cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes
Published by Forum Ilmiah Kesehatan
ISSN : 20863098     EISSN : 25027778     DOI : -
Core Subject : Health,
Journal of Health Research "Forikes Voice" is a medium for the publication of articles on research and review of the literature. We accept articles in the areas of health such as public health, medicine, nursing, midwifery, nutrition, pharmaceutical, environmental health, health technology, clinical laboratories, health education, and health popular.
Arjuna Subject : -
Articles 1,733 Documents
Psychosocial Intervention untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Caregiver dalam Merawat Pasien Kanker Astika Irmawaty Sigalingging; Elly Nurachmah; Agung Waluyo
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15446

Abstract

The burden of caregivers of cancer patients affects their quality of life, thus affecting their attitudes and actions in providing care to cancer patients. Appropriate interventions are needed to maintain quality of life and support caregivers in providing care to cancer patients. This study aimed to determine the effectiveness of psychosocial intervention on the quality of life of caregivers in caring for patients with cancer. This study was conducted based on PRISMA and identifying the effectiveness of psychosocial intervention for caregivers. Article searches used 5 electronic databases, namely PubMed, Sage, Scopus, ScienceDirect, and Cochrane Library by considering the inclusion criteria. Ten articles obtained were assessed using the JBI Critical Appraisal Tools. Based on the review results of 10 selected articles, it was found that psychosocial intervention is effective in improving the quality of life of caregivers of patients with cancer. The average intervention was carried out 4-5 meetings with a duration of 60-90 minutes. Interpersonal counseling strategies were considered more effective in implementing psychosocial intervention. The use of telephone and videophone technology is an effective tool to facilitate the implementation of interventions. Furthermore, it was concluded that psychosocial intervention is effective in improving the quality of life of caregivers.Keywords: cancer; caregiver; quality of life; psychosocial intervention ABSTRAK Beban caregiver pasien kanker memengaruhi kualitas hidup mereka sehingga berdampak terhadap sikap dan tindakan mereka dalam pemberian asuhan kepada pasien kanker. Intervensi yang tepat diperlukan untuk menjaga kualitas hidup serta mendukung caregiver dalam memberikan perawatan pada pasien kanker. Studi ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas psychosocial intervention terhadap kualitas hidup caregiver dalam merawat pasien dengan kanker. Studi ini dilakukan dengan berpedoman pada PRISMA dan mengidentifikasi efektifitas psychosocial intervention bagi caregiver. Pencarian artikel menggunakan 5 database elektronik yaitu PubMed, Sage, Scopus, ScienceDirect, dan Cochrane Library dengan mempertimbangkan kriteria inklusi. Sepuluh artikel yang diperoleh dinilai dengan JBI Critical Appraisal Tools. Berdasarkan hasil review dari 10 artikel terpilih, didapatkan hasil bahwa psychosocial intervention efektif untuk meningkatkan kualitas hidup caregiver pasien dengan kanker. Rerata intervensi dilakukan 4-5 pertemuan dengan durasi 60-90 menit. Strategi konseling interpersonal dinilai lebih efektif dalam penerapan psychosocial intervention. Penggunaan teknologi telepon dan videophone menjadi alat yang efektif memudahkan penerapan intervensi. Selanjutnya disimpulkan bahwa psychosocial intervention efektif untuk meningkatkan kualitas hidup caregiver.Kata kunci: kanker; caregiver; kualitas hidup; psychosocial intervention
Keberhasilan Upaya Penyehatan dan Higiene dan Sanitasi Air Minum dalam Meningkatkan Kualitas Bakteriologis Air Minum Isi Ulang Adelia Suryani; Agustin Kusumayati; Budi Hartono; Umar Fahmi Achmadi
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15443

Abstract

 Drinking water contaminated with pathogenic bacteria can cause health problems. The need for consumption of refill drinking water as one of the sources of drinking water in Jambi City is always increasing, as evidenced by the increasing number of refill drinking water depots (DAMIU) in Jambi City. This study aimed to analyze the bacteriological quality of refill drinking water in Jambi City. This study is descriptive with a cross-sectional design. The sample consisted of 96 DAMIU from all sub-districts in Jambi City and was selected by random sampling from January to February 2023. Data collection on the water treatment process was carried out through interviews and observations, while data on drinking water quality was collected by taking drinking water samples at each DAMIU. Bacteriological analysis was carried out through laboratory tests using the Compact Dry EC (CDEC) method, while data analysis on the water treatment process was carried out descriptively, bivariately to multivariately. Of the 96 DAMIU, 9 of them (9.4%) contained E. coli and coliform. The results of the analysis showed that there was no relationship between drinking water security efforts and the bacteriological content of water (p value = 0.173), there was a relationship between drinking water sanitation efforts and the bacteriological content of water (p value = 0.002) and there was a relationship between sanitation hygiene efforts and the bacteriological content of water (p value = 0.003). Furthermore, it was concluded that the bacteriological content of water was related to drinking water sanitation efforts and sanitation hygiene efforts at DAMIU in Jambi City.Keywords: refill drinking water; bacteriological quality; sanitation efforts; sanitation hygiene ABSTRAK Air minum terkontaminasi bakteri patogen dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Kebutuhan konsumsi air minum isi ulang sebagai salah satu sumber air minum di Kota Jambi selalu meningkat, dibuktikan dengan bertambahnya jumlah depot air minum isi ulang (DAMIU) Kota Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas bakteriologis air minum isi ulang yang ada di Kota Jambi. Penelitian ini berjenis deskriptif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 96 DAMIU dari seluruh kecamatan di Kota Jambi dan dipilih secara  random sampling mulai bulan Januari hingga Februari 2023. Pengumpulan data proses pengolahan air dilakukan melalui wawancara dan observasi, sedangkan data kualitas air minum dikumpulkan dengan mengambil sampel air minum pada setiap DAMIU. Analisis bakteriologis dilakukan melalui uji laboratorium menggunakan metode Compact Dry EC (CDEC), sedangkan analisis data proses pengolahan air dilakukan secara deskriptif, bivariat hingga multivariat. Dari 96 DAMIU sebanyak 9 di antaranya (9,4 %) memiliki kandungan E.coli dan koliform. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara upaya pengamanan air minum dengan kandungan bakteriologis air (nilai p = 0,173), ada hubungan antara upaya penyehatan air minum dengan kandungan bakteriologis air (nilai p = 0,002) dan ada hubungan antara upaya higiene sanitasi dengan kandungan bakteriologis air (nilai p = 0,003). Selanjutnya disimpulkan bahwa kandungan bakteriologis air berhubungan dengan upaya penyehatan air minum dan upaya higiene sanitasi pada DAMIU di Kota Jambi.Kata kunci: air minum isi ulang; kualitas bakteriologis; upaya penyehatan; higiene sanitasi
Usia sebagai Faktor Risiko dari Tumor Ganas Osteosarkoma Friska Desi Sabita; Yuni Prastyo Kurniati
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15404

Abstract

Osteosarcoma is an invasive bone tumor malignancy, grows aggressively and has a high mortality rate. One of the risk factors for this cancer is age. On the other hand, industrial areas increase the risk of this disease. The purpose of this study was to analyze age and proximity to industrial areas as risk factors for osteosarcoma. This study used a case-control design. Osteosarcoma was the case group and Giant Cell Tumor of Bone was the control group. A total of 142 samples were taken from medical records of bone tumor histopathology preparations at the Pathology Anatomy Laboratory, Faculty of Medicine, UMS using the purposive sampling method. The age variable was divided into groups of 0-18 years and >18 years. The cut-off point for the distance to the industrial area was 2.5 km. The measurement data of the variables were analyzed using the Chi-square test. The results of the study showed an effect of age on the incidence of osteosarcoma (p value = 0.01); but there was no effect of distance to the industrial area on the incidence of osteosarcoma (p value = 0.369). The conclusion of the study shows that age is a risk factor for osteosarcoma.Keywords: osteosarcoma; age; risk factors ABSTRAK Osteosarkoma adalah keganasan tumor tulang yang bersifat invasif, berkembang secara agresif serta memiliki tingkat mortalitas yang tinggi. Salah satu faktor risiko dari kanker ini adalah usia. Di sisi lain, kawasan industri meningkatkan risiko penyakit ini. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis usia dan kedekatan kawasan industri sebagai faktor risko kejadian osteosarkoma. Penelitian ini menggunakan desain case-control. Osteosarkoma merupakan kelompok kasus dan Giant Cell Tumor of Bone merupakan kelompok kontrol. Sejumlah 142 sampel diambil dari rekam medis sediaan histopatologi tumor tulang di Laboratorium Patologi Anatomi FK UMS dengan metode purposive sampling. Variabel usia terbagi menjadi kelompok 0-18 tahun dan >18 tahun. Cut off poin jarak terhadap kawasan industri adalah 2,5 km. Data hasil pengukuran variabel dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh usia terhadap kejadian osteosarkoma (nilai p = 0,01); namun tidak ada pengaruh jarak dengan kawasan industri terhadap kejadian osteosarkoma (nilai p = 0,369). Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa usia merupakan faktor risiko osteosarkoma.Kata kunci: osteosarkoma; usia; faktor risiko
Membangun Pemahaman Siswa tentang Nilai Gizi Melalui Edukasi Literasi Label Pangan Putri Nur Aini; Ayik Mirayanti Mandagi; Rifka Pramudia Wardani; Nurul Agustina Kurniawati; Rina Pertiwi; Afan Alfayad
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15439

Abstract

Lack of knowledge of adolescents about consumption patterns causes inappropriate consumption patterns. Changes in increasing knowledge about food labels can be attempted through education. This study aimed to determine the increase in students' knowledge after an intervention in the form of education on reading food labels. The design of this study was one group pretest-posttest. The subjects of this study were 44 intra-school student organization administrator of the Madrasah Aliyah Muhammadiyah 01 Jember. The intervention was carried out using lecture and discussion methods, and supplemented with exercises. The media used were posters and Power Point presentations. Furthermore, a comparative analysis of students' knowledge levels between before and after education was carried out, using a paired samples t-test. The results of the analysis showed that the average level of knowledge about reading food labels before the intervention was given was 40.54. After the intervention, the average increased to 60.68. The p-value of the t-test was 0.000, so it is interpreted that there is a difference in students' knowledge levels between before and after the intervention. Furthermore, it is concluded that food label literacy education is effective in increasing students' knowledge about how to read nutritional information on packaged food labels.Keywords: students; nutritional value; food labels; knowledge  ABSTRAK Kurangnya pengetahuan remaja tentang pola konsumsi menyebabkan terjadinya pola konsumsi yang kurang tepat. Perubahan peningkatan pengetahuan mengenai label pangan dapat diusahakan melalui edukasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan pengetahuan siswa setelah dilakukan intervensi berupa edukasi pembacaan label pangan. Desain penelitian ini adalah one group pretest-postest. Subjek penelitian ini adalah 44 pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah Madrasah Aliyah Muhammadiyah 01 Jember. Intervensi dilakukan dengan metode ceramah, diskusi, dan dilengkapi dengan latihan. Media yang digunakan poster dan prsentasi Power Point. Selanjutnya dilakukan analisis perbandingan tingkat pengetahuan siswa antara sebelum dan sesudah edukasi, menggunakan paired samples t-test. Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata tingkat pengetahuan tentang pembacaan label pangan sebelum diberikan intervensi adalah 40,54. Setelah intervensi, rerata meningkat menjadi 60,68. Nilai p dari uji t adalah 0,000, sehingga ditafsirkan bahwa ada perbedaan tingkat pengetahuan siswa antara sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Selanjutnya disimpulkan bahwa edukasi literasi label pangan efektif untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang cara membaca informasi nilai gizi pada label pangan kemasan.Kata kunci: siswa; nilai gizi; label pangan; pengetahuan  
Pengurangan Scar Luka Insisi Pasca Operasi Caesar Menggunakan Aplikasi Kinesio Taping Hakim, Supartina; Ramadhani, Nur Awalia Syahri
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15432

Abstract

Incision wounds from cesarean section can cause scars that can then form scar tissue, which can cause discomfort such as itching, pain, and hyperesthesia and even interfere with appearance. Over time, one way to overcome this has been found, namely the use of kinesio taping. The right application of kinesio taping can accelerate the healing of incision wounds. This study aimed to determine the effectiveness of kinesio taping applications to reduce scar tissue from incision wounds after cesarean section. The design of this study was a one group pre-test and post-test, involving 12 mothers within 3 weeks after cesarean section. In the phase before and after the application of kinesio taping, measurements were made of the length, width and color of the incision scars of post-cesarean section patients. Furthermore, a comparative test of the measurement results between before and after the intervention was carried out. The results of the study showed that the p value of the paired samples t-test was 0.000 for length, width and color. This shows that there was a difference in the three indicators between before and after the intervention. Thus, it could be concluded that the application of kinesio taping is effective in reducing scar tissue from incision wounds after cesarean section.Keywords: scar; cesarean section; kinesio taping ABSTRAK  Luka insisi dari operasi caesar dapat menimbulkan bekas luka yang kemudian bisa membentuk jaringan parut, yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan seperti gatal, nyeri, dan hiperestesia bahkan menganggu penampilan. Seiring zaman, ditemukan salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut yaitu penggunaan kinesio taping. Aplikasi kinesio taping yang tepat dapat mempercepat penyembuhan luka insisi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas aplikasi kinesio taping untuk menurunkan jaringan parut luka insisi pasca operasi caesar. Rancangan penelitian ini adalah one group pre test and post test, dengan melibatkan 12 ibu dalam masa 3 minggu pasca operasi caesar. Pada fase sebelum dan sesudah pemberian aplikasi kinesio taping dilakukan pengukuran panjang, lebar dan warna bekas luka insisi pasien pasca operasi caesar. Selanjutnya dilakukan uji perbandingan hasil pengukuran antara sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p dari paired samples t-test adalah 0,000 untuk panjang, lebar dan warna. Ini menunjukkan bahwa ada perbedaan ketiga indikator tersebut antara sebelum dan sesudah intervensi. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa aplikasi kinesio taping efektif untuk menurunkan jaringan parut luka insisi pasca operasi caesar.Kata kunci: jaringan parut; operasi caesar; kinesio taping 
Kombinasi Ekstrak Daun Jambu Biji dan Daun Pandan Wangi sebagai Obat Kumur untuk Menurunkan Debris Indeks pada Anak Tunanetra Trissiati, Risqi Erlina; Prasetyowati, Silvia; Mahirawatie, Ida Chairanna
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16117

Abstract

Poor oral hygiene, indicated by the presence of food remnants on the surface of the teeth, can lead to cavities and other health issues. People with visual impairments, whether totally blind or with low vision, often have poor dental health due to difficulty in monitoring their oral hygiene. This leads to suboptimal oral cleanliness, resulting in a poor debris index score. This study aims to test the effectiveness of gargling with a combination of guava leaf extract and pandan leaf solution on the debris index in children with visual impairments. The research methodology used is a quasi-experiment with a Nonequivalent Control Group design, involving 40 students divided into experimental and control groups, selected randomly with specific criteria. Data was collected through direct examination, and data analysis was performed using the Wilcoxon and Mann-Whitney tests. The results showed that the gargle solution made from guava leaf extract and pandan leaf effectively reduced the debris index in children with visual impairments at SLB-A YPAB, Surabaya.Keywords: Guava Leaf; Fragrant Pandan Leaves; Debris Index; Blind Children ABSTRAK Kebersihan mulut yang tidak terjaga ditandai dengan adanya sisa makanan pada permukaan gigi, dapat menyebabkan karies dan masalah kesehatan lainnya. Penyandang tunanetra, baik yang mengalami kebutaan total maupun low vision, seringkali memiliki kondisi gigi yang kurang sehat karena kesulitan dalam memantau kebersihan gigi mereka, hal ini menyebabkan kebersihan mulut yang tidak optimal, sehingga nilai debris indeks cenderung buruk. Tujuan penelitian ini adalah menguji efektivitas berkumur dengan kombinasi ekstrak daun jambu biji dan daun pandan wangi untuk memperbaiki debris index pada anak tunanetra. Studi ini menggunakan rancangan nonequivalent control group, yang melibatkan 40 siswa yang dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, yang dipilih secara acak dengan kriteria tertentu. Data tentang debris index dikumpulkan melalui pemeriksaan langsung, dan analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p untuk uji Wilcoxon pada kelompok perlakuan adalah 0,000 (ada perbedaan debris index antara sebelum dan sesudah intervensi) dan pada kelompok kontrol adalah 0,001 (ada perbedaan debris index antara sebelum dan sesudah intervensi). Nilai p dari hasil uji Mann-Whitney adalah 0,000 (ada perbedaan debris index antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Selanjutnya disimpulkan bahwa berkumur dengan kombinasi ekstrak daun jambu biji dan daun pandan wangi efektif untuk memperbaiki debris index pada anak tunanetra di SLB-A YPAB, Surabaya.Kata kunci: daun jambu biji; daun pandan wangi; debris index; anak tunanetra
Pengetahuan Perawat Kamar Operasi tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sebagai Penentu Kepatuhan Terhadap Standard Operating Procedure Penggunaan Alat Pelindung Diri Martzarini, Virginia; Yuswanto, Tri Johan Agus; Bachtiar, Arief
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15408

Abstract

Non-compliance with the use of personal protective equipment according to standard operating procedures by surgical nurses is often due to supervision factors, availability of equipment, and others. The operating room is a room that is at risk of threatening the health of officers, especially surgical nurses. This study aimed to determine the relationship between knowledge of hospital occupational safety and health and compliance with the implementation of standard operating procedures in the use of personal protective equipment by surgical nurses in the operating room. The research design used in this study was cross-sectional. The subjects of this study were 20 surgical nurses in the operating room in 2023, which were determined by the total sampling technique. Data on the level of knowledge were collected by filling out a questionnaire; while data on compliance with the use of personal protective equipment were collected through observation. Furthermore, data analysis was carried out using the Chi-square test. The results of the study showed that the p value of the correlation test was 0.001, so it was interpreted that there was a correlation between knowledge of hospital occupational safety and health and compliance with the implementation of standard operating procedures in the use of personal protective equipment by surgical nurses in the operating room. Furthermore, it was concluded that knowledge of occupational safety and health is a determinant of compliance with the implementation of standard operating procedures in the use of personal protective equipment by surgical nurses in the operating room.Keywords: occupational safety and health; operating room; nurse; knowledge; standard operating procedure; personal protective equipmentABSTRAK Ketidakpatuhan penggunaan alat pelindung diri sesuai standard operating procedure oleh perawat bedah sering dilakukan karena faktor pengawasan, ketersediaan alat, dan lain-lain. Kamar operasi adalah ruangan yang beresiko mengancam kesehatan petugas, khususnya perawat bedah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit dengan kepatuhan pelaksanaan standard operating procedure dalam penggunaan alat pelindung diri oleh perawat bedah di kamar operasi. Desain penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah cross-sectional. Subyek penelitian ini adalah 20 perawat bedah di kamar operasi pada tahun 2023, yang ditentukan dengan teknik total sampling. Data tentang tingkat pengetahuan dikumpulkan melalui pengisian kuesioner; sedangkan data tentang kepatuhan menggunakan alat pelindung diri dikumpulkan melalui observasi. Selanjutnya dilakukan analisis data menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p dari uji korelasi adalah 0,001, sehingga ditafsirkan bahwa ada korelasi antara antara pengetahuan tentang keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit dengan kepatuhan pelaksanaan standard operating procedure dalam penggunaan alat pelindung diri oleh perawat bedah di kamar operasi. Selanjutnya disimpulkan bahwa pengetahuan tentang keselamatan dan kesehatan kerja merupakan penentu kepatuhan pelaksanaan standard operating procedure dalam penggunaan alat pelindung diri oleh perawat bedah di kamar operasi.Kata kunci: keselamatan dan kesehatan kerja; kamar operasi; perawat; pengetahuan; standard operating procedure; alat pelindung diri
Obesitas dan Hiperhidrosis Sebagai Faktor Risiko Utama Onikokriptosis pada Masyarakat Pedesaan Rahmawati, Fitri; Hikmawati, Isna; Isnaini, Nur; Muzaenah, Tina
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16112

Abstract

Onychocryptosis is a nail disease that can cause infection, and can occur due to many factors, including age, gender and hyperhidrosis. The purpose of this study was to analyze the effect of age, gender, hyperhidrosis, family history, history of diabetes, body mass index, nail cutting habits and footwear use on the incidence of onychocryptosis in the community. This study applied a case-control design, involving 117 cases and 271 controls. Data collection was carried out using a validated questionnaire. Multivariate analysis was performed using logistic regression. The results showed that onychocryptosis occurred in severe obesity (52.8%), males (37.5%), under-adult age (27.5%), history of diabetes (21.2%), family history (33.3%), hyperhidrosis (17.9%), poor nail cutting habits (36.3%) and use of inappropriate footwear (21.7%). The incidence of onychocryptosis was associated with age (p = 0.019), body mass index (p <0.001), history of diabetes (p = 0.027), hyperhidrosis (p <0.001), nail cutting habits (p = 0.008) and footwear use (p = 0.001). Furthermore, it was concluded that age, hyperhidrosis, obesity and footwear use are factors that influence the incidence of onychocryptosis; with obesity as the most dominant risk factor.Keywords: onychocryptosis; age; hyperhidrosis; obesity ABSTRAK Onikokriptosis merupakan penyakit kuku yang bisa menyebabkan infeksi, dan bisa terjadi akibat banyak faktor, termasuk usia, jenis kelamin dan hiperhidrosis. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh usia, jenis kelamin, hiperhidrosis, riwayat keluarga, riwayat diabetes, indeks massa tubuh, kebiasaan memotong kuku dan penggunaan alas kaki terhadap kejadian onikokriptosis di masyarakat. Studi ini menerapkan desain case-control, yang melibatkan 117 kasus dan 271 kontrol. Pengumpulan data dilakukan dengan kueisioner yang telah tervalidasi. Analisis multivariat dilakukan menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa onikokriptosis terjadi pada obesitas berat (52,8%), laki-laki  (37,5%), usia di bawah dewasa (27,5%), riwayat diabetes (21,2%), riwayat keluarga (33,3%), hyperhidrosis (17,9%), kebiasaan memotong kuku yang kurang baik (36,3%) dan penggunaan alas kaki yang kurang sesuai (21,7%). Kejadian onikokriptosis berhubungan dengan usia (p = 0,019 ), indeks massa tubuh (p <0,001), riwayat diabetes  (p = 0,027), hiperhidrosis  (p <0,001 ), kebiasaan memotong kuku (p = 0,008) dan penggunaan alas kaki (p = 0,001). Selanjutnya disimpulkan bahwa usia, hiperhidrosis, obesitas dan penggunaan alas kaki merupakan faktor yang berpengaruh pada kejadian onikokriptosis; dengan obesitas sebagai faktor risiko paling dominan.Kata kunci: onikokriptosis; umur; hiperhidrosis; obesitas
Erupsi Gigi Incisivus Pertama Permanen pada Anak Down Syndrome menurut Jenis Kelamin Agus Marjianto; Siti Fitria Ulfah
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15401

Abstract

The growth and development of teeth in each individual is different and not simultaneous. Assessment of tooth maturation can be determined by tooth eruption. Permanent tooth eruption occurs gradually with age. Eruption of permanent incisor teeth is an early indicator of a child's growth and development. This study aimed to analyze the eruption time of the first permanent incisor teeth reviewed from the age of children with down syndrome. This study applied a cross-sectional design involving 51 children with down syndrome who were selected using a simple random sampling technique. Data were collected by examining the oral cavity and then recorded in an odontogram table. Furthermore, an analysis of differences in tooth eruption based on gender was carried out using an independent samples t-test. The results showed that the average eruption of the first permanent incisor teeth in males was 8.225, while in females it was 4.63. The results of the difference test showed a p value = 0.000. Based on the results of the analysis, it could be concluded that the eruption of the first permanent incisor teeth in children with down syndrome is different between males and females. Femaless teeth experience eruption of first permanent incisors earlier.Keywords: tooth eruption; first permanent incisors; down syndrome; girls ABSTRAK Pertumbuhan dan perkembangan gigi geligi pada setiap individu adalah berbeda dan tidak bersamaan. Penilaian maturasi gigi dapat ditentukan dengan erupsi gigi. Erupsi gigi permanen terjadi bertahap sejalan dengan bertambahnya usia. Erupsi gigi incisivus permanen merupakan indikator awal pertumbuhan dan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis waktu erupsi gigi incisivus pertama permanen ditinjau dari usia pada anak dengan down syndrome. Penelitian ini menerapkan rancangan cross-sectional dengan melibatkan 51 anak dengan down syndrome yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan dengan pemeriksaan rongga rongga mulut lalu dicatat pada tabel odontogram. Selanjutnya dilakukan analisis perbedaan erupsi gigi berdasarkan jenis kelamin menggunakan independent samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata erupsi gigi incisivus pertama permanen pada laki-laki adalah 8,225, sedangkan pada permpuan adalah 4,63. Hasil uji perbedaan menunjukkan nilai p = 0,000. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa erupsi gigi incisivus pertama permanen pada anak dengan down syndrome berbeda antara laki-laki dan perempuan. Anak perempuan gigi mengalami erupsi incisivus pertama permanen lebih awal.Kata kunci: erupsi gigi; incisivus pertama permanen; down syndrome; perempuan
Paparan Boraks pada Produk Makanan Kerupuk di Industri Rumah Tangga (Studi Karakteristik dan Risiko Pajanan) Yenny Ar Tanjung; Sugiyanta Sugiyanta; Nuri Nuri
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15442

Abstract

 Access to safe food is important for health, but food poisoning remains a major problem. In Indonesia, popular crackers often contain dangerous borax. Although cracker products have been licensed, this does not guarantee safety from hazardous materials such as borax. The purpose of this study was to identify and measure the levels of borax in crackers, calculate the Risk Quotient (RQ) value in cracker products containing borax, and analyze the Excess Cancer Risk (ECR) value in crackers exposed to borax in Jember Regency. This study filled the gap by focusing on the risk of borax exposure in crackers through an environmental health risk analysis method, using a quantitative approach. The study sample consisted of 35 crackers produced by home industries that potentially contain borax. Borax levels were measured using two tests, namely the turmeric test (qualitative) and the photometer (quantitative). Based on the results of qualitative and quantitative tests on cracker samples, it was found that 7 samples contained borax. The RQ value showed that cracker 1 had a value of 2.82 and cracker 2 was 4.26, both exceeding the threshold of 1, so that consumers are at risk of experiencing non-carcinogenic diseases. Meanwhile, the ECR value for cracker 1 was 0.03 and for cracker 2 was 0.04 which exceeds the limit of 0.0001, indicating the potential risk of carcinogenic diseases. Based on the results of the study, it was concluded that there is a potential carcinogenic and non-carcinogenic risk from crackers containing borax.Keywords: crackers; borax; excess cancer risk; risk quotient ABSTRAK Akses makanan aman penting untuk kesehatan, namun keracunan makanan tetap menjadi masalah besar. Di Indonesia, kerupuk yang populer sering mengandung boraks yang berbahaya. Meskipun produk kerupuk te;ah berizin, namun ini belum menjamin keamanan dari bahan berbahaya seperti boraks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengukur kadar boraks pada kerupuk, menghitung nilai Risk Quotient (RQ) pada produk kerupuk yang mengandung boraks, serta menganalisis nilai Excess Cancer Risk (ECR) pada kerupuk yang terpapar boraks di Kabupaten Jember. Penelitian ini mengisi kesenjangan dengan fokus pada risiko pajanan boraks pada kerupuk melalui metode analisis risiko kesehatan lingkungan, menggunakan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari kerupuk yang diproduksi oleh industri rumah tangga yang berpotensi mengandung boraks. Kadar boraks diukur menggunakan dua uji, yaitu uji turmerik (kualitatif) dan fotometer (kuantitatif). Berdasarkan hasil uji kualitatif dan kuantitatif terhadap 35 sampel kerupuk, ditemukan bahwa 7 sampel mengandung boraks. Nilai RQ menunjukkan bahwa kerupuk 1 memiliki nilai 2,82 dan kerupuk 2 adalah 4,26, keduanya melebihi ambang batas 1, sehingga konsumen berisiko mengalami penyakit non-karsinogenik. Sementara itu, nilai ECR pada kerupuk 1 adalah 0,03 dan pada kerupuk 2 sebesar 0,04 yang melampui batas 0,0001, menandakan potensi risiko penyakit karsinogenik. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa ada potensi risiko karsinogenik dan non-karsionogenik dari kerupuk yang mengandung boraks.Kata kunci: kerupuk; boraks; excess cancer risk; risk quotient

Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 1 (2026): January 2026 (up coming) Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025 Vol 16, No 3 (2025): Juli-September 2025 Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 (up coming) Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025 Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024 Vol 15, No 3 (2024): Juli-September 2024 Vol 15, No 2 (2024): April-Juni 2024 Vol 15, No 1 (2024): Januari-Maret 2024 2024 Vol 14, No 4 (2023): Oktober - Desember 2023 Vol 14, No 3 (2023): Juli - September 2023 Vol 14, No 2 (2023): April 2023 Vol 14, No 1 (2023): Januari 2023 2023 Vol 13, No 4 (2022): Oktober 2022 Vol 13, No 3 (2022): Juli 2022 Vol 13, No 2 (2022): April 2022 Vol 13, No 1 (2022): Januari 2022 Vol 13 (2022): Nomor Khusus Februari 2022 Vol 13 (2022): Nomor Khusus Januari 2021 2022 Vol 12, No 4 (2021): Oktober 2021 Vol 12, No 3 (2021): Juli 2021 Vol 12, No 2 (2021): April 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus April 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus November 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus Januari 2021 Vol 12, No 1 (2021): Januari Vol 11, No 3 (2020): Juli 2020 Vol 11, No 2 (2020): April 2020 Vol 11, No 1 (2020): Januari 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Mei-Juni 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Maret-April 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus November-Desember 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Januari-Februari 2020 Vol 11, No 4 (2020): Oktober Vol 10, No 4 (2019): Oktober 2019 Vol 10, No 3 (2019): Juli 2019 Vol 10, No 2 (2019): April 2019 Vol 10, No 2 (2019): April 2019 Vol 10, No 1 (2019): Januari 2019 Vol 9, No 4 (2018): Oktober 2018 Vol 9, No 3 (2018): Juli 2018 Vol 9, No 2 (2018): April 2018 Vol 9, No 1 (2018): Januari 2018 Vol 8, No 4 (2017): Oktober 2017 Vol 8, No 3 (2017): Juli 2017 Vol 8, No 2 (2017): April 2017 Vol 8, No 1 (2017): Januari 2017 Vol 7, No 4 (2016): Oktober 2016 Vol 7, No 3 (2016): Juli 2016 Vol 7, No 2 (2016): April 2016 Vol 7, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 6 (2015): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional 2010: Template More Issue