cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes
Published by Forum Ilmiah Kesehatan
ISSN : 20863098     EISSN : 25027778     DOI : -
Core Subject : Health,
Journal of Health Research "Forikes Voice" is a medium for the publication of articles on research and review of the literature. We accept articles in the areas of health such as public health, medicine, nursing, midwifery, nutrition, pharmaceutical, environmental health, health technology, clinical laboratories, health education, and health popular.
Arjuna Subject : -
Articles 1,733 Documents
Kecenderungan Gangguan Elektrolit dan Penyakit Penyerta pada Pasien Rawat Inap dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik Pattinaja, Vini Anjelia; Utama, Julvainda Eka Priya
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16118

Abstract

Chronic obstructive pulmonary disease is a systemic inflammatory disease of the upper and lower respiratory tract, characterized by limited airflow resulting in impaired gas exchange. This has an impact on hormonal disorders and causes hypercapnia resulting in electrolyte disorders. The systemic effects of chronic obstructive pulmonary disease can worsen other diseases and health status. The purpose of this study was to determine the characteristics of patients with chronic obstructive pulmonary disease who experience electrolyte disorders and other related diseases. This study was a descriptive survey involving all inpatients with chronic obstructive pulmonary disease in 2023, a total of 39 patients. Data were collected through a review of medical record report documentation in the form of brief medical profile notes on outpatient documents and laboratory examinations. Data were analyzed using descriptive statistical methods. The results showed that the characteristics of electrolyte disorders in chronic obstructive pulmonary disease include hyponatremia, hypokalemia, hypochloremia, hyperchloremia, two and more than two electrolyte disorders. As for comorbid diseases in chronic obstructive pulmonary disease, namely heart disease, lung disease, diabetes mellitus and two comorbid diseases. In conclusion, the majority of patients with chronic obstructive pulmonary disease who are hospitalized experience electrolyte disorders and have comorbid diseases.Keywords: chronic obstructive pulmonary disease; electrolyte disorders; comorbid diseases ABSTRAK Penyakit paru obstruktif kronik merupakan penyakit peradangan sistemik pada saluran nafas atas maupun bawah, ditandai dengan keterbatasan aliran udara sehingga terjadi gangguan pertukaran gas. Hal ini berdampak pada kelainan hormonal dan mengakibatkan hiperkapnia sehingga terjadi gangguan elektrolit. Efek sistemik dari penyakit paru obstruktif kronik adalah dapat memperburuk penyakit dan status kesehatan lainnya. Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakteristik pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik yang mengalami gangguan elektrolit dan penyakit terkait lainnya. Penelitian ini merupakan survei deskriptif dengan melibatkan semua pasien rawat inap yang mengidap penyakit paru obstruktif kronik pada tahun 2023, sejumlah 39 pasien. Data dikumpulkan melalui telaah dokumentasi laporan medical record berupa catatan profil medis ringkas pada dokumen rawat jalan dan pemeriksaan laboratorium. Data dianalisis menggunakan metode statistika deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik gangguan elektrolit pada penyakit paru obstruktif kronik antara lain hiponatremia, hipokalemia, hipokloremia, hiperkloremia, dua dan lebih dari dua gangguan elektrolit. Adapun penyakit komorbid pada penyakit paru obstruktif kronik yaitu penyait jantung, penyakit paru-paru, diabetes melitus dan dua penyakit komorbid. Sebagai kesimpulan, mayoritas pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik yang menjalani rawat inap mengalami gangguan elektrolit dan memiliki penyakit komorbid.Kata kunci: penyakit paru obstruktif kronik; gangguan elektrolit; penyakit penyerta
Kompres Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) untuk Meningkatkan Suhu Tubuh Ibu Nifas dan Menyusui dengan Pembengkakan Payudara Retno Dumilah; Ita Yuliani; Suprapti Suprapti; Asworoningrum Yulindawati
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf.v15i4.5416

Abstract

Breast engorgement due to narrowing of the lactiferous ducts, lack of breast milk production can cause fever and pain. Prompt treatment is essential to prevent mastitis, abscess, or sepsis. This study aimed to analyze the effectiveness of onion compresses (Allium ascalonicum L.) to reduce body temperature of postpartum and breastfeeding mothers with breast engorgement. This study is an experimental study with a one-group pretest and posttest design. The number of respondents involved was 30 postpartum and breastfeeding mothers, selected using a purposive sampling technique. All respondents received onion compresses for 15–30 minutes. As an effect, axillary temperature measurements were taken in the pre- and post-treatment phases. The difference in temperature between before and after treatment was compared using the Mc. Nemar test. The results of the analysis showed that in the pretest phase, the temperature of all respondents was 36.5°C-36.9°C; while in the posttest phase, 53.4% of respondents experienced an increase in body temperature to 37°C-37.5°C. The results of the hypothesis test showed a p value = 0.000, so it could be interpreted that there was a difference in body temperature between before and after treatment. Based on these results, it could be concluded that red onion compresses are effective in increasing the body temperature of postpartum mothers with breast swelling.Keywords: body temperature; red onion compress; breast swelling ABSTRAK Pembengkakan payudara akibat penyempitan saluran laktiferus kurangnya produksi airsusu ibu dapat mengakibatkan demam dan nyeri. Penanganan yang cepat sangat penting untuk mencegah mastitis, abses, atau sepsis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas kompres bawang merah (Allium ascalonicum L.) untuk menurunkan suhu tubuh ibu nifas dan menyusui dengan pembengkakan payudara. Studi ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan one group pretest and posttest. Jumlah responden yang terlibat adalah 30 ibu nifas dan menyusui, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Seluruh responden menerima kompres bawang merah selama 15–30 menit. Sebagai efek, dilakukan pengukuran suhu aksilar pada fase sebelum dan sesudah perlakuan. Perbedaan suhu antara sebelum dan sesudah perlakuan dibandingkan dengan uji Mc. Nemar. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada fase pretest, suhu seluruh responden adalah 36,5°C-36,9°C; sementara itu pada fase posttest, 53,4% responden mengalami peningkatan suhu tubuh menjadi 37°C-37,5°C. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai p = 0,000, sehingga dapat ditafsirkan bahwa ada perbedaan suhu tubuh antara sebelum dan sesudah perlakua. Berdasarkan hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kompres bawang merah efektif untuk meningkatkan suhu tubuh ibu nifas dengan pembengkakan payudara.Kata kunci: suhu tubuh; kompres bawang merah; pembengkakan payudara
Motivasi Ibu Sebagai Faktor Penentu Status Gizi Anak dengan Usia 1-5 Tahun Erlina Suci Astuti; Siti Nurlailiyah; Fitriana Kurniasari Solikhah; Naya Ernawati
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15411

Abstract

Nutrition is a real challenge for developing countries including Indonesia. Malnutrition puts children at risk of disease and complications. Children aged 1–5 years are passive consumers, so the adequacy of nutritional intake for children depends on food preparation by their mothers. This study aimed to analyze the influence of maternal demographic and motivational characteristics on the nutritional status of 1–5-year-old children. The design of the study was cross-sectional, involving 68 mothers at Anggrek Integrated Service Post, Pandanwangi Health Centre, Malang who were selected by total sampling technique. After conducting the measurement of the whole variables, next the obtained data were analyzed using the multiple logistic regression test. The results of the analysis showed that the p-value for maternal motivation was 0.004 (significantly affecting child nutritional status). However for the other factors, obtained p -value greater than 0.05, so it could be interpreted that education, income, feeding pattern, age, occupation, parity, knowledge, upper arm circumference during pregnancy, and history of exclusive breastfeeding did not influence significantly significantly affected child nutritional status. Thus, it was concluded that the determining factor of the nutritional status of 1–5-year-old children in Orchid Posyandu was maternal motivation.Keywords: nutritional status; children aged 1–5 years; maternal motivation ABSTRAK Permasalahan gizi merupakan tantangan nyata bagi negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Kekurangan gizi menyebabkan anak mengalami risiko penyakit dan komplikasi. Anak berusia 1-5 tahun merupakan konsumen pasif, sehingga kecukupan asupan gizi bagi anak bergantung kepada penyiapan makanan oleh ibunya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik demografi dan motivasi ibu terhadap status gizi anak berusia 1-5 tahun. Rancangan penelitian ini adalah cross-sectional, dengan melibatkan 68 ibu di Posyandu Anggrek, Puskesmas Pandanwangi, Malang yang dipilih dengan teknik total sampling. Setelah dilakukan pengukuran seluruh variabel, selanjutnya data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai p untuk motivasi ibu adalah 0,004 (berpengaruh secara signifikan terhadap status gizi anak). Namun untuk faktor lainnya, didapatkan nilai p lebih dari 0,05, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa pendidikan, pendapatan, pola asuh makan, umur, pekerjaan, paritas, pengetahuan, lingkar lengan atas saat hamil, dan riwayat pemberian air susu ibu eksklusif tidak berpengaruh secara signifikan terhadap status gizi anak. Dengan demikian, disimpulkan bahwa faktor penentu dari status gizi anak berusia 1-5 tahun di Posyandu Anggrek adalah motivasi ibu.Kata kunci: status gizi; anak berusia 1-5 tahun; motivasi ibu
Konsumsi Telur Rebus Ayam Vegetarian untuk Meningkatkan Kadar Hb Ibu Postpartum Renny Sinaga; Safrina Safrina; Vera Renta Siahaan
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15424

Abstract

Postpartum bleeding is at risk of anemia and maternal death. Postpartum bleeding is related to perineal wounds. Protein is one of the nutrients that has been proven to accelerate the wound healing process, with one popular source being chicken eggs. The purpose of this study was to analyze the differences in the effectiveness of giving boiled vegetarian and domestic chicken eggs to increase hemoglobin levels in postpartum mothers. The design of this study was pretest and posttest with control group. The study sample was 30 1-day postpartum mothers who experienced 1st and 2nd degree perineal tears, who gave birth at the midwife clinic in the Batu Anam Health Center area, selected using purposive sampling technique. A total of 15 postpartum mothers were given vegetarian chicken eggs and 15 postpartum mothers were given domestic chicken eggs. The time of giving chicken eggs was 7 days. Hemoglobin levels were measured in the phases before and after treatment in the group and then compared using the t-test. The results showed that the p value for the difference in hemoglobin levels between before and after treatment in both groups was 0.001 (both treatments could significantly increase hemoglobin levels). The p-value of the comparative test results of the increase between the two groups was 0.001 (the increase in hemoglobin levels was higher in the group given boiled vegetarian chicken eggs). It was concluded that giving boiled eggs successfully increased the hemoglobin levels of postpartum mothers, with the type of vegetarian chicken eggs being significantly better.Keywords: postpartum; hemoglobin; vegetarian chicken eggs ABSTRAK Perdarahan saat postpartum berisiko pada kejadian anemia hingga kematian maternal. Pendarahan postpartum berkaitan dengan luka perineum. Protein merupakan salah satu zat gizi yang terbukti dapat mempercepat proses penyembuhan luka, dengan salah satu sumber yang populer adalah telur ayam. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan efektivitas pemberian telur rebus ayam vegetarian dan ayam negeri untuk meningkatkan kadar hemoglobin pada ibu postpartum. Rancangan penelitian ini adalah pretest and posttest with control group. Sampel penelitian adalah 30 ibu postpartum 1 hari yang mengalami robekan perineum derajat 1 dan 2, yang bersalin di klinik bidan wilayah kerja Puskesmas Batu Anam, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Sebanyak 15 ibu postpartum diberi telur ayam vegetarian dan 15 ibu postpartum diberi telur ayam negeri. Waktu pemberian telur ayam adalah 7 hari. Pengukuran kadar hemoglobin dilakukan pada fase sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok dan selanjutnya dibandingkan dengan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p untuk perbedaan kadar hemoglobin antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kedua kelompok, masing-masing adalah 0,001 (kedua perlakuan dapat meningkatkan kadar hemoglobin secara signifikan). Nilai p hasil uji perbandingan peningkatan antara kedua kelompok adalah 0,001 (peningkatan kadar hemolobin lebih tinggi pada kelompok yang diberi telur rebus ayam vegetarian). Disimpulkan bahwa pemberian telur rebus berhasil meningkatkan kadar hemoglobin ibu postpartum, dengan jenis telur ayam vegetarian secara signifikan lebih baik. Kata kunci: postpartum; hemoglobin; telur ayam vegetarian
Pembersihan Jalan Nafas Pasien dengan Penyakit Paru Obstruksi Kronis Menggunakan Active Cycle of Breathing Technique Erwin Purwanto; Maryadi Maryadi; Indra Indra; Sartika Sartika
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15451

Abstract

Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) causes persistent cough that produces mucopurulent or purulent sputum. Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) is an alternative therapy to improve airway clearance. However, the effect of ACBT on airway clearance in patients with COPD from various previous studies still shows mixed and fragmented results. Therefore, an integrative review is needed to determine the effect of ACBT therapy on improving airway clearance in patients with COPD. This literature review uses five electronic databases, namely PubMed, ScienceDirect, ProQuest, EBSCO and Garuda, to search for relevant research articles published in 2014 to 2024 in English and Indonesian. This literature review obtained 213 articles, which then in the final phase obtained 8 articles that met the criteria. The results of the review showed that ACBT therapy was carried out on average in 2 minutes in one cycle with the most effective therapy implementation time of 15-20 minutes, which was carried out 2-3 times a day, proven to be effective in improving airway clearance in patients with COPD. This can be seen from the increase in sputum output, changes in breathing patterns, increased lung function as measured by Force Vital Capacity (FVC), Forced Expiratory Volume in one second (FEV1), and Oxygen Saturation (SpO2). Furthermore, it was concluded that ACBT has been proven effective in improving airway clearance in patients with COPD.Keywords: chronic obstructive pulmonary disease; active cycle of breathing technique; airway clearance ABSTRAK Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) menimbulkan batuk persisten yang menghasilkan sputum mukopurulen atau purulent. Active Cycle of Breathing Technique (ACBT) merupakan terapi alternatif untuk meningkatkan bersihan jalan napas. Namun, efek ACBT terhadap bersihan jalan napas pada pasien dengan PPOK dari berbagai penelitian sebelumnya masih menunjukkan hasil yang beragam dan terfragmentasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan tinjauan integratif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi ACBT terhadap peningkatan bersihan jalan napas pada pasien dengan PPOK. Literature review ini menggunakan lima database elektrolik yaitu PubMed, ScienceDirect, ProQuest, EBSCO dan Garuda, untuk mencari artikel penelitian yang relevan, yang diterbitkan pada tahun 2014 sampai 2024 dalam bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Tinjauan literatur ini mendapatkan 213 artikel, yang selanjutnya pada fase akhir didapatkan 8 artikel yang memenuhi kriteria. Hasil review menunjukkan bahwa terapi ACBT rata-rata dilaksanakan dalam 2 menit dalam satu siklus dengan waktu pelaksanaan terapi paling efektif 15-20 menit, yang dilakukan 2-3 kali sehari, terbukti efektif untuk meningkatkan bersihan jalan napas pasien dengan PPOK. Hal ini dilihat dari peningkatan pengeluaran sputum, perubahan pola pernapasan, meningkatnya fungsi paru yang diukur dari Force Vital Capacity (FVC), Forced Expiratory Volume in one second (FEV1), dan Saturasi Oksigen (SpO2). Selanjutnya disimpulkan bahwa ACBT terbukti efektif untuk meningkatkan bersihan jalan napas pada pasien dengan PPOK.Kata kunci: penyakit paru obstruksi kronis; active cycle of breathing technique; bersihan jalan napas
Jenis Operasi Sebagai Determinan Utama Suhu Tubuh Pasien Anak Pasca Operasi Demmanggasa, Vonny Sulystiawati; Pujiastuti, Nurul; Arif, Taufan; Martiningsih, Wiwin
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15423

Abstract

The body loses heat faster than heat production, so hypothermia can occur and become a critical condition. Children have a higher risk of hypothermia after surgery than adults. The purpose of this study was to determine the factors associated with the body temperature of pediatric patients after surgery. The design of this study was cross-sectional, involving 50 postoperative pediatric patients selected using purposive sampling techniques. The risk factors measured were age, body mass index, duration of surgery, type of surgery and type of anesthesia. After the data was completely collected, data analysis was carried out using the Pearson correlation test. The results showed a p value for each factor, namely age 0.006, body mass index = 0.000, duration of surgery = 0.010, type of surgery = 0.000 and type of anesthesia = 0.020. Thus, the five factors above were significantly correlated with the child's body temperature after surgery. Furthermore, it could be concluded that age, body mass index, duration of surgery, type of surgery and type of anesthesia are determinants of the child's body temperature after surgery, with the type of surgery as the main determinant.Keywords: body temperature; children; post-operative; type of surgery ABSTRAK Tubuh mengalami kehilangan panas lebih cepat dari produksi panas, maka dapat terjadi hipotermia dan menjadi suatu keadaan kritis. Anak-anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotermia setelah operasi dibandingkan orang dewasa. Tujuan penelitan yaitu mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan suhu tubuh pasien anak pasca operasi. Desain penelitian ini adalah cross-sectional, dengan melibatkan 50 pasien anak pasca operasiyang dipilih dengan teknik purposive sampling. Faktor risiko yang diukur adalah usia, indeks massa tubuh, lama operasi, jenis operasi dan jenis anestesi. Setelah data terkumpul lengkap, selanjutnya dilakukan analisis data menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan nilai p untuk masing-masing faktor yaitu usia 0,006, indeks massa tubuh = 0,000, lama operasi = 0,010, jenis operasi = 0,000 dan jenis anestesi = 0,020. Dengan demikian kelima faktor di atas secara signifikan berkorelasi dengan suhu tubuh anak pasca operasi. Selanjutnya bisa disimpulkan bahwa usia, indeks massa tubuh, lama operasi, jenis operasi dan jenis anestesi merupakan determinan suhu tubuh anak pasca operasi, dengan jenis operasi sebagai determinan utama.Kata kunci: Suhu tubuh; anak; pasca operasi; jenis operasi
Penggunaan Media Sosial TikTok Sebagai Faktor Risiko Insomnia pada Mahasiswa Keperawatan Safanah, Ashila Nur; Dolifah, Dewi; Rahmat, Delli Yuliana
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15436

Abstract

The use of social media without proper time management can be associated with a person's sleep patterns. This causes the development of insomnia disorders, including in students. Therefore, it is necessary to conduct research that aimed to analyze the use of TikTok social media as a risk factor for insomnia in nursing students. This study was a cross-sectional study involving 116 randomly selected undergraduate nursing students. Data on TikTok use and insomnia incidence were collected by filling out a questionnaire. Data were analyzed descriptively in the form of frequency and proportion and continued with the Chi-square test. The results showed that the p value of the hypothesis test was 0.044, so it was interpreted that the use of TikTok social media was correlated with the incidence of insomnia. It could be concluded that the use of TikTok social media is a risk factor for insomnia in nursing students.Keywords: nursing students; TikTok social media; insomnia ABSTRAK  Penggunaan media sosial tanpa manajemen waktu yang tepat dapat dikaitkan dengan pola tidur seseorang. Hal ini menyebabkan berkembangnya gangguan insomnia, termasuk pada mahasiswa. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis penggunaan media sosial TikTok sebagai faktor risiko kejadian insomnia pada mahasiswa keperawatan. Penelitian ini adalah sebuah studi cross-sectional yang melibatkan 116 mahasiswa sarjana keperawatan yang dipilih secara random. Data tentang penggunaan TikTok dan kejadian insomnia dikumpulkan melalui pengisian kuesioner. Data dianalisis secara deskriptif berupa frekuensi dan proporsi dan dilanjutkan dengan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p dari pengujian hipotesis adalah 0,044, sehingga ditafsirkan bahwa penggunaan media sosial TikTok berkorelasi dengan kejadian insomnia. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan media sosial TikTok merupakan faktor risiko insomnia pada mahasiswa keperawatan.Kata kunci: mahasiswa keperawatan; media sosial TikTok; insomnia
Peran Perawat Selaku Caregiver Sebagai Prediktor Pemenuhan Kebutuhan Spiritual Pasien di Ruang Rawat Inap Indriani, Indriani; Haerianti, Masyita; Sastriani, Sastriani; Megawaty, Irna; Mursid, Aco
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf.v16i1.4762

Abstract

Spiritual needs are the need to find meaning and purpose in life, the need to love and be loved, the need to feel connected, and the need to give and receive forgiveness. Spiritual needs are part of providing nursing care. Nurses are expected to be able to implement the role of caregivers that aims to meet biological, psychological, social, and spiritual needs. The purpose of this study was to determine the relationship between the fulfillment of patients' spiritual needs and the role of nurses as caregivers in hospital inpatient rooms. This study applied a cross-sectional design. The subjects of the study were 67 nurses selected using purposive sampling techniques. Data were collected by filling out questionnaires, then analyzed descriptively and continued with the Chi square test. The results of the analysis showed a p value of <0.001, so it can be interpreted that there is a relationship between the fulfillment of patients' spiritual needs and the role of nurses as caregivers in hospital inpatient rooms. Thus, it can be concluded that the role of nurses as caregivers is a predictor for the fulfillment of patients' spiritual needs in hospital inpatient rooms.Keywords: caregiver; nurse; spiritual needs ABSTRAK Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mencari arti dan tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, kebutuhan untuk merasa terhubung, dan kebutuhan untuk memberi dan mendapat maaf. Kebutuhan spiritual menjadi salah satu bagian dalam pemberian asuhan keperawatan. Perawat diharapkan mampu menerapkan peran sebagai caregiver yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pemenuhan kebutuhan spiritual pasien dengan peran perawat sebagai caregiver di ruang rawat inap rumah sakit. Penelitian ini menerapkan rancangan cross-sectional. Subyek penelitian adalah 67 perawat yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner, selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan diteruskan dengan uji Chi square. Hasil analisis menunjukkan nilai p adalah <0,001, sehingga bisa diinterpretasikan bahwa ada hubungan antara pemenuhan kebutuhan spiritual pasien dengan peran perawat sebagai caregiver di ruang rawat inap rumah sakit. Maka dapat disimpulkan bahwa peran perawat selaku caregiver merupakan prediktor bagi pemenuhan kebutuhan spiritual pasien di ruang rawat inap rumah sakit.Kata kunci: caregiver; perawat; kebutuhan spiritual
Yoga sebagai Terapi Komplementer untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Pasien dengan Kanker Payudara Anggraini, Nita; Waluyo, Agung; Novieastari, Enie
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15450

Abstract

Breast cancer treatments, such as surgery, chemotherapy, radiotherapy, still have negative impacts on women's lives, including changes in physical, psychological, social, and sexual aspects. Many women view cancer as a devastating disease and as a punishment, involving feelings that are difficult to manage such as social stigma, fear of death, sadness and shame. Stress is associated with decreased quality of life, poor compliance, and discontinuation of treatment. Anxiety is characterized by feelings of intense, excessive, and persistent worry that negatively affect the patient's quality of life. This review aimed to determine the effectiveness of yoga therapy to improve the quality of life of patients with breast cancer. This study was a systematic review, sourced from seven databases, namely Proquest, PubMed, ScienceDirect, Sage Journals, MDPI, Springer link and Google Scholar. The clinical questions used include problems, interventions and outcomes. The search results were 8 literatures which were then synthesized and presented descriptively. The review results showed that the literature reports that with varying experimental designs, yoga had succeeded in improving the quality of life of patients with breast cancer. In this case, each literature had a design with a varied control group, so there was also variation in terms of measuring the quality of life of patients. Furthermore, it is concluded that yoga is effective in improving the quality of life of patients with breast cancer.Keywords: breast cancer; yoga intervention; quality of life of breast cancer patients ABSTRAK Pengobatan kanker payudara, seperti pembedahan, kemoterapi, radioterapi, masih memiliki dampak negatif pada kehidupan wanita, termasuk perubahan dalam aspek fisik, psikologis, sosial, dan seksual. Banyak wanita memandang kanker sebagai penyakit yang menghancurkan dan sebagai hukuman, yang melibatkan perasaan-perasaan yang sulit untuk dikelola seperti stigma sosial, ketakutan akan kematian, kesedihan dan rasa malu. Stres berkaitan dengan penurunan kualitas hidup, kepatuhan yang buruk, dan penghentian pengobatan. Kecemasan ditandai oleh perasaan khawatir yang intens, berlebihan, dan persisten yang berpengaruh negatif terhadap kualitas hidup pasien. Review ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi yoga untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan kanker payudara. Studi ini merupakan systematic review, yang bersumber dari tujuh database yaitu Proquest, PubMed, ScienceDirect, Sage Journals, MDPI, Springer link dan Google Scholar. Pertanyaan klinis yang digunakan mencakup problem, intervention dan outcome. Hasil pencarian adalah 8 literatur yang selanjutnya disintesis dan disajikan secara deskriptif. Hasil review menunjukkan bahwa literatur-literatur tersebut melaporkan bahwa dengan rancangan eksperimental yang bervariasi, yoga berhasil meningkatkan kualitas hidup pasien dengan kanker payudara. Dalam hal ini, masing-masing literatur memiliki rancangan dengan kelompok kontrol yang bervariasi, demikian ada variasi pula dalam hal pengukuran kualitas hidup pasien. Selanjutnya disimpulkan bahwa  yoga efektif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan kanker payudara.Kata kunci: kanker payudara; intervensi yoga; kualitas hidup pasien kanker payudara
Edukasi Gizi Berbasis Film Pendek untuk Meningkatkan Kebiasaan Makan dan Pengetahuan Remaja Wulandari, Agnes Maharani Puji; Marlina, Paramitha Wirdani Ningsih
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf.v16i1.4954

Abstract

Knowledge about nutrition is one of the causes of nutritional problems due to adolescent food choices and body image perceptions. Education using short films can be an alternative to solving knowledge and practice problems in adolescents. The purpose of this study was to test the effectiveness of education with short films to improve eating habits and knowledge in adolescents. The design of this study was pretest-posttest with control group. The sampling technique was by simple random sampling involving 74 adolescents, each group consisting of 37 people. Adolescents watched films together online 3 times with a duration of 7-8 minutes per series. The instruments used to measure the level of knowledge were balanced nutrition and body image questionnaires, while eating habits were measured by the Adolescent Food Habits Checklist (AFHC). Data analysis was carried out using the Wilcoxon test. The results of the analysis in the treatment group with short films showed that the p value for eating habits was 0.000 (there was a difference in eating habits between before and after the intervention); while the p value for knowledge was 0.001 (there was a difference in knowledge about balanced nutrition and body image between before and after the intervention). In the control group, the p-value for eating habits was 0.115 (no difference in eating habits between before and after the intervention); while the p-value for knowledge was 0.396 (no difference in knowledge about balanced nutrition and body image between before and after the intervention). Based on the results of the study, it was concluded that education using short films was successful in improving eating habits and knowledge about balanced nutrition and body image.Keywords: adolescents; nutrition education; short films; knowledge; balanced nutrition; body image; eating habits ABSTRAK Pengetahuan tentang gizi merupakan salah satu penyebab masalah gizi dikarenakan pemilihan jenis makanan remaja dan persepsi body image. Edukasi menggunakan film pendek dapat menjadi alternatif untuk penyelesaian masalah pengetahuan dan praktik pada remaja. Tujuan penelitian ini yaitu menguji efektivitas edukasi dengan film pendek untuk meningkatkan kebiasaan makan dan pengetahuan pada remaja. Desain penelitian ini yaitu pretest-posttest with control group. Teknik pengambilan sampel yaitu dengan cara simple random sampling yang melibatkan 74 remaja, masing-masing kelompok terdiri atas 37 orang. Remaja 3 kali menonton film bersama-sama secara online dengan durasi 7-8 menit per-series. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan adalah kuesioner gizi seimbang dan body image, sedangkan kebiasaan makan diukur dengan Adolescent Food Habits Checlist (AFHC). Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon. Hasil analisis pada kelompok perlakuan dengan film pendek menunjukkan bahwa nilai p untuk kebiasaan makan adalah 0,000 (ada perbedaan kebiasaan makan antara sebelum dan sesudah intervensi); sedangkan nilai p untuk pengetahuan adalah 0,001 (ada perbedaan pengetahuan tentang gizi seimbang dan body image antara sebelum dan sesudah intervensi). Pada kelompok kontrol, nilai p untuk kebiasaan makan adalah 0,115 (tidak ada perbedaan kebiasaan makan antara sebelum dan sesudah intervensi); sedangkan nilai p untuk pengetahuan adalah 0,396 (tidak ada perbedaan pengetahuan tentang gizi seimbang dan body image antara sebelum dan sesudah intervensi). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa edukasi menggunakan film pendek berhasil meningkatkan kebiasaan makan dan pengetahuan tentang gizi seimbang dan body image.Kata kunci: remaja; edukasi gizi; film pendek; pengetahuan; gizi seimbang; body image; kebiasaan makan

Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 1 (2026): January 2026 (up coming) Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025 Vol 16, No 3 (2025): Juli-September 2025 Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 (up coming) Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025 Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024 Vol 15, No 3 (2024): Juli-September 2024 Vol 15, No 2 (2024): April-Juni 2024 Vol 15, No 1 (2024): Januari-Maret 2024 2024 Vol 14, No 4 (2023): Oktober - Desember 2023 Vol 14, No 3 (2023): Juli - September 2023 Vol 14, No 2 (2023): April 2023 Vol 14, No 1 (2023): Januari 2023 2023 Vol 13, No 4 (2022): Oktober 2022 Vol 13, No 3 (2022): Juli 2022 Vol 13, No 2 (2022): April 2022 Vol 13, No 1 (2022): Januari 2022 Vol 13 (2022): Nomor Khusus Februari 2022 Vol 13 (2022): Nomor Khusus Januari 2021 2022 Vol 12, No 4 (2021): Oktober 2021 Vol 12, No 3 (2021): Juli 2021 Vol 12, No 2 (2021): April 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus April 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus November 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus Januari 2021 Vol 12, No 1 (2021): Januari Vol 11, No 3 (2020): Juli 2020 Vol 11, No 2 (2020): April 2020 Vol 11, No 1 (2020): Januari 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Mei-Juni 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Maret-April 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus November-Desember 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Januari-Februari 2020 Vol 11, No 4 (2020): Oktober Vol 10, No 4 (2019): Oktober 2019 Vol 10, No 3 (2019): Juli 2019 Vol 10, No 2 (2019): April 2019 Vol 10, No 2 (2019): April 2019 Vol 10, No 1 (2019): Januari 2019 Vol 9, No 4 (2018): Oktober 2018 Vol 9, No 3 (2018): Juli 2018 Vol 9, No 2 (2018): April 2018 Vol 9, No 1 (2018): Januari 2018 Vol 8, No 4 (2017): Oktober 2017 Vol 8, No 3 (2017): Juli 2017 Vol 8, No 2 (2017): April 2017 Vol 8, No 1 (2017): Januari 2017 Vol 7, No 4 (2016): Oktober 2016 Vol 7, No 3 (2016): Juli 2016 Vol 7, No 2 (2016): April 2016 Vol 7, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 6 (2015): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional 2010: Template More Issue