cover
Contact Name
Sinta Paramita
Contact Email
sintap@fikom.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkomunikasi.untar@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Komunikasi
ISSN : 20851979     EISSN : 25822727     DOI : https://doi.org/10.24912/jk
Core Subject : Education,
Jurnal Komunikasi (P-ISSN: 2085-1979 and E-ISSN: 2528-2727) http://journal.untar.ac.id/index.php/komunikasi/index is a national journal published by Faculty of Communication Universitas Tarumanagara. Scientific articles published in Jurnal Komunikasi are result from research and scientific studies conduct by academics and practitioners in communication field. Jurnal Komunikasi published twice a year. First volume will be publish on Juli and second volume on December. Articles published in Jurnal Komunikasi have been trough peer-review process by reviewer. Final decision of articles acceptance will be taken by editor team.
Arjuna Subject : -
Articles 287 Documents
Diskoneksi Nomad: Paradoks Kemenjadian dalam Sosial Media bertema Travelling Dian Arymami
Jurnal Komunikasi Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v11i2.2674

Abstract

In the midst of global economic development, traveling activities have experienced a rapid increase as a culture of leisure and recreation among the people of Indonesia. The journey narrated by bloggers and influencers (influencers) has created its own lifestyle trends and further values that are intertwined with the daily culture of society. This study examines the narrative of the journey of bloggers on Instagram as textual artifacts to gain insight into how the values and culture of human life are woven into the phenomenon of travel. This study uses semiotic analysis which is read further by using the Deleuze and Guattari concepts regarding the ‘becoming self’. This research departs from narrative assumptions and representations which are seen as representative of molecular political forms that subvert the molar identity and fixed position. The results of this research show representations of travel extending the value of independence, solitude, individualism, creativity, freedom and modernity. Where the journey itself is seen as a primary need that is pleasant, cheerful and calming. Furthermore, in the eyes of schizophrenic unconsciousness, the phenomenon of traveling mediated by the text of bloggers confirms the presence of schizo subjects. A paradoxical subject, where the collective movement through travel is a joint movement to be alone. Di tengah perkembangan ekonomi global, aktifitas travelling mengalami peningkatan pesat sebagai budaya kesenangan di waktu luang (leisure) dan rekreasi di kalangan masyarakat Indonesia. Perjalanan yang dinarasikan para bloggers maupun influencers (pemberi pengaruh) telah menciptakan tren gaya hidup tersendiri dan lebih jauh nilai-nilai yang berjalinan dengan budaya keseharian masyarakat. Penelitian ini menelaah narasi perjalanan bloggers di Instagram sebagai artefak tekstual untuk mendapatkan wawasan tentang bagaimana nilai dan budaya kehidupan manusia terajut dalam fenomena perjalanan. Penelitian ini menggunakan analisis semiotika yang dibaca lebih lanjut dengan menggunakan konsep Deleuze dan Guattari mengenai ‘diri yang menjadi’. Penelitian ini berangkat dari asumsi narasi dan representasi yang dilihat sebagai perwakilan bentuk-bentuk politik molekuler yang menumbangkan identitas molar dan posisi tetap. Hasil dari peneltian ini menunjukan representasi perjalanan memperluas nilai kemandirian, kesendirian, individualisme, kreatifitas, bebas dan modern. Di mana perjalanan itu sendiri dilihat sebagai kebutuhan primer yang menyenangkan, ceria dan menenangkan. Lebih lanjut dalam kacamata ketidaksadaran masyarakat skizofrenik, fenomena traveling yang termediasi oleh teks para bloggers menegaskan kehadiran subyek skizo. Subyek yang penuh paradoks, dimana gerakan kolektif melalui perjalanan merupakan gerakan bersama untuk menjadi sendiri.
Strategi Komunikasi pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam Mempromosikan Objek Wisata Kabupaten Banggai Suanti Tunggala; Ken Amasita Saadjad
Jurnal Komunikasi Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v11i2.2714

Abstract

The purpose of this research is to find out the communication strategies at the Culture and Tourism Office in promoting Banggai Regency tourism objects, while the communication strategies that have been carried out at the Culture and Tourism Office in promoting Banggai Regency tourism objects through print, electronic and online media, but not yet innovative so that messages that reach the public and tourists are not optimal in disseminating information relating to attractions. The method that will be used in this research, namely the qualitative descriptive method, uses qualitative data analysis interactive models that begin with data collection, then performs data reduction, presents data by drawing conclusions and verifies then SWOT analysis, analyzes based on the strength of factors Internal factors include strengths and weaknesses, while external factor include opportunities and threats. While the population observed was all employees of the Banggai Regency Tourism Office numbering 49 people, where the determination of the sample in this study used a purposive sampling technique, with informants totaling 12 people. The results of this study, using a SWOT analysis matrix of internal and external factors, that the strength that can be utilized lies in the management of new attractions based on environmental sustainability (green investment), and the use of more innovative media. While the opportunity lies in recruiting civil servants in the fields of culture and tourism, improving the quality of human resources, increasing the operational budget in the promotion of tourism, by maximizing this it can avoid the threat.Tujuan dalam penelitian ini, yakni untuk mengetahui strategi komunikasi pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam mempromosikan objek wisata Kabupaten Banggai, adapun strategi komunikasi yang telah dilakukan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam mempromosikan objek wisata Kabupaten Banggai melalui media cetak, elektroknik, dan online, namun belum inovatif sehingga pesan yang sampai ke masyarakat dan wisatawan tidak optimal dalam menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan objek wisata. Adapun metode yang akan digunakan dalam penelitian ini, yakni dengan metode deskriptif kualitatif, menggunakan analisis data kualitatif model interaktif yang diawali dengan pengumpulan data, kemudian melakukan reduksi data, penyajian data dengan menarik kesimpulan dan melakukan verifikasi kemudian dilakukan analisis SWOT, menganalisa berdasarkan kekuatan faktor-faktor internal yang meliputi kekuatan dan kelemahan, sedangkan eksternal meliputi peluang dan ancaman. Sedangkan populasi yang diamati adalah seluruh pegawai kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Banggai berjumlah 49 Orang, dimana penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling purposive, dengan informan berjumlah 12 orang. Hasil penelitian ini, dengan menggunakan matriks analisis SWOT dari faktor internal dan eksternal, bahwa kekuatan yang dapat dimanfaatkan terletak pada pengelolaan objek wisata baru yang berbasis kelestarian lingkungan (green invesment), dan penggunaan media yang lebih inovatif. Sedangkan peluang terletak pada perekrutan PNS bidang kebudayaan dan pariwisata, peningkatan kualitas SDM, peningkatan anggaran operasional pada promosi pariwisata, dengan memaksimalkan hal ini maka dapat terhindar dari ancaman
Teknologi Komunikasi Informasi Untuk Peningkatan Kesadaran Publik Pada Organisasi Sosial Diah Ayu Candraningrum
Jurnal Komunikasi Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v10i2.2727

Abstract

In today's digital era, the need for social media use to achieve goals must be understood, no exception for social organizations. One of them is the Breastfeeding Mothers Association (AIMI), West Sumatra Province. The AIMI branch of the City of Padang also has to socialize the campaign program and policies of its parent organization. But the problem faced is that not all members understand the use of social media to disseminate information and gain public sympathy. Therefore, the problem raised in this research is how the use of AIMI's West Sumatra social media as part of its personal branding strategy, to increase public brand awareness. The theory used is the Personal Branding Theory. The research itself was conducted through a descriptive qualitative research approach with interview techniques, combined with data collection by distributing e-questionnaires to 20 AIMI Padang members and 5 external parties. The result, it is known that the level of understanding of AIMI members in the use of social media to increase public awareness is still lacking, so that an understanding of the use of comprehensive information communication technology is needed. Di era digital saat ini, kebutuhan akan penggunaan media sosial untuk mencapai tujuan harus dipahami caranya, tak terkecuali bagi organisasi sosial. Salah satunya Asosiasi Ibu Menyusui (AIMI) Provinsi Sumatra Barat. AIMI cabang Kota Padang juga harus mensosialisasikan program kampanye dan kebijakan induk organisasinya. Namun permasalahan yang dihadapi adalah bahwa tak semua anggotanya memahami penggunaan media sosial untuk menyebarkan informasi dan meraih simpati publik. Karena itu, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana penggunaan media sosial milik AIMI Sumatra Barat sebagai bagian dari strategi personal branding–nya, untuk meningkatkan brand awareness masyarakat. Teori yang digunakan adalah Teori Personal Branding. Penelitian ini sendiri dilakukan lewat pendekatan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik wawancara, dikombinasikan dengan pengumpulan data dengan pembagian e-kuesioner kepada 20 orang anggota AIMI Padang dan 5 orang dari pihak eksternal. Hasilnya, diketahui bahwa tingkat pemahaman anggota AIMI dalam penggunaan media sosial untuk peningkatan kesadaran publik masih kurang, sehingga diperlukan pemahaman tentang penggunaan teknologi komunikasi informasi yang komprehensif.  
Strategi Mempertahankan Brand Knowledge Program Televisi Seputar Indonesia di RCTI Roswita Oktavianti; Budi Utami
Jurnal Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2019): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v11i1.3045

Abstract

Brand of television programs has positive equity. It marks by the strength of audience awareness and familiarity with the name of the program. Marketer of television station are considered can create brand knowledge of the program in the audience memory. Nevertheless, as a business, television industries supposed to dynamically follow market need and wants. The brand of the television program which has strength awareness as well as the image on the audience memory will gradually change as much as a media business. This study using a qualitative method and case study as a research strategy to reveals the research problem about how the newsroom team arranged their strategies to maintain brand knowledge to the popularity program. The case study was conducted on RCTI news program “Seputar Indonesia” which has top of mind in audience memory then changed into “Seputar iNews”. This study aiming to enquire how television broadcasting journalist strategies to maintain brand knowledge of their news program. The result is newsroom team have adapted and innovated their process to maintain brand knowledge. They were using main strategic such as maintain their replacement news program typically, maintain brand element whose have audiences top of mind, also using the digital platform.  Merek sebuah program televisi seringkali memiliki ekuitas yang positif. Hal ini ditandai dengan kesadaran dan keakraban yang kuat antara audiens dengan nama program televisi tersebut. Pemasar pada stasiun televisi telah mampu menciptakan pengetahuan terhadap merek (brand knowledge) dalam hal ini nama program acara, di dalam memori audiens. Namun, sebagai sebuah bisnis, industri televisi juga harus tetap bergerak dinamis mengikuti keinginan dan kebutuhan pasar. Merek program yang telah memiliki kesadaran dan citra (brand awareness dan brand image) yang kuat di dalam memori audiens, berubah mengikuti kepentingan bisnis media. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, peneliti mengangkat permasalahan bagaimana tim redaksi pemberitaan, menyusun strategi guna mempertahankan brand knowledge sebuah program yang sudah populer di mata penonton. Studi kasus dilakukan terhadap program “Seputar Indonesia” di stasiun televisi RCTI yang sudah melekat di benak konsumen, namun kemudian berubah nama menjadi “Seputar iNews”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi yang dilakukan oleh pelaku industri media penyiaran televisi dalam mempertahankan brand knowledge sebuah program berita. Hasilnya, tim redaksi pemberitaan sudah melakukan proses adaptasi dan inovasi untuk mempertahankan brand knowledge. Redaksi menggunakan strategi utama yakni mempertahankan ciri khas program berita pengganti, mempertahankan elemen merek yang sudah menjadi top of mind penonton, serta memanfaatkan media digital dan platform lain dalam satu grup perusahaan.
Mengenal Indonesia Melalui Netflix Original Movie Desy Budi Utami
Jurnal Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2019): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v11i1.4051

Abstract

Culture is one of the approached on shaping up the nation image. Movies, for example, successfully create an image of “super power” country; exotic land; not to mention the most enchanting holiday destination in the world. Convergence era bring forth the “on demand” culture, it is a situation where the citizen freely consumed any kind of cultural “menu”. As like Netflix, most Indonesian favorable online streaming media nowadays, from California. Compared to other online streaming media, Netflix made a good collaboration with global film maker to served original movie and series as one of their eminence. By doing so, Netflix also encourage its audiences to get to know more the “global culture” through the eye of its original movies. In Indonesia, Netflix officially release its premier original movies collaborating with Indonesian cinemas, titled “The Night Comes for Us”. This research is aim to point out how the trailer of “The Night Comes for us” displaying and reflecting Indonesian image with Jean Baudrillard concept of simulation. Roland Barthes semiotic analysis’s concept is also being use in this research as a bridge to understand first and second phase of Baudrillard’s concept. The research concluded that the film trailer did not representing any kind of reality, but only a certain designed of Indonesian image. The displayed image that seen on the trailer is a commodity to persuade audience to watch the movie. Image simulation displayed on the trailer is created with the motives to “win” a certain target segmentation of audience.  Citra sebuah bangsa dapat dibentuk dengan berbagai cara, salah satunya dengan pendekatan kebudayaan. Lewat film misalnya, sebuah negara dapat dicitrakan sebagai bangsa “adi kuasa”, negeri yang eksotis, hingga destinasi liburan paling menyenangkan di dunia. Era konvergensi media lahirkan budaya “on demand”, dimana masyarakat bisa bebas menentukan sajian budaya apa saja yang ingin mereka konsumsi. Seperti misalnya, Netflix, layanan media streaming dari California yang mulai populer dinikmati publik Indonesia. Netflix menyajikan Netflix original movie and series, yang diproduksi oleh Netflix dan bekerjasama dengan sineas global sebagai keunggulan dibandingkan layanan streaming lainnya. Netflix mengajak penontonnya untuk mengenal kebudayaan global dengan film-film orginalnya. Di Indonesia, Netflix secara resmi dan perdana ini merilis Netflix original movie dengan judul “The Night Comes for Us”. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana cuplikan film “The Night Comes for Us” menampilan dan merefleksikan citra Indonesia dengan berpijak pada model pencitraan Jean Baudrillard yang dimulai dari tahapan representasi, ideologi, simulasi dan simulakra. Analisa semiotika Roland Barthes digunakan dalam penelitian ini sebagai jembatan untuk memahami fase pertama dan kedua pencitraan Baudrillard. Temuan yang didapatkan menjelaskan bahwa citra Indonesia yang di tampilan dalam cuplikan objek penelitian tidak mewakili realitas apapun, melainkan sebuah bentukan belaka. Citra yang ditampilkan tak lain adalah sebuah komoditas yang digunakan untuk merayu penonton. Simulasi pencitraan didasari dengan motivasi untuk “memenangkan” segmentasi pasar tertentu.
Pengalaman dan Pandangan Khalayak Pegiat Sinema Non-Produksi Terkait Teknologi 3D Sebagai Pendukung Saluran Komunikasi Film Shadia Imanuella Pradsmadji; Irwansyah Irwansyah
Jurnal Komunikasi Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v11i2.4060

Abstract

The technological development within the audiovisual industry has provided the audience with a viewing experience that is increasingly becoming more and more tangible, including in the film industry. One of the developing technologies is the 3D cinema. The 3D cinema emerges in hopes of delivering a stunning and memorable experience for its audience, but the mixed response from the audience, as well as the neverending development of technology, question 3D’s position on offering a new experience and supporting film as a communication channel. By using the descriptive phenomenology method, this research focuses on the experience and perception of non-production film people towards 3D in supporting film as a communication channel. This research aims to look on how the informants, who are not production people and are people directly involved in the exhibition and appreciation aspects of cinema, perceive and experience film in the 3D format, as well as 3D’s position in the film and audiovisual industry now and in the future. The result shows that even though 3D is acknowledged as a novelty and a technological leap, it does not always add something to the viewing experience, and has even become obsolete.    Perkembangan teknologi dalam industri audiovisual memberikan khalayak pengalaman menonton yang semakin lama terasa semakin dekat dengan kenyataan, tak terkecuali dalam industri perfilman. Salah satu teknologi yang berkembang tersebut adalah sinema 3D. Kehadiran sinema 3D diharapkan dapat memberikan pengalaman yang menakjubkan dan berkesan bagi khalayaknya, namun penerimaan khalayak yang beragam, selain juga teknologi yang semakin berkembang, menjadi pertimbangan apakah 3D memang benar-benar memberikan pengalaman baru dan mendukung film sebagai saluran komunikasi. Penelitian ini menggunakan metodologi fenomenologi deskriptif, penelitian ini berfokus pada pengalaman dan pandangan pegiat sinema non-produksi terhadap sinema 3D sebagai pendukung saluran komunikasi film. Tujuan penelitian adalah untuk melihat bagaimana para informan, yang bukan berasal dari produksi film dan sebagai orang yang terlibat langsung dalam ekshibisi dan apresiasi sinema, memandang dan mengalami teknologi 3D. Para informan menceritakan pengalaman film mereka, pengalaman mereka ketika menonton film dalam format 3D, serta posisi teknologi 3D dalam industri film dan audiovisual di masa kini dan di masa yang akan datang. Hasil menunjukkan bahwa biarpun 3D dianggap sebagai sesuatu yang baru dan juga diakui sebagai bentuk dari lompatan teknologi, 3D tidak selalu menambah sesuatu terhadap pengalaman menonton dan bahkan kini sudah mulai ditinggalkan.
Musik Rilisan Fisik Di Era Digital: Musik Indie Dan Konsumsi Rilisan Musik Fisik Riomanadona M Putra; Irwansyah Irwansyah
Jurnal Komunikasi Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v11i2.4062

Abstract

The release of physical music will never be extinct, as is technology disrupting audio technology. This article provides an explanation of physical music releases in the digital era, where vinyl records, audio and CD tapes are still consumed by connoisseurs and musicians alike. Although digital music players and online music applications such as Joox, Spotify, Apple Music or Sky Music is very important in the spread of music in the digital era. The attitude of independent musicians or who are familiar with the term indie musicians still maintains the release of physical music as a tool for the dissemination of their work. This article presents descriptive data from existing journals which are then combined with interviews to obtain depth about what shapes the attitude of indie musicians in using physical music releases and how indie musicians and indie music distributors collaborate in communicating works - indie musicians work through strategies that are done together. As well as what indie music absorbs local culture and how they influence their work and what their attitudes are. Do they not pay attention to the presence of digital distribution or even combine these two things. With the existence of this article, the description of the things that underlie the independent musicians released the music they made themselves with the release of physical albums. Rilisan musik fisik tidak akan pernah punah, sebagaimana pun teknologi mendisrupsi teknologi audio. Artikel ini memberikan penjelasan tentang rilisan musik fisik pada era digital, dimana piringan hitam (vinyl), kaset audio dan CD masih tetap dikonsumsi oleh para penikmat serta pelaku musik. Walaupun pemutar musik digital dan aplikasi musik secara online seperti Joox, Spotify, Apple Music ataupun Langit Musik sangat berperan penting dalam penyebaran musik di era digital. Sikap dari musisi independen atau yang akrab dengan sebutan musisi indie tetap mempertahankan rilisan musik fisik sebagai alat untuk penyebaran karya mereka. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana rilisan musik fisik akan tetap bertahan, dan mengapa sebuah rilisan fisik menjadi hal yang dianggap penting bagi musisi Indie. Artikel ini menyajikan data-data secara deskriptif dari jurnal-jurnal yang ada yang kemudian di padupadankan dengan wawancara untuk memperoleh kedalaman tentang apa yang membentuk sikap dari para musisi indie dalam menggunakan rilisan musik fisik dan bagaimana musisi indie dan distributor musik indie melakukan kolaborasi dalam mengomunikasikan karya-karya musisi indie melalui strategi yang dikerjakan bersama. Serta seperti apa musik indie menyerap budaya lokal dan bagaimana hal tersebut memberikan pengaruhnya pada karya-karya mereka dan seperti apa sikap mereka. Apakah kehadiran distribusi yang dilakukan secara digital tidak mereka hiraukan atau malah menggabungkan kedua hal tersebut. Adanya artikel ini, memberikan gambaran hal-hal yang mendasari para musisi independen merilis musik yang mereka buat sendiri dengan rilisan album fisik.  
Diagnosa Komunikasi Brand Activation Dan Media Digital Atas Eksistensi Brand Studio Rekaman Lokananta Gregorius Genep Sukendro; Nigar Pandrianto
Jurnal Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2019): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v11i1.4287

Abstract

The use of digital-based communication media and brand activation by the industry can attract the attention of potential consumers or customers. Even from these two activities, consumer trust and loyalty to the brand can be achieved. This research will look at how digital-based brand activation and communication can successfully attract consumers' attention. Therefore a number of marketing communication and marketing theories will be used in this study to dissect and photograph the research object. To analyze data, this research will use SOSTAC analysis. In addition to conducting observations and literature studies, researchers also conducted interviews with industry parties. Therefore this research is expected to be a reference in industrial development by utilizing digital-based communication and brand activation. The results of the study showed Lokananta still had to maximize the use of digital media as a form of brand activation to maintain brand existence. Pemanfaatan media komunikasi berbasis digital dan brand activation oleh industri dapat menarik perhatian calon konsumen atau pelanggan. Bahkan dari kedua kegiatan ini kepercayaan dan loyalitas konsumen kepada brand dapat dicapai. Penelitian ini akan melihat bagaimana brand activation dan komunikasi berbasis digital berhasil dapat menarik perhatian konsumen. Oleh karena itu sejumlah teori komunikasi pemasaran dan pemasaran akan digunakan dalam penelitian ini untuk membedah dan memotret obyek penelitian. Untuk menganalisa data, penelitian ini akan akan menggunakan analisis SOSTAC. Selain melakukan observasi dan studi pustaka, peneliti juga melakukan wawancara dengan pihak industri. Oleh karenanya penelitian ini diharapkan bisa menjadi acuan dalam pengembangan industri dengan memanfaatkan komunikasi berbasis digital dan brand activation. Hasil dari penelitian menunjukkan Lokananta masih harus memaksimalkan penggunaan media digital sebagai bentuk brand activation untuk mempertahankan eksistensi brand.
Tingkat Kepercayaan Generasi Z terhadap Berita Infografis dan Berita Ringkas di Media Sosial Stefiani Emasurya Indrajaya; Lukki Lukitawati
Jurnal Komunikasi Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v11i2.5045

Abstract

Generation Z is a digital native who was born together with and fluently using the internet. Research shows that most Generation Z gathering news from social medias. However, how much Generation Z trust the online news they read on official Instagram accounts has never been investigated before. The purpose of this study is determining the level of trust Generation Z giving in online news distributed through official Instagram accounts in the form of infographic and short news. The dependent variable is level of trust in online news and the independent variable is level of reading online news on official Instagram accounts. The independent variable is accounted by six indicators derived from attribution theory. This quantitative research focuses on Generation Z in Semarang City, Indonesia, especially undergraduate students at Diponegoro University with total 107 respondents. This research was conducted during the political campaign periods in Indonesia from February to April 2019 using questionnaires for simple random data sampling. Collected data was then analyzed with multiple regressions using SPSS. The results showed that the level of reading infographic news influenced 36,4% level of trust in online news; while it showed only 28,0% for the short news. However, despite the differences in the effect of reading levels on trust levels, the two groups of respondents showed the similar final level of trust in online news. Generation Z neither trusts online news in the form of infographics nor short news. They don't trust online news on Instagram regardless the form of the news.Generasi Z adalah generasi digital yang lahir bersama dan fasih menggunakan internet. Penelitian menunjukkan sebagian besar generasi Z mendapatkan berita dari media sosial. Namun, seberapa besar kepercayaan yang diberikan generasi Z pada berita daring yang mereka baca di akun resmi Instagram belum pernah diteliti sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah menentukan tingkat kepercayaan generasi Z terhadap berita daring yang dibaca melalui akun resmi Instagram dalam bentuk infografis dan bentuk berita ringkas. Variabel dependen adalah tingkat kepercayaan terhadap berita daring dan variabel independen adalah tingkat membaca berita daring di akun resmi Instagram. Variabel independen dipengaruhi oleh enam indikator yang diturunkan dari teori atribusi. Penelitian kuantitatif ini berfokus pada generasi Z di Kota Semarang, Indonesia, khususnya mahasiswa program sarjana Universitas Diponegoro dengan jumlah responden sebanyak 107 mahasiswa. Penelitian ini dilakukan selama masa kampanye politik di Indonesia pada bulan Februari hingga April 2019 dengan teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak-sederhana menggunakan kuisioner. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan regresi linear menggunakan aplikasi SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat membaca berita infografis mempengaruhi 36,4% tingkat kepercayaan terhadap berita online; sedangkan untuk berita ringkas hanya menunjukkan pengaruh sebesar 28,0%. Namun, meskipun terdapat perbedaan pengaruh tingkat membaca terhadap tingkat kepercayaan, kedua kelompok responden menunjukkan hasil akhir tingkat kepercayaan yang hampir sama pada berita daring. Generasi Z tidak mempercayai berita daring dalam bentuk infografis maupun berita ringkas. Mereka tidak mempercayai berita daring di Instagram terlepas dari apa bentuk beritanya.
Partisipasi Anggota dan Pemanfaatan Instagram dalam Interaksi Komunitas Brand Ria Miranda Satya Herlina Armananti; Donna Asteria
Jurnal Komunikasi Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v11i2.5266

Abstract

Communities can be formed from groups of people who have the same passion. In the life of modern society, the definition of community has developed so that it can form a brand community, which is a community of people with an interest in the same brand. Ria Miranda Loyal Customer (RMLC) is brand community of Ria Miranda. Community members scattered throughout the territory of Indonesia caused this community divided according to their respective regions. Geographically separated does not cause the strength of this community inferior to other communities. In every community the brand community is no exception, every member has needs that can be met through their participation in the community. Members in the brand community interact to fulfill needs and develop relationships between members. A strong community is a community that can unite a variety of individuals and can meet each other's needs and on the other hand can meet the needs of other individuals. This study aims to see how the participation of RMLC community members and the use of Instagram as a social media that supports community interaction. The results showed that interaction in the community occurred through the participation of community members consisting of member-to-member interactions and member-activity involvement. This is demonstrated through interpersonal communication done between members of the community and the involvement of members in activities organized by the community. Participation in interacting with each member can foster stronger ties between community members. Instagram plays an important role as a social media that members use to meet their needs in terms of sharing information related to brand products and references on product use. Likes and comments as an Instagram feature help build closer relationships between community members. Komunitas dapat terbentuk dari sekelompok orang yang memiliki kegemaran yang sama. Dalam kehidupan masyarakat modern, definisi komunitas mengalami perkembangan sehingga dapat terbentuk sebuah brand community, yang merupakan komunitas sekelompok orang dengan minat pada sebuah brand yang sama. Ria Miranda Loyal Customer (RMLC) merupakan komunitas penggemar brand Ria Miranda. Anggota komunitas yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia menyebabkan komunitas RMLC dibagi menurut wilayah masing-masing. Terpisahkan secara geografis tidak menyebabkan kekuatan komunitas ini kalah dengan komunitas lainnya. Dalam setiap komunitas tak terkecuali brand community, setiap anggota memiliki kebutuhan yang dapat dipenuhi lewat keikutsertaannya dalam komunitas. Anggota-anggota dalam brand community melakukan interaksi untuk pemenuhan kebutuhan dan pengembangan hubungan antar sesama anggota. Komunitas yang kuat adalah komunitas yang dapat menyatukan beragam individu dan dapat memenuhi kebutuhan masing masing dan di sisi lain dapat memenuhi kebutuhan individu lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana partisipasi anggota komunitas RMLC dan penggunaan Instagram sebagai media sosial yang menunjang interaksi komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi dalam komunitas terjadi melalui partisipasi anggota komunitas yang terdiri dari member-to-member interactions dan member-activity involvement. Hal ini ditunjukkan melalui komunikasi yang dilakukan secara interpersonal antar anggota komunitas satu sama lain serta keterlibatan anggota dalam kegiatan yang diselenggarakan komunitas. Partisipasi dalam berinteraksi yang dilakukan masing-masing anggota dapat menumbuhkan ikatan yang lebih kuat antar anggota komunitas. Instagram berperan penting sebagai media sosial yang digunakan para anggota untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam hal berbagi informasi terkait produk brand dan referensi penggunaan produk. Likes dan comment sebagai fitur Instagram membantu membangun hubungan yang semakin akrab antar anggota komunitas.