cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
GIZI INDONESIA
Published by DPP PERSAGI Jakarta
ISSN : 04360265     EISSN : 25285874     DOI : -
Core Subject : Health,
Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) is an open access, peer-reviewed and inter-disciplinary journal managed by The Indonesia Nutrition Association (PERSAGI). Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) has been accredited by Indonesian Institute of Sciences since 2004. Gizi Indonesia aims to disseminate the information about nutrition, therefore it is expected that it can improve insight and knowledge in nutrition to all communities and academics. Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) offers a specific forum for advancing scientific and professional knowledge of the nutrition field among practitioners as well as academics in public health and researchers
Arjuna Subject : -
Articles 538 Documents
ASUPAN SENG YANG RENDAH SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEPARAHAN PNEUMONIA PADA ANAK USIA 12-59 BULAN Nasution, Meiry; Hakimi, Mohammad; Hartini, Ninuk Sri
GIZI INDONESIA Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.665 KB)

Abstract

Period prevalence of infant pneumonia in Indonesia is 18.5 per mile. The high mortality rate due to pneumonia of 62 percent was found in 10 countries and 5 countries was located in Asia. Zinc is one of micronutrients which is reported to prevent pneumonia as   an acute phase response to infection and help to boost the body immune response. The objective of the study was to determine the impact of zinc intake as risk factor of severe pneumonia in children. A case control study was conducted among children aged 12–59  months in 2 hospitals and 6 health centres, Yogyakarta city. Thirty four children were categorized as having severe pneumonia (cases) and 102 children were categorized as having pneumonia (control).  All sample’s mothers completed a semi-quantitative food frequency questionnaire during March-April 2014. Data analysis was performed  using Mantel-Haenszel test and conditional logistic regression, α = 0,05. Results of the study showed that there were 41.2 percent cases and 56.9 percent control were exclusively breast-fed. The  proportion of cases who had inadequate zink intake was higher than control group. There was no difference between inadequate zinc intake and the severe pneumonia (OR 1,08 and  95% CI 0,5-2,3). There was a statistically significant correlation between low-zinc intake and severe pneumonia if second  disease exist (OR 3,8  and 95% CI 1,4 -10,8). As an conclusion, Inadequate zinc intake affected severe pneumonia when the secondary diseases exist in children with pneumonia. ABSTRAK Period prevalence pneumonia balita di Indonesia adalah 18,5 per mil. Angka kematian yang tinggi akibat pneumonia sebesar 62 persen terdapat di 10 negara dan 5 negara di antaranya merupakan negara di Asia. Defisiensi seng menyebabkan penurunan kekebalan sel sehingga meningkatkan kerentanan terhadap penyakit pneumonia. Tujuan penelitian ini menganalisis asupan seng yang kurang sebagai faktor risiko keparahan pneumonia pada anak. Desain penelitian case control pada 136 anak usia 12-59 bulan yang diperoleh dari 2 RS dan 6 puskesmas di Kotamadya Yogyakarta. Sampel terdiri dari 34 anak menderita pneumoni berat (kasus) dan 102 anak menderita pneumonia sebagai kontrol. Ibu sampel melengkapi data asupan seng melalui frekuensi makan semi-kuantitatif pada bulan Maret-April 2014. Sejumlah 45 makanan dicantumkan pada kuesioner frekuensi makan. Analisis data dilakukan dengan uji Mantel-Haenszel dan regresi logistik bersyarat dengan α =0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah 41,2 persen kelompok kasus dan 56,9 persen kontrol mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif. Proporsi kasus yang asupan sengnya kurang ternyata lebih tinggi dari kelompok kontrol. Tidak ada perbedaan antara asupan seng dan keparahan pneumonia (OR 1,08 dan 95% CI 0,5-2,3). Ada korelasi yang signifikan  antara asupan seng yang kurang dan keparahan pneumonia jika disertai penyakit penyerta (OR 3,8 dan 95% CI 1,4 -10,8). Kurangnya asupan seng berpengaruh terhadap terjadinya keparahan pneumonia jika disertai adanya penyakit penyerta pada anak-anak penderita  pneumonia usia 12-59 bulan. Kata kunci: asupan seng, pneumonia, faktor risiko, anak usia 12-59 bulan
KEMATIAN IBU DI INDONESIA (Analisis Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 1994-2007) Arsyad, Syahmida S.
GIZI INDONESIA Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.35 KB)

Abstract

MATERNAL MORTALITY IN INDONESIA(AN ANALYSIS OF THE 1994-2007 IDHS DATA)Maternal mortality is one of the main indicators of a community’s health status. It also reflects theperformance of a country’s health system. Almost 90 percents of maternal mortality can be preventedby, among others, maternal health care programs, nutrition improvement programs, family planningprograms, and increasing women’s education level. This paper has two objectives. The first objectiveis to describe maternal mortality ratios and its trend which are obtained from the 1994, 1997, 2002-2003 and 2007 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) results. The second objective is toanalyze factors influencing maternal mortality ratios in Indonesia. This information would be usefulfor policy makers to improve maternal health care programs. The 1994 IDHS used both direct andindirect methods, known as ”sisterhood method”, while the 1997, 2002-2003, and 2007 IDHS usedonly direct method to estimate maternal mortality rates and ratios. The surveys’ results show adeclining trend in maternal mortality for the five-year period prior to the surveys. The maternalmortality ratios according to the 1994, 1997, 2002/03 and 2007 IDHS are 390, 334, 307, and 228 per100,000 live births respectively. However, due to high sampling errors, it is difficult to concludewhether a decline in maternal mortality ratios has occurred during the last 20 years. The 1994, 1997,2002-2003 and 2007 IDHS results also demonstrate the effects of maternal health care programs onmaternal mortality ratios. Therefore, this paper concludes that the quality of maternal health careprograms need to be improved, which include antenatal, delivery and postnatal care, and also familyplanning programs.Keywords: Maternal mortality rate and ratio, Indonesia Demographic and Health Survey, maternalhealth care programs.
PEMBERIAN PROBIOTIK TERHADAP PENINGKATAN KADAR KALSIUM DARAH PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK TERMINAL Maryusman, Taufik; Sulchan, M; Chasani, Shofa
GIZI INDONESIA Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.162 KB)

Abstract

Patients with Terminal Chronic Renal Disease (ESRD) generally have impaired metabolism of minerals such as calcium. Probiotics can increase the balance of gastrointestinal microflora. Suplementation probiotics may increase levels of calcium. The aim of this study was to analyze the effect of probiotics on the increase of calcium levels. This study used a true experiment research using a randomized pre-post test control group design involving 24 subjects divided into 2 groups at random. The treatment group was given lactobacillus probiotics  (4.0x109CFU) each day in capsul, while the control group was given standard treatment. Statistical analyzes applied paired t-test and independent t-test. Data regarding characteristics of subject were collected using a structured questionnaire. Calcium levels measured by CPO methods and It conducted before intervension and after the intervention. Calcium levels in the treatment group increased at 0.9 g / dl, or higher than in the control group 0.7 g / dl. The treatment group showed a significant increase of calcium level (p = 0.02). But, this increases did not make a significant difference between the 2 groups. Giving of probiotics increases blood calcium levels even in a small level, therefore it is beneficial to be given to patients with ESRD.ABSTRAK Penderita Penyakit Ginjal Kronik (PGK) terminal pada umumnya mengalami gangguan metabolisme mineral seperti kalsium. Probiotik mampu meningkatkan keseimbangan mikroflora saluran pencernaan. Suplementasi probiotik mampu meningkatkan kadar kalsium. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pemberian probiotik terhadap kadar kalsium darah pada pasien PGK terminal. Penelitian ini merupakan penelitian true experiment dengan rancangan randomized pre-post test control group design yang melibatkan 24 subjek yang dibagi menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok perlakuan  diberikan probiotik lactobacillus (4.0x109CFU) per hari dalam bentuk kapsul, sedangkan kelompok kontrol diberikan pengobatan standar. Pengumpulan data penelitian meliputi karakteristik subjek yang dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Data kalsium darah diperoleh dari hasil pemeriksaan dengan metode OCP. Analisis statistik yang dilakukan adalah uji paired t-tes dan independent t-test. Kadar kalsium pada kelompok perlakuan meningkat 0,9 g/dl, atau lebih tinggi dibandingkan pada kelompok kontrol 0,7 g/dl. Kelompok perlakuan menunjukan peningkatan kadar kalsium secara bermakna (p=0,02).  Namun kenaikan ini tidak memberikan perbedaan yang bermakna antara dua kelompok (p= 0,21) Pemberian probiotik meningkatkan kadar kalsium darah walapun tidak banyak, sehingga bermanfaat untuk diberikan kepada pasien PGK terminal.  Kata kunci: probiotik lactobacillus, kadar kalsium, PGK terminal
ANALISIS KONSUMSI PANGAN TINGKAT MASYARAKAT MENDUKUNG PENCAPAIAN DIVERSIFIKASI PANGAN Ariani, Mewa
GIZI INDONESIA Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.815 KB)

Abstract

THE ANALYSIS OF FOOD CONSUMPTION AT COMMUNITY LEVEL TO ACHIEVE FOOD DIVERSIFICATIONAs a country with large population, having food-self-sufficiency-based-food security is very important. One of the strategies to be secured in food-self-sufficiency-based-food is through achieving food consumption diversification. This paper was aimed to analyze recent food consumption pattern in Indonesia with respect to food consumption diversification. Source of the data was National Household Socio-economic Survey (SUSENAS) year 2005-2009 obtained from the Food Security Council, Ministry of Agriculture. The data were analyzed using quantitative descriptive method and presented i n tables. Results of the analyses showed that: 1) Community’s welfare in Indonesia is improving, showed by reducing proportion of food expenditure; 2) Protein consumption among Indonesian people exceeds Recommended Dietary Allowance (RDA) for protein, while energy consumption is still below RDA for energy; and 3) The diversity of food consumption pattern among Indonesian people is improving, showed by increasing Dietary Diversity Score (Pola Pangan Harapan/PPH). However, to reach PPH-based food pattern, rice consumption should be limited, while consumption of tubers, animal food and fruitsvegetables still has to be increased significantly. Government created various instruments to achieve food diversification, such as Regulation of President No. 22, 2009 about Local Resources-based-Accelerating Food Consumption Diversification Policy, which further regulated by Ministry of Agriculture based on Regulation of Minister of Agriculture No. 43, 2009 about the action. Learning from past experience, simultaneous commitment and consistency from all stakeholders including legislative institution and media (newspaper, TV, radio, etc.) is important to implement. By having similar perception, right action and consistency in implementation, food diversification is no longer being a dream.Keywords: food diversification, food consumption, community
KONSUMSI MINUMAN DAN PREFERENSINYA PADA REMAJA DI JAKARTA DAN BANDUNG Briawan, Dodik; ., Hardinsyah; ., Marhamah; ., Zulaikhah; Aries, M.
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.029 KB)

Abstract

Studi ini adalah cross-sectionalyangdilakukan di Jakarta (pantai) dan di Bandung (pegunungan) dengan suhu  rata-rata  harian  masing  masing  adalah  28 C  dan  22 C.  Sampel  dipilih  secara  acak  dari  sekolah berturut-turut  sebanyak  masing  masing  110  orang  dan 99  orang.  Data  dikumpulkan  melalui  pengisian kuesioner, dan recallselama satu minggu untuk konsumsi aneka jenis minuman. Sebagian besar (73,2%) remaja di Bandung lebih menyukai air minum tanpa kemasan. Namun kebiasaan tersebut berbeda untuk di Jakarta, yaitu proporsi remaja yang mengkonsumsiair minum tanpa kemasan relatif sama dengan air kemasan (52,3% dan 47,7%). Rata-rata konsumsi air minum tanpa kemasan per hari secara signifikan lebihrendah  di  Jakarta  (934  mL)  daripada  di  Bandung  (1038  mL)  (p<0,05),  sedangkan  air  minum  kemasan secara  signifikan  berbeda,  yaitu  berturut-turut  1138  mL  dan  452  mL  (p<0,05).  Remaja  di  pantai mengonsumsi air minum 500-600 ml lebih banyak dibandingkan di pegunungan. Lebih dari 16 kelompok minuman lainnya yang terdiri dari berbagai jenis minuman yang dikonsumsi oleh remaja, sehingga total asupan minuman per hari secara signifikan lebih besar di Jakarta (2787 mL) daripada di Bandung (2196 mL)  (p<0,05).  Meskipun  asupan  air  minum  (plain  water)  remaja  di  pegunungan  hanya  sekitar  1500  mL, namun rata-rata total asupan cairan di kedua daerahsudah lebih tinggi jika dibandingkan dengan anjuran minum air (PUGS) sebanyak 2 liter.Kata kunci: konsumsi minuman, preferensi minuman, asupan cairan, remaja
KECENDERUNGAN MASALAH GIZI BURUK DI INDONESIA Jahari, Abas Basuni
GIZI INDONESIA Vol 34, No 2 (2011): September 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.029 KB)

Abstract

Prevalensi  gizi  kurang  dan  buruk  menurut  BB/U  belum banyak  berubah  dari  sejak  krisis  hingga  kini, sementara  dana  untuk  program  perbaikan  gizi  semakin meningkat.  Revitalisasi  Posyandu  dan  Sistem Kewaspadaan  pangan  dan  Gizi  (SKPG)  untuk  penanggulangan  masalah  rawan  pangan  dan  gizi  di sebagian  besar  kabupaten  di  Indonesia  tidak  diimplementasikan.  Telaahan  ini  bertujuan  untuk mempelajari  beberapa  fakta  dari  hasil  analisis  data tentang  gizi  kurang  dan  gizi  buruk  yang  terjadi  diIndonesia. Data yang digunakan adalah hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Jawa Barat tahun 2004, Hasil Survei Gizi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pasca-Tsunami, 2005, dan survei masalah gizi mikro  di  7  provinsi  tahun  2006.  Hasil  menunjukkan  bahwa  dari  21,3  persen  anak  balita  yang  termasuk kategori rawan, 10 persen di antaranya sangat rawanuntuk menjadi status BB/U Rendah (Gizi Kurang). Kemudian, secara umum dari 32,9 persen anak balita berstatus BB/U Rendah yang ada pada posisi rawan, 13,2 persen di antaranya ada pada posisi sangat rawan untuk menjadi status BB/U Sangat Rendah (Gizi Buruk).  Berdasarkan  TB/U,  proporsi  anak  balita  dengan TB/U  Normal  yang  rawan  untuk  menjadi  status TB/U Pendek meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Secara umum 39,9 persen anak balita yang berstatus  TB/U  pendek  ada  pada  posisi  rawan,  di  antaranya 17,8  persen  ada  pada  posisi  sangat  rawan untuk  menjadi  status  TB/U  Sangat  Pendek.  Namun,  berdasarkan  BB/TB,  hanya  9  persen  anak  balita berstatus BB/TB Normal yang ada dalam posisi rawan,3,9  persen di antaranya ada pada posisi sangat rawan untuk menjadi status BB/TB Kurus. Karena jumlah anak balita berstatus gizi baik (normal) yang ada pada posisi rawan terus meningkat mengikuti pertambahan usia, maka upaya perbaikan gizi yang bersifat preventif sudah harus dilaksanakan sejak usia dini,tidak hanya untuk anak balita kurang gizi tetapi juga bagi  anak  balita  yang  dikategorikan  berstatus  gizi  baik.  Arah  kebijakan  pemerintah  hendaknya  melalui kegiatan  yang  bersifat  PREVENTIF  dan  PROMOTIF  yang  PROAKTIF,  harus  diimplementasikan  secara benar, baik di pusat maupun di daerah. Kata kunci: SKPG, Posyandu, status gizi
STATUS KESEHATAN, INFLAMASI, DAN STATUS GIZI ANAK UMUR 0,5 – 12,9 TAHUN DI INDONESIA Effendi, Rustan; Sandjaja, nFN; Harahap, Heryudarini
GIZI INDONESIA Vol 36, No 2 (2013): September 2013
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.246 KB)

Abstract

Penyakit infeksi dan konsumsi makanan merupakan penyebab langsung kurang gizi pada anak-anak yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Dalam Studi SEANUTS dikumpulkan 9 penyakit infeksi, sebagian besar merupakan 10 penyakit utama penyebab kematian dan kesakitan, dengan wawancara adanya penyakit dalam waktu 1, 6, atau 12 bulan terakhir sesuai jenis penyakitnya baik yang didiagnosa tenaga kesehatan ataupun gejala penyakit. Sampel adalah anak umur 0,5-12,9 tahun dari 48 kabupaten/kota. Hasil studi menunjukkan prevalensi tertinggi diagnosa adalah ISPA (11,8-27,7%) dan diare (5,2-22,4%). Sedangkan 7 penyakit lainnya yaitu pneumonia, demam tifoid, malaria, campak, tuberkulosis paru, demam berdarah, dan hepatitis dengan prevalensi di bawah 5 persen. Pada kelompok umur anak yang lebih muda ditemukan prevalensi penyakit ISPA dan diare lebih tinggi dibandingkan pada kelompok umur di atasnya. Kemudian, prevalensi lebih tinggi di perdesaan dibanding perkotaan. Pada kelompok anak yang menderita lebih banyak penyakit ditemukan prevalensi kurang gizi (underweight) yang lebih tinggi. Kadar CRP di atas normal sebagai biomarker inflamasi terjadi pada 4,2-10,4 persen anak ABSTRACTHEALTH STATUS, INFLAMATION, AND NUTRITIONAL STATUS OF INDONESIAN CHILDREN 0.5 – 12,9 YEARS OLDInfection and dietary intake are directly associated with malnutrition. Both are still major public health problems among children in Indonesia. SEANUTS showed that 9 types of infections are included in the 10 leading causes of morbidity and mortality among children 0.5-12.9 year old. The data collected through interview comprised of diagnosed or apparent symptoms of different types of diseases over previous 1, 6, or 12 months. The results showed high period prevalence of ARI (11.8-27.7%) and diarrhoea (5.2-22.4%). The prevalence of 7 other diseases (pneumonia, thypoid fever, malaria, measles, tuberculosis, dengue hemmoraghic fever, and hepatitis) was below 5 percent. The prevalence of ARI and diarrhrea was higher in younger children than older children, and the prevalence was higher in rural compared to urban areas. Elevated CRP as a sign of inflammation was found in 4.2-10.4 percent children. The prevalence of underweight was higher among children suffering more diseases compared to healthy children.Keywords: health status, inflammation, infectious diseases, nutritional status
PENGARUH PEMBERIAN GARAM BERIODIUM TERHADAP KADAR TIROKSIN PADA IBU USIA SUBUR DI DAERAH ENDEMIK DEFISIENSI IODIUM Budiman, Basuki; -, Komari; -, Saidin
GIZI INDONESIA Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.898 KB)

Abstract

THE EFFECT OF IODIZED SALT INTERVENTION ON THYROXINE OF CHILDBEARING AGE MOTHERS IN ENDEMIC IODINE DEFICIENCY AREAThe national evaluation on implementation of Iodized salt indicate an excess dietary intakes of iodine. It is a consequence of the correction of iodine deficiency. However there is no confirmation of the adverse effect to the excess in Indonesia. Our aim is to elaborate whether the excess of iodine consumption affect serum thyroxine. We supplied 50-ppm iodized salt to 82 mothers at childbearing age’s family every two weeks for three months. We suggest the mothers used the supplied iodized salt for family consumption only and not used the salt for any other purposes such as cattle feeding. Mother’s blood drawn before and after intervention. Urine iodine exretion (UIE) were collected from school age children of participant family. The study revealed that three month-iodized salt intervention increased median UIE by 18.4 % and serum thyroxine level by 36.5 %. The number of children being at risk for hyperthyroidism were constributed from normal and deficit range level at initial study by 62,5 % and 41.7 % respectively. The number of mothers being thyroxine excess were 22.2 and 22.7 % respectively. We conclude that the level of iodine consentration in salt at 50 ppm is high and suggest that consentration should be lowered.Keywords: EIU, at risk for hyperthyroidism, thyroid hormone excess.mother at child bearing age.
KECENDERUNGAN PERTUMBUHAN TINGGI BADAN ANAK USIA 5-18 TAHUN DI INDONESIA 1940 – 2010 Sandjaja, nFN; Soekatri, Moesijanti YE
GIZI INDONESIA Vol 37, No 2 (2014): September 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.288 KB)

Abstract

Tinggi badan merupakan cermin dari pertumbuhan linier tubuh. Potensi pertumbuhan tinggi badan dipengaruhi oleh tingkat sosial ekonomi, kesehatan, status gizi, konsumsi makanan, lingkungan hidup, dan genetik. Studi di banyak negara maju membuktikan bahwa tinggi badan yang semakin tinggi dan optimal pada umur yang sama sejalan dengan perbaikan tingkat kesejahteraan, disebut sebagai secular trend. Studi ini membandingkan tinggi badan anak Indonesia umur 5 – 18 tahun antar generasi sejak 1942 sampai 2010 dengan melakukan analisis data sekunder yaitu data dari Gorter tahun 1942 (> 30,000 anak), Yayah pada tahun 1984 (10,000 anak) dan dari RKD (Riset Kesehatan Dasar) tingkat nasional 2010 (> 60.000 anak). Hasil studi menunjukkan bahwa tinggi badan anak lebih rendah antara 7,0-13,8  cm pada laki-laki dan 6,0-10,7 cm pada perempuan dibanding dengan standar WHO. Tinggi badan anak lebih rendah di perdesaan dibanding di perkotaan, dan pada kuintil-1 pengeluaran per kapita dibanding kuintil-5. Selama kurun waktu sekitar 70 tahun (1940-an – 2010) tinggi badan anak hanya bertambah 0,8-3,5 cm untuk laki laki dan 0,3-1,9 cm pada perempuan.Tinggi anak di RKD 2010 bervariasi berdasarkan tempat tinggal dan status sosial ekonomi. Anak di Jakarta lebih tinggi 2,5-6,0 Cm pada laki laki dan 0,9-6.7 Cm pada perempuan dibandingkan dengan anak dari 32 provinsi di luar Jakarta. Status sosial ekonomi juga berhubungan dengan pertumbuhan linier yang mana mereka dengan tingkat sosial ekonomi  tertinggi (kuintil-5) paling tinggi sedangkan pada kuintil-1 mempunyai tinggi badan yang terendah. Disimpulkan bahwa tinggi badan anak Indonesia usia 5-18 tahun tahun 2010 lebih rendah dari standrar WHO, dan pertumbuhan linier tahun 2010 bertambah dibandingkan dengan tahun 1940-an. ABSTRACT SECULAR GROWTH OF BODY HEIGHT AMONG CHILDREN 5-18 YEAR OF AGEIN INDONESIA SINCE 1940 TO 2010 Other studies from industrialized countries shows that improvement of height and achievement of potential  growth is in accordance with better level of welfare, called secular growth. This paper aimed to provide evidence of secular growth of Indonesian children aged 5-18 year-old since 1940’s up to 2010 using secondary data. The study reviewed scientific articles or studies in former Netherland Indies and Indonesia from 1942 to 2010, with large sample size, covered most areas of Indonesia, sound scientific method, aged 5 year old above. Three studies available by Gorter in 1940’s (> 30,000 children), Yayah in 1984 (10,000 children) and secondary anthropometry data of RKD (Riset Kesehatan Dasar or Baseline Health Research) conducted nationwide in 2010 (> 60.000 children). This paper uses two older articles and analyze raw data of RKD 2010. The result shows that compared to WHO child growth standard height of Indonesian boys and girls is shorter 7.0-13.8 cm and 6.0-10.7 cm, respectively. There is only 0.8-3.5 cm in boys and 0.3-1.9 cm in girls increase of linear growth over 70 years since 1940’s. Child height in RKD 2010 varied according to residence and socio-economic status. Children in Jakarta were taller 2.5-6.0 Cm in boys and 0.9-6.7 Cm in girls compared to the rest of the country. Children from highest socio-economic status (quintile-5) is the tallest, and quintile-1 is the shortest. The difference of height is between 3.1-4.2 cm in boys and 1.6-3.7 in girls. It is concluded that height of Indonesian children 5-18 year-old in 2010 is lower than WHO standard and an increase of linear growth found in 2010 compared to in 1940’s. Keywords: secular trend, linear growth, body height
THE EFFECT OF DECENTRALIZATION ON THE HEALTH STATUS AND HEALTH CARE UTILIZATION PATTERNS ININDONESIA Tilden, Robert; Gani, Ascobat; Noor, Nur Nasry; Widjajanto, RM.; Sonnemann, James
GIZI INDONESIA Vol 29, No 2 (2006): September 2006
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.123 KB)

Abstract

Berbagai indikator pelayanan dan status kesehatan berdasakan tingkat pengeluaran konsumsi rumahtangga menurut quintile sebelum dan sesudah desentralisasi dinilai dan dikaji. Dilakukan juga penilaian perubahan status kesehatan pada periode desentralisasi, dan juga perbandingan antar wilayah yang menerima dan melaksanakan berbagai program pelayanan kesehatan atau wilayah yang tidak sama sekali mendapatkan inisiasi program pelayanan kesehatan. Data Susenas 2000 dan 2004 digunakan untuk menilai perubahan berbagai indikator kesehatan: morbiditas, pelayanan rawat jalan dan rawat inap, pelayanan kehamilan dan melahirkan, dan status gizi balita sebelum dan sesudah desentralisasi dilaksanakan. Perubahan rasio kematian bayi, kematian ibu, serta kematian balita juga termasuk analisis dari kajian ini. Seluruh analisis dilakukan pembobotan populasi dan analisa statistik dilakukan menggunakan SpssPC (rev 12). Dari hasil kajian menunjukkan bahwa terjadi sedikit peningkatan yang cukup berarti dari kejadian penyakit atau morbiditas penduduk antara tahun 2000 dan 2004, akan tetapi pemanfaatan pelayanan kesehatan (rawat jalan) meningkat di fasilitas pemerintah atau swasta. Peningkatan terbesar terjadi juga pada pelayanan kesehatan rawat inap. Dilaporkan juga pada tahun 2004 hanya sedikit sekali penyakit ditemukan oleh pelayanan kesehatan. Kajian ini juga menemukan bahwa sebelum dan sesudah desentralisasi, penggunaan pelayanan kesehatan terbanyak tetap dilakukan pada kelompok penduduk kaya. Provinsi yang mendapat tambahan biaya dari pinjaman menunjukkan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan yang meningkat terutama untuk pasien rawat jalan. Ada kecenderungan angka kematian balita menurun walaupun status gizi pada balita tidak mengalami perubahan atau peningkatan. Angka kematian bayi menurun cukup signifikan semenjak desentralisasi demikian juga kematian ibu. Terlihat jelas bahwa investasi pelayanan kesehatan yang nampaknya tidak menjadi prioritas pemerintah maupun masyarakat Indonesia. Sebelum dan sesudah desentralisasi Indonesia merupakan negara dimana investasi untuk pelayanan kesehatan menduduki urutan terendah dibandingkan dengan negara lain di dunia ini, terutama negara di ASEAN. Status kesehatan di Indonesia dapat dikatakan membaik walaupun kesepakatan pemerintah untuk memberikan alokasi kesehatan sangat rendah. Perubahan status kesehatan yang terjadi pada masa desentralisasi sebenarnya juga merupakan hasil dari kebijakan yang telah dilakukan sebelum desentralisasi. Selain itu, determinan kesehatan tidak selalu karena pendanaan dalam sistem kesehatan saja akan tetapi bisa saja berkaitan dengan sektor lain seperti pendidikan, dan pendapatan. Desentralisasi namapaknya tidak memberikan konsekuensi negatif terhadap memburuknya status kesehatan di Indonesia. Bahkan, beberapa indikator kesehatan terlihat membaik denagn perubahan lebih cepat pada saat desentaralisasi diibanding sebelumnya. Terutama pada provinsi dimana sosialisasi inisiatif sektor kesehatan diperkenalkan dengain menggunakan dukungan multilateral, terlihat terjadi peningkatan penggunaan pelayanan kesehatan, terutama pelayanan kelahiran dan peningkatan status kesehatan. Hanya gizi kurang pada balita yang nampaknya tidak membaik pada 10 tahun terakhir, kecuali membaik hanya pada saat adanya bantuan pada masa krisis moneter.Keywords: Decentralization, Health Sector Reform, Health Impact

Filter by Year

2004 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 46 No 2 (2023): September 2023 Vol 46, No 1 (2023): Maret 2023 Vol 45, No 2 (2022): September 2022 Vol 45, No 1 (2022): Maret 2022 Vol 44, No 2 (2021): September 2021 Vol 44, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 43, No 2 (2020): September 2020 Vol 43, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 42, No 2 (2019): September 2019 Vol 42, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 More Issue