cover
Contact Name
Yushak Soesilo
Contact Email
yushak@sttintheos.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.dunamis@sttintheos.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 25413937     EISSN : 25413945     DOI : -
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani dengan nomor ISSN 2541-3937 (print), ISSN 2541-3945 (online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta. Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu Teologi Kristen, terutama yang bercirikan Injili-Pentakosta, dan bidang Pendidikan Kristiani.
Arjuna Subject : -
Articles 355 Documents
Tenun sebagai Media Terapi dalam Konseling Pastoral bagi Perempuan Korban Kekerasan di Sumba Asnath Niwa Natar
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 1 (2023): Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v8i1.1221

Abstract

Abstract. Sumbanese women often experience silencing in their lives so that they are unable to speak out including on the violence they experience. This silencing also occurs in the field of pastoral care, because it has been going on for long, causes women to be unable to speak up and tell their problems, even when given the opportunity to speak once. It is, therefore, necessary to think of creative ways, other than verbal conversation, to encourage women, especially those who have experienced violence, to tell their stories using cultural elements that are around them and that they live with on a daily live, namely woven fabric. Woven fabric is one example of the use of art as a medium in pastoral counseling. For this reason, a description and analysis of art therapy and Sumba woven fabric from a feminist perspective was carried out. The results of the analysis showed that art therapy through Sumbanese woven cloth can encourage the involvement (emancipation) of women victims of violence in efforts to discover and heal themselves.Abstrak. Perempuan Sumba sering mengalami pembungkaman dalam kehidupan mereka sehingga mereka tidak mampu bersuara termasuk atas kekerasan yang mereka alami. Pembungkaman ini juga terjadi dalam bidang pendampingan pastoral, yang karena sudah terlalu lama berlangsung, menyebabkan kaum perempuan tidak mampu untuk berbicara dan menceritakan masalah mereka, bahkan ketika diberi kesempatan bicara sekali pun. Karena itu perlu dipikirkan cara-cara kreatif, selain bentuk percakapan verbal, untuk mendorong kaum perempuan, secara khusus mereka yang mengalami kekerasan untuk bercerita dengan menggunakan unsur budaya yang ada di sekitar mereka dan yang mereka hidupi sehari-hari, yaitu kain tenun. Kain tenun menjadi salah satu contoh penggunaan seni sebagai media dalam konseling pastoral. Untuk itu akan dilakukan deskripsi dan analisis tentang terapi seni dan kain tenun Sumba dari perpektif feminis. Hasil analisis menunjukkan bahwa terapi seni melalui kain tenun Sumba dapat mendorong keterlibatan (emansipasi) perempuan korban kekerasan dalam upaya penemuan dan penyembuhan dirinya.
Konstruksi Pemikiran Paulus Tentang Kristus Ubat Pahala Charles Silalahi; Winfrid Frans Pasutua Sidabutar
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 1 (2023): Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v8i1.1021

Abstract

Abstract. This article aimed to examine the construction of Paul's thoughts on Christ. The main issues guiding this study are: how did Paul construct his thoughts on Christ? We will sketch the construction of Paul's thoughts on Christ through a historic-factual approach to his writings. Furthermore, the main result of this study states that Paul emphasised the superiority of Jesus Christ. Paul's construction of Christ laid the foundation for the believers so that their spiritual lives were directed to prioritise Christ. This construction of Paul's thought was based on God being attainable through His only begotten Son as the way God designed for humankind so that humankind could have the salvation.Abstrak. Tujuan dari artikel ini untuk mengkaji konstruksi pemikiran Paulus tentang Kristus. Masalah utama yang memandu penelitian ini adalah: bagaimana Paulus mengonstruksikan pemikirannya tentang Kristus? Kami akan membuat sketsa konstruksi pemikiran Paulus tentang Kristus melalui pendekatan historis faktual terhadap tulisan-tulisannya. Selanjutnya, hasil utama dari penelitian ini menyatakan bahwa, Paulus menekankan keutamaan Yesus Kristus. Konstruksi pemikiran Paulus tentang Kristus meletakkan dasar bagi umat sehingga kehidupan rohani mereka diarahkan untuk memprioritaskan Kristus. Konstruksi pemikiran Paulus ini didasarkan pada Allah yang dapat dicapai melalui Anak-Nya yang tunggal sebagai cara yang Allah rancangkan bagi umat manusia sehingga umat dapat memperoleh keselamatan.
Sebuah Proposal bagi Konsep Tindakan Ilahi di dalam Mukjizat dan Hukum Alam Hendra Winarjo
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 1 (2023): Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v8i1.941

Abstract

Abstract. For a long time, Hume's thesis that miracles are a violation of natural laws has had a great influence on the discussions of miracles and natural laws among philosophers and theologians. This article proposes the concept of miracles as divine acts that do not contradict the laws of nature, but rather go beyond the laws of nature and can even be compatible with the laws of nature. By drawing on the concept of miracles and natural laws in relation to the notion of Neo-Classical Special Divine Action (NCSDA) of Jeffrey Koperski, I argue that although miracles and natural law are two distinct forms of divine action, yet miracles can be reckoned as divine acts compatible with natural causes and share the same purpose as divine providence to humans. As a result, rather than contradicting miracles and natural laws, these two forms of divine action actually complement each other to witness the act of God’s power controlling His creation.Abstrak. Tesis Hume bahwa mukjizat adalah pelanggaran terhadap hukum alam sudah sekian lama memiliki pengaruh besar terhadap diskusi tentang mukjizat dan hukum alam di antara para filsuf dan teolog. Artikel ini menawarkan sebuah konsep mukjizat sebagai tindakan ilahi yang tidak bertentangan dengan hukum alam, tetapi melampaui hukum alam dan bahkan juga kompatibel dengan hukum alam. Dengan mendulang konsep mukjizat dan hukum alam dalam kaitannya dengan gagasan Neo-Classical Special Divine Action (NCSDA) dari Jeffrey Koperski, penulis berargumen bahwa sekalipun mukjizat dan hukum alam merupakan dua bentuk tindakan ilahi yang dapat dibedakan, tetapi mukjizat dapat diperhitungkan sebagai tindakan ilahi yang kompatibel dengan penyebab natural, serta berbagi tujuan yang sama dengan pemeliharaan ilahi kepada manusia. Sebagai hasilnya, daripada mempertentangkan mukjizat dan hukum alam, kedua bentuk tindakan ilahi ini justru saling melengkapi untuk menyaksikan tindakan kuasa Allah yang mengendalikan ciptaan-Nya sejarah.
Kebaktian Pembaharuan Janji Baptis: Sebuah Perwujudan Integrasi Ibadah dan Penggembalaan Budianto Lim
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 1 (2023): Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v8i1.1054

Abstract

Abstract. This article discusses the importance of the worship service for renewing the baptismal promise. Such renewal can be seen as a way of integrating worship and pastoral ministry for the strengthening of Christian identity. Christian identity marked by baptism has been viewed as a formality and God’s people become a spectator. The promise made in baptism as an important milestone of discipleship has slowly lost its influence because many forget it. Thus, the church needs to guide the people into the process of renewing such a promise. This study was conducted by literature research methods to analyze the biblical-theological meaning of Jesus' baptism in Matthew 3:13-17. The results of this study showed that baptismal vows need to be renewed continuously and facilitated through the holding of religious services. The service of renewing baptismal promises is not a re-baptization but the maintenance of the meaning and power of the baptism that has been received.Abstrak. Artikel ini membahas pentingnya kebaktian pembaharuan janji baptis sebagai wujud integratif antara ibadah dan penggembalaan demi penguatan identitas Kristiani. Identitas yang ditandai melalui ritual baptisan seringkali dipandang sebatas formalitas dan diikuti sebagai tontonan bagi umat yang sudah dibaptis. Janji baptis sebagai tonggak awal kemuridan menjadi kurang berpengaruh dalam perjalanan iman karena sudah dilupakan. Gereja perlu menuntun umat Allah ke dalam momen pembaharuan janji baptis dalam konteks kebaktian demi memelihara kesinambungan komitmen sebagai komunitas murid Kristus. Kajian ini menggunakan metode riset literatur untuk menganalisa makna biblis-teologis baptisan Yesus dalam Matius 3:13-17. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa janji baptis perlu dibaharui secara kontinu dan difasilitasi lewat pelaksanaan kebaktian. Kebaktian pembaharuan janji baptisan bukanlah pembatisan ulang namun pemeliharan makna dan kekuatan baptisan yang telah diterima.
Allah adalah Perisai: Studi Penelitian Puitis-Afektif Mazmur 3 Armand Barus
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 1 (2023): Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v8i1.1012

Abstract

Abstract. This article attempts to enrich the varieties of reading methods of psalm. The enrichment is conducted using an approach called poetic-affective criticism. Poetic-affective criticism is a method of reading a lament psalm by seriously paying attention to the elements in lament psalms, such as major characteristics of Hebrew poetry, lament, feeling, the concept of God, and mood. Applying poetic-affective criticism to Psalm 3 produces different meaning from that was suggested by most scholars. By this study it was revealed that psalmist succeeds in dealing with physical and verbal assaults against the psalmist because God is a shield of the psalmist. In and through the suffering, the psalmist is able to know God as a shield that protects the psalmist.Abstrak. Artikel ini merupakan suatu upaya untuk memperkaya keragaman metode penafsiran mazmur. Pengayaan itu dilakukan dengan memakai suatu pendekatan penelitian puitis-afektif (poetic-affective criticism). Penelitian puitis-afektif adalah metode pembacaan mazmur ratapan dengan memperhatikan unsur-unsur terkandung dalam mazmur ratapan seperti karakteristik utama puisi Ibrani, yaitu keluhan, perasaan, konsep Allah dan perubahan suasana teks (mood). Penerapan penelitian puitis-afektif terhadap Mazmur 3 dapat menghasilkan pemaknaan berbeda dengan tafsiran kebanyakan penafsir. Dalam hal ini terungkap pemazmur berhasil menghadapi serangan fisik dan perkataan terhadap dirinya karena Allah adalah perisainya. Melalui dan di dalam penderitaannya pemazmur mengenal Allah sebagai perisai yang melindunginya.
Implementing Holistic Mission within The Frame of Religious Moderation Timotius Sukarna; Ibiang O. Okoi O. Okoi
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 1 (2023): Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v8i1.1098

Abstract

The Indonesian government issued a new concept of the religiosity called religious moderation. Religious conflicts that occur as a result of religious radicalism that arise due to economic, social, and political factors are the reason for the issuance of this discourse. Carrying out the mission holistically is one of the solutions to the problems mentioned above. This article was written with the aim of explaining how to carry out a holistic mission within the framework of religious moderation in Indonesia. Through library studies, this research examines literature related to holistic mission, religious moderation, and related themes. The finding showed that efforts to carry out a holistic mission within the framework of religious moderation in Indonesia can be carried out in a number of ways understanding General Revelation as a media of preaching the Gospel, prioritizing human values, and implementing multicultural education in Christian churches and schools.
Sabat dan Sikap Eskapis: Analisis Struktur Ibrani 4:1-16 Ekawaty Rante Liling; Lidya Siah
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 1 (2023): Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v8i1.1027

Abstract

Abstract. The Sabbath is a topic that continues to receive attention in Christianity. However, it also becomes a continuing source of debate its practical application. The Sabbath often turns to mere escapism, which is, having time for oneself. Therefore, through an exegetical-expositional method—a thorough analysis of the structure of the Epistle to Hebrews 4—this research presents the biblical basis for entering the Sabbath. The structural analysis in this study showed that the entire letter to Hebrews 4 is an inseparable series. Hebrews 4:1-11 shows that the Sabbath is God's promise that is still progressively valid. Verse 12-13 emphasizes the role of God's word as the basis for entering the resting place, and verse 14-16 suggests the significance of the High Priest, Jesus Christ, who is the intermediary for entering the resting place. With these three biblical foundations, the Sabbath is no longer an escapism but a momentum to entering God’s own rest.Abstrak. Sabat merupakan topik yang terus mendapat perhatian di dalam Kekristenan. Namun, Sabat juga terus menjadi sumber perdebatan pada penerapan praktisnya. Seringkali Sabat  juga hanya menjadi sekadar eskapisme, yakni waktu bagi diri sendiri. Karena itu, melalui metode eksegetikal-eksposisional – analisis menyeluruh pada struktur Surat Ibrani 4 – penelitian ini hendak menyajikan landasan biblis untuk memasuki Sabat. Analisis struktur dalam penelitian ini menunjukkan bahwa keseluruhan surat Ibrani 4 merupakan rangkaian yang tak terpisahkan. Ibrani 4:1-11 menunjukkan bahwa Sabat sebagai hari perhentian merupakan janji Allah yang masih berlaku secara progresif. Sementara Ibrani 4:12-13 menekankan peran firman Allah sebagai landasan untuk memasuki tempat perhentian, dan Ibrani 4:14-16 mengemukakan mengenai peran Imam Besar yaitu Yesus Kristus yang menjadi pengantara untuk memasuki tempat perhentian. Dengan ketiga landasan biblis ini, maka Sabat tidak lagi sekadar menjadi eskapisme, tetapi menjadi momentum untuk memasuki perhentian Allah sendiri.
Teologi Trauma Berbasis Budaya Orang Basudara Bagi Korban Konflik Komunal Tahamata, Marfan Ferdinanda; Tampake, Tony; Supratikno, Agus
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 9, No 1 (2024): Oktober 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v9i1.1417

Abstract

Abstract. The conflict that occurred in Ambon in 1999 between Christians and Muslims still left deep trauma for the people in the city of Ambon, especially for members of the congregation at the Church X. This research aimed to examine the post conflict traumatic experience on the Church X conggregations and  seeking remedial steps for them. The method used in this research was a case study with a trauma theology approach based on the culture of the Orang Basudara.The research result showed that the integration of trauma theology with local cultural philosophy can be an effective means for healing trauma resulting from communal conflict because it departs from a philosophy of life that has been lived together regardless of religious differences.Abstrak. Konflik yang terjadi di Ambon pada tahun 1999 antara umat Kristen dan Muslim masih meninggalkan trauma yang mendalam bagi masyarakat di kota Ambon, khususnya bagi warga jemaat di Gereja X. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengalaman traumatik di Gereja X pasca konflik sekaligus mengupayakan langkah-langkah pemulihan bagi korban di Gereja X. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan teologi trauma berbasis budaya Orang Basudara. Hasil penelitian menunjukan bahwa integrasi antara teologi trauma dengan falsafah budaya lokal dapat menjadi sarana efektif bagi penyembuhan trauma akibat konflik komunal oleh karena berangkat dari falsafah hidup yang selama ini dihidupi bersama terlepas dari adanya perbedaan agama.
Keterbukaan Sebagai Bentuk Keramahtamahan Dalam Konteks Keragaman Orientasi Seksual Lay Lukas Christian
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 2 (2024): April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v8i2.1001

Abstract

Abstract. The fact that there is diversity in sexual orientation is often unacceptable, especially by heterosexual groups. This then triggered acts of violence against people with homosexual orientation. Researcher believe that violence will not occur if each people promotes hospitality. The aim of this research is to find a model of hospitality that is relevant in the context of sexual orientation diversity. This research was conducted through Focus Group Discussion (FGD) with three gay individuals from three different religions. Next, the results of the FGD were put into dialogue with various theological understandings about hospitality. In the end, this research showed that stigmatization, which is the root of acts of violence, can be suppressed if there is an openness to accept the others, in this case people with different sexual orientations.Abstrak. Kenyataan adanya keberagaman orientasi seksual seringkali tidak dapat diterima terutama oleh kelompok heteroseksual. Hal itu kemudian memicu terjadinya tindak kekerasan terhadap orang-orang dengan orientasi homoseksual. Peneliti meyakini bahwa kekerasan tersebut tidak akan terjadi apabila masing-masing pihak mengembangkan sikap keramahtamahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan model keramahtamahan yang relevan dalam konteks keragaman orientasi seksual. Penelitian ini dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) kepada tiga orang individu gay dari tiga agama yang berbeda. Selanjutnya, hasil FGD didialogkan dengan berbagai pemahaman teologis tentang keramahtamahan. Pada akhirnya penelitian ini menunjukkan bahwa stigmatisasi, yang menjadi akar tindak kekerasan, dapat ditekan apabila ada sikap keterbukaan untuk menerima sang liyan, dalam hal ini orang-orang dengan orientasi seksual yang berbeda.
Pela dan Perjamuan Kudus dalam Lensa Teologi Sakramental Susan Ross Michael Bryan; Hendra Gunawan Simatupang
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 2 (2024): April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v8i2.1205

Abstract

Abstract. This article discussed the differences of pela as a Moluccan cultural rite and Holly Supper as a Christian rites in the reality of Islam-Christian reconciliation in Maluku based on sacramental theology view of Susan Ross. In Maluku, both Islam and Christian community attack each other due to the distrust that arise from a conflict that happened in 1999. Both Holly Supper, as a Christian rite, and pela, as a Moluccan sacred cultural rite, offeres the uniqueness of the reconciliation process. Using Susan Ross’ perspective on sacramental theology, pela and the Holly Supper could be developed to a new sacred rite that embraces both Christian and Islam community to maintain the reconciliation in Maluku without eliminating the theological perspective on how God works in Moluccan society.Abstrak. Artikel ini mendiskusikan perbedaan pela sebagai ritus budaya Maluku dan Perjamuan Kudus sebagai ritus Kristen dalam rekonsiliasi Islam-Kristen di Maluku melalui lensa teologi sakramental Susan Ross. Di Maluku, kelompok Islam dan Kristen saling menyerang sebagai akibat dari adanya konflik 1999. Baik Perjamuan Kudus maupun pela menawarkan keunikan proses rekonsiliasi. Dengan menelisik cara berpikir sakramental Susan Ross, pela dan Perjamuan Kudus dapat dikembangkan menjadi ritus baru dapat merangkul komunitas Kristen dan Islam dalam menjaga stabilitas rekonsiliasi tanpa mengurangi perspektif teologi bagaimana Allah bekerja dalam komunitas Maluku.