cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)
ISSN : 23033045     EISSN : 2503183X     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) abbreviated IJND (p-ISSN 2303-3045 and e-ISSN 2503-183X) is a peer-reviewed scientific journal publishing updated research and non-research articles in the area of nutrition and dietetics. This journal is published three times annually (January, May, and September) by Alma Ata University Press in collaboration with Indonesian Nutrition Association (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 386 Documents
Pola menonton televisi sebagai faktor risiko obesitas pada anak di sekolah dasar Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul Dewi Astiti; Hamam Hadi; Madarina Julia
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 1, NOMOR 2, MEI 2013
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.182 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2013.1(2).110-119

Abstract

ABSTRACTBackground: Obesity in Indonesian school children is increasing dramatically especially in the cities. Whether TV viewing has an important role to the increased obesity prevalence Indonesia is still unclear. Objective: To examine TV viewing as a risk factor of obesity in Indonesian elementary school children.Method: A case-control study of 244 obese and 244 non obese children was conducted in Yogyakarta municipality in 2012. Cases were elementary school children with BMI/Age >95 percentile identifi ed in previous survey. Controls were children from the same class and seating at the right side nearest to the cases. Weight of the children was measured using a calibrated digital weighing scale (SECA) with precision of 0.1 kg, while standing height was measured using a microtoice with precision of 0.1 cm by trained nutritionists. Data on TV viewing were collected using one-week physical activity recall questionnaires. BMI of the study subjects were computed using WHO Anthro2005 software. Statistical analysis was done using STATA 11th edition software.Result: Children with TV viewing ≥2 hours/day were 3 (OR=3.3, 95%CI:  2.2-4.8) times more likely to be obese than children with TV viewing <2 hours/day. Parental regulation of tv viewing was associated with  child’s TV viewing duration.Conclusion: Duration of TV viewing was signifi cantly associated with the increased risk of obesity in elementary school children. The existence of parental regulation would help to reduce TV viewing duration leading to the reduction of obesity prevalence in school children.KEYWORDS: obesity, elementary school children, TV viewingABSTRAKLatar Belakang: Obesitas pada anak-anak sekolah Indonesia meningkat sangat drastis terutama di kota-kota. Apakah menonton TV memiliki peran penting terhadap peningkatan prevalensi obesitas Indonesia masih belum jelas.Tujuan: Untuk menguji menonton TV sebagai faktor risiko obesitas pada anak-anak sekolah dasar di Indonesia.Metode: Sebuah studi kasus-kontrol dari 244 obesitas dan 244 anak non obesitas dilakukan di Kota Yogyakarta pada tahun 2012. Kasus adalah anak-anak SD dengan BMI/Umur >persentil ke-95 diidentifi kasi dalam survei sebelumnya. Kontrol adalah anak-anak dari kelas yang sama dan duduk di sisi kanan terdekat dengan kasus. Berat anak-anak diukur dengan menggunakan timbangan digital (SECA) yang telah dikalibrasi dengan presisi 0,1 kg, sedangkan tinggi berdiri diukur dengan menggunakan microtoice dengan presisi 0,1 cm oleh ahli gizi terlatih. Data menonton TV dikumpulkan menggunakan kuesioner aktivitas fi sik selama satu minggu. BMI dari subjek penelitian dihitung dengan menggunakan software WHO Anthro 2005. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak STATA edisi 11.Hasil: Anak-anak yang menonton TV ≥ 2 jam / hari cenderung 3 (OR = 3,3, 95% CI: 2,2-4,8) kali lebih gemuk daripada anak-anak dengan menonton TV <2 jam/hari. Peraturan orangtua menonton TV dikaitkan dengan durasi menonton TV anakKesimpulan: Durasi menonton TV secara bermakna dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas pada anak-anak sekolah dasar. Adanya peraturan orangtua akan membantu mengurangi durasi menonton TV yang mengarah ke pengurangan prevalensi obesitas pada anak-anak sekolah.KATA KUNCI: obesitas, anak-anak SD, menonton TV
Pola makan dan hubungannya dengan kejadian stroke di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya Perawaty Perawaty; Pernodjo Dahlan; Herni Astuti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 2, NOMOR 2, MEI 2014
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.21 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2014.2(2).51-61

Abstract

ABSTRACTBackground: According to WHO it is estimated that there are 15 million people having stroke annually. High prevalence of stroke happens at Kalimantan Tengah as indicated from the growing number of outpatients and inpatients of stroke every year. There is a shift in eating pattern at urban areas from traditional eating pattern to western eating pattern that has high composition of calories, protein, fat, sugar and less fibre causing nonproportional nutrient intake. This condition is a risk factor for the prevalence of degenerative diseases such as hypertension, coronary heart disease and other health problems. Efforts for primary prevention against stroke can be made through intervention in unhealthy lifestyle including eating pattern.Objectives: To identify association between eating pattern and the prevalence of stroke at dr. Doris Sylvanus Hospital Palangka Raya.Methods: The study was analytic observational with case control design. Subject consisted of cases and control at comparison 1:1 matched in age. Cases were stroke inpatients of dr. Doris Sylvanus Hospital and control group consisted of patients of other diseases at the same hospital. The study involved 76 patients taken concecutive. Data comprised of sample identity, waist circumference, eating pattern, hypertension, physical activity and smoking habit. Data of eating pattern were obtained through semi quantitative food frequency questionnaire. The result of the study was analyzed using chi square and logistic regression.Results: The result of the study showed there were 5 variables significantly associated with the prevalence of stroke; ie. more consumption of processed foods (OR 7,53 CI 95% : 1,38 – 41,13), less consumption of fruits (OR 6,98 CI 95%, 1,53-31,80), less consumption of fish (OR 6,36 CI 95% : 1,15 – 34,99), hypertension (OR 10,91 CI 95%, 2,43–49,03) and less physical activities (OR 8,36 CI 95%, 1,72-40,56) while the frequency of fast foods, alcohol consumption, obesity and smoking are not statistically significant (p > 0.05).Conclusions: The presence of hypertension, less physical activity, more consumption of processes foods, less consumption of fruits and less consumption of fish a risk factor for the dominant influence on the incidence of stroke.KEYWORDS: stroke, eating pattern, case controlABSTRAKLatar belakang: Laporan World Health Organization (WHO), diperkirakan setiap tahun terdapat 15 juta orang di seluruh dunia yang mengalami stroke. Tingginya prevalensi stroke di Kalimantan Tengah dilihat dari penderita rawat inap dan rawat jalan di rumah sakit yang jumlahnya meningkat setiap tahun. Terjadinya pergeseran pola makan di kota-kota besar dari pola makan tradisional ke pola makan barat yang komposisinya terlalu tinggi kalori, banyak protein, lemak, gula tetapi rendah serat menimbulkan ketidakseimbangan asupan zat gizi. Kondisi tersebut merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit degeneratif seperti hipertensi, jantung koroner dan masalah kesehatan lainnya. Upaya pencegahan tingkat awal atau preventif primer pada stroke dapat dilakukan dengan intervensi pada gaya hidup yang tidak sehat termasuk pola makan.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian stroke di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan rancangan case control. Subjek terdiri dari kasus dan kontrol dengan perbandingan 1:1 yang telah dilakukan matching terhadap umur. Kasus adalah penderita stroke dan kontrol adalah penderita penyakit lainnya yang menjalanirawat inap di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya. Jumlah subjek adalah 76 orang yang ditentukan dengan metode consecutive sampling. Data yang dikumpulkan yaitu identitas sampel, lingkar pinggang, pola makan, hipertensi, aktifitas fisik dan merokok. Data pola makan dikumpulkan dengan formulir semi quantitatif food frequency. Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan Chi square dan regresi logistik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 variabel yang berhubungan signifikan dengan kejadian stroke yaitu lebih konsumsi makanan olahan (OR 7,53 CI 95% : 1,38 – 41,13), kurang konsumsi buah (OR 6,98 CI 95% : 1,53 – 31,80), kurang konsumsi ikan (OR 6,36 CI 95% : 1,15 – 34,99),hipertensi (OR10,91 CI 95% : 2,43 – 49,03) dan kurang aktivitas fisik (OR 8,36 CI 95% : 1,72 – 40,56), sedangkan frekuensi konsumsi fast food, konsumsi sayuran berwarna, konsumsi alkohol, obesitas, dan merokok tidak signifikan secara statistik (p > 0,05).Kesimpulan: Adanya hipertensi, kurang aktivitas fisik, lebih konsumsi makanan olahan, kurang konsumsi buah dan kurang konsumsi ikan merupakan faktor risiko terhadap kejadian stroke.KATA KUNCI: stroke, pola makan, case control
Gangguan depresi berhubungan dengan status gizi pasien psikogeriatri di RSJ DR. Radjiman Wediodiningrat, Malang Wawan Agung Prasetyo; Probosuseno Probosuseno; Sumarni Sumarni
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 3, NOMOR 1, JANUARI 2015
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.006 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2015.3(1).22-30

Abstract

ABSTRACTBackground: Nutritional problem in psychogeriatric patients has not got much attention in geriatric psychiatry. However, malnutrition is likely to have a major impact on mental and physical condition of the elderly. In patients with depression, nutritional problems have a major contribution in determining food intake and nutrient of elderly, because depression can cause loss of appetite which impact on the nutritional status of elderly.Objectives: To determine the association between depression with nutritional status of geriatric psychiatry patients at DR. Radjiman Wedioningrat Mental Hospital, Lawang District of Malang.Methods: This was an observational study with cross sectional design. Subjects were geriatric psychiatry inpatients at Radjiman Wediodiningrat Mental Hospital Lawang Distric of Malang. Depression status was assessed using the short form of the geriatric depression scale (GDS-15). Food intake were collected using plate waste (visual comstock methods) and 24 hours food recall methods. Nutritional status was assessed using the mini nutritional assessment-Taiwan version-1 (MNA-T1). The data was analysed by univariat, bivariat, and multivariat.Results: Out of total subject of the study (52 people), 53.9% were depressed and 50% were malnourished. Dominant factor that affect nutritional status was moderate depression (OR=11.14). Bivariat analysis showed that there was a significant association between functional status, energy intake, and protein intake with nutritional status. There was not significantly association between energy intake and protein intake with depression status. There was a significant association between depression status and nutritional status of geriatric psychiatry patients (OR=11.14, 95% CI:1.7-73.14).Conclusions: There was a significant association between depression status and nutritional status.KEYWORDS: depression status, geriatric psychiatric, nutritional statusABSTRAKLatar belakang: Masalah gizi pada pasien psikogeriatri kurang mendapat perhatian dalam penelitian psikiatri geriatri, padahal malnutrisi cenderung memiliki dampak yang besar terhadap kondisi mental dan fisik pada lansia. Pada pasien depresi, masalah gizi mempunyai kontribusi yang besar dalam menentukan asupan makanan dan zat gizi lansia karena depresi dapat menyebabkan kehilangan nafsu makan yang berdampak pada penurunan status gizi lansia.Tujuan: Mengetahui hubungan antara gangguan depresi dengan status gizi pasien psikogeriatri di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat, Lawang, Malang.Metode: Penelitian ini bersifat observasional dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah pasien psikogeriatri di ruang rawat inap psikogeriatri RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang. Data status depresi diukur dengan geriatric depression scale-15 (GDS-15). Data asupan zat gizi menggunakan metode visual Comstock dan recall 24 jam. Data status gizi ditentukan berdasarkan (MNA-T1). Data dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat.Hasil: Dari total subjek penelitian (52 orang), sebesar 53,9% mengalami depresi dan sebesar 50% mengalami malnutrisi. Faktor yang paling dominan mempengaruhi status gizi adalah status depresi sedang (OR=11,14). Hasil uji bivariat menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara status fungsional,asupan energi, asupan protein, dan status depresi dengan status gizi. Hasil uji multivariat menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara status depresi dengan status gizi (OR=11,14, 95% CI:1,7-73,14).Kesimpulan: Ada hubungan signifikan antara status depresi dengan status gizi pada pasien psikogeriatri.KATA KUNCI: status depresi, pasien psikogeriatri, status gizi
Ketepatan porsi berhubungan dengan asupan makan pada lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur, Bantul, Yogyakarta Dessy Natalia Cendanawangi; Tjaronosari Tjaronosari; Ika Ratna Palupi
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 4, NOMOR 1, JANUARI 2016
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.937 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2016.4(1).8-18

Abstract

ABSTRACTBackground: There is a challenge to overcome nutrition problems as the number of older adults increases, including the older adults who live in nursing home. Food service in nursing home often get less attention, such as in the portion size of meals that is served to the older adult. In PSTW Budi Luhur, portion size is served by one representation of the older adults in each group or “pramurukti”, and it is still unknown whether the portion size is served accurately. Portion size infl uenced food and energy intake in adults.Objectives: To investigate the association between portion accuracy with food intake of older adults in PSTW Budi Luhur, Bantul, Yogyakarta.Methods: Forty four older adults were recruited in the observational, cross sectional study in PSTW Budi Luhur, Bantul, Yogyakarta from May to June 2015. Portion in distribution unit, portion accuracy, and food intake were measured by food weighing and observation for 15 days at lunch. Spearman rank correlation formula were used to analyze the association between portion accuracy and food intake.Results: Most of the portion sizes of grains, meat, poultry and fi sh, beans and bean products, fruits, and vegetables were served inaccurately. Food intakes from grains, meat, poultry and fi sh, and vegetables were mainly defi cient, while intakes from beans and bean products, and fruits were largely good. There was signifi cant association between portion accuracy and food intake in all food groups (p-value<0.05) with medium strength of correlation (r=0.4-<0.6).Conclusion: There was association between food accuracy and food intake in elderly, in which larger food portion leads to higher food intake, and vice versa.KEYWORDS: portion, portion accuracy, food intake, older adults, nursing homeABSTRAKLatar belakang: Peningkatan jumlah lansia memberikan tantangan untuk dilakukannya upaya-upaya mengatasi atau menanggulangi permasalahan gizi yang sering muncul pada lansia termasuk lansia yang tinggal di panti wreda. Pelayanan makan di panti wreda kurang mendapat perhatian termasuk porsi makanan yang disajikan ke lansia. Di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur, pembagian porsi dilakukan oleh salah satu lansia pada tiap wisma atau pramurukti, dan tidak diketahui ketepatan porsi yang disajikan ke tiap lansia. Pada orang dewasa, besar porsi mempengaruhi asupan makan dan energi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ketepatan porsi dan asupan makan, gambaran ketepatan porsi dan gambaran asupan makan lansia di PSTW Budi Luhur. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan studi cross sectional. Penelitian berlangsung pada bulan Mei-Juni 2015 dengan jumlah subjek 44 lansia. Porsi di unit distribusi, ketepatan porsi dan asupan makan diukur menggunakan metode penimbangan makanan dan observasi selama 15 hari pada saat makan siang. Uji yang digunakan adalah uji korelasi Spearman rank correlation.Hasil: Sebagian besar porsi makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah yang disajikan tidak tepat. Sebagian besar asupan makanan pokok, lauk hewani dan sayur termasuk kurang, sedangkan lauk nabati dan buah termasuk baik. Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan yang bermakna antara ketepatan porsi dan asupan makan makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah (p<0,05) dengan kekuatan korelasi yang sedang (r=0,4-<0,6).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara ketepatan porsi dan asupan makan pada lansia, semakin besar porsi yang diberikan maka semakin besar asupannya dan sebaliknya.KATA KUNCI: porsi, ketepatan porsi, asupan makan, lansia, panti wreda
Aktivitas fisik berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak Sekolah Dasar M Zamzani; Hamam Hadi; Dewi Astiti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 4 NOMOR 3, SEPTEMBER 2016
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.836 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2016.4(3).123-128

Abstract

ABSTRACTBackgrounds: The increasing prevalence of obesity is caused by imbalance between energy input to energy output. Physical activity in children both at school and at home plays an important role in determining the nutritional status of children, including the risk of obesity. Objectives: To determine the relationship between children physical activity with obesity in Ngebel Elementary School, Tamantirto Kasihan Bantul. Methods: This study was an observational study with cross sectional design. The study population is all children grades 3, 4, and 5 Ngebel Elementary School, Tamantirto Kasihan Bantul. These samples included 96 children who met the inclusion and exclusion criteria obtained with less total sampling technique. Weight children measured using digital bathroom scales to the nearest 0.1 kg and height was measured using the nearest 0.1 cm microtoice assisted by trained enumerators. Physical activity data were obtained using a physical activity questionnaire was adopted from previous studies. Nutritional status data is calculated using the WHO software Anthro 2005. Univariate analysis using frequency distribution and bivariate analysis using Fisher’s Exact Test. Data were analyzed using software statistic.Results: Results analisis showed physical activity had a significant relationship with the incidence of obesity in children, with p Value 0.015 (<0,05) with OR of 4.78 (95% CI: 1.36 to 16.82), in other words children who do moderate to severe activity ≤1 hour/day had 5 times higher chance to be obese than children with moderate to severe activity >1 hour/day.Conclusions: Physical activity has a significant association with obesity. KEYWORDS: physical activity, obesity, elementary school children ABSTRAKLatar belakang: Peningkatan prevalensi obesitas disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan antara masukan energi dengan keluaran energi. Aktivitas fisik pada anak-anak baik di sekolah maupun di rumah berperan penting dalam penentuan status gizi anak, termasuk risiko terjadinya obesitas.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada anak Sekolah Dasar Negeri Ngebel, Tamantirto Kasihan Bantul.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian adalah semua anak kelas 3, 4, dan 5 SDN Ngebel, Tamantirto Kasihan Bantul. Sampel penelitian berjumlah 96 anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diperoleh dengn teknik total sampling. Berat anak-anak diukur dengan menggunakan timbangan injak digital dengan ketelitian 0,1 kg, sedangkan tinggi badan diukur menggunakan microtoise dengan ketelitian 0,1 cm dibantu oleh enumerator terlatih. Data aktivitas fisik diperoleh menggunakan kuesioner aktivitas fisik yang diadopsi dari penelitian sebelumnya. Data status gizi dihitung dengan menggunakan software WHO Anthro 2005. Analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan Fisher’s Exact Test. Data dianalisis dengan menggunakan program software statistic.Hasil: Hasil analisis menunjukkan aktivitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian obesitas pada anak dengan nilai p value 0,009 (<0,05) dengan nilai OR 5,69 (95% CI: 1,42-22,65), dengan kata lain anak yang melakukan aktivitas sedang-berat ≤1 jam/hari berpeluang 5 kali lebih besar untuk mengalami obesitas daripada anak dengan aktivitas sedang-berat >1 jam/hari.Kesimpulan: Aktivitas fisik memiliki hubungan secara bermakna dengan obesitas.KATA KUNCI: aktivitas fisik, obesitas, anak SD
Child care practice as a risk factor of changes in nutritional status from normal to stunting in under five children Leni Sri Rahayu; Debby Endayani Safitri; Indah Yuliana -
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 5, ISSUE 2, 2017
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.849 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2017.5(3).76-81

Abstract

ABSTRACTBackground: There was 9.5% of stunted infants aged 7-12 month changed to normal nutritional status at the age of 2 years. Integrated programs, health, hygiene, and stimulation have been successful to decrease the stuntingproportion by 17.2%. Objective: The aim of this study was to analyze the relationship between child care practice and changes in nutritional status from normal to stunting in under fivechildren.Methods: This study was a further analysis from the results of cohort data collection for 20 villages of the City and District of Tangerang in 2008-2011. The number of subject in this study were 571 n under  five childre. Data were analyzed by chi-square test. Result: The results showed that the child care practice (OR=1.63, 95% CI ), hygiene and environmental sanitation (OR=1.63, 95% CI ) and health care aspects (OR=1.76, 95% CI ) were significantly associated with changes in nutritional status from normal to stunting.Conclusion:  child care practice were associated with changes in nutritional status from normal to stunting in under five childrenKEYWORDS: stunting, child care practice, under-five children
Paparan iklan junk food dan pola konsumsi junk food sebagai faktor risiko terjadinya obesitas pada anak sekolah dasar kota dan desa di Daerah Istimewa Yogyakarta Esti Nurwanti; Hamam Hadi; Madarina Julia
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 1, NOMOR 2, MEI 2013
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.845 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2013.1(2).59-70

Abstract

ABSTRACTBackground: Increasing prevalence of obesity may be caused by junk food advertised while children are watching television.Preference for foods requested by the children is much infl uenced by junk food advertisement, so that it can affect calori intakeand correlates with obesity. Obesity in children can cause obesity during adulthood and may increase the risk of degenerativedisease, like diabetes and cardiovascular.Objective: To analyze the level of risk exposure to junk food advertising and junk food consumption on the incidence of obesityin primary school children in elementary school children at the area of Yogyakarta Municipality and District of Bantul.Method: This study was an observational study with case-control design. The study population was elementary school childrenin the City of Yogyakarta and Bantul Regency. Cases were elementary school children who were obese, while the controlswere children who were not obese and sat closest the cases regardless of age and sex. Number of subjects for each groupwere 244 (1:1). Obesity was defi ned as BMI / U>95th percentile curves NCHS/CDC. Sampling to fi nd obesity with probabilityproportional to size (PPS) and sampling for cases and controls using random sampling techniques. Univariate analysis ofthe data using frequency distributions, bivariate analysis using Chi-square, and multivariate analysis using multiple logisticregression. Data were analyzed using STATA 11 program with a 95% signifi cance level and nutrisurvey.Result: Bivariate analysis using Chi Square shows the variables that infl uence the incidence of obesity, such as junkfood ads exposure (OR=1.70, 95%CI: 1.17-2.48, and p=0.004), junk food energy intake (OR=1.58, 95%CI:  1.08-2.32and p=0.01), intake of saturated fat junk food (OR=1.74, 95%CI: 1.18-2.56 and p=0.004), sodium intake of junk food(OR=1.83, 95%CI: 1.25-2.69 and p=0.001) and sex (OR=0.58, 95%CI: 0.40-0.85 and p= 0.0035). Multivariate analysiswith logistic regression showed that the variables affect obesity is junk food ads exposure (OR=1.63, 95%CI: 1.13-2.36and p <0.05) and sex (OR=0.62, 95% CI:0.43-0.91 and p<0.05).Conclusion : Exposure to junk food advertising can increase the risk of obesity.KEYWORDS: obesity, ads, junk food, energy, saturated fat, natrium, sucroseABSTRAKLatar Belakang: Peningkatan prevalensi obesitas dapat disebabkan oleh iklan makanan junk food ketika anak menontontelevisi. Pemilihan makanan yang diinginkan oleh anak banyak dipengaruhi oleh iklan tersebut, sehingga mempengaruhiasupan kalori dan berkorelasi dengan obseitas. Obesitas pada anak dapat menyebabkan obesitas saat dewasa dandapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif, seperti diabetes dan kardiovaskuler.Tujuan: Untuk mengukur tingkat risiko paparan iklan junk food dan konsumsi junk food terhadap   kejadian obesitaspada anak SD di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan kasus-kontrol. Populasi penelitian adalah anak SD di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Kelompok kasus adalah anak yang mengalami obesitas,sedangkan kelompok kontrol adalah teman sekelas yang tidak mengalami obesitas dan duduk paling dekat di sebelahkanan kasus tanpa melihat umur dan jenis kelaminnya Jumlah subjek untuk masing-masing kelompok sebesar 244(1:1). Obesitas didefi nisikan dengan IMT/U>persentil 95th kurva NCHS/CDC. Pengambilan sampel untuk menemukanobesitas dengan probability proportional to size (PPS) dan pengambilan sampel untuk kasus dan kontrol menggunakanteknik random sampling. Analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan Chi-square,dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Data dianalisis dengan menggunakan program STATA 11 dengantingkat kemaknaan 95% dan nutrisurvey.Hasil: Analisis bivariat dengan Chi-square menunjukkan variabel yang berpengaruh dengan kejadian obesitas, di antaranyapaparan iklan junk food (OR=1,70, 95%CI:1,17-2,48, dan p=0,004), asupan energi junk food (OR= 1,58,  95%CI:1,08-2,32dan p=0,01), asupan lemak jenuh junk food (OR=1,74 95%CI 1,18-2,56 dan p=0,004), asupan natrium junk food (OR=1,83,95%CI:1,25-2,69 dan p=0,001) serta jenis kelamin (OR= 0,58, 95%CI:0,40-0,85 dan p= 0,0035). Hasil analisis multivariatdengan regresi logistik memperlihatkan variabel yang berpengaruh terhadap obesitas adalah paparan iklan junk food (OR=1,63,95%CI:1,13-2,36 dan nilai p <0,05) dan jenis kelamin (OR=0,62, 95%CI:0,43-0,91 dan p<0,05).Kesimpulan: Paparan iklan junk food dapat meningkatkan risiko terjadinya obesitas.KATA KUNCI: obesitas, iklan, junk food, energi, lemak jenuh, natrium, sukrosa
Pola makan dan pantangan makan tidak berhubungan dengan kekurangan energi kronis pada ibu hamil Oktriyani Oktriyani; Muhammad Juffrie; Dewi Astiti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 2, NOMOR 3, SEPTEMBER 2014
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.464 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2014.2(3).159-169

Abstract

ABSTRACTBackground: Chronic energy deficiency (CED) is a chronic malnutrition in calorie and protein that become a nutritional problem in pregnant women. Prevalence of CED in Indonesia in 2013 is 23.4% and Sedayu Subdistrict is 11.4%. Impact of CED in pregnant women is the risk of low birth weight and its relationship with increase chronic desease in the future. Dietary pattern and food taboo are factor risks of nutritional problem of pregnant women.Objectives: To analyze association between dietary pattern and food taboo with chronic energy deficiencies in pregnant women in Sedayu Subdistrict, Bantul,Yogyakarta.Methods: This was an observational study with cross sectional design with approachment in quantitative and qualitative. Qualitative method used focus group disscussion (FGD) with 14 CED and non CED in pregnant women. Samples were 201 pregnant women in Sedayu Subdisctrict that were collected by total sampling methods. This research was held in April until June 2014. Data were analyzed using univariate analysis (descriptive), bivariate (chi-square and Mann Whitney), and multivariate (multiple logistic regression). Intake of energy and carbohydrate was analyzed by using Nutrisurvey software.Results: Chi-square showed that there was no significant association between dietary pattern and food taboo with CED in pregnant women (p>0.05). A number of 17.91% pregnant women had the risk of CED, 20.99 % had less of source prime energy, and 20.22% had food taboo. Food taboo is food that rich in protein, vitamin and mineral (fruit and vegetable) and energy.Conclusions: There was no significant association between dietary pattern and food taboo with CED in pregnant women.KEYWORDS: dietary pattern, food taboos, pregnant women, chronic energy deficienciesABSTRAKLatar belakang: Kekurangan energi kronis (KEK) merupakan keadaan kekurangan zat gizi terutama energi dan protein yang masih menjadi masalah gizi pada ibu hamil. Prevalensi KEK di Indonesia tahun 2013 sebesar 23,4 % dan Kecamatan Sedayu sebesar 11,4% masih merupakan masalah kesehatan. Ibuhamil yang KEK berisiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah dan meningkatkan risiko penyakit kronis di masa depan. Pola makan dan pantangan makan merupakan salah satu faktor risiko dari masalah gizi ibu hamil.Tujuan: Mengetahui hubungan antara pola makan dan pantangan makan dengan kejadian KEK pada ibu hamil di Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang berada di Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul. Metode kualitatif dengan menggunakan focus group disscussion (FGD) kepada kelompok ibu hamil yang KEK dan tidak KEK yang berjumlah 14 orang. Penelitian kuantitatif menggunakan metode pengambilan sampel total sampling, yang berjumlah 201 orang ibu hamil. Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga Juni 2014. Data dianalisis dengan menggunakan analisis univariat (deskriptif), bivariat (chi-square dan Mann Whitney) dan multivariat (regresi logistik). Data asupan energi dan protein dianalisis dengan menggunakan software Nutrisurvey.Hasil: Hasil uji chi-square menunjukkan tidak ada hubungan antara pola makan dan pantangan makan dengan kejadian KEK pada ibu hamil (p>0,05). Sebanyak 17,91% ibu hamil berisiko KEK, 20,99% diantaranya mempunyai pola makan pokok (nasi) yang kurang dan 20,22% masih mempunyai pantangan makan. Makanan yang dipantang yaitu makanan sumber protein, sumber vitamin dan mineral (buah dan sayur), dan bahan makanan sumber energi.Kesimpulan: Pola makan dan pantangan makan pada ibu hamil tidak berhubungan dengan kejadian KEK.KATA KUNCI: pola makan, pantangan makan, ibu hamil, KEK
Faktor keberhasilan ibu pekerja dalam memberikan ASI eksklusif di Puskesmas Sedayu I, Bantul, Yogyakarta Fania Fitriani; Wahyuningsih Wahyuningsih; Kayat Haryani
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 3, NOMOR 3, SEPTEMBER 2015
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.665 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2015.3(3).175-179

Abstract

ABSTRACTBackground: Breastmilk is the first food and the best food for the baby. Breastmilk contains variety of nutrients needed for the baby. It is important to identify the success factors in giving exclusive breastfeeding Objectives: To obtain deeper understanding about factors that determine the success of carrier women in giving exclusive breastfeed ing in Puskesmas Sedayu II, Bantul, Yogyakarta Methods: This research used qualitative study design with phenomenological approach. There were five participants in this study, who lived near Puskesmas Sedayu II, Bantul, Yogyakarta. The participant aged 27-32 years and had children aged 6-12 months. The education background of participants were high school until under graduate study. Participants worked as private employees and healthworkers in private hospitals in Yogyakarta.Results: Partisipants understood about the importance of exclusive breastfeeding, the trusted in breastmilk production, concern with nutrition intake during breastfeed, and had the support from closed people to give exclusive breastfeeding.Conclusions: Factors that determine the success of working mothers in giving exclusive breastfeeding include: understanding of participants about giving exclusive breastfeeding, trusting in the breastmilk production, concerning in nutrition intake during breastfeed, and supporting from people closed people to give exclusive breastfeeding.KEYWORDS: exclusive breastfeeding, success factors, supportABSTRAKLatar belakang: ASI merupakan makanan yang pertama dan terbaik bagi bayi. ASI mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan bagi bayi, sehingga penting untuk mengidentifi kasikan faktor keberhasilan dalam pemberian ASI eksklusif.Tujuan: Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang faktor keberhasilan ibu pekerja dalam memberikan ASI eksklusif di Puskesmas Sedayu II, Bantul, Yogyakarta.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan penelitian berjumlah 5 yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Sedayu II, Bantul, Yogyakarta dengan karakteristik partisipan usia 27-32 tahun dan mempunyai anak usia 6-12 bulan. Pendidikan partisipan yaitu SMK hingga S1. Pekerjaan partisipan sebagai karyawan swasta dan tenaga kesehatan di RS swasta di Yogyakarta.Hasil: Ibu memahami tentang pentingnya ASI eksklusif, yakin terhadap produksi ASI, memperhatikan asupan gizi selama menyusui, dan mendapat dukungan orang terdekat untuk memberikan ASI eksklusif. Kesimpulan: Faktor keberhasilan ibu bekerja memberikan ASI ekslusif meliputi: pemahaman ibu tentang pentingnya ASI eksklusif, keyakinan terhadap produksi ASI, memperhatikan asupan gizi selama menyusui, dan dukungan orang terdekat terhadap pemberian ASI eksklusif. KATA KUNCI: ASI eksklusif, faktor keberhasilan, dukungan orang terdekat
Formulasi bubur bayi MPASI yang diperkaya hidrolisat protein ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) Veriani Aprilia; Febrina Suci Hati
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 4, NOMOR 2, MEI 2016
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.909 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2016.4(2).88-96

Abstract

ABSTRACTBackground: Malnutrition become the problem in Indonesia. Complementary feeding has the role in solving it. Most of commercial complementary feeding are enriched by vegetable protein, whereas animal protein has more complete amino acid and better digestibility. Unfortunately, consuming animal proteinoften raises concern because of its allergenicity. Catfish (Clarias gariepinus) can be used as a source of high animal protein in the diet that may solve the nutritional problem after reduction of its allergen.Objectives: To develope formulate of complementary feeding porridge enriched with hydrolized protein from catfish muscle.Methods: This was experimental study. HPIL and HPIK was enzymatic hydrolized products of catfish using crude and commercial papain, respectively. Overall and partial hedonic test used 23 mothers as panelists, then selected formula were tested its acceptance by 9 babies using face scale. Nutrient content of porridge were analyzed for protein, carbohydrate, fat, protein, and water.Results: Hydrolysis of catfish using papain made the changes in color, taste, and aroma. The bitter taste limited the uses, maximum amount was 25%. Porridge with the addition of HPIK were chosen by mothers and babies panelists, whereas HPIL did not. Protein content of formulated product were lower than commercial product, but carbohydrate and fat content were higher.Conclusions: Porridge formula with addition of 25% HPIK my be developed as alternative product of complementary feeding.KEYWORDS: protein, papain, catfish, protein hydrolisate, complementary feedingABSTRAKLatar belakang: Kekurangan gizi masih menjadi masalah di Indonesia. MPASI memiliki peran penting dalam mengatasi masalah tersebut. MPASI pada umumnya diperkaya oleh protein nabati, padahal protein hewani mengandung asam amino dan daya cerna yang lebih baik. Namun demikian, protein hewanimeningkatkan risiko alergi pada bayi. Lele (Clarias gariepinus) dapat dijadikan alternatif sumber protein hewani karena ketersediaan yang banyak dan harganya yang murah. Diperlukan suatu teknologi untuk mengurangi tingkat alerginya dan formulasi yang tepat dibutuhkan agar dapat diterima oleh bayi.Tujuan: Formulasi bubur bayi MPASI yang diperkaya hidrolisat protein ikan lele dumbo.Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental. HPIL dan HPIK merupakan hidrolisat protein ikan lele dumbo yang masing-masing dihidrolisis secara enzimatis menggunakan enzim papain kasar dan papain komersial. Uji kesukaan keseluruhan dan parsial menggunakan 23 panelis ibu, kemudian formula terpilihdiujikan daya terimanya oleh 9 bayi menggunakan skala raut muka. Uji nilai gizi bubur bayi meliputi kadar protein, karbohidrat, lemak, protein, dan air.Hasil: Proses hidrolisis kimiawi protein ikan lele dumbo menggunakan enzim papain menyebabkan perubahan warna, rasa, dan aroma produk. Adanya perubahan sifat tersebut menyebabkan penambahannya ke dalam formulasi bubur MPASI hanya sampai kadar 25%. Di atas kadar tersebut, produk berasa pahit. Hasil uji sensoris produk formulasi HPIK dapat diterima oleh panelis ibu dan bayi, sedangkan produk HPIL tidak. Kandungan protein produk formulasi lebih rendah dibanding bubur komersial, namun kandungan karbohidrat dan lemak lebih tinggi.Kesimpulan: Formula bubur bayi dengan penambahan 25% HPIK dapat dikembangkan menjadi alternatif produk MPASI.KATA KUNCI: protein, papain, lele dumbo, hidrolisat protein, MPASI

Page 6 of 39 | Total Record : 386