cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Ranah: Journal of Language Studies is published by the National Agency for Language Development and Cultivation. It is a research journal which publishes various research reports, literature studies and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics and other scientific fields related to language studies. It is published periodically twice a year in June and December. Each article published in Ranah will undergo assessment process by peer reviewers.
Arjuna Subject : -
Articles 312 Documents
A Translation Analysis of Kahlil Gibran’s “The Broken Wings” to “Sayap-Sayap Patah” by Sapardi Djoko Damono and M. Ruslan Shiddieq Tira Nur Fitria
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.4713

Abstract

This research analyzes the translation between two translators in translating Kahlil Gibran’s work entitled “The Broken Wings” into ‘Sayap-Sayap Patah”. This research is descriptive qualitative. The analysis shows that the two translators have different styles of translating. The first translator, Sapardi Djoko Damono, chose a more formal and direct style in his translation, while the second translator, M. Ruslan Shiddieq, tended to use a more expressive style and prioritized artistic impressions. Sapardi Djoko Damono maintained fidelity to the original text by translating it literally, while M. Ruslan Shiddieq carried out free interpretation and created more metaphorical and creative sentences. These differences in approach result in translations that have different nuances and expressions, reflecting the translator's style and preferences. Despite their differences, both translators, Sapardi Djoko Damono and M. Ruslan Shiddieq, effectively convey the essence of Kahlil Gibran's "The Broken Wings" in Indonesian, albeit through distinct stylistic lenses. To be a proficient translator of literary works, one must possess a mastery of both the source and target languages, a deep understanding of literature, a keen sense of aesthetics, and a strong sense of literature. Literature with its emotional depth and linguistic beauty resonates deeply with readers Skilled translators like Sapardi Djoko Damono and M. Ruslan Shiddieq bring forth its lyrical and profound qualities in their translations. Overall, the translation of literary works requires not only linguistic proficiency but also creative skill and cultural sensitivity. Each translator brings their unique style and approach, shaping the reader's experience of the translated work. As readers, we can appreciate and explore the diverse interpretations offered by different translations, enriching our understanding and enjoyment of literature in translation. AbstrakPenelitian ini menganalisis penerjemahan antara dua orang penerjemah dalam menerjemahkan karya Kahlil Gibran yang berjudul “The Broken Wings” ke dalam ‘Sayap-Sayap Patah’. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua penerjemah mempunyai gaya penerjemahan yang berbeda. Penerjemah pertama, Sapardi Djoko Damono, memilih gaya yang lebih formal dan langsung dalam penerjemahannya, sedangkan penerjemah kedua, M. Ruslan Shiddieq, cenderung menggunakan gaya yang lebih ekspresif dan mengutamakan kesan artistik. Sapardi Djoko Damono menjaga kesetiaan pada teks aslinya dengan menerjemahkannya secara harfiah, sedangkan M. Ruslan Shiddieq melakukan interpretasi bebas dan menciptakan kalimat yang lebih metaforis dan kreatif. Perbedaan pendekatan ini menghasilkan terjemahan yang mempunyai nuansa dan ekspresi berbeda yang mencerminkan gaya dan preferensi penerjemah. Meski berbeda, kedua penerjemah, Sapardi Djoko Damono dan M. Ruslan Shiddieq efektif menyampaikan esensi “Sayap Patah” karya Kahlil Gibran dalam bahasa Indonesia, meski melalui lensa stilistika yang berbeda. Untuk menjadi seorang penerjemah karya sastra yang mahir, seseorang harus memiliki penguasaan bahasa sumber dan bahasa sasaran, pemahaman yang mendalam tentang sastra, rasa estetika yang tajam, dan rasa sastra yang kuat. Sastra dengan kedalaman emosional dan keindahan linguistiknya sangat disukai pembaca. Penerjemah terampil seperti Sapardi Djoko Damono dan M. Ruslan Shiddieq menonjolkan kualitas liris dan mendalam dalam terjemahannya. Secara keseluruhan, penerjemahan karya sastra tidak hanya memerlukan kemahiran linguistik tetapi juga keterampilan kreatif dan kepekaan budaya. Setiap penerjemah menghadirkan gaya dan pendekatan uniknya masing-masing, yang membentuk pengalaman pembaca terhadap karya terjemahan. Sebagai pembaca, kita dapat mengapresiasi dan mengeksplorasi beragam penafsiran yang ditawarkan oleh berbagai terjemahan sehingga memperkaya pemahaman dan kenikmatan kita terhadap karya sastra dalam terjemahan.
Indonesian Comprehension Proposition on Malaysian Students of UIN Sunan Ampel Surabaya Lukman Fahmi; Amiatun Nuryana; Faizah Laela
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.4283

Abstract

In this case, the researcher investigates the students from Kuala Lumpur who study in Da’wa and Communication Faculty UIN Sunan Ampel Surabaya. They have difficulties understanding Indonesian Grammar.  Such as, when they write a scientific papers or academic assignments, papers, and theses.  The factors that make them experience problems in understanding Indonesian are derived from internal and external factors.  Internal factors are in their spirit to learn Indonesian  and External influences have a significant impact on their ability to learn Indonesian verbally and in writing. UIN Sunan Ampel has a BIPA program. This is placeis for learning Indonesian language skills (speaking, writing, reading, and listening) for language speaking. This research applied a type of qualitative descriptive research. It aims to describe, analyze, and provide an accurate systematic description of the communication problems experienced by Kuala Lumpur international students pursuing undergraduate education at UIN Sunan Ampel Surabaya. The research data were obtained from observations and interviews with research subjects. The researcher used a case study for this research approach. This research was conducted on five international students from Kuala Lumpur in semesters 4, and 8 at UIN Sunan Ampel Surabaya, in semesters 6 there are no students from Kuala Lumpur precisely at the Faculty of Da'wah and Communication.  All data collected is analyzed, and then the results are written into a series of sentences in paragraphs. The qualitative descriptive method was applied in this study through observation and interviews. This study found that the understanding of language experienced by Kuala Lumpur. The factors that make them experience problems in understanding Indonesian are derived from internal and external factors.  Internal factors themselves and external influences have a significant impact on Kuala Lumpur students' ability to learn Indonesian verbally and in writing a student lies in understanding written and spoken. AbstrakDalam hal ini, peneliti menyelidiki mahasiswa asal Kuala Lumpur yang belajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Mereka kesulitan memahami Tata Bahasa Indonesia.  Misalnya saja ketika mereka menulis karya ilmiah atau tugas akademik, makalah, dan tesis.  Faktor yang membuat mereka mengalami kendala dalam memahami bahasa Indonesia berasal dari faktor internal dan eksternal.  Faktor internal yaitu semangat mereka untuk belajar bahasa Indonesia dan pengaruh Eksternal mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan mereka dalam belajar bahasa Indonesia lisan dan tulisan. UIN Sunan Ampel mempunyai program BIPA. Tempat ini untuk pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia (berbicara, menulis, membaca, dan mendengarkan) untuk berbicara bahasa.  Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Bertujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan memberikan gambaran sistematis yang akurat mengenai permasalahan komunikasi yang dialami mahasiswa internasional Kuala Lumpur yang menempuh pendidikan sarjana di UIN Sunan Ampel Surabaya. Data penelitian diperoleh dari observasi dan wawancara terhadap subjek penelitian. Peneliti menggunakan studi kasus untuk pendekatan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan pada lima mahasiswa internasional asal Kuala Lumpur semester 4, dan 8 di UIN Sunan Ampel Surabaya, pada semester 6 tidak ada mahasiswa asal Kuala Lumpur tepatnya di Fakultas Dakwah dan Komunikasi.   Seluruh data yang terkumpul dianalisis, kemudian hasilnya dituliskan dalam rangkaian kalimat dalam paragraf. Metode deskriptif kualitatif diterapkan dalam penelitian ini melalui observasi dan wawancara. Penelitian ini menemukan bahwa pemahaman bahasa dialami oleh Kuala Lumpur. Faktor yang membuat mereka mengalami kendala dalam memahami bahasa Indonesia berasal dari faktor internal dan eksternal.  Faktor Internal dalam diri sendiri dan Pengaruh Eksternal Eksternal mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan siswa Kuala Lumpur dalam belajar bahasa Indonesia lisan dan tulisan. Siswa terletak pada pemahaman tulisan dan lisan.
Analisis Semiotika Sosial M.A.K. Halliday Novel Ghoky Aku Papua Karya Johan Gandegoay Insum Malawat
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.6798

Abstract

This research aims to describe and interpret the social and cultural symbols of the language used in the novel Ghoky Aku Papua by Johan Gandegoay as the subject. The research objects are the discourse field, discourse actors, and discourse means. The method used is Halliday's social semiotics content analysis model. Data collection techniques include (1) reading the GAP novel; (2) write the speeches of the characters which contain elements of discourse fields, discourse participants, and discourse means; and (3) classification of data in the form of clauses into tables containing discourse fields, discourse participants, and discourse means. Data analysis techniques are as follows. Identify and interpret signs and symbols that describe Papuan identity; describe and interpret the speech of the characters which represent the Papuan social context; and identifying and interpreting the speech of characters that represent language variations or styles. Based on the results of text analysis, it is concluded as follows. The discourse field in the novel GAP displays the socio-cultural environment of the Papuan people in coastal areas. The character highlighted regarding the identity of coastal people is open and communicative with various levels of society, both OAP and non-OAP. The language symbols that mark the Papuan social context are marked by Papuan dialects such as ko (you), pace (adult man), paitua (father), bitter melon fish tail, penggayu feet, and stilt houses as the identity of coastal communities. This component is present to represent the function of ideational metalanguage. Discourse involvement is shown through the presence of figures and their role as representatives of the socio-cultural community of the Papuan people and agents of change. This section reflects on the interpersonal function of language. Components of discourse means are displayed through the use of language styles, including metaphor, personification, polysynthesis, hyperbole, rhetoric, hypocorism and repetition. The means of discourse present represent the textual function of language. AbstrakPenelitian ini bertujuan menggambarkan dan memaknai simbol-simbol sosial budaya bahasa yang digunakan dalam novel Ghoky Aku Papua karya Johan Gandegoay sebagai subjek. Objek penelitian adalah medan wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana. Metode yang digunakan adalah semiotika sosial Halliday model analisis isi. Teknik pengumpulan data meliputi (1) membaca novel GAP; (2) menuliskan tuturan dari para tokoh yang mengandung unsur medan wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana; dan (3) klasifikasi data berbentuk klausa ke dalam tabel yang berisi medan wacana, pelibat wacana, dan sarana wacana. Teknik analisis data sebagai berikut. Mengidentifikasi dan memaknai tanda-tanda dan simbol-simbol yang menggambarkan identitas kepapuaan; menggambarkan dan memaknai tuturan para tokoh yang merepresentasikan konteks sosial kepapuaan; dan mengidentifikasi dan memaknai tuturan para tokoh yang melambangkan variasi atau gaya bahasa. Berdasarkan hasil analisis teks, disimpulkan sebagai berikut. Medan wacana dalam novel GAP menampilkan lingkungan sosial budaya masyarakat Papua di wilayah pesisir. Karakter yang ditonjolkan terkait identitas orang pesisir adalah terbuka dan komunikatif dengan berbagai lapisan masyarakat, baik OAP maupun non-OAP. Lambang bahasa yang menandai konteks sosial kepapuaan kepapuaan ditandai dengan dialek Papua seperti ko (kamu), pace (pria dewasa), paitua (bapak), ekor ikan pare, kaki penggayu, dan rumah panggung sebagai identitas masyarakat pesisir pantai. Komponen ini hadir mewakili fungsi metabahasa ideasional. Pelibat wacana ditunjukkan melalui kehadiran para tokoh dan perannya sebagai wakil komunitas sosial budaya masyarakat Papua dan agen perubahan. Bagian ini merefleksikan fungsi interpersonal bahasa. Komponen sarana wacana ditampilkan melalui penggunaan gaya bahasa antara lain metafora, personifikasi, polisindeton, hiperbola, retorik, hipokorisme, dan repetisi. Sarana wacana hadir mewakili fungsi tekstual bahasa.
Konseptualisasi ‘Penyakit’ dalam Masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat Nofel Nofiadri; Isral Naska; Renggi Vrika
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.6886

Abstract

This research tries to explain the concept of 'illness' in Minangkabau society, which until now is known to have strong local and traditional elements. This research reveals the cultural metaphors used by contemporary Minangkabau society in expressing the concept of 'illness.’ This research uses interview transcripts from 30 people from various backgrounds and ages who live in the West Sumatra region, which was carried out from the beginning of August to the end of October 2023. The interviews were conducted using the Minangkabau language. Participants' answers and expressions were analyzed using a Cultural Linguistics approach which includes cultural metaphor analysis. There are three conceptions that are found; they are ILLNESS AS MOVING OBJECT, ILLNESS AS OWNERSHIP, and ILLNESS AS PUNISHMENT. From the various conceptions found, it is found that the Minangkabau people's cognition about 'illness' is based on the existence of paganism and Islamism. This research is certainly useful for certain stakeholders in making policies and implementing programs to achieve effectiveness and efficiency. AbstrakPenelitian ini melihat dan menjelaskan konsep ‘penyakit’ pada masyarakat Minangkabau yang hingga saat ini terkenal memiliki unsur lokal dan tradisional yang masih kental. Penelitian ini mengungkap metafora-metafora budaya yang digunakan oleh masyarakat Minangkabau kontemporer dalam mengungkapkan konsep ‘penyakit.’ Penelitian ini menggunakan data transkrip wawancara 30 orang dari berbagai kalangan dan umur yang bertempat tinggal di wilayah Sumatra Barat, yang dilaksanakan dalam kurun awal Agustus hingga akhir Oktober 2023. Wawancara dilakukan menggunakan bahasa Minangkabau. Jawaban-jawaban dan ekspresi partisipan dianalisis dengan menggunakan pendekatan linguistik budaya yang meliputi analisis metafora budaya. ada tiga konsepsi penyakit yang ditemukan yaitu penyakiit sebagai benda bergerak, penyakit sebagai kepemilikan, dan penyakit sebagai hukuman. dari ragam konsepsi yang ditemukan tergambar bahwa kognisi masyarakat Minangkabau tentang ‘penyakit’ dilatari dari eksistensi paganisme dan Islamisme. Temuan ini berguna bagi pemangku kepentingan tertentu untuk membuat kebijakan dan menjalankan suatu program guna tercapainya efektivitas dan efisiensi.
Bahan Ajar Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA) Tingkat Pemula Berbasis Budaya Cirebon Indrya Mulyaningsih; Emah Khuzaemah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.6784

Abstract

This study aims to produce teaching materials for BIPA learning based on Cirebon culture. The method used is 4D which includes: Define or define, Design or design, Develop or develop, and Disseminate or disseminate. The definition stage is carried out by conducting Focus Group Discussions (FGD). The design stage refers to the results of the DKT. The development phase includes: validation of content and media experts, limited trial, and DKT. The research period is from July 2020 to November 2021. After going through four stages, it can be concluded that the teaching materials that have been prepared can be used for BIPA students, especially in Cirebon. Further research can be in the form of updating these teaching materials, for example in the form of e-books or others to make them easier to use. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar pembelajaran BIPA berbasis budaya Cirebon. Metode yang digunakan adalah 4D yang meliputi: Define atau pendefinisian, Design atau perancangan, Develop atau pengembangan, dan Disseminate atau penyebaran. Tahap pendefinisian dilakukan dengan melakukan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT). Tahap perancangan mengacu pada hasil DKT. Tahap pengembangan meliputi: validasi pakar konten dan media, uji coba terbatas, dan DKT. Waktu penelitian dari Juli 2020 sampai November 2021. Setelah melalui empat tahap dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang telah disusun dapat digunakan bagi pembelajar BIPA, khususnya di Cirebon. Penelitian selanjutnya dapat berupa pemutakhiran dari bahan ajar ini, misalnya dalam bentuk e-book atau lainnya supaya lebih mudah digunakan.
Ekspresi Eufemisme dalam Surat Kabar di Kota Palu Ali Karim; Julia Marfuah; Muhammad Aqil; Fadly A. Karim
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.6726

Abstract

The topic discussed in this article is the use of euphemisms in newspapers. The aim is to describe the synonymy of euphemisms in newspapers in terms of collocation, distribution, emotive meaning and meaning components. The steps taken in this research include three stages, namely: (1) data collection stage, (2) data analysis stage, and (3), data analysis results presentation stage. The method used in collecting data is the siak method with note-taking technique. The methods used in data analysis are the matching method with referential matching techniques and the distributional method with techniques for direct elements, expansion techniques, and replacement techniques. The methods used in presenting the results of data analysis are formal methods and informal methods. The results of the research show that the use of euphemisms in newspapers is not perfectly synonymous with the linguistic form they replace based on analysis of collocation, distribution, emotive meaning and meaning components. Apart from that, the use of euphemisms in newspapers tends to hide certain intentions so as not to disturb the public. AbstrakTopik yang dibahas dalam artikel ini adalah penggunaan eufemisme dalam surat kabar. Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan sinonimi eufemisme dalam surat kabar ditinjau dari kolokasi, distribusi, makna emotif, dan komponen makna. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi tiga tahap, yaitu: (1) tahap pengumpulan data, (2) tahap analisis data, dan (3) tahap penyajian hasil analisis data. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode siak dengan teknik catat. Metode yang digunakan dalam analisis data adalah metode padan dengan teknik padan referensial dan metode distribusional dengan teknik unsur langsung, teknik perluasan, dan teknik penggantian. Metode yang digunakan dalam penyajian hasil analisis data adalah metode formal dan metode informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan eufemisme dalam surat kabar tidak sepenuhnya sinonim dengan bentuk kebahasaan yang digantikannya berdasarkan analisis kolokasi, distribusi, makna emotif, dan komponen makna. Selain itu, penggunaan eufemisme dalam surat kabar cenderung menyembunyikan maksud tertentu agar tidak meresahkan masyarakat.
Bentuk Tindak Tutur Ekspresif dalam Tayangan Mata Najwa Serial “Gaduh Tiga Periode”. Laili Etika Rahmawati; Zulfa Destia Isnaini; Zahy Riswahyudha Ariyanto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.4126

Abstract

Najwa's eyes are often the basis for people's opinions and feelings being expressed. The expressive speech acts in Mata Najwa's talk show entitled "Three Periods of Noise" provide an illustration of how society responds to important and even controversial issues. This research aims to describe the form of expressive speech acts in the Mata Najwa serial "Gaduh Tiga Period". This research uses a qualitative descriptive research method with the steps: (1) selection of material and context, (2) data collection, (3) identification of expressive speech acts, (4) classification and categorization, (5) analysis of language and speaking style, (6) interpretation of meaning and context, (7) critical analysis, (8) presentation of results, and (9) conclusion. This research data uses the form of oral data delivered by speakers in the Mata Najwa serial "Gaduh Tiga Period". The technique used in this research uses listening and note-taking techniques. Test the validity of the data using theoretical triangulation by linking existing theories with the data collected. After the data is collected, it is then analyzed to draw conclusions. The results of this research show that it consists of (1) 8 forms of expressive speech acts of greeting, (2) 14 forms of expressive speech acts of hope, (3) 4 forms of expressive speech acts of blaming, (4) 4 forms of expressive speech acts of praising, (5) 4 forms of expressive speech acts of approval, (6) 2 forms of expressive speech acts of gratitude, and (7) 4 forms of expressive speech acts of thanks. The conclusion of this research shows that the expressive speech acts in the Mata Najwa serial with the topic "Gaduh Tiga Period" show that there is diversity in the expression of views, both supportive and non-supportive. AbstrakMata Najwa seringkali menjadi basis opini dan perasaan masyarakat diungkapkan. Tindak tutur ekspresif dalam gelar wicara Mata Najwa bertajuk “Gaduh Tiga Periode” memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat merespons isu penting bahkan kontroversial. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk tindak tutur ekspresif dalam tayangan Mata Najwa serial “Gaduh Tiga Periode”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah: (1) pemilihan materi dan konteks, (2) pengumpulan data, (3) identifikasi tindak tutur ekspresif, (4) klasifikasi dan kategorisasi, (5) analisis bahasa dan gaya berbicara, (6) penafsiran makna dan konteks, (7) analisis kritis, (8) penyajian hasil, dan (9) penyimpulan. Data penelitian ini menggunakan wujud tuturan data lisan yang disampaikan oleh penutur dalam acara Mata Najwa serial “Gaduh Tiga Periode”. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik simak dan catat. Uji validitas data menggunakan triangulasi teori dengan cara mengaitkan teori-teori yang ada dengan data yang terkumpul. Setelah data terkumpul kemudian dianalisis untuk mendapatkan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdiri dari (1) 8 bentuk tindak tutur ekspresif salam, (2) 14 bentuk tindak tutur ekspresif berharap, (3) 4 bentuk tindak tutur ekspresif menyalahkan, (4) 4 bentuk tindak tutur ekspresif memuji, (5) 4 bentuk tindak tutur ekspresif menyetujui, (6) 2 bentuk tindak tutur ekspresif bersyukur, dan (7) 4 bentuk tindak tutur ekspresif terima kasih. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tindak tutur ekspresif dalam serial Mata Najwa dengan topik “Gaduh Tiga Periode” terdapat keanekaragaman dalam ekspresi pandangan baik yang mendukung maupun yang tidak.
Language Accommodation in Speak Communities in Banyumas District Gita Anggria Resticka; Erwita Nurdiyanto; Gigih Ariastuti Purwandari
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.5154

Abstract

Language diversity gives rise to language phenomena (language contact, language borrowing, language shift, language maintenance and language accommodation). Even though Indonesian appears to be the state or unified language, the role of regional languages and foreign languages (English) is quite influential in social life. The purpose of this research is to provide information regarding trends in linguistic phenomena that will occur in the languages spoken in Banyumas Regency. This research also aims to determine the communication strategy and level of accommodation of the speech community in Banyumas Regency. In addition, this research aims to identify diversity in the use of Indonesian, regional languages and foreign languages based on the characteristics of respondents in the areas used in Banyumas Regency. Another aim is to identify which social communities in each language community are more dominant in linguistic adaptation while other communities are not dominant. Identifying whether there are differences in the tendency to make linguistic adaptations between speech communities that are prone to conflict (disharmony) and speech communities that are not susceptible to social conflict (harmony). Data collection used listening techniques and depth interviews. Data analysis using interactive models. The results of this research indicate that there are challenges to linguistic adaptation of speech communities in Banyumas Regency which are related to differences in language, culture and communication styles that exist with different backgrounds. Then, there is a linguistic adaptation strategy for the speech community in Banyumas Regency which is related to communicative competence. The language accommodation of the Banyumas spoken community towards Indonesian is very accommodating, towards mother tongue it is also accommodating, but towards second regional languages and foreign languages it is not accommodating. AbstrakKeberagaman bahasa memunculkan fenomena bahasa (kontak bahasa, peminjaman bahasa, pergeseran bahasa, pemertahanan bahasa dan akomodasi bahasa). Meskipun bahasa Indonesia tampil menjadi bahasa negara atau bahasa persatuan, tetapi peran bahasa daerah dan bahasa asing (Inggris) cukup berpengaruh di dalam kehidupan bermasyarakat. Tujuan penelitian ini adalah sebagai informasi mengenai kecenderungan fenomena kebahasaan yang akan terjadi pada bahasa-bahasa yang dituturkan di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini juga bertujuan mengetahui strategi komunikasi dan tingkat akomodasi masyarakat tutur di Kabupaten Banyumas. Selain itu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keberagaman terhadap penggunaan bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa asing berdasarkan karakteristik responden di wilayah pakai di Kabupaten Banyumas. Tujuan lainnya yaitu mengidentifikasi komunitas sosial manakah dalam masing-masing masyarakat bahasa tersebut yang lebih dominan melakukan adaptasi linguistik sementara komunitas lainnya tidak dominan. Mengidentifikasi adakah perbedaan kecenderungan melakukan adaptasi linguistik di antara masyarakat tutur yang rentan terhadap konflik (disharmoni) dengan masyarakat tutur yang tidak rentan terhadap konflik social (harmoni). Pengumpulan data menggunakan teknik simak dan depth interview. Analisis data menggunakan model interaktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tantangan adaptasi linguistik masyarakat tutur di Kabupaten Banyumas yang berkaitan dengan perbedaan bahasa, budaya dan gaya komunikasi yang ada dengan latar belakang yang berbeda. Kemudian, terdapat strategi adaptasi linguistik masyarakat tutur di Kabupaten Banyumas yang berkaitan dengan kompetensi komunikatif. Akomodasi bahasa masyarakat tutur Banyumas terhadap bahasa Indonesia sangat akomodatif, terhadap bahasa ibu juga akomodatif, tetapi terhadap bahasa daerah kedua dan bahasa asing tidak akomodatif.
Perubahan Ekologi dan Pergeseran Bahasa Melayu di Pedalaman Kapuas Hulu, Kalimantan Barat Yusriadi Yusriadi; Ismail Ruslan; Chong Shin; Dedy Ari Asfar
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.6202

Abstract

This research aims to describe the changes in the natural, physical, and social environment that occur in society and their influence on language. This research method uses a qualitative descriptive method. The data in this study are the speeches of speakers and community leaders regarding ecological and language changes in the Malay community in Riam Panjang, Kapuas Hulu. Data collection techniques were obtained through field observations, interviews, and documentation studies. The data analysis technique uses an ethnographic record analysis model by grouping thematically based on research objectives. After grouping, the data were described and interpreted, then concluded according to the focus of this research. The results of this study show that the natural, physical, and social environment has changed dramatically in the last three decades. The construction of the Southern Crossing Road linking Kapuas Hulu-Sintang (and Pontianak) and Malaysia in the northern crossing was a pivotal point of change. The population's relationship with the outside world has become more intense, while the relationship with the forest, fields, and rivers has become tenuous. The Malay language has shifted. The vocabulary of farming, games, rivers, fish and fishing gear, and river transportation has been abandoned. On the other hand, the previously monolingual society became a multilingual society. This research shows that changes in the natural and social environment greatly affect the shift in community language use. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan lingkungan alam, fisik, dan sosial yang terjadi dalam masyarakat dan pengaruhnya terhadap bahasa. Metode penelitian ini mengunakan metode deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini tuturan penutur dan tokoh masyarakat berkenaan dengan perubahan ekologi dan bahasa dalam masyarakat Melayu di Riam Panjang, Kapuas Hulu. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model analisis catatan etnografi dengan mengelompokkan secara tematik berdasarkan tujuan penelitian. Setelah dikelompokkan, selanjutnya data dideskripsikan dan diinterpretasikan, lalu disimpulkan sesuai fokus penelitian ini. Hasil penelitian ini memperlihatkan perubahan lingkungan alam, fisik, dan sosial terjadi drastis dalam tiga dekade terakhir ini. Pembangunan Jalan Lintas Selatan yang menghubungkan Kapuas Hulu-Sintang (dan Pontianak) serta Malaysia di lintas utara merupakan titik anjak perubahan. Hubungan penduduk dengan dunia luar semakin intens, sedangkan hubungan dengan hutan, ladang, dan sungai menjadi renggang. Bahasa Melayu mengalami pergeseran. Kosa kata perladangan, permainan, sungai, ikan dan alat tangkap, pengangkutan sungai telah ditinggalkan. Pada sisi lain, masyarakat yang sebelumnya monolingual menjadi masyarakat multilingual. Penelitian ini menunjukkan perubahan lingkungan alam dan sosial sangat memengaruhi pergeseran pemakaian bahasa masyarakat.
Analisis Wacana Kritis dalam Bidang Pendidikan: Analisis Bibliometrik Yusep Ahmadi F; Yusuf Anbar Firdausi; Wawan Gunawan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.5311

Abstract

This research aims to present trends and developments in the results of critical discourse analysis research in the field of education using bibliometric analysis methods. The data source for this research is AWK journal articles in the education sector indexed by Scopus. Data was collected via the Publis or Perish application, with the keywords Critical Discourse Analysis, Education and Learning; year of publication in the last 5 years, namely between 2017 s.d. 2022, Scopus indexer. Based on this technique, 52 journal articles were obtained which were declared valid according to the problem and research objectives. The research results show that the trending problem or issue studied by AWK researchers in the field of education is the issue of representation and underrepresentation of cultural values and certain cultural groups in educational discourse; the most widely used AWK model is the Fairclough AWK model; The trend for most AWK research publications in the field of education is in the journal Linguistics and Education. Meanwhile, the research country that has contributed the most to AWK research in the field of education is researchers from the United States, while the development of AWK research in the field of education indexed by Scopus in the last 5 years was mostly published in 2018. This research implies that discourse is a means of practicing social representation which is still conditional on inequality. Even though it is in the context of education, inequality still occurs. Starting from there, the recommendation for AWK researchers in the field of education is to be able to research and develop a balanced communication formula, both communication in learning resources and in the learning process. AbstrakPenelitian ini  bertujuan untuk menyajikan  tren dan perkembangan hasil penelitian  analisis wacana kritis dalam bidang pendidikan dengan metode analisis bibliometrik.  Sumber data penelitian ini adalah artikel-artikel jurnal   AWK bidang pendidikan yang terindeks Scopus. Data dijaring melalui aplikasi Publis or Perish, dengan kata kunci Critical Discourse Analysis, Education dan Learning; tahun terbit 5 tahun terakhir, yaitu antara 2017 s.d. 2022, pengindeks Scopus. Berdasarkan teknik tersebut didapatkan 52 artikel jurnal yang dinyatakan valid sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian. Hasil penelitian menujukkan  bahwa tren masalah atau isu yang diteliti peneliti AWK dalam bidang pendidikan adalah isu representasi dan underrepresented terhadap nilai kultural dan kelompok kultural tertentu dalam sebuah wacana pendidikan; model AWK yang paling banyak digunakan adalah model AWK Fairclough; tren tempat publikasi penelitian AWK dalam bidang pendidikan yang paling banyak adalah pada jurnal Linguistics and Education. Sementara itu, negara peneliti yang paling banyak berkontribusi dalam penelitian AWK bidang pendidikan adalah peneliti asal Amerika Serikat, sedangkan perkembangan penelitian AWK bidang pendidikan yang terindeks Scopus dalam 5 tahun tahun terakhir ini banyak diterbitkan pada tahun 2018. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa wacana merupakan sarana praktik representasi sosial yang masih syarat dengan ketimpangan. Sekalipun itu pada konteks pendidikan, ketimpangan itu masih terjadi. Berangkat dari sana, rekomendasi bagi peneliti AWK bidang pendidikan adalah untuk dapat meneliti dan mengembangkan formula komunikasi yang seimbang, baik komunikasi yang ada dalam sumber belajar maupun dalam proses pembelajaran.