cover
Contact Name
Arsyl Elensyah Rhema Machawan
Contact Email
arsyl.machawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
arsyl@umy.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Japanese Language Education and Linguistics
ISSN : 25975277     EISSN : 26150840     DOI : -
Core Subject : Education,
Journal of Japanese Language Education and Linguistics (JJEL) is an online journal, open access peer review journal, published twice a year every February and August. This journal is for all contributors who are concerned with research related to the study of Japanese language education and Japanese Linguistics.
Arjuna Subject : -
Articles 134 Documents
Analisis Penggunaan Politeness Strategi Irai Hyougen (Shuuketsubu) Berdasarkan Jouge Kankei oleh Mahasiswa Bahasa Jepang di Daerah Istimewa Yogyakarta Rosi Rosiah; Hamdan Nikmatulloh
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 4, No 1 (2020): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.4136

Abstract

Request Expression or Irai hyougen is an expression widely used in daily life. In its use, Irai hyougen consists of three parts, namely Senkoubu (Prolog), Iraibu (Statement of Request), after the request has a disclose, it will usually continue to make a promise and the expression process ends. Still, the researchers used a reminder to confirm the previous request or the so-called Shuuketsubu. Irai Hyougen Shuuketsubu usually consists of reminiscent expressions and confirmation expressions (Xu, 2007). Irai hyougen is an expression that requires an appropriate communication strategy, so it is essential to know the politeness strategies used in Irai Hyougen Shuuketsubu, especially the reminding expression. The politeness strategy used will not be separated from the jouge kankei relationship. This study aims to find out what expressions used by seniors to juniors, between peers, and juniors to seniors in the college environment and also politeness used. The research data came from Japanese language learners in Yogyakarta Special Region. The method used was quantitative, using semantic formulas to analyze the expression strategies used. The results of this study indicate that senior speakers mostly use the main component in the form of a ban (Kinshi Hyougen), the auxiliary component, and discourse regulator. Colleague speakers used the main component in the form of a prohibition expression (Kinshi Hyougen) and the auxiliary component. In contrast, the junior used the main component and helper component. The politeness used by the three situations was a bald-on record strategy (without strategy) because the speaker and speech partner already know each other well.
Metode Pembelajaran Kosakata bagi Pembelajar Bahasa Jepang: Dari Grammar-Translation ke Contextual Vocabulary Acquisition Mery Kharismawati; Devita Widyaningtyas Yogyanti; Ummul Hasanah
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.v5i1.10534

Abstract

Penguasaan kosa kata merupakan hal yang penting dalam pembelajaran bahasa. Berdasarkan observasi dan wawancara, metode pembelajaran kosakata siswa angkatan 2018 di program studi D3 Bahasa Jepang, Sekolah Vokasi, Unversitas Gadjah Mada, menggunakan metode grammar-translation. Siswa juga diperkenalkan pada pemerolehan kosa kata dalam konteks (Contextual Vocabulary Acquisition/CVA). Untuk membandingkan efektivitas metode-metode tersebut, dilakukan eksperimen yang melibatkan 18 siswa. Siswa dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok 1 menggunakan metode grammar-translation konvensional, dan kelompok 2 menggunakan metode yang sama, namun diberi intervensi berupa pembelajaran kosa kata visual menggunakan aplikasi Kahoot!. Siswa diminta menebak kosa kata target dalam bentuk soal kata-per kata di tahap 1, dan menerjemahkan kalimat yang mengandung kosa kata target.  Hasil analisis menunjukkan kelompok pengguna Kahoot! menunjukkan hasil lebih baik. Uniknya, pada kedua kelompok, terdapat siswa yang menunjukkan penerapan CVA. Siswa berhasil menebak kosa kata target dalam tes tahap 2, setelah memahami hal-hal yang berkaitan dengan kosa kata tersebut berdasarkan prior knowledge mereka. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pembelajaran kosa-kata sebaiknya mengkombinasikan metode-metode yang sudah ada, agar siswa mendapat petunjuk lengkap mulai dari tataran morfologis hingga visual sehingga mereka dapat menginternalisasi suatu kosa kata dengan sempurna.
Variasi Ungkapan Permohonan oleh Pembelajar Bahasa Jepang Thamita Islami Indraswari; Wistri Meisa
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 2, No 1 (2018): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.2113

Abstract

ABSTRACTThis article examine language variation of irai hyogen used by the Japanese language learners of Japanese Language Education Department in Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. In this study, language variations are focused in what expressions are being used as irai hyogen and how are the flow of expressions in two different settings, which is 1) irai hyogen being used by student to teacher, 2) irai hyogen being used by junior student (kohai) to senior student (senpai). The study employs qualitative-descriptive method with open-ended questionnaire as instrument, distributed to 21 people. The data are analyzed by using open coding model of Strauss and Corbin. The findings of the study showed that for irai hyogen expressed to sensei, there are twelve variations of irai hyogen and ten ways of expressing irai hyogen used by learners. Meanwhile for irai hyogen expressed to senpai it is found that learners use eight variations of irai hyogen and ten ways of expressing irai hyogen 
Tugas Menyalin Teks Dokkai untuk Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa dalam Membaca dan Memahami Teks Berbahasa Jepang Yudi Suryadi; Diana Puspitasari
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 3, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.3229

Abstract

This study aims to describe the results of the implementation of the assignment model that is rewriting the dokkai text on the Dokkai course in the Japanese Literature Study Program of FIB UnSoed to improve students' Japanese language skills. This study used the action research method with the assignment of rewriting the dokkai text as its treatment. The research subjects were 107 students of the Japanese Literature Study Program of FIB UnSoed consisting of 4th-semester student class 2017 and 2nd-semester student class of 2018. The data collection used in two ways. They were giving tests and questionnaires to students. The data collected were then analyzed quantitatively and qualitatively to produce a conclusion from this study.            Based on the results of data analysis, the results of the test results for the 4th-semester student class 2017 got an average value of 69, the highest score of 96, and the lowest score of 40, while the 2nd-semester student class of 2018 got an average score of 62, the highest score of 94, and the lowest value of 55. Furthermore, from the results of the questionnaire filled out by students, 92.6% of students agreed with the assignment model because of the assignment of rewriting the dokkai text. The students could more fluently read and understand the contents of the text studied in class. At the same time, it trained them to get used to writing Japanese characters, whether it was hiragana, katakana, or kanji.
Analisis Strategi Tindak Tutur Nasihat (Jogen) dalam Jenis Film Live Action Poppy Rahayu; Nur Saadah Fitri Asih; Rosita Rinjani
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 4, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.4240

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk tindak tutur nasihat (jogen) dan strategi tindak tutur nasihat (jogen). Hal ini dilatarbelakangi oleh fenomena bahwa memberikan nasihat (jogen) cenderung menyebabkan lawan bicara merasa tersinggung, dan nasihat tersebut dapat dianggap sebagai kritik negatif, walaupun bertujuan untuk membantu lawan bicara dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Penelitian menggunakan referensi teori dari Kumatoridani dan Murakami (dalam Takahashi, 2017: 14) tentang strategi penyampaian nasihat (jogen). Teori ini menyoroti bahwa menawarkan nasihat harus didasarkan pada konteks situasi yang dapat menghibur lawan bicara. Strategi penyampaian nasihat yang diungkapkan dalam penelitian ini yaitu: (a) X の提示 merupakan tindakan yang dilakukan oleh pembicara yang seharusnya dilakukan oleh lawan bicaranya, (b) S1 の提示, mengacu pada situasi saat ini atau yang akan datang yang tidak diinginkan oleh lawan bicaranya, (c) S2 の提示, pembicara berbicara tentang situasi yang lebih diinginkan oleh lawan bicaranya, dan (d) ) X + S1 の提示, (e) X + S2 の提示, (f) S1 +S2 の提示, and (g) X + S1 + S2 の提示 yang merupakan gabungan dari strategi (a) dan (c). Penelitian ini menggunakan metode referensi dan teknik membuat catatan untuk mengumpulkan data dari film live action dan metode identitas referensial yang digunakan untuk analisis data. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa bentuk tindak tutur nasihat (jogen) dan pemilihan strategi tindak tutur nasihat (jogen) dipengaruhi oleh jenis hubungan antara partisipan dengan masalah yang dialami oleh lawan bicara. Bentuk tindak tutur nasihat (jogen) meliputi saran, nasihat, pendapat, perintah, larangan, kewajiban, praduga, dan pemberian informasi. Strategi yang digunakan adalah X の提示, S1 の提示, S2 の提示, X + S1 の提示, X + S2 の提示, X + S1 +S2 の提示 dan ada kombinasi antara dua bentuk strategi yaitu X + S1 の提示 kemudian dilanjutkan dengan strategi X + S1 + S2 の提示.
Kesalahan Penggunaan ~Nakerebanaranai dan ~Bekida Azizia Freda
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 1, No 1 (2017): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.1107

Abstract

Penelitian ini membahas tentang kesalahan penggunaan ~nakerebanaranai dan ~bekida para pembelajar bahasa  Jepang semester VIII Universitas Negeri Surabaya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kemiripan makna yang dimiliki keduanya, yaitu menyatakan suatu keharusan yang memungkinkan pemakaiannya tidak sesuai dengan konteks kalimat. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk kesalahan penggunaan verba bantu~nakerebanaranai dan ~bekida, mengetahui penyebab kesalahannya, dan mengetahui metode mengatasi kesalahan.            Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.  Penelitian ini menggunakan metode tersebut karena terdapat perhitungan angka-angka untuk mengukur instrument tes yang akan dijadikan sebagai data dengan metode kuantitatif dan dianalisis secara deskriptif dengan metode kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengambil data dalam penelitian ini adalah tes tertulis, angket, dan wawancara.            Hasil penelitian menyatakan bahwa pembelajar bahasa Jepang semester VIII Universitas Negeri Surabaya dalam menggunakan verba bantu ~nakerebanaranai dan ~bekida masih ada yang belum bisa membedakan penggunaan kedua verba tersebut. Hal ini dapat diketahui dengan kesalahan dalam makna dan gramatikal. Kesalahan yang paling banyak dilakukan oleh pembelajar pada verba bantu ~nakerebanaranai  adalah ~nakerebanaranai yang menyatakan bahwa subjek tidak dapat mengontrol keadaan sesuai dengan keinginan diri sendiri. Sedangkan pada verba bantu ~bekida, kesalahan terbanyak terdapat dalam ~bekida dengan pola kalimat ~bekidewanai.            Penyebab kesalahan yang dilakukan oleh pembelajar disebabkan oleh ketidaktahuan akan pembatasan kaidah, salah menghipotesiskan konsep, penerapan kaidah yang tidak sempurna, dan penyamarataan berlebihan. Hal ini dapat diatasi dengan pengajar hendaknya menjelaskan secara detail dengan mencari dan membaca berbagai sumber ajar sebagai acuan untuk mengajar. Pengajar perlu memberikan materi pengajaran dengan metode yang lebih menarik, pengajar seharusnya mengajarkan tentang pembentukan struktur kedua verba bantu secara jelas dan terperinci dengan berbagai contoh kalimat. 
Studi Komparatif Buku Ajar “Marugoto Bahasa dan Kebudayaan Jepang A1” Lisda Nurjaleka
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 3, No 1 (2019): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.3125

Abstract

This study examines teaching material on basic level especially textboo that focusing on communication in Japanese education. This study aims to compare two teaching materials that focus on communication competency. This research is a comparative qualitative study. The main data are the textbook of “Marugoto A1” and “J Bridge for Beginner Vol. 1”. These two textbooks are for students who learn L2 for a nonnative speaker. These two books were analysed from the point of view of teaching material analysis. We analysed the flow of learning contents and the composition of the textbook through teaching material analysis by Yoshioka (2016) theory. The results show that two subject textbooks used the same topic syllabus approach at the same basic level. This syllabus is a syllabus mainly suitable for learners in basic to intermediate levels. However, since both the textbook`s main purpose is on actual communication, it is possible that they use topic syllabus even at the first stage of beginner level. 
Analisis Kontrastif Kalau dalam Bahasa Indonesia dengan To, Ba, Tara dalam Bahasa Jepang Thamita Indraswari
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 1, No 1 (2017): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.1103

Abstract

Pada Bahasa Jepang maupun Bahasa Indonesia, dijumpai jenis kalimat luas bertingkat yang menyatakan syarat. Pada Bahasa Indonesia, jenis kalimat ini ditandai oleh penggunaan konjungsi kalau dalam kalimat. Sedangkan pada Bahasa Jepang, kalimat yang menyatakan syarat diwujudkan dengan penggunaan partikel to, ba, dan tara. Artikel ini berisi tentang deskripsi persamaan dan perbedaan to, ba, tara dalam Bahasa Jepang dan kalau dalam Bahasa Indonesia. Fokus pembahasan persamaan dan perbedaan diarahkan pada segi makna, kategori predikat, dan modus kalimat. Kalau dalam Bahasa Indonesia memiliki tujuh kategori makna. To memiliki tujuh kategori makna, ba empat kategori makna, dan tara tiga kategori makna.   Sehingga, kalau dalam bahasa Indonesia menjadi divergen ketika diterjemahkan dalam bahasa Jepang. Ada lima makna dari kalau yang bisa dipadankan langsung dengan to, sedangkan dua makna lain lebih tepat dipadankan dengan ba atau tara. Untuk memilih padanan yang tepat, hal yang perlu diperhatikan adalah makna serta modus kalimat dari bahasa Indonesia dan bahasa Jepang; khususnya makna serta modus yang menunjukkan gejala shinki, ketsujo dan bunretsu. Dari segi kategori predikat dalam kalimat, baik bahasa Jepang maupun bahasa Indonesia menunjukkan karakteristik yang berpadanan. Tetapi, dari segi modus kalimat,  khusus untuk ba, saat modus menyatakan imperatif, permohonan, saran, ajakan atau kalimat yang menyatakan maksud predikat tidak bisa berupa verba; kecuali jika subjek dalam klausa I dan klausa II berbeda. Juga, diperbolehkan jika predikat dalam klausa I menjelaskan kondisi dari topik klausa. 
Peer Feedback untuk Mengembangkan Kegiatan Menulis Bahasa Jepang di Kelas Menulis Bahasa Jepang (Sakubun) Linna Meilia Rasiban; Ahmad Dahidi; Susi Widianti
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 2, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.2219

Abstract

The purpose of this study was to develop the quality of writing in middle-level Japanese language. From the results of the previousl questionnaires distributed, 80% of students found it difficult to develop story ideas into complete writing. The difficulty factor is influenced by the lack of time to develop ideas, beside that internal factors, namely mastery of vocabulary, mastery of sentence pattern structure. This study lasted for one semester at an university in Bandung, West Java, Indonesia with 20 students enrolled in  writing classes at  semesters 4. The students at the lower proficiency level reviewed peer texts. To examine gains in writing quality, a comparative analysis was conducted on writing samples collected at the beginning and the end of the semester. A questionnaire survey was also conducted to investigate the students’ perceptions t of assignments. The findings in this study that the students’ results needed to be feedback and evaluation to improve the ability to write Japanese short essays. Therefore, for further research  will need to apply peer feedback from peer tutors and evaluation from the teacher itself in order to improve writing skills  in writing quality.
Eksplorasi Fungsi Tindak Tutur Komisif sebagai Konsep Bushido pada Tokoh Samurai dalam Film Rurouni Kenshin Dian Eka Safitri; Hamzon Situmorang; Namsyah Hot Hasibuan
Journal of Japanese Language Education and Linguistics Vol 4, No 1 (2020): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jjlel.4135

Abstract

This research aims to know the functions of commissive speech acts spoken by samurai characters in Rurouni Kenshin film and its relation to the concept of bushido. In collecting data, the researchers used the refer method by download technique, continued by note technique. In analyzing data, noted speech acts classified by its functions using the padan method by the determinant of the speech partner, then adapted to the concept of bushido. Based on the result, there were 17 commissive illocutionary speech acts of samurai characters in the Rurouni Kenshin film. The functions found were promising (4 speeches), threatening (8 speeches), refusing (1 speech), offering (3 speeches), guaranteeing (1 speech). Based on the bushido concept, 1 speech of honor value (meiyo), 2 speeches of virtue value (jin), 1 speech of sincerity value (gi), 3 speeches of courage value (yuu), 2 speeches of loyalty value (chuugi), 1 speech of honesty value (makoto), 0 speech of politeness value, and 7 speeches which not following the concept of bushido. In 1868-1878, the bushido concept still used, although some speech acts were not developing the bushido concept caused by the coming of a new era.

Page 10 of 14 | Total Record : 134