cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Ranah: Journal of Language Studies is published by the National Agency for Language Development and Cultivation. It is a research journal which publishes various research reports, literature studies and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics and other scientific fields related to language studies. It is published periodically twice a year in June and December. Each article published in Ranah will undergo assessment process by peer reviewers.
Arjuna Subject : -
Articles 312 Documents
Analisis Wacana Kritis terhadap Berita Serangan Bom Afghanistan Portal Online Media SINDOnews.com dan republika.ac.id Suhud Aryana; Muhamad Burhanudin; Yusep Ahmadi F; Bernadus Wahyudi Joko Santoso; Rustono Rustono
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4142

Abstract

This research is the result of Critical Discourse Analysis (CDA) on news of the bomb attack at Afghanistan's Kabul International Airport. The purpose of this research is to find out the textual practice of the discourses of the two Indonesian national media as those that can influence the reader's view of news issues. This research uses a qualitative descriptive method with a three-dimensional theoretical approach from Fairclough, namely textual practice, discourse practice and socio-cultural practice. This discourse analysis research uses three stages in analyzing Fairclough's perspective discourse, namely description, interpretation, and explanation. The results of the text analysis show that the two news’ media have different content. The text on SINDOnews.com often shows actor Joe Biden as the President of the United States who demands accountability and will retaliate against those who carried out the bombings. Meanwhile, Republikasi.ac.id tends to focus more on representing the victims of the bombing. The difference in the focus of news representation in the two media seems to coincide with the different institutional and social contexts of each media.AbstrakPenelitian ini hasil Analisis Wacana Kritis (AWK) pada berita serangan bom di Bandara Internasional Kabul Afghanistan. Penelitian dimaksudkan untuk mengetahui praktik tekstual wacana kedua media nasional Indonesia sebagai alat informasi yang dapat mempengaruhi pandangan pembaca terhadap isu pemberitaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori tiga dimensi dari Fairclough yaitu praktik tekstual, praktik wacana dan praktik sosial budaya. Penelitian analisis wacana ini menggunakan tiga tahapan dalam menganalisis wacana perspektif Fairclough, yaitu deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi. Hasil analisis teks menunjukkan bahwa kedua media berita tersebut memiliki konten yang berbeda. Teks di SINDOnews.com lebih sering memunculkan aktor Joe Biden sebagai Presiden Amerika serikat yang meminta pertanggungjawaban dan akan membalas pihak yang melakukan pengeboman. Sementara itu, Republikasi.ac.id cenderung lebih fokusmerepresentasikan korban-korban akibat peristiwa bom tersebut. Perbedaan fokus representasi berita yang ada dalam kedua media tersebut tampak bertepatan dengan perbedaan konteks institusi dan sosial tiap-tiap media. 
K-Medoids Clustering untuk Pembentukan Database Stopword Bahasa Jawa Aji Prasetya Wibawa; Farid Miftahuddin; Suyono Suyono
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.2125

Abstract

Stopword is a word that can be ignored in the natural language process. This word removal process does not affect the text analysis process. The technique used to remove stopword is called Stopword Removal. This technique matches words to a stopword list. If the word is in the list it will be deleted. Javanese language to date still has a limited list of stopword. This study aims to form a list of stopword using cluster techniques namely K-medoids clustering. This technique groups words by occurrence in Javanese text. Each cluster result is tested by matching it with a stopword of javanese expert identification. The results of this study suggest that the stopword produced by k-medoids clustering with a value of K=13 has an accuracy of 70.5%. AbstrakStopword merupakan kata yang bisa diabaikan dalam permrosesan bahasa alami. Proses penghapusan kata ini ini tidak mempengaruhi proses analisis teks. Teknik yang digunakan untuk menghapus stopword disebut Stopword Removal. Teknik ini mencocokkan kata dengan daftar stopword (stoplist). Apabila kata tersebut terdapat pada daftar maka akan dihapus. Bahasa jawa sampai saat ini masih memiliki daftar stopword yang terbatas. Penelitian ini bertujuan membentuk daftar stopword menggunakan teknik cluster yakni K-medoids clustering. Teknik ini mengelompokkan kata berdasarkan kemunculan dalam teks bahasa Jawa. Dalam penerapannya, metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari lima tahap. Tahapan penelitian tersebut dimulai dari pengumpulan dataset, preprocessing data, clustering, dan terakhir adalah evaluasi. Setiap hasil cluster diuji dengan mencocokkannya dengan stopword hasil identifikasi ahli bahasa Jawa. Hasil penelitian ini menunujkkan bahwa stopword yang dihasilkan k-medoids clustering dengan nilai K=13 yang memiliki akurasi sebesar 70,5%.
The ANTARA and TEMPO Media’s Framing Strategy Differences in Framing the Omnibus Law Ratification Issue Rize Rahmi; Sawirman Sawirman; Aslinda Aslinda
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4146

Abstract

In this research, the authors compared the framing strategy used by the ANTARA media and TEMPO media for the issue of the ratification of the Omnibus Law on Job Creation. This research was conducted descriptively with comparative qualitative approach. A qualitative document procedure was applied in collecting the data. Fairclough's framework of Critical Discourse Analysis and the framing analysis model by Pan and Kosicki (1993) were combined to analyze the data. The result of the data analysis is presented in the table and the interpretation form. The result shows that TEMPO's framing strategy is more clearly defined, while ANTARA's strategy is less clear. In building a negative or positive representation, TEMPO Media tries to present information supported by many sources. Then, the use of images in TEMPO news supports the truth of information, while the use of images in ANTARA media improves the quality of information sources. The five news stories from ANTARA media selected in this study always use the face image of the selected informant as a source of news information. AbstrakPada penelitian ini, penulis membandingkan strategi pembingkaian yang digunakan media ANTARA dan TEMPO dalam membingkai isu pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan komparatif kualitiatif. Prosedur dokumen kualitatif diterapkan dalam pengumpulan data. Kerangka analisis wacana kritis Fairclough dan model analisis pembingkaian oleh Pan dan Kosicki (1993) digabungkan untuk menganalisis data. Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembingkaian TEMPO lebih jelas, sedangkan strategi ANTARA kurang jelas. Dalam membangun representasi negatif atau positif, TEMPO mencoba menghadirkan informasi yang didukung oleh banyak sumber. Kemudian, penggunaan gambar dalam berita TEMPO mendukung kebenaran informasi, sedangkan penggunaan gambar di media ANTARA meningkatkan kualitas sumber informasi. Kelima berita dari media ANTARA yang dipilih dalam penelitian ini selalu menggunakan foto sumber informasi yang terpilih pada berita.
Language Diversity in Syair Nasihat: An Alternative Effort to Strengthen National Identity through Literature Learning Asep Yudha Wirajaya; Bani Sudardi; Istadiyantha Istadiyantha; Warto Warto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4052

Abstract

Syair Nasihat (hereinafter abbreviated as SN) is an old literary work written in Arabic letters and utilizing the diversity of languages that exist in the archipelago. Therefore, a study of the SN manuscript needs to be carried out comprehensively and holistically so that the diversity of languages used to instill the values of local wisdom can be used as a source of inspiration for literary learning in the future. The method used in this study is the text editing method, namely the critical edition method. The use of this method is expected to provide good and correct SN text edits. The text study method used is a literary research method, especially semiotic studies. Thus, the use of language and its symbols contained in the SN text can be fully disclosed so that the results of the study can be useful for the world of education in welcoming the Industrial Revolution 4.0 and Society 5.0. AbstrakSyair Nasihat (selanjutnya disingkat SN) merupakan karya sastra lama yang ditulis dengan huruf Arab dan memanfaatkan keragaman bahasa yang ada di Nusantara. Oleh karena itu, kajian terhadap naskah SN perlu dilakukan secara komprehensif dan holistik sehingga keragaman bahasa yang dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai kearifan lokal tersebut dapat dijadikan sumber inspirasi bagi pembelajaran sastra di masa yang akan datang. Adapun metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode penyuntingan teks, yaitu metode edisi kritis. Penggunaan metode ini diharapkan dapat menghadirkan suntingan teks SN yang baik dan benar. Adapun metode pengkajian teks yang digunakan adalah metode penelitian sastra, khususnya kajian semiotik. Dengan demikian, penggunaan bahasa beserta simbol-simbolnya yang terdapat dalam teks SN dapat diungkap secara tuntas sehingga hasil kajiannya dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan dalam menyambut Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.
Metafora Kata Mata dalam Bahasa Melayu Riau: Analisis Semantik Kognitif Hermandra Hermandra
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.2243

Abstract

This study aims to examine the metaphor of the word "eye" in Riau Malay. This research is a qualitative descriptive study using cognitive semantic analysis. The research data was taken from the speech of the Malay community who used the metaphorical expression of the word "eye". The technique used in collecting data is an interview technique assisted by fishing, tapping, and listening to conversational techniques accompanied by recording techniques. Data analysis techniques in the form of data collection, data analysis, and drawing conclusions. The results showed that the use of the word mata can bring up various metaphorical expressions in the language of the Riau Malay community. Practically, the use of the eye can be found in the eye of the basket, knife blade, pineapple eye, hook, fish eye, ring eye, boil eye, panda eye, eye bag, ankle, head eye, and fish eye. The meanings that emerge can be understood and interpreted logically through the life experiences of the Riau Malay community. Experience as a marker that connects the meaning of the expressions conveyed by the Riau Malay community when communicating.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji metafora kata “mata” dalam bahasa Melayu Riau. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif menggunakan analisis semantik kognitif. Data penelitian diambil dari tuturan masyarakat Melayu yang banyak menggunakan ungkapan metafora kata “mata”. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah teknik wawancara yang dibantu dengan teknik pancing, sadap, dan simak libat cakap yang disertai dengan teknik rekam. Teknik analisis data berupa pengumpulan data, analisis data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kata mata dapat memunculkan berbagai ungkapan metafora dalam berbahasa masyarakat Melayu Riau. Secara secara praktis, penggunaan mata dapat ditemukan pada mata telanjang, mata pisau, mata nanas, mata kail, mata ikan, mata cincin, mata bisul, mata panda, kantong mata, mata kaki, mata kepala, dan mata ikan. Makna yang muncul dapat dipahami dan diinterpretasi secara logika melalui pengalaman hidup masyarakat Melayu Riau. Pengalaman sebagai penanda yang menjadi penghubung maksud dari ungkapan yang disampaikan masyarakat Melayu Riau saat berkomunikasi.
Consonant Change in Cognates Shared by Indonesian and Palembang Malay Fauzi Syamsuar
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4164

Abstract

This article describes the phenomena of sound changes, i.e., changes of single segmental sound of consonants, found in cognates shared by Indonesian and Palembang Malay. A list containing 2,535 cognates shared by Indonesian and Palembang Malay becomes the corpus. Since Indonesian is a modern language derived from Standard Malay, it becomes the reference language in the efforts of descriptions. Consonant strengthening, fortition, consonant weakening, lenition, and glottalization become the phenomena found in the consonant changes. Various syllabic structures in which the consonants distributed are also described. The differences of productivity of certain consonant-changes compared to others are found. The productivity shows that, compared to Indonesian, the occurrences of weaker consonants lenis consonants are more productive in Palembang Malay. AbstrakArtikel ini membahas gejala penggantian bunyi, yakni penggantian bunyi-segmental konsonan tunggal, yang didapati dalam kognat atau kata seasal yang dimiliki bersama oleh bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Palembang. Sebuah daftar yang memuat 2.535 kognat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Palembang menjadi korpus. Karena merupakan bahasa modern yang terderivasi dari bahasa Melayu Baku, bahasa Indonesia menjadi bahasa acuan dalam pembahasan. Penguatan konsonan, fortisi, pelemahan konsonan, lenisi, dan glotalisasi menjadi gejala yang didapati dalam penggantian konsonan. Struktur suku kata yang di dalamnya konsonan tersebut di atas terdistribusi juga dibahas. Didapati perbedaan produktivitas gejala penggantian konsonan tertentu dibandingkan dengan gejala yang lain. Produktivitas itu menunjukkan bahwa jika dibandingkan dengan bahasa Indonesia, kehadiran konsonan lemah atau konsonan lenis lebih produktif dalam bahasa Melayu Palembang.
Maksim Kuantitas dan Maksim Kualitas dalam Tuturan Bahasa Indonesia pada Anak Disabilitas Intelektual Ira Eko Retnosari; Rahayu Pujiastuti
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4053

Abstract

The purpose of this study was to describe the mastery of maxims of quantity and maxims of quality in Indonesian speech in children with intellectual disabilities. In this study, a qualitative descriptive research method was used. The data source of this research is one child with intellectual disability aged 9;0. The data of this research are words, phrases, and sentences that contain maxims of quantity and maxims of quality. The data collection used in this study includes observation, fishing, recording, and field notes. The stages of data collection are making observations, recording speeches, transcribing speeches, and validating data. In analyzing the data, the pragmatic equivalent method was used. Data analysis procedures include reducing data, interpreting data, and concluding. Based on data analysis, it can be concluded that children with intellectual disabilities have been able to master the maxim of quantity and maxim of quality. L’s speech is able to show its contribution to the speech partner to show the maxim of strength by speaking not excessively and maxim of quality by speaking according to reality. The maxim of quantity and maxim of quality shown by L are still dominated by one word even though L's speech seems to be able to use multi-words. However, the maxim of quantity and maxim of quality used by L still suffer from imperfect pronunciation of sounds such as [r] is pronounced as [l], and the sound [s] which is located at the beginning and middle of the word is replaced with [t]. In addition, L is still unable to use affixes so that he experiences an affix deficit. AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penguasaan maksim kuantitas dan maksim kualitas dalam tuturan bahasa Indonesia pada anak disabilitas intelektual. Dalam penelitian ini, digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah satu anak disabilitas intelektual berusia 9;0. Data penelitian ini adalah kata, frasa, dan kalimat yang mengandung maksim kuantitas dan maksim kualitas. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, pemancingan, perekaman, dan catatan lapangan. Adapun tahap-tahap pengumpulan data adalah melakukan observasi, merekam tuturan, mentranskrip tuturan, dan memvalidasi data. Dalam penganalisisan data, digunakan metode padan pragmatik. Prosedur penganalisisan data meliputi mereduksi data, menginterpretasi data, dan menyimpulkan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa anak disabilitas mental sudah mampu menguasai maksim kuantitas dan maksim kualitas. L sudah mampu menggunakan maksim kuantitas dengan bertutur tidak berlebihan dan maksim kualitas dengan bertutur sesuai kenyataan. Maksim kuantitas dan maksim kualitas yang ditunjukkan L masih didominasi dengan satu kata meskipun tuturan L terlihat sudah mampu menggunakan multikata. Akan tetapi, maksim kuantitas dan maksim kualitas yang digunakan L masih mengalami kekurangsempurnaan pelafalan bunyi seperti [r] dilafalkan menjadi [l], dan bunyi [s] yang terletak pada awal dan tengah kata diganti dengan [t]. Selain itu, L masih belum mampu menggunakan afiks sehingga mengalami defisit afiks.
Transivitas dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda Puspa Mirani Kadir; Pika Yestia Ginanjar; Cece Sobarna
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4184

Abstract

The phenomenon of language is found mainly in Indonesian language and Sundanese language, one of which is the passive verbs; especially when the verb experiences the process of forming derivative words, either through affixation, reduplication, and compounding. Hopper and Thomson (1980) explain the relationship of transitivity and diathesis in the grammatical structure of verbs, especially in the field of study of affectedness of object; transitivity is divided into two types; (1) structural transitivity related to the predicate and two main arguments; and (2) traditional transitivity related to all elements in a clause transferring the action from agent to patient. This research aims to describe the transitivity level of Indonesian language by doing contrastive research with Sundanese language, based in the theory of Hopper and Thompson (1980) which focuses on the middle construction. The Sundanese language data is taken from sample sentences in Mangle Magazine (Edition 2018-2019), the drama script "Lalakon", and book “Kajian Bentuk dan Makna Konseptual Preposisi Bahasa Sunda”(Sobarna, C. dan Santy, 2019). The research results show there is a close relationship between Sundanese language passive sentence structures with prefixes ka-, ti-, with the infix -ar- and Indonesian language sentence structures with verbs prefixed ter-, also and Indonesian language verbs cannot be separated from the actions/activities of the actors, whether it is realized or not. AbstrakFenomena kebahasaan banyak ditemukan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda, salah satunya adalah bahasan verba pasif, terutama pada saat verba tersebut mengalami pembentukan kata turunan baik melalui proses afiksasi, reduplikasi maupun pemajemukan. Hopper dan Thompson (1980) menjelaskan hubungan transitivitas dan diatesis pada struktur gramatikal verba, khususnya pada bidang kajian affectedness of object yang mengklasifikasikan ketransitifan ke dalam dua jenis: (1) ketransitifan struktural yang berhubungan dengan predikat dan dua buah argumen inti; (2) Ketransitifan tradisional yang berhubungan dengan semua unsur di dalam sebuah klausa pemindahan tindakan dari agen ke pasien (Hopper & Thompson, 1980). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tingkat transitivitas bahasa Indonesia dengan melakukan penelitian kontrastif dengan bahasa Sunda, berdasarkan teori Hopper dan Thompson (1980) yang memfokuskan kajian pada konstruksi tengah. Data bahasa Sunda diambil dari contoh kalimat yang ada dalam Majalah Mangle (Edisi 2018-2019), naskah drama “Lalakon”, dan buku  “Kajian Bentuk dan Makna Konseptual Preposisi Bahasa Sunda” (Sobarna, C. dan Santy, 2019). Hasil pembahasan konstruksi tengah (middle construction), terlihat bahwa adanya keterkaitan erat antara struktur kalimat pasif bahasa Sunda yang berprefiks ka-,ti-, berinfiks -ar- dan struktur kalimat bahasa Indonesia yang memiliki verba berprefiks ter-., serta verba bahasa Indonesia tidak terlepas pada perbuatan/aktivitas pelaku apakah itu disadari atau tidak disadari.
Bahasa Sakai sebagai Variasi Melayu: Tinjauan Aspek Linguistik Diakronis Burhanuddin Burhanuddin
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.859

Abstract

This paper intends to explain the linguistic evidence (phonology and lexicon) which shows Sakai language as one of the diachronic linguistic Malay variations. Methodologically, data is collected using documentation method of Proto-Melayu (PM) and Sakai Language Dictionary. The collected data is then analyzed using a top-down approach of joint innovation methods. Based on the fact that the innovation and retention of phonology of PM in their respective BS are both regular (correspondence) and irregular (variation) In addition, the retention of the lexicon field reinforces the BS as one of the Malay variants. The comparison of BS with Minangkabau (MIN) language found quite a lot of correspondences and variations of both innovation and variation which implies that both isolates are variants of the same language, although there is a difference between the two isolates. This reinforces the view that the Sakai language is one of the Malay language variants. AbstrakTulisan ini bertujuan menjelaskan bukti linguistik (fonologi dan leksikon) yang menunjukkan bahasa Sakai sebagai salah satu variasi Melayu secara linguistik diakronis. Secara metodologis, data dikumpulkan menggunakan metode dokumentasi berupa Proto-Melayu (PM) dan Kamus Bahasa Sakai. Data yang terkumpulkan kemudian dianalisis menggunakan pendekatan top-down metode inovasi bersama (shared innovations). Berdasarkan kenyataan bahwa ditemukan inovasi dan retensi fonologi PM ke dalam BS masing-masing baik bersifat teratur (korespondensi) maupun tidak teratur (variasi) Di samping itu, retensi bidang leksikon menguatkan BS sebagai salah satu varian Melayu. Hasil perbandingan BS dengan bahasa Minangkabau (MIN) ditemukan cukup banyak korespondensi dan variasi baik yang bersifat inovasi maupun variasi yang menyiratkan bahwa kedua isolek tersebut adalah varian dari bahasa yang sama, meskipun terdapat perbedaan antara kedua isolek tersebut. Hal ini menguatkan pandangan bahwa bahasa Sakai merupakan salah satu varian bahasa Melayu.
Sistem Hiponimi Hewan dalam Bahasa Jawa: Kajian Semantik Endang Sri Maruti; Bambang Eko Hari Cahyono; Wachidatul Linda Yuhanna
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4038

Abstract

The animals in the world are very diverse and countless. The variety of animals in the field of biology is divided into kingdoms, species, families, orders, and classes. The classification of animals in biology is certainly different from the classification of animals in Javanese society. This study aims to explain animal hyponymy in Javanese based on Semantic studies. Hyponyms are inseparable from the relation of meaning. This research is descriptive qualitative. Data collection is done by documentation, observation, listening, and taking notes. Data analysis was carried out using the agih method with the substitution technique and the reflexive-introspective method based on the flow model in which there is reduction, presentation, verification, and inference. Animal species are diverse and innumerable. In Javanese semantics, kewan 'animal' has the same components as tetuwuhan 'plant'. Furthermore, as a subordinate, kewan has components in between rajakaya, sato iwen, omahan, and alasan. In the category of pomahan or ingon-ingon animals, there are three types, namely rajakaya, sato iwen, and kewan lulut. Differentiation of several hyponyms is done by component analysis. Rajakaya 'farm animals' can be distinguished based on size, power, color, and aspects of their use. Sato iwen can be distinguished based on size, sound, beak shape, leg shape, and animal utilization, and kewan lulut can be distinguished based on size, price, level of compliance, type of food, and type of care.AbstrakHewan-hewan di dunia sangat beragam dan tak terhitung banyaknya. Ragam hewan dalam bidang ilmu biologi dibagi ke dalam kingdom, spesies, famili, ordo, dan kelas. Penggolongan hewan dalam ilmu Biologi tentu berbeda dengan penggolongan hewan dalam masyarakat Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hiponimi hewan dalam bahasa Jawa berdasarkan kajian Semantik. Hiponim tidak terlepas dari relasi makna. Penelitian ini berpendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan dokumentasi, observasi, simak, dan catat. Penganalisisan data dilakukan dengan metode agih dengan teknik substitusi dan metode reflektif-introspektif dengan berdasarkan pada model alir yang di dalamnya terdapat reduksi, penyajian, verifikasi, dan inferensi. Spesies hewan beragam dan tak terhitung banyaknya. Dalam Semantik bahasa Jawa, kewan ‘hewan’ mempunyai kesamaan komponen dengan tetuwuhan ‘tumbuhan’. Selanjutnya, sebagai subordinat, kewan memiliki komponen di antaranya rajakaya, sato iwen, omahan, dan alasan. Dalam kategori hewan pomahan atau ingon-ingon, terdiri atas tiga jenis, yakni rajakaya, sato iwen, dan kewan lulut. Pembedaan atas beberapa hiponim dilakukan dengan analisis komponen. Rajakaya ‘hewan ternak’ dapat dibedakan berdasarkan ukuran, tenaga, warna, dan aspek pemanfaatannya. Sato iwen dapat dibedakan berdasarkan ukuran, suara, bentuk paruh, bentuk kaki, dan pemanfaatan hewan, dan kewan lulut dibedakan berdasarkan ukuran, harga, tingkat kepatuhan, jenis makanan, dan jenis perawatan