cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 22, No 1 (2026)" : 15 Documents clear
Kajian Literatur : Efek Penggantian Terapi Antipsikotik Oral dengan Aripiprazole pada Terapi Skizofrenia Nurlitasari, Karina; Yoga Legawa Budiman, Bambang Hastha; Ikawati, Zullies
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i1.101516

Abstract

Antipsikotik merupakan terapi utama pada skizofrenia. Regimen terapi antipsikotik yang bervariasi dapat memberikan manfaat dalam mengurangi gejala psikotik bersamaan dengan adanya risiko efek samping yang mengganggu kenyamanan pasien. Munculnya efek samping menjadi salah satu alasan utama penggantian antipsikotik. Aripiprazole memiliki aktivitas agonis parsial yang kuat pada reseptor dopamin D2 dan 5HT1A, juga memiliki aktivitas antagonis pada reseptor 5HT2A. Sifatnya pada reseptor tersebut dapat memperbaiki gejala positif, gejala kognitif, depresi, serta dapat memperbaiki gejala negatif dengan efek samping yang minimal. Review ini menilai beberapa efek yang timbul setelah penggantian terapi dari antipsikotik oral ke aripiprazole pada pasien skizofrenia. Sejumlah 6 studi dari Randomized Control Trial (RCT) dilibatkan dalam kajian literatur ini mengikuti daftar checklist PRISMA. Hasil review menunjukkan bahwa peralihan ke aripiprazole secara signifikan dapat memperbaiki gejala dilihat dari penurunan nilai PANSS, menurunkan prolaktin pada hiperprolaktinemia akibat antipsikotik, perbaikan profil metabolik (penurunan berat badan, gula darah, dan hiperlipidemia), serta memberikan efek sedasi yang minimal tanpa memperburuk sindrom ekstrapiramidal. Dapat disimpulkan bahwa aripiprazole direkomendasikan untuk peralihan antipsikotik karena memberikan efektivitas yang stabil dengan resiko efek samping yang minimal.
Pengaruh Intervensi Apoteker Berbasis Medication Therapy Management Terhadap Luaran Klinis Pasien Lanjut Usia dengan Diabetes Melitus Saputri, Pratiwi; Yasin, Nanang Munif; Kristina, Susi Ari
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i1.104932

Abstract

Pasien lanjut usia dengan diabetes melitus cenderung memiliki kontrol glikemik yang rendah dan berisiko mengalami komplikasi. Oleh karena itu, membutuhkan pelayanan kefarmasian berbasis Medication Therapy Management (MTM) yang dapat membantu memperbaiki kontrol glikemik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Buku Edukasi dan Monitoring Mandiri (BEMM) pada pelayanan berbasis MTM terhadap luaran klinis pasien diabetes melitus tipe 2 lanjut usia. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi-eksperimental dengan desain berupa pretest-posttest dengan kelompok kontrol. Subjek penelitian adalah pasien diabetes melitus tipe 2 berusia ≥ 60 tahun, dengan kelompok intervensi sebanyak 61 responden di Puskesmas Ngemplak I dan kelompok kontrol sebanyak 60 responden di Puskesmas Sleman. Penelitian ini dilakukan November hingga Desember 2024. Instrumen yang digunakan adalah BEMM yang telah tervalidasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Mann-Whitney U dan uji Wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyakit penyerta hipertensi (63,63%) dan responden tanpa riwayat keluarga dengan diabetes (78,51%) mendominasi karakteristik responden. Setelah intervensi selama 1 bulan, terjadi perubahan gula darah puasa pada kelompok kontrol sebesar -7,87±43,86 dan pada kelompok intervensi sebesar 32,79±47,55. Intervensi secara signifikan menurunkan gula darah puasa (p = 0,000).
Tinjauan Literatur: Trichoderma sebagai Sumber Penghasil Senyawa Sitotoksik yang Menjanjikan Nurhaliza, Nurhaliza; Setyowati, Erna Prawita; Jenie, Riris Istighfari
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i1.105038

Abstract

Trichoderma merupakan genus fungi yang memiliki aktivitas farmakologi beragam, seperti antifungi, antibakteri, agen biokontrol, dan antikanker. Meski diketahui memiliki aktivitas antikanker, studi mengenai jenis-jenis metabolit sekunder antikanker dari Trichoderma belum tersedia sehingga studi ini dinilai perlu untuk mengkaji potensi Trichoderma sebagai sumber senyawa antikanker melalui analisis aktivitas sitotoksiknya terhadap sel kanker. Tinjauan literatur ini menggunakan pustaka acuan yang mengacu pada pangkalan data Scopus dan Web of Science. Metodologi pemerolehan data menggunakan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta Analyses). Dari 117 publikasi yang diperoleh, sebanyak 96 artikel dieksklusi karena tidak memenuhi kriteria sehingga hanya tersedia sebanyak 21 artikel yang dianalisis. Data kemudian disajikan dalam bentuk tabel yang memuat informasi spesies, nama senyawa, nilai IC50, dan metode uji sitotoksik yang digunakan. Trichoderma diketahui menghasilkan beragam metabolit sekunder yang bersifat sitotoksik. Adapun tiga contoh senyawa yang memiliki aktivitas sitotoksik sangat poten adalah isobisvertinol, 18-deoxycytochalasin H, dan harzianum A dengan nilai IC50 berturut-turut adalah 0.5 µM, 0.42 µM terhadap sel A2780, dan 0.65±0.03 µg/mL terhadap sel HT1080.
Review: Wharton’s Jelly MSCs Secretome as a Neurodegenerative Therapeutic Approach Azizah, Iis Nur; Sahid, Muhammad Novrizal Abdi; Murwanti, Retno
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i1.105311

Abstract

Wharton’s Jelly Mesenchymal Stem Cells (WJMSCs) have great potential in regenerative therapy, mainly because their secretome is rich in bioactive molecules. WJMSCs secretome plays a role in the treatment of various neurodegenerative diseases, such as Alzheimer’s Disease (AD), Parkinson’s Disease (PD), Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), and Multiple Sclerosis (MS). This journal review aims to analyze the therapeutic potential of Wharton’s Jelly Mesenchymal Stem Cells (WJMSCs) secretome in treating various neurodegenerative diseases. Literature searches were conducted through electronic databases such as Elsevier, Google Scholar, PubMed, Science Direct, and Springer Link. Based on the review conducted, data obtained that in AD, this secretome reduces oxidative stress, increases neurogenesis, and inhibits β-amyloid toxicity. In PD, WJMSCs protect dopaminergic neurons, increase dopamine levels, and improve motor function. For ALS, WJMSCs secretome reduced inflammation and increased neurotrophic factors, while MS supported remyelination and neuroprotection. With these benefits, WJMSC secretome has the potential to be an innovative therapy for neurodegenerative diseases, although further clinical studies are needed.
Review: Cost-Effectiveness Analysis Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) Dibandingkan dengan Angiotensin Receptor Blocker (ARB) pada Hipertensi Khairina, Safira; Andayani, Tri Murti; Ikawati, Zullies
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i1.105904

Abstract

Hipertensi menjadi topik yang paling banyak dipelajari dalam tahun-tahun terakhir. Hipertensi juga menjadi komoditi paling signifikan dalam perkembangan penyakit stroke, infark miokard, gagal jantung, dan gagal ginjal. Golongan Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) dengan Angiotensin Receptor Blocker (ARB)  termasuk dalam obat-obat lini utama sesuai dengan pedoman tatalaksana terapi. Review ini bertujuan untuk membandingkan hasil penelitian tentang efektivitas, baik dari segi pengobatan maupun biaya, dalam penggunaan ACEI dan ARB, untuk membantu tenaga kesehatan dalam membuat keputusan dalam pemilihan terapi hipertensi. Review dilakukan dengan studi literatur secara online, menggunakan kata kunci dan strategi dengan PICOS framework, dari berbagai basis data Pubmed, Science Direct dan Scopus. Dalam pencarian terdapat 56 artikel penelitian yang sesuai, dan dilakukan identifikasi menggunakan PRISMA 2020 Flow Diagram. Terdapat 3 (tiga) artikel yang sesuai kriteria akhir, yang kemudan dilakukan penilaian kualitas dengan menggunakan CHEERS Checklist. Dari artikel tersebut penggunaan ARB terbukti lebih efektif jika dibandingkan dengan ramipril, dilihat dari penurunan tekanan datah dan peningkatan kualitas hidup pasien. Review sistematik ini menunjukkan bahwa ARB sebagai terapi antihipertensi terbukti cost effective jika dibandingkan dengan ACEI.
Dyspepsia: An Integrated Review of Diagnosis, Classification, and Mechanisms of Modern and Herbal Medications Solihat, Citra Kurnia; Rahmawati, Fita; Siswanto, Soni
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i1.105933

Abstract

Dyspepsia is a common and complex disorder characterized by symptoms such as epigastric pain, bloating, and early satiety, which significantly impact patients' quality of life. The pathophysiology of dyspepsia remains poorly understood, with multiple underlying factors including Helicobacter pylori infection, gastric motility disturbances, and visceral hypersensitivity. Modern therapeutic strategies primarily focus on acid suppression and motility enhancement, with Proton Pump Inhibitors (PPIs), H2 blockers, and prokinetic agents as standard treatments. The advent of novel therapies, such as potassium-competitive acid blockers (P-CABs) like Tegoprazan, offers promising alternatives with faster onset and longer-lasting effects. Herbal therapies, including turmeric, ginger, and licorice, have also been explored, showing potential benefits in symptom relief and gastric protection. Despite these advances, the effectiveness of treatment remains variable, and a tailored approach based on patient-specific factors is recommended. This review highlights the current treatment modalities, including both modern and traditional approaches, with a focus on pharmacological and non-pharmacological therapies for dyspepsia.
Analisis Terapi dan interaksi obat Antiplatelet pada Pasien Angina Pektoris Stabil di RSUD RA Kartini Jepara Firdaus, Ade Kurnia bayu; Etikasari, Ria; Rosnarita, Intan Adevia
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i1.108254

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia, dengan prevalensi di Indonesia sebesar 0,85‰. Terapi antiplatelet merupakan strategi utama dalam pencegahan sekunder PJK, termasuk pada kasus angina pektoris stabil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan dan potensi interaksi obat antiplatelet pada pasien angina pektoris stabil. Desain penelitian ini menggunakan observasional dengan kohort desain retrospektif dan pendekatan kuantitatif dan kualitatif,  Data diambil dari rekam medis pasien rawat jalan di RSUD RA Kartini Jepara periode Januari 2023–Desember 2024. Variabel yang dianalisis meliputi usia, jenis kelamin, jenis terapi antiplatelet (aspilet 80 mg, klopidogrel 75 mg, atau kombinasi), serta potensi interaksi obat. Dari 31 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, mayoritas berusia 50–59 tahun (54,85%). Pola terapi didominasi penggunaan aspilet tunggal (67,74%), diikuti kombinasi dengan klopidogrel (19,35%), dan klopidogrel tunggal (12,90%). Terdapat 94 potensi interaksi: 30 (31,9%) minor, 63 (67%) moderate, dan 1 (1,1%) mayor. Interaksi mayor ditemukan antara klopidogrel dan ketorolac. 
Kejadian Adverse Drug Reactions Terapi Antihipertensi pada Pasien Gagal Ginjal Kronis: Tinjauan Naratif Fadilah, Ummul; Probosuseno, Probosuseno; Nugroho, Agung Endro
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i1.109400

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu faktor utama penyebab terjadinya Chronic Kidney Disease (CKD), dimana tekanan darah yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah ginjal dan mengurangi kemampuan ginjal dalam menyaring limbah tubuh. Pasien CKD berisiko mengalami ADR akibat penumpukan obat dalam tubuh akibat terjadinya penurunan fungsi ginjal. Hal ini dapat berdampak pada fisiologi dan komorbiditas yang berpengaruh pada perubahan dalam respon farmakologis yang dapat meningkatkan terjadinya ADR akibat penggunaan obat-obatan secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk merangkum dan membahas bukti-bukti ilmiah terkini mengenai efek samping yang diinduksi oleh berbagai kelas obat antihipertensi pada pasien dengan gagal ginjal kronis. Penelitian ini dilaksanakan melalui tinjauan naratif yang dilakukan dengan empat tahap, yaoitu penentuan kata kunci, kriteria inklusi dan esklusi, seleksi literatur, serta analisis hasil. Pencarian literatur dilakukan melalui database Scopus, Pubmed, dan Science Direct. Berdasarkan review yang dilakukan diperoleh bahwa pemilihan antihipertensi pada CKD harus bersifat individual. Inhibitor RAS sebaiknya dipertahankan dengan pengelolaan hiperkalemia. Diuretik dan CCB memiliki peran sesuai kebutuhan dan profil keamanan. Pendekatan berbasis kondisi pasien diperlukan untuk hasil yang optimal.
Perbandingan Efektivitas Kombinasi Antipsikotik Antara Klozapin-Olanzapin dengan Klozapin-Risperidon Pada Pasien Skizofrenia Nurasiyah, Nurasiyah; Endarti, Dwi; Yoga, Bambang Hasta
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i1.110155

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang kompleks dan sering terjadi pada fase remaja akhir hingga dewasa awal. Penanganan skizofrenia dianjurkan dengan monoterapi antipsikotik. Namun pada praktiknya penggunaan kombinasi antipsikotik lebih banyak digunakan untuk meningkatkan efektivitas terapi. Kombinasi yang umum digunakan yaitu klozapin-olanzapin dan klozapin-risperidon. Penggunaan klozapin sebagai terapi antipsikotik tambahan pada pasien skizofrenia diindikasikan untuk mengatasi gangguan tidur. Olanzapin dan Risperidon merupakan antipsikotik atipikal namun memiliki mekanisme kerja yang berbeda. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efektivitas terapi kombinasi klozapin-olanzapin dengan klozapin-risperidon pada pasien skizofrenia. Penelitian ini dilakukan mengikuti rancangan penelitian observasional analitik, pendekatan pengambilan data secara kohort retrospektif dengan total sampel 74 pasien. Data dikumpulkan dari rekam medik pasien terkait skor PANSS-EC dan lama rawat inap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas terapi berdasarkan penurunan skor PANSS-EC untuk klozapin-olanzapin 44.73% dan klozapin-risperidon 47.91% tidak berbeda signifikan dengan nilai p 0.520. Hasil penilaian efektivitas berdasarkan lama rawat inap dengan durasi ≤15 hari menunjukkan hasil jumlah pasien kelompok klozapin-olanzapin 37.48% dan kelompok klozapin-risperidon sebanyak 48.65% yang tidak berbeda secara signifikan dengan nilai p 0.348. Kesimpulannya, efektivitas antara klozapin-olanzapin dengan klozapin-risperidon tidak berbeda secara signifikan.
Manajemen Pengobatan Demam Tifoid Disertai Bronkopneumonia Pada Pediatrik Putri Papeo, Dizky Ramadani; Yusuf, Annisa Humaira; Bastari, Aditya Putra; Lalu, Indah Nurwahida; Unga, Rani Orelia Ambo; Hulopi, Rizki Mohamad; Rahmola, Siti Fauziyah
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i1.112711

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada beberapa kasus, infeksi ini dapat menimbulkan komplikasi pada sistem pernapasan seperti bronkopneumonia, yang memperburuk kondisi klinis pasien terutama pada anak-anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan terapi farmakologis pada pasien pediatrik dengan diagnosis demam tifoid disertai bronkopneumonia di RSUD Tombulilato, Provinsi Gorontalo. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional retrospektif dengan pendekatan studi kasus terhadap satu pasien anak laki-laki berusia 1 tahun 3 bulan yang dirawat pada Agustus 2024. Data diambil dari rekam medis pasien yang mencakup hasil pemeriksaan klinis, laboratorium, dan radiologi, serta regimen terapi yang diberikan selama perawatan. Hasil menunjukkan bahwa terapi kombinasi ceftriaxone dan gentamicin sebagai antibiotik utama, disertai paracetamol sebagai antipiretik dan dexamethasone sebagai antiinflamasi, efektif dalam memperbaiki kondisi klinis pasien. Gejala demam dan sesak napas membaik setelah lima hari perawatan. Evaluasi menunjukkan kesesuaian terapi dengan pedoman nasional, namun ditemukan anemia ringan yang belum mendapat intervensi spesifik. Kesimpulan dari studi ini menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap terapi antibiotik dan pemantauan kondisi hematologi dalam penanganan demam tifoid dengan komplikasi bronkopneumonia pada anak.

Page 1 of 2 | Total Record : 15