cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
ISSN : 23388528     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Ranah: Journal of Language Studies is published by the National Agency for Language Development and Cultivation. It is a research journal which publishes various research reports, literature studies and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics and other scientific fields related to language studies. It is published periodically twice a year in June and December. Each article published in Ranah will undergo assessment process by peer reviewers.
Arjuna Subject : -
Articles 312 Documents
Ciri dan Pola Kalimat Simpleks Bahasa Yewena di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura Papua Grace J.M. Mantiri; Henry Ch. Iwong
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.3928

Abstract

Yewena is one of the languages spoken in four villages namely Yepase, Wambena, Doromena, and Yewena in Depapre District. The purpose of this study is to describe the characteristics and syntactic patterns of simplex sentences in Yewena language. Simplex sentence is a structural linguistic study that is at the syntactic level. This research utilizes a structural approach with an inductive descriptive method. There are two research techniques used, namely data collection techniques and data analysis techniques. The data collection technique uses observation and literature review techniques, while the data analysis technique is inductive data analysis. Based on the research results, the simplex sentence of Yewena language has the same characteristics as other languages. The characteristics are consisting of one clause, there are obligatory and arbitrary elements, short and long forms, and verbal and nonverbal predicates. The Yewena language simplex sentence patterns found are SP, SOP, SKOP, SOKP, and SKP patterns.  AbstrakBahasa Yewena merupakan salah satu bahasa yang dituturkan di beberapa tempat yaitu Yepase, Wambena, Doromena, dan Yewena di Distrik Depapre. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan ciri dan pola sintaksis kalimat simpleks pada bahasa Yewena. Kalimat simpleks merupakan sebuah kajian linguistik struktural yang berada pada tingkatan sintaksis. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan struktural dengan metode deskriptif induktif. Teknik penelitian yang digunakan ada dua yaitu teknik pengumpulan data dan teknik analisis data. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan tinjauan kepustakaan, sedangkan teknik analisis data adalah dengan analisis data induktif. Berdasarkan hasil penelitian, kalimat simpleks bahasa Yewena memiliki ciri yang sama dengan bahasa lainnya. Ciri-cirinya yaitu terdiri dari satu klausa, terdapat unsur wajib dan manasuka, berwujud pendek dan panjang, serta berpredikat verbal dan nonverbal. Pola kalimat simpleks bahasa Yewena yang ditemukan yaitu pola SP, SOP, SKOP, SOKP, dan SKP. 
Multilingualisme dan Kesetiaan Berbahasa Indonesia: Studi Lanskap Linguistik di Ruang Publik Pamekasan, Madura Agus Purnomo Ahmad Putikadyanto; M. Arifin Alatas; Albaburrahim Albaburrahim; Mochammad Ilyas Junjunan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.4584

Abstract

This study aims to describe the types of languages used and the loyalty to the Indonesian language in public spaces in Pamekasan. The research data consists of 704 linguistic objects in public spaces in Pamekasan such as street names, brand names, and business establishments, names of places of worship, names of trade complexes, names of offices, names of educational institutions, names of hospitals, building names, organization names, names of public facilities, road signs, and banners and product service advertisements. The results revealed the use of multiple languages in public spaces in Pamekasan, with eight language variations, including Indonesian, Indonesian and English, Indonesian and Arabic, English, Indonesian and Javanese, Indonesian and Madurese, Madurese, and other languages. Language loyalty to Indonesian in public spaces in Pamekasan was found to be relatively high, with pure Indonesian language use at 63%, Indonesian and other languages at 28%, and the use of regional and foreign languages at 9%. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis bahasa dan bagaimana kesetiaan berbahasa Indonesia di ruang publik Pamekasan. Data penelitian ini sejumlah 704 objek linguistik di ruang publik Pamekasan seperti nama jalan, merk dagang & lembaga usaha, nama tempat ibadah, nama kompleks perdagangan, nama perkantoran, nama lembaga pendidikan, nama rumah sakit, nama gedung, nama organisasi, nama fasilitas umum, nama rambu umum & penunjuk jalan, dan nama spanduk dan iklan layanan produk. Hasilnya ditemukan multilingualisme penggunaan bahasa di ruang publik Pamekasan dengan 8 jenis variasi bahasa yakni bahasa Indonesia, bahasa Indonesia & Inggris, bahasa Indonesia & Arab, bahasa Inggris, bahasa Indonesia & Jawa, bahasa Indonesia & Madura, bahasa Madura, dan bahasa lainnya. Kesetiaan berbahasa Indonesia di ruang publik Pamekasan ditemukan masih cukup tinggi. Penggunaan bahasa Indonesia murni ditemukan sebanyak 63%, bahasa Indonesia dan bahasa lain 28%, dan bahasa daerah dan bahasa asing sebanyak 9%.
Analisis Metode Pembelajaran Daring pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama Kota Palu Yunidar Yunidar; Gusti Alit Saputra; Syamsuddin Syamsuddin
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.6413

Abstract

The purpose of this study was to analyze online learning methods in the Indonesian language subject at the Palu City Middle School (SMP). This research is a qualitative descriptive research to get an overview of the application of online learning methods in Indonesian language subjects. The subjects of this study were 180 junior high school students, 18 teachers, and 125 parents. Data collection was carried out using an instrument in the form of a Google form questionnaire to obtain data about online Indonesian language learning in junior high schools. The results showed that the readiness of media and online learning applications was very good, which was marked by support from schools and parents in the form of laptop/cellphone facilities and the use of the Google Classroom application, teacher's room, WhatsApp, and other applications developed by the school. Then, the school, teachers, and parents also play an optimal role by providing support for internet/wifi data packages. For students and parents, the weaknesses of learning Indonesian online are the limited meeting time and the internet network which is often interrupted so that students do not understand the material provided by the teacher. Therefore, students, teachers and parents agree that face-to-face learning will be carried out again. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis metode pembelajaran daring pada mata pelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama (SMP) kota Palu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif untuk mendapatkan gambaran penerapan metode pembelajaran daring pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Subjek penelitian ini yaitu siswa SMP berjumlah 180, guru berjumlah 18, dan orang tua siswa berjumlah 125. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa angket google form untuk memperoleh data tentang pembelajaran bahasa Indonesia secara daring di SMP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan media dan aplikasi pembelajaran secara daring sangat baik yang ditandai dengan dukungan dari sekolah maupun orang tua berupa fasilitas laptop/handphone dan pemanfaatan aplikasi google classroom, ruang guru, whatsapp, dan aplikasi lain yang dikembangkan oleh sekolah. Kemudian, pihak sekolah, guru, dan orang tua juga memberikan peran yang maksimal dengan memberikan dukungan paket data internet/wifi. Bagi siswa dan orangtua, kelemahan pembelajaran bahasa Indonesia secara daring adalah waktu pertemuan yang terbatas serta jaringan internet yang sering terganggu sehingga siswa kurang mengerti materi yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu, siswa, guru, dan orang tua setuju jika pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan.
Embracing Cultural Threads: A Qualitative Exploration of English Language Teaching Materials Within an Intercultural Perspective in an Indonesian Multilingual Context Billy Nathan Setiawan
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.6840

Abstract

This study aimed to investigate the selection, adaptation and use of English language teaching and learning (ELTL) resources from an intercultural perspective (Liddicoat & Scarino, 2013) in order to provide greater sensitivity to the local context. In recent decades, scholars in the field have attempted to move towards the inclusion of local content in ELTL, including in Indonesia, in order to challenge the 'native speaker' paradigm, which has been criticized for lacking sensitivity to the local context. However, little research has been conducted to examine the role of resources in providing opportunities for intercultural interaction between students' own languages and cultures and English (as the target language and culture). A case study within a qualitative paradigm, involving document analysis and an in-depth teacher interview, was conducted at an international university in Indonesia. Thematic analysis of the data revealed that the selection, adaptation and use of resources that invited attentiveness to language and beyond, and that took into account students' 'lifeworlds' ('home cultures and languages, and the trajectory of experiences, interests, motivations and values developed from them' [Liddicoat & Scarino, 2013]), provided engagement and meaningfulness in ELTL in the local context. The study also showed that 'both the range of texts and what teachers do with them' (Kohler, 2020) were fundamental to providing meaningful ELTL experiences in the local context. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pemilihan, adaptasi, dan penggunaan materi pengajaran dan pembelajaran bahasa Inggris (ELTL) dari perspektif lintas budaya (Liddicoat & Scarino, 2013) untuk memberikan kepekaan yang lebih besar terhadap konteks lokal. Dalam beberapa dekade terakhir, para ahli di bidang ini telah mencoba untuk bergerak menuju inklusi konten lokal dalam ELTL, termasuk di Indonesia, untuk menantang paradigma 'penutur asli', yang telah dikritik karena kurangnya kepekaan terhadap konteks lokal. Namun, hanya sedikit penelitian yang telah dilakukan untuk meneliti peran materi belajar mengajar dalam memberikan kesempatan untuk interaksi antarbudaya antara bahasa dan budaya siswa dan bahasa Inggris (sebagai bahasa dan budaya target). Sebuah studi kasus dalam paradigma kualitatif, yang melibatkan analisis dokumen dan wawancara mendalam dengan guru, dilakukan di sebuah universitas internasional di Indonesia. Analisis tematik terhadap data menunjukkan bahwa pemilihan, adaptasi, dan penggunaan materi belajar mengajar yang mengundang perhatian terhadap bahasa dan sekitarnya, serta mempertimbangkan 'dunia kehidupan' siswa ('budaya dan bahasa asal, serta lintasan pengalaman, minat, motivasi, dan nilai-nilai yang dikembangkan dari mereka' [Liddicoat & Scarino, 2013]), memberikan keterlibatan dan kebermaknaan dalam ELTL dalam konteks lokal. Studi ini juga menunjukkan bahwa 'baik ragam teks dan apa yang dilakukan guru dengan teks tersebut' (Kohler, 2020) merupakan hal yang mendasar dalam memberikan pengalaman ELTL yang bermakna dalam konteks lokal.
Struktur Mikro Sintaksis Takarir Instagram Ridwan Kamil dan Ganjar Pranowo Silvia Ratna Juwita; Dadang S. Anshori; Vismaia S. Damaianti; Yeti Mulyati; Oktian Fajar Nugroho; Nurul Febrianti; Imam Sutanto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.5727

Abstract

Instagram is one of the social media of choice for 1.39 billion active users, including regional leaders who use this platform to convey information through captions in their content. The captions of Ridwan Kamil and Ganjar Pranowo, as regional heads with millions of followers, were chosen by researchers to be analyzed using a qualitative approach and critical discourse analysis (AWK) developed by Teun A. Van Dijk. Data taken from the Instagram captions of the two regional heads during the Cianjur earthquake disaster period at the end of November 2022 and the 2023 New Year's Eve floods that occurred in Semarang. The aim of this research is to identify the syntactic microstructure of regional leaders' Instagram caption discourse, which includes: (1) coherence, (2) sentence structure, and (3) use of pronouns. The results of the research show that there are similarities and differences in the estimates of the two regional leaders on each microstructural element. In Ridwan Kamil, elements of causal and positive coherence, active and passive sentence forms, as well as the use of the pronouns "I" and "we" were found. Meanwhile, in Ganjar Pranowo, elements of causal and positive coherence, active sentence forms, and the use of the pronoun "we" were found. AbstrakInstagram menjadi salah satu media sosial pilihan bagi 1,39 miliar pengguna aktif, termasuk pemimpin daerah yang menggunakan platform ini untuk menyampaikan informasi melalui takarir dalam kontennya. Takarir dari Ridwan Kamil dan Ganjar Pranowo, sebagai kepala daerah dengan jutaan pengikut, dipilih oleh peneliti untuk dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis wacana kritis (AWK) yang dikembangkan oleh Teun A. Van Dijk. Data diambil dari takarir Instagram kedua kepala daerah tersebut selama periode bencana gempa Cianjur pada akhir November 2022 dan banjir malam pergantian tahun baru 2023 yang terjadi di Semarang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi struktur mikro sintaksis wacana takarir Instagram dari pemimpin daerah tersebut, yang mencakup: (1) koherensi, (2) susunan kalimat, dan (3) penggunaan kata ganti. Hasil penelitian menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan dalam takarir kedua pemimpin daerah pada setiap elemen struktur mikro. Pada Ridwan Kamil, ditemukan elemen koherensi sebab-akibat dan positif, bentuk kalimat aktif dan pasif, serta penggunaan kata ganti "saya" dan "kita". Sementara pada Ganjar Pranowo, ditemukan elemen koherensi sebab-akibat dan positif, bentuk kalimat aktif, serta penggunaan kata ganti "kita".
Ciri Morfosintaktis Afiks Derivasional {Ber-} dalam Konstruksi Verba Deadjektival Bahasa Indonesia Danang Satria Nugraha
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.6041

Abstract

The affix {ber-} in Indonesian is commonly used to derive adjectives into deadjectival verbs (VDaj). This research aimed to describe the affix {ber-} morphosyntactic characteristics in constructing Indonesian VDaj. The data was collected from bI sentence constructions marked by the affix {ber-} or its variations, which were obtained from the Indonesian-Leipzig Corpora Collection (ILCC) and the SEAlang Library Indonesian Corpus (SLIC). The analysis produced two findings based on the technique of immediate constituent and the theory of Derivational Morphology and Derivational Syntax. Firstly, the morphosyntactic features of affix {ber-} in constructing Indonesian VDaj can only be formed if the affix {ber-} and adjectives are involved. Secondly, there were three tendencies of morphosyntactic characteristics of affix {ber}: (a) creating one-valence VDaj, (b) forming intransitive VDaj, and (c) embedding predicative and appositive functions of VDaj. The analysis of the morphosyntactic features of the affix {ber-} is expected to contribute to the advancement of Derivational Morphology and Derivational Syntax theories by elucidating the formation and function of VDaj bI. The results of this research are helpful for further exploration, especially for exploring the morphosyntactic characteristics of other derivational affixes in Indonesian verb constructions.  AbstrakVerba bahasa Indonesia (bI) merupakan kategori gramatikal yang cenderung bersifat resipien universal karena dapat menerima berbagai kategori kata sebagai unsur dasar konstruksinya. Secara morfologis, kata sifat atau adjektiva merupakan salah satu kategori yang lazim dikonstruksikan sebagai verba deadjektival (VDaj) melalui derivasi bersama afiks {ber-}. Kajian ini bertujuan memerikan ciri-ciri morfosintaktis afiks {ber-} dalam konstruksi VDaj bI tersebut. Data kajian ini berwujud konstruksi kalimat bI yang memiliki konstituen VDaj berpemarkah afiks {ber-} atau variasi realisasi morfologisnya seperti {ber-an}, {ber-R}, dan {ber-kan}. Sumber data kajian ini adalah Indonesian – Leipzig Corpora Collection (ILCC) dan SEAlang Library Indonesian Corpus (SLIC). Data dikumpulkan melalui teknik simak/observasi leksikal. Data dianalisis berdasarkan teknik bagi-unsur-langsung dengan mengacu pada teori Morfologi Derivasional dan Sintaksis Derivasional. Berdasarkan analisis, dihasilkan dua temuan sebagai berikut. Pertama, secara gramatikal, ciri morfosintaktis afiks {ber-} dalam konstruksi VDaj bI dapat terbentuk hanya jika afiks {ber-} beserta adjektiva terlibat bersama-sama sebagai input pada proses pembentukan kata. Kedua, secara khusus, terdapat sekurang-kurangnya tiga kecenderungan ciri morfosintaktis afiks {ber-}, yaitu (a) menciptakan VDaj bervalensi satu, (b) membentuk VDaj intransitif, dan (c) menyematkan fungsi predikatif dan apositif pada VDaj. Analisis terhadap ciri morfosintaktis afiks {ber-} ini diharapkan dapat memperkaya teori Morfologi Derivasional dan Sintaksis Derivasional dalam menjelaskan pembentukan dan fungsi VDaj bI. Hasil kajian ini juga bermanfaat bagi penelitian selanjutnya, khususnya untuk penelusuran ciri morfosintaktis afiks-afiks derivasional lainnya dalam konstruksi verba bI.
Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Melayu Jambi Berbasis Saintifik Akhyaruddin Akhyaruddin; Agus Setyonegoro; Hilman Yusra; Oky Akbar
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.6814

Abstract

This research aims to develop scienitific-based Jambi Malay language teaching material product. The method used to achieve the objektives is Research and Development (R&D) with Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation procedures. To find out the teaching material product use, the researcher use validition questionnaire method of material experts, scientific experts, language experts, graphics experts. Questionnaeres were also distributed to students as users of teaching material products to find out the practicality of teaching material products, which include: material, language, graphics and ease of use. All data obtained through questionnaires were processed with descriptive statistics. Using Likert scale criteria, expert validation results show that the material aspect of teaching materials has a percentage of 84,44% with a very valid category; the scientific aspect obtained a percentage of 92% with a very valid category; the language aspect obtained  a percentage of 96% with a very valid category; the graphic aspect obtained a percentage of 90% with a very valid category. Based on the results of user practitioner test, material feasibility wa sobtained at 95%. Thus, the resulting Jambi Malay language teaching material products are suitable for implementation in the lecture process. AbstrakPenelitian ini bertujuan mengembangkan produk bahan ajar bahasa Melayu Jambi berbasis saintifik. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan adalah Research and Development dengan prosedur Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. Untuk mengetahui kelayakan produk bahan ajar yang dikembangkan digunakan metode angket validasi ahli ahli materi, ahli saintifik, ahli bahasa, dan ahli grafika. Angket juga disebarkan kepada mahasiswa sebagai pengguna produk bahan ajar untuk mengetahui kepraktisan produk bahan ajar yang meliputi: materi, bahasa, grafika, dan kemudahan pengguna. Keseluruhan data yang diperoleh melalui angket diolah dengan statistik deskriptif. Dengan menggunakan kriteria skala likert, hasil validasi ahli menunjukkan bahwa aspek materi bahan ajar memiliki persentase 84,44% dengan kategori sangat valid; aspek saintifik memperoleh persentase 92% dengan kategori sangat valid; aspek bahasa memperoleh persentase 96% dengan kategori sangat valid; aspek grafika memperoleh persentase 90% dengan kategori sangat valid. Berdasarkan hasil uji praktisi pengguna, diperoleh kelayakan produk buku bahan ajar sebesar 95% dengan kategori sangat layak. Dengan demikian, produk bahan ajar bahasa Melayu Jambi yang dihasilkan layak diimplementasikan dalam proses pembelajaran.
Indonesian Language Teachers' Skills to Write Academic Articles in Reputable Journals Indrya Mulyaningsih; Nurul Azmi; Bagaskara Nur Rochmansyah; Nana Priajana
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.6739

Abstract

Teachers are fundamentally required to have pedagogical, personality, social, and professional competencies. One of their continuing professional competencies is to conduct academic publications. This study aims to explore academic publications in journals conducted by Indonesian language subject teachers at the high school level in Three Regions of Cirebon and the factors affecting them. The data were obtained by interviewing 138 out of 152 teachers because some school principals did not allow the interview and no permission letter from the National Unity and Political Agency, especially in Cirebon City. The interview results show that 35% of teachers have never published in Academic journals. This condition is partly due to the following factors: a) time, b) the purpose of the journal, c) lack of confidence, d) difficulty in researching online, e) age approaching retirement, f) technology stuttering, g) not accustomed to writing, h) lack of motivation, i) need approval from the supervisor, j) lack of knowledge on how to create an article, k) there is no demand and l) availability of funds. Therefore, there needs to be efforts from several parties, especially the school community. For example, the Subject Teacher Conference (MGMP) activities can also be utilized to introduce and familiarize teachers with Academic publications. School principals provide facilities for teachers to be able to conduct academic publications. AbstrakGuru pada dasarnya dituntut memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Salah satu kompetensi profesional berkelanjutan mereka adalah melakukan publikasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui publikasi akademik pada jurnal yang dilakukan oleh guru mata pelajaran bahasa Indonesia tingkat SMA di Wilayah III Cirebon dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Data diperoleh dengan mewawancarai 138 dari 152 guru karena beberapa kepala sekolah tidak mengizinkan wawancara dan tidak ada surat izin dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik khususnya di Kota Cirebon. Hasil wawancara menunjukkan bahwa 35% guru belum pernah mempublikasikan di jurnal Akademik. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh beberapa faktor berikut: a) waktu, b) tujuan jurnal, c) kurang percaya diri, d) kesulitan melakukan riset online, e) usia mendekati pensiun, f) gagap teknologi, g) belum terbiasa untuk menulis, h) kurangnya motivasi, i) perlu persetujuan dosen pembimbing, j) kurangnya pengetahuan tentang cara membuat artikel, k) tidak ada permintaan dan l) ketersediaan dana. Oleh karena itu, perlu adanya upaya dari beberapa pihak khususnya warga sekolah. Misalnya saja kegiatan Konferensi Guru Mata Pelajaran (MGMP) juga dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan dan membiasakan guru terhadap publikasi Akademik. Kepala sekolah memberikan fasilitas kepada guru untuk dapat melakukan publikasi akademik
Kesalingmengertian Lek Bidayuh Pegunungan Kalimantan Barat Fandis Nggarang
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.6835

Abstract

This study aims to inform intelligibility among the lects of ten Mountain Bidayuh sub-tribes, namely Tengon, Sapatoi, Butok, Liboy, Kowotn, Tamong, Tawang, Suti Bamayo, Badeneh, and Tadietn. The data was collected through participatory dialect mapping (DM), a procedure developed by Hasselbring (2010, 2012) and then modified by Anderbeck (2018). The data was then analyzed using the descriptive qualitative method. The result of dialect mapping shows us that the lects which can be paired due to having mutual intelligibility are Butok-Liboy, Liboy-Kowotn, Kowotn-Tamong, Tamong-Tawang, Tawang-Sapatoi, Sapatoi-Tengon, and Suti Bamayo-Badeneh. It is estimated that, for language conservation, speakers of both parts can share the translation material in their own lect. The results of the analysis also show that except for Tamong-Tawang and Suti Bamayo-Badeneh, intelligibility in Mountain Bidayuh tends to be formed from exposure (acquired intelligibility), especially among adult speakers. This is supported by the geographical reality in the Mountain Bidayuh, where two lects with mutual intelligibility are spoken in adjacent areas, which allows for close contact and understanding between speakers of each lect. Among the relationships of mutual intelligibility of these lects, Tamong-Tawang and Suti Bamayo-Badeneh are strongly suspected of having inherent intelligibility, because the relationships of the pair is high, marked by a good level of mutual understanding among child speakers, so the two pairs of lect can probably group themselves to form one common language. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan kesalingmengertian sepuluh lek sub suku Bidayuh pegunungan, yaitu  Tengon, Sapatoi, Butok, Liboy, Kowotn, Tamong, Tawang, Suti Bamayo, Badeneh, dan Tadietn di Kalimantan Barat. Data dikumpulkan melalui prosedur pemetaan dialek, sebuah prosedur yang dikembangkan oleh Hasselbring (2010, 2012) dan dimodifikasi oleh Anderbeck (2018). Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara kualitatif deskriptif. Hasil proses pemetaan dialek menunjukkan bahwa lek yang memiliki kesalingmengertian adalah Butok-Liboy, Liboy-Kowotn, Kowotn-Tamong, Tamong-Tawang, Tawang-Sapatoi, Sapatoi-Tengon, dan Suti Bamayo-Badeneh. Dalam konteks konservasi bahasa, diperkirakan penutur lek yang berpasangan ini dapat berbagi materi terjemahan dalam lek mereka masing-masing. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa, kecuali untuk Tamong-Tawang dan Suti Bamayo-Badeneh, kesalingmengertian antara lek-lek Bidayuh pegunungan lainnya cenderung dibentuk dari eksposur (acquired intelligibility), khususnya di kalangan penutur dewasa. Hal ini didukung oleh kenyataan geografis di wilayah Bidayuh pegunungan, di mana lek-lek yang memiliki kesalingmengertian dituturkan di wilayah yang berdekatan, yang memungkinkan terjalinnya kontak yang erat dan kesepahaman di antara penutur masing-masing lek. Di antara relasi kesalingmengertian lek-lek tersebut, Tamong-Tawang dan Suti Bamayo-Badeneh diduga kuat memiliki kesalingmengertian yang inheren (inherent intelligibility), karena kesalingmengertian pasangan lek tersebut begitu tinggi, ditandai oleh adanya level pemahaman yang baik di antara penutur anak-anak. Kedua pasangan lek tersebut kemungkinan dapat mengelompok sendiri dalam satu bahasa yang sama.
Taksonomi Fungsi Lanskap Linguistik Taman Ayodia dan Taman Puring Jakarta Selatan Hilda Hilaliyah; Mulyono Mulyono; Mintowati Mintowati; Agusniar Dian Savitri; Djodjok Soepardjo
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 1 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i1.7063

Abstract

Ayodia Park and Puring Park are one of the parks located in DKI Jakarta. In the park there are many linguistic landscapes that can be studied and analyzed in the midst of English globalization. The Indonesian language is present as the national language for the development and education it deserves. This research aims to study the use of language for markers on two parks in the Capital viewed from information and symbolic functions. This method of research is qualitatively descriptive using the approaches of Spolsky and Coper (1997) as well as Landry and Bourhis (1991). The results of the research showed that the use of markers in Ayodia Park and South Jakarta Puring Park has several boards, namely officials, zone labels, regulations, ban boards and warning boards. These boards use a variety of materials, ranging from cement, zinc, fiber, posters with a combination of attractive colors, like red, white, green, orange, and yellow. The language used is mostly Indonesian, there are also some monolinguistic and bilingual boards. From the overall analysis it is known that of several elements of LL Sapolsky and Cooper namely (1) street signs, (2) advertising signes, (3) warnings and prohibitions, (4) the names of buildings, (5) information sign, (6) warning sign, (7) objects, and (8) graffiti used in Puring Park and Ayodya Park. These eight elements have very important functions and utilities for the users of the public area, that is, the general public. By using and managing these linguistic landscape elements well, parks like Puring Park and Ayodya Park can be a pleasant, informative, and safe environment for its visitors. AbstrakTaman Ayodia dan Taman Puring adalah salah satu taman yang terletak di DKI Jakarta. Dalam taman terdapat banyak lanskap linguistik yang dapat dikaji dan dianalisis di tengah pengglobalisasian bahasa Inggris. Bahasa Indonesia hadir sebagai bahasa nasional untuk pembangunan dan pendidikan yang sudah sepatutnya. Penelitian ini bertujuan mengkaji penggunaan bahasa untuk papan penanda pada dua taman di Ibu Kota dilihat dari fungsi informasi dan simbolik. Metode penelitian ini kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan Spolsky dan Coper (1997) serta Landry dan Bourhis (1991). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan papan penanda di Taman Ayodia dan Taman Puring Jakarta Selatan terdapat beberapa papan, yaitu papan peresmian, papan tanda pelabelan zona area, papan peraturan, papan larangan, dan papan peringatan. Papan ini menggunakan berbagai material, mulai dari semen, seng, fiber, poster dengan kombinasi warna-warna yang mengundang atensi, seperti merah, putih, hijau, orange, dan kuning. Bahasa yang digunakan lebih banyak berbahasa Indonesia, ada pula beberapa papan yang monolinguistik dan bilingual. Dari keseluruhan analisis diketahui bahwa dari beberapa elemen LL Sapolsky dan Cooper yaitu (1) tanda jalan, (2) tanda iklan, (3) peringatan dan larangan, (4) nama-nama gedung, (5) tanda informasi, (6) tanda peringatan, (7) objek, dan (8) grafiti digunakan di Taman Puring dan Taman Ayodya. Kedelapan elemen ini memiliki fungsi dan kegunaan yang sangat penting bagi pengguna area publik yaitu masyarakat luas. Dengan memanfaatkan dan mengelola elemen-elemen lanskap linguistik ini dengan baik, taman seperti Taman Puring dan Taman Ayodya dapat menjadi lingkungan yang menyenangkan, informatif, dan aman bagi pengunjungnya.