cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice)
ISSN : 20888139     EISSN : 24432946     DOI : -
Core Subject : Health,
JMPF is the first open access journal in Indonesia specialized in both research of pharmaceutical management and pharmacy practice. Articles submitted in JMPF are peer reviewed, we accept review articles and original research articles with no submission/publication fees. JMPF receives manuscripts in both English (preferably) and Indonesian Language (Bahasa Indonesia) with abstracts in bilingual, both Indonesian and English. JMPF is also open for various fields such as pharmaceutical management, pharmacoeconomics, pharmacoepidemiology, clinical pharmacy, community pharmacy, social pharmacy, pharmaceutical marketing, goverment policies related to pharmacy, and pharmaceutical care.
Arjuna Subject : -
Articles 487 Documents
EVALUATION ON QUALITY OF LIFE OF PATIENTS WITH LIVER CIRRHOSIS AT OUTPATIENT INSTALLATION OF Dr. SARDJITO HOSPITAL YOGYAKARTA Nirmala Manik; Djoko Wahyono; I Dewa Putu Pramantara
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 1, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.19

Abstract

Patients with liver cirrhosis has various disease symptom disturbances which have negative effects to their quality of life.This research is observational with cross sectional method. The data recording was done concurrently; it was conducted by giving Chronic Liver Disease Questionnaire (CLDQ) to the out patients with liver cirrhosis at Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta, who fulfilled the inclusion criteria. Independent variables in this research are age, gender, education level, disease duration, degrees of severity, and types of therapy. From 30 patients included in the inclusion criteria and had filled out the Chronic Liver Disease Questionnaire (CLDQ) in Bahasa Indonesia version, it was found out a significant difference on groups disease of severity of cirrhosis according to Child Pugh criteria, with mean score quality of life 0,029 (p < 0.05). The degrees of severity of cirrhosis disease based on Child Pugh’s criteria influence the quality of life. The severer the disease the fewer the quality of life score is. Other factors such as age, gender, education level, disease duration, and types of therapy, did not influence the quality of life.
SATISFACTION LEVEL ANALYSIS TOWARDS QUALITY SERVICE OF PHARMACY INSTALLATION IN SETJONEGORO HOSPITAL WONOSOBO Tiyas Putri Nughaheni; Achmad Purnomo
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 1, No 2
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.40

Abstract

In order to face globalization, hospital as an institution that specializes in health services should pay moreattention to aspects of satisfaction for service users or patients. The vision of this study is to know the quality ofservice, the gap between expected service quality of patients with perceived service quality, and to know prioritasimprovement servqual dimensions that must be done to increase customer satisfaction according to customerinterests.This research is descriptive case study research. Respondents in this study were the customer of IFRJ Setjonegoro Wonosobo hospitals, as many as 120 patients. Respondents consisted of 30 general patients, 30 Askes patients, 30Jamsostek patients and 30 Jamkesmas patients. Data were analyzed using weighted SERVQUAL model Cronin and Taylor, gap analysis and important performance analysis.The results of this study indicate that the quality of care in Pharmacy Departement Setjonegoro Wonosobohospitals already has satisfy the external customer, among in general patient services, Askes patients, Jamsostekpatients andJamkesmas patients. The biggest gap according to the General largest on assurance dimension, while according to the Askes and Jamsostek patient is the dimension of responsiveness, according to Jamkesmaspatients are at the tangible dimension. According to important-performance matrix in Quadrant I (priority)is the dimension of responsiveness (patient Askes), tangible dimensions (Jamsostek and Jamkesmas patients),Quadrant II (sustained performance) is a tangible dimension, responsiveness and assurance (General patients),tangible dimension , reliability and assurance (Askes patients), assurance and responsiveness dimensions (patientJamsostek), and the dimensions of responsiveness (patient Jamkesmas), Quadrant III (low priority) is the dimension of empathy (General patients and patients Askes), Quadrant IV (excessive service) is the dimension of reliability (General patients), dimensions of reliability and empathy (Jamsostek patients), and the dimensions reliability,assurance and empathy (Jamkesmas patients). Keywords: Quality of Service, Gap, Important-Performance Analysis.
PENGARUH PEMBERIAN HOME CARE OLEH APOTEKER PADA PASIEN DIABETES MELITUS Rokhman, Muhammad Rifqi; Darakay, Chlara Nikke; Raditya, Rakta
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 5, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.152

Abstract

Salah satu bentuk pelayanan komprehensif bagi pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 pada fasilitas kesehatan tingkat pertama adalah home care. Penelitian bertujuan melihat pengaruh pemberian home care oleh apoteker terhadap tingkat kepatuhan, kadar glukosa darah sewaktu (GDS), dan kualitas hidup pasien DM tipe 2.Penelitian termasuk kuasi eksperimental yang dilakukan di Puskesmas Srandakan, Bantul pada Maret hingga Juni 2015 dengan metode pretest-posttest design with control group. Sampel diperoleh dengan metode purposive sampling. Sebanyak 58 pasien DM tipe 2 dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan masing-masing sebanyak 29 pasien. Pemberian home care dilakukan dalam bentuk konseling di rumah pasien. Pengukuran kepatuhan menggunakan Morisky Modified Adherence Scale 8, kadar GDS didapat dari rekam medis pasien, dan kualitas hidup diukur dengan Diabetes Quality of Life Clinical Trial Questionnaire. Data diolah menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil menunjukkan bahwa pemberian home careoleh apoteker dapat meningkatkan kepatuhan, kualitas hidup total, dan menurunkan kadar GDS pasien kelompok perlakuan secara signifikan. Namun demikian,kenaikan kepatuhan, kualitas hidup total, dan penurunan kadar GDS pasien tersebut belum berbeda secara bermakna jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hanya perbaikan domain efek pengobatan dan frekuensi gejala dari kualitas hidup pasien yang berbeda signifikan jika dibandingkan dengan kelompok kontrol.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK UNTUK TERAPI INFEKSI SALURAN KEMIH PADA PASIEN SINDROM NEFROTIK PEDIATRI Liniati Geografi; Djoko Wahyono; Nanang Munif Yasin
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 4, No 1
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.249

Abstract

Infeksi merupakan komplikasi yang paling umum dari anak dengan sindrom nefrotik (SN) dan infeksi yang paling sering terjadi ialah Infeksi Saluran Kemih (ISK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan antibiotik dari segi pemilihan jenis, rute, kombinasi  danalih terapi antibiotik, mengetahui rasionalitas terapi ISK rawat inap berdasarkan kriteria tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien dan tepat dosis (4T), serta perbedaan luaran terapi dari penggunaan antibiotik untuk terapi ISK rawat inap pasien SN pediatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Penelitian dilakukan secara retrospektif selama bulan Juli 2013 pada sebanyak 16 pasien dengan 22 kasus ISK. Pengambilan data berdasarkan rekam medik pasien SN pediatri dengan komplikasi ISK yang rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2008 sampai dengan Desember 2012. Pengolahan data dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan adanya pemeriksaan ulang urinalisis dan mikroskopis sampel urin, hanya 16 dari 22 kasus (72%) yang dapat dievaluasi keberhasilan terapinya dan seluruhnya memiliki luaran klinis membaik. Penggunaan antibiotik yang sesuai panduan ditemukan sebesar 25% (4 kasus) sedangkan penggunaan antibiotika yang tidak sesuai ditemukan sebesar 75% (12 kasus). Kata kunci: antibiotik, infeksi saluran kemih, sindrom nefrotik, pediatri
ANALISIS PROSES PENGELOLAAN OBAT RSUD DI JAWA TIMUR DENGAN PENDEKATAN LEAN HOSPITAL Novianti Fatli Azizah; Wakhid Slamet Ciptono; Satibi Satibi
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 7, No 1
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.369

Abstract

Proses pelayanan yang efisien erat kaitannya dengan proses pengelolaan obat yang efisien. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi aktivitas serta menganalisis akar penyebab masalah dari waste kritis dengan menggunakan pendekatan lean hospital pada proses pengelolaan obat di sebuah Rumah Sakit Umum Daerah di Jawa Timur. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yaitu melalui observasi, wawancara dan penelusuran dokumen pada bulan November-Desember 2016 dan Januari 2017, untuk mendapatkan identifikasi aktivitas seleksi, pengadaan dan distribusi. Waste kritis diperoleh melalui kuesioner pembobotan waste dari penilaian seluruh petugas yang terlibat dalam proses, untuk dilakukan analisis lebih lanjut. Future state mapping dibuat dengan menghilangkan unsur waste dari proses pengelolaan obat. Hasil penelitian: Value stream mapping menunjukkan waste di setiap tahapan proses pengelolaan obat yaitu waste of defect, waste of waiting, waste of inventory, waste of transportation, waste of motion, waste of overprocessing, waste of overproduction, dan waste of human potential. Kesimpulan: Sebagian besar tahapan dalam proses pengelolaan obat memiliki value added activity kurang dari 50%. Analisis akar penyebab masalah dari waste kritis yaitu kesibukan dokter dalam pelayanan menyebabkan penundaan dalam pengisian formulir usulan dan tidak semua SMF memiliki sekretaris, perencanaan belum terfasilitasi oleh SIM, sistem yang memaksa input SPPH pada saat penyusunan PO e-purchasing, adanya perubahan harga obat yang mendadak, tidak adanya tenaga kasir di UPF, tidak ada pemisah resep di awal pelayanan, bentuk ruangan UPF 1 memanfaatkan fasilitas lama, CPO belum difasilitasi oleh SIM, mesin etiket hanya 1 unit dan belum optimal.
COMPARISON THE REAL COST WITH INA-CBG’S PACKAGE TARIFF AND ANALYSIS ON THE FACTORS INFLUENCING THE REAL COST FOR DIEBETES MELLITUS INPATIENTS USING JAMKESMAS IN RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA Ratih Pratiwi Sari; Fita Rahmawati; I Dewa Putu Pramantara
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 1
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.95

Abstract

The problem usually found in the Jamkesmas (Society Health Insurance) realization is the difference between the real cost and INA-CBGs package tariff for patients using Jamkesmas, especially in inpatient department. This study was to find out how much the margin between the real cost and the INA-CBG’s package tariff and the factors influence the real cost, and to know the suitability of drug indications in diabetes mellitus inpatients using Jamkesmas in RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. This study was analytical observation. The data were taken retrospectively from the Jamkesmas claim files and patients’ medical record. Subjects were patients with diabetes mellitus type 2.The research object included the claim files and the medical record of the diabetes mellitus patients using Jamkesmas in RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta during period of July 2010 – May 2012 with the diagnosis code INA-CBGs E-4-10-I, E-4-10-II, and E-4-10-III. The data were analyzed descriptively. Moreover, One sample test statistical analysis was conducted to find the difference between the real cost and INA-CBGs tariff and the ifference between hospital LOS and INA-CBGs package LOS. In addition,bivariate correlation test and regression linier test were used to study the relation among the factors that affect the real cost. The result of the study showed that the difference between the real costand INA-CBGs package tariff of the diabetes mellitus Jamkesmas patients with the severity level I was Rp 5,325,126 in 2 episodes of cares; severity level II was Rp -22,411 in 10 episodes of care, and severity level III was Rp -3,038,240 in 12 episodes of care. The factors that affect the real cost of treatment of patients with the severity level II were cost of clinical pathology examination, blood, and drug/medical cost, while in patient with severity level III werethe cost of visite, service in dialysis department, clinical pathology examination and drug/medical cost. From the analysis between the used drug and indication, it was found that 22 episodes of care was appropriate with the diagnosis and 2 episodes of care was not fit with the diagnosis.Keywords: Jamkesmas, INA-CBG’s, diabetes mellitus, cost components, indication of suitability
MODEL TEMAN APOTEKER: ALTERNATIF MODEL INTERVENSI APOTEKER BAGI PASIEN TUBERKULOSIS Nanang Munif Yasin; Djoko Wahyono; Bambang Sigit Riyanto; Ika Puspitasari
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.350

Abstract

Tingginya prevalensi tuberkulosis (TB) di Indonesia memerlukan keterlibatan apoteker dalam pelayanan pasien TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis pelayanan TB, mengembangkan model intervensi, dan mengembangkan tools dan rencana intervensi apoteker bagi pasien TB.   Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional yang terdiri dari tiga tahapan  yaitu focus grup discussion (FGD), pengembangan model intervensi, dan pengembangan tools dan rencana model intervensi apoteker. Instrumen yang digunakan adalah panduan FGD dan kuesioner pelayanan TB. FGD membahas pelayanan pada pasien TB dan dihadiri oleh apoteker dan programmer TB di puskesmas dan Rumah Sakit Khusus Paru Respira di Yogyakarta. Data FGD didukung oleh hasil kuesioner yang diisi sebelum FGD. Pengembangan  model intervensi terdiri dari tahap identifikasi kebutuhan pharmaceutical care, penentuan outcome, dan kompilasi akhir model intervensi apoteker. Pengembangan tools model intervensi apoteker berbasis berbagai literatur dan hasilnya dievaluasi oleh pakar.  Data penelitian dianalis secara deskriptif dan analisis kualitatif. Hasil FGD dan kuesioner menunjukkan bahwa keterlibatan apoteker masih terbatas dan hanya  4 (21%) yang pernah mendapatkan pelatihan TB. Semua petugas TB sudah melakukan edukasi namun materi yang diberikan sangat beragam dan belum terstruktur. Sebanyak 15 (78,9%) apoteker melakukan monitoring efek samping, 10 (52,6%) monitoring interaksi obat,  10 (52,6%) monitoring respon klinik,   16 (84,2 %)  monitoring kepatuhan pasien, 2 (10,5%) melakukan home care dan 18 (94,7%) telah berbagi peran dengan perawat. Melalui formulasi hasil studi pustaka, studi pendahuluan, dan FGD diperoleh rekomendasi bahwa peran apoteker dalam pelayanan TB dapat ditingkatkan melalui model intervensi yang mencakup 5 aspek penting yaitu training, education, monitoring, adherence, dan networking yang disingkat TEMAN Apoteker. Selanjutnya Model TEMAN Apoteker diterjemahkan dan dijabarkan dalam 6 bentuk tools yaitu modul, booklet, leaflet, poster, buku panduan pelaksanaan dan lembar dokumentasi pharmaceutical care. Model TEMAN Apoteker yang komprehensif dapat menjadi alternatif model intervensi dalam meningkatkan peran apoteker pada pelayanan pasien TB.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH Sefi Megawati; Fita Rahmawati; Djoko Wahyono
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 5, No 2
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.138

Abstract

Infeksi luka operasi (ILO) merupakan salah satu infeksi nosokomial yang sering terjadi. Penggunaan antibiotik profilaksis di rumah sakit merupakan pemberian antibiotik yang dilakukan sebagai upaya preventif untuk mencegah terjadinya ILO. Penelitian bertujuan untuk mengetahui besar angka kejadian ILO, persentase penggunaan antibiotik profilaksis yang rasional (kategori 0), jenis ketidak rasionalan penggunaan antibiotik profilaksis (kategori I-V) dan hubungan antara jenis ketidakrasionalan penggunaan antibiotik profilaksis dengan kejadian ILO. Penelitian merupakan penelitian observasional mengunakan metode cross sectional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada bulan November 2014 sampai Februari 2015 di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Analisa dan evaluasi data berupa analisis deskriptif untuk mengetahui jumlah ILO serta melihat rasionalitas penggunaan antibiotik berdasarkan metode Van der Meer dan Gyssens serta analisa bivariat menggunakan metode Chi-square untuk mengetahui hubungan antara jenis ketidakrasionalan penggunaan antibiotik profilaksis dengan kejadian ILO. Hasil penelitian menunjukan bahwa besarnya angka kejadian ILO sebanyak 7 pasien (4,0%) dari 177 pasien. Penggunaan antibiotik yang rasional 0% dan jenis ketidakrasionalan penggunaan antibiotik menurut kategori V (indikasi) sebanyak 4,0%, kategori IVA (efektifitas) sebanyak 98,2%, kategori IVC (harga) sebanyak 5,9%, kategori IVD (spektrum) sebanyak 98,2%, kategori IIIA (durasi terlalu lama) sebanyak 99,4%, kategori IIA (dosis) sebanyak 0,6%, dan kategori I (waktu pemberian) sebanyak 27,1%. Tidak ada hubungan antara jenis ketidakrasionalan penggunaan antibiotik profilaksis dengan infeksi luka operasi.
Validity and Reliability Test of Indonesian Version B-IPQ to CRF Outpatients in RSUD Soedarso Pontianak Nurul Hadisa; Ressi Susanti; Robiyanto Robiyanto
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 7, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.33340

Abstract

Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) Instrument is a questionnaire to identify and assess the patient's perception of the disease, especially patients with chronic diseases. Chronic renal failure (CRF) is one of incurable diseases with the expensive cost of care and treatment. B-IPQ instrument has never been used yet in Indonesia to assess patients’ perceptions of chronic renal failure which have experience haemodialysis especially in Pontianak, West Kalimantan. The aim of this study was to determine the validity and reliability of B-IPQ instrument in Indonesian version on CRF patients at haemodialysis room RSUD Dokter Soedarso Pontianak. This study was a non-experimental study using cross-sectional method and prospective data collection. The sample is selected using non-probability sampling method rather purposive sampling technique, 30 CRF patients who had haemodialysis in November-December 2016 were taken as respondent. The validity test was conducted using Pearson correlation (correlation values ≥0.3) and reliability test using internal consistency (Cronbach alpha coefficient ≥0.7) technique. Validity test results showed a correlation value of each question was >0.3 (p: 0.05) and reliability test results showed Cronbach alpha coefficient was 0.755>0.7 (p: 0.05). The conclusion of this study was the B-IPQ instrument in Indonesian version is valid and reliable to measure the chronic renal failure patients’perception at haemodialysis room RSUD Dokter Soedarso Pontianak. Hence B-IPQ Indonesian version can be used directly to measure the perception of the disease in patients with CRF in order to help improve the quality of life of patients.
STRATEGI PENGEMBANGAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT Sumarti binti Amrin; Oetari Oetari; Satibi Satibi
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.188

Abstract

Seiring dengan bertambah tingginya tuntutan dan harapan pelanggan terhadap pelayanan kesehatan, maka perlu adanyapeningkatan pelayanan yang berkualitas oleh pihak penyedia jasa pelayanan kesehatan. Ini menunjukkan perlunya strategi rumahsakit yang mampu beradaptasi atau mengendalikan faktor tersebut yang terus berubah, baik faktor internal dan faktor eksternal.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui posisi Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Sayang Rakyat Makassar, terhadaplingkungan internal dan eksternal dengan analisis SWOT serta mengidentifikasi strategis alternatif yang diterapkan. Penelitianmenggunakan rancangan deskriptif kualitatif mengunakan kuesioner. Data kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman Instalasi Farmasi diperoleh dengan observasi, dan in depth interview. Dari analisis SWOT diperoleh matriks SWOT berdasarkan External Factor Analysis Summary (EFAS) dan Internal Factor Analysis Summary (IFAS). Hasil penelitian menunjukkan Instalasi Farmasi RSU Sayang Rakyat Makassar berada pada kuadran dua dengan strategi diversifikasi dalam usaha menerapkan strategi pengembangannya. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa strategi yang direncanakan adalah melakukan peningkatkan anggaran IFRS, penerapan sistem manajemen satu pintu, pengembangan sumber daya manusia baik kuantitas dan kualitas, fasilitas sebagai pendukung dalam kegiatan pelayanan farmasi, serta perlunya dilakukan studi banding dengan instalasi farmasi rumah sakit lain yang lebih unggul.Kata kunci: strategi manajemen, pengembangan instalasi farmasi, SWOT