cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
GIZI INDONESIA
Published by DPP PERSAGI Jakarta
ISSN : 04360265     EISSN : 25285874     DOI : -
Core Subject : Health,
Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) is an open access, peer-reviewed and inter-disciplinary journal managed by The Indonesia Nutrition Association (PERSAGI). Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) has been accredited by Indonesian Institute of Sciences since 2004. Gizi Indonesia aims to disseminate the information about nutrition, therefore it is expected that it can improve insight and knowledge in nutrition to all communities and academics. Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) offers a specific forum for advancing scientific and professional knowledge of the nutrition field among practitioners as well as academics in public health and researchers
Arjuna Subject : -
Articles 538 Documents
OBESITAS DAN SELERA MAKAN MASYARAKAT Heni Hendriyani
GIZI INDONESIA Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v33i1.81

Abstract

Obesitas telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di seluruh dunia. Prevalensi obesitas baik pada orang dewasa maupun anak-anak meningkat dari tahun ke tahun. Masalah obesitas memerlukan penanganan yang serius karena obesitas memiliki konsekuensi yang serius terutama terjadinya penyakit yang dipicu oleh keadaan obes. Faktor sosial yang mempengaruhi pola konsumsi makanan di masyarakat perlu untuk diperhatikan. Pilihan makanan seseorang dapat merupakan refleksi dari pola sosial dalam produksi, distribusi dan konsumsi makanan di masyarakat. Tulisan ini memperkenalkan perspektif sosial dalam menggali pengaruh pola produksi, distribusi dan konsumsi makanan terhadap kejadian obesitas.Keywords: obesitas, konsumsi makanan, distribusi makanan
PENGARUH SUPLEMENTASI ZAT GIZI MIKRO TERHADAP STATUS BESI DAN STATUS VITAMIN A PADA SISWA SLTP Dewi Permaesih; Fitrah Ernawati; Endi Ridwan; Sihadi .; Sukati Saidin
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v34i1.97

Abstract

Penelitian status gizi siswa sekolah lima tahun terakhir mengungkapkan bahwa prevalensi anemia, yang dapat menyebabkan turunnya konsentrasi belajar, dan kurang vitamin A, yang dapat menyebabkan turunnya daya tahan tubuh, masih cukup tinggi, sehingga menjadi kendala dalam upaya mengoptimalkan prestasi belajar. Keadaannya semakin buruk jika kedua masalah ini diderita secara bersama-sama oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak suplementasi zat gizi mikro (Fe dan Vitamin A)terhadap perbaikan status besi dan status vitamin A. Penelitian dilaksanakan pada 150 siswa anemia yang tinggal di kabupaten Bogor. Data yang dikumpulkan meliputi: identitas siswa, kadar Hb, s-transferin, vitamin A serum (retinol), konsumsi makanan/zat gizi dan energi. Sebelum pemberian suplemen, dilakukan “deworming” dengan pemberian obat cacing dosis tunggal “Combantrin”. Sampel dibagi tiga kelompok, masing-masing 50 siswa. Pada kelompok A setiap siswa mendapat satu pil besi (ferro sulfat) dengan dosis 60 mg besi elemental +0,25 mg asam folat dan kapsul vitamin A (10.000 SI) dua kali per minggu. Kelompok B hanya mendapat satu pil besi seperti pada kelompok A, diberikan dua kali per minggu. Kelompok C adalah kelompok pembanding yang mendapat plasebo. Suplementasi berlangsung selama 12 minggu. Pemberian suplemen satu pil besi (60 mg besi elemental + 0,25 mg asam folat) dan vitamin A (10.000 SI) disertai pemberian snack mengandung energi (15% AKG), dua kali per minggu selama 12 minggu dapat memeningkatkan kadar Hb sebesar 1,40 g/dl, serum transferrin receptor (sTFR) sebesar – 1,0 µg/L, serum vitamin A (retinol) sebesar 6,1 µg/dl. Tidak ada perbedaan bermakna konsumsizat gizi (energi dan protein) sebelum dan sesudah pemberian suplementasi.Kata kunci: vitamin A, zat besi, siswa, anemia, KVA
PENGARUH POSITIF FORMULA GARAM MULTIMINERAL (MM) PADA PENDERITA HIPERTENSI Tejasari .; Antok Suwardiyanto; Farida Wahyu Ningtyas
GIZI INDONESIA Vol 36, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v36i1.113

Abstract

Data survei kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukkan  prevalensi hipertensi terus meningkat, saat ini di  atas 17 persen. Selain tinggi asupan Na, hipertensi disebabkan juga oleh ketidakseimbangan asupan mineral  pengatur  tekanan  darah,  ketidaktersediaan  pangan  tinggi  mineral  esensial,  dan  terbatasnya pengetahuan  pengendalian  hipertensi.  Tujuan  penelitian  ini  adalah  mengevaluasi  pengaruh  positifkonsumsi  garam  multimineral  (MM)  fungsional  oleh  penyandang  hipertensi,  yang  dirancang  sebagai double  blind  randomized  control  trial,  dan  dibuktikan  secara  klinis.  Tiga  formula  garam  MM  ditentukan berdasarkan  perhitungan kebutuhan mineral (Ca, Mg,  dan K), dan  diformulasi  dengan  dry homogenizedtechnique.  Kadar  mineral  (elektrolit)  darah  subjek  dianalis  dengan  metoda  Atomic  Absorption Spectrophotometry  (AAS). Hasil uji mutu  menunjukkan bahwa garam MM bersifat larut sempurna dalam air dingin, tidak menimbulkan kekeruhan, dan tidak berubah warna dari warna garam. Garam MM dengan nilai  rerata  derajat  putih  72,4  dan  kadar  air  rerata  garam  MM  sebesar  1  persen  masih  disukai  warna (nilai=3.2) dan rasanya (nilai=2,89). Uji statistik  membuktikan bahwa konsumsi garam MM  sebanyak 2000 mg  x  3  kali  makan  dalam  sehari  (6000  mg)  selama  30  hari  oleh  penderita  hipertensi  secara  nyata menurunkan tekanan darah sistolik-TDS (nilai chi square =27,381 dengan nilai Asymp. Sig 0,000 α=0,05) dan tekanan darah diastolic-TDD (nilai chi square =38,483 dengan nilai Asymp. Sig 0,000 α=0,05).Kata kunci: pengaruh positif, garam multimineral (MM), hipertensi
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI, ANEMIA, STATUS INFEKSI, DAN ASUPAN ZAT GIZI DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH ENDEMIK GAKI Toto Sudargo; Emy Huriyati; Lastiana Safitri; Winda Irwanti; Sri Ahadi Nugraheni
GIZI INDONESIA Vol 35, No 2 (2012): September 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v35i2.129

Abstract

Anak-anak yang tinggal di daerah  GAKI  mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kelaparan dan rendahnya skor IQ.  Tujuan penelitian ini menjelaskan  hubungan status gizi, anemia, status infeksi, dan  asupan  zat  gizi  (energi,  protein,  karbohidrat,  lemak,  iodium,  vitamin  C,  vitamin  A,  Fe,  Zn,  dan Selenium), dengan fungsi kognitif    anak sekolah dasar (SD) yang tinggal di daerah GAKI, dan  mengetahui kandungan iodium pada tanah dan air di wilayah tersebut. Jenis studi observasional dengan desain crosssectional.  Subjek  penelitian  anak  SD  berusia  9-12  tahun  kelas  3,  4,  dan  5  dari  3  SD  di  daerah  endemik GAKI  Kecamatan  Kismantoro,  Kabupaten  Wonogiri,  Jawa  Tengah.  Status  GAKI  diukur  menggunakan metode  palpasi  dan  Urinary  Iodine  Excretion  (UIE),  status  gizi  dengan  indikator  TB/U,  status  anemia menggunakan Hemocue, status infeksi dengan wawancara pada orangtua, asupan zat gizi menggunakan multiple  food  recall  24  jam  (3  hari),  kandungan  iodium  dalam  tanah  dan  air  menggunakan  Inductive Coupled  Plasma-Mass  Spectrometry  (ICP-MS)  dan  fungsi  kognitif  menggunakan  Weschler  Intelligence Score for Children-Revised  (WISC-R).  Hasil menunjukkan  20 subjek (28,9%) mengalami  GAKI, 27 subjek (39,1%)  stunting,  17  subjek  (24,6%)  anemia,  11  subjek  (15,9%)  infeksi  (ISPA  dan  diare)  dan  57  subjek (82,6%)  mengalami  gangguan  fungsi  kognitif.  Analisis  bivariat  menunjukkan  tidak  terdapat  hubungan signifikan antara status  GAKI  dan infeksi dengan fungsi kognitif (p0,05). Terdapat hubungan signifikan antara status gizi dan anemia dengan fungsi kognitif (p0,05).  Analisis multivariat asupan zat gizi energi, protein,  karbohidrat,  lemak,  iodium,  vitamin  C,  vitamin  A,  besi,  dan  selenium  memberikan  kontribusi sebesar  20,9%  dari  skor  IQ  total  anak  sekolah.  Hb,  UIE,  dan  asupan  zat  gizi  memberikan  kontribusi sebesar 24,1% dari skor IQ total anak sekolah. Hasil laboratorium menunjukkan  rerata  kandungan  iodiumtanah (2,49 ppm), dan dalam air (2,7ppb) berada di bawah standar. Jadi status gizi dan anemia, asupan zat gizi  berhubungan  dengan  fungsi  kognitif  anak  sekolah.  GAKI  dan  status  infeksi  tidak  berhubungan dengan fungsi kognitif. Secara bersama Hb, UIE dan asupan zat gizi berhubungan dengan fungsi kognitif. Rerata kandungan iodium pada tanah dan air di wilayah penelitian berada di bawah standar.Kata kunci: GAKI, status gizi, anemia, infeksi, fungsi kognitif
PERUBAHAN POLA KONSUMSI PANGAN RUMAHTANGGA RAWAN PANGAN Mewa Ariani; Gatoet Sroe Hardono
GIZI INDONESIA Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v28i1.15

Abstract

Food insecurity in households level is coverage multidimensional problems so that the rate of deteriorate is surely determined by negative interaction of many factors. This paper aims to analyze the changing in food consumption pattern of food insecure households due to the dynamic of situation of national economic using SUSENAS raw data 1996, 1999, and 2002. The food insecure households define as households who consump energy less than 80 % of energy sufficiency (2100 Kcal/cap/day). The result show that: (1) in 1996-2002 period, the share of food expenditure of food insecure households in out Java, in rural and households with agriculture as the main source of income always higher than those who are live in Java, in urban and who their main source of income come from non agriculture activities. When in crisis, the prosperity level of all type of households declined. But, in 2002 it raised back in line with the recovery of national economic (2) energy consumption of food insecure households is always low, only around 70 % of energy sufficiency, and (3) the level of protein consumption is only 40 gram/cap/day in average or about 83.3 % of protein sufficiency. Although there are a difference on protein consumption by island, region, and main source of income, but it is not significant. The same situation appears for the differentiation by time. As the implication, because the dynamic of national economic influenced the consumption pattern and the level of food insecurity so the government programs for economic recovery which deal with income rising should be conducted across all of the region. The priority target should be directed to households with low income who live in rural and who food insecure.Keywords: change, consumption pattern, food insecure households
NUTRITION AND HEALTH STATUS AND COGNITIVE PERFORMANCE OF SCHOOL CHILDREN IN JAKARTA AND TANGERANG RECEIVING WORLD FOOD PROGRAM – NUTRITION REHABILITATION PROGRAMME (WFP-NRP) Siti Muslimatun; Umi Fahmida; Dadi Hidayat Maskar; Maria Chatarina Phan Ju Lan; Keiko Izushi
GIZI INDONESIA Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v29i1.26

Abstract

UN World Food Programme (WFP)melalui Nutrition Rehabilitation Programme (NRP)melakukan inisiasi pemberian makanan tambahan pada anak sekolah tahun 2004 dengan mendistribusikan biskuit yang difortikasi 9 vitamin dan 4 mineral di sekolah dasar di lingkungan penduduk miskin di Jakarta dan Tangerang. Untuk menilai dampak dari program ini dilakukan evaluasi perubahan status gizi dan kesehatan dan juga pengaruhnya pada asupan gizi serta kognitif dari anak setelah satu tahun pelaksanaan program. Data dari 691 anak (335 laki-laki, 356 perempuan) diperoleh dari  Jakarta  Barat  (N=243),  Kota  Tangerang  (N=81)  dan  Kabupaten Tangerang  (N=367). Sebagian anak merasakan lapar pada waktu sekolah dan lebih dari 80% sangat senang untuk mendapat  biscuit  setiap  hari.  Ditemukan  70%  anak  dapat  menghabiskan  1  pak,  20%  anak menghabiskan ½-1 pak, 10% ½ pack pak biskuit dengan asupan zat besi, zink, kalsium dan vitamin yang lebih tinggi dari biasanya. Dibanding dengan data dasar, terlihat terjadi penurunan prevalensi anemia dari 23,9% menjadi 10% dan cadangan besi yang rendah dari 25,7% menjadi 19,6%, serta untuk anak-anak di kabupaten Tangerang berkurangnya keluhan sakit. Nilai rata-rata kognitif anak yang dinilai berdasarkan % nilai maksimummembaik untuk semua aspek (seperti: kemampuan berbahasa, kemampuan memberikan alasan, penglihatan, konsentrasi, menghafal dan mengingat) untuk anak di kabupaten Tangerang, demikian juga di Jakarta Barat dan Kota Tangerang kecuali untuk kemampuan memberikan alasan dan mengingat. Dari studi ini dievaluasi bahwa prevalensi gizi kurang tidak berubah (21.8% Jakarta Barat, 23.5% Kota Tangerang, 39.0% kabupaten Tangerang). Hasil temuan lainnya adalah pengetahuan anak untuk kesehatan dan gizi masih  belum  baik  dan  prevalensi  kecacingan  yang  masih  30%  di  kabupaten  Tangerang. Direkomendasikan  agar  partisipasi  institusi  terkait  perlu  dioptimalkan  untuk  meningkatkan pendidikan atau pengetahuan tentang kesehatan dan gizi kepada guru sekolah, penjaja makanan di sekolah dan juga  sosialisasi untuk  orang tua murid. Keberadaan materi penyuluhan atau pendidikan  tentang  pentingnya  fasilitas  sanitasi  serta  program  kecacingan  juga akan  dapat meningkatkan keefektifan program.
FAKTOR RISIKO HIPERTENSI PADA ORANG UMUR 45-74 TAHUN DI PULAU SULAWESI Fatimah Amaliah; Sudikno Sudikno
GIZI INDONESIA Vol 37, No 2 (2014): September 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v37i2.160

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama baik di negara maju maupun negara berkembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan hipertensi pada orang dewasa umur 45-74 tahun di Sulawesi. Penelitian ini menggunakan data Riskesdas 2007. Desain penelitian adalah cross-sectional. Sampel penelitian adalah orang dewasa berumur 45-74 tahun di Sulawesi. Jumlah sampel yang dianalisis 13.859. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi ditemukan sebesar 14,8 persen. Rata-rata umur responden 54,9±7,9 tahun. Dari hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan hipertensi adalah umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan status ekonomi. Pada penelitian ini belum dapat membuktikan adanya hubungan antara kebiasaan makan, aktivitas fisik dengan hipertensi. Program pencegahan terhadap hipertensi perlu dilakukan terutama yang tinggal di perkotaan yang penuh stres dan dengan pekerjaan yang lebih komplek. Disamping itu perbaikan sosial ekonomi dapat merubah gaya hidup seseorang, termasuk dalam makanan dan aktifitas fisik. Disarankan untuk mengurangi konsumsi makanan berisiko (makanan berlemak, jeroan, makanan diawetkan, makanan berpenyedap), dan peningkatan aktivitas fisik secara teratur setiap hari.ABSTRACT RISK FACTORS OF HYPERTENSION IN PEOPLE AGED 45-74 YEARS IN SULAWESI Hypertension is a major health problem in both the developed and developing countries. The objective of this study was to identify risk factors associated with hypertension in adults aged 45-74 years in Sulawesi. This study uses data Riskesdas (Baseline Health Research) 2007. The study design was cross-sectional. Samples were adults aged 45-74 years in Sulawesi. The number of samples analyzed 13,859. The results showed that the prevalence of hypertension was found to be 14.8 percent. The result showed that the average age of the respondents were 54.9 ± 7.9 years. The logistic regression analysis showed that the risk factors associated with hypertension were age, gender, occupation/works, and economic status. In this study, it has not been proved yet a link between eating habits, physical activity with hypertension. However, prevention programs for hypertension needs to be done especially in urban area where people live in stress and with the more complex works . In addition, improvement in socio-economy status may lead to change in life style including meals and physical activity. It is suggested, people should reduce eating risk foods (fatty foods, offal, preserved foods, spicy food), and do physical activity regularly every day.Keywords: risk factors, hypertension, socio-economy status
THE ALARMING FOOD INSECURITY SITUATION IN INDONESIA: ANALYSIS OF 13 STUDIES IN 6 PROVINCES WITHIN 2004-2006 AND ITS RELATIONSHIP WITH LIVELIHOOD SECURITY Avita A. Usfar
GIZI INDONESIA Vol 30, No 2 (2007): September 2007
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v30i2.43

Abstract

KETAHANAN PANGAN YANG MENGKHAWATIRKAN DI INDONESIA: ANALISA 13 PENELITIAN DI 6 PROVINSI TAHUN 2004-2006 DAN HUBUNGANNYA DENGAN KETAHANAN HIDUPPada kurun waktu 2004-2006, SEAMEO-TROPMED RCCN-UI telah melakukan 13 survei yangberhubungan dengan Ketahanan Pangan. Survei-survei tersebut mencakup 6 propinsi (Jakarta,Banten, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT) dan SulawesiTengah), mencakup 22 Kabupaten dan 9.038 rumah tangga. Sepuluh survei dilakukan diperdesaan. Tulisan ini bertujuan untuk melihat pola ketahanan pangan (Food Security), dari segilokasi, waktu, kualitas, maupun hubungannya dengan status gizi dan ketahanan hidup ( livelihoodsecurity). Berdasarkan analisa menurut lokasi, NTT memiliki proporsi rumahtangga rawan panganlebih banyak (94%) dibandingkan propinsi lainnya (68-83%) baik dari segi rawan pangan dengankelaparan, kelaparan tingkat sedang, maupun kelaparan tingkat parah. Kebanyakan rumah tanggarawan pangan di NTB termasuk kategori Kelaparan (rawan pangan 77%, rawan pangan dengankelaparan 64%), namun kebanyakan rumahtangga rawan pangan di Jakarta termasuk tidakkelaparan (rawan pangan 83%, rawan pangan dengan kelaparan 19%). Di Jawa Timur, walaupunpersentase rumahtangga rawan pangan sama, proporsi terbesarnya di kota (kota 25%, desa19%). Sebaliknya, di NTT proporsi rumahtangga yang rawan pangan dengan kelaparan lebihbesar di desa (kota 58%, desa 65%). Berdasarkan analisa waktu, ketahanan pangan rumahtangga di NTT dari 2004-2006 tetap tinggi (93%) dan cenderung meningkat. Banyak rumahtangga turun dari kategori kelaparan tingkat sedang menjadi kelaparan tingkat parah setelahSeptember 2005 (50%). Ketahanan rumah tangga di Sulawesi Tengah juga mengkhawatirkan,i.e. meningkatnya rumah tangga kurang pangan sebanyak 19% dalam kurun waktu satu tahun.Berdasarkan analisa dimensi, masalah ketahanan pangan terbesar adalah aksesibilitas, bukanketersediaan. Berdasarkan analisa kualitas, walaupun lebih banyak varietas makanan (dietarydiversity) terdapat di Jakarta/Surabaya dibanding NTT (99 dibanding 56), penduduk NTT secararata-rata mengkonsumsi lebih banyak varietas makanan (Jakarta dan Surabaya 40, NTT 46).Beragam cara untuk bertahan hidup (coping strategies) ditemukan di daerah-daerah survei.Asosiasi antara ketahaan pangan dengan status gizi ditemukan di NTT (dengan stunting) danNTB (dengan underweight); p0.05. Variabel langsung (ketahanan ekonomi, ketahanan gizi)maupun variabel tidak langsung (ketahanan pendidikan, lingkungan perumahan, pangan, dankesehatan) mempunyai peran pada ketahanan hidup rumahtangga di NTT maupun di SulawesiTengah. Kata kunci: ketahanan pangan, rawan pangan, kelaparan, status gizi, keragaan pangan, ketahanan hidup
ASUPAN GULA, GARAM, DAN LEMAK DI INDONESIA: Analisis Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) 2014 Atmarita Atmarita; Abas B Jahari; Sudikno Sudikno; Moesijanti Soekatri
GIZI INDONESIA Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v39i1.201

Abstract

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN CARA MEMASAK SAYURAN DAN KADAR CHOLINESTERASE TERHADAP STATUS HORMON THYROID WANITA USIA SUBUR DI DAERAH GONDOK ENDEMIK Sukati Saidin; Nurdin .; Hardinsyah .; Ikeu Tanziha
GIZI INDONESIA Vol 31, No 2 (2008): September 2008
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v31i2.59

Abstract

THE ASSOCIATION BETWEEN FREE THYROXINE AND VEGETABLES COOKING AND SERUM CHOLINESTERASE OF CHILD BEARING AGE WOMEN IN ENDEMIC GOITRE AREAPesticides, a goitrogenic pollutant, strongly bind iodine to make a complex substance which iodinecan not optimally be utilized and leads to impair thyroxine hormone production. Farmers in Pakissub district of Magelang district often put pesticides of organophosphate and carbamate groups toincrease vegetables yield. The retained pesticides in the foods can be minimized by cooking. Todetermine the association between free thyroxine sera and vegetable cooking and cholinesterasesera. A cross-sectional study design was applied to 205 of child bearing age women (CBAW) of 17– 45 years of age in Pakis sub district of Magelang District, Central Java. Vegetable in whichpesticide may persist were cooked in two ways, namely were boiled and tumis (stir fried). Bloodspicement were drawn for fT4 and cholinesterase axamination. It was indicated that serum FT4 of68,3 % of CBAW were normal, while 31,7 % of them were low and 5.1% of CBAW with low serumCHE. There was a significant association between the way of cooking , status of serum CHE andcontraceptive use of family planning with to status of serum FT4. The child bearing age womenthat consume vegetables cooked by “tumis” (cooking stir fried) having higher risk of low serum freethyroxin status, 2,5 times than that of by boiling. CBAW with low cholinesterase enzyme (CHE)having lower risk of low serum free thyroxin hormone status (FT4), 10 times than that of withnormal CHE. CBAW with hormonal contraception having higher risk of low serum FT4, 0,50times than that usage non hormonal contraception. In order to minimize pesticide residuesretained in vegetables, it should be cooked by boilingKey words:iodine status,pesticide, cholinesterase, cooking stir fried, child bearing age women,thyroxine status,endemic goiter

Page 8 of 54 | Total Record : 538


Filter by Year

2004 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 46 No 2 (2023): September 2023 Vol 46, No 1 (2023): Maret 2023 Vol 45, No 2 (2022): September 2022 Vol 45, No 1 (2022): Maret 2022 Vol 44, No 2 (2021): September 2021 Vol 44, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 43, No 2 (2020): September 2020 Vol 43, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 42, No 2 (2019): September 2019 Vol 42, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 More Issue