cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 15, No 1 (2013)" : 12 Documents clear
KESESUAIAN LAHAN FISIK DAN EKONOMI UNTUK PADI SAWAH: STUDI KASUS WILAYAH PERENCANAAN KOTA TERPADU MANDIRI RAWAPITU, PROVINSI LAMPUNG Widiatmaka, Widiatmaka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.831 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.76

Abstract

ABSTRAKPengembangan wilayah perlu didukung oleh majunya sistem pertanian dengan pola usaha pokok yang dapatberbeda untuk tiap-tiap wilayah, tergantung potensinya. Evaluasi kesesuaian lahan perlu dilakukan untuk menjaminpengusahaan pola budidaya yang paling sesuai, yang secara biofisik memberikan hasil tertinggi dan secara ekonomismenguntungkan. Penelitian ini dilaksanakan di lokasi pengembangan Kota Terpadu Mandiri Rawapitu, Kab.Tulangbawang, Provinsi Lampung. Evaluasi kesesuaian lahan fisik dan ekonomi dilakukan menggunakan AutomatedLand Evaluation System (ALES). Analisis dilakukan untuk komoditas padi sawah, yang merupakan komoditas utamawilayah ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah penelitian Rawapitu memiliki kelas kesesuaian lahan fisikaktual untuk padi pada kelas S2 (cukup sesuai) dan S3 (sesuai marginal). Faktor pembatas utamanya adalah bahayabanjir, retensi hara, hara tersedia dan media perakaran. Beberapa karakteristik tanah yang menjadi pembatasdominan, antara lain adalah reaksi tanah yang masam, topografi wilayah yang landai pada ketinggian tempat yangrendah. Hasil analisis kesesuaian lahan ekonomi menunjukkan bahwa baik pada pada lahan kelas S2 maupun kelasS3, pengusahaan tanaman padi masih menguntungkan, ditunjukkan oleh nilai-nilai gross margin maupun rasio B/Cnya.Upaya pengelolaan spesifik lokasi diperlukan untuk meningkatkan kesesuaian fisik, sekaligus meningkatkankeuntungan dan pendapatan petani.Kata Kunci: Automated Land Evaluation System (ALES), Evaluasi Lahan, Karakteristik Lahan, Pohon Keputusan.ABSTRACTRegional development needs to be supported by an advanced agricultural system with its main principalcommodities, which varies among different regions, depending on the potencies. Evaluation of land suitability needs tobe done, to ensure the utilization of the most appropriate commodities which biophysically gave the highest yield andeconomically profitable. The research was conducted at the location of the development of Integrated DevelopmentCity Planning (“Kota Terpadu Mandiri”) of Rawapitu at Tulangbawang Regency, Lampung Province. Physical andeconomical land suitability analysis was done using Automated Land Evaluation System (ALES) for rice field, which isthe main commodity of the region. The result showed that the study area of Rawapitu had actual physical landsuitability classes for rice field in the S2 (suitable) class and S3 (marginally suitable) class. The main limiting factorswere the danger of flooding, nutrient retention, nutrient availability and rooting medium. Some land characteristics thatbecame the dominant limiting factors were soil reactions which are acidic soil and topographic sloping at a low altitude.Economic land suitability analysis results showed that both in the land suitability class of S2 and S3, rice cultivationwas still profitable, indicated by the values of gross margin and the ratio B/C. Site-specific management measures arerequired to improve the physical suitability and at the same time increasing profits and income of farmers.Keyword: Automated Land Evaluation System (ALES), Land Evaluation, Land Characteristics, Decision Tree.
INVENTARISASI PRODUKSI PADI DENGAN MENGGUNAKAN DATA CITRA MODIS DI KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN Kusumawardan, Ratih; Widjojo, Suharto; Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1688.13 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.67

Abstract

ABSTRAKMemantapkan ketahanan pangan merupakan prioritas utama pembangunan, karena pangan merupakankebutuhan yang paling dasar bagi manusia. Salah satu pilar penting dalam membangun ketahanan pangan adalahketersediaan pangan. Aspek produksi menjadi salah satu aspek terpenting dalam ketersediaan pangan. Penelitian inibertujuan untuk melakukan inventarisasi produksi, pola musim tanam dan pola musim panen padi sawah denganmenggunakan Enhanced Vegetation Index (EVI) citra MODIS. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah estimasiproduksi tanaman padi sawah di Kabupaten Lebak pada tahun 2011 yaitu sebesar 489.947 ton atau 2% lebih kecildibandingkan dengan angka perhitungan produksi tanaman padi sawah dari Dinas Pertanian Kabupaten Lebak.Secara umum, Kabupaten Lebak mengalami 3 periode musim tanam dan panen dalam setahun. Musim tanam terjadipada bulan Januari, Mei dan November, sedangkan musim panen terjadi pada bulan Maret, April, Agustus danSeptember.Kata Kunci: Estimasi Produksi Padi, Penginderaan Jauh, Enhanced Vegetation Index.ABSTRACTStrengthening food security is one among top priorities of development because food is the most basic need ofhumans’ life. One of the important pillars in building food security is ensuring food availability. For this respect, foodproduction aspect is the most important aspects in ensuring food availability. This study aims to inventory foodproduction, planting and harvesting patterns of wetland rice crop by using the Enhanced Vegetation Index (EVI)derived from MODIS imagery. The results of this study shows that the estimation of rice crop production in LebakRegency in 2011 amounted to 489,947 tons or 2% less compared to paddy crop production data provide by the LebakRegency Agriculture Office. In general, there are 3 (three) periods of paddy planting and harvesting yearly in LebakRegency. The planting season in the months of January, May and November, while the harvesting season in March,April, August or September.Keywords: Rice Production Estimation, Remote Sensing, Enhanced Vegetation Index.
SURVEI CEPAT TERINTEGRASI UNTUK PEMANTAUAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENGATASI BANJIR DI SUNGAI BEKASI Poniman, Aris; Hartini, Sri; Suprajaka, Suprajaka; Nugratama, Sony
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.868 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.72

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan metode survei penginderaan jauh geografis secara cepat danterintegrasi untuk pemantauan dan pengambilan keputusan dalam mengatasi bencana banjir. Lokasi penelitiandifokuskan di sepanjang Sungai Bekasi sampai Sungai Cikeas sebagai bagian dari DAS Bekasi. Peta Rupabumi danpeta citra penginderaan jauh tegak multi resolusi digunakan sebagai informasi geospasial utama, dilengkapi dengansurvei lapangan meliputi susur sungai menggunakan perahu karet dan survei darat serta wawancara denganpenduduk di sekitar bantaran sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di sepanjang bantaran Sungai Bekasi diDAS Hilir dan Sungai Cikeas di DAS Tengah dan Hulu telah banyak digunakan untuk berbagai penggunaan lahan,yaitu permukiman, kawasan industri, pemakaman, lapangan golf, gedung perkantoran, rumah sakit, dan fasilitasumum lainnya. Dengan semakin berkurangnya lahan bervegetasi di wilayah DAS Hulu dan Tengah, memperbesaraliran permukaan, dan berakibat seringnya terjadi banjir di sepanjang sempadan sungai Bekasi Bagian Hilir.Kata Kunci: Penginderaan Jauh, Multi Resolusi, Banjir, Survei Cepat Terintegrasi, Pengambilan Keputusan.ABSTRACTThis research aims to apply a method of integrated geographic remote sensing rapid survey for flood disastermonitoring and decision making in order to find a solution in the case of flood occurence. The research sites had beenfocused along the Bekasi River to Cikeas River. Topographic maps and remote sensing imagery map at small andlarge scales were used as the primary geospatial information, and supplemented by field surveys along the river usingrubber boats, land cover/ land use surveys and interviews around the riverbanks. The results showed that the floodplains along rivers in the lower watershed of Bekasi and Cikeas in the middle and upper watershed has been widelyused for a variety of land uses, such as settlements, industrial areas, cemeteries, golf courses, office buildings, andother public facilities. The decreasing amount of vegetated land in the upper and middle watershed resulted inincreasing of run off and more frequent flooding along the river banks down stream of Bekasi River.Keywords: Remote Sensing, Multi Resolution, Flood, Rapid Integrated Survey, Decision Making.
DINAMIKA PERTUMBUHAN DAN STATUS KEBERLANJUTAN KAWASAN PERMUKIMAN DI PINGGIRAN KOTA WILAYAH METROPOLITAN JAKARTA Hidajat, Janthy Trilusianthy; Sitorus, Santun R.P; Rustiadi, Ernan; Machfud, Machfud
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.635 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.77

Abstract

ABSTRAKPertumbuhan perkotaan di Indonesia, khususnya di wilayah metropolitan Jakarta secara fisik ditandai denganpertumbuhan yang cepat di pinggiran kota (suburbanisasi), membentuk daerah permukiman baru dimanapertumbuhannya cenderung meluas dan tersebar secara acak serta tidak terkendali (urban sprawl). Daerah pinggirankota adalah zona transisi yang berada dalam proses tekanan perkotaan, mengakibatkan terjadi kondisi degradasilingkungan, krisis infrastruktur, kemacetan, risiko bencana dan fragmentasi kelembagaan sehingga prosespertumbuhan mengarah pada ketidakberlanjutan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dinamika pertumbuhandan status keberlanjutan kawasan permukiman di pinggiran perkotaan wilayah metropolitan Jakarta. Analisisdilakukan dengan menggunakan Teknik GIS dan Teknik Multi Dimensional Scaling (MDS). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kecenderungan pertumbuhan meningkat setiap tahun dengan percepatan sebesar 2,35 dan nilaiindeks sprawl sebesar 7,21 serta nilai indeks status keberlanjutan multi dimensi sebesar 41,46.Kata Kunci: Pertumbuhan, Status Keberlanjutan, Kawasan Permukiman, Pinggiran Kota.ABSTRACTThe growth of urban areas in Indonesia, especially in Jakarta metropolitan area is physically marked by rapidgrowth in the urban fringe (suburbanization), which is forming a new settlement areas where its growth tend to bewidespread and dispersed randomly which is getting out of control (urban sprawl). The urban fringe area is atransitional zone that is in theurban pressures process which resulted in the degradation of environmental,infrastructure crisis, congestion, disaster risk and institutional fragmentation so that the growth process leads tounsustainability. The aims of this research were to analyze the dynamic of growth and sustainability status ofsettlement areas in urban fringe of Jakarta metropolitan area. Analysis was done by using GIS Technique and MultiDimensional Scaling (MDS) Technique. The result showed that the growth trends was increasing every year with anacceleration of 2.35 and a sprawl index of 7.21. The sustainability status of settlement area was less sustainabilitywith a sustainability index of 41.46.Keywords: Growth, Sustainability Status, Settlement Areas, Urban Fringe.
EVALUASI LAHAN WILAYAH PERTANIAN KEPULAUAN MARITIM UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN : STUDI KASUS DI KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT Riadi, Bambang
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.571 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.68

Abstract

ABSTRAKKabupaten Maluku Tenggara Barat secara umum dikategorikan sebagai wilayah kepulauan maritim karenadominasi sumberdaya alam maupun masyarakat berbasis pada jasa kelautan. Sejauh ini, kebutuhan makanan diwilayah ini masih tergantung dari wilayah lain seperti Jawa dan Sulawesi. Penelitian ini mengembangkan konsepevaluasi potensi lahan pertanian berdasarkan data sistem lahan dan informasi fisik lahan terkini. Interpretasi citrasatelit dilakukan untuk perolehan data fisik lahan yang diintegrasikan dengan data sistem lahan dengan menggunakanSistem Informasi Geografis dalam analisis spasial potensi lahan pertanian tersebut. Penerapan konseppengembangan lahan pertanian yang digunakan menghasilkan tiga jenis potensi lahan yaitu pertanian padi sawah,pertanian lahan kering, dan pengembangan tanaman tahunan. Namun demikian, hasil penelitian masih merupakaninformasi awal zonasi lahan yang memiliki potensi tersebut, dan dapat digunakan sebagai data awal untukpengembangan lebih lanjut terhadap kesesuaian jenis pertanian sampai dengan jenis komoditasnya. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa wilayah kabupaten ini memiliki areal potensi lahan pertanian sawah dengan kelas sesuaimarginal (S3) seluas 53.000 ha atau 8,7 % dari total wilayah, potensi lahan pertanian lahan kering dengan kelassesuai marginal (S3) seluas 44.000 ha atau 9,9 % dari total wilayah. Berdasarkan hasil analisis ini, potensipengembangan lahan pertanian di wilayah kepulauan maritim ini cukup besar meskipun dalam kategori sesuaimarginal. Lahan dengan kondisi seperti ini mempunyai pembatas-pembatas yang besar, oleh karena itu upaya-upayamanajemen pada tingkat pengelolaan harus diterapkan. Informasi spasial memiliki peran penting dalam rangkamendukung program ketahanan pangan nasional.Kata Kunci: Lahan Pertanian, Zonasi Lahan, Kepulauan Maritim, Lahan Marginal, Pengembangan Lahan.ABSTRACTIn general, Maluku Tenggara Barat Regency is considered as a maritime archipelago due to the dominance of bothnatural and social resources which are mainly supported by marine base services. So far, basic food needs of theregion constantly depend on food production from other areas, such as Java and Sulawesi. This research developed aconcept of potential agriculture site selection base on land system and current physical land information. Moreover,satellite image interpretation was used to obtain land physical data. Integration of these data with land use and landsystem data using a Geographic Information System tool to perform spatial analysis in order to obtaina potentialfarmland classification. This analysis result in three types of potential agricultural land namely wetland rice agriculture,dry land agriculture, and annual crops agriculture. This results show provisional information which has potential use forland zonation. Accordingly, the results can be used as input for further development of feasibility study for definingagricultural zone and crop types. The potential farmland class shows that land area potential for developing wetlandrice agricultural amounted for 53 thousand hectares (8.7% of the total area) and dry land agricultural amounted for44,000 hectares (9.9% of the total area); both fall in marginally suitable class (S3). Looking at the number, thepotential area for developing agricultural in the maritime archipelago is actually quite large, although those are fall inthe category of marginally suitable. Land in this category has great physical limitations, so that maintenance at thelevel of management should be implemented. This kind of spatial information actually has in important role insupporting national food security.Keywords: Agricultural Land, Land Use Zoning, Maritime Islands, Marginal Land, Development Land.
MODEL SPASIAL GENANGAN BANJIR: STUDI KASUS WILAYAH SUNGAI MANGOTTONG, KABUPATEN SINJAI, PROVINSI SULAWESI SELATAN Seniarwan, Seniarwan; Baskoro, DP Tejo; Baskoro, DP Tejo; Gandasasmita, Komarsa; Gandasasmita, Komarsa
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1193.232 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.73

Abstract

ABSTRAKBanjir merupakan salah satu bencana yang sering terjadi di Indonesia dan disebabkan oleh curah hujan yangtinggi. Sinjai merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang pernah dilanda banjir. Bencanabanjir yang terjadi pada tahun 2006 menimbulkan banyak kerugian dan korban jiwa, khususnya di ibukota kabupatenakibat meluapnya Sungai Mangottong. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mensimulasikan model spasialgenangan di wilayah Sungai Mangottong berdasarkan data DEM dan volume banjir. Data DEM dibuat denganmenggabungkan DEM SRTM 30 m dan DEM hasil interpolasi titik tinggi dari berbagai sumber data, sedangkanvolume banjir diperoleh dari perhitungan volume kurva hidrograf sintetis debit banjir. Model ini menggunakan algoritmaaproksimasi untuk menganalisis ketinggian genangan berdasarkan perbandingan antara volume air daerah yangtergenang dan volume air sebagai sumber banjir. Hasil validasi model genangan menunjukkan akurasi yang cukupakurat untuk kedalaman genangan dari hasil simulasi model tahun 2006 dengan nilai R2 yaitu 0,72 dan luas daerahyang tergenang yaitu 903,92 ha. Luas daerah yang tergenang untuk hasil simulasi model periode ulang 25, 50, dan100 tahun masing-masing yaitu 903,36 ha, 934,36 ha, dan 961,20 ha.Kata Kunci: Model Spasial, DEM, Validasi Model, Volume Banjir.ABSTRACTFlood is one of natural disasters that often occur in Indonesia due to high rainfall. Sinjai is one of the regencies inSouth Sulawesi Province which had been experienced of severe floods. Flood that occurred in 2006 caused manylosses and victims, especially in the capital city of the district due to the overflow of Mangottong River. The objectivesof the research were to analyze and simulate spatial modeling of flood inundation of Mangottong River area based onDEM and flood volume data. The DEM data were created by combining DEM SRTM 30 m and DEM from interpolationresults of height points from varied data sources. Meanwhile, the flood volume data were obtained from the calculationof curve of hydrograph of synthetic flood discharge volume. This model used approximation algorithm to analyzeinundation height based on the comparison between water volume in inundated area and flood source area.Inundation model validation results showed a fairly good accuracy for the flood depth in 2006 simulation with the valueof R2 was 0.72 and the total inundated area was 903.92 hectars. The inundated area for simulation model results forperiod of the 25th, 50th, and 100th year were 903.36 hectars, 934.36 hectars, and 961.20 hectars, respectively.Keywords: Spatial Modelling, DEM, Model Validation, Flood Volume.
PEMETAAN LAHAN KRITIS KABUPATEN BELITUNG TIMUR MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Suwarno, Yatin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.174 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.69

Abstract

ABSTRAKPulau Belitung dikenal sebagai pulau timah, dimana aktivitas penambangan timah telah dimulai sejak tahun 1852,sejak zaman kolonial Belanda hingga sekarang. Permasalahan penambangan timah adalah lahan bekaspenambangan timah yang banyak ditinggalkan begitu saja sehingga lahan menjadi rusak, terbuka bahkan banyakyang menjadi kolong. Kondisi tersebut merupakan indikasi bahwa lahan kritis telah terjadi di seluruh Pulau Belitung.Tujuan penelitian adalah melakukan inventarisasi lahan kritis dengan melakukan pemetaan lahan kritis. Sisteminformasi geografis telah digunakan untuk mengetahui luas lahan kritis yang ada di Kabupaten Belitung Timur. Metodeyang digunakan yaitu analisis spasial atas berbagai parameter dengan menggunakan sistem informasi geografis.Hasil pemetaan lahan kritis Kabupaten Belitung Timur diperoleh bahwa Lahan Kritis 30.865,75 ha (12%), Lahan AgakKritis 109.862,05 ha (43%), Lahan Potensial Kritis 72.864,58 ha (28%), dan Lahan Tidak Kritis 44.271,03 ha (17%).Kata Kunci: Lahan Kritis, Sistem Informasi Geografis, Kabupaten Belitung Timur.ABSTRACTBelitung Island is known as the tin island, where tin mining activity began in 1852, during the Dutch colonial eraupto the present day. Problems on the tin mining land happen when former tin mining land abandoned the lotresulting in an open damage land, and eventually turned into pit. The condition indicated that critical land has occurredin the entire island of Belitung. The purpose of this research is to conduct an inventory of critical land areas throughcritical land mapping using geographic information systems, in order to know the extent of critical lands in EastBelitung Regency. The method used is a spatial analysis that was applied in a various parameters using a geographicinformation system. The results of the critical land mapping of East Belitung Regency werw obtained as follows:Critical Lands 30,865.75 ha (12%), Near Critical Lands 109,862.05 ha (43%), Potential Critical Lands 72,864.58 ha(28%), and Non Critical Lands 44,271.03 ha (17%).Keywords: Critical Land, Geographic Information Systems, East Belitung Regency.
ANALISIS RISIKO KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI TAMAN NASIONAL RAWA AOPA WATUMOHAI DENGAN PEMANFAATAN PEMODELAN SPASIAL Sugiarto, Dwi Putro; Gandasasmita, Komarsa; Syaufina, Lailan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (952.362 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.74

Abstract

ABSTRAKTaman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) merupakan salah satu kawasan konservasi terpenting diIndonesia. Kawasan ini dihuni oleh spesies-spesies endemik Kawasan Wallacea dan memiliki sebaran rawa gambuttopogen cukup luas yang masih tersisa, dimana kondisi ini cukup langka untuk Pulau Sulawesi. Kawasan ini sejaktahun 2011 telah berstatus sebagai Situs RAMSAR, yaitu situs yang berdasarkan pada Konvensi RAMSARmewajibkan Indonesia sebagai negara anggota untuk mengelola lahan basah penting internasional di dalam cakupanwilayahnya secara bijaksana dan berkelanjutan. TNRAW juga berperan penting dalam perlindungan dan pengawetankeanekaragaman hayati, penyedia jasa lingkungan dan menjaga sistem penyangga kehidupan. Kawasan tersebutsaat ini sedang mengalami beberapa gangguan yang berpotensi mengurangi berbagai fungsinya seperti perambahan,pembalakan, perburuan liar dan kebakaran. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menganalisis variabel-variabel yangberpengaruh terhadap kerawanan kebakaran hutan dan lahan di wilayah studi, (2) memetakan risiko kebakaran hutandan lahan di TNRAW dan desa-desa sekitarnya. Berdasarkan hasil pengujian terhadap masing-masing 14 variabelyang berpengaruh terhadap kebakaran, diketahui bahwa variabel tunggal yang paling berpengaruh terhadapkebakaran di wilayah studi adalah tipe penutupan lahan (R2 = 31%), dimana kelas yang paling rawan adalahpenutupan lahan savana. Model komposit terbaik disusun oleh 8 variabel membentuk model polinomial dengan nilaikoefisien determinasi 65 %. Prioritas pengendalian kebakaran hutan dan lahan perlu dilakukan pada zona inti danzona rimba dengan risiko tinggi (0,34 %) dan risiko sedang (10,30 %) khususnya pada area-area di sekitar GunungWatumohai.Kata Kunci: Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Model Spasial, Kerawanan Kebakaran.ABSTRACTRawa Aopa Watumohai National Park (TNRAW) is one among the most important conservation areas in Indonesia.This area preserves endemic species in Wallacea region and the only main topogeneouse peat swamp at SulawesiIsland. The area has been designated as RAMSAR Site in 2011. According to the International Convention ofRAMSAR, Indonesia has an obligation to manage the wetland areas wisely in sustainable manner since the areas areconsidered to be internationally important. This national park plays important roles in protecting and preservingbiodiversity, providing environmental services, and supporting life system in surrounding area. Unfortunately, TNRAWhas been disturbed by several threats such as encroachment, illegal logging, illegal hunting and wildfire that couldpotentially degrade the forest’s functions. The objectives of this study were (1) to analyze the appropriate variablesthat influence the vulnerability of forest fires in the study areas, and (2) to develop a fire risk mapping in TNRAW andits surrounding areas. Based on the CMA analysis of the 14 variables associated with biophysical and humanactivities, the most influential variable in the spatial model was individual land cover type (with R2 = 31%) where thehighest one was on the class of savanna. The best composite model derived from CMA method adopted eightvariables with determination coefficient of 65% and formed a polynomial model. The priority of the forest firesmanagement needed to be focused at the core zone and the buffer zone which were grouped to be high risk area(0.34 %) and middle risk area of forest fire (10.30 %), especially at the surrounding of Watumohai Mountains whichhad high vulnerability for wildfires.Keywords: Rawa Aopa Watumohai National Park, Spatial Model, Wildfire Vulnerability.
ANALISIS DEGRADASI UNTUK PENYUSUNAN ARAHAN STRATEGI PENGENDALIANNYA DI TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN–SALAK PROVINSI JAWA BARAT Carolyn, Rully Dhora; Baskoro, Dwi Putro Tejo; Prasetyo, Lilik Budi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.771 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.70

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengkaji status degradasi hutan pada Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS). Petakerapatan tajuk dihasilkan dari citra Landsat tahun 2003, 2006 dan 2011, yang selanjutnya digunakan untukmendeteksi kelas kerapatan hutan dan tingkat degradasi hutan. Degradasi hutan terjadi akibat interaksi berbagaifaktor, oleh karena itu analisis terhadap faktor-faktor yang diduga memberikan pengaruh terhadap degradasi hutanpenting untuk dikaji, antara lain faktor fisik dan sosial. Teknik Stepwise Generalized Linear/Nonlinear Regression yangdigunakan untuk melihat faktor-faktor ini menunjukkan bahwa jarak Desa dengan Kecamatan, laju perubahan luaslahan non pertanian, laju pertumbuhan penduduk dan persentase perubahan jumlah keluarga pertanian merupakanfaktor-faktor yang berpengaruh terhadap luas degradasi. Memperhatikan hal tersebut maka disusunlah alternatifstrategi pengendalian degradasi hutan dengan menggunakan teknik Analytic Hierarchy Process. Berdasarkanpembobotan, disimpulkan bahwa strategi yang paling penting sebagai langkah awal pengendalian degradasi hutanadalah strategi penyelarasan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor dengan Surat Penunjukkan TNGHS.Kata Kunci : Degradasi Hutan, Faktor-Faktor yang Berpengaruh, Regulasi.ABSTRACTThe study investigated the status of forest degradation in Gunung Halimun-Salak National Park. Forest canopydensity maps derived from 2003, 2006, and 2011 Landsat satellite imagery, were used to detect the forest canopydensity and forest degradation level. Forest degradation caused by interaction of many factors, therefore it is importantto examine the driving factors of forest degradation, such as social and physical factors. Stepwise generalizedlinear/nonlinear regression models were applied. The results showed that the distance to the nearest town, the growthof builtup area (non agriculture area), population growth, and amount of agriculture family unit are significantlyinfluencing forest degradation. Considering the driving factors, the alternative strategy have been arranged and scoredby Analytic Hierarchy Process. It was concluded that synchronization between Bogor Regency regional planning andofficially status authorized of the Park was the most important strategy to become starting point to manage forestdegradation in Gunung Halimun-Salak National Park.Keyword : Forest Degradation, Driving Factors, Regulation.
NILAI SOSIAL EKONOMI RUMPUT LAUT: STUDI KASUS KECAMATAN TANIMBAR SELATAN DAN SELARU, KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT, PROVINSI MALUKU Wahyudin, Yudi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.925 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.75

Abstract

ABSTRAKBudidaya rumput laut dalam kurun waktu lebih kurang satu dasawarsa terakhir telah menjelma menjadi matapencaharian utama di beberapa desa di wilayah Kecamatan Tanimbar Selatan dan Selaru, Kabupaten MalukuTenggara Barat, Provinsi Maluku. Profil nilai sosial ekonomi aktivitas ini mengkaji karakteristik aktivitas budidayarumput laut dan nilai ekonominya dengan pendekatan effect on production. Berdasarkan hasil analisis permintaandapat disimpulkan bahwa kemiringan kurva permintaan yang terbentuk adalah sebesar 0,26, sedangkan kemiringankurva penawaran dari hasil analisis adalah sebesar 0,56. Pada kondisi keseimbangan pasar menghasilkan hargapasar riil, yaitu sebesar Rp.4.603,78 per kilogram dengan jumlah produk optimal yang diminta di pasar sebanyak15,60 ton per tahun. Nilai total ekonomi sumberdaya rumput laut hasil budidaya dapat dihitung dengan mencari nilaisurplus konsumen dan nilai surplus produsen. Nilai surplus konsumen diestimasi sebesar Rp.31,91 juta, sedangkannilai surplus produsennya sebesar Rp.52,87 juta, sehingga nilai total ekonomi sumberdaya rumput laut hasil budidayadapat diestimasi sebesar Rp.84,78 juta per individu pembudidaya dan dengan jumlah pembudidaya sebanyak 1.614orang, maka nilai ekonomi total sumberdaya rumput laut hasil budidaya di Kecamatan Tanimbar Selatan dan Selarumencapai sebesar Rp.136,83 milyar.Kata Kunci: Rumput Laut, Profil, Surplus Konsumen, Surplus Produsen, Nilai Ekonomi.ABSTRACTSeaweed culture that has been cultured during the period of approximately a decade became the main livelihoodfor several villages in the Subdistrict of South Tanimbar and Selaru, West Maluku Tenggara District, Maluku Province.Socio-economic value of the activity profile examines the characteristic of seaweed farming activities and theeconomic value using effect on production approach. Based on the demand analysis, it can be concluded that theslope of the demand curve is equal to 0.26, while the slope of the supply curve was 0.56. In the market equilibriumconditions produce real market prices, amounting of IDR 4,603.78 per kilogram with the optimal number of productsdemanded in the market as much as 15.60 tons per year. The total value of the economic resources of seaweedcultivation can be calculated by finding the value of consumer surplus and producer surplus. Consumer surplusestimated at IDR 31.91 million, while the value of producer surplus amounted to IDR 52.87 million, so that the totalvalue of the economic resources of seaweed cultivation can be estimated as much as IDR 84.78 million per individualfarmer. The number of seaweed cultivators was as 1,614 people, so that the total economic value of seaweedcultivation in the Subdistrict of South Tanimbar and Selaru reached IDR 136.83 billion.Keywords: Seaweed, Profiles, Consumer Surplus, Producer Surplus, Economic Value.

Page 1 of 2 | Total Record : 12