cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan BSI
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 110 Documents
MOTIVASI MAHASISWI KEPERAWATAN DALAM PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI SEBAGAI DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA Sari, Eka Afrima
KEPERAWATAN Vol 4, No 1 (2016): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.106 KB)

Abstract

Abstract - The incidence of Breast Cancer is the second highest cancer in Indonesia, positioning after cervix cancer, which has annually increased. Detecting cancer as earlier as possible, as well as doing the good treatment, can lead in better wellness and longer life expectancy. Women who have been high risk for this case or older than 20 years are encouraged in doing breast cancer self-assessment (Periksa Payudara Sendiri/ Sadari) routinely. However, motivation is highly needed. This research was conducted to identify the motivation among female nursing students in doing Sadari. This descriptive research had involved 121 respondents. Data was collected by using questionnaire and analyzed by T score. The result was categorized into two levels of motivation namely high motivation and low motivation. The results show that more than a half of respondents (53.72%) had low motivation in doing Sadari. More than 50% of them (52.89%) had low intrinsic motivation as slightly same as low extrinsic motivation (51.24%). These results describe that the motivation of female nursing students in doing Sadari has to be improved in order to prevent lately detecting of breast cancer. Keyword: breast cancer, motivation, sadari  Abstrak - Kanker payudara merupakan penyakit kedua terbanyak setelah kanker serviks di Indonesia serta memiliki kecenderungan untuk meningkat dari tahun ke tahun. Dengan adanya kecenderungan ini, wanita yang berisiko tinggi atau berumur lebih dari dua puluh tahun dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) secara rutin. Dengan dideteksinya kanker payudara secara dini serta penanganan yang cepat dan tepat dapat memberikan kesembuhan dan harapan hidup yang lebih baik (operable dan curable). Adanya hambatan dalam melakukan Sadari baik dari dalam diri individu maupun dari luar diri individu, diperlukan adanya motivasi untuk melaksanakan Sadari tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai motivasi mahasiswi keperawatan dalam pelaksanaan Sadari. Penelitian ini dilakukan pada 121 orang mahasiswi keperawatan dengan jenis penelitian deskriptif dan instrumen yang digunakan berupa kuisioner. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan skor T kemudian dikategorikan menjadi motivasi tinggi dan motivasi rendah. Hasil penelitian menggambarkan bahwa motivasi mahasiswi keperawatan dalam pelaksanaan Sadari termasuk dalam kategori rendah (53.72%), dengan motivasi intrinsik rendah (52.89%) dan motivasi ekstrinsik rendah (51,24%). Berdasarkan hasil penelitian, maka motivasi mahasiswa keperawatan perlu ditingkatkan agar mahasiswi keperawatan dapat memanfaatkan Sadari sebagai upaya deteksi dini kanker payudara. Kata Kunci : kanker payudara, motivasi, sadari
HUBUNGAN SELF EFFICACY DENGAN PERAWATAN DIRI LANSIA HIPERTENSI Studi Kasus: Salah Satu Puskesmas Di Kota Bandung Okatiranti, Okatiranti; irawan, erna; Amelia, Fitri
KEPERAWATAN Vol 5, No 2 (2017): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.21 KB)

Abstract

ABSTRAKPenyakit hipertensi termasuk kedalam penyakit kronis yang membutuhkan perawatan diri untuk mencegah terjadinya komplikasi. Dalam perawatan diri terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi salah satunya adalahSelf Efficacy.Self Efficacy dibutuhkan bagi para penderita hipertensi untuk meningkatkan derajat kesehatan melalui keyakinan dalam menjalankan perawatan diri..Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan Self Efficacy dengan perawatan diri lansia hipertensi di Salah Satu Puskesmas didi Kota Bandung. Rancangan penelitian ini menggunakan deskriptif korelasi dengan desain Cross Sectional. Teknik sampling menggunakan Accidental Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 69 responden, pengumpulan data menggunakan kuesioner Self Efficacy dan Perawatan diri. Analisa data menggunakan uji korelasi Rank Spearmen. Hasil menunjukkan bahwa Sebagian responden memiliki Self Efficacy dengan kategori tinggi (50.7%), dan untuk perawatan diri sebagian responden memiliki perawatan diri baik (50.7%). Berdasarkan hasil uji statistik Rank Spearmen menunjukkan ada hubungan antara Self Efficacy dengan perawatan diri lansia hipertensi di Salah Satu Puskesmas di Kota Bandung kota bandung dengan nilai signifikasi 0,000 < 0,01. Nilai koefisien korelasi sebesar + 0.724 yang menunjukkan terdapat hubungan yang positif. Saran bagi perawat agar dapat  meningkatkan Self Efficacy pada lansia hipertensi sehingga lansia dapat melakukan perawatan diri. Kata kunci : Hipertensi, Lansia, Perawatan diri, Self Efficacy. ABSTRACTHypertension is included in chronic diseases that require self-care to prevent complications. In self care there are several factors that affect one of them dalah Self Efficacy. This study aimed to identify the relationship of Self Efficacy with hypertension elderly self-care in  Primary health centre (Puskesmas Kota Bandung). The design of this study used descriptive correlation with Cross Sectional design. Sampling technique used Accidental Sampling with samples as much as 69 respondents, data collection used questionnaires Self Efficacy and Perawatan diri. Data analysis used Spearmen Rank correlation test. The results  that some respondents had Self Efficacy with high category (50.7%), and for self care some respondent was good self care (50.7%). Result of Spearmen Rank statistic test there was relation between self efficacy with self care hypertension elderly in area of Puskesmas Kota Bandung in Bandung with significance value 0,000 <0,01. Correlation coefficient value of + 0.724 positive correlation. Suggestion for nurses was to increase Self Efficacy in hypertensive until elderly can  do  self care independently. Keywords: Elderly, Hypertension, Self Care, Self Efficacy
Hubungan Faktor-Faktor Dengan Kejadian ISPA pada Balita Di Puskesmas X Kota Bandung Suprihatin, Eva
KEPERAWATAN Vol 1, No 1 (2013): Jurnal KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.596 KB)

Abstract

Abstract - West Java Provincial Health Office stated  ISPA is still the first order of  most diseases in children under five in West Java which  equal to 33.44%.  Number of  patients with respiratory infections, diarrhea and pharyngitis increased in the district and the city of Bandung. The incidence of ISPA in Bandung showed an increase, reaching 17 793 in 2012. Factors that cause the incidence of ISPA was low birth weigh, nutritional status, immunization, residential density and physical environment (Maryunani, 2010). The purpose of this study was to identify the relationship between these factors, low birth weigh , nutritional status, immunization, residential density and physical environments ventilation on the incidence of ISPA in children under five in Public Health Community X Bandung. Design research is correlational, using cross sectional and accidental sampling using sampling techniques. Analysis used in this study is the analysis of Chi Square. The population in this study is 327 toddlers, and samples were used that toddlers who come to the clinic for treatment, taken as many as 15% of 327 infants and obtained 50 respondents. Sampling technique. Analysis used in this study by using chi square analysis. The population is 327 toddlers, and the samples used are toddlers who come to the clinic for treatment, taken as many as 15% of 327 infants and obtained 50 respondents. Statistical analysis of data shows that there are associated between low birth weight with acute respiratory infection (p = 0.000 <0.05), was not associated between nutritional status in infants with the incidence of acute respiratory infection (p = 0.134> 0.05), there is a associated between immunization with acute respiratory infection (p = 0.005 <0.05), there was not associated between the density residential with acute respiratory infection (p = 0.552> 0.05), there was not associated between the physical environment (ventilation) with acute respiratory infection (p = 0,790> 0,05). The conclusion that there is a associated between low birth weight and immunization on the incidence of respiratory infections, and there was not associated between nutritional status, residential density and physical environment (ventilation). And suggestions to the clinic to better promote the importance of immunization and prevention of low birth weight babies born in order to reduce the risk of respiratory infection. Keywords: Acute Respiratory Infection In Toddlers, Low Birth Weight, Nutritional Status, Immunization, Residential Density, Physical Environment (Ventilation)  Abstrak - Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat menyatakan ISPA masih merupakan urutan pertama penyakit terbanyak pada balita di Propinsi Jawa Barat yakni sebesar 33,44%. Jumlah penderita ISPA, diare dan faringitis meningkat di Kabupaten maupun Kota Bandung. Angka kejadian ISPA di Kota Bandung menunjukan peningkatan yaitu mencapai 17.793 pada tahun 2012. Faktor yang menyebabkan kejadian ISPA adalah  BBLR, status gizi, imunisasi, kepadatan tempat tinggal dan lingkungan fisik ( Maryunani, 2010 ). Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor-faktor ISPA yaitu BBLR, status gizi, imunisasi, kepadatan tempat tinggal dan lingkungan fisik ventilasi terhadap kejadian ISPA pada balita di Puskesmas X Kota Bandung.Desain penelitian yang digunakan adalah korelasional, dengan menggunakan cross sectional dan menggunakan teknik sampling  accidental sampling. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa Chi Square. Populasi dalam penelitian ini yaitu 327 balita, dan sampel yang digunakan yaitu balita yang datang berobat ke puskesmas, diambil sebanyak 15% dari 327 balita dan didapat 50 responden. Analisis statistik terhadap data yang diperoleh menunjukan bahwa terdapat hubungan antara BBLR dengan kejadian ISPA pada balita (p=0,000 < 0,05), tidak ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita (p=0,134 > 0,05), ada hubungan antara imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita (p=0,005 < 0,05), tidak ada hubungan antara kepadatan tempat tinggal dengan kejadian ISPA pada balita (p=0,552 > 0,05), tidak ada hubungan antara lingkungan fisik ventilasi dengan kejadian ISPA pada balita (p=0,790 > 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat hubungan antara BBLR dan imunisasi terhadap kejadian ISPA, serta tidak terdapat hubungan antara status gizi, kepadatan tempat tinggal dan lingkungan fisik ventilasi terhadap kejadian ISPA. Dan saran kepada puskesmas supaya lebih mensosialisasikan pentingnya imunisasi dan pencegahan terjadinya kelahiran bayi yang BBLR agar mengurangi resiko terjadinya ISPA. Kata Kunci: ISPA pada balita, BBLR, Status Gizi, Imunisasi, Kepadatan Tempat rancangan survey Tinggal, Lingkungan Fisik (Ventilasi)
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT DALAM PELAKSANAAN DISCHARGE PLANNING PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TYPE II Okatiranti, Okatiranti
KEPERAWATAN Vol 3, No 1 (2015): Jurnal KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.792 KB)

Abstract

Abstrack - Implementation of discharge planning in adult patients would improve patient knowledge, effective care at home, thereby reducing repeated visits to the hospital, and reduced maintenance costs (Slaganfall, 1992). Nurses play a role as an educator in the implementation of discharge planning. Descriptive research method was  to see the picture of the knowledge and attitudes of nurses in the implementation of discharge planning in patients with Diabetes Mellitus, with a population of nurses was working in intern wards,  have used total sampling technique. The data was collected using a questionnaire. Then interpreted using tabulation and calculation prosentase. Result,  knowledge and attitude studies showed the implementation of discharge planning nurses in public hospitals and private hospitals in the Bandung. Most nurses have less knowledge (51.35%) and nearly half (43.2%) have sufficient knowledge and a fraction having a good knowledge (5.4%). As for the components of the overall attitude more than half (54%) unfavorable, and nearly half (46%) of nurses to support (favorable) the implementation of discharge planning.Keywords: discharge planning, nursing, knowledge, attitudes Abstrak - Pemberian discharge planning pada pasien dewasa akan meningkatkan pengetahuan pasien, efektifnya perawatan di rumah sehingga mengurangi kunjungan ulang ke rumah sakit, dan mengurangi biaya perawatan (Slaganfall, 1992). Perawat  memegang peranan sebagai pendidik dalam pelaksanaan discharge planning. Metode penelitian deskriptif untuk melihat gambaran pengetahuan dan sikap perawat dalam pelaksanaan discharge planning pada pasien Diabetes Mellitus, dengan populasi perawat yang bekerja di ruang penyakit dalam, Teknik sampling dengan total sampling . Data dikumpulkan dengan menggunakan  kuisioner atau angket. Kemudian diinterpretasikan dengan menggunakan tabulasi dan perhitungan prosentase.Hasil penelitian  menunjukkan pengetahuan dan sikap perawat pelaksanaan discharge planning di rumah sakit pemerintah dan rumah sakit swasta di kota Bandung. Sebagian besar perawat mempunyai pengetahuan yang kurang (51,35 %) dan  hampir setengahnya (43,2%) mempunyai pengetahuan cukup dan sebagian kecil mempunyai pengetahuan yang baik (5,4%). Sedangkan untuk komponen sikap secara keseluruhan lebih dari setengah (54 %) tidak mendukung dan hampir setengahnya (46%) perawat mendukung pelaksanaan discharge planning. Kata kunci : discharge planning, perawat, pengetahuan, sikap
Efektivitas Terapi Nebulizer Dengan Ipratropium Dan Fenoterol Terhadap Saturasi Oksigen Lumbantobing, Valentina B.M
KEPERAWATAN Vol 5, No 1 (2017): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.366 KB)

Abstract

ABSTRAK Gangguan pertukaran gas dapat terjadi selama serangan akut asma yang dapat menimbulkan hipoksemia dan dapat dilihat dari penurunan saturasi oksigen (SpO2). Salah satu bentuk penanganan farmakologis adalah menggunakan teknik nebulizer dengan Ipratropium dan Fenoterol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  perbedaaan efektivitas terapi nebulizer dengan Ipratropium dan Fenoterol terhadap saturasi oksigen pada pasien asma bronkial di Ruang Rawat Inap RSUD X Jawa Timur. Desain Penelitian adalah pretest-posttes control group design. Populasi adalah seluruh pasien asma bronkial di Ruang Rawat Inap RSUD X Jawa Timuryang berjumlah 16 responden. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling. Sampel diperoleh sebanyak 16 responden dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu Ipratropium 8 responden dan Feneterol 8 responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah checklist observasi. Analisa data menggunakan uji statistik Independent Sample T-Test dengan α 0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setengah responden yang diberi terapi Ipratropium yaitu 4 responden (50%) mengalami peningkatan SpO2 sebesar 4, setengah responden yang diberi terapi Feneterol yaitu 4 responden (50%) mengalami peningkatan SpO2 sebesar 5. Hasil uji Independent Sample T-Test diperoleh p-value 0,001 ≤ a 0,05. Hasil rata-rata (mean) peningkatan SpO2 pada terapi Ipratropium adalah 3,750 sedangkan pada terapi Feneterol adalah 5,375, sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata peningkatan SpO2 pada terapi Fenoterol lebih tinggi daripada terapi Ipratropium. Ada perbedaan efektivitas terapi nebulizer dengan Ipratropium dan Fenoterol terhadap saturasi oksigen pada pasien dengan asma bronkial. Kata Kunci: Nebulizer, ipratropium, fenoterol, saturasi oksigen. ABSTRACTDisruption of gas exchange can occur during acute asthma attacks can lead to hypoxemia and can be seen from the decreased oxygen saturation (SpO2). One form of pharmacological treatment is to use a nebulizer techniques with Ipratropium and fenoterol. The purpose of this study was to determine differences in the effectiveness of nebulizer therapy with Ipratropium and fenoterol against oxygen saturation in patients with bronchial asthma in X Hospital East Java. Design research is pretest-posttes control group design. The population was all patients of bronchial asthma in Space Inpatient Hospital totaling 16 respondents. Samples were taken with consecutive sampling technique. Samples were obtained by 16 respondents were divided into 2 groups, ie Ipratropium 8 respondents and 8 respondents Feneterol. The instrument used in this study was the observation checklist. Analyze data using statistical tests Independent Sample T-Test with α 0.05. The results showed that half of the respondents were given the therapy Ipratropium 4 respondents (50%) SpO2 increased by 4, half of the respondents who were given the treatment Feneterol 4 respondents (50%) SpO2 increased by 5. Independent test results obtained Sample T-Test p-value 0.001 a≤  0.05. The results of the average (mean) increase in SpO2 Ipratropium therapy is 3.750 whereas Feneterol therapy is 5.375, so it can be said that the average increase in SpO2 at higher than therapeutic fenoterol Ipratropium therapy. There are differences in the effectiveness of nebulizer therapy with ipratropium and fenoterol on oxygen saturation in patients with bronchial asthma. Keywords: Nebulizer, Ipratropium, Fenoterol, Oxygen Saturation.
PENGALAMAN RESIDIVIS REMAJA KETIKA MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL DI BAWAH PENGARUH NAPZA DI DAERAH KIARACONDONG BANDUNG Marlina, Ayu Siti; Hernawaty, Taty; Fitria, Nita
KEPERAWATAN Vol 2, No 1 (2014): Jurnal KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.36 KB)

Abstract

Abstract - Few last years, NAPZA misuse increase rapidly in Indonesia, especially adolescents. The impact of psychology  and social of addict is doing crime that cause NAPZA addict to do repeating crime with many reasons and punished with more than one punishment, known as recidivist. The purpose of this research is to find the experience of juvenile recidivist when doing crime  under NAPZA effect in area of Kiaracondong, Bandung. This research  used qualitative  method with  phenomenological approach. Collecting  data  used in-depth interview and semi-participation observations. Selecting informant used purposive sampling, consist of 6 informants. Data analyzing process used thematic analyze. The research results 7 themes, that are more sensitive and irritable, daring,  hyperactive, uncontrolled, solidarity  friend, invitation of friends, and comply needs of drug. The result of this research, so that community nurse expected to increase the service of nursing for NAPZA user with promotive, preventive, curative, and rehabilitative effort. Keywords : recidivist experiences, adolescent, crime, NAPZA Abstrak - Beberapa  tahun  terakhir  penyalahgunaan  NAPZA  meningkat  pesat di Indonesia, khususnya remaja. Dampak psikologis dan sosial dari pecandu NAPZA diantaranya  cenderung  melakukan  tindak  pidana yang dapat menyebabkan seseorang dengan berbagai alasan tidak jera melakukan ulang tindakannya dan mendapatkan hukuman lebih dari satu kali dikenal sebagai residivis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengalaman residivis remaja ketika melakukan tindakan kriminal di bawah pengaruh NAPZA di Daerah Kiaracondong Bandung. Jenis penelitian yang digunakan adalah  kualitatif  dengan  pendekatan  fenomenologi. Teknik pengumpulan datanya dengan melakukan wawancara mendalam dan observasi semi partisipasi. Penentuan informan menggunakan purposive  sampling, berjumlah 6 informan. Analisis data  menggunakan analisis tematik. Berdasarkan  hasil penelitian, didapatkan 7 tema, yaitu lebih sensitif dan mudah marah, berani, hiperaktif, tidak kontrol, bentuk solidaritas terhadap teman, ajakan teman, dan memenuhi kebutuhan NAPZA. Hasil ini diharapkan perawat komunitas dapat meningkatkan pelayanan keperawatan terhadap  pengguna  NAPZA dengan upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Kata kunci : pengalaman residivis, remaja, tindakan kriminal, NAPZA
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA SENJARAWI BANDUNG Pramana, Kadek Devi; Okatiranti, Okatiranti; Ningrum, Tita Puspita
KEPERAWATAN Vol 4, No 2 (2016): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1009.61 KB)

Abstract

ABSTRAKSebanyak 26,5% usia 18 tahun keatas menderita hipertensi. Hipertensi merupakan penyakit yang sering dialami oleh usia lanjut. Salah satu faktor resiko terjadinya hipertensi adalah kecemasan. Kecemasan disebabkan karena berbagai keadaan seperti khawatir, gelisah, takut, tidak tentram disertai dengan berbagai keluhan fisik dan gangguan kesehatan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan tingkat kecemasan dengan kejadian hipertensi pada usia lanjut di Panti Sosial Tresna Werdha Senjarawi Bandung. Jenis penelitian ini adalah studi korelasi dengan desain penelitian cross sectional.  Sampel dalam penelitian ini adalah semua usia lanjut yang memenuhi kriteria inklusi yang berjumlah 40 usia lanjut. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik non probability sampling dengan pendekatan puposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Skala HARS dan pengukuran TD dilakukan menggunakan sphygmomanometer air raksa secara manual. Analisa data dengan persentase dan rumus chi square. Hasil penelitian menunjukkan Sebagian besar responden (62.5%) mengalami tingkat kecemasan sedang, sebagian kecil responden (27.5%) mengalami tingkat kecemasan berat, dan sebagian kecil responden lainnya (10%) mengalami tingkat kecemasan ringan. Sementara itu, Sebagian besar responden (87.5%) mengalami hipertensi sedang, sebagian kecil responden (7.5%) mengalami hipertensi berat, sebagian kecil responden lainnya (5%) mengalami hipertensi ringan. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa asymsig < 0,05. Nilai C = 0,63 termasuk ke dalam interval (0,51 < C < 0,75), maka korelasi antara tingkat kecemasan dengan hipertensi termasuk kategori derajat asosiasi kuat. Peneliti menyarankan agar perawat dapat melakukan upaya promotif dan preventif untuk mengurangi angka kejadian hipertensi pada usia lanjut melalui pendidikan kesehatan tentang mekanisme koping untuk mengurangi kecemasan pada usia lanjut.Kata Kunci: Hipertensi, Kecemasan, Usia Lanjut ABSTRACTA total of 26.5% population aged 18 years old and over suffer from hypertension. Hypertension is a disease that is often experienced by the elderly. One of  risk factor for hypertension is anxiety. Anxiety in the elderly due to various circumstances such as worry, fidgety, fear and restless, that accompanied by a variety of physical complaints and disorders. The purpose of this study was to identify the correlation between anxiety with hypertension in the elderly in Social Institution of Tresna Werdha Senjarawi Bandung. This research is a correlation study with cross sectional design. There is 40 elderly who meet the inclusion criteria and became sample in this study. Data is collected using HARS scale and blood pressure measurements performed using manual mercury sphygmomanometer. Analysis of the data used univariate or percentage and chi square formula. The results showed most of respondents (62.5%) experienced moderate levels of anxiety, a small portion of respondents (27.5%) experienced severe anxiety level, and a few other respondents (10%) experienced mild anxiety level. Meanwhile, the majority of respondents (87.5%) had moderate hypertension, a small portion of respondents  had severe hypertension(7.5%) and  had mild hypertension (5%). Statistical analysis showed that asymsig <0.05. Value C = 0,63 belong to the interval (0.51 <C <0.75), the correlation between the level of anxiety and hypertension included in strong association degress categories. Researchers suggested that nurses can perform promotive and preventive efforts to reduce the incidence of hypertension in the elderly through health education about koping  mechanisms to reduce anxiety in the elderly.Keywords: anxiety, hypertension, elderly.
HUBUNGAN PENGETAHUAN REMAJA DENGAN PERILAKU KONSUMSI MINUMAN RINGAN DI SMKN 2 BALEENDAH BANDUNG Tania, Mery
KEPERAWATAN Vol 4, No 1 (2016): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.386 KB)

Abstract

ABSTRAKSoft drink ialah minuman berkarbonasi yang diberi tambahan berupa bahan perasa dan pemanis seperti gula. Konsumsi soft drink memiliki dampak buruk terhadap kesehatan dan kalangan remaja cenderung mengkonsumsi minuman ini. Konsumsi soft drink dapat dipengaruhi oleh faktor pengetahuan dimana pengetahuan memiliki pengaruh pada perkembangan perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku konsumsi terhadap minuman ringan pada siswa kelas X dan XI SMKN 2 Baleendah Bandung tahun 2014. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2014 dengan total responden 74 orang. Penelitian ini bersifat analitik dengan desain korelasional. Jumlah populasi 743 orang siswa. Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara randomisasi sederhana yakni 74 siswa. Kuesioner hasil rancangan peneliti digunakan untuk menilai tingkat pengetahuan terhadap bahaya soft drink dan perilaku konsumsi minuman ringan. SPSS 16 digunakan untuk melakukan analisis statistik. Analisis bivariat menggunakan uji Rank Spearman. Dari 74 responden, didapati lebih dari setengahnya responden dengan tingkat pengetahuan cukup (53,1%) dan perilaku konsumsi rendah (59,2%). Hasil uji korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan cukup kuat antara tingkat pengetahuan dengan perilaku konsumsi terhadap soft drink dengan nilai 0,430.  Kurang dari setengahnya dijumpai pada responden dengan tingkat pengetahuan cukup dan konsumsi sedang . Pada pihak sekolah, perlu diajarkan pendidikan yang membahas mengenai soft drink.Kata Kunci: Pengetahuan, Remaja, Perilaku Konsumsi, Soft Drink. ABSTRACTSoft drink is carbonated drink with added seasoning and sweetening such as sugar. Consumption of soft drink have bad effect for health and adolescence like to consume this kind of drink. Consumption of soft drink can be affected by factor of knowledge where knowledge have affection to development of behavior. This study aim to determine whether there is association between degree of knowledge with consumption about soft drink of student class X and XI SMKN 2 Baleendah Bandung year 2014. This study carried out at Mei until Juli 2014 with total of respondent is 74 person. This study is analytic study with correlational design. Sample of study was conducted by simple random sampling. Questionnaire programmed by researcher used to assess degree of knowledge about soft drink and consumption of soft drink. SPSS 16 was used to do the statistical analysis. Rank spearman hypothesis test was used to do bivariate analysis. From 74 respondent, found more than half of the respondents have moderate degree of knowledge (53,1%) and low consumption (59,2%). Result test from rank spearman illustrate a significant association between degree of knowledge with consumption about soft drink (0,430). Respondent with most frequency is respondent with sufficient degree of knowledge and midlle consumption. In school, there is a need to teach education about soft drink. Keywords: degree of knowledge, teen, consumption, soft drink  
HUBUNGAN KONSUMSI MAKANAN FAST FOOD DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN MENARCHE PADA ANAK (9 – 12 TAHUN) DI SEKOLAH DASAR BANJARSARI II BANDUNG Maidartati, Maidartati
KEPERAWATAN Vol 1, No 1 (2013): Jurnal KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.381 KB)

Abstract

Abstract - Background. An early menarche event in children has increase rapidly. There are many factors influencing the problem such as nourish custom with high calorie (e.g.fast food), physical activity and socioeconomic status of their parent.The research purpose is to find out a correlation between the custom and physical activity and menarche in 9-12 aged kids at Elementary School Banjarsari II Bandung. Research Methods. It uses analytical survey descriptive method with cross sectional approach. The populations or samples are 76 respondents of 9-12 years old student of Elementary School Banjarsari II Bandung. The study use a total sampling technique, involves an experienced or enixperienced student in menarche. Datacollected by spread the questionnaire then processed by univariat analysis, the frequency assessment, then analyzed by bivariat with the Chi Square assessment to find out a correlation of nourish fast food custom and physical activity and menarche.Results. There is no correlation between the custom and menarche with the calculation result of Chi Square score (X²) of 2.119 and CI 95% (0.05) P-value of 0.1455. In physical activity,there is correlation between menarche and assessment result of Chi Square score (X²) about 4.54 with CI 95% (0.05) and P-value of 0.0332.Conclusion. The fast food nourish custom is not the certain factor, while the physical activity is risky factor for menarche. In the study obtained age of menarche in 9 year old kid.  Keywords : Menarche, Fast Food,  Children. Abstrak - Latar  belakang  penelitian ini adalah kejadian menarche dini pada anak semakin meningkat, banyak faktor yang  mempengaruhi  menarche diantaranya kebiasaan makan yang tinggi kalori (fast food) anak, aktivitas fisik anak, serta status sosial ekonomi orang tua. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kebiasaan makan fast food dan aktivitas fisik dengan menarche pada anak usia 9 – 12 tahun. Metode penelitian  menggunakan  jenis penelitian deskriptif survey analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi  pada  penelitian ini adalah seluruh siswi SDN Banjarsari II Bandung dengan usia 9 – 12 tahun yang  berjumlah 76 orang. Sampel penelitian adalah siswi SDN Banjarsari II. Pada penelitian ini digunakan teknik total sampling  yaitu seluruh siswi SDN Banjarsari II Bandung baik yang belum ataupun yang sudah mengalami  menarche yaitu 76 orang. Pengumpulan  data dilakukan dengan membagikan kuisioner kemudian  diolah dengan analisa univariat yaitu perhitungan frekwensi dan selanjutnya dilakukan analisa bivariat  dengan  perhitungan Chi squer untuk  mengetahui  hubungan  kebiasaan  makan fast food dan aktivitas fisik dengan menarche. Hasil penelitian tidak terdapat hubungan antara kebiasaan konsumsi fast food dengan menarche dengan hasil perhitungan nilai Chi squer (X²) sebesar 2,119 dengan CI 95% (0,05) P-Value sebesar 0.1455. untuk aktivitas fisik terdapat hubungan dengan menarche dengan hasil perhitungan diperoleh nilai Chi squer (X²) sebesar 4,54 dengan CI 95% (0,05) P-Value sebesar 0.0332. Kesimpulan kebiasaan makan fast food bukan faktor resiko untuk kejadian menarche, sedangkan aktivitas fisik merupakan factor resiko untuk kejadian menarche. Pada penelitian ini didapatkan umur menarche pada anak yaitu 9 tahun. Kata Kunci : Menarche, Fast Food, Anak.
GAMBARAN POLA ASUH ORANG TUA YANG DIPERSEPSIKAN REMAJA SMA NEGERI JATINANGOR KABUPATEN SUMEDANG Khoirunnisa, Syifa; Fitria, Nita; Rofi, Helwiyah
KEPERAWATAN Vol 3, No 2 (2015): Jurnal KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.561 KB)

Abstract

Abstratc - Adolescence is a transition of childhood to adulthood and is also called crisis period, such behavior violates the status, behavior that can endanger themselves and others, and the behaviors that lead to physical casualties. To get through that crisis period, parent’s role is really needed so that the impact can be reduced maladaptive risk. Parenting style is interaction between parents and children during parenting activity. This research aims to identify the description of parenting style that is perceived by adolesenct at Senior high school of Jatinangor Sumedang Regency.  This research used descriptive method with quantitative approaching. Samples taking technique used simple random sampling in proportional random sampling.  Data collection was done by using instrument distribution of Parental Authority Questionnaire (PAQ) to 90 respondents of 888 adolescent students. Data collection used univariat test processing. The result of Analysis shows that authoritative parenting style that is perceived by adolescent is a large part of 63.3% to father and a lot nearly 80% to mother. Hopefully, adolescent can perceive parenting style subjectively to father and mother and also parents can apply a more balance parenting style, namely those three parenting style and adjusts rules that are applied which are appropriate to adolescense.Key word: Parenting style, adolescense, and Senior high school of Jatinangor. Abstrak - Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa dan disebut juga masa krisis terhadap risiko maladaptif, seperti perilaku yang melanggar status, perilaku yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain, dan perilaku yang menimbulkan korban fisik. Upaya untuk melewati masa krisis melalui pola asuh orang tua agar dampak risiko maladaptif dapat diminamalisasi. Pola asuh merupakan interaksi antara orang tua dengan anak selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran pola asuh orang tua yang dipersepsikan remaja di SMA Negeri Jatinangor Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling secara proportional random sampling. Untuk pengumpulan data di lapangan dilakukan dengan cara penyebaran instrumen Parental Authority Questionnaire (PAQ) kepada 90 responden dari 888 siswa remaja. Pengumpulan data menggunakan pengolahan uji univariat. Hasil analisis menunjukkan bahwa pola asuh demokratis yang dipersepsikan remaja terhadap ayah sebagian besar 63.3% dan terhadap ibu hampir seluruhnya 80%. Diharapkan remaja mampu mempersepsikan pola asuh orang tua secara subyektif sesuai porporsinya terhadap ayah dan ibu serta diharapkan kepada orang tua lebih menerapkan bentuk pola asuh yang seimbang, yaitu menerapkan ketiganya dan menyesuaikan aturan yang diterapkan dengan seusia remaja.Kata Kunci : Pola asuh orang tua, remaja, dan SMA Negeri Jatinangor.

Page 6 of 11 | Total Record : 110