cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan BSI
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 110 Documents
GAMBARAN KARAKTERISTIK PASIEN WOUND DEHISCENCE MENURUT VARIABEL ROTTERDAM DI RSUD KOTA BANDUNG Ningrum, Tita Puspita; Isabela, Chandra
KEPERAWATAN Vol 4, No 2 (2016): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.512 KB)

Abstract

ABSTRAKWound dehiscence merupakan komplikasi pasca bedah abdomen yang serius dengan tingkat mortalitas dan morbiditas yang tinggi yaitu 3-35%. Insiden wound dehiscence di dunia sekitar 0,4 - 3,5 % setelah pembedahan mayor abdomen dan dihubungkan dengan kematian sekitar 10 - 45%. Wound dehiscence merupakan komplikasi yang disebabkan oleh berbagai faktor. Rotterdam score dapat digunakan untuk menilai abdominal wound dehiscence karena memiliki nilai sfesifitas dan sensitifitas yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan karakteristik pasien wound dehiscence menurut variabel Rotterdam  di ruang perawatan bedah RSUD Kota Bandung. Desain penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien dengan abdominal wound dehiscence periode januari 2014 sampai Desember 2014. Perhitungan data menggunakan rumus persentase. Pada hasil penelitian didapatkan 36 kasus abdominal wound dehiscence, 21 berjenis kelamin laki-laki (58%) dan 15 perempuan (42%). Berdasarkan kategori umur, yang terbanyak mengalami abdominal wound dehiscence adalah kelompok usia 50 – 69 tahun yaitu 17 pasien (47%), 24 Pasien (67 %) kasus emergensi. Berdasarkan penyakit penyerta, 6 pasien (17%) mengalami penyakit paru kronis, 2 pasien (6%) jaundice, 27 pasien (75%) anemia, dan 12 pasien (33%) dengan batuk pasca operasi. Berdasarkan tipe operasi didapatkan 3 pasien (8%) dengan pasca operasi gaster, 9 pasien (25%) pasca operasi usus halus, 18 pasien (50%) pasca operasi usus besar, serta 29 pasien (81%) mengalami infeksi luka operasi. Berdasarkan hasil penelitian, penderita dengan abdominal wound dehiscence terbanyak berasal dari kelompok umur 50 – 69 tahun, dengan penyakit penyerta terbanyak adalah anemia dan tipe operasi pasca operasi usus besarKata Kunci: Wound dehiscence, variabel Rotterdam.  ABSTRACTWound dehiscence is one of the most serious postoperative complications with high mortality and morbidity, 3 – 35%. The incidence wound dehiscence in the world is reported as 0,4% - 3,5% after major abdominal surgery, and 10% - 45% is associated with death. Wound dehiscence is complicated cases related to many factors, and Rotterdam risk score was used to rate abdominal wound dehiscence because its had a high specificity and sensitivity values. This research was conducted to describe patient characteristics with abdominal wound dehiscence using Rotterdam variable risk score at RSUD Kota Bandung. The methods was used a descriptive quantitative. A retrospective analysis was performed using the medical records of patient with abdominal wound dehiscence between January 2014 and December 2014 and had involved 36 cases. Data was analyzed by percentage. The result show that 36 patients developed wound dehiscence, 58% of them were male. From age category, the most incidence in 50 – 69 years old group (47%). The datas found 24 patients (67%) was emergency surgery, 6 patients (17%) with chronic obstructive pulmonary diseases, 2 patient (6%)  jaundice, 27 patients (75%) anemia, 12 patients (33%) had cough. Based on Type of surgery, 3 patients (8%) had gaster and duodenum surgery, 9 patients (25%) had small bowel wurgery, 18 (50%) patients had large bowel surgery and 29 patients (81%) had wound infection.  conclusion,the  most patient abdominal wound dehiscence were in 50 – 69 years old group, with anemia, emergency surgery, and post large bowel surgery.Keywords: wound dehiscence, variables of the Rotterdam score
GAMBARAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECEMASAN WBP MENJELANG BEBAS DI LP WANITA KELAS IIA BANDUNG Salim, Shalha Ubaid; Komariah, Maria; Fitria, Nita
KEPERAWATAN Vol 4, No 1 (2016): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.942 KB)

Abstract

ABSTRAKUsia, lama hukuman, waktu menjelang bebas, dukungan keluarga dan dukungan sosial adalah faktor yang mempengaruhi kecemasan warga binaan menghadapi masa bebas yaitu menghadapi masa depan setelah keluar dari Lembaga Pemasyarakatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentasi gambaran faktor yang mempengaruhi kecemasan warga binaan menjelang masa bebas. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan populasi warga binaan pemasyarakatan yang sedang menjalani hukuman 1/3-2/3 dari total hukuman dan mengalami kecemasan menggunakan teknik sampel total sampling dengan jumlah responden 49 orang. Instrumen yang digunakan merupakan modifikasi teori Jacobson dan Sarafino. Analisis data menggunakan rumus mean. Hasil penelitian menunjukkan persentase faktor yang paling besar  mempengaruhi kecemasan warga binaan pemasyarakatan menjelang masa bebas  adalah faktor dukungan sosial yakni 77,66% dan 70,25% dipengaruhi oleh faktor dukungan keluarga. Usia warga binaan pemasyarakatan antara 18 – 40 tahun yakni 61,23%, lama hukuman >3 tahun yaitu 46, 95% dan waktu menjelang bebas 1 bulan sebelumnya sebanyak 30,62%. Dukungan sosial mempengaruhi hampir sebagian besar warga binaan pemasyarakatan yang mengalami kecemasan daripada dukungan keluarga, saran bagi institusi Lembaga Pemasyarakatan bagian Pembinaan dan Pendidikan diharapkan membuat program konsultasi bagi keluarga untuk mengetahui perkembangan warga binaan selama berada di Lembaga Pemasyarakatan agar dukungan keluarga dapat lebih dirasakan oleh warga binaan.Kata Kunci : Faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan, Menjelang Bebas,  WBP Wanita Kelas II A Bandung. ABSTRACTThe age, length of the sentence, the period nearing to the release schedule, the family support and social support are the factors which influence such an anxiety  of facing the future after being free of the prison. This study aims at described percentage the different factors that affect the anxiety of the inmates preparing for release.The method used was a descriptive quantitative. The population is the inmates who has been punished 1/3-2/3 all of sentence used sample technique a total sampling with 49 respondents. The instrument used is modification of Jacobson and Sarafino theory. Data analysis using mean.The results showed that the greatest factor, with highest percentage, that affects the inmates’ anxiety approaching their release period in 2014 is the social support, i.e., 77.66% and 70.25% is affected by the family support. The age bracket of 18 – 40 years old: 61.23%; with >3years sentence period: 46.95%, and 1 (one) month period nearing to the release time: 30.62%.Social support affects most of the prisoners are experiencing anxiety than family support, for Imprisonment at the Sukamiskin Prison in Development and Education section is expected to make a consultation program for family to know the progress of inmates while in prison in order to be perceived family support. Keywords: Factors Influence of Anxiety, Release Period, WBP Wanita Kelas II A Bandung.
Hubungan Perilaku Ibu Dengan Status Gizi Anak Balita di Kabupaten Garut Purnama, Dadang; Raksanagara, Ardini S.; Arisanti, Nita
KEPERAWATAN Vol 5, No 2 (2017): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.961 KB)

Abstract

ABSTRAK      Derajat kesehatan suatu masyarakat diukur oleh angka kematian, angka kesakitan, usia harapan hidup dan status gizi. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukan masalah gizi yang terjadi di Indonesia 13,3%, Jawa Barat 11%, Garut 2,6%. Hasil penimbangan balita pada bulan penimbangan balita di Kabupaten Garut pada Tahun 2012 Kurang Energi Protein (KEP),  Kekurangan Yodium, dan Kekurangan Vitamin menunjukan angka 1,63%. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara perilaku ibu dalam pemberian makan dengan status gizi anak balita dan, untuk mengetahui hubungan antara perilaku ibu dalam pola asuh dengan status gizi anak balita.Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yang bersifat cross-sectional. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknikProporsional, pada 73 sampel penelitian yang memiliki anak balita yang berada di Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Garut. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner. Analisis bivariat menggunakan Uji Chi Square.Kesimpulandari penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan perilaku ibu dalam pemberian makan dengan status gizi anak balita, (p) = 0,152, dan terdapat hubungan perilaku ibu dalam pola asuh dengan status gizi anak balita(p) = 0,021.Perlu peningkatan kapasitas ibu dalam pengasuhan anak balita. Puskesmas membutuhkan sumberdaya manusia serta pembiayaan untuk promosi kesehatan di bidang gizi perlu lebih ditingkatkan. Salah satu sumber yang potensial adalah dana kapitasi Puskesmas dari Jaminan Kesehatan Nasional. Kata kunci: perilaku pemberian makan, perilaku pola asuh, status gizi. ABSTRACTThe degree of a community health may be measured by mortality, illness, life expectation age, and nutrient status. Basic Health Research in 2010 show nutrient issues in Indonesia at 13.3%, West Java, 11%, Garut, 2.6%. The weighing of children under five on children under five weighing month in Regency of Garut by 2012 for Protein Energy Deficit, Iodine Deficit, and Vitamin Deficit indicates the rate of 1.63%. The aims of this study are to know relationship between maternal behaviors in feeding and nutrient status of children under five and to understand relationship between maternal behaviors in parenting and nutrient status of children under five. This study design use cross-sectional quantitative approach. The sampling technique in this study is using proportional technique applied to 73 samples with children under five living in Sukaresmi District, Regency of Garut. The data were collected by means of direct interviews using questionnaire. The bivariate analysis was made by using Chi Square test.The conclusion of this study suggest there is not correlation of maternal behavior in feeding with nutrient status of children under five, (p) = 0.152), and there is correlation of maternal behavior in parenting with nutrient status of children under five, (p) = 0.021.There is need for improvement of maternal capacity in parenting for children under five. Clinical Center need for human resource and, therefore, the funding for promotion of health in nutrition will have to be improved. On potential source is Clinical Center capacitance funding of National Medical Assurance.Keywords: feeding behavior, nutrient status, parenting behavior.
GAMBARAN KEKERASAN YANG DILAKUKAN ORANG DEWASA PADA ANAK JALANAN DI KOTA BANDUNG Hayati, Sri
KEPERAWATAN Vol 1, No 1 (2013): Jurnal KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.685 KB)

Abstract

Abstract - Background. Violence in children in Indonesia is increasing every year. Violence experienced in everyday life such as physical violence, psychological violence, and sexual violence. The impact on victims of violence can lead to shock, fear, resentment, distrust, hurt, sadness continuous, repeated abusive behavior on others, so that any problems be solved with violence, causing trauma that makes the victim helpless so it appears that deviant behavior. The purpose of this study was to gain an overview of the types of violence by an adult against street children in Bandung Long Leuwi terminal. Research methodology. The study design used in this research is descriptive quantitative. The population in this study were street children aged 6-18 years in the city, amounting to 4626 people. Sampling technique with a random sampling method, amounting to 98 respondents, obtained by using the formula Slovin. Data collection techniques using questionnaires). Analysis of data using a percentage formula. The place and time of the research conducted at the Terminal Leuwi length of Bandung on July 9 to July 12, 2007. Result. The results showed that all respondents experienced physical and psychological, while a small portion was sexually assaulted. Conclusions and Suggestions. From the research it can be concluded that all respondents experienced physical violence, psychological, and sexual abuse. Thus the need for cooperation between all the parties concerned to address violence in children. Keywords: Violence, Street Children, Adult Abstrak - Latar belakang penelitian ini adalah  kekerasan  pada anak di Indonesia tiap tahunnya semakin meningkat. Kekerasan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari diantaranya kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan kekerasan seksual. Dampak pada korban kekerasan bisa  mengakibatkan shock, ketakutan, dendam, curiga, sakit hati, sedih yang  terus  menerus,  mengulang  perilaku kasar  pada orang lain, sehingga setiap masalah diselesaikan  dengan  kekerasan, menimbulkan  trauma yang  menjadikan korban tidak berdaya sehingga muncul perilaku yang menyimpang. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang jenis-jenis kekerasan yang dilakukan  orang dewasa terhadap  anak jalanan di terminal  Leuwi Panjang Bandung.  Metodologi penelitian adalah desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif.  Populasi dalam penelitian ini adalah  anak jalanan usia 6 – 18 tahun  di kota Bandung yang berjumlah 4.626 orang. Teknik pengambilan  sampel dengan cara random  sampling  yang berjumlah  98 responden, diperoleh dengan menggunakan rumus Slovin. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner). Analisis data menggunakan  rumus  presentase. Tempat dan waktu  penelitian dilakukan di Terminal Leuwi Panjang Bandung dari tanggal 9 Juli – 12 Juli 2007, Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden mengalami  kekerasan fisik dan psikis, sedangkan sebagian kecil mengalami kekerasan seksual. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa seluruh responden mengalami tindak kekerasan baik fisik, psikis, maupun seksual. Maka dari itu perlu adanya kerjasama antara semua pihak yang berkaitan untuk menanggulangi tindak  kekerasan  pada anak. Kata Kunci : Kekerasan, Anak Jalanan, Orang Dewasa
PENGARUH STIMULASI SENSORI TERHADAP NILAI GLASLOW COMA SCALE PADA PASIEN CEDERA KEPALA DI RUANG NEUROSURGICAL CRITICAL CARE UNIT RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG Lumbantobing, Valentina B.M; Anna, Anastasia
KEPERAWATAN Vol 3, No 2 (2015): Jurnal KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.969 KB)

Abstract

Abstract - Level of consciousness is one of indicators of criticalness and prognosis of head injury. Decrease of consciousness in head injury patients is measured objectively by Glasgow Comma Scale (GCS). The decrease of consciousness might give an effect to patient basic need. Several studies show that sensory stimulation could give neuroprotective effect to avoid brain cells damage resulted from head injury. This study is aimed to identify the effect of sensory stimulation towards GCS among head injury patients in dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Type of this study is Quasi Experiment with Pretest-posttest control group design. Sampling technique used in this study was non-probability sampling with consecutive sampling. Thirty respondents was included, 15 in control group and 15 in intervention group. Intervention group respondents were given standard treatment and sensory stimulation (olfactory, auditory, tactile and gustatory) for 3 days. However, for respondents in control group, only standard treatment was given. Assessment of GCS was done in the first day before sensory stimulation intervention and 3 days post intervention. Different GCS score between intervention and control groups was analyzed by dependent t-test. Meanwhile, effect of sensory stimulation was analyzed by independent t-test. The results of the analysis show significant effect of sensory stimulation towards GCS score among primary head injury patients (p=0.041). It is implicated from the study that sensory stimulation as non-pharmacology treatment is expected to be considered as a complementary therapy in handling head injury patients. Keywords: Sensory stimulation, Glasgow Comma Scale (GCS), head injury. Abstrak - Tingkat kesadaran merupakan salah satu indikator kegawatan dan prognosis pada cedera kepala. Penurunan kesadaran pada cedera kepala di ukur secara objektif dengan Glasgow Comma Scale (GCS). Penurunan kesadaran tersebut dapat mempengaruhi pemenuhaan kebutuhan dasar pasien. Beberapa penelitian menunjukan bahwa stimulasi sensori mampu memberikan efek neuroprotektif  yang mencegah kerusakan sel-sel otak dari iskemik yang ditimbulkan cedera kepala. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh stimulasi sensori terhadap nilai GCS pada pasien cedera kepala di RSUP dr Hasan Sadikin Bandung. Jenis penelitian ini adalah Quasi Experimental Design dengan pendekatan Pretest-Posttest Control Group Design. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan non probability sampling jenis consecutive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 30 responden yang terbagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok kontrol (15 responden) dan perlakuan (15 responden). Kelompok perlakuan, selain mendapatkan terapi standar, ia juga mendapatkan stimulasi sensori (stimulasi olfaktori, auditori, taktil dan gustatori) selama 3 hari. Sedangkan kelompok kontrol hanya mendapatkan terapi standar saja. Penilaian GCS dilakukan di hari pertama sebelum pemberian stimulasi sensori dan dihari ketiga setelah pemberian stimulasi sensori. Perbedaan nilai GCS pada kelompok kontrol dan perlakuan dianalisis dengan dependent t test. Sedangkan pengaruh stimulasi sensori terhadap nilai GCS dianalisis dengan menggunakan independet t test. Hasil uji statistik menunjukkan adanya pengaruh stimulasi sensori terhadap nilai GCS pada pasien cedera kepala primer (p=0,041). Dampak dari penelitian ini adalah diharapkan stimulasi sensori sebagai terapi non-farmakologi bisa dipertimbangkan menjadi terapi komplementer dalam penanganan pasien cedera kepala.  Kata kunci : Stimulasi Sensori, Glasgow Comma Scale (GCS), Cedera Kepala.
Perbedaan Efektivitas Relaksasi Otot Progresif Dan Hipnoterapi Terhadap Disminore Primer Pada Remaja Fitriani, Hemi; Achmad, Achmad
KEPERAWATAN Vol 5, No 2 (2017): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.38 KB)

Abstract

ABSTRAKDismenore merupakan gangguan menstruasi yang umum dialami remaja. 54,89% remaja usia 14-19 tahundi Indonesiapada tahun 2011 mengalami dismenore. Dismenore sering mengakibatkan terganggunya aktivitas dan prestasi remaja di sekolah. Intervensi yang tepat dan efektif untuk mengatasi dismenore harus dilakukan untuk membantu remaja. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi perbedaan efektivitas relaksasi otot progresif dan hipnoterapi terhadap penurunan skala dismenore primer pada remaja. Jenis penelitian Quasi Experiment, dengan desain Non-equivalent Control Group.Sampel diambil dengan tehnik purposive sampling, berjumlah 26 siswi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Numeric Rating Scale (NRS). Data yang terkumpul kemudian dianalisa menggunakan median untuk data univariat dan uji Mann Whitney untuk data bivariat. Hasiluji Mann-Whitney didapatkan pValue=0,018, nilai ini menggambarkanterdapat perbedaan yang signifikan rata-rata nyeriantara relaksasi progresif dan hipnoterapi. Simpulan dari penelitian ini adalah, secara statistik hipnoterapi lebih efektif dibandingkan dengan relaksasi progresif. Saran bagi petugas kesehatan, dalam menangani dismenore primer pada remaja adalah dengan intervensi hipnoterapi. Kata kunci: Dismenore primer, Hipnoterapi, Relaksasi Otot Progresif, Remaja ABSTRACTDysmenorrhea, also known as menstrual cramps and pain often occurs in teenagers. In 2011, around 54.89% of Indonesian teenagers at the age of 14-15 suffer from dysmenorrhea. This painful period is the most frequent cause restricted to social activities and academic performances. Therefore, an appropriate and effective intervention is required. This study aims to identify the differences of effectiveness of progressive muscle relaxation and hypnotherapy to relieve primary dysmenorrhea among Indonesian teenagers.This study belongs to quasi-experimental research employing Non-equivalent Control Group design. The subjects include 26 female students chosen by purposive sampling technique. Data are collected by Numeric rating Scale (NRS) questionnaire. Univariatedata are analyzed by Mean while bivariate data by Mann Whitney analysis. Mann Whitney analysis obtained pValue= 0.018 which lead to the significant differences on the average value between progressive muscle relaxation and hypnotherapy. The statistical result shows that hypnotherapy produces the significant relief in menstrual painamong teenagers. Therefore, hypnotherapy can be recommended by Nurses as the first intervention to relieve primary dysmenorrhea among teenagers. Keywords: primary dysmenorrhea, hypnotherapy, progressive muscle relaxation, teenagers.
GAMBARAN FAKTOR PENYEBAB INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA DI PUSKESMAS PASIRKALIKI KOTA BANDUNG Hayati, Sri
KEPERAWATAN Vol 2, No 1 (2014): Jurnal KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.985 KB)

Abstract

Abstract - Acute Respiratory Infection (ARI) is acute infectious disease that attacks one or more parts of the respiratory tract, it is  from the nose to the pockets of the lung ( alveoli ) including adneksanya networks such as sinus/cavity around the nose, middle ear and pleural cavity. Household Health Survey  in 2001, the death rate from pneumonia is reaching 5 cases in 1000 infants and toddlers . The result of ARI is 150 thousand babies and toddlers die each year. The purpose of this study was  obtaining  an overview of factors,such as LBW , nutritional status , immunization , residential density and physical environment in the vent of Puskesmas Pasirkaliki Bandung. Design of  research is descriptive quantitative by using simple random sampling technique, analysis is using a percentage formula, the population is 226 respondents. The sample is 30 % of the population, it is 68 respondents.Based on the results of majority  respondents have  history of birth’s low weight , half of the respondents have less nutritional status , immunization  status most complete , many residential density are less and almost all respondents have worse ventilated . It is therefore itis advisable for the clinic to further promote the importance of immunization and the prevention of low birth weight to prevent the occurrence of ARI . Keywords : Causes of ARI , Toddler Abstrak - Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung hingga  kantong paru (alveoli)  termasuk jaringan adneksanya seperti sinus/rongga di sekitar hidung, rongga telinga tengah dan pleura. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 angka kematian akibat pneumonia, mencapai 5 kasus diantara 1000 bayi dan balita. Ini berarti ISPA mengakibatkan 150 ribu bayi dan balita meninggal setiap tahunnya, atau 12.500 korban perbulan, atau 416 kasus sehari, atau 17 anak per jam, atau 1 orang balita tiap 5 menit. Tujuan  penelitian  ini untuk  mendapatkan gambaran faktor  penyebab ISPA yaitu BBLR, status gizi, imunisasi, kepadatan tempat tinggal dan lingkungan fisik ventilasi di Puskesmas Pasirkaliki Kota Bandung. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan  menggunakan  teknik simpel random sampling. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan rumus prosentase. Populasi dalam penelitian ini yaitu 226 responden, sampel sebanyak 30% dari populasi yaitu 68 responden. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden mempunyai riwayat BBLR, hampir setengah responden mempunyai status gizi kurang, sebagian status imunisasi lengkap, sebagian besar kepadatan tempat tinggal kurang dan hampir seluruh responden mempunyai lingkungan fisik ventilasi tidak baik. Oleh karena itu disarankan bagi pihak  puskesmas untuk lebih mensosialisasikan pentingnya  imunisasi dan pencegahan BBLR untuk mencegah kejadian ISPA. Kata Kunci: Faktor Penyebab ISPA, Balita     
Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Cuci Tangan Siswa Di Sekolah Dasar Negeri Cicadas 2 Kota Bandung Pauzan, Pauzan; Fatih, Hudzaifah Al
KEPERAWATAN Vol 5, No 1 (2017): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.086 KB)

Abstract

ABSTRAKCuci tangan merupakan tindakan pencegahan dan penanggulangan penyakit yang menjadi program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah. Kebiasaan cuci tangan penting untuk diajarkan sejak dini karena anak-anak merupakan calon-calon agen perubahan untuk lingkungan sekitarnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku cuci tangan adalah pengetahuan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan dengan perilaku cuci tangan pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode Cross Sectional dan telah dilakukan pada tanggal 3 Mei 2016 sampai 28 Mei 2016 di SDN Cicadas 2 Kecamatan Cibeunying Kidul Kota Bandung. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas 4 dan 5 sebanyak 78 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan wawancara. Untuk menjawab pertanyaan penelitian, data dideskripsikan menggunakan persentase dan analisis korelasi menggunakan Pearson’s Correlation. Hasil penelitian menunjukkan 41% siswa memiliki pengetahuan baik, 21.8% siswa memiliki pengetahuan cukup dan 37.2 % siswa memiliki pengetahuan kurang. Sementara itu, 61.5% siswa memiliki perilaku cuci tangan baik dan 38.5% siswa memiliki perilaku cuci tangan kurang baik. Hasil uji statistik dengan analisis Pearson’s Correlation menyatakan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku cuci tangan. Untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku cuci tangan yang baik, sekolah perlu untuk memberikan pendidikan kesehatan tentang cuci tangan secara kontinyu.Kata kunci: Pengetahuan, perilaku, cuci tangan. ABSTRACTHandwashing is an act of disease control and prevention which become a Clean And Healthy Lifestyle Program at school. Handwashing is important to be taught from an early age because children are change agent candidates for their surrounding. One of the factors that influence handwashing behavior is knowledge. Therefore, this study aimed to identify the relationship between knowledge with handwashing behavior in elementary school students. This research was a quantitative research with cross sectional design and conducted on May 3rd until May 28th 2016 at SDN Cicadas 2 Cibeunying District, Bandung City. The sample in this study were 4th and 5th grade students, with 78 respondents taken by total sampling. Data were collected using questionnaires and interviews. To answer the research questions, the data described using percentages and correlation analysis using Pearsons Correlation. Results showed 41% of students had good knowledge, 21.8% of students had sufficient knowledge and 37.2% of students had poor knowledge. Meanwhile, 61.5% of students had good handwashing behavior and 38.5% of students had poor handwashing behavior. Finally, a significant relationship was found between knowledge and handwashing behavior. To improve a good knowledge and handwashing behavior, schools need to provide health education on hand washing continuously.Keywords: knowledge, behavior, hand washing.
PENGARUH TERAPI PENERIMAAN DAN KOMITMENT (ACCEPTANCE DAN COMMITMENT THERAPHY) PADA PENURUNAN NILAI BPRS PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI Irawan, Erna
KEPERAWATAN Vol 4, No 2 (2016): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.478 KB)

Abstract

ABSTRAKJumlah penderita gangguan jiwa berat di Indonesia sebesar 2,5 juta jiwa. Di RSJ Jawa barat yang paling banyak adalah penderita halusinasi yaitu 1.535 pasien. Acceptance dan Commitment Theraphy (ACT) merupakan salah satu terapi yang digunakan untuk mengatasi halusinasi karena ACT membuat seseorang mampu menerima setiap pengalaman dan peristiwa yang telah terjadi dan kembali berfungsi dengan normal dalam menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan tujuan hidupnya. Jenis penelitian yang dilakukan adalah quasy experimental dan sampel yang didapatkan adalah 26 pasien halusinasi. Hasilnya pada postest intervensi ditambah dengan ACT rata-rata hasil Pre test BPRS adalah  81.115 dan setelah 1 minggu diberikan intervensi dengan tambahan ACT rata-rata hasil Post test 78.3. Dari hasil ini menunjukan adanya perubahan kearah yang lebih baik sebanyak 34%. Simpulannya intervensi ditambah ACT dapat mempercepat penurunan nilai BPRS pasien halusinasi.Kata Kunci: ACT, Gangguan Presepsi Halusinasi, BPRS  ABSTRACTNumber of people with severe mental disorders in Indonesia of 2.5 million. In RSJ Jawa Barat most of the patients is hallucinations that are 1,535 patients. Acceptance and Commitment Therapy (ACT) is one of the therapies used to treat hallucinations because ACT makes a person able to accept any thoughts and events that have occurred and returns to normal functioning in living daily life in accordance with his purpose in life. Type of research is quasy experimental and samples obtained are 26 patients’ hallucinations. The result on the posttest intervention coupled with an average ACT test results Pre SRB is 81 115 and after 1 week granted an additional intervention with an average ACT test results Post 78.3. From these results indicate a change towards the better as much as 34 %. Intervention and ACT may accelerate the decline in the value of the patient SRB hallucinations.Keywords: ACT, Hallucination, SRB
GAMBARAN HARGA DIRI PASIEN THALASEMIA REMAJA (usia 14-21 tahun) DI KLINIK HEMATO-ONKOLOGI RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG Maghfiroh, Riska; Okatiranti, Okatiranti; Sitorus, Ria E
KEPERAWATAN Vol 2, No 2 (2014): Jurnal KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.771 KB)

Abstract

Abstract - Thalassemia is a group of hereditary diseases or conditions in which the production of one or more than one type of polypeptide chain is characterized by impaired hemoglobin levels decreased. In January 2013 recorded 230 thalassemia patients hemato-oncology clinics  and 70% are adolescent thalassemia patients aged 14-21 years. Thalassemia impact physical changes such as mongoloid face, body growth is less than perfect, enlarged liver and spleen that can affect the self-esteem of patients. Self-esteem is a self-assessment that reflects the attitude of acceptance or rejection, and show how far the individual believes that he is capable, important, successful and valuable. Research purposes to describe the adolescent self-thalassemia patients (aged 14-21 years) in hemato-oncology Clinic  with descriptive research. The sampling technique used is purposive sampling with a sample of adolescent thalassemia patients (aged 14-21 years) with a sample of 41 respondents. Adolescent self-esteem was measured using the Coopersmith self-esteem scale. Assessment criteria using the mean, which if mean <15.2 is categorized low self-esteem, whereas if the mean of ≥ 15.2 were categorized high esteem. The results showed 46.3% of low self esteem and high self-esteem 53.7%. At felling of belongin 58.5% assessed with high self-esteem, felling of competence 61% assessed with low self-esteem, felling of worth 51.6% assessed with high self-esteem , of the three components of self-esteem only the assessed components capable of feeling so low that it can be concluded adolescent thalassemia patients have high self-esteem.This needs to be maintained and to improve the lower component, should the effort of health workers to help patients identify positive aspects and capabilities. Keywords: Thalassemia, self-esteem, adolescent Abstrak - Thalasemia adalah sekelompok penyakit atau  keadaan herediter dimana produksi satu atau lebih dari satu jenis rantai polipeptida terganggu yang dikarakteristikkan dengan penurunan kadar Hb. Pada bulan Januari 2013 tercatat 230 pasien thalasemia Kinik Hemato-Onkologi  dan 70% nya adalah pasien thalasemia remaja usia 14-21 tahun. Thalasemia memberikan dampak perubahan fisik seperti muka mongoloid, pertumbuhan badan kurang sempurna, pembesaran hati dan limpa yang dapat mempengaruhi harga diri pasien. Harga diri adalah suatu penilaian terhadap diri sendiri yang mencerminkan sikap penerimaan atau penolakan dan menunjukkan seberapa jauh individu percaya bahwa dirinya mampu, penting, berhasil dan berharga. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran harga diri pasien thalasemia remaja (usia 14-21 tahun) di Klinik Hemato-Onkologi  dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan sampel pasien thalasemia remaja (usia 14-21 tahun) dengan jumlah sampel 41 responden. Harga diri remaja diukur dengan menggunakan skala harga diri Coopersmith. Kriteria penilaian menggunakan mean, dimana jika mean < 15.2 dikategorikan harga diri rendah, sedangkan jika mean ≥ 15.2 dikategorikan harga diri tinggi.Hasil penelitian menunjukkan 46.3% harga diri rendah dan 53.7% harga diri tinggi. Pada komponen perasaan diterima (felling of belongin) 58.5% dinilai dengan harga diri tinggi, pada komponen perasaan mampu (felling of competence) 61 % dinilai dengan harga diri rendah, pada komponen perasaan berharga (felling of worth) 51.6 % dinilai dengan harga diri tinggi, dari ketiga komponen harga diri hanya komponen perasaan mampu yang dinilai rendah sehingga dapat disimpulkan pasien thalasemia remaja mempunyai harga diri tinggi.Hal ini perlu dipertahankan dan untuk meningkatkan komponen yang rendah, perlu adanya upaya dari petugas kesehatan untuk membantu pasien mengidentifikasi aspek positif dan kemampuan yang dimiliki. Kata kunci : Thalasemia, harga diri, remaja

Page 5 of 11 | Total Record : 110