke lokasi (Yogyakarta dan Malaysia), wawancara kepada narasumber, serta mengambil data dalam bentuk dokumen berupa foto, gambar layout, dan gambar tampak. Hasil penelitian menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan antara rumah Joglo Yogyakarta, Indonesia dan rumah Melaka Malaysia. Ditinjau dari aspek bangunan, rumah Joglo dibangun langsung di atas permukaan tanah sedangkan rumah Melaka dibangun dengan sistem panggung. Perbedaan jenis bangunan ini, ditambah perbedaan pengguna dan aktivitas ruangnya, menyebabkan adanya perbedaan tata ruang interior di dalamnya. Akan tetapi, Baik rumah Joglo dan Rumah Melaka dibangun dalam 1 massa bangunan. Kedua rumah tersebut juga masih menggunakan material kayu di beberapa bagian rumah. Selain itu, rumah juga disangga oleh tiang yang menggunakan material kayu. Keyword: Komparasi, Interior, Rumah Tradisional, Joglo, Melaka
Budaya Tradisi Sebagai Identitas dan Basis Pengembangan Keramik Sitiwangun di Kabupaten Cirebon Yana, Deni; Dienaputra, Reiza D; Suryadimulya, Agus S; Sunarya, Yan Yan
PANGGUNG Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i2.1045

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi sentra kerajinan keramik Sitiwinangun di Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon yang produknya saat ini semakin menurun baik secara kualitas maupun  kuantitas. Keadaan ini  merupakan hal yang ironis mengingat sentra tersebut memiliki potensi sumber daya alam, manusia dan budaya yang cukup kuat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan produk kerajinan keramik    Sitiwinangun melalui pemanfaatan  budaya tradisi lokal sebagai penguatan identitas dan basis pengembangan produknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan budaya dan estetika melalui teori morfologi estetik dan metode ATUMICS dengan tahapan identifikasi, analisis, pengembangan desain, aplikasi desain dan evaluasi. Hasil dari penelitian ini berupa produk keramik yang lebih modern dalam bentuk karya seni, hias dan fungsi dengan identitas budaya tradisi lokal Cirebon. Budaya tradisi dalam konteks  konservasi dan revitalisasi kerajinan keramik secara umum dapat menjadi alternatif sebagai basis pengembangan dan penguatan identitas lokal produknya.Kata kunci : budaya, cirebon,keramik, sitiwinangun, tradisi. 
Inovasi Dolalak Lentera Jawa II karya Melania Sinaring Putri Rachmawati, Putri; Prihatini, Nanik Sri
PANGGUNG Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i4.1047

Abstract

ABSTRACTLentera Jawa II Dolalak Dance is a new dance composed by Melania Sinaring Putri in 2014. It was created to represent Indonesia at the festival in Malaysia on 12-15 November 2014. The creation is impressive because there are innovations made by the choreographer. The theory presented in the creation process is the theory of Alma M. Hawkins, which includes exploration, improvisation, and composition. The method used in this research is a qualitative method with ethnochroeology approach. The research findings conclude the forming of a new composition. The form of the performance produced looks masculine but coquettish because of the existence of the more energetic dance movements, large-volumed, and faster movement tempo. The level playing, the line in the floor formation, and energetic dancer’s strength is a result of innovation in this work. The choreography elements are compacted, so they only performed in 8 minutes long.Keywords: Lentera Jawa II Dolalak, creation process, innovation, choreographyABSTRAKTari Dolalak Lentera Jawa II merupakan sebuah karya tari baru yang disusun oleh Melania Sinaring Putri tahun 2014. Karya ini diciptakan untuk mewakili Indonesia pada Festival di Malaysia pada tanggal 12-15 November 2014. Garapan ini menarik karena terdapat inovasi yang dilakukan koreografer. Teori yang dijadikan sebagai pisau bedah proses penciptaan menggunakan teori Alma M. Hawkins, yaitu eksplorasi, improvisasi dan komposisi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan pendekatan etnokoreologi. Hasil penelitian ini menyimpulkan terbentuknya komposisi baru, bentuk sajian yang dihasilkan terkesan berkarakter gagah namun centil karena gerak tari yang dihasilkan lebih energik, bervolume besar dan adanya tempo gerak yang lebih cepat. Permainan level, garis pada formasi lantai, dan kekuatan pada penari yang energik merupakan hasil dari inovasi pada karya ini. Elemen-elemen koreografi yang dipadatkan menghasilkan pertunjukan yang berdurasi 8 menit.Kata Kunci: Dolalak Lentera Jawa II, proses penciptaan, inovasi, koreografi
Estetika Tari Réndéng Bojong Karya Gugum Gumbira Ramlan, Lalan; Jaja, Jaja
PANGGUNG Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i4.1048

Abstract

ABSTRAKTari Réndéng Bojongyang diciptakan oleh Gugum Gumbira pada tahun 1978 dan sepanjang tahun 1980-an, sangat populer di kalangan masyarakat Sunda.Akan tetapi, sejak pertengahan tahun 1990-an bentuk tarian ini tidak pernah terlihat lagi.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara komprehensif mengenai berbagai unsur yang membentuknya.Penelitian kualitatif ini mengggunakan teori estetika instrumental dengan metode deskriptif analisis yang tahapan penggalian datanya dilakukan melalui studi pustaka, observasi, dan studi dokumentasi.Berdasarkan hasil analisis diperoleh simpulan, bahwa tari jaiponganRéndéng Bojong itu wujudnya dibentuk oleh tiga unsur utama, yaitu “bentuk” terdiri dari struktur koreografi, struktur karawitan, dan penataan rias-busana; “bobot” terdiri dari eksistensi senimannya, konsep garap, dan proses garap; “penyajian” yaitu tarian berpasangan yang bernuansa pergaulan.Ketiga unsur tersebut terintegrasi menjadi sebuah kristalisasi estetika tari yang menjadi identitas tari Réndéng Bojong.Kata kunci: Estetika tari, jaipongan, Gugum Gumbira, tari Réndéng Bojong, estetika instrumental. ABSTRACTThe Réndéng Bojong dance, which was created by Gugum Gumbira in 1978 and throughout the 1980s, is prevalent among Sundanese people. However, since the mid-1990s, this dance form has never been seen again. The purpose of this study is to understand various elements forming it. This qualitative research uses the theory of instrumental aesthetics with descriptive analysis methods in which data collection uses several stages: library study, observation, and documentation study. The results of the analysis are the Jaipongan Réndéng Bojong dance was formed by three main elements, namely, first, "form" consisting of a choreographic structure, musical structure, and makeup arrangement. Second, "weight" includes the existence of the artist, the concept of working on, and the working process. Third, "presentation" is a paired dance with a social nuance. The three elements integrated into a dance aesthetic crystallization, which is the identity of Réndéng Bojong dance.Keywords: dance aesthetics, jaipongan, Gugum Gumbira, Réndéng Bojong dance, instrumental aesthetics.
Implikatur Ekspresi Tindak Tutur Verdiktif Srimpi Anglir Mendhung Maryono, Maryono
PANGGUNG Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i4.1049

Abstract

ABSTRACTUnderstanding of art will be complete if it can express a particular value. One source of values in art is the pleasure of its objectivity, which encompasses intrinsic and extrinsic values with aesthetical visualization. The values of implicature in the Srimpi Anglir Mendhung can be found by referring to the expression of verdictive speech acts in its verbal and nonverbal components. In order to study the implicature values contained in Srimpi Anglir Mendhung, the researcher uses a qualitative research methodology based on the theory of pragmatics and theory of performing arts. The strategies used for collecting data are a library study, a study of visual recordings, a study of audio recordings, and interviews. The technique of analysis is interactive and involves the triangulation of data, methodology, and theory. The results of the discussion show that the implicature in the expression of verdictive speech acts in Srimpi Anglir Mendhung is a form of adulation and homage to the noble king, Sultan Agung Hanyakra Kusuma from the Mataram Kingdom. The values of heroism and virtue contained in Srimpi Anglir Mendhung are a reflection of the values of life, which should be emulated and appreciated by the audience and general public.Keywords: implicature, expression of verdictive speech acts, and Srimpi Anglir Mendhung dance. ABSTRAKPemahaman tentang seni terjadi secara lengkap apabila mampu untuk mengungkapkan suatu nilai. Satu sumber nilai seni adalah kenikmatan yang diberikan oleh objektifitas terhadap nilai-nilai instrinsik dan ekstrinsik dengan visualisasi estetis. Merujuk pada ekspresi tindak tutur verdiktif pada komponen verbal dan nonverbal, Tari Srimpi Anglir Mendhung dapat ditarik implikatur nilainya. Untuk mengkaji implikatur nilai yang terkandung dalam Tari Srimpi Anglir Mendhung, peneliti menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan berlandaskan teori pragmatik dan teori seni pertunjukan. Strategi pengumpulan data berupa studi pustaka, studi rekaman visual, studi rekaman audio, dan wawancara. Teknik analisisnya bersifat interaktif dengan mentrianggulasikan data, metodologis, dan teori. Hasil pembahasan ditemukan bahwa implikatur ekspresi tindak tutur verdiktif Srimpi Anglir Mendhung merupakan bentuk sanjungan dan penghormatan terhadap raja yang dimuliakan yaitu Sultan Agung Hanyakra Kusuma dari Kerajaan Mataram. Nilai-nilai keprajuritan dan kebajikan yang terkandung dalam Srimpi Anglir Mendhung merupakan cerminan nilai-nilai kehidupan, layak diteladani dan diapresiasi oleh audiens maupun masyarakat luas.Kata kunci: ekspresi, implikatur, Tari Srimpi Anglir Mendhung, tindak tutur verdiktif
Estetika Lagu Rincik-rincik dalam Pertunjukan Ronggeng Tayub Suherti, Ocoh; Sudarsono, Tarjo
PANGGUNG Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i4.1050

Abstract

AbstrakTujuan dari penelitian ini menjelaskan estetika musikal dalam pertunjukan Ronggeng Tayub, khususnya lagu Rincik-rincik yang dalam sajiannya terdapat perpaduan garap musikal karawitan Sunda dan karawitan Jawa (Banyumasan). Ronggeng Tayub merupakan salah satu bentuk kesenian rakyat di Kabupaten Ciamis dan sekitarnya. Penelaahan dilakukan melalui kajian teknik tabuhan, repertoar lagu, syair lagu, serta menelaah relasi masyarakat dengan seni karawitan dalam kaitannya dengan pertunjukan Ronggeng Tayub di wilayah perbatasan Ciamis-Cilacap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode deskriptif analisis kualitatif. Teknik mengumpulkan data dilakukan melalui observasi lapangan yang didukung dengan wawancara dan perekaman kejadian guna mendapatkan validitas data yang lebih utuh dan menyeluruh. Sajian gending dalam lagu ini menghadirkan kesan kesedarhanaan yang mencerminkan konsep hidup masyarakat pendukungnya. Ronggeng Tayub memiliki bentuk pertunjukan yang sangat merakyat, menyatu, dan komunikatif dengan penontonnya. Lagu Rincik-rincik termasuk pada lagu “pesanan” dari penonton, sajian gendingnya khas, unik, dan dinamis dengan iringan instrumen gamelan salendro yang relatif sederhana.Kata Kunci: estetika musikal, rincik-rincik, ronggeng tayub, kesenian rakyat AbstractThe purpose of this study is to explain the musical aesthetic of the Ronggeng Tayub performance, especially the Rincik-rincik song, which combines Sundanese and Java musical instruments (Banyumasan). Ronggeng Tayub is folk art in District Ciamis and surrounding. The study of Rincik-rincik song includes percussion techniques, song repertoire, song poetry, and the relationship between the community and the Ronggeng Tayub. This study uses a qualitative descriptive-analytical method. The techniques used in this study are observation, interview, and recording in order to obtain a more complete and comprehensive data validity. The performance of gending in Ronggeng Tayub presents the impression of simplicity, reflecting the concept of the life of the people. Ronggeng Tayub has a simple form of performance, blending, and communicative with the audience. Rincik-rincik is one of “special request” song from its audience, by which its gending is unique and dynamic, accompanied by a simple gamelan slendro.Keywords: aesthetic, rincik-rincik, ronggeng tayub, artfolks 
Inovasi pada Morfologi Motif Parang Batik Tradisional Jawa Guntur, Guntur
PANGGUNG Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i4.1051

Abstract

ABSTRACTThis article discusses art innovation, especially the parang motive of traditional Javanese batik. Parang motive innovation seeks to identify changes and developments related to the main motives, inside motives (Javanese: isen), and supporting motives. Parang motif innovations also attempt to identify structural aspects or patterns of composing the primary motives, isen, and supporting motives, and colour-setting patterns. The approach used is comparative morphological parang motifs. Aspects of visual and structural forms of parang motives are compared with one another. The data sources used are the two primary literatures on traditional Javanese batik, which discusses parang motifs. The research results showed that the parang motives of traditional Javanese batik showed changes and developments or innovations. Parang motive innovations occur in the main motive elements, isen motives, and supporting motives. The parang motif innovation also occurs in the processing of parang forms and colouring patterns on fabrics.Keywords: art innovation, morphology, parang motif, Javanese traditional batikABSTRAKArtikel ini membahas tentang inovasi seni, khususnya motif parang batik tradisional Jawa. Inovasi motif parang berupaya mengidentifikasi perubahan dan perkembangan terkait motif utama, motif isian (Jawa: isen), dan motif pendukung. Inovasi motif parang juga berupaya mengidentifikasi aspek struktural atau pola penyusunan motif utama, isen, dan pendukung serta pola penyusunan warna. Pendekatan yang digunakan adalah komparatif morfologis motif parang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan sampel sebanyak duabelas motif parang. Aspek bentuk visual dan struktural motif parang diperbandingkan satu dengan yang lain. Sumber data yang digunakan adalah dua pustaka utama batik tradisional Jawa yang membahas tentang motif parang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif parang batik tradisional Jawa mengalami perubahan dan perkembangan atau inovasi. Inovasi motif parang terjadi pada elemen motif utama, motif isen, dan motif pendukung. Inovasi motif parang juga terjadi pada pengolahan bidang parang dan pola pewarnaan pada kain.Kata kunci: inovasi seni, morfologi, motif parang, batik tradisional Jawa
Teknik Potong Miring dan Teknik Laminasi dalam Proses Pembuatan Produk Kriya Kayu sebagai Upaya Efisiensi Bahan Bahrudin, Ahmad; Wahyono, Wahyono; Yuzaili, Nasral
PANGGUNG Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i4.1052

Abstract

ABSTRACTThe forests that are not well-preserved caused the scarcity of forest products, especially wood in its different use, such as wood for industrial, building construction, and crafts. This situation has brought a significant impact on the wood prices that is increased significantly due to the high demand for wood. However, the supply is decreased, especially some types of wood to make craft products, such as surian wood, sungkai, and jelutung. This research is conducted using an experimental research method with slanted cutting and lamination techniques in the manufacture of wood products. This method is used by carrying some experimental stages. The results are several craft products produced with various levels of efficiency and function of the product. This research can contribute to finding solutions in the use of wood as raw materials in the crafts manufacture, especially wood crafts, effectively and efficiently.Keywords: efficiency, slant cutting, lamination, craft ABSTRAKKondisi hutan yang tidak terjaga kelestariannya mengakibatkan semakin langkanya hasil hutan. Salah satunya adalah kayu, baik kayu untuk keperluan industri, konstruksi maupun untuk keperluan pembuatan karya kriya. Dampaknya, harga kayu membumbung tinggi. Hal ini disebabkan permintaan kayu sangat tinggi, tetapi pasokan kayu semakin langka, terutama beberapa jenis kayu untuk keperluan pembuatan produk kriya, seperti kayu surian, sungkai, dan jelutung. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode penelitian eksperimen dengan teknik potong miring dan laminasi pada pembuatan produk kayu. Metode ini digunakan untuk melakukan tahapan-tahapan eksprimental sehingga produk yang dihasilkan sesuai dengan yang telah direncanakan. Hasil yang telah dicapai dalam penelitian ini adalah beberapa produk kriya dengan berbagai tingkat efisiensi dan fungsi produk. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi salah satu solusi dalam penggunaan bahan baku kayu dalam pembuatan karya kriya khususnya, kriya kayu secara efektif dan efisien.Kata kunci: efisiensi, potong miring, laminasi, produk kriya

Filter by Year

2004 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi Vol 35 No 3 (2025): Estetika, Identitas, dan Digitalisasi: Praktik Seni dan Budaya Nusantara dalam P Vol 35 No 2 (2025): Representasi, Transformasi, dan Negosiasi Budaya dalam Media, Seni, dan Ruang So Vol 35 No 1 (2025): Wacana Seni dalam Identitas, Simbol, Pendidikan Karakter, Moral Spiritual dan Pr Vol 34 No 4 (2024): Dekonstruksi dan Rekonstruksi Identitas Budaya Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 34, No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33, No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33, No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreati Vol 33, No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33, No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32, No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32, No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 32, No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31, No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 31, No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30, No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Co Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue