Humanistika : Jurnal Keislaman
Humanistika is an Islamic journal belonging to the Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong Kraksaan Probolinggo. Humanistika is a journal that contains scientific works related to thoughts or research in the Islamic field. The existence of the journal Humanistika is certainly very important in exploring, enriching, and developing thoughts and theories and research on Islam. Thus, Humanistika journal will make a positive contribution in enriching the treasures of thought in the Islamic field.
Articles
146 Documents
Implikasi Konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan Ismail Raji Al-Faruqi
Poppy Rachman
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 6 No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (754.837 KB)
|
DOI: 10.55210/humanistika.v6i2.369
This research is entitled Implications of the Concept of Islamization of Ismail Raji Al-Faruqi Science. Science is important in human life. God put knowledge as a matter that must not be abandoned. During this time the Islamic religion is believed to have a very important role in coloring the building of science. But in reality, the Muslim community seems to be forced to carry out secular teachings in life due to the swift currents of secularization. This condition is a concern of Islamic thinkers, because it can endanger the Islamic faith. It is in connection with this concern that ideas or ideas about the Islamization of science emerge as an attempt to neutralize the influence of modern western science. Al-Faruqi was one of the thinkers about Islamization. How is the concept of Islam? and what are the implications for life in Indonesia? The Islamization of knowledge is not only a discourse, but requires real implications to be useful for the wider community. Al-Faruqi has sought to realize the Islamization of knowledge by establishing Islamic study groups. The movement is carried out by sticking to the principles of monotheism so as not to deviate from religious teachings. Some developments have also taken place in Indonesia in response to the Islamization of science, including: the establishment of Islamic-based schools and the rise of cooperatives and Islamic banks.
Kodifikasi Wahyu
Zen Amrullah;
Muhammad Hifdil Islam;
Mohammad Idris Bin Ishak
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 6 No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1182.827 KB)
|
DOI: 10.55210/humanistika.v6i2.370
Al- Qur’an, sebagaimana kitab suci yang lain merupakan bagian dari produk dan fakta sejarah. Dalam hal ini yang dimaksud dengan produk sejarah adalah ada campur tangan manusia dalam upaya membukukannya. Upaya-upaya yang dilakukan memerlukan proses yang sangat panjang, mulai dari pengumpulan, penyaringan, menyeleksi, pengumpulan sahabat-sahabat Nabi yang hafal al-Qur’an dan lain sebagainya. Namun demikian, penulisan al-Qur’an pada dasarnya merupakan bimbingan dari tuhan. Sebagai mana diketahui, bahwa al-Qur’an turun melalui tradisi oral. Selama itu belum terfikirkan untuk dibukukan menjadi sebuah kitab suci yang abadi. Dalam catatan sejarah, pembukuan dilakukan pada masa sahabat (utsman). Sebagai upaya yang bersifat manusiawi, pembukuan al-Qur’an tentu tidak terlepas dari sebuah kesalahan. Jika selama ini al-Qur’an diyakini kebenaranya bukan sesuatu hal yang bersifat manusiawi. Kebenaran al-Qur’an justeru bersifat ilahiyah. Tulisan ini bertujuan untuk menyampaikan bagaimana proses perkembangan pengumpulan Al-Qur’an. Dalam tulisan ini, tidak ada yang perlu diperdebatkan tentang kebenaran Al-Qur’an, namun penilaian akan bagaimana Al-Qur’an dikumpulkan dan dibukukan perlu dikaji secara ilmiah.
Peran Spiritual Bagi Kesehatan Mental Mahasiswa di Tengah Pandemi Covid-19
Desti Azania;
Naan Naan
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 7 No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55210/humanistika.v7i1.384
In this study, it examines the role of spirituality for the mental health of students in the midst of the Covid-19 pandemic. The research subjects were 15 students of Sunan Gunung Djati University with 5 male respondents and 10 female respondents. The data obtained is the result of collecting results using google form with a closed question system. From the results of this study, it can be found that students have a level of anxiety when they are at the beginning of the Covid-19 pandemic, they are threatened with anxiousness to leave the house and interact with other people, but that anxiety is stopped because there are spiritual behaviors experienced by students, one of which is dzikir. , almost all respondents carried out health protocols very well in order to break the chain of the corona virus, even students always thought that the covid-19 pandemic would end soon which prevented mental illness that occurred to students and students always filtered the news first for consumption, of course the news was related to the covid-19 virus. Where this is an important role for spirituality and mental health.
Reaktualisaasi Konsep Kafa’ah Dalam Bingkai Perubahan Sosial Di Kabupaten Lamongan
Muh. Makhrus Ali Ridho;
Ja’far Shodiq
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 7 No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55210/humanistika.v7i1.420
This research aims to show the change of kafa’ah concept on the social transformation in Lamongan District. Kafa’ah is equality between husband and wife in a family on certain compont. kafa’ah is preventife strategy to minimize difference between husband and wife. This difference can to be a conflict in a family. On islamic law (Hanafi school), componts of Kafa’ah are; cognation, Islam, independence, Propert and piety. But, the social change motivate to reactualisation of kafa’ah concept. The this componts in Lamongan District are; cognation, education, piety, profession and salary.
Dedikasi Politik dan Gerakan Pesantren Melawan Kolonial (Perlawanan dan Strategi KH. Hasyim Asy’ari Terhadap Pembakaran Pesantren)
Syafiatul Umma;
Fitrotun Nisa’ Nur Fadlilah;
Slamet Muliono Redjosari
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 7 No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55210/humanistika.v7i1.465
Abstract: Political dedicationpo KH. Hasyim Asyari is considered very influential in realizing Indonesia's independence. His national and religious spirit was seen as a boomerang for the colonialists. So that there was a rebellion from the colonialists to get rid of KH. Hasyim Asyari and his students, by burning several books to burn the boarding school in Tebuireng. This paper argues that KH. Hasyim Asyari, who was born from a pesantren base, succeeded in making the colonialists angry with his strict nature. The method used in this paper is from a historical and socialist perspective. The discussion started from the spirit of KH. Hasyim Asyari in fighting for Indonesian independence which is considered very influential on the unity and integrity of Muslims. The most important focus of this paper is when the colonial attacks carried out after the establishment of the power of the Islamic boarding schools to help Indonesian independence. The findings of this paper show that the various attacks from the colonial era will never dampen national spirit. KH. Hasyim Asyari in fighting him, because he had a tough and firm character to be able to defend Indonesia's independence. So that the resistance and strategy of him and the students he leads become very valuable and highly dedicated in realizing and maintaining the unity of this nation.
Urgensi Lokalitas dalam Penelitian Keagamaan
Haqqul Yaqin
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 7 No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55210/humanistika.v7i1.481
Abstrak Dalam praktiknya, agama merupakan fenomena yang terkait dengan banyak dimensi, termasuk dimensi sosial. Secara esensial, agama lebihmerupakan sesuatu yang beraspek sosial daripada sesuatu yang murniindividual. Karenanya dapat dikatakan bahwa ada kaitan yang takterhindarkan antara agama sebagai salah satu fenomena sosial denganbanyak aspek kehidupan masyarakat. Agama juga dapat dikatakan tidak dapat lepas dari pengaruh-pengaruh konteks masyarakat di mana agama tersebut berkembang. Pengaruh-pengaruh tersebut lalu dapat terbawa dalam tradisi dan tidak jarang ditemukan bahwa isi interpretasi ajaranagama sudah mengandung tendensi kepentingan politik tertentu. Pernyataan bahwa agama merupakan satu fenomena memberikangambaran bahwa keberadaan agama tidak lepas dari pengaruh realitas di sekelilingnya. Seringkali praktik-praktik kehidupan pada satu masyarakat dikembangkan dari doktrin ajaran agama dan kemudian disesuaikan dengan lingkungan budaya. Pertemuan antara doktrin agama dan realitas budaya terlihat sangat jelas dalam praktik ritual agama. Fenomena ini kemudian memunculkan varian praktik agama yang diidentikkan dengan sifat lokalitas suatu komunitas. Dari perspektif ini urgensi lokalitas harus juga diperhitungkan sebagai salah satu instrumen dalam membangun rencana penelitian yang kohesif dan kongruen. Abstract In practice, religion is a phenomenon associated with many dimensions, including social dimensions. Essentially, religion is something with any social aspect rather than something pure individual. Hence it can be said that there is an inevitable connection between religion as a social phenomenon and many aspects of people's life. Religion can also be said to be inseparable from the influences of the community context in which religion develops. These influences can then be carried over the tradition and it is not uncommon to find the content of the interpretation of the teachings religion already contains certain political interests. The statement that religion is a giving phenomenon illustrated the existence of religion cannot be separated from the influence of the reality around it. Often the practices of life in one society are developed from religious doctrines and then adapted to the cultural environment. The encounter between religious doctrine and cultural reality is clearly seen in the practice of religious rituals. This phenomenon then raises a variant of religious practice that is identified with the nature of the locality of a community. From this perspective, the urgency of locality must also be taken into account as an instrument in building a cohesive and congruent research plan.
Transmisi dan Transformasi Tahfidz Al-Qur’an dan Hadis Di Pondok Pesantren Al-Aqobah 4
Ahmad Fathurrobbani
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 7 No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55210/humanistika.v7i1.482
Tahfidz Al-Qur'an has been one of the prima donna in the present era which makes many people memorize it in droves. However, it is inversely proportional to that, amid the proliferation of the Tahfidz Al-Qur'an program, Tahfidz Al-Hadith has received less attention. This is where the Al-Aqobah 4 Islamic Boarding School offers its superior activities, namely Tahfidz Al-Qur'an and Hadith. Because all this time Tahfidz Al-Hadith's activity is still not very boisterous. Therefore, to ease the burden on the students in the memorization process. This research is a study of living Qur'an and Hadith that uses a qualitative approach by directly studying and assessing and participating in the environment in which these concepts are offered. Pondok Pesantren Al-Aqobah 4 which is located in Jombang Regency has time management for scientific transmission so that the Tahfidz Al-Qur'an and Hadith can be well absorbed by the students, and there is a process of scientific transformation of its own for Tahfidz Al-Qur'an and Hadith. in order to complete the scientific transmission process. Of course, this process has its own expectations and realities which the researchers call the model of and the for model. The purpose of this research is to find out this model and the procession to the impact of scientific transmission and transformation on the students who are processing it.
Studi Analisis Perbandingan Madzhab tentang Perkawinan Ayah dengan Anak Luar Nikah
Imam Syafi'i;
Muhammad Ihwan
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 7 No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55210/humanistika.v7i1.486
Penelitian ini mengkaji tentang pandangan fuqaha' empat madzhab terkait anak luar nikah. Lebih spesifik yaitu masalah anak zina terkait nasab dan menikahinya ayah terhadap anak tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, yaitu mendeskripsikan pandangan fuqaha' empat madzhab tentang anak luar nikah. Dalam masalah nasab fuqaha' empat madzhab sepakat bahwasannya anak luar nikah tidak dapat hak sedikitpun dari ayah biologisnya. Termasuk sebagai implikasi tidak adanya nasab yaitu tidak berhak juga mengenai warisan dan nafkah. Sedangkan terkait tentang masalah boleh tidaknya seorang laki-laki menikahi anak kandungnya yang dilahirkan dari hubungan zina, fuqaha' empat madzhab berbeda pendapat
Islam di Spanyol : Jembatan Peradaban Islam ke Benua Eropa dan Pengaruhnya Terhadap Renaissance
Irzak Yuliardy Nugroho;
Riani Muarafah Jannati
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 7 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55210/humanistika.v7i2.522
Ketika Islam mulai memasuki masa kemunduran, pada masa berakhirnya periode klasik Islam. Eropa bangkit dari keterbelakangannya. Kebangkitan itu bukan saja terlihat dalam bidang politik dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi itulah yang mendukung keberhasilan politiknya. Kemajuan-kemajuan Eropa ini tidak dapat dipisahkan dari pemerintahan Islam di Spanyol. Dari Islam Spanyol di Eropa banyak menimba Ilmu. Pada periode klasik, ketika Islam mencapai masa keemasannya, Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang sangat penting, menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu, orang-orang Eropa Kristen banyak belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam di sana. Islam menjadi guru bagi orang-orang Eropa. Karena itu, kehadiran Islam di Spanyol banyak menarik perhatian peneliti untuk mengetahui lebih jauh tentang peradaban Islam di Spanyol.
Larangan Menikah Di Bulan Shafar Perspektif Konstruksi Sosial
Risalatul Mahmudah;
Hawa' Hidayatul Hikmiyah Hawa'
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 7 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55210/humanistika.v7i2.594
Beberapa masyarakat menkonstruksi mitos larangan menikah di bulan shafar, hal ini dilakukan oleh masyarakat Desa Gedangan Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Mempertahankan tradisi larangan menikah di bulan shafar merupakan adat yang sudah turun temurun dilakukan sejak dari nenek moyang. Dengan menggunakan teori konstruksi sosial dari Peter L Berger dan Thomas Luckman. Teori konstruksi sosial memiliki tiga rukun teori, yaitu eksternalisasi, objektifikasi dan internalisasi. Paradigma yang digunakan adalah definisi sosial dengan menggunakan data kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Desa Gedangan Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Tokoh masyarakat dan masyarakat abangan mengkontruksi mitos larangan menikah di bulan shafar untuk menjaga dan melestarikan budaya nenek moyang yang telah turun-temurun dan untuk menjaga agar terhindar dari dampak buruk atas pelanggarannya. Bagi masyarakat milenial yang memiliki latar belakang agama yang bagus menkontruksi bahwa dampak dari tradisi larangan menikah di bulan shafar kembali pada keyakinan dari individu masing-masing. Beberapa masyarakat menkonstruksi mitos larangan menikah di bulan shafar, hal ini dilakukan oleh masyarakat Desa Gedangan Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Mempertahankan tradisi larangan menikah di bulan shafar merupakan adat yang sudah turun temurun dilakukan sejak dari nenek moyang. Dengan menggunakan teori konstruksi sosial dari Peter L Berger dan Thomas Luckman. Teori konstruksi sosial memiliki tiga rukun teori, yaitu eksternalisasi, objektifikasi dan internalisasi. Paradigma yang digunakan adalah definisi sosial dengan menggunakan data kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Desa Gedangan Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Tokoh masyarakat dan masyarakat abangan mengkontruksi mitos larangan menikah di bulan shafar untuk menjaga dan melestarikan budaya nenek moyang yang telah turun-temurun dan untuk menjaga agar terhindar dari dampak buruk atas pelanggarannya. Bagi masyarakat milenial yang memiliki latar belakang agama yang bagus menkontruksi bahwa dampak dari tradisi larangan menikah di bulan shafar kembali pada keyakinan dari individu masing-masing.