Jurnal Wiyata : Penelitian Sains dan Kesehatan
Jurnal Wiyata: Penelitian Sains dan Kesehatan is a periodical journal published by LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiyata Kediri with ISSN number 2442-6555 (online) and ISSN 2355-6498(prin). This Journal was first published online in 2015 with volume number 2 no 1. Jurnal Wiyata publish various original articles related to "Pharmacology, Toxicology and Pharmaceutics; Profesi Kesehatan; Menejmen Informasi Kesehatan; Mikrobiologi (Medis); Imonologi dan Alergi; Kedokteran Gigi; Pelayanan Medis Emergensi; Histologi; Kesehatan Masyarakat, Kesehatan Lingkungan dan Pekerjaan; Hematologi". This journal has been indexed Sinta 4 with Decree number: 30 / E / KPT / 2019. This journal is published twice a year in June and December. Every article that goes to editorial staff is selected through a Preliminary Review process by considering whether the article suits the scientific scope of journal. Manuscripts that do not comply with the writing guidelines for publication will be rejected by the editor before further review. The manuscripts that meet the specified guideline will be subject to peer-Preview Process for substansial and formatting check. If the manuscript is improperly prepared, it will be sent back to the author for either major or minor revision. The author should resubmit the revised manuscript within one month of provisional acceptance. Based on Reviewer comments, the Editorial Board then takes a final decision to accept or reject the article for publication.
Articles
12 Documents
Search results for
, issue
"Vol 11, No 2 (2024)"
:
12 Documents
clear
POTENSI PEWARNAAN ALAMI EKSTRAK BUAH NAGA MERAH Hylocereus polyrhizus SEBAGAI ALTERNATIF EOSIN
Sabban, Indra Fauzi;
Wahyuni, Ismiy Noer
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56710/wiyata.v11i2.833
Proses pewarnaan rutin yang sering digunakan diseluruh laboratorium patologi anatomi dalam pembuatan sediaan sitologi yaitu Papanicolaou dan Diff Quick. Metode pengecatan rutin tersebut dapat menghasilkan gambaran mikroskopik yang menghasilkan hasil yang berbeda-beda, namun bahan yang digunakan dalam pewarnaan tersebut kebanyakan bersifat karsinogenik. Dalam jangka Panjang dapat mempengaruhi petugas yang melakukan proses pewarnaan. Maka dari itu, penelitian ini memiliki Tujuan jangka pendek adalah untuk melihat perbedaan kualitas warna dalam pengecatan sediaan Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) untuk pemeriksaan kanker payudara yang dibandingkan dengan pewarnaan alami ekstrak buah naga, sedangkan tujuan jangka panjangnya untuk menemukan metode pewarnaan alternatif yang dapat digunakan untuk sampel FNAB payudara yang lebih ramah terhadap lingkungan. Metode penelitian ini adalah metode eksperimen dengan melakukan perbandingan pada 3 jenis pewarnaan. Hasil penelitian menunjukan potensi yang dimiliki oleh ekstrak buah naga merah sebagai alternatif pengganti eosin. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak buah naga merah memiliki potensi sebagai pewarnaan alami sediaan selular.
IDENTIFIKASI SENYAWA FITOKIMIA EKSTRAK ETANOL 70% AKAR GINSENG KUNING (RENNELLIA ELLIPTICA KORTH.) MENGGUNAKAN LC-MS/MS DAN AKTIVITAS AFRODISIAKA SECARA IN SILICO
Istiqamah, Farida;
Sukardiman, Sukardiman;
Widyowati, Retno
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56710/wiyata.v11i2.870
Abstrak Latar belakang: Rennellia elliptica Korth. secara tradisional digunakan sebagai zat afrodisiak. Dilihat dari potensinya, bukti ilmiah ekstrak tumbuhan ini sebagai penghambat phosphodiesterase-5 masih belum dilakukan Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa fitokimia yang terdapat pada ekstrak etanol 70% tanaman rennellia elliptica Korth. menggunakan LC-MS/MS dan aktivitas afrodisiakan secara in silico. Metode: Ekstrak etanol rennellia elliptica Korth. dianalisis menggunakan LC-MS/MS selanjutnya senyawa tersebut digunakan sebagai senyawa ligan dalam penambatan molekuler untuk mengetahui afinitas pengikatan konstituen fitokimia tersebut terhadap protein target phosphodiesterase 5 (PDB ID: 2H42). Hasil: Ditemukan 17 komponen senyawa antara lain golongan terpenoid, fenilpropanoid, antrakuinon dan flavonoid. Berdasarkan studi in silico dari 17 senyawa yang dianalisis dengan LC-MS/MS, Dulxanthone B (∆G=-9,52 kkal/mol) menunjukkan afinitas tertinggi untuk berikatan dengan target protein. Simpulan: Senyawa fitokimia dari rennellia elliptica Korth. dapat berfungsi sebagai terapi tambahan dalam penemuan obat untuk pengobatan yang menghambat phosphodiesterase 5. Abstract Background: Rennellia elliptica Korth. is traditionally used as an aphrodisiac substance. Judging from its potential, scientific evidence of this plant extract as a phosphodiesterase-5 inhibitor has yet to be conducted. Objective: . This research aims to determine the phytochemical compounds contained in the 70% ethanol extract of the Rennellia elliptica Korth plant. using LC-MS/MS. Method: The ethanol extract of rennellia elliptica Korth. was analyzed using LC-MS/MS and then the compounds were used as ligand compounds in molecular docking to determine the binding affinity of the phytochemical constituents to the target protein phosphodiesterase 5 (PDB ID: 2H42). Results: 17 compound components were found, including terpenoids, phenylpropanoids, anthraquinones and flavonoids. Based on in silico studies of 17 compounds analyzed by LC-MS/MS, Dulxanthone B (∆G=-9.52 kcal/mol) showed the highest affinity for binding to protein targets.. Conclusions: Phytochemical compounds from Rennellia elliptica Korth. may serve as an adjunct therapy in drug discovery for treatment that inhibits phosphodiesterase 5.
DIFFERENCES IN OCCUPATIONAL FACTORS AGAINST MUSCULOSKELETAL COMPLAINTS IN WORKERS WITH DIFFERENT TYPES OF VENTILATION
Zaenuri, Amalia Dwi Putri
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56710/wiyata.v11i2.583
Background: Transport workers are one of the jobs in the informal sector. There is a tendency that the work of transportation workers does not have a good organizational system so that they do not think about occupational safety and health. Based on the results of a preliminary study, transport workers in market X and shop houses in market X complain of musculoskeletal complaints even though the two markets have different types of ventilation. Objective: analyze whether there are differences in occupational factors on musculoskeletal complaints in transport workers with different types of ventilation. Method: This research is a comparative descriptive study with 35 respondents each carrying laborers from the market with natural and artificial ventilation. The statistical test of the difference used was the Man-Whitney test because the data were not normally distributed. Conclusions: The results of Asymp. Sig. The 2-tailed variable for working period for musculoskeletal complaints is 0.617 while for the physical workload variable for musculoskeletal complaints it is 0.793. There is no difference between years of work and physical workload on musculoskeletal complaints in haul workers who work in the market with different types of ventilation
RASIONALITAS PENGGUNAAN ANALGESIK ANTIPIRETIK PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE
Hartini, Indah Sri;
Prasetyo, Eko Yudha;
Kusumaratni, Dyah Ayu;
Prodyanatasari, Arshy
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56710/wiyata.v11i2.834
Latar belakang: Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue akut yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepty. Data dinas kesehatan menyebutkan peningkatan Case Fatality Rate (CFR) DBD tahun 2020 sebesar 0,8% dan tahun 2021 sebesar 1,1% sedangkan target nasional adalah sebesar 38oC secara mendadak, nyeri kepala atau nyeri dibelakang bola mata, nyeri otot dan tulang. Pengobatan pasien DBD untuk mengurangi rasa nyeri yang dialami adalah dengan pemberian analgesik antipiretik yang tepat. Tujuan: Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin meneliti gambaran penggunaan analgesik-antipiretik untuk mengetahui Tingkat rasionalitas penggunaan analgesik-antipiretik pada pasien DBD. Metode: Rasionalitas penggunaan analgesik-antipiretik yang diukur, meliputi ketepatan pasien, keterapatan obat, ketepatan indikasi, dan ketepatan dosis. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional noneksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif dan teknik sampling yang digunakan adalah totality sampling. Pengambilan data dilakukan berdasarkan data rekam medis pasien pada periode Bulan Januari-Agustus 2022. Sesuai dengan pedoman WHO dan Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan tatalaksana Dengue,pemberian obat analgesik-antipiretik yang sesuai dengan drug of choice adalah paracetamol. Simpulan: Berdasarkan data yang diperoleh diketahui sebanyak 74 pasien DBD dengan 57% pasien Perempuan dan 43 pasien laki-laki, serta 42% pasien merupakan anak-anak. Rasionalitas penggunaan analgesik-antipiretik pada pasien DBD diketahui yaitu 100% tepat pasien; 37,84 tepat obat; 100% tepat indikasi; dan 98,65% tepat dosis.
ANALISIS EFEKTIVITAS PENGGUNAAN BREAST BOARD PADA VENA CAVA SUPERIOR SYNDROME (VCSS) DENGAN TEKNIK THREE DIMENSIONAL CONFORMAL RADIATION THERAPY (3D-CRT)
Maritza, Adelia Nursri;
Anwar, Khairil
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56710/wiyata.v11i2.902
Latar belakang Kasus karsinoma paru di Instalasi Onkologi Radiasi Rumah sakit X Jakarta Timur biasanya dilakukan dengan teknik radioterapi three dimensional conformal radiation therapy (3D-CRT) atau teknik IMRT dan menggunakan body base plate serta masker thermoplastik. Pasien karsinoma paru dengan vena cava superior syndrome (VCSS) dilakukan teknik 3D-CRT dengan alat imobilisasi berupa breast board. Alat imobilisasi breast board biasanya digunakan untuk pasien dengan kasus kanker payudara, namun di Rumah sakit X Jakarta Timur alat imobilisasi ini dimanfaatkan untuk pasien VCSS yang tidak dapat berbaring penuh dengan tujuan mengurangi rasa sesak pasien.VCSS merupakan kumpulan gejala yang terjadi akibat adanya penekanan vena cava superior oleh tumor mediastinum yang bersifat ganas maupun jinak. Tujuan Penelitian menjelaskan teknik 3D-CRT pada kasus VCSS menggunakan breast board di instalasi onkologi radiasi Rumah sakit X Jakarta Timur. Metode Penelitian kualitatif yang dilakukan untuk mendeskripsikan terapi radiasi dengan teknik 3D-CRT pada kasus VCSS yang menggunakan Breast board di Instalasi Onkologi Radiasi Rumah sakit X Jakarta Timur. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juni 2024 di Instalasi Onkologi Radiasi Rumah sakit X Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan data primer yang dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah pesawat LINAC, EPID, komputer TPS, Data set up pasien CT simulator, Breast board, Lembar Observasi, Lembar Pedoman wawancara dan Hasil dokumentasi. Data-data hasil pengumpulan data akan dianalisa secara kualitatif dan disajikan dalam bentuk uraian naratif. Hasil Penelitian prosedur terapi radiasi teknik 3D-CRT pada VCSS dengan menggunakan alat imobilisasi breast board sudah sesuai dengan SPO yang berlaku di rumah sakit. Rata-rata pergeseran titik koordinat x sebesar 0,4 cm, titik koordinat y sebesar 0,4 cm, titik koordinat z sebesar 0,0 cm sehingga hal ini sudah sesuai dengan rekomendasi ICRU report 50 dan 62 yakni toleransi nilai pergeseran sebesar 3-5 mm. Simpulan penggunaan breast board dinilai efektif dilakukan untuk mengurangi rasa sesak pasien dan meminimalisir pergeseran pasien saat pernyinaran radiasi.
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN ERUPSI GIGI MOLAR PERTAMA PERMANEN RAHANG BAWAH PADA ANAK USIA 6-7 TAHUN
rochmani, richa
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56710/wiyata.v11i2.703
Zat gizi sangat penting dan mendasar dalam kehidupan manusia yang berfungsi sebagai penghasil energi, pembangun, pemelihara, dan pengatur proses kehidupan. Kekurangan gizi dapat menyebabkan keterlambatan dalam proses erupsi gigi. Erupsi gigi merupakan proses pergerakan gigi dari bagian dalam rahang ke dalam rongga mulut. Erupsi gigi dapat terjadi pada gigi desidui maupun gigi permanen. Erupsi gigi permanen berkaitan dengan gigi sulung, saat gigi permanen sudah sepenuhnya berkembang maka gigi permanen akan mulai muncul sehingga mendorong gigi sulung untuk tanggal. Umumnya erupsi gigi permanen molar pertama pada usia 6 sampai 7 tahun. Gigi permanen molar pertama sangat penting untuk anak-anak terutama untuk merangsang pertumbuhan rahang. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan status gizi dengan erupsi gigi molar pertama permanen rahang bawah pada anak usia 6-7 tahun. Metode: metode yang digunakan adalah literature review, artikel dikumpulkan dengan cara menggunakan mesin pencari seperti Google Scholar. Kriteria artikel yang digunakan adalah diterbitkan tahun 2011-2020. Hasil:berdasarkan artikel yang dikumpulkan didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang nyata status gizi dengan erupsi gigi molar pertama permanen rahang bawah. Artinya semakin baik status gizi seseorang maka semakin baik pula pertumbuhan gigi molar permanen pertama rahang bawah begitu pula sebaliknya. Kesimpulan: Terdapat hubungan status gizi dengan erupsi gigi molar pertama permanen rahang bawah pada anak secara nyata namun dengan korelasi lemah. Kata Kunci: erupsi gigi, status gizi, erupsi gigi permanen pada anak, usia, dan gigi permanen muda
Hubungan Kepatuhan Diet Dan Gaya Hidup Terhadap Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Type 2
santosa, winanda rizki bagus;
Akasyah, Wildan
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56710/wiyata.v11i2.851
Introduction: Frequent consumption of foods and drinks containing sugar and unhealthy lifestyles are an emergency problem for type 2 diabetes mellitus patients. In type 2 diabetes mellitus patients, unhealthy lifestyles and irregular diets cause disease complications resulting in frequent deaths. Objective: This study aims to determine the relationship between diet and lifestyle adherence to blood sugar levels in patients with type 2 diabetes mellitus. Method: Correlational research design using a cross-sectional approach. This research was conducted for the period 1 November 2023 - 30 November 2023. The population in this study were patients diagnosed with T2DM at public health centers X and Y, in Kediri City. Sample measurements can use G Power with a power analysis effect size of 0.5, α err prob 0.05, power (0.95), and an increase in sample size of 20% to obtain a sample of 56 respondents. The sample selection technique was purposive sampling based on inclusion criteria, namely that the patient was willing to take part in the research until completion, the patient could read and write, and the patient was diagnosed with T2DM by a doctor at the public health centers X and Y, in Kediri City. The research statistical test used Spearmans Rho. Results: The relationship between diet and blood sugar levels in type 2 diabetes mellitus patients showed that the majority of type 2 diabetes mellitus patients had poor diet patterns and blood sugar levels ≥ 126, namely 64.3%. The results of the analysis of the relationship between diet and blood sugar levels also showed a p-value of 0.001 < 0.05. The relationship between lifestyle and blood sugar levels in T2DM showed that the majority had poor lifestyles and blood sugar levels ≥ 126, namely 67.9%. The results of the analysis of the relationship between lifestyle and blood sugar levels also showed a p-value of 0.000 < 0.05. Conclusion: There is a relationship between diet and lifestyle on blood sugar levels in type 2 diabetes mellitus patients. Suggestion: In T2DM patients, avoid eating foods and snacks that contain high sugar, and high fat, and control portion sizes to manage blood sugar levels. Do regular physical activity, according to your abilities and doctor's recommendations. Walking, cycling, and other sports can be good choices for controlling blood sugar.
SCREENING OF SECONDARY METABOLITE COMPOUNDS AND YIELD OF WHITE RHIZOME (Alpinia Galanga L.) EXTRACT THROUGH FOUR EXTRACTION METHODS
Badriyah, Lailatul
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56710/wiyata.v11i2.935
Background: Health maintenance can be addressed by the utilization of natural medicines derived from plants called traditional medicine. Traditional medicine can be produced from rhizomes, one of include was the white galangal rhizome. The chemical compounds of white galangal rhizome provide numerous benefits in both culinary and health fields. Objective: to obtain the best yield from the four extraction methods used. The extracts obtained were tested qualitatively using chemical reagents. Method: The method employed was a laboratory experiment utilizing various extraction techniques. The results indicate that the yields from maceration, soxhletation, reflux, and infusion were 11.955%, 20.359%, 15.737%, and 9.416%, respectively. The secondary metabolite compounds found in the white galangal rhizome extract were flavonoids, alkaloids, tannins, terpenoids, and saponins. Conclusions: it can be concluded that the extraction method with the best yield results was the soxhletation method.
Analisis Masalah Kesehatan Kasus Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Difteri di Kabupaten Blitar
Fitriani, Hari;
Isfandiari, Muhammad Atoillah;
Pramono, Endro;
Mufida, Arina Ersanti
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Latar Belakang: Berdasarkan data profil kesehatan Kabupaten Blitar tahun 2019-2021, diperoleh lima masalah kesehatan penyakit infeksi dan menular yang masih butuh perhatian dan penanganan khusus. Untuk itu perlu dilakukan upaya untuk menentukan apa yang menjadi prioritas masalah dan pemecahan masalah tersebut. Tujuan: Untuk mengidentifikasi masalah kesehatan, membuat prioritas masalah berdasarkan analisis data, melakukan analisis untuk menemukan akar penyebab suatu masalah, menentukan alternatif pemecahan masalah, dan merumuskan rekomendasi bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar. Metode: Analisis Deskriptif pada data sekunder dan brainstorming untuk identifkasi masalah, Metode USG untuk menentukan prioritas masalah, Metode Pendekatan Sistem (Input – Proses – Output) untuk menentukan akar penyebab masalah, Metode Hanlon untuk menentukan prioritas penyebab masalah, dan Metode NGT untuk menentukan alternatif pemecahan masalah. Sasaran pada kegiatan ini adalah tiap pengelola program Bidang P2P Dinas Kesehatan dan tujuh pengelola surveilans dari Puskesmas terpilih. Hasil : Dari analisis menggunakan metode USG, disimpulkan bahwa prioritas masalah di Kesehatan Kabupaten Blitar adalah kasus Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) difteri. Pada analisis penyebab masalah menggunakan metode pendekatan sistem diperoleh sembilan penyebab masalah dan hasil skoring dengan menggunakan metode Hanlon disimpulkan bahwa tenaga surveilans di faskes belum semua mendapatkan pelatihan PD3I bersertifikat. Hasil analisis dengan metode NGT untuk menentukan alternatif pemecahan masalah menghasilkan pelatihan tenaga kesehatan jaringan dan jejaring sampai tingkat bawah terkait skrining awal difteri. Kesimpulan dan Saran : Difteri menjadi prioritas masalah karena dari tahun 2019 – 2022 masih ada kasus suspek difteri yang dilaporkan dan Puskesmas Srengat adalah wilayah dengan laporan suspek difteri terbanyak. Perlu dilakukan pelatihan untuk tenaga kesehatan di jaringan dan jejaring terkait skrining awal difteri dan koordinasi di semua fasilitas kesehatan dalam upaya penemuan kasus suspek difteri.
UJI IN SILICO AKTIVITAS ANALGESIK DAN TOKSISITAS SENYAWA TURUNAN N-BENZOIL-N’-4-METOKSIFENILTIOUREA SEBAGAI CALON OBAT ANALGESIK
Juwanti, Aulia;
Purwanto, Bambang Tri;
Poerwono, Hadi
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56710/wiyata.v11i2.863
Abstrak Latar belakang : Senyawa N-(Benzoil)-N’-4-metoksifeniltiourea mempunyai gugus farmakofor yang sama dengan asam mefenamat yang mempunyai aktivitas sebagai analgesik, sehingga layak dijadikan senyawa induk untuk dikembangkan lebih lanjut melalui modifikasi struktur. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi aktivitas analgesik dan toksisitas dari duapuluh senyawa turunan N-(Benzoil)-N’-4-metoksifeniltiourea sebagai calon obat analgesik. Salah satu mekanisme kerja turunan N-(Benzoil)-N’-4-metoksifeniltiourea sebagai analgesik adalah menghambat COX2, yang berperan penting dalam mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin. Metode : Aktivitas biologis dapat diprediksi melalui pemodelan molekul yang disebut uji in silico,menggunakan program molecular operating environment (MOE) sedangkan toksisitas dapat diprediksi menggunakan program pkCSM. Uji in silico dilakukan dengan melakukan docking senyawa yang akan diprediksi aktivitasnya dengan target reseptor COX2, PDB 5IKR. Hasil : Hasil docking berupa energi ikatan digambarkan dengan nila Score (S). Senyawa dengan nilai S kecil berarti mempunyai ikatan ligan-reseptor yang stabil dan diprediksi mempunyai aktivitas yang besar. Dari hasil uji in silico disimpulkan bahwa turunan N-(benzoil)-N’-4-metoksifeniltiourea diprediksi menimbulkan toksisitas relative rendah, dan mempunyai aktivitas yang lebih besar dibandingkan asam mefenamat. Simpulan : N-(Etoksibenzoil)-N’-4-metoksifeniltiourea diprediksi mempunyai aktivitas analgesik paling besar sehingga senyawa terpilih untuk disintesis dan dikembangkan lebih lanjut. Abstract Background: The compound N-(benzoyl)-N'-4-methoxyphenylthiourea has the same pharmacophore group as mefenamic acid which has analgesic activity, so it is suitable to be used as a parent compound for further development through structural modification. Objective: This study aims to predict the analgesic activity and toxicity of twenty N-(benzoyl)-N'-4-methoxyphenylthiourea derivative compounds as candidate analgesic drugs. One of the mechanisms of action of the N-(benzoyl)-N'-4-methoxyphenylthiourea derivative as an analgesic is to inhibit COX2, which plays an important role in converting arachidonic acid into prostaglandins. Method: Biological activity can be predicted through molecular modeling called in silico testing, using the molecular operating environment (MOE) program, while toxicity can be predicted using the pkCSM program. The in silico test is carried out by docking the compound whose activity will be predicted with the target receptor COX2, PDB ID 5IKR. Results: The docking results in the form of bond energy are described by the value Score (S). A compound with a small S value means it has a stable ligand-receptor bond and is predicted to have large activity. From the in silico test results, it was concluded that the N-(benzoyl)-N'-4-methoxyphenylthiourea derivative is predicted to cause relatively low toxicity, and has greater activity than mefenamic acid. Conclusion: N-(Ethoxybenzoyl)-N'-4-methoxyphenylthiourea are predicted to have the greatest analgesic activity so the compounds were selected for synthesis and further development.