cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2337621X     EISSN : 25810294     DOI : -
Journal of Fisheries and Marine Research (JFMR) is dedicated to published highest quality of research papers on all aspects of : Aquatic Resources, Aquaculture, Fisheries Resources Technology and Management, Fish Technology and Processing, Fisheries and Marine Social Economic and Marine Science. This journal is jointly published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University Malang Indonesia and Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani). JFMR is a new journal but related to the past journal of Faculty of Fisheries and Marine Science that is Jurnal Penelitian Perikanan (JPP) with ISSN: 2337-621X (print version) and website link of www.jpp.ub.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 640 Documents
PENILAIAN STATUS TROFIK EKOSISTEM TERUMBU KARANG DAN LAMUN DIPERAIRAN SELAT LEMBEH DENGAN APLIKASI INDEKS TRIX (TROPHIC LEVELASESSMENT OF COASTAL AND SEAGRASS ECOSYSTEM IN LEMBEH STRAIT WATERS USING TRIX INDICES APLICATION) triyulianti, iis; Lampou, Eghbert Evan; Widagti, Nuryani; Adi Swastana, I Gede
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 2 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.02.30

Abstract

Dalam pengelolaan sumber daya perairan dibutuhkan informasi dasar terkait status trofik untuk memberikan gambaran terkait pengkayaan nutrien yang menyebabkan peningkatan kesuburan perairan. Penilaian status trofik berguna untuk menggambarkan tingkat kesuburan suatu perairan.  Tingkat kesuburan perairan terukur dari unsur hara dan tingkat kecerahan serta aktivitas biologi lainnya yang terjadi di suatu badan air. Aplikasi indeks TRIX dapat digunakan untuk pemantauan kualitas lingkungan dan telah diaplikasikan untuk penilaian status trofik di lingkungan perairan pesisir. Penilaian status trofik dengan aplikasi indeks TRIX menggunakan kombinasi linear log dari 4 variabel yaitu Klorofil-a, Konsentrasi Oksigen Terlarut (DO), Total Nitrogen (Nitrat, Nitrit dan Amonia) dan Total Fosfat. Hasil penghitungan dengan formula untuk aplikasi indeks TRIX di perairan selat Lembeh diperoleh nilai indeks TRIX keseluruhan stasiun pengamatan adalah 2. Nilai indeks TRIX yang diperoleh menunjukkan bahwa lokasi studi memiliki kategori status trofik yang rendah atau Low Trophic Level. Low Trophic Level menunjukkan nilai indeks TRIX lebih rendah dari 4 yang umumnya berasosiasi atau mencirikan perairan pesisir.Basic information of tropic status or tropic level is needed in terms of aquatic management resources for giving us the description of water enrichment by nutrients that cause the increasing of water productivity. The assessment of tropic status is used for describing waters eutrophication level. The waters eutrophication level is measured from nutrient and the level of transparency waters includes biological activities in those water columns. TRIX index application used for environmental quality monitoring and it has been applied for assessing tropic status in coastal waters. The assessment of tropic status uses a linear logarithmic combination of 4 variables were Chlorophyll-a, concentration of dissolved oxygen, Total Nitrogen (Nitrate, Nitrite, Ammonia) and Phosphate. The result of trophic status assessment in marine coastal of Lembeh strait waters was obtained an index TRIX value for all stations respectively is 2. Those TRIX index values showed that the level status trophic index in our study location is in Low Tropic Level. Low Tropic Level indicating values lower than 4 TRIX units are associated with scarcely productive coastal waters
KARAKTERISTIK MIKROPLASTIK PADA EKOSISTEM PESISIR DI KAWASAN MANGROVE PERANCAK, BALI Yunanto, Agung; Fitriah, Nazulatul; Widagti, Nuryani
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 2 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.02.31

Abstract

Tingkat pencemaran mikroplastik di kawasan ekosistem pesisir telah diteliti pada bulan Juli 2016. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat pencemaran mikroplastik pada daerah hutan alami dan area bekas tambak di kawasan hutan mangrove Perancak Jembrana Bali. Pengambilan sampel sedimen dilakukan dengan corer dengan kedalamam 0-30 cm, yang selanjutnya akan dibagi dalam tiga tingkat kedalaman (0-10 cm, 10-20 cm dan 20 -30 cm). Metode pemisahan partikel mikroplastik (0,25-5mm) didasarkan pada pemisahan berat jenis. Hasil penelitian menunjukkan jenis mikroplastik yang ditemukan pada daerah hutan alami dan bekas tambak adalah film, fiber, fragmen dan pelet. Daerah hutan alami (F) ditemukan persentase tertinggi mikroplastik adalah dari jenis film (82,2%), kemudian diikuti dengan fragmen (9,7%)  fiber (5,8%) dan pelet (2,3%). Bekas tambak (P) ditemukan dominasi mikroplastik yang sama yaitu film (48,5%) diikuti fragmen (31,6%), fiber (17,7%) dan pelet (2,2%). Kelimpahan jenis mikroplastik di daerah hutan alami lebih besar dibandingkan areal bekas tambak. Kondisi ini mengindikasikan bahwa hutan alami lebih efektif dalam menjebak sampah plastik dibanding dengan bekas tambak.
Analisis Mikroplastik Pada Kerang Kijing (Pilsbryoconcha exilis) Di Sungai Perancak, Jembrana, Bali Yunanto, Agung; Sarasita, Dara; Yona, Defri
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 2 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.02.32

Abstract

Sampah plastik merupakan sumber sekunder dari mikroplastik. Ukuran mikroplastik yang sangat kecil dapat menyerupai plankton dan mikroorganisme lainnya, sehingga berpotensi termakan oleh biota laut yang bersifat pasif seperti kerang. Mikroplastik yang terkandung dalam biota akan terakumulasi dan menyebabkan berbagai macam dampak. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa dan mengidentifikasi mikroplastik pada kerang Kijing (Pilsbryoconcha exilis) di Sungai Perancak, Bali. Analisa dan identifikasi dilakukan dengan 4 tahapan, yaitu preparasi sampel, perlakuan hidrogen peroksida, pemisahan massa jenis dan identifikasi mikroplastik secara visual. Hasil dari penelitian ini, ditemukan mikroplastik jenis fiber dan film pada sampel kerang. Mikroplastik jenis fiber paling banyak ditemukan pada sampel dibandingkan mikroplastik jenis film.Plastik waste is a secondary source of microplastics. The very small size of microplastics can resemble plankton and other microorganisms, so that they have the potential to be eaten by passive marine biota such as shellfish. Microplastics contained in biota will accumulate and cause various kinds of impacts. This research was conducted to analyze and identify microplastics in shellfish (Pilsbryoconcha exilis) in the Perancak River, Bali. Analysis and identification were carried out in 4 stages, namely sample preparation, hydrogen peroxide treatment, density separation and visual identification of microplastics. The results of this study, found microplastic types of fiber and film in the shell samples. Fiber type microplastics are mostly found in samples compared to film type microplastics.
KONDISI PADANG LAMUN DI PESISIR BALI UTARA BERDASARKAN JUMLAH SPESIES, JUMLAH ALGA, DAN PERSENTASE TUTUPAN Wigdati, Nuryani; Setiabudi, Gede Iwan; Ampou, E. Elvan; Surana, I Nyoman
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 2 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.02.33

Abstract

Identifikasi kondisi padang lamun di perairan Bali Utara telah dilakukan pada Agustus dan September 2020 di Sumberkima, Lovina, Panimbangan, dan Pacung. Tujuan kajian ini untuk mengidentifikasi kondisi padang lamun di perairan Bali Utara berdasarkan jumlah jenis lamun, persentase tutupan lamun, dan jumlah jenis alga. Metode transek garis tegak lurus garis pantai serta foto atau video diaplikasikan untuk pengambilan ketiga jenis data tersebut. Analisis kondisi lamun dilakukan dengan metode penilaian dan pembobotan. Di keempat lokasi ditemukan sebanyak enam jenis lamun yang berasal dari dua famili yaitu Hydrocharitaceae dan Cymodoceaceae. Famili Hydrocharitaceae diwakili oleh Enhalus acoroides (Ea), Thalassia hemprichii (Th), Halophila ovalis (Ho), dan Cymodocea rotundata (Cr), sementara famili Cymodoceaceae terdiri dari Syringodium isoetifolium (Si) dan Halodule uninervis (Hu). Jenis paling beragam ditemukan di Lovina dengan rata-rata persentase tutupan 60% dan paling sedikit di Panimbangan dengan rata-rata tutupan 52%. Hasil pembobotan pada komponen jenis lamun, jenis alga, dan persentase tutupan menunjukan bahwa kondisi lamun di Lovina dalam kondisi paling baik dengan jumlah skor 13. Kondisi lamun di Sumberkima dalam kondisi sedang (skor 11), sedangkan di Panimbangan dan Pacung dalam kondisi buruk dengan skor 7. Kondisi kualitas air pada saat dilakukan pengamatan di keempat lokasi penelitian dalam kondisi yang baik untuk mendukung kehidupan lamun. Penelitian lanjutan dengan menambahkan dan mempertimbangkan parameter lingkungan lainnya sebagai komponen untuk menilai kondisi dan status lamun di Bali Utara. Identification of seagrass beds condition in North Bali waters (Sumberkima, Lovina, Panimbangan, and Pacung) was carried out in August and September 2020. This study aims to identify the condition of seagrass beds in North Bali waters based on the number of seagrass species, the percentage of seagrass cover, and the number of algae species. We performed line transects as well as photos or videos to collect data on seagrass and algae. Seagrass ecosystem condition was analyzed by using the scoring and weighting method. Six species originating from two families,  Hydrocharitaceae and Cymodoceaceae, have been identified.  Hydrocharitaceae family represented by Enhalus acoroides (Ea), Thalassia hemprichii (Th), Halophila ovalis (Ho), and Cymodocea rotundata (Cr), while the Cymodoceaceae consists of Syringodium isoetifolium (Si) and Halodule uninervis (Hu). The most diverse species were found in Lovina with an average percentage cover of 60% and the least is in Panimbangan (52%). The scoring and weighting results showed that the seagrass conditions in Lovina were in the best condition with a total score of 13. The condition of the seagrass in Sumberkima was moderate (score 11), while in Panimbangan and Pacung were in bad condition with a score of 7. The condition of water quality at the time of observation was in good condition to support seagrass life at all research sites. Further research by adding and considering other environmental parameters as a component in assessing the condition and status of seagrass in North Bali.
MONITORING MANGROVE UNTUK ESTIMASI POTENSI KARBON BIRU DI DUMAI, RIAU Wigdati, Nuryani; Sidik, Frida; Pradisty, Novia Arinda
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 2 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.02.34

Abstract

Mangrove menyediakan berbagai jasa ekosistem, salah satunya adalah sebagai penyerap dan penyimpan karbon biru. Perhitungan jumlah simpanan dan serapan karbon di hutan mangrove menjadi penting karena hutan mangrove di Indonesia memiliki simpanan karbon biru tertinggi di dunia. Informasi potensi karbon biru mangrove dapat diperoleh dari kegiatan monitoring mangrove yang dilakukan secara berkala. Dengan lokasi penelitian di Dumai, Riau, studi ini mengestimasi karbon yang disimpan dan diserap oleh pohon mangrove di tepi sungai dan dalam hutan. Struktur komunitas diketahui dengan menghitung Shannon-Wiener Index, sementara biomasa dan potensi simpanan karbon mangrove dihitung dengan persamaan alometrik khusus berdasarkan jenis. Jenis mangrove yang ditemukan di lokasi penelitian antara lain Rhizophora apiculata, Avicennia marina, Xylocarpus granatum, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, Lumnitzera racemosa, dan Nypa frutican, dimana  Stasiun Tepi Sungai didominasi oleh Xylocarpus granatum (kisaran Ø 1.36-23.25 cm), sementara Rhizophora apiculata mendominasi stasiun di dalam hutan dengan kisaran Ø 1.27-23.25 cm. Laju pertumbuhan mangrove cukup beragam dan Avicennia marina memiliki laju tercepat. Hasil menunjukan bahwa dengan estimasi rata-rata biomasa mangrove sekitar 596.56 Mg ha-1 hutan mangrove di Dumai, Riau berpotensi menyimpan karbon sebesar 285.24 Mg C ha-1. Karbon yang tersimpan di Stasiun Dalam Hutan lebih besar (332.9 Mg C ha-1) dibandingkan dengan di Stasiun Tepi Sungai (237.58 Mg C ha-1). Apabila satu hektar hutan mangrove di Dumai, Riau, rusak atau hilang, maka potensi karbon yang dilepaskan sebesar 1046.83 Mg CO2 ha-1, yaitu setara dengan jumlah CO2 yang terlepas dari pembakaran 524.82 ton batu bara.Mangroves provide various ecosystem services, one of which is as a carbon sink and storage. The assessment of mangrove carbon stock and sequestration becomes a global concern especially for Indonesia’s mangrove forests that store most of mangrove blue carbon in the world. Blue carbon potentialsl in mangroves can be estimated by assessing mangroves through periodic monitoring. Here, the study was undertaken in mangrove forests in Dumai, Riau and aimed to assess the carbon stored and sequestered in mangroves located riverside and inside the forests. The forest structure was examined with the Shannon-Wiener Index, while biomass and potential carbon storage of mangroves calculated by specific allometric equations based on the species. The species found in the study site were Rhizophora apiculata, Avicennia marina, Xylocarpus granatum, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, Lumnitzera racemosa, and Nypa frutican. The riverside station was dominated by Xylocarpus granatum (ranging Ø 1.36-23.25 cm), while Rhizophora apiculata dominated the station inside the forest (ranging Ø o1.27-23.25 cm). The rates of mangrove growth varied among the species, with Avicennia marina as the greatest. Our result showed that the mean of mangrove biomass in the study site was 596.56 Mg ha-1 with carbon stock potential of 285.24 Mg C ha-1. Mangroves inside the forests stored more carbon (332.9 Mg C ha-1) than ones in the riverside (237.58 Mg C ha-1). We estimated that the destruction of one hectare of mangrove forest in the study site can potentially release 1046.83 CO2, which is equivalent to CO2 released from 524.82 tonnes of burned coals.
SENSITIVITY ANALYSIS OF PRECIPITATION AND RUNOFF PARAMETER TO ASSESS NEMO/INDO12 MODEL OUTPUT Priyono, Bayu; Berlianti, Desy
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 2 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.02.35

Abstract

We investigate the sensitivity of precipitation and runoff parameters to a set of NEMO/INDO12 scenarios. A series of simulations are imposed based on reduction rate of each precipitation and runoff parameter to examine its influences to the main ocean characteristics behavior (temperature and salinity). One-set evaluates of two different simulations by using normal and reduce precipitation rate on whole domain Indonesian Sea Water, and the other-set evaluates of two simulations which focusing the experiment by reduce precipitation and runoff rate only on South China Sea region. Our results elucidate the complexity of the relationship between the varied of precipitation and runoff reduction rate, showing that the control of precipitation and runoff rate produced significant impacts on salinity profile up to subsurface stratification. Additionally, the reduction rate of precipitation and runoff indicated that the temperature changes do not always response significantly.
ANALISIS KANDUNGAN KLOROFIL MAKROALGA HIJAU DOMINAN DI PERAIRAN TELUK AWUR, JEPARA Maslahah, Nur Hikmah Mazroatum; Rudolf Muskananfola, Max; Purnomo, Pujiono Wahyu
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 3 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.03.14

Abstract

Perairan Teluk Awur merupakan perairan dengan karakteristik gelombang yang tidak begitu besar dan daerah yang landai dengan substrat dasar berupa pasir dan pecahan karang, sehingga lokasi tersebut banyak ditemukan keanekaragaman sumber daya laut, diantaranya adalah makroalga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis makroalga dan kandungan klorofil makroalga hijau dominan serta faktor fisika kimia yang mempengaruhi kandungan klorofil makroalga. Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode studi kasus yang dianalisis secara deskriptif dan analisis statistik uji One Way ANOVA dan Principal Component Analysis. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampling secara purposive random sampling. Kandungan klorofil diukur dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang 645 dan 663 nm. Makroalga yang ditemukan di Perairan Teluk Awur, Jepara yaitu spesies Caulerpa racemosa, Halimeda opuntia, Halimeda macroloba, Sargassum polycystum, Padina australis dan Halymenia durvillaei. Hasil kandungan klorofil a, klorofil b, dan klorofil total berturut-turut dari makroalga hijau dominan spesies Caulerpa racemosa, Halimeda opuntia dan Halimeda macroloba berkisar antara 1,311-9,299 mg/L, 2,080-12,409 mg/L, dan 3,390-20,167 mg/L. Indeks keanekaragaman tergolong rendah (0-0,820), indeks keseragaman  sedang (0-0,458) dan indeks dominansi pada kategori tinggi (0-1). Hasil uji analisis statistik dengan One Way ANOVA bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara jenis kandungan klorofil makroalga dengan jenis makroalga di Teluk awur, sedangkan hasil uji dengan metode PCA bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap kandungan klorofil diantaranya adalah variabel pH, DO, kecerahan, kecepatan arus, nitrat, dan fosfat, sedangkan faktor yang berpengaruh kecil terhadap kandungan klorofil a, klorofil b, dan klorofil total makroalga diantaranya adalah variabel suhu, intensitas cahaya, salinitas, dan kedalaman perairan.
SKRINING BAKTERI PENGHASIL ENZIM AMILASE DARI SEDIMEN TAMBAK UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) Novitasari, Diva Triza; Purnomo, Pujiono Wahyu; Jati, Oktavianto Eko; Ayuningrum, Diah; Sabdaningsih, Aninditia
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 2 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.02.15

Abstract

Tambak budidaya udang banyak memproduksi limbah organik yang berasal dari sisa metabolisme dan sisa pakan dari kultivan budidaya. Keberadaan limbah organik yang melimpah dan tidak didampingi dengan manajemen kualitas air, akan mengakibatkan dampak buruk pada kultivan seperti kematian. Proses bioremediasi termasuk salah satu cara untuk membersihkan bahan pencemar pada lingkungan tambak yang dibantu oleh agen biologis yaitu bakteri. Bakteri amilolitik dapat digunakan sebagai agen bioremediator pada lingkungan karena menghasilkan enzim amilase. Amilase merupakan enzim yang mampu menghidrolisis pati menjadi senyawa yang lebih sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi bakteri dari sedimen tambak udang vanname dan melakukan skrining enzim amilase menggunakan media Starch Casein Nitrat (SCN). Sedimen diambil pada 5 lokasi tambak pasca panen di Kabupaten Rembang. Sampel diisolasi menggunakan teknik pour plate dan purifikasi dengan teknik streak plate, sedangkan skrining enzim dilakukan dengan teknik dotting. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa terdapat 20 isolat bakteri yang diisolasi dari sedimen tambak udang vanname dan 9 isolat bakteri menunjukkan aktivitas enzim amilase, diketahui dari zona bening yang dihasilkan pada isolat setelah ditambahkan iodine.
Karakteristik Organleptik Ekado Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) dengan Fortifikasi Tepung Rumput Laut Eucheuma cottonii Sebagai Sumber Yodium Sulistiyati, Titik Dwi; Siahaan, Nehemia
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 6 No. 1 (2022): JFMR on April
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2022.006.01.9

Abstract

AbstrakEkado merupakan salah satu hasil dari produk boga, yang berasal dari negara Jepang. Salah satu usaha untuk meningkatkan gizi ekado adalah dengan fortifikasi tepung rumput laut Eucheuma cottonii. Tujuan penelitian ini adalah untuk menetapkan kadar yodium ekado udang vaname fortifikasi tepung rumput laut Eucheuma cottonii sebagai sumber yodium. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan tingkat konsentrasi fortifikasi tepung rumput laut Eucheuma cottonii memberikan pengaruh terhadap kadar yodium ekado udang vaname. Seiring dengan bertambahnya tepung rumput laut Eucheuma cottonii  yang digunakan, maka kadar yodium pada ekado udang vaname semakin meningkat dan pada tingkatan konsentrasi menunjukkan hasil yang berbeda nyata. Hasil yodium pada ekado udang vaname fortifikasi tepung rumput laut Eucheuma cottonii konsentrasi 0%, 5%, 10%, 15% secara berturut-turut adalah 0,022 mcg/100gr; 0,835 mcg/100gr; 1,294 mcg/100gr; 1,785 mcg/100gr. AbstractEkado is one of the results of boga products, which come from Japan. One of the efforts to improve nutrition is by fortification of eucheuma cottonii seaweed flour. The purpose of this study was to establish iodine levels of shrimp ekado vaname fortification seaweed flour Eucheuma cottonii as a source of iodine. The method used is Rancangan Acak Lengkap (RAL). The results showed that the difference in the concentration of fortification of Eucheuma cottonii seaweed flour influenced the iodine levels of shrimp vaname. As eucheuma cottonii seaweed flour is used, iodine levels in the shrimp vaname ekado increase and at concentration levels show noticeable different results. The result of iodine in shrimp ekado vaname fortification seaweed flour Eucheuma cottonii concentration 0%, 5%, 10%, 15% in a row is 0.022 mcg /100gr; 0.835 mcg/100gr; 1,294 mcg/100gr; 1,785 mcg/100gr.
FATTY ACID COMPOSITION ANALYSIS OF OIL EXTRACT MICROALGAE Spirulina sp. WITH DIFFERENT EXTRACTION METHODS Djamaludin, Heder; Chamidah, Anies
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 2 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.02.10

Abstract

The microalgae Spirulina sp. is a potential biological resource. Utilization of Spirulina sp. very broad in various industrial fields such as nutraceutical, food, cosmetic and pharmaceutical. The purpose of this study was to analyze the chemical composition and fatty acid profile of the Spirulina sp. extracted by different mechanical cell disruption methods. This research method is descriptive, where the microalgae Spirulina sp. extracted using Microwave-Assisted Extraction (MAE) and Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) methods, then the oil extract was analyzed for chemical composition and fatty acid profile with GC-MS instrument. The results showed that the oil extract of Spirulina sp. which extracted by MAE method contains 12 types of fatty acids where the levels of Saturated Fatty Acid are 56.01%, Mono-Unsaturated Fatty Acid 7.67%, and Poly-Unsaturated Fatty Acid 36.32%. Spirulina sp. oil extract contains ω-6 (17.17-18.87%) and ω-9 (4.34%) unsaturated fatty acids. Then the Spirulina sp. oil extract extracted by the UAE method contains 19 types of fatty acids where the levels of Saturated Fatty acids are 59.25%, Mono-Unsaturated Fatty acids 8.89%, and Poly-Unsaturated Fatty acids 40.87%. Spirulina sp. oil extract contains types of unsaturated fatty acids ω-3 (0.18-0.41%), ω-6 (18.39-27.73%), and ω-9 (3.50%). The highest fatty acid content in Spirulina sp. oil extract are palmitic acid/SFA (53.30-56.57%), oleic acid/MUFA (4.34-4.50%), and linoleic acid/PUFA (18.39-18.88%).