cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan)
ISSN : 24610437     EISSN : 25409131     DOI : -
Jukung adalah jurnal yang berisikan hasil-hasil penelitian ilmiah meliputi bidang rekayasa dan teknologi lingkungan yang dikelola oleh Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat. Jukung diterbitkan dua kali dalam setahun setiap bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
PEMANFAATAN LARVA BLACKxSOLDIER FLY (HERMETIA ILLUCENS) SEBAGAI PEREDUKSI SAMPAH ORGANIK DENGAN VARIASI JENIS SAMPAH DAN FREKUENSI FEEDING Muhammad Abrar Firdausy; Andy Mizwar; Muhammad Firmansyah; Muhammad Fazriansyah
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 7, No 2 (2021): SEPTEMBER 2021
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v7i2.11948

Abstract

Sampah sudah menjadi persoalan serius bagi masyarakat. Produksi sampah di dunia semakin meningkat, sedangkan laju pengurangan sampah lebih kecil dari pada laju produksinya, hal ini menyebabkan sampah semakin menumpuk. Berbagai upaya pemanfaatan sampah organik dengan teknologi baru telah dilakukan, salah satunya dengan memanfaatkan larva Black Soldier Fly (Hermetia illucens). Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis besar persentase kemampuan larva BSF dalam mereduksi sampah organik sayuran/buah-buahan dan lauk. Penelitian ini dilakukan dengan metode percobaan skala laboratorium. Sampah organik yang digunakan sebagai sampel adalah sampah yang berasal dari sampah makanan khususnya sampah  sayuran/buah-buahan  dan  lauk  dengan  frekuensi  feeding  sekali  dalam  3   hari.   Analisis   data   yang   digunakan   pada  penelitian   ini   yaitu  Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 kali replikasi (pengulangan) dan metode analisis yang digunakan adalah Analysis of Variance (ANOVA). Berdasarkan penelitian ini, persentase terbesar reduksi sampah oleh larva BSF sebesar 74% dan berdasarkan persentase yang diperoleh ditentukan bahwa variasi jenis sampah sayuran/buah-buahan dengan frekuensi feeding sekali dalam 3 hari lebih efektif untuk menghasilkan persentase reduksi sampah yang optimal. Kata kunci: frekuensi feeding, jenis sampah, larva BSF, reduksi sampah organik.  Waste has become a serious problem for the community. Waste production in the world is increasing, while the rate of waste reduction is smaller than the rate of production, this causes waste to accumulate more. Various efforts to use organic waste with new technology have been carried out, one of which is by utilizing the larvae ofxBlack Soldier Fly (Hermetia illucens). The purpose of this study was to analyze the large percentage of BSF larvae' ability in reducing organic waste of vegetables/fruits and side dishes. This research was conducted by laboratory-scale experimental method. Organic waste used as a sample is garbage derived from food waste, especially vegetable / fruit waste and side dishes with feeding frequency once every 3 days. Data analysis used in this study is Complete RandomIzedxDesign (RAL) with 2 times replication (repetition) and the analysis method used is Analysis of Variance (ANOVA). Based on this study, the largest percentage of waste reduction by BSF larvae is 74% and based on the percentage obtained it is determined that variations in the type of vegetable/fruit waste with feeding frequency once in 3 days are more effective to produce an optimal percentage of waste reduction. Keyword: BSF larvae, feeding frequency, reduction of organic waste, types of waste.
PENGOPTIMALAN LUASAN LAHAN PERTANIAN TERHADAP KETERSEDIAN AIR PADA DAERAH IRIGASI TAMPA KABUPATEN BARITO TIMUR Rony Riduan; Asmara Hadisaputro
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 7, No 2 (2021): SEPTEMBER 2021
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v7i2.11953

Abstract

Daerah Irigasi Tampa yang terletak di Kecamatan Paku, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan dengan luas baku sawah pada 2000 Ha, memiliki layanan jaringan irigasi sebesar 1.278 ha, Namun pada hanya terdapat 500 Ha yang dapat di manfaatkan untuk pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan serta kebutuhan air untuk pola tanam yang optimal. Penelitian ini memberikan solusi pola tanam yang optimal terhadap luasan lahan pertanian menggunakan sorfware bantu (weap, cropwat dan pomqm). Penelitian ini menggunakan beberapa perhitungan antara lain perhitungan curah hujan efektif, evapotranspirasi serta debit andalan. Selanjutnya dilakukan perhitungan ketersediaan air eksisting pada Daerah irigasi Tampa sesuai pola tanam yang ada. Tahapan selanjutnya dilakukan perhitungan kebutuhan air untuk pola tanam optimal. Hasil analisis ketersedian air dan kebutuhan air memberikan nilai debit maksimum 0,226 m3/dtk dan untuk debit minimum sebesar 0,154 m3/dtk dan kebutuhan air maksimum sebesar 9,684 mm/hr. Pengoptimalan dilakukan dengan 2 alternatif pola tata tanam dan menggunkan jenis tanaman padi unggul yakni alternatif pertama padi-padi-palawija dan alternatif ke dua padi-palawija-padi. Hasil perhitungan alternatif pertama adalah kebutuhan air maksimum sebesar 0,117 m3dtk dan kebutuhan minimum sebesar 0,003 m3/dtk. Untuk alternatif ke dua didapat kebutuhan air maksimum sebesar 0,146 m3/dtk dan kebutuhan minimum adalah sebesar 0,025 m3/dtk. Hasil pengoptimalan alternatif kedua didapat tanaman Padi 109 Hektar dan 111 hektar. Untuk Hasil Optimasi alternatif ke dua didapat 378,52 hektar padi dan 250,9 hektar tanaman palawija. Berdasarkan analisis diatas, alternatif pola tata tanam ke dua lebih optimal dalam memberikan produktifitas hasil tanaman dengan asumsi untuk padi unggul adalah 10 ton/ha dan palawija 2,3 ton/ ha maka didapat sebesar 3785,2 ton/ tahun untuk tanaman padi unggul dan 577,1 ton/ tahun untuk tanaman palawija. Kata kunci: irigasi tampa, kebutuhan air, ketersediaan air, pengoptimalan.  The Tampa Irrigation Area, which is located in Paku District, East Barito Regency, Kalimantan Province, with an area of 2000 Ha of raw rice fields, has an irrigation network service of 1,278 ha, however only 500 Ha can be utilized for agriculture. This study aims to analyze the availability and demand for water for optimal cropping patterns. This research provides optimal cropping pattern solutions for agricultural land area using auxiliary software (weap, cropwat and pomqm). This study uses several calculations including the calculation of effective rainfall, evapotranspiration and mainstay discharge. Furthermore, the calculation of the availability of existing water in the Tampa irrigation area is carried out according to the existing cropping pattern. The next step is to calculate the water requirement for optimal cropping patterns. The results of the analysis of water availability and water demand give a maximum discharge value of 0.226 m3/s and for a minimum discharge of 0.154 m3/s and a maximum water requirement of 9.684 mm/day. Optimization is done with 2 alternative cropping patterns and using superior types of rice plants, namely the first alternative is rice-rice-palawija and the second alternative is rice-palawija-rice. The result of the first alternative calculation is that the maximum water requirement is 0.117m3 s and the minimum requirement is 0.003 m3/s. For the second alternative, the maximum water requirement is 0.146 m3/s and the minimum requirement is 0.025 m3/s. The results of the second alternative optimization obtained rice plants of 109 hectares and 111 hectares. For the second alternative optimization results obtained 378.52 hectares of rice and 250.9 hectares of secondary crops. Based on the above analysis, the second alternative cropping pattern is more optimal in providing crop productivity with the assumption that for superior rice is 10 tons/ha and palawija 2.3 tons/ha, it is obtained 3785.2 tons/year for superior rice plants and 577 ,1 ton/year for secondary crops. Keywords: optimization, tampa irrigation, water availability, water demand.
KOMBINASI PROSES KOAGULASI-FLOKULASI DENGAN SEQUENCHING BATCH REACTOR UNTUK MENURUNKAN KANDUNGAN ORGANIK PADA LIMBAH BATIK Novirina Hendrasarie; Firra R; Raden H Kokoh; Andika Andika
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 7, No 2 (2021): SEPTEMBER 2021
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v7i2.11949

Abstract

Limbah batik memiliki kandungan organik dan warna, yang sulit untuk digredasi. Tujuan penelitian ini mengembangkan teknologi Sequenching Batch Reactor (SBR) yang dimodifikasi dengan adsorben dari tempurung kelapa dan bamboo. Konsentrasi limbah batik awal, untuk COD sebesar 1965 mg/L, warna 1603 mg/L, TSS 1140 mg/L. Pelaksanaan penelitian terbagi menjadi dua tahap, yaitu tahap pertama limbah diolah menggunakan proses koagulasi dan flokulasi, selanjutnya tahap dua menggunakan Sequencing Batch Reactor. Pada tahap koagulasi-flokulasi, menggunakan koagulan PAC (Poly Aluminium Chloride). Sedangkan pada tahap dua yang menggunakan SBR, diatur Hydraulic Retention Time (HRT) dan berat adsorben (tempurung kelapa, bamboo dan zeolite). Hasil penelitian, didapatkan proses koagulasi dan flokulasi mampu menurunkan kandungan organic (BOD5 dan COD) pada kisaran 80%, Total Suspended Solid (TSS )26% dan warna 55%. Sedangkan pada SBR, didapatkan bahwa penambahan adsorben mengoptimalkan pendegradasian kandungan organic. Didapatkan pada HRT optimal 48 jam, jenis adsorben tempurung kelapa optimal menurunkan kandungan BOD5 sebesar 93%,  COD 93.7% sebesar , TSS 81% mg/L dan warna 81% mg/L.  Kata kunci: kandungan organic dan warna, koagulasi dan flokulasi, sequencing batch reactor (SBR).  The organic content and color of batik wastewater make it difficult to grade. The goal of this research was to create a modified Sequenching Batch Reactor (SBR) using adsorbents made from coconut shells and bamboo. The initial concentrations of COD, color, and TSS in batik wastewater were 1965 mg/L for COD, 1603 mg/L for color, and 1140 mg/L for TSS. The research was divided into two stages, with the first stage involving the use of coagulation and flocculation processes, and the second stage involving the use of a Sequencing Batch Reactor. PAC (Poly Aluminum Chloride) coagulant was used for the coagulation-flocculation stage. Meanwhile, the Hydraulic Retention Time (HRT) and the weight of the adsorbent (coconut shell, bamboo, and zeolite) were set in the second stage using SBR. The coagulation and flocculation processes reduced organic content (BOD5 and COD) by 80 %, total suspended solids (TSS) by 26 %, and color by 55 %, according to the results. In SBR, it was discovered that adding an adsorbent improves the decomposition of organic material. The optimal type of coconut shell adsorbent reduced the level of BOD5 by 93 %, COD by 93.7 %, TSS by 81 % mg/L, and color by 81 % mg/L at an optimal HRT of 48 hours. Keywords: Organic material and color, coagulation and flocculation, sequencing batch reactor (SBR).
PELUANG DAN TANTANGAN PENGENDALIAN KEHILANGAN AIR BERBASIS INTERNET OF THINGS (IOT) : STUDI PUSTAKA Galis Asmara
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 7, No 2 (2021): SEPTEMBER 2021
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v7i2.11954

Abstract

Permasalahan yang sering terjadi pada pipa distribusi air minum adalah kehilangan air. Kehilangan air mengurangi kualitas pelayanan dan pendapatan PDAM. Studi pustaka terhadap artikel ilmiah yang relevan menunjukkan adanya peluang penerapan pengendalian kehilangan air berbasis Internet of Things (IoT). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dan tantangan penerapan IoT untuk pengendalian kehilangan air khususnya pada PDAM sebagai operator penyelenggara. IoT berpeluang mengendalikan kehilangan air melalui tiga cara yaitu manajemen tekanan, manajemen aset, dan mempercepat waktu tanggap saat terjadi kebocoran. Tantangan penerapan IoT pada PDAM di Indonesia berkaitan dengan kelembagaan dan pembiayaan PDAM, infrastruktur jaringan pendukung, kemanan data, serta ketidakakuratan dan kesalahan data. PDAM di Indonesia berpeluang menerapkan IoT namun hendaknya harus memperhatikan tantangan-tantangan yang telah dijabarkan pada penelitian ini. Kata kunci: Internet of Things (IoT), kehilangan air, PDAM.  The problem that often occurs in water distribution pipes is water losses. The water losses reduce the service quality and the revenue of PDAM. The literature reviews of relevant scientific articles show that there are opportunities for implementing water losses control based on the Internet of Things (IoT). This study aims to identify the opportunities and the challenges of implementing IoT to control water losses at PDAM as an operator. The IoT has the opportunity to control water losses in three ways: pressure management; asset management; and accelerates the response time when a leak occurs. The challenges of implementing IoT at PDAM are related to the institutionalization and financing of PDAM; supporting network infrastructure; data security; and data inaccuracies and errors. PDAM in Indonesia has the opportunity to implement the IoT system, but they have to observe the possible challenges in this research. Keywords: Internet of Things (IoT), PDAM, water losses
INVESTIGASI SUMBER AIR TANAH MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS KONFIGURASI SCHLUMBERGER DAN PENGEBORAN Muhammad Fathur Rouf Hasan; Anjar p Azhari; Putera Agung Maha Agung
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 7, No 2 (2021): SEPTEMBER 2021
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v7i2.11950

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mencari keberadaan sumber air tanah. Metode yang digunakan adalah geolistrik resistivitas konfigurasi schlumberger dan proses pengeboran. Pengukuran dilakukan pada 4 titik dengan bentangan 400 meter dan jarak antar elektroda 10 meter. Hasil penelitian menunjukkan indikasi keberadaan air tanah ditemukan pada titik pengukuran 3 kedalaman 36-55 meter dibawah permukaan tanah dengan nilai resistivitas sebesar 0,97 Ωm. Proses pengeboran dilakukan pada titik 3 sesuai rekomendasi, adapun hasil dari pengeboran menunjukkan informasi keberadaan air tanah ditemukan pada kedalaman 46 m dibawah permukaan tanah, hasil ini sesuai dengan informasi yang diperoleh dari hasil penelitian. Identifikasi keberadaan air tanah menggunakan metode geolistrik resistivitas terbukti cukup ramah lingkungan, karena tidak ada kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Kata kunci: air tanah, geolistrik resistivitas, konfigurasi schlumberger, pengeboran.  This study aims to determine the existence of groundwater. The method used in this research is the geoelectrical resistivity method with schlumberger configuration and drilling process. Measurements were made at 4 points with a span of 400 meters and a distance between electrodes of 10 meters. The results showed indications of the presence of groundwater were found at measurement point 3, a depth of 36-55 meters below the ground surface with a resistivity value of 0.97 Ωm. The drilling process was carried out at point 3 according to the recommendations, while the drilling results showed information on the presence of groundwater at a depth of 46 m below the ground surface, this result is the same as the information obtained from the research results. The identification of groundwater using geoelectrical resistivity method is proven to be quite environmentally friendly because there is no environmental damage caused.  Keywords: drilling, geoelectrical resistivity, groundwater, schlumberger configuration.  
UPAYA PENINGKATAN PENGELOLAAN PERSAMPAHAN DENGAN ANALISIS WILINGNESS TO PAY DI KELURAHAN CISARANTEN KULON Alni Alfiani; Kancitra Pharmawati
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 7, No 2 (2021): SEPTEMBER 2021
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v7i2.11955

Abstract

Pengelolaan persampahan di Kelurahan Cisaranten Kulon saat ini belum optimal terlihat dari adanya masalah penumpukan sampah di rumah warga akibat keterlambatan pengumpulan sampah di wilayah pelayanan ataupun tidak adanya jadwal tetap untuk pengumpulan sampah. Untuk menangani masalah tersebut dibutuhkan peran aktif masyarakat dan aspek pembiayaan untuk menunjang upaya perbaikan, maka dilakukan analisis Willingness To Pay (WTP) terhadap peningkatan pelayanan pengelolaan persampahan di wilayah ini. Didapatkan nilai WTP total sebesar Rp 124.989.122. Faktor yang mempengaruhi nilai WTP masyarakat Kelurahan Cisaranten Kulon adalah penghasilan dan kepuasan pelayanan. Rekomendasi peningkatan pelayanan pengelolaan persampahan yang direncanakan adalah pengelolaan sampah di sumber dengan program Kang PisMan, program komposter tong, serta pemanfaatan bank sampah dan optimalisasi sistem pengumpulan sampah dengan pembuatan jadwal pengumpulan sampah rutin serta penambahan alat pengumpul. Kata Kunci :  CVM, pengelolaan sampah, persampahan, WTP. Waste management in Cisaranten Kulon Village is currently not optimal, as can be seen from the problem of garbage accumulation in residents' homes due to delays in collecting waste in the service area or the absence of a fixed schedule for waste collection. To deal with this problem, an active role from the community and financing aspects are needed to support improvement efforts, so Willingness To Pay (WTP) analysis is carried out on improving waste management services in this region. The total WTP value is IDR 124,989,122. The factors that influence the WTP value of the people of Cisaranten Kulon Village are income and service satisfaction. Recommendations for improving the planned waste management services are waste management at the source with the Kang PisMan program, the composter barrel program, as well as the use of waste banks and optimizing the waste collection system by making routine waste collection schedules and adding collection tools. Keywords:: CVM, WTP, garbage, waste management.
PENGGUNAAN BIOFILTER ANAEROB UNTUK MENURUNKAN KADAR PENCEMAR ORGANIK PADA LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU Muhammad Al Kholif; Frisyi Alfiah; Sugito Sugito; Pungut Pungut; Joko Sutrisno
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 7, No 2 (2021): SEPTEMBER 2021
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v7i2.11951

Abstract

Limbah cair industri tahu mengandung zat organik yang tinggi seperti BOD5 dan COD sehingga perlu adanya pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan. Salah satu alternatif pengolahan yaitu menggunakan sistem biofilter anaerob. Penelitian ini bersifat eksperimental yang bertujuan untuk mengetahui penurunan kadar BOD5 dan COD pada limbah cair industri tahu menggunakan sistem biofilter anaerob. Reaktor yang digunakan terdiri dari 2 buah reaktor dan terbuat dari kaca dengan ketebalan 10 mm. Reaktor pertama bervolume 0,081 m3 yang diisi dengan media batu kerikil setinggi 70 cm dan reaktor kedua bervolume 0,059 m3 diisi dengan media bioball rambutan setinggi 45 cm. Limbah cair industri tahu dialirkan ke dalam reaktor biofilter anaerob secara kontinyu dengan arah aliran down flow. Parameter yang diukur yaitu kadar BOD5 dan COD pada inlet maupun outlet reaktor biofilter anaerob. Reaktor 1 bermedia batu kerikil mampu menyisihkan kadar BOD5 dengan penyisihan tertinggi terjadi pada waktu operasi hari ke-4 yaitu sebesar 943,8 mg/L dan penyisihan kadar COD tertinggi pada waktu operasi hari ke-4 yaitu sebesar 1931,2 mg/L. Sedangkan pada reaktor 2 bermedia bioball rambutan mampu menyisihkan kadar BOD5 dengan penyisihan tertinggi terjadi pada waktu operasi hari ke-4 yaitu sebesar 936,7 mg/L dan penyisihan kadar COD tertinggi pada waktu operasi hari ke-4 yaitu sebesar 1856,6 mg/L.  Kata Kunci : batu kerikil, bioball rambutan, biofilter anaerob, limbah tahu.  Tofu industrial liquid waste contains high organic matter such as BOD5 and COD so it needs processing before being discharged into the environment. One of alternative processing is using an anaerobic biofilter system. This study is experimental which aims to determine the decrease of BOD5 and COD levels in tofu wastewater using anaerobic biofilter system. The reactor consist is 2 reactors and is made of glass with a thickness of 10 mm. The first reactor with a volume of 0.081 m3 was filled with 70 cm of gravel media and a second reactor with a volume of 0.059 m3 filled with 45 cm of rambutan bioball media. Tofu industrial liquid waste is flowed into the anaerobic biofilter reactor continuously with down flow direction. Parameters measured were BOD5 and COD levels at the anaerobic biofilter reactor inlet and outlet. The highest removal of BOD5 levels in reactor 1 with gravel media occurred on the 4th day of operation with a allowance of 943.8 mg/L and the highest removal of COD levels at the 4th day of operation was 1931.2 mg/L. Whereas the highest removal of BOD5 levels in reactor 2 with rambutan bioball media occurred on the 4th day of operation with a allowance of 936.7 mg/L and the highest removal of COD levels at the 4th day of operation with a allowance of 1856.6 mg/L. Keywords: anaerobic biofilter, gravel stone, rambutan bioball, tofu waste.
KAJIAN KUALITAS AIR WADUK BATUJAI DALAM UPAYA PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Tina Melinda; Erlan Siswandi
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 7, No 2 (2021): SEPTEMBER 2021
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v7i2.11956

Abstract

Kondisi Waduk Batujai saat ini memperihatinkan akibat pencemaran. Beragam sumber pencemar masuk dan terakumulasi di waduk diantaranya berasal dari kegiatan produktif dan non produktif dari permukiman dan dari kegiatan di badan perairan waduk sendiri. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kondisi kualitas air, sumber dan kontribusi bahan cemaran yang mendominasi air Waduk Batujai sebagai sumber air bersih serta strategi pengendalian pencemaran air Waduk Batujai. Identifikasi kualitas air bersih menggunakan pengujian parameter fisika, kimia dan mikrobiologi dibandingkan dengan baku mutu air PP No.82/2001. Penentuan status mutu air menggunakan metode indeks pencemaran berdasarkan Kepmen LH No.115/2003. Strategi pengendalian pencemaran air menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian ini yaitu kualitas air Waduk Batujai  mengalami pencemaran, ditunjukkan adanya parameter TSS sebesar 527 mg/L, BOD 6,6 mg/L, COD rata-rata 48,5 mg/L, Fe 0,39 mg/L, MPN Coliform 14000 MPN/100ml dan MPN colitinja sebesar 3300 MPN/100ml yang melebihi baku mutu air bersih. Status mutu air sudah tercemar ringan dengan indeks pencemaran tertinggi sebesar 6,34. Sumber cemaran Waduk Batujai secara keseluruhan berupa limbah rumah tangga, sisa-sisa pupuk pertanian, pakan ternak dan ikan mati. Beban pencemaran Waduk Batujai yang terbesar berupa padatan tersuspensi (TSS) sebesar 527 kg/hari dan parameter COD (Chemical Oxygen Demand) 48,5 kg/hari. Strategi pengendalian pencemaran air dapat dilakukan dengan meningkatkan inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar, meningkatkan pengelolaan limbah, menetapkan daya tampung beban pencemaran, meningkatkan pengetahuan dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan limbah, meningkatkan pengawasan terhadap pembuangan air limbah dan meningkatkan pemantauan kualitas air waduk. Kata kunci: kualitas air, pengendalian pencemaran, waduk. The current condition of the Batujai reservoir is in concerned by pollution. Various sources of pollutants entered and accumulated in the reservoir, including from productive and non-productive activities from settlements and from activities in the water bodies of the reservoir itself. The aim of this research was to find out the condition of water quality, sources and contributions of contaminants that dominate the water of the Batujai reservoir as a clean water source and strategies for controlling water pollution in the Batujai reservoir. Identification of clean water quality was done by using physical, chemical and microbiological parameter testing compared to the water quality standard of Government Regulation No.82/2001. Determination of water quality status was done by using pollution index method based on the Ministerial Decree No.115/2003. Water pollution control strategy is conducted by using SWOT analysis. The results of this research was the water quality of the Batujai reservoir is polluted, it is shown that there are TSS parameters of 527 mg/L, BOD 6.6 mg/L, COD on average 48.5 mg/L, Fe 0.39 mg/L, MPN Coliform 14000 MPN/100ml and MPN Colitinja 3300 MPN/100ml which exceeds the clean water quality standard. The status of water quality has been lightly polluted with the highest pollution index being 6.34. The overall sources of contamination in the Batujai reservoir are household waste, agricultural fertilizers remnants, fodder and dead fish. The biggest pollution load of the Batujai reservoir is in the form of suspended solids (TSS) of 527 kg/day and COD (Chemical Oxygen Demand) 48.5 kg/day. Water pollution control strategies can be done by increasing the inventory and identification of pollutant sources, improving waste management, determining the capacity of pollution load, increasing public knowledge and participation in waste management, increasing monitoring of waste water disposal and improving reservoir water quality monitoring. Keywords: pollution control, reservoir, water quality.
PENAMBAHAN CHITOSAN DAN PLASTICIZERGLYCERIN DALAM PEMBUATAN BIOPLASTIK BERBAHAN DASAR EKSTRAK PROTEIN AMPAS TAHU Rindri Ruri Suryani; Abdul Hakim; Yusrianti Yusrianti; Shinfi Wazna Auvaria; Ika Mustika
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 7, No 2 (2021): SEPTEMBER 2021
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v7i2.11952

Abstract

Plastik sintetis merupakan plastik yang biasanya berbasis konvensional. Sumber bahan baku plastik sintetis merupakan energi yang tidak dapat diperbarui yaitu minyak bumi. Plastik sintetis memiliki sifat fisik yang fleksibel, ringan, kuat dan ekonomis. Plastik sintetis dapat menyebabkan permasalahan lingkungan yaitu sulitnya plastik sintetis yang terdegradasi oleh tanah. Sehingga dapat menurunkan kualitas tanah dan mikriorganisme. Upaya pencegahan permasalahan sampah plastik dapat dilakukan dengan pengembangan pembuatan plastik dari bahan polimer alami yang disebut bioplastik.  Plastik biodegradableumumnya terbuat dari bahan polisakarida dan dapat terbuat dari sumber protein, salah satunya limbah tahu. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah tahu yang diekstrak untuk diambil proteinnyasebagai bahan dasar pembuatan plastik biodegradable, serta untuk mengetahui sifat mekanik dan lama bioplastik protein ampas tahu terdegradasi oleh tanah. Pembuatan bioplastik membutuhakan bahan pemlastis dan bahan aditif untuk menghasilkan plastik yang fleksibel. Penelitian  ini menggunakan penambahan plasticizerglycerin dengan variasi 30%,40%,50% dan bahan pengisi 20%. Penambahan chitosan sebanyak 5 ml. Hasil penelitian pembuatan protein ampas tahu menunjukkan bahwa kadar protein ampas tahu yang dihasilkan dari tahap diekstraksi sebesar 29.72%. Hasil pengujian kuat tarik bioplasik dari protein ampa tahu menggunakan alat UTM (Universal Testing Machine) yangberkisar antara 1.04-2.12 Mpa yang telah memenuhi standar bioplastik menurut Japan Industrial Standard (JIS). Sedangkan hasil pengujian daya serap air menggunakan metode swelling memiliki nilai tertinggi pada glycerin 50% sebesar 196% dalam kurun waktu 30 menit. Sedangkan daya serap paling baik terdapat pada variasi glycerin 30% sebesar 49.7%. Bioplastik berbahan dasar protein ampas tahu dapat terdegrdasi dengan sempurna dalam kisaran waktu 7-14 hari.  Kata kunci: biodegradable plastik, biodegradasi, chitosan, glycerin, sifat mekanik.  Synthetic plastics are plastics that are usually conventional based. The source of synthetic plastic raw material is non-renewable energy, namely petroleum. Synthetic plastics have physical properties that are flexible, lightweight, strong and economical. Synthetic plastics can cause environmental problems, namely the difficulty of synthetic plastics which are degraded by soil. So that it can reduce soil quality and microorganisms. Efforts to prevent the problem of plastic waste can be done by developing the manufacture of plastics from natural polymer materials called bioplastics. Biodegradable plastics are generally made of polysaccharides and can be made from protein sources, one of which is tofu waste. This study aims to utilize the extracted tofu waste for protein as a basic material for making biodegradable plastics, as well as to determine the mechanical properties and length of time for the tofu pulp protein to be degraded by the soil. The manufacture of bioplastics requires plasticizers and additives to produce flexible plastics. This study used the addition of glycerol plasticizer with a variation of 30%, 40%, 50% and 20% filler. The addition of 5 ml of chitosan. The results of the research on making tofu pulp protein showed that the protein content of tofu pulp from the extraction process was 29.72%. Bioplastic tensile strength value from tofu pulp ranges from 1.04-2.12 MPa which has met the bioplastic standards according to the Japan Industrial Standard (JIS). The highest water absorption capacity of bioplastics from tofu pulp protein was found in the glycerol 50% variation of 196% within 30 minutes. Meanwhile, the lowest absorption rate was found in the 30% glycerol variation of 49.7%. Bioplastics from tofu pulp protein can completely decompose in 7-14 days. Keywords: chitosan, degradation, glycerol, mechanical properties, plastic biodegradable.
KAJIAN PENGELOLAAN LIMBAH BATERAI SEKALI PAKAI DARI KEGIATAN RUMAH TANGGA DI KOTA BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT Firman Hadi Santoso; Nico Halomoan
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 8, No 1 (2022): MARET 2022
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v8i1.13032

Abstract

Jenis sampah B3 rumah tangga yang sering ditemukan yaitu baterai sekali pakai. Masyarakat umumnya membuang limbah baterai bercampur dengan sampah domestik. Menurut Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 limbah baterai termasuk B3 karena di dalamnya mengandung logam berat, sehingga memerlukan pengelolaan khusus agar tidak mencemari lingkungan. Penelitian ini akan mengevaluasi pengelolaan limbah baterai sekali pakai dari kegiatan rumah tangga di Kota Bandung dan merencanakan sistem pengelolaan limbah baterai yang sesuai bagi rumah tangga. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Krejcie dan Morgan. Bentuk penelitian yang dilakukan yaitu membagikan kuesioner online kepada 121 keluarga di Kota Bandung dengan teknik simple random sampling. Hasil analisis menunjukkan sebesar 81% masyarakat Kota Bandung belum mengetahui cara membuang limbah baterai dengan benar. Sistem pengelolaan limbah baterai yang direncanakan, yaitu limbah baterai yang tidak dapat digunakan oleh masyarakat dapat dibawa ke tempat khusus yang ditetapkan oleh industri baterai. Di tempat tersebut masyarakat dapat mengembalikan baterai bekas dan mendapatkan baterai baru dengan harga yang lebih murah dari harga normal. Industri baterai akan mengambil baterai bekas di tempat tersebut untuk diolah kembali. Kata kunci: Baterai, B3, Pengelolaan, Rumah Tangga. The most common type of B3 household waste is primary batteries. People generally dispose of battery waste mixed with domestic waste. According to Government Regulation No. 22 of 2021 batteries are classified as B3 waste because they contain heavy metals, so it requires specific management so as not to contaminate the environment. This research will evaluate the management of primary battery waste from household activities in Bandung City and plan a battery waste management system for households. The research method used is the descriptive qualitative method. Determination of the number of samples using the formula Krejcie and Morgan. The form research carried out is distributing online questionnaires to 121 families in the city of Bandung with a simple random sampling technique. The results of the analysis show that 81% of the people in Bandung don't know how to properly dispose of battery waste. The planned battery waste management system, battery waste that cannot be used by the public can be carried to a place specified by the battery industry. In these places, people can return battery waste and get new batteries at a lower price than the normal price. The battery industry will take battery waste at the site to be reprocessed. Keywords: Battery, B3, Household, Managemen.