cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Ranah: Journal of Language Studies is published by the National Agency for Language Development and Cultivation. It is a research journal which publishes various research reports, literature studies and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics and other scientific fields related to language studies. It is published periodically twice a year in June and December. Each article published in Ranah will undergo assessment process by peer reviewers.
Arjuna Subject : -
Articles 312 Documents
MULTIMODALITAS DALAM KOMIK STRIP “LIBURAN TETAP DI RUMAH” PADA INSTAGRAM @KEMENKES_RI Hidayatul Mahmudah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4179

Abstract

AbstractThis study aims to discuss multimodality in the comic strip “Liburan Tetap di Rumah” on instagram @kemenkes_ri. Multimodality analysis focuses on the ideational meaning contained in the verbal and visual modas, as well as the relationship between visual and verbal modas in constructing meaning or messages. Multimodality analysis uses transitivity theory for verbal moda, and visual grammar for visual moda. This study uses a qualitative approach. The results showed that the verbal moda found three processes, namely material, existential, and relational. Process the highest amount of material. Visual moda analysis shows the ideational process that appears, namely the narrative representation consisting of verbal, action, and mental processes. Multimodality analysis in the comic strip “Liburan Tetap di Rumah” on instagram @kemenkes_ri shows that verbal text expands the meaning conveyed by the image. The main message conveyed through the comic strip “Liburan Tetap di Rumah” on the instagram upload @kemenkes_ri relates to the role of the family as the first socialization place in instilling a habit to comply with health protocols during the Covid-19 pandemic through their respective roles as family members.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membahas multimodalitas dalam komik strip “Liburan Tetap di Rumah” pada instagram @kemenkes_ri. Analisis multimodalitas berfokus pada makna ideasional yang terdapat pada moda verbal dan moda visual, serta keterkaitan moda visual dan verbal dalam mengkonstruksi makna atau pesan. Analisis multimodalitas menggunakan teori transitivitas untuk moda verbal, dan visual grammar untuk moda visual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada moda verbal ditemukan tiga proses yaitu material, eksistensial, dan relasional. Proses material dengan jumlah tertinggi. Analisis moda visual menunjukkan proses ideasional yang muncul yaitu representasi naratif yang terdiri dari proses verbal, aksi, dan mental. Analisis multimodalitas dalam komik strip “Liburan Tetap di Rumah” pada instagram @kemenkes_ri menunjukkan bahwa teks verbal memperluas makna yang disampaikan gambar. Pesan utama yang disampaikan melalui komik strip “Liburan Tetap di Rumah” pada unggahan instagram @kemenkes_ri berkaitan dengan peran keluarga sebagai tempat sosialisasi pertama dalam menanamkan sebuah kebiasaan untuk mematuhi protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19 melalui peran masing-masing sebagai anggota keluarga.
Makna Toponim di Tangerang sebagai Representasi Keberadaan Etnis Cina Benteng: Sebuah Kajian Linguistik Historis Komparatif Sonya Ayu Kumala; Multamia RMT Lauder
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4048

Abstract

Cina Benteng in Tangerang called as Cina Benteng, the native of Tangerang. The name Benteng is closely related to the early history of Chinese migration. Cina Benteng in Tangerang, namely living in forts and growing crops as farmers or fishermen. Brown skin, slanted eyes, and keep an ash table, is a glimpse of the portrait of Cina Benteng. Regarding to that phenomena mentioned above, in this study the author examines the meaning of toponyms in Tangerang to be associated with the existence Cina Benteng. This study uses a comparative historical linguistic approach that uses names as linguistic units to examine meaning, and its relation to historical context. The theory used in this study is etymological theory, semiotic’s theory meaning by Barthes and, and Nystorm (2016). Toponyms or place names are one of the branches of onomastics (Rais et al, 2008). Onomastics examines self names and place names. The name is present not only to fulfill the function of identification, but the presence of the name also reveals the existing socio-cultural aspects. A name is constructed, interpreted, used continuously or even later replaced and abandoned. The study of place names or toponyms is a form of comparative historical linguistic study that utilizes branches of linguistic studies such as semantics and sociolinguistics as well as other fields outside of intersecting linguistics (Lauder, 2015). The data for this paper were collected from written documentation or maps. In addition, the author also uses ethnographic methods to be able to see the relationship of a place name with the surrounding community. The result of the study shows the meaning of toponym in Tangerang are strongly related to the existence of Cina Benteng from the old times until modern times.  AbstrakEtnis Tionghoa di Tangerang yang disebut sebagai Cina Benteng, yaitu pribuminya Tangerang. Sebutan Benteng terkait erat dengan sejarah awal migrasi Cina Benteng di Tangerang yaitu mendiami benteng-benteng dan bercocok tanam sebagai petani atau nelayan. Berkulit coklat, bermata sipit, dan memelihara meja abu, merupakan sekilas potret Cina Benteng. Sehubungan dengan fenomena tersebut di atas, pada penelitian ini penulis bertujuan menelaah makna toponim di Tangerang untuk dikaitkan dengan keberadaan atau eksistensi dari etnis Cina Benteng. Penelitian ini menggunakan ancangan linguistik historis komparatif yang memanfaatkan nama sebagai satuan linguistik yang akan ditelisik makna, dan kaitannya dengan aspek historis. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori makna etimologi, teori makna semiotik Barthes dan, dan Nystorm (2016). Toponim atau nama tempat adalah salah satu cabang kajian dari onomastika (Rais et al, 2008). Onomastika mengkaji nama diri dan nama tempat. Nama hadir tidak semata untuk memenuhi fungsi identifikasi akan tetapi kehadiran nama juga mengungkap aspek sosial budaya yang ada. Sebuah nama dikonstruksikan, dimaknai, digunakan secara terus menerus atau bahkan kemudian diganti dan ditinggalkan. Kajian nama tempat atau toponim merupakan bentuk kajian linguistik historis komparatif yang memanfaatkan cabang kajian linguistik seperti semantik dan sosiolinguistik serta bidang lain diluar linguistik yang bersinggungan (Lauder, 2015). Data untuk tulisan ini dikumpulkan dari dokumentasi tertulis atau peta. Selain itu penulis juga memanfaatkan metode etnografi untuk dapat melihat kaitan sebuah nama tempat dengan masyarakat sekitar. Hasil penelitian ini menunjukan makna toponim di Tangerang, terkait erat dengan keberadaan Cina Benteng baik di masa lampau hingga dewasa ini.
Peran Orang Tua, Teman, dan Media Sosial dalam Sikap Pemertahanan Bahasa Daerah Kris Handini
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4366

Abstract

Local languages play an important role as local wisdom, and all generations are expected to have the role in maintaining their local language. Therefore, this research aims to analyze the level of the role of parents, friends, and social media in local language, analyze their attitude toward their local language maintenance, and analyze the influencing role of parents, friends, and social media towards IPB University students’ attitude on the local language maintenance. The method used in this study was quantitative descriptive. The participants were 98 respondents from IPB University (PPKU IPB students). Data was collected using a questionnaire, observation, and interviews. Quantitative data was processed by multivariate statistics to analyze the influencing role of parents, friends, and social media towards IPB University students’ attitude on the local language maintenance. The results of this study revealed that respondents had higher cognitive knowledge towards local languages. This aspect was the same as other aspects like affective and conative component. This indicated that respondents had good awareness and behavior towards local languages. The role of parents had a positive and significant influence towards the students’ attitude of local language maintenance. The P-value under 5% indicates that students have a good attitude towards local language maintenance, and the role of parents is a factor to be considered.AbstrakBahasa daerah memiliki peran sebagai penjaga kearifan lokal dan diharapkan semua generasi berperan untuk mempertahankan bahasa daerah. Untuk itu, penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat peran orang tua, teman, dan media sosial dalam pemakaian bahasa daerah; menganalisis sikap pemertahanan bahasa daerah; menganalisis pengaruh peran orang tua, teman, dan media sosial terhadap sikap pemertahanan bahasa daerah mahasiswa PPKU IPB. Jenis penelitian ini deskriptif kuantitatif. Responden dalam penelitian ini berjumlah 98 mahasiswa PPKU IPB yang diperoleh dengan teknik random. Data diperoleh melalui observasi, kuesioner, dan wawancara. Data kuantitatif diolah dengan statistik multivariat untuk menganalisis pengaruh tingkat peran orang tua, teman, dan media sosial terhadap sikap pemertahanan bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki pengetahuan (kognitif) yang sangat baik tentang bahasa daerah. Pengetahuan ini ternyata selaras dengan komponen afektif dan konatif yang menunjukkan bahwa responden memiliki kesadaran dan perilaku berbahasa yang baik. Peran orang tua berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap pemertahanan bahasa daerah dengan nilai koefisien positif, P. value di bawah 5%. Namun, tidak diikuti oleh peran teman dan media sosial. Dengan demikian, agar mahasiswa memiliki sikap pemertahanan bahasa daerah, faktor yang harus diperhatikan adalah peran orang tua.
Kejahatan Bahasa di Wilayah Hukum Papua Barat: Kajian Linguistik Forensik Hugo Warami
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.2699

Abstract

The problem of language crime has recently become a serious problem that is being faced by linguists and law enforcement officials. This language crime problem includes: interdisciplinary aspects between the worlds of language, law, and crime. The current facts prove that in analyzing the Investigation Report (BAP) regarding the investigation of a legal case in the legal territory of West Papua, it was found that the results of the investigation and investigation required a linguist. For this reason, this study aims to describe the branch of forensic linguistics that is present to bridge language facts and legal facts as one of the supporting aspects in providing proof of a case in court. This study uses two approaches, namely (1) a theoretical approach and (2) a methodological approach. The theoretical approach is an exploration of Forensic Linguistic theory, while the methodological approach is a descriptive approach with an explanatory dimension. This study uses forensic linguistic theory as the main umbrella in exploring language facts that contain elements/meanings of language crimes. This study is explored from the perspective of forensic linguistics by referring to the phenomenon of the results of investigations and case investigations in the jurisdiction of West Papua. The objects in this study consist of three cases, namely (1) Defamation, (2) Humiliation, and (3) Fraud. The results of the analysis illustrate that forensic linguistics becomes a strong tool of evidence in decisions that have legal implications by considering linguistic features and their suitability with legal facts in disentangling types of crimes in the text and context as well as interactions between two or more parties in language crimes. AbstrakMasalah kejahatan bahasa akhir-akhir ini menjadi masalah serius yang sedang dihadapi oleh ahli bahasa dan aparat penegak hukum. Masalah kejahatan bahasa ini mencakup: aspek interdisipliner antara dunia bahasa, hukum, dan kejahatan. Fakta saat ini membuktikan bahwa dalam menganalisis Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tentang investigasi atas sebuah kasus hukum di wilayah hukum Papua Barat, dijumpai bahwa hasil penyidikan maupun penyelidikan memerlukan ahli bahasa. Untuk itu, kajian ini bertujuan mendeskripsikan cabang linguistik forensik yang hadir menjembatani fakta bahasa dan fakta hukum sebagai salah satu aspek pendukung dalam memberikan pembuktian sebuah perkara di pengadilan. Kajian ini menggunakan dua pendekatan, yakni (1) pendekatan teoretis dan (2) pendekatan metodologis. Pendekatan teoretis adalah eksplorasi teori Linguistik Forensik, sedangkan pendekatan metodologi adalah pendekatan deskriptif dengan dimensi eksplanatif. Kajian ini menggunakan teori linguistik forensik sebagai payung utama dalam mengeksplorasi fakta-fakta bahasa yang mengandung unsur/makna kejahatan bahasa. Kajian ini dieksplorasi melalui perspektif linguistik forensik dengan mengacu pada fenomena hasil penyidikan dan penyelidikan kasus di wilayah hukum Papua Barat. Objek dalam kajian ini terdiri atas tiga kasus, yakni (1) Pencemaran Nama Baik, (2) Penghinaan, dan (3) Penipuan. Hasil analisis menggambarkan bahwa linguistik forensik menjadi alat bukti kuat dalam keputusan-keputusan yang berdampak hukum dengan pertimbangan fitur linguistik dan kesesuaiannya dengan fakta hukum dalam mengurai jenis kejahatan pada teks dan konteks serta interaksi antara dua pihak atau lebih dalam tindak kejahatan bahasa.
Bentuk dan Makna Nama-Nama Dusun di Kecamatan Nelle Kabupaten Sikka Yosephus Dominikus Fernandez
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4604

Abstract

This study aims to describe the form, categorization, and meaning of the names of hamlets in the Nelle Subdistrict. The data in this study are the names of hamlets in Nelle Subdistrict, Sikka Regency. They were collected with the method of listening, recording and note-taking. The data is analyzed by using fixed comparison methods. The analysis of the data was presented with informal methods. The results of this study are as follows. The forms of the names of the hamlets consist of monomorphism and polymorphism. The names of the hamlets that include monomorphic are Enak, Detung, I, II, III, IV, Kode, Delang, Halat, Baluele, and Ritat. The hamlet’s name includes polymorphism, namely Koli Buluk, Tadabliro, Kloang Bola, Natar Lorong, Kloang Beit, Habipiret, and Keduwair. The categorization of the name of the hamlet in the Nelle Subdistrict is divided into aspects of embodiment and aspects of society. Aspects of embodiment are divided into several parts, namely location, geography, plants, water forms, and combinations. The name of the hamlet in the aspect of society is divided again in the aspect of nicknames. The name of the hamlet in another aspect, namely the number. The meaning of the name of the hamlet in the Nelle Subdistrict is divided into several types, such as lexical-grammatical, referential-nonrefferential, denotative-connotative, conceptual-associative, and word-terms. So, the name of the hamlet in the Nelle Subdistrict has a peculiarity that can be seen from its form, categorization, and meaning. AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk, kategorisasi, dan makna nama-nama dusun di Kecamatan Nelle. Data dalam penelitian ini adalah nama-nama dusun di Kecamatan Nelle, Kabupaten Sikka. Data dikumpulkan menggunakan metode simak dengan teknik simak libat cakap, dan teknik lanjutannya ialah teknik rekam dan teknik catat. Data dianalisis dengan menggunakan metode perbandingan tetap. Hasil analisis data disajikan dengan metode informal. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Bentuk nama-nama dusun terdiri atas monomorfemis dan polimorfemis. Nama-nama dusun yang termasuk monomorfemis adalah Enak, Detung, I, II, III, IV, Kode, Delang, Halat, Baluele, dan Ritat. Nama dusun yang termasuk polimorfemis, yakni Koli Buluk, Tadabliro, Kloang Bola, Natar Lorong, Kloang Beit, Habipiret, dan Keduwair. Kategorisasi nama dusun di Kecamatan Nelle terbagi atas aspek perwujudan dan aspek kemasyarakatan. Aspek perwujudan terbagi dalam beberapa bagian, yakni letak, geografis, tanaman, wujud air, dan kombinasi. Nama dusun dalam aspek kemasyarakatan terbagi lagi dalam aspek julukan. Nama dusun dalam aspek lain, yakni jumlah. Makna nama dusun di Kecamatan Nelle terbagi dalam beberapa jenis, seperti makna leksikal-gramatikal, referensial-nonreferensial, denotatif-konotatif, konseptual-asosiatif, dan kata-istilah. Jadi, nama dusun di Kecamatan Nelle memiliki kekhasan yang dapat dilihat dari bentuk, kategorisasi, dan maknanya.
Penanda Publik Bahasa Kawi di Kota Probolinggo: Kajian Lanskap Linguistik Khilmi Mauliddian; Ika Nurhayani; Hamamah Hamamah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.2716

Abstract

The purpose of this study is to determine the meaning and function of Kawi language in public signs in Probolinggo City. This research was a research that explored language data from aspects of monolingualism in the frame of the Linguistic Landscape. The problem formulation in this study was, how the meaning and function of Kawi language on public signs in Probolinggo City. The method in this study used a qualitative method with Landry and Bourhis's Linguistic Landscape theory approach. Data collection techniques in this study used tools such as a photo camera or qualitative audio and visual materials. However, data analysis techniques included data copy, data classification, and data translation. Data was collected in photos containing Kawi language writing on public signs. The results of this study indicated that there were 13 public signs that used Kawi language. Kawi language words in public signs had different meanings. AbstrakPenelitian penanda publik bahasa Kawi di Kota Probolinggo kajian lanskap linguistik ini meneliti penanda publik menggunakan bahasa Kawi yang tersebar di sepanjang ruas utama jalan raya kota. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui arti dan fungsi bahasa Kawi pada penanda publik di Kota Probolinggo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori lanskap Linguistik Landry dan Bourhis 1997. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan alat berupa kamera foto atau qualitative audio and visual materials. Data yang dihimpun berupa foto yang berisi tulisan bahasa Kawi pada penanda publik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat 13 penanda publik yang menggunakan bahasa Kawi. Ke-13 penanda publik yaitu, nama kota, gang, penginapan, toko, koperasi, tempat kesehatan, tempat pendidikan, tempat pemberhentian angkutan umum, tempat olahraga, nama terminal, motto, nama gedung, nama militer. Kata-kata bahasa Kawi pada penanda publik masing-masing memiliki arti tersendiri. Namun, terkait fungsi, penanda publik tersebut memiliki fungsi sebagai identitas atau nama. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menggali data bahasa dari aspek monolingualisme dalam bingkai Lanskap Linguistik.
Adverb in Indonesian I Dewa Putu Wijana
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.2454

Abstract

This paper is intended to describe the forms and meanings of adverb in Indonesian. Adverbs are “words” that function to specify or locate the proposition expressed within the clause. By this concept, I limit my attention to merely what the so called “extra clausal adverbs”, a categorical concept along with noun, adjective, verb, etc. This concept is fundamentally differentiated from “adverbials”, elements of  clause structure along with subject, predicate, object, etc. By using data collected through introspective methods and some extracted from Intisari, and after analyzing them using distributional analysis followed by its continuation techniques (permutation, paraphrase, and comparison), the reasearch found that Indonesian adverbs are formally constructed at least by four kinds of morphological process, i.e. conversion, affixation, reduplication, and compounding. As far as the semantic roles are concerned, they can mainly be classified into four types, i.e adverbs of manner and state, adverbs of modality, adverbs  of frequency and quantity, adverbs of time. Finally, the differences that hold among Indonesian adverbs belong to the same semantic types might be related to  degree of formality, intensity, politeness, and style of the utturances. AbstrakMakalah ini bertujuan untuk memerikan bentuk dan makna adverbia dalam bahasa Indonesia. Adverbia adalah kata-kata yang berfungsi untuk mengkhususkan atau melokasikan proposisi yang diungkapkan oleh sebuah klausa. Dengan konsep ini, penulis membatasi perhatian pada apa yang selama ini disebut adverbia ekstra klausal, konsep kategori yang sepadan dengan nomina, adjektiva, verba, dsb. Konsep ini secara fundamental dibedakan dengan adverbial, elemen struktur  klausa yang sepadan dengan subjek, predikat, objek, dsb. Dengan data yang dikumpulkan melalui metode introspektif dan beberapa di antaranya dikumpulkan dari Majalah Intisari, dan setelah menganalisisnya dengan metode distribusional disertai dengan teknik lanjutannya (permutasi, parafrase, dan perbandingan), penelitian menemukan bahwa adverbia bahasa Indonesia sekurang-kurangnya dikonstruksi secara formal dengan proses konversi, afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan. Sementara itu berdasarkan peran semantisnya adverbia bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi adverbia cara dan keadaan, modalitas, keseringan dan kuantitas, dan waktu. Akhirnya adverbia-adverbia yang tergolong ke dalam tipe semantik yang sama memiliki perbedaan dalam hal tingkat keformalan, intensitas, kesantunan, dan ragam tuturan. 
Tuturan Kebencian dalam Komentar Warganet Pada Akun Instagram @obrolanpolitik: Kajian Pragmatik Ida Nuraeni; Ni Luh Ria Harisanti; Haerani Maksum
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4198

Abstract

This article aims to describe the form of hate speech in netizen comments on the @obrolanpolitik Instagram account, and describe the function of hate speech in netizen comments on the @obrolanpolitik Instagram account. The approach used in this research is a qualitative approach and this type of research is descriptive qualitative. The data was obtained from the collection of utterances written by netizens in the IG account @obrolanpolitik. Data in the form of sentences containing hate speech were analyzed using pragmatic theory. The results show that hate speech can be grouped based on its form and function. Based on its form, hate speech is divided into 6, namely: (1) forms of humiliation, (2) forms of spreading false news, (3) forms of provocation, (4) forms of defamation, (5) forms of blasphemy, and (6) forms of incitement. Based on its function, hate speech is divided into 3, namely (1) the function of stating, (2) the function of commanding, and (3) the function of satirical. Hate speech forms are represented by lingual markers of words, phrases, and clauses. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk tuturan kebencian dalam komentar warganet pada akun Instagram @obrolanpolitik, dan mendeskripsikan fungsi tuturan kebencian dalam komentar warganet pada akun Instagram @obrolanpolitik. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari pengumpulan tuturan yang ditulis oleh warganet dalam akun IG @obrolanpolitik. Data berupa tuturan yang mengandung tuturan kebencian dianalisis menggunakan teori pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan kebencian dapat dikelompokkan berdasarkan bentuk dan fungsinya. Berdasarkan bentuknya, tuturan kebencian terbagi menjadi 6, yaitu: (1) bentuk penghinaan, (2) bentuk penyebaran berita bohong, (3) bentuk provokasi, (4) bentuk pencemaran nama baik, (5) bentuk penistaan, dan (6) bentuk penghasutan. Berdasarkan fungsinya, tuturan kebencian terbagi menjadi 3, yaitu (1) fungsi menyatakan, (2) fungsi memerintah, dan (3) fungsi menyindir. Bentuk-bentuk tuturan kebencian direpresentasikan oleh penanda lingual kata, frasa, dan klausa. 
Konstruksi Kausatif Bahasa Batak Toba dan Bahasa Mandailing: Kajian Tipologis Bahasa Elza Leyli Lisnora Saragih; Mulyadi Mulyadi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.2576

Abstract

This research is a typology study of the Toba Batak languages and Mandailing languages. Both languages are cognate languages with similar language structure and typology. Until now, these two languages are still actively used in the North Sumatra region. This study specifically compares the causative construction in the Toba Batak language and the Mandailing language by selecting the same verbs in both languages and comparing them. This research is qualitative research. Data was pored out by speaking and listening technique. Furthermore, the data is examined using the equivalent method and the method of testing tested with triangulation techniques. The results showed that the causative in the Batak Toba language and Mandailing Language in general have the same form. Both of these languages have lexical causative, morphological causative and analytic causative. Lexical causatives in BT and BM languages have subtype (2), which is a verb subtype that is unique and subtype (3), which is a different verb in forming a causative construction. Both of these languages also recognize direct and indirect causatives. Morphological causatives in the Toba Batak language are characterized by affective causative markers (-hon), (-i), (pa- / par-), (pa-hon), and (pa-) whereas in Mandailing language are marked by causative markers (ma-kon), (pa-kon), (pa-on), (pa-), (tar-). In Batak Toba and Mandailing languages, analytical causatives are found whose construction is formed by predicates containing verbs (intransitive and transitive), adjectives, and nouns and shows causal events with two separate predicates (cause and effect). AbstrakPenelitian ini merupakan kajian tipologi terhadap bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing. Kedua bahasa ini merupakan bahasa serumpun dengan struktur dan tipologi bahasa yang mirip. Sampai saat ini, kedua bahasa ini masih digunakan secara aktif di wilayah Sumatera Utara. Penelitian ini secara spesifik membandingkan konstruksi kausatif dalam bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing dengan cara memilih kata kerja yang sama dalam kedua bahasa serta membandingkannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data diperoleh dengan metode simak dan cakap. Selanjutnya, data dikaji dengan menggunakan metode padan dan metode agih yang diuji dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kausatif dalam bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing secara umum memiliki kesamaan bentuk. Kedua bahasa ini memiliki kausatif leksikal, kausatif morfologis dan kausatif analitik. Konstruksi kausatif leksikal dalam bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing memiliki subtipe (2) yaitu subtipe verba yang memiliki keunikan dan subtipe (3) yaitu verba berbeda dalam membentuk konstruksi kausatif. Kedua bahasa ini juga mengenal kausatif langsung dan tidak langsung. Kausatif morfologis dalam bahasa Batak Toba ditandai oleh pemarkah kausatif afiks (-hon), (-i), (pa-/par-), (pa—hon), dan (pa-), sedangkan dalam bahasa Mandailing ditandai oleh pemarkah kausatif (ma-kon), (pa –kon), (pa-on), (pa-), (tar-). Dalam bahasa Batak Toba dan bahasa Mandailing ditemukan kausatif analitik yang konstruksinya dibentuk oleh predikat yang mengandung verba (intransitif dan transitif), adjektiva, dan nomina serta menunjukkan peristiwa kausal dengan dua predikat (sebab dan akibat) yang terpisah. 
Kekuasaan dan Kekuatan Bhuta dalam Teks Lontar Roga Sanghara Bhumi dan Covid-19 di Bali: Analisis Etnolinguistik Ni Wayan Sumitri; I Wayan Arka
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 1 (2022): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i1.4504

Abstract

This paper discusses the power of bhuta in the lontar (palm leaf) manuscript of Roga Sanghara Bhumi (RSB), in the context of Covid-19 in Bali, from an ethnolinguistic perspective. The RSB manuscript is a treasure documenting local knowledge reflecting Balinese Hindu culture about the existence of bhuta as a negative force causing disease outbreaks. The linguistic aspects examined and discussed include the integration of various lexico-grammatical elements, textually and contextually related to power and pandemics. The study is qualitative descriptive; important findings include the use of ethnolinguistic capital and local Balinese-Hindu symbols related to the conception/role of bhuta's power and rituals practiced by the Balinese, and how the Balinese maintain the dynamic balance of the universe's harmony and well-being. Evidence of ethnolinguistic resources includes multi-lingual diglossic features of Old Javanese-Sanskrit-Balinese and local Balinese-Hindu symbols, including the Balinese script and evil force repellent rituals such as caru offerings. RSB's striking textual feature is the persuasive narrative in the imperative mood. This is closely related to the function of RSB as a reference of advice to deal with pandemics. Cultural contextual features in RSB describe the cosmology, description and explanation of the occurrences of various outbreaks (sasab, gering, mrana, grubug) and the role of butha and its handling. Analysis in the context of Covid-19 is also provided. This paper underscores the importance of using local-traditional wisdom approaches in pandemic management to complement modern ones. AbstrakMakalah ini mengkaji power (kekuasaan/kekuatan) bhuta dalam teks lontar Roga Sanghara Bhumi (RSB), terkait Covid-19 di Bali, dari perspektif etnolinguistik. Teks RSB merefleksikan khazanah budaya Hindu-Bali terkait dengan keberadaan bhuta sebagai kekuatan negatif penyebab wabah penyakit. Aspek kebahasaan yang diperiksa dan dibahas mencakup integrasi berbagai elemen lexico-grammar kekuasaan/kekuatan, secara tekstual dan kontekstual terkait dengan pandemi. Kajiannya bersifat deskriptif kualitatif, menunjukkan temuan penting diantaranya penggunaan sumber daya etnolinguistik (ethno-linguistic capital) dan simbol-simbol lokal Bali-Hindu terkait konsepsi/peran power bhuta dan praktik-praktik ritual, serta dinamikanya untuk menjaga keseimbangan kerahayuan alam semesta. Bukti-bukti sumber daya etnolinguitik mencakup fitur diglosik multi/dwibahasa Jawakuna-Sanskerta-Bali dan simbol-simbol lokal Bali-Hindu termasuk aksara Bali dan ritual penolak kekuatan jahat seperti sesaji caru. Fitur tekstual RSB yang mencolok adalah naratif persuasif bermodus imperatif; ini terkait erat dengan fungsi RSB sebagai sumber petujuk/acuan untuk menghadapi pandemi. Fitur kontekstual kultural menggambarkan kosmologi, deskripsi dan penjelasan terjadinya berbagai wabah (sasab, gering, mrana, grubug) dan peran butha serta penanganannya. Analisisnya dalam konteks Covid-19 juga diberikan. Makalah ini menggarisbawahi pentingnya penggunaan pendekatan kearifan lokal-tradisional dalam penanganan pandemi untuk melengkapi pendekatan modern.