cover
Contact Name
ALBACORE
Contact Email
albacore@apps.ipb.ac.id
Phone
+62251-8622935
Journal Mail Official
albacore@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
Jl. Agatis Kampus IPB, Dramaga – Bogor 16680 Telp. (0251)8622935
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Albacore : Jurnal Penelitian Perikanan Laut
ISSN : 25491326     EISSN : 2655559X     DOI : 10.29244
Albacore (Jurnal Penelitian Perikanan Laut) merupakan salah satu jurnal ilmiah di Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK IPB. Jurnal ini melanjutkan Bulletin PSP yang telah hadir lebih dahulu sejak tahun 1992 hingga tahun 2013.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2021): Albacore" : 11 Documents clear
ANALISIS EKONOMI BAGAN PERAHU DI KECAMATAN PONELO KEPULAUAN Muh. Yasin Umsini Putra Oliii; Sintia Buheli; Sri Yuningsih Noor
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.1.001-006

Abstract

Sumberdaya perikanan di Kabupaten Gorontalo Utara adalah salah satu potensi yang dapat dijadikan sebagai penopang perekonomian masyarakat khususnya bagi masyarakat yang memiliki profesi sebagai nelayan. Kabupaten Gorontalo Utara memiliki sektor perikanan yang didominasi oleh perikanan skala kecil, hat tersebut ditandai dengan banyaknya penggunaan alat tangkap sederhana yang digunakan oleh nelayan. Bagan perahu merupakan satu dari banyaknya alat tangkap yang banyak dioperasikan oleh nelayan tradisional di Kecamatan Ponelo Kepulauan. Riset ini dilakukan untuk menganalisis keuntungan yang diperoleh dari pengoperasian alat tangkap bagan perahu di Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan studi kasus dan dianalisis secara deskriptif. Analisis ekonomi yang digunakan untuk menghitung pendapatan usaha perikanan tangkap pada bagan perahu yaitu analisis total biaya, analisis pemasukan dan analisis keuntungan. Hasil riset menunjukkan total biaya yang dibutuhkan bagan perahu lampu putih dan lampu biru sebesar Rp3.142.000 yang didapat dari biaya tetap yang ditambahkan dengan biaya variabel. Jumlah pendapatan yang didapatkan oleh nelayan bagan perahu lampu biru lebih yaitu sebesar Rp34.005.000 sedangkan pendapatan bagan perahu lampu biru sebesar Rp31.870.000. Pendapatan atau keuntungan akhir yang didapat oleh nelayan bagan perahu selama melakukan 8 kali trip yaitu bagan perahu lampu putih sebesar Rp14.284.000 dan bagan perahu lampu biru sebesar Rp15.351.500. Kata kunci: alat tangkap, bagan, nelayan, keuntungan
FASILITAS DAN TINGKAT OPERASIONAL PELABUHAN PERIKANAN DI KABUPATEN ACEH SELATAN PROVINSI ACEH Kurniawan Fazri; Iin Solihin; Mustaruddin
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.1.007-016

Abstract

Potensi sumberdaya ikan di perairan Kabupaten Aceh Selatan yang termasuk pada Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP 572) relatif besar mencapai 1.240.975 ton per tahun. Namun demikian, produksi perikanan laut di wilayah ini masih relatif rendah yaitu baru mencapai 30.961,73 ton pada tahun 2020 (DKP Aceh Selatan 2020). Artinya kontribusi Kabupaten Aceh Selatan masih relatif rendah. Salah satu faktor yang diduga menyebabkan masih rendahnya pemanfaatan sumberdaya ikan di Kabupaten Aceh Selatan adalah keterbatasannya infrastruktur pelabuhan perikanan yang ada di wilayah ini. Padahal keberadaan pelabuhan perikanan ini sangat penting bagi pemanfaatan sumberdaya perikanan laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fasilitas dan tingkat operasional pelabuhan perikanan di Kabupaten Aceh Selatan. Analisis yang digunakan adalah metode komparatif yang membandingkan fasilitas dan operasional antar pelabuhan perikanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan fasilitas dasar di pelabuhan perikanan di Kabupaten Aceh Selatan rata rata baru mencapai 58,2%. Pelabuhan perikanan dengan tingkat operasional tertinggi adalah PPI Meukek yang mencakup penyediaan bahan bakar minyak, es, air bersih, frekuensi kunjungan kapal, produksi hasil tangkapan, pedagang dan pengolah. Kata kunci: Aceh Selatan, fasilitas, operasional, pelabuhan perikanan
INTENSITAS KEBISINGAN BERDASARKAN UMUR MESIN KAPAL PAYANG DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PALABUHANRATU Santi Febrianti; Budhi Hascaryo Iskandar; Vita Rumanti Kurniawati
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu menjadi homebase bagi 39 kapal payang yang menggunakan mesin motor tempel 40 PK. Mesin motor tempel tersebut merupakan sumber kebisingan utama pada kapal payang. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi intensitas kebisingan mesin motor tempel pada berbagai rentang umur mesin dan pola perawatan mesin kapal payang di PPN Palabuhanratu dan memetakan distribusi intensitas kebisingan. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan membandingkan dengan Nilai Ambang Batas (NAB). Sampel kapal yang digunakan sebanyak 4 unit dengan umur mesin, 1 tahun, 6 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai intensitas kebisingan pada saat kondisi stasioner sebesar 59,2-77,5 dB(A) dan pada saat kondisi full rpm sebesar 70,3-104 dB(A). Nilai intensitas kebisingan tersebut dipengaruhi oleh pola perawatan mesin akan tetapi tidak dipengaruhi oleh umur mesin. Paparan intensitas kebisingan pada kapten kapal dan ABK berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh rpm mesin pada saat stasioner dan full rpm. Kapten kapal dan ABK yang berada di buritan menerima paparan intensitas kebisingan diatas Nilai Ambang batas (NAB) sedangkan ABK yang berada di haluan menerima paparan intensitas kebisingan di bawah NAB. Pemilik kapal dan nelayan harus meningkatkan kepedulian terhadap pola perawatan mesin. Kata kunci: kapal payang, kebisingan, NAB, motor tempel, PPN Palabuhanratu
KEBUTUHAN BAHAN BAKAR MINYAK PADA KAPAL PERIKANAN DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PALABUHANRATU Daisy Rahma Rizal; Fis Purwangka; Mohammad Imron; Sugeng Hari Wisudo
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.1.029-042

Abstract

Fasilitas penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti Instalasi Bahan Bakar Minyak merupakan salah satu fasilitas fungsional pelabuhan perikanan. Namun nelayan masih kesulitan dalam mengakses BBM dengan harga normal dan stok yang tersedia tidak pasti. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi jenis dan menghitung jumlah BBM yang dibutuhkan kapal perikanan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu, mengidentifikasi jenis dan menghitung jumlah BBM yang disediakan penyalur BBM resmi, serta menentukan persediaan kebutuhan BBM dan merekomendasikan distribusi BBM yang baik bagi nelayan di PPN Palabuhanratu. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis matematika sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan PPN Palabuhanratu membutuhkan BBM jenis solar dan bensin. Kebutuhan solar subsidi oleh kapal ≤30 GT sebesar 568.041 liter selama satu tahun. Kebutuhan solar industri sebanyak 2.556.000 liter dalam setahun. BBM jenis bensin yang dibutuhkan sebesar 676.202 liter dalam setahun. Rekomendasi untuk pendistribusian BBM yang lebih baik adalah melakukan penyederhanaan administasi perikanan agar mudah dalam mengakses BBM subsidi (satu identitas multifungsi), menggunakan perhitungan hasil penelitian untuk referensi kuota BBM dan membuka informasi akses kuota ketersediaan BBM untuk sektor perikanan pada setiap tempat pengisian BBM di sekitar PPN Palabuhanratu, dan membuat mekanisme terstruktur dan pengawasan ketat untuk pembelian BBM subsidi dan non-subsidi. Kata kunci: BBM, bensin, kapal perikanan, PPN Palabuhanratu, solar
ANALISIS KELAYAKAN USAHA ARMADA PUKAT CINCIN TERI DENGAN PERBANDINGAN UKURAN KAPAL 5GT, 10GT, DAN 15GT Koko Hardito; Chandra Nainggolan; Priyanto Rahardjo
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.1.043-055

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis usaha perikanan dari kelayakannya pada armada pukat cincin teri dengan perbandingan ukuran yang dinilai memiliki perbedaan yang signifikan, yaitu 5 GT, 10 GT dan 15 GT. Penelitian dilakukan mulai tanggal 1 Oktober 2020 sampai 31 Desember 2020 pada armada pukat cincin teri yang berpangkalan di PPP. Larangan, Kabupaten Tegal. Metode survei yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara meninjau, mengamati, dan mengambil data dan informasi di lapangan secara langsung dengan menggunakan alat pengumpulan data yang utama berupa kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa investasi pukat cincin teri ukuran kapal 5 GT membutuhkan modal usaha sebesar Rp363.134.000, investasi pukat cincin teri ukuran kapal 10 GT membutuhkan modal usaha sebesar Rp535.200.000, sedangkan investasi pukat cincin teri ukuran kapal 15 GT membutuhkan modal usaha sebesar Rp646.220.000. Kriteria investasi pukat cincin teri ukuran kapal 5 GT menghasilkan NPV= Rp290.569.703, IRR= 14%, R/C ratio= 1,38, BEP= Rp109.682.332, PP= 4,42, dan ROI= 22,68%. Kriteria investasi pukat cincin teri ukuran kapal 10 GT menghasilkan NPV= Rp470.448.109, IRR= 15%, R/C ratio= 1,41, BEP= Rp150.856.418, PP= 4,04, dan ROI= 24,85%. Sedangkan kriteria investasi pukat cincin teri ukuran kapal 15 GT menghasilkan NPV= Rp141.442.890, IRR= 4%, R/C ratio= 1,24, BEP= Rp192.493.553, PP= 8,93, dan ROI= 11,20%. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pukat cincin teri ukuran kapal 10 GT dan 5 GT lebih layak dilanjutkan dan dijalankan dibandingkan pukat cincin teri ukuran kapal 15 GT. Kata kunci: investasi, kelayakan usaha, PPP Larangan, pukat cincin teri
TINGKAT KESEJAHTERAAN NELAYAN JARING RAMPUS DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN CITUIS DENGAN PENDEKATAN NILAI TUKAR NELAYAN Puti Lenggo Geni; Sugeng Hari Wisudo; Budhi Hascaryo Iskandar; Dwi Putra Yuwandana
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.1.057-069

Abstract

Nilai tukar nelayan dapat berubah pada setiap periodenya, perubahan nilai tukar nelayan dapat berdampak terhadap kesejahteraan nelayan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik alat tangkap dan nelayan jaring rampus di wilayah Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cituis, menghitung nilai tukar nelayan jaring rampus di wilayah PPI Ikan Cituis, dan merumuskan strategi perbaikan tingkat kesejahteraan nelayan jaring rampus di wilayah PPI Cituis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan cara accidental sampling terhadap 3 kelompok responden utama, yakni: nelayan pemilik, juru mudi, serta nelayan buruh dari unit penangkapan jaring rampus. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif, analisis nilai tukar nelayan, dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal jaring rampus yang beroperasi di PPI Cituis memiliki ukuran 3-6 GT. Nelayan jaring rampus di PPI Cituis memiliki nilai tukar nelayan yang bernilai lebih dari satu. Angka NTN tertinggi diperoleh kelompok nelayan pemilik. Strategi yang mendukung peningkatan kesejahteraan nelayan jaring rampus di PPI Cituis yang didapat dari analisis SWOT adalah strategi SO yang terdiri, pengembangan pengetahuan & keterampilan penangkapan ikan nelayan, pemanfaatan peluang pemasaran, menggunakan kelebihan pendapatan sebagai sarana peningkat nilai tambah hasil tangkapan. Kata kunci: jaring rampus, nilai tukar nelayan, PPI Cituis
PENGARUH PERBEDAAN JUMLAH MULUT BUBU TERHADAP HASIL TANGKAPAN DI PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU Fajar Sidik; Zulkarnain Sueb; Mokhamad Dahri Iskandar
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.1.071-079

Abstract

Salah satu alat tangkap yang digunakan nelayan di perairan Kepulauan Seribu adalah bubu. Keberhasilan operasi penangkapan dengan bubu dipengaruhi oleh konstruksi mulut bubu baik bentuk maupun jumlahnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan jumlah dan bobot hasil tangkapan bubu maupun sebaran ukuran ikan yang dominan tertangkap. Penelitian dilakukan di Perairan Kepulauan Seribu pada bulan Mei 2018. Metode penelitian ini adalah uji coba penangkapan bubu dengan jumlah total bubu yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 20 buah. Pada penelitian ini digunakan bubu dengan jumlah mulut satu buah sebanyak 10 bubu sedangkan bubu dengan jumlah mulut dua buah sebanyak 10 bubu. Hasil penelitian ini memperoleh jumlah tangkapan berupa ikan keya-keya sebanyak 169 ekor (7.099 gram), betok hitam 161 ekor (6.187 gram), strip delapan 152 ekor (1.850 gram). Hasil uji t yang dilakukan terhadap bobot hasil tangkapan bubu dengan jumlah mulut berbeda secara signifikan diperoleh bahwa bubu dengan jumlah mulut bubu sebanyak dua buah lebih efektif dibanding dengan jumlah mulut satu buah (P = 0,018). Hasil yang diperoleh juga menunjukan bahwa nilai Indeks Keanekaragaman Shannon Wiener bubu dengan jumlah mulut dua bubuh lebih tinggi dibanding dibandingkandengan bubu dengan jumlah mulut satu buah. Kata kunci: bubu tambun, hasil tangkapan, konstruksi, mulut bubu, pulau panggang
MUSIM PENANGKAPAN DAN KELAYAKAN HASIL TANGKAPAN LAYUR (Trichiurus spp) YANG BERBASIS DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PALABUHANRATU Zulkarnain; Wazir Mawardi; Ajeng Agia Pratiwi
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.1.091-101

Abstract

Ikan layur (Trichiurus spp) merupakan ikan demersal ekonomis penting dan salah satu komoditas ekspor yang potensial di PPN Palabuhanratu, Sukabumi. Ikan layur di Teluk Palabuhanatu dominan ditangkap menggunakan alat tangkap pancing layur. Informasi mengenai musim penangkapan dianggap sebagai faktor penting agar kegiatan penangkapan ikan efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola musim penangkapan ikan layur, CPUE, ukuran ikan yang layak tangkap, dan korelasi ukuran panjang mulut dan bukaan mulut layur. Penelitian ini merupakan studi kasus dengan metode deskriptif. Analisis data menggunakan metode rata-rata bergerak, analisis CPUE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola musim ikan layur terdapat pada bulan April, Juni, Agustus, September, Oktober, dan November berdasarkan nilai indeks musim penangkapan. CPUE tertinggi dari pancing layur tahun 2015-2019 terjadi pada tahun 2019 dan nilai CPUE bulanan tertinggi pada bulan Oktober. Ukuran rata-rata ikan layur lebih besar dari kali pertama matang gonad dan masuk ke dalam kategori layak tangkap. Korelasi antara panjang total dan panjang mulut serta lebar bukaan mulut dapat dijadikan acuan dalam menentukan panjang dan lebar mata pancing yang digunakan dalam alat tangkap pancing layur. Kata kunci: CPUE, layak tangkap, musim ikan, pancing layur
METODE KONSTRUKSI KAPAL DENGAN STRUKTUR BETON BERTULANG DAN KAYU (Studi Kasus pada Kapal Purse seine) Nusa Setiani Triastuti Azis; Budhi Hascaryo Iskandar
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.1.081-089

Abstract

Kelangkaan dan semakin mahalnya harga kayu menjadikan salah satu alasan untuk mengembangkan struktur kapal dengan paduan bahan beton dan kayu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan metode pembangunan kapal dengan struktur beton dan kayu. Secara singkat metode konstruksi kapal dengan struktur beton bertulang adalah membuat kombinasi kayu dan beton bertulang pada bagian-bagian tertentu kapal. Bagian-bagian tersebut terdiri dari: a) balok dek dan galar dari kayu, gading-gading dari beton dengan lambung dari kayu; b) lambung dan linggi dari kayu, lunas dari beton bertulang; c) linggi poros, linggi buritan dan lunas dari beton bertulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa a) metode pembuatan kapal dengan struktur beton-kayu dapat dilaksanakan; b) pembesian beton harus memenuhi syarat SNI yaitu selimut beton lebih dari 3 cm dan jarak antara pembesian minimal 2,5 cm. Persyaratan baut memenuhi syarat yaitu minimal diameter baut; dan c) waktu pelaksanaan kapal dengan struktur beton-kayu relatif lebih cepat 50 % dibanding kapal kayu. Kata kunci: kapal beton-kayu, struktur kapal, waktu pembuatan kapal
PERSEPSI SUPPLIER DAN NILAI TAMBAH RANTAI PASOK IKAN LAYUR DI PT PIB, PPN MUARA ANGKE Retno Muninggar; Muhamad Irfan; Iin Solihin; Tri Nanda Citra Bangun; Dwi Putra Yuwandana; Didin Komarudin
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 1 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.1.103-115

Abstract

Permasalahan yang dihadapi industri pengolahan ikan layur di PPN Muara Angke adalah ketidakpastian pasokan bahan baku. Ketersediaan bahan baku yang tidak pasti dapat menyebabkan ketidaklancaran pada proses produksi dan rendahnya utilitas industri perikanan. Untuk menilai efektivitas rantai pasok perlu menilai kelancaran informasi dan bahan baku serta nilai tambah produk. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan persepsi supplier terhadap kelancaran pasokan dari ikan layur, dan menghitung nilai tambah pengolahan ikan layur. Penelitian ini menggunakan metode case study dengan metode pengumpulan data dilakukan dengan accidental sampling. Analisis data menggunakan pendekatan skoring untuk menghitung persepsi dan metode Hayami untuk analisis nilai tambah. Persepsi supplier terhadap aliran informasi dan bahan baku menunjukkan hasil yang beragam, untuk supplier nelayan dari dalam PPN Muara Angke menunjukkan persepsi yang lebih baik karena adanya kemitraan dengan pihak PT PIB dan dukungan PPN Muara Angke berupa fasilitas pelabuhan. Nilai tambah pengolahan produk layur beku adalah Rp136.891,37/kg, hal ini menunjukkan bahwa usaha ikan layur beku menguntungkan. Faktor konversi memiliki nilai 1,58 yaitu setiap satu kg bahan baku ikan layur yang digunakan akan menghasilkan 1,58 kg output atau produk. Kata kunci: ikan layur, persepsi, PPN Muara Angke, PT PIB, rantai pasok

Page 1 of 2 | Total Record : 11