cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
lppmsyedza@gmail.com
Editorial Address
jln Prof.Dr.Hamka No..228 Padang
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Medika Saintika
ISSN : 20878508     EISSN : 25409611     DOI : 10.30633
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Kesehatan Medika Saintika adalah Jurnal Kesehatan berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Stikes Syedza Saintika Padang dua kali setahun pada setiap bulan Juni dan Desember. Proses penyerahan naskah terbuka sepanjang tahun. Semua naskah yang dikirim akan melalui peer review ganda dan ulasan editorial sebelum diberikan penerimaan publikasi. Dikelola sebagai media informasi dan pengetahuan ilmiah, Jurnal Kesehatan Medika saintika meliputi banyak literatur, artikel penelitian, dan studi kasus yang berfokus pada bidang Kebidanan, Ilmu Keperawatan, Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Biomedik.
Arjuna Subject : -
Articles 480 Documents
PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN, NILAI HEMATOKRIT DAN JUMLAH ERITROSIT PADA STROKE ISKEMIK DAN STROKE HEMORAGIK DIFFERENCES OF HEMOGLOBIN LEVEL, HEMATOCRITE VALUE AND THE NUMBER OF ERYTHROCYTE IN ISCHEMIC AND HEMORRHAGIC STROKE Annita Annita; Deswita Deswita; Al Kudri
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 11, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v11i2.767

Abstract

Stroke merupakan penyebab utama kecacatan fisik pada usia produktif dan lanjut usia. Viskositas darah pada penderita stroke dapat dilihat berdasarkan hasil pemeriksaan hematologi darah berupa peningkatan kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan jumlah eritrosit dari nilai normal yang dilakukan di laboratorium. Menilai kekentalan darah membantu penanganan stroke untuk mengurangi penyebaran kerusakan sel otak pada penderita stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan jumlah eritrosit pada stroke iskemik dan stroke hemoragik. Desain penelitian adalah studi cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada 60 subjek (30 pasien stroke iskemik dan 30 pasien stroke hemoragik) yang merupakan pasien IGD di RS Otak M. Hatta dari bulan Maret sampai Agustus 2020. Pemeriksaan kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan jumlah eritrosit menggunakan Hematology Analyzer. Gambaran kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan jumlah eritrosit pada pasien stroke iskemik dan hemoragik dengan uji-T independen, p <0,05 dianggap bermakna. Rerata kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan jumlah eritrosit pada stroke iskemik lebih rendah (12,6±1,1/ gr/dl; 38±2,9/ %; 4,3±0,4/ million/mm3) daripada pada stroke hemoragik (15,2±0,1/ gr/dl; 45±2,7/ %; 5,1±0,4/ million/mm3). ABSTRACT Stroke is the main cause of physical disability in productive age and elderly. Blood viscosity in stroke patients can be seen based on the results of blood hematology examinations in the form of an increase in hemoglobin levels, hematocrit values and the number of erythrocytes from normal values carried out in the laboratory. Assessing blood viscosity helps stroke management to reduce the spread of damage to brain cells in stroke survivors. This study aimed to see a picture of hemoglobin levels, hematocrit values and the number of erythrocytes in ischemic stroke and hemorrhagic stroke. The research design was cross sectional study. This research was conducted on 60 subjects (30 patients with ischemic stroke and 30 patients with hemorrhagic stroke) who are IGD patient in M. Hatta Brain Hospital from March to August 2020. Hemoglobin levels, hematocrit values and erythrocyte count were examined using the Hematology Analyzer. A picture of hemoglobin levels, hematocrit values and the number of erythrocyte in ischemic and hemorrhagic stroke patients using an independent T-test, p <0,05 was considered significant. The mean rates of hemoglobin levels, hematocrit values and the number of erythrocytes were lower inischemic stroke (12,6±1,1/ gr/dl; 38±2,9/ %; 4,3±0,4/ million/mm3) than in hemorrhagic stroke (15,2±0,1/ gr/dl; 45±2,7/ %; 5,1±0,4/ million/mm3). There were significant differences in hemoglobin levels, hematocrit values and the number of erythrocytes in ischemic stroke and hemorrhagic stroke.
KONSELING KALORI TERHADAP KADAR GULA DARAH PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS ANDALAS PADANG Ayuro Cumayunaro; Sri Marlia; Yonaniko Dephinto
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 11, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v11i2.858

Abstract

Kondisi hiperglikemia atau peningkatan kadar glukosa dalam darah diatas batas normal yang menjadi tanda khas penyakit Diabetes Mellitus. Penyakit DM tipe 2 merupakan penyakit metabolisme yang diakibat oleh tubuh kekurangan hormon insulin yang berfungsi sebagai pengatur kadar gula darah. Penatalaksanaan pengendalian kadar glukosa darah dapat dilakukan dengan optimalisasi pengendalian  metabolisme  yaitu dengan memaksimalkan  pengelolaan diet yang baik dan seimbang tentang asupan kalori pada penderita DM tipe 2 sehingga kadar glukosa darah dapat dikendalikan. Salah satu bentuk pengelolaan diet dengan pendekatan edukasi yang diberikan melalui konseling kalori pada penderita DM. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh konseling kalori terhadap kadar glukosa darah pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan  metode quasi eksperiment dan pendekatan one group pre and posttest, dengan penelitian dilakukan dengan pengukuran kadar glukosa darah dilakukan 2 kali yaitu pertama sebelum intervensi, setelah itu dilakukan intervensi dengan konseling kalori setelah itu dilakukan pengukuran kadar gula darah kedua. Rata –rata kadar glukosa dara pre test yaitu 177,7 mg/dl dan post test 138,7 mg/dl. Hasil uji statistik paired t test di dapatkan nilai p value 0,000 maka dapat disimpulkan ada perbedaan yang bermakna antara kadar glukosa darah responden pre test dengan post test konseling kalori pasien DM tipe 2. Diharapkan peran dari tenaga kesehatan dalam pemberian edukasi yang maksimal pada pasien dan keluarga yang menderita DM tipe 2 terutama dalam pengendalian gula darah khususnya terkait dengan asupan kalori yang menjadi salah satu perhatian penting dalam penalaksanaan pasien DM tipe 2.
THE INFLUENCE OF HEALTH EDUCATION ABOUT PLASTIC CODES ON THE USE OF PLASTIC CONTAINERS IN HOUSEWIVES Yenni Farida Siregar; Nur Aliyah Rangkuti; Fahrizal Alwi
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 11, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v11i2.627

Abstract

The use of plastic is quite popular among the people. Most of the housewives use plastic as a container for food and drinks in their daily life. This is because plastics have superior properties such as being strong but light, not rusting, being thermoplastic, which can be bonded using heat. However, behind the advantages of plastic, there are also disadvantages of plastic, including it is not heat resistant, is toxic and can cause health problems. This study aims to analyze the effect of health education on plastic codes on the use of plastic containers among housewives. This type of research is a quantitative study with a quasi-experimental design through a one group pre-test post-test approach. The number of samples in this study were 43 people with total sampling technique. The analysis to be carried out is the paired two-sample Wilcoxon test to test the mean difference in the pre-post design, with a confidence level of 95% (α ≤ 0.05). The results showed the distribution of the use of plastic containers prior to the health education intervention (pretest), there were 38 respondents (88.4%) who did not use plastic containers according to the code and 5 respondents (11.6%) who used plastic containers according to the code. After the health education intervention there were 12 respondents (27.9%) who did not use plastic containers according to the code and 31 respondents (72.1%) who used plastic containers according to the code, this means that the use of plastic containers for respondents after being given health education has increased. . The results of the Wilcoxon test can be concluded that there is an effect of health education on the use of plastic containers for housewives (p-value = 0.000 <α = 0.05). With the results of this research, it is hoped that it will be able to increase the insight of housewives to be more careful in choosing a container to be used as a place for food and drinks to prevent health problems and be an initial step in improving the health status of families and communities.
PERBANDINGAN TEKNIK DISTRAKSI DAN RELAKSASI TERHADAP INTENSITAS NYERI PERAWATAN LUKA OPERASI DI RUANG BEDAH Ibrahim Ibrahim; Dewi Fransisca; Nia Febdina Sari
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 11, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v11i2.777

Abstract

Berdasarkan data Evaluasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) Ruang Bedah RSUD Dr. M. Zein Painan didapatkan jumlah pasien yang dilakukan tindakan pembedahan pada tahun 2016 sebanyak 200 tindakan, pada tahun 2017 meningkat menjadi 223 tindakan dan pada tahun 2018 dari bulan Januari sampai dengan bulan September sudah tercatat sebanyak 300 tindakan pembedahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan teknik distraksi dan relaksasi terhadap intensitas nyeri  selama perawatan luka operasi.Penelitian ini dilakukan di Ruang Bedah RSUD M. Zein Painan. Jenis penelitian kuantitatif dengan metode Quasy Experiment meggunakan pendekatan two group pre-test and posttestt design. Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien post operasi soft tissue tumor di Ruang Bedah RSUD M. Zein Painan. Jumlah sampel  sebanyak 10 orang diambil dengan teknik purposive sampling (5 orang sampel distraksi dan 5 orang sampel relaksasi). Analisa pada penelitian ini yaitu analisa univariat dan bivariat dengan uji T-Test.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan rata-rata intensitas nyeri sebelum diberikan teknik distraksi adalah 5,60, sesudah diberikan teknik distraksi adalah 2,80. Rata-rata intensitas nyeri sebelum diberikan teknik relaksasi adalah 5,60 sesudah diberikan teknik relaksasi adalah 4,20. Hasil uji hipotesis didapatkan nilai P Value 0,000 < 0,05, artinya ada perbedaan yang signifikan.Hasil penelitian ini dapat disimpulkan ada perbedaan tingkat nyeri pada kelompok distraksi dan kelompok relaksasi. Hal ini diharapkan menjadi pertimbangan oleh pihak manajemen Rumah sakit untuk membuatkan panduan/standar prosedur operasional termasuk peraturan untuk menjaga ketenangan selama pasien dilakukan kombinasi distraksi dan teknik relaksasi serta menyediakan fasilitas/ruangan khusus yang diperlukan untuk intervensi.
HUBUNGAN STIMULASI IBU DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN Fenny Fernando; Etri Yanti; Wiwit Novela Tandra
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 11, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v11i2.783

Abstract

Keterlambatan motorik halus pada anak dapat disebabkan oleh kurangnya rangsangan dan stimulasi. Di Jambi (2013) balita yang mengalami gangguan tumbuh kembang sebanyak (34,70%). Di Kerinci khususnya di TK RA Ar-Rahman Tanjung Pauh Mudik pada bulan Juli 2019 terdapat 50% perkembangan motorik halus yang diduga. Tujuan penelitian ini untuk melihat rangsangan hubungan ibu dengan perkembangan motorik halus pada anak usia 4-5 tahun di TK RA Ar-Rahman Tanjung Pauh Mudik Kabupaten Kerinci Tahun 2019. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan pendekatan cross sectional yang dilaksanakan tanggal 9-14 September 2019 Populasi penelitian anak usia 4-5 tahun bisa dikatakan 40 orang. Responden penelitian 32 responden.Teknik pengambilan sampel menggunakan pengambilan sampel tidak disengaja.  Pengumpulan data menggunakan format DDST dan kuesioner. Data analisa univariat dan analisa bivariat diolah secara komputerisasi. Hasil penelitian didapatkan hampir separuh 34,4% perkembangan motorik halus diduga. 43,8% stimulasi ibu kurang. Berdasarkan analisa bivariat dengan uji Chi-Square  p = 0,027 p (<0,05). Dapat diabaikan bahwa ada stimulasi hubungan ibu dengan perkembangan motorik halus pada anak usia 4-5 tahun di TK RA Ar-Rahman Tanjung Pauh Mudik Kabupaten Kerinci Tahun 2019. Diharapkan ibu untuk memperhatikan perkembangan motorik halus anak dengan pergi ke pelayanan kesehatan untuk tumbuh kembang anak.
PERANCANGAN APLIKASI NINDYA SUAMIABLE DALAM PERAWATAN KEHAMILAN BERBASIS ANDROID Rr Nindya Mayangsari
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 11, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v11i2.599

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk membangun aplikasi berbasis android mengenai perawatan kehamilan. Untuk pengumpulan data primer, penelitianini menggunakan Teknik wawancara, sementara untuk data sekunder, penelitian ini melakukan pengumpulan data dengan cara dokumentasi atau riset perpustakaan, internet, serta buku-buku yang memiliki hubungan dengan penelitian. Metode pengembangan system yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan Metode waterfall yang memiliki kelebihan yaitu ketika semua system dapat didefinisikan secara utuh dan benar diawal proyek, maka software engineering dapat berjalan dengan baik tanpa masalah. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan sebuat permaslahan yang menuntut penulis untuk mengembangkan sebuah aplikasi berbasis android Nindya Suamiable. Dimana dalam pengembangan system yang telah dilakukan penulis menggunakan alat bantu pembuatan program yaitu Eclipse. Dari aplikasi yang telah dibuat, diperoleh sebuah aplikasi yang telah dibuat, diperoleh sebuah aplikasi yang memiliki kelebihan yaitu membahas tentang kehamilan, persalinan dan nifas.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBUTUHAN ASUPAN VITAMIN B12 PENDERITA DMT2 YANG MENGKONSUMSI METFORMIN Islah Wahyuni; Busyra Hanim
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 11, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v11i2.619

Abstract

Diabetes dikenal sebagai Silent Killer, merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2013-2018 diketahui adanya peningkatan jumlah penderita diabetes mellitus pada usia >15 tahun, dan pada tahun 2020 penderita diabetes diestimasikan terus meningkat di Indonesia. Metformin adalah salah satu obat antidiabetik yang paling banyak digunakan, hampir semua pedoman diseluruh dunia merekomendasikan metformin sebagai pengobatan lini pertama untuk pasien dengan Diabetes Mellitus Tipe 2. Penggunaan metformin yang lama, dosis yang tinggi akan berdampak pada penurunan kadar vitamin B12 didalam darah dan akan mengakibatkan terjadinya  keluhan seperti anemia, neuropati, kram kesemutan, mudah lelah, capek dan lain-lain. Tujuan penelitian  mengidentifikasi Faktor yang memmpengaruhi kebutuhan Asupan Vitamin B12 Penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Sampel penelitian  100  Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 pada 10 Mei – 25 Juli 2020. Hasil penelitian didapatkan tidak ada hubungan Umur dengan asupan vitamin B12 p value (0,078), tidak ada hubungan Jenis Kelamin dengan asupan vitamin B12 p value (0,796), tidak ada hubungan IMT dengan asupan vitamin B12 p value (0,867), Ada hubungan Lama Penggunaan metformin dengan asupan vitamin B12 p value (0,048), Ada hubungan Dosis Metformin dengan asupan vitamin B12 p value (0,047). Diharapkan Penderita DMT2 selalu meningkatkan dan  menjaga asupan vitamin B12
PENERAPAN MODEL DESA SEHAT NELAYAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA NELAYAN KECAMATAN BELAKANG PADANG, KOTA BATAM TAHUN 2019 Ice Irawati; Novela Sari; Fitri Sari Dewi
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 11, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v11i1.407

Abstract

ABSTRAK             Keselamatan dan kesehatan kerja di sektor informal berdasarkan beberapa faktor dalam proses kerja, faktor manusia, dan lingkungan kerja termasuk bahaya di tempat kerja atau kondisi kerjayang kurang sehat. Keselamatan dan kesehatan nelayan saat melakukan pekerjaannya belum mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan model desa sehat nelayan dengan penyuluhan untuk melihat apakah ada peningkatan pngetahuan nelayan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan tentang K3.Penggunaan Penelitian Yang Digunakan Pada Penelitian Penyanyi adalah eksperimen dengan eksperimen kuasi Rancangan yang Setara Pengendalian Non Grup . Jumlah populasi dijadikan sampel yaitu sebanyak 50 responden.            Pengetahuan sebelum penyuluhan tentang K3, diketahui bahwa dari 50 orang Nelayan ada 42 orang (84,0%) memiliki pengetahuan baik dan sebanyak 8 orang (16,0%) memiliki pengetahuan kurang baik. Sedangkan setelah dilakukan penyuluhan tentang K3, terjadi peningkatan pengetahuan yang baik menjadi 47 responden (94,0%) dan yang kurang baik menjadi 3 responden (6,0%). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menggunakan uji Paired Sampel t-test dapat dilihat bahwa terjadi perubahan nilai rata-rata pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan tentang keselamatan dan kesehatan kerja pada nelayan yaitu 10,37 menjadi 12,14 dengan nilai p <0,000, maka Dapat disingkapkan bahwa ada pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja Nelayan.Disarankan kepada Puskesmas melalui unit UKK untuk  melakukan penyuluhan secara berkelanjutan agar pengetahuan nelayan mengenai keselamatan dan kesehatan kerjanya dapat terus meningkat sehingga dengan peningkatan pengetahuan iniakan membuat sikap dan tindakan nelayan juga akan baik dalam keselamatan dan kesehatan kerjanya. Keywords: Model, nelayan, sehat ABSTRACT Occupational safety and health in the informal sector are related by several factors in the work process, human factors, and work environment hazards at work or unhealthy work. Safety and health of fishermen when doing their work has not received attention. This research proposes to apply the fisherman healthy village model with counseling to see whether there is an increase in fishermen's knowledge before and finally given counseling about K3.This type of research used in this study is a study with a quasi-experimental design of the Non Equivalent Control Group. The total population was sampled as many as 50 respondents.Before speaking about OSH, there were 42 out of 50 fishermen (84.0%) having good knowledge and 8 people (16.0%) having poor knowledge. While after counseling about safety and health, there was an increase in good knowledge to 47 respondents (94.0%) and those who were not good to 3 respondents (6.0%). Based on the results of research that has been done using the Paired Sample t-test can be seen about changes in the average value of knowledge before and then given an explanation of Occupational Safety and Health in fishermen that is 10.37 to 12.14 with a value of p <0,000, then it can be deduced from knowledge about the Occupational Safety and Health of Fishermen.Didistribusikan ke Puskesmas melalui unit usaha kesehatan kerja untuk melakukan pemutakhiran guna meningkatkan keselamatan dengan meningkatkan pengetahuan ini menjadikan sikap dan tindakan nelayan juga akan baik dalam keselamatan dan kesehatan kerja.
HUBUNGAN POLA MAKAN DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER Roza Marlinda; Putri Dafriani; Veolina Irman
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 11, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v11i2.780

Abstract

Penyakit jantung koroner terjadi karena penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah arteri koroner akibat pengendapan lemak dan kolestrol sehingga aliran darah ke jantung menjadi terhambat. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan penyakit jantung koroner di Poliklinik Jantung RSUP Dr. M. Djamil Padang. Desain penelitian adalah cross sectional. Sampel diambil dengan teknik accidental sampling sebanyak 96 orang pasien yang berkunjung ke Poliklinik Jantung RSUP Dr. M. Djamil. Pengumpulan data dilakukan dengan questioner pada 29 Agustus 2019, data di olah menggunakan SPSS dengan uji  chi square. Hasil penelitian diketahui 60,4% responden memiliki penyakit jantung koroner, 54,2% tidak sering mengkonsumsi karbohidrat, 52,1% tidak sering mengkonsumsi protein, 53,1% tidak sering mengkonsumsi lemak, 54,2 responden sering mengkonsumsi serat, 54,2% responden tidak sering mengkonsumsi kolesterol, 79,2%  memiliki aktivitas fisik sedang. Hasil uji statistik didapatkan ada hubungan yg signifikan antara konsusmi karbohidrat (p value=0,04), dan tidak ada hubungan antara aktivitas fisik (p value= 0,09) dengan penyakit jantung koronr. Dapat disimpulkan secara statistik ada hubungan antara pola makan dengan penyakit jantung koroner, namun tidak ada hubungan dengan aktivitas fisik. Diharapkan perlu untuk mengatur pola makan dan melakukan aktivitas fisik secara teratur, terutama bagi orang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung koroner.Kata kunci : Jantung; pola makan; aktivitas fisik
ANALYSIS OF KIDNEY FAILURE RISK FACTORS AMONG HYPERTENSIVE PATIENTS IN BAROS SERANG BANTEN Fiora Ladesvita; Diah Tika Anggraeni; Florensia Lima
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 11, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v11i2.655

Abstract

Hypertension is one of predisposing factors for decreased kidney function. Early detection of the risk of kidney failure is important to prevent further damage of kidneys because of hypertension. The purpose of this study was to analyze risk factors for kidney failure in hypertensive patients in Baros, Serang, Banten. The research method used was a quantitative study with a cross sectional design and a total sampling technique with  total sample size was 46 people according to the inclusion criteria. The instruments used were a stress level questionnaire and an observation sheet to record blood pressure, proteinuria, albuminuria, and urine creatinine as measured by the Rapid Test Complete Urine Test Strips. The results showed, as many as 22 people (47.8%) with a salt consumption pattern of more than 1 teaspoon a day, 14 people (30.4%) with a history of hypertension in the family and 16 people (34.8%) with mild stress levels, were at risk for chronic renal failure (OR 4.25; p value = 0.019; OR 4.71; p value = 0.029; p value = 0.012). In addition, there was a significant relationship between systolic blood pressure, albuminuria, proteinuria, and urine creatinine with the albumin creatinine ratio (p value 0.000; 0.001; 0.018; 0,001). It is concluded that of the 11 factors, there are 7 factors that are associated with the risk of chronic renal failure in hypertensive patients based on the albumin creatinine ratio.