cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan (Teori dan Praktik)
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 355 Documents
PENGGUNAAN MODUL PEMBELAJARAN PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT DENGAN PENDEKATAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR Dyah Tri Wahyuningtyas; Raddin Nur Shinta
Jurnal Pendidikan (Teori dan Praktik) Vol 2 No 1 (2017): Volume 2, Nomor 1, April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jp.v2n1.p12-20

Abstract

AbstrakPermasalahan yang sering dialami siswa sekolah dasar yaitu kesulitan dalam melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan yang melibatkan bilangan bulat negatif. Penggunaan buku paket dari pemerintah dan LKS hanya memuat soal-soal rutin yang hanya mengembangkan pengetahuan dan kecepatan siswa dalam berhitung tetapi belum mengembangkan keterampilan berfikir kritis dan kreatif mereka. Dampak dari penggunaan bahan ajar tersebut siswa kesulitan dalam memahami materi bilangan bulat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pembelajaran dengan menggunakan modul pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan pendekatan CTL yang dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa kelas IV Sekolah Dasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian yaitu 20 siswa kelas IVB SDN Kotalama 1 Malang. Produk penelitian ini berupa rancangan pembelajaran dengan menggunakan modul pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan pendekatan CTL. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan modul pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan pendekatan CTL dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa kelas IV SDN Kotalama 1 Malang dengan presentase keberhasilan yang telah ditetapkan peneliti tercapai pada siklus II yaitu persentase rata-rata skor hasil tes akhir meningkat dari 70% menjadi 85%, hal ini menunjukkan bahwa pemahaman konsep siswa semakin baik. AbstractProblems that are often experienced by elementary school students are difficulties in doing addition and subtraction operations involving negative integers. The use of government textbooks and worksheets contain only routine matters which only develop their knowledge and speed of students in math but have yet to develop critical thinking skills and their creative. The impact of the use of the instructional materials students difficulties in understanding the material integers. This study aimed to describe the learning by using learning modules addition and subtraction of integers with CTL approach that may improve understanding of the concept of Elementary School fourth grade students. The method used in this research is a classroom action research with research subjects are 20 of IV grade SDN Kotalama 1 Malang. The products of this research is the design of learning by using learning modules addition and subtraction of integers with CTL approach. The results showed the use of learning modules addition and subtraction of integers with CTL approach can improve understanding of the concept of fourth grade students of SDN Kotalama 1 Malang with a percentage of success that has been established researchers reached the second cycle is the average percentage score of final test results increased from 70% to 85%, this indicates that the better students' understanding of the concept.
Pengembangan Modul Berbasis SETS (Science, Environment, Technology, Society) Terintegrasi Nilai Islam di SMAI Surabaya pada Materi Ikatan Kimia Siti Zainatur Rahma; Sri Mulyani; Moh. Masyikuri
Jurnal Pendidikan (Teori dan Praktik) Vol 2 No 1 (2017): Volume 2, Nomor 1, April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jp.v2n1.p70-76

Abstract

AbstrakLatar belakang penelitian ini bermula dari minimnya jumlah sumber belajar kimia untuk siswa SMA/MA yang berbasis islam, adanya dikotomi ilmu pengetahuan dan agama serta model pembelajaran yang masih berpusat pada guru yang identik dengan ceramah, belum adanya modul yang terintegrasi nilai islam, dan hasil UN yang belum memenuhi KKM pada materi ikatan kimia. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Pengembangan produk modul kimia berbasis SETS terintegrasi nilai islam pada materi ikatan kimia, (2) Mengetahui kelayakan modul kimia berbasis SETS terintegrasi nilai islam, (3) Mengetahui keefektifan keterterapan modul kimia berbasis SETS terintegrasi nilai islam. Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah modul kimia berbasis SETS terintegrasi nilai islam pada materi ikatan kimia. Spesifikasi modul kimia berbentuk media cetak sebagai implementasi kurikulum 2013 berbasis kompetensi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Yapita, SMA HU, SMA Muhammadiyah 7, dan SMA IT Al-Uswah, di Surabaya . Sampel terdiri dari satu kelas pengguna modul dan satu kelas kontrol yang dipilih secara teknik random sampling. Uji reliabilitas menggunakan rumus Kuder Richardson. Sedangkan untuk validitas isi, digunakan formula Aiken. Teknik analisis data yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu; Pertama, Pengembangan modul kimia berbasis SETS terintegrasi nilai islam pada materi ikatan kimia dilakukan dengan menggunakan langkah pengembangan yang kemukakan oleh Borg & Gall (1983) sampai pada tahap ke sembilan. Kedua,  Pengembangan modul kimia berbasis SETS terintegrasi nilai islam dapat dikatakan œsangat baik ditinjau dari aspek materi 85,9%,  penyajian 85,8%, bahasa 85,4% dan kegrafisan 86,03%, sehingga dapat disimpulkan bahwa modul yang dikembangkan dikatakan œsangat baikuntuk digunakan dalam pembelajaran kimia. Ketiga, Pengembangan modul kimia berbasis SETS terintegrasi nilai islam yang dikembangkan efektif digunakan untuk meningkatkan hasil belajar para siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar menggunakan modul kimia berbasis SETS terintegrasi nilai islam lebih baik dari pembelajaran konvensional.                    AbstractThe backgrounds of this study were the inadequate of sources studied chemistry for islamic senior high school. The dichotomy between science, religion, and learning model that is centered on the teachers. They are identical to monotonous lecture. On the other hand the lack of integrated module with Islamic value and the result of the National Exam which has not met Criteria of Mastery Learning on chemical bonding topic. The goals of this study are: (1) Development of SETS based chemical module integrated to Islamic value on chemical bonding topic, (2) Determine the feasibility of SETS based chemical module integrated to Islamic value, (3) Determine the effectiveness of SETS based chemical module integrated to Islamic value. Product developed in this study was SETS based chemical module integrated to Islamic value on chemical bonding topic. Specifications is print media shaped as a competency based on curriculum implementation in 2013. Subjects in this study were class X high scool in Surabaya: Yapita, Hidayatul Ummah, Muhammadiyah 7, and IT Al-Uswah. The sample consists of one class of user modules and one control class were selected by random sampling technique. Reliability testing used Kuder Richardson formula. As for the validity of the content used the formula Aiken. Data analysis technique used descriptive qualitative. The conclusion of this study are; First, the development of SETS based chemical module integrated to Islamic value on chemical bonding topic is done by using Borg and Gall (1983) method up to the stage nine. Second, the development of SETS based chemical module integrated to Islamic value is qualified "very good" in terms of the material aspect of 85.9%, presenting 85.8%, language 85.4%, and graphic 86.03%. So it can be concluded that the developed module is "very good" to learn chemistry. Third, development of SETS based chemical module integrated to Islamic value is effectively used to improve student outcomes. It can be concluded that the result of learning using a SETS based chemical module integrated to Islamic value is better than conventional learning.Keyword: chemical module, SETS, islamic value, chemical bonding. 
Peran Keluarga dalam Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Sejak Usia Dini Mallevi Agustin Ningrum
Jurnal Pendidikan (Teori dan Praktik) Vol 2 No 1 (2017): Volume 2, Nomor 1, April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jp.v2n1.p39-43

Abstract

AbstrakJiwa wirausaha tidak dapat diperoleh secara instan dan dalam waktu yang singkat. Modal utama menjadi wirausaha yang sukses adalah motivasi yang kuat dari dalam diri individu disamping keberanian dalam mengambil resiko, ketekunan dan keuletan dalam menjalankan usahanya sehingga menjadikan entrepreneur yang tangguh dan tidak mudah putus asa. Hal tersebut akan terwujud apabila jiwa entrepreneur dapat dipupuk sejak usia dini. Tentunya di sini peran keluarga sangat besar karena keluarga merupakan pendidik yang pertama dan utama bagi anak. Usia dini merupakan masa yang sangat penting dalam pembentukan pola bagi kehidupan anak di masa yang akan datang. Pada masa inilah peran orangtua sangat diperlukan dalam membentuk pola kehidupan mereka yaitu dengan cara menanamkan nilai-nilai moral agama, memotivasi untuk rajin belajar sehingga harapannya nanti ketika sudah dewasa dapat menjadi orang yang sukses, serta mendidik anak dengan jiwa berwirausaha sehingga ketika dewasa nanti mereka akan menyadari pentingnya penanaman moral agama, kepribadian, dan tidak bergantung pada orangtua dari segi finansial. Kesuksesan tersebut tentunya dapat ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, latihan-latihan yang diperoleh sejak dini. Salah satu cara untuk menstimulasi tumbuhnya jiwa wirausaha anak sejak dini adalah melalui bermain dan pembiasaan. Pembiasaan anak dimulai dari bangun tidur sampai anak beraktivitas kembali merupakan metode yang tepat dan harus dilakukankan setiap hari sehingga anak-anak belajar bertanggung jawab dengan apapun yang dilakukannya. Untuk itu, peran ayah sebagai kepala keluarga harus dapat mendukung peran ibu yang tugas utamanya mengasuh dan mendidik anak agar jiwa wirausaha dapat dipupuk sejak usia dini. Keluarga berperan sangat besar dalam mengelola aktivitas anak sehari-hari. Tentunya di sini yang dapat mengkondisikan anak adalah orangtua. Jiwa wirausaha dapat dipupuk sejak dini dengan melibatkan kerjasama kedua orangtua baik peran ayah maupun ibu. AbstractEntrepreneurial spirit can not be obtained instantly and in a short time. The main capital became a successful entrepreneur is a strong motivation from within the individual in addition to courage in taking risks, perseverance and tenacity in running their business so as to make entrepreneurs are resilient and not easily discouraged. It will be realized if the entrepreneurial spirit can be nurtured from an early age. Of course, here the role of a very large family because the family is the first and primary educators for children. Early childhood is a crucial time in the formation of the pattern of life for children in the future. At this time the role of parents is indispensable in shaping their lives is by instilling moral values of religion, motivated to study hard so that his hopes later when fully grown can be successful, as well as to educate children with mental entrepreneurship so that as adults they will be aware of the importance of religious moral cultivation, personality, and not rely on parents financially. That success would be determined by education, experience, exercises derived from the outset. One way to stimulate the growth of an entrepreneurial spirit children early is through play and habituation. Habituation child starts from waking up to the child move back an appropriate method and should be underway every day so that children learn responsibility for whatever he does. To that end, the role of the father as the head of the family should be able to support the role of mothers whose primary job caring for and educating children to the entrepreneurial spirit can be nurtured from an early age. The family is very great role in managing the daily activities of children. Surely here to condition the child is the parent. Entrepreneurial spirit can be nurtured from an early age with both parents involved cooperation both father and mother  
Fungsi Manajemen Kepala Sekolah, Motivasi, dan Kinerja Guru Rita Lisnawati
Jurnal Pendidikan (Teori dan Praktik) Vol 2 No 2 (2017): Volume 2, Nomor 2, September 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jp.v2n2.p143-149

Abstract

AbstrakDalam dunia pendidikan saat ini banyak sekali persaingan. Output yang dihasilkan oleh sekolah harus sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Kepala sekolah sebagai manajer berperan penting dalam mewujudkan tujuan tersebut. Selain itu guru juga diharapkan tidak hanya mentransfer ilmu saja namun mampu memberikan kinerja dengan maksimal. Agar guru tersebut bisa mencapai kinerja yang maksimal maka harus didorongoleh motivasi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat fungsi manajemen kepala sekolah, motivasi guru, dan kinerja guru serta seberapa besar pengaruh motivasi guru terhadap kinerja guru.Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner (angket) yang desebarkan pada responden, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Respon yang diukur melalui kuesioner disesuaikan dengan 4 skala likert. Uji validitas menggunakan Pearson Product Moment. Teknik analisis yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian menggunakan analisis statistik deskriptif, sedangkan untuk menjawab hipotesis penelitian terkait motivasi guru dan kinerja guru menggunakan Analisis Infernsial Regresi Linier Sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Tingkat fungsi manajemen kepala sekolah berada pada kategori tinggi dengan nilai rata-rata jawaban responden sebesar 72,92. 2) Tingkat motivasi guru secara inferensial termasuk kategori tinggi dengan rata-rata skor 60 < µ ≤ 80. 3) Tingkat kinerja guru secara inferensial termasuk kategori tinggi dengan rata-rata skor 60 < µ ≤ 80. 4) Motivasi guru berpengaruh terhadap kinerja guru dengan koefisien determinasi model regresi linier sebesar 68,82 %. AbstractNowadays, there are many competitions in the world of education. Output which is generated by school should be in accordance with national education goals. Principal as the manager plays an important role in creating the goals. In addition, teachers are also expected not only to transfer knowledge but also to provide the maximum performance. In order to make teachers achieve maximum performance, they must be driven by high motivation. This research aims to find out how is the function level of principal management, motivation and performance of teacher and how big is the influence of teacher motivation on teacher performance.The technique of data collection is using a questionnaire which is spread to respondents, observations, interviews, and documentation. Responses were measured by questionnaire is adapted to 4 Likert scale. The test of validity is using Pearson Product Moment. The analysis technique which is used to answer the research questions is using the descriptive statistical analysis, while to answer the research hypothesis related to the motivation of teachers and teacher performance  is using Simple Linear Regression Inferential Analysis. The results showed that: 1) The level of function of principal management is in high category with an average value of respondents amounted to 72.92. 2) The level of teacher motivation inferentially is in high category with an average score of 60 < μ ≤ 80. 3) The level of teacher performance inferentially is in high category with an average score of 60 < μ ≤ 80. 4) The motivation of teachers affects the performance of teachers with determination coefficient of linear regression models by 68.82%.
Pengaruh Iklim Sekolah dan Supervisi Klinis terhadap Kualitas Proses Pembelajaran di Sekolah Dasar Gunungsari Lombok Barat Lutfiatun Muhibbah
Jurnal Pendidikan (Teori dan Praktik) Vol 2 No 2 (2017): Volume 2, Nomor 2, September 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jp.v2n2.p116-120

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui pengaruh iklim sekolah terhadap kualitas proses pembelajaran; (2) untuk mengetahui pengaruh supervisi klinis terhadap kualitas proses pembelajaran; dan (3) untuk mengetahui pengaruh iklim sekolah dan supervisi klinis terhadap kualitas proses pembelajaran secara bersama-sama di sekolah dasar Gunungsari Lombok Barat. Penelitian ini adalah penelitian expost facto. Sampel penelitian ini berjumlah 30 orang guru di Sekolah Dasar di Kecamatan Gunungsari Lombok Barat yang ditentukan dengan teknik Simple Random Sampling. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner, dokumentasi dan observasi.Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif, analisis regresi dan analisis korelasi parsial. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Iklim sekolah berpengaruh terhadap kualitas proses pembelajaran dilihat dari nilai koefisien korelasi parsial sebesar 0,518 dan nilai signifikansi sebesar 0,044, dan; 2) Supervisi klinis berpengaruh terhadap kualitas proses pembelajaran dilihat dari koefisien korelasi parsial sebesar 1,429 dan nilai signifikansi 0,016, dan; 3) Iklim Sekolah dan Supervisi Klinis berpengaruh terhadap kualitas proses pembelajaran dilihat dari hasil F sebesar 5,069 dan nilai signifikansi 0,014 < 0,05 ,dan koefisien determinasi sebesar 23,7%. Oleh karena itu, peningkatan kualitas proses pembelajaran dapat diupayakan melalui iklim sekolah kondusif dan supervisi klinis. AbstractThis research purpose: (1) to know the influence of school climate against quality of learning process; (2) to know the influence of clinical supervision against quality of learning process; and (3) to know the influence of school climate and clinical supervision as together impact on quality of learning process in Elementary School Gunungsari West Lombok. This research is ex post facto. Samples of this study were 30 teachers in an elementary school in the District of Gunungsari West Lombok determined by simple random sampling technique. Data collection instrument was a questionnaire, documentation and observation.Data analysis using descriptive analysis, regression analysis and partial correlation analysis. The results showed: 1) There is influence between school climate against quality of learning process seen from the partial correlation coefficient of 0.518 and a significance value of 0.044, and; 2) There is influence between Clinical Supervision against  quality of the learning process seen from the partial correlation coefficient of 1.429 and 0.016 significance value, and; 3) There are influence in together between Climate School and Clinical Supervision against quality of the learning process is seen from the F amounted to 5.069 and 0.014 significance value <0.05, and the coefficient of determination of 23.7%. Therefore, improving the quality of learning process can be pursued through a school climate conducive and clinical supervision.
Peningkatan Kemampuan Menulis Cerita Pendek Melalui Pendekatan Kontekstual Pada Siswa SMP Kelas VII Jatuh Padmi
Jurnal Pendidikan (Teori dan Praktik) Vol 2 No 1 (2017): Volume 2, Nomor 1, April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jp.v2n1.p31-38

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan menulis cerita pendek (cerpen) siswa kelas VII salah satu SMP swasta di Jakarta Tahun Ajaran 2014/2015 melalui pendekatan kontekstual baik proses maupun hasil belajar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan dengan metode penelitian campura (kualitatif dan kuantitatif).Penellitian ini menggunakan model penelitian Kemmis & Taggart yang terdiri dari 4 tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi dan dilaksanakan sebanyak 3 siklus.Pengumpulan data diperoleh melalui  tes menulis cerpen, observasi,wawancara, jurnaling siswa, dan dokumentasi. Data kualitatf dianalisis dengan cara menggambarkan proses penelitian tindakan dan kualitas kemampuan siswa dalam menulis cerpen melalui pendekatan kontekstual, sedangkan data kualitatif dianalisis menggunakan persentase distribusi normal. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menulis cerpen melalui pendekatan kontekstual mulai dari pra tindakan, siklus 1, siklus 2  dan siklus 3 dilihat dari nilai rata-rata, kategorisasi, dan skor rata-rata aspek penilaian cerpen. AbatractThe objective of this research was to improve the short story writing ability at grade VII student of one private junior high school in Jakarta of the 2014/2015 Academic Year through contextual approach, both process and outcomes of learning. It was an action research with mix-method research.(qualitative and quantitative). It used Kemmis & Taggarts action research model  which consists of four stages, namely planning, action, observation, and reflection and held in 3 cycles. The data were collected through short stories written tests, observation, interview, students journaling, and documentation. Qualitatf data was analyzed by describing the process of action research and the quality of students ability in short stories writing through contextual approach, while qualitative data was analyzed using the percentage of the normal distribution. The results showed an increase in the short stories writing ability through contextual approach ranging from pre-action, cycle 1, cycle 2 and cycle 3 seen from the average score, categorization, and the average score of short stories aspects of assessment. 
Konseling Krisis: Sebuah Pendekatan dalam Mereduksi Masalah Traumatik pada Anak dan Remaja Sestuningsih Margi Rahayu
Jurnal Pendidikan (Teori dan Praktik) Vol 2 No 1 (2017): Volume 2, Nomor 1, April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jp.v2n1.p65-69

Abstract

AbstrakMasalah kekerasan seksual, bullying dan perceraian dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan yang signifikan sehingga meninggalkan dampak traumatik yang sangat dalam kepada anak dan remaja. Traumatik yang ditimbulkan akan berdampak kepada aktivitas-aktivitas perilaku yang muncul seperti depresi, penyangkalan, malu, ketakutan, kesedihan, membolos, mimpi buruk, berbohong, dan psikosomatis. Oleh sebab itu dampak dari masalah yang dihadapi oleh anak dan remaja harus segera diatasi dengan intervensi yang tepat. Konseling krisis untuk mereduksi traumatik pada anak dan remaja meliputi konsep konseling krisis, tujuan dan fokus konseling krisis, teknik konseling krisis serta peran konselor dalam konseling krisis dan implementasi konseling krisis dalam mereduksi traumatik pada anak dan remaja.AbstractThe problem of sexual violence, bullying and divorce in recent years has increased significantly, leaving a very deep impact traumatic to children and adolescents. Traumatic generated will affect the activities of emergent behavior such as depression, denial, shame, fear, sadness, ditching, nightmares, lying, and psychosomatic. Therefore, the impact of the problems faced by children and adolescents must be addressed with appropriate intervention. Crisis counseling to reduce traumatic in children and adolescents include crisis counseling concepts, goals and focus on crisis counseling, crisis counseling techniques and the role of counselor in crisis counseling and implementation of crisis counseling in reducing traumatic in children and adolescents.
Implementasi Permendikbud No. 111 Tahun 2014 dan Implikasinya terhadap Kompetensi dan Uraian Tugas Guru Bimbingan Konseling Riskiyah Riskiyah
Jurnal Pendidikan (Teori dan Praktik) Vol 2 No 1 (2017): Volume 2, Nomor 1, April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jp.v2n1.p44-55

Abstract

AbstrakArtikel ini berisi ulasan mengenai seperangkat tugas guru BK dalam implementasi program bimbingan dan konseling berdasarkan Permen Dikbud No 111 Tahun 2014, untuk melakukan tugas-tugas tersebut ada seperangkat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru BK. Ulasan tugas dan syarat kompetensi berikut merupakan hasil dari pengkajian literatur tentang program bimbingan dan konseling komprehensif. Disajikan pula sistematika dalam mengimplementasikan keempat komponen program beserta konten dan strategi layanan yang telah digunakan selama dua tahun di SMA Negeri 2 Sumenep. Gagasan ini dapat menjadi alternatif model dalam mengembangkan program BK seperti yang diamanatkan dalam Permen Dikbud No 111 Tahun 2014. AbstractThis article describes about a set of school counselor duty regard to implementation of school counseling program according to Permen Dikbud No 111 Tahun 2014, in order to conduct the duties there is a set of competencies which is every counselor should have. The following job description and competencies is yield of many literature review about comprehensive school counseling program. Additionally there is an example of how to implement the four component of counseling program with some content and techniques that have been applied since last two years ago in SMA Negeri 2 Sumenep, this concept can be an alternate model in order to develop school counseling program according to Permen Dikbud No 111 Tahun 2014. 
Pengembangan Ketrampilan Berpikir Tingkat Tinggi dengan Menggunakan Strategi Metakognitif Model Pembelajaran Problem Based Learning Sucipto Sucipto
Jurnal Pendidikan (Teori dan Praktik) Vol 2 No 1 (2017): Volume 2, Nomor 1, April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jp.v2n1.p77-85

Abstract

AbstrakSecara umum capaian ketrampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik masih rendah dibanding negara lain. Untuk mengembangkan keterampilan berpikir  tingkat  tinggi, pendidik dituntut untuk menciptakan suasana belajar yang  mendukung  dan  menggunakan   strategi pembelajaran. Upaya meningkatkan ketrampilan berpikir peserta didik dapat dilakukan dengan meningkatkan ketrampilan metakognisinya. Ada berbagai jenis strategi metakognitif yang dapat dipilih pendidik, satu diantaranya menggunakan strategi pemecahan masalah (problem solving). Dalam proses pemecahan masalah, individu menggunakan kedua kemampuan kognitif dan keterampilan praktis, yang meliputi kegiatan metakognitif seperti analisis, sintesis dan evaluasi. Pembelajaran  berbasis masalah merupakan pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi siswa dalam situasi yang berorientasi pada masalah yang nyata, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. AbstractIn general, higher order thinking skills achievements of learners is still low compared to other countries. To develop higher order thinking skills, educators are required to create a learning atmosphere that supports and use learning strategies. Efforts to improve thinking skills that learners can do to improve metacognitive skills. There are different types of metacognitive strategies that can be selected educators, one of which uses problem solving strategies. In the process of solving problems, individuals using both cognitive abilities and practical skills, which include metacognitive activities such as analysis, synthesis and evaluation. Problem-based learning is an instructional approach used to stimulate students' higher order thinking in situations oriented real problems, including learning how to learn.
Metakognitif pada Proses Belajar Anak dalam Kajian Neurosains Ruqoyyah Fitri
Jurnal Pendidikan (Teori dan Praktik) Vol 2 No 1 (2017): Volume 2, Nomor 1, April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jp.v2n1.p56-64

Abstract

AbstrakKajian ini bertujuan menguraikan perkembangan metakognitif pada anak usia dini yang dikembangkan melalui bermain dan dikaitkan dengan teori neurosains agar dapat dipahami bagaimana anak belajar sesuai dengan cara kerja otak. Pada hakikatnya bermain anak adalah proses belajarnya. Belajar yang dimaksud di sini adalah aktifitas bermain yang diarahkan untuk menuntaskan tugas perkembangan anak usia dini.dalam hal ini adalah perkembangan kognitif. Pada umumnya kemampuan kognitif individu berkembang secara bertahap. Perkembangan kognitif sangat erat kaitannya dengan kemampuan berpikir. Keterampilan berpikir tersebut perlu dilatih dan terus ditingkatkan agar anak bisa menggunakan proses berpikirnya untuk menyelesaikan masalah belajarnya. Meningkatkan proses berpikir pada dasarnya adalah mengembangkan metakognitif. Proses metakognitif anak dilatihkan melalui kegiatan bermain mulai dari yang sederhana sampai ke yang lebih rumit. Keterampilan metakognitif berkaitan erat denganneurosains yang membahas tentang kinerja otak. Terjadinya proses berpikir tingkat tinggi yang merupakan keterampilan metakognitif seseorang adalah tugas dari bagian depan otak yang disebut dengan lobus prefrontal. Belahan otak bagian depan ini dikenal sebagai pusat kontrol eksekutif atau pusat terjadinya berpikir tingkat tinggi. Juga tempat upaya pemecahan masalah, regulasi demensi emosi, penentu watak dan karakter serta kepribadian seseorang. Dalam hal ini guru dan orang tua harus memperhatikan beberapa masa peka anak yang mendukung proses metakognitif sebagai pedoman pengelolaan pembelajaran di kelas diantaranya; (1) kontrol emosi, dengan menciptkan suasana emosi senang, (2) kontrol kognitif, dengan memilih metode yang mendukung kinerja otak, dan (3) kontrol motorik,  dengan melibatkan gerak fisik dalam proses pembelajaran. AbstractThe aim of this study outlines the metacognitive development in early childhood developed through play and is associated with the theory of neuroscience in order to understand how children learn according to how the brain works. In essence, a child's play is learning. Learn what is meant here is the play activities that are directed to complete the task of early childhood development. in this case is of cognitive development. In general, the individual's cognitive abilities develop gradually. Cognitive development is closely associated with the ability to think. The thinking skills need to be trained and continue to be improved so that children can use their thinking process to solve the problem of learning. Improving the thinking is essentially developing metacognitive. Metacognitive processes trained children through play activities ranging from simple to more complex. Metacognitive skills closely related to neuroscience that discusses the performance of the brain. The occurrence of high-level thought processes which constitute metacognitive skills a person is the job of the front part of the brain called the prefrontal lobe. These parts of the forebrain known as the executive control center or the center of the high-level thinking. Also the problem-solving effort, emotion regulation demensi, decisive character and the character and personality of a person. In this case the teachers and parents should pay attention to some sensitive period of child support metacognitive process as classroom management guidelines including; (1) control of emotions, happy emotions by creating an atmosphere, (2) cognitive control, by choosing a method that supports brain performance, and (3) motor control, involving the physical movement in the learning process.

Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 11 No 1 (2026): Vol. 11 No. 1 (2026): Volume 11, Nomor 1, Januari 2026 Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 (2025): Volume 10, Nomor 2, September 2025 Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 (2025): Volume 10, Nomor 1, April 2025 Vol 9 No 2 (2024): Vol. 9 No. 2 (2024): Volume 9, Nomor 2, September 2024 Vol 9 No 1 (2024): Vol. 9 No. 1 (2024): Volume 9, Nomor 1, April 2024 Vol 8 No 1 (2023): Vol. 8 No. 1 (2023): Volume 8, Nomor 1, April 2023 Vol 8 No 2 (2023): September 2023 Vol 7 No 2 (2022): Vol. 7 No. 2 (2022): Volume 7, Nomor 2, September 2022 Vol 7 No 1 (2022): Vol. 7 No. 1 (2022): Volume 7, Nomor 1, April 2022 Vol 6 No 2 (2021): Vol. 6 No. 2 (2021): Volume 6, Nomor 2, September 2021 Vol 6 No 1 (2021): Vol. 6 No. 1 (2021): Volume 6, Nomor 1, April 2021 Vol 5 No 2 (2020): VOLUME 5, NOMOR 2, September 2020 Vol 5, No 1 (2020): Volume 5, Nomor 1, April 2020 Vol 5 No 1 (2020): Volume 5, Nomor 1, April 2020 Vol 5, No 2 (2020) Vol 4, No 2 (2019): Volume 4, Nomor 2, September 2019 Vol 4 No 2 (2019): Volume 4, Nomor 2, September 2019 Vol 4, No 1 (2019): Volume 4, Nomer 1, April 2019 Vol 4 No 1 (2019): Volume 4, Nomer 1, April 2019 Vol 3, No 2 (2018): Volume 3, Nomor 2, September 2018 Vol 3, No 2 (2018): Volume 3, Nomor 2, September 2018 Vol 3 No 2 (2018): Volume 3, Nomor 2, September 2018 Vol 3, No 1 (2018): Volume 3, Nomor 1, April 2018 Vol 3 No 1 (2018): Volume 3, Nomor 1, April 2018 Vol 3, No 1 (2018): Volume 3, Nomor 1, April 2018 Vol 2, No 2 (2017): Volume 2, Nomor 2, September 2017 Vol 2 No 2 (2017): Volume 2, Nomor 2, September 2017 Vol 2, No 2 (2017): Volume 2, Nomor 2, September 2017 Vol 2, No 1 (2017): Volume 2, Nomor 1, April 2017 Vol 2, No 1 (2017): Volume 2, Nomor 1, April 2017 Vol 2 No 1 (2017): Volume 2, Nomor 1, April 2017 Vol 1, No 2 (2016): Volume 1, Nomor 2, September 2016 Vol 1, No 2 (2016): Volume 1, Nomor 2, September 2016 Vol 1 No 2 (2016): Volume 1, Nomor 2, September 2016 Vol 1 No 1 (2016): Volume 1, Nomor 1, April 2016 Vol 1, No 1 (2016): Volume 1, Nomor 1, April 2016 Vol 1, No 1 (2016): Volume 1, Nomor 1, April 2016 More Issue