cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Rasionalitas Regimen Dosis Gentamisin Pada Pasien Rawat Inap Di RSUP Dr. Kariadi Semarang (Kajian Terhadap Efektivitas Terapi Dan Peningkatan Serum Kreatinin) Fita Rahmawati; Arroyani Asa Dilaga; Djoko Wahyono
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.67189

Abstract

Gentamisin merupakan antibiotik pada terapi empiris khususnya infeksi bakteri gram negatif. Gentamisin memiliki indeks terapi sempit serta bersifat nefrotoksik. Pencegahan nefrotoksisitas dan peningkatan efektivitas terapi gentamisin dapat dilakukan dengan penyesuaikan regimen dosis berdasarkan nilai klirens kreatinin pasien. Penelitian bertujuan mengevaluasi rasionalitas dosis gentamisin  serta mengetahui hubungan rasionalitas dosis dengan efektivitas terapi gentamisin dan efek peningkatan serum kreatinin.Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional  dilakukan di RSUP Kariadi Semarang. Sejumlah 129 rekam medis pasien rawat inap tahun 2018- 2019 dipilih menggunakan tehnik purpusive sampling. Kriteria inklusi meliputi usia pasien 18 tahun ke atas,  menggunakan gentamisin injeksi minimal 3 hari, terdapat data serum kreatinin minimal sebanyak dua kali (sebelum dan sesudah penggunaan injeksi gentamisin). Efektivitas terapi  terbagi menjadi membaik dan tidak membaik berdasarkan rekam medis pasien. Peningkatan serum kreatinin ditunjukkan dengan kenaikan sebesar 0,5 mg/dl atau lebih. Statistik bivariat Fisher exact test digunakan untuk mengetahui hubungan kedua variabel.Hasil penelitian menunjukkan dosis rasional terdapat pada 19 (14,73% ) pasien dimana 15 (11,63%) pasien  memberikan hasil terapi membaik dan terjadi  peningkatan sCr  lebih dari 0,5 mg/dl pada 5 (3,88 %) pasien. Sedangkan dosis tidak rasional terdapat pada 110 (85,27%) pasien dimana 52 (40,31%) pasien memberikan hasil terapi membaik dan 31 (24,03%) pasien  terjadi peningkatan sCr. Rasionalitas regimen dosis memiliki hubungan signifikan dengan efektitivitas terapi (p<0,05) namun tidak memiliki hubungan signifikan dengan peningkatan serum kreatinin   (p>0,05). Peran farmasis diperlukan dalam monitoring terapi pasien sehingga diharapkan dapat meningkatkan optimasi terapi dan menurunkan efek samping.
Terapi Pada Pasien COVID-19 derajat berat/kritis Di Salah Satu Rumah Sakit Yogyakarta Luthfiana, Farisa; Nugroho, Agung Endro; Puspitasari, Ika
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.70344

Abstract

Pasien gejala ringan sampai sedang banyak mengalami perbaikan setelah mendapatkan pengobatan, akan tetapi pada pasien gejala berat/kritis di ICU memiliki mortalitas yang lebih tinggi walaupun telah mendapatkan terapi. Terapi yang ditemukan dilapangan masih sangat beragam. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui pola pengobatan pasien COVID-19 gejala berat/kritis di salah satu rumah sakit Yogyakarta Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dalam bentuk case series pada 10 pasien COVID-19 gejala berat/kritis yang membaik dan 10 pasien COVID-19 gejala berat/kritis yang meninggal, data diambil secara retrospektif melalui rekam medik pasien COVID-19 rawat inap pada periode 1 Januari -31 Juli 2021. Analisis data dilakukan dengan cara deskriptif dalam bentuk rata-rata/persentase untuk mendapatkan gambaran pola penggunaan obat. Penelitian ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran bagi praktisi dan referensi dalam penelitian selanjutnya mengenai pola penggunaan obat pasien COVID-19 gejala berat/kritis. Kelompok pasien meninggal 100 % menggunakan antivirus, 100 %  menggunakan antibiotik, 90% menggunakan antiinflamasi, 80% antikoagulan dan terapi tambahan ( 60 % N-Acetyl Cysteine (NAC), 10% kolkisin). Kelompok pasien membaik 100 % menggunakan  antivirus, 100% menggunakan antibiotik, 80 % menggunakan antiinflamasi, 90% menggunakan antikoagulan, terapi tambahan (90% NAC, 30% kolkisin). Antibiotik dan antivirus merupakan golongan obat yang banyak digunakan pada kedua kelompok dan kelompok pasien membaik dan kelompok pasien membaik mendapatkan terapi tambahan (NAC dan Kolkisin) lebih banyak dibanding kelompok meninggal, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai manfaat dari terapi tambahan pada pasien COVID-19 berat/kritis.
Studi Aktivitas Tanaman Herbal Sebagai Salah Satu Alternatif Anticovid-19 agus dwi ananto; Handa Muliasari; Rizqa Fersiyana Deccati
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.70374

Abstract

Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) belakangan ini menjadi topik penyakit yang sangat diperbincangkan. Penggunaan obat-obatan yang biasa digunakan untuk penanganan virus Corona terdahulu yaitu SARS-CoV dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) menjadi salah satu alternative yang bisa dilakukan, hal ini dikarenakan adanya kemiripan genome diantara ketiga jenis virus ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi interaksi antara senyawa-senyawa yang terdapat pada beberapa tanaman herbal di Indonesia yang sebagai antiCOVID-19 yang bekerja sebagai inhibitor 3CLpro dan PLpro virus SARS-CoV-2 dengan reseptor target menggunakan metoda in silico. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan pendekatan insilico yang akan mengkaji hubungan interaksi senyawa yang terdapat dalam tanaman dengan reseptor target dilihat dari pendekatan visual berbasis komputasi. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah untuk target protein PLpro didapat senyawa seperti 6-gingerol dengan skor docking -99,011dibandingkan dengan senyawa pembanding  sebesar -101,771. Sedangkan untuk target 3CLpro didapat senyawa kombinasi antara citral, xanthorrhizol, curcumin, dan  6-gingerol dengan skor docking -78,735 sedangkan pembandingnya sebesar -87,026. Berdasarkan hasil visualisasi terlihat adanya interaksi antara senyawa-senyawa tersebut dengan residu asam amino. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa beberapa senyawa dari bahan alam seperti curcumin,  6-gingerol  dan androgapolide serta kombinasi dari beberapa senyawa bahan alam memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai anticovid-19. 
Potentially Inappropriate Medication (PIM) pada Pasien Geriatri Rawat Inap di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin Amanda Wulansari; Chairun Wiedyaningsih; Probosuseno Probosuseno
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.70420

Abstract

Perubahan fisiologi terkait proses penuaan yang secara alami terjadi pada usia lanjut menyebabkan perubahan farmakokinetik dan farmakodinamika obat pada pasien geriatri. Pemilihan obat pada populasi geriatri merupakan proses yang kompleks karena penggunaan obat yang tidak tepat (Potentially Inappropriate Medication) pada populasi ini berasosiasi pada peningkatan risiko morbiditas, bahkan mortalitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi PIM pada pasien geriatri rawat inap di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin berdasarkan Kriteria Beer’s 2019 serta mengetahui hubungan jumlah obat dan lama rawat inap dengan kejadian PIM. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Data diambil secara retrospektif menggunakan 141 rekam medik pasien geriatri rawat inap di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin tahun 2019. Identifikasi kejadian PIM dilakukan dengan cara membandingkan data pengobatan yang diperoleh menggunakan kriteria Beer’s 2019. Analisis data secara univariat dilakukan untuk melihat prevalensi kejadian PIM pada pasien geriatri rawat inap. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan kejadian PIM ditinjau dari jumlah obat dan lama rawat inap dengan menggunakan uji nonparametrik chi square. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan analisis uji univariat persentase prevalensi kejadian PIM dengan kriteria Beer’s 2019 sebesar 63,1 %. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan bermakna antara kejadian PIM dengan jumlah obat dan lama rawat inap di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin dengan nilai p sebesar 0,03 dan 0,00. Penelitian ini diharapkan menjadi sarana bagi praktisi dan referensi dalam penelitian yang lebih lanjut mengenai PIM pada geriatri yang secara tidak langsung juga akan mengoptimalkan terapi.
Analisis Potensi Dampak Perjanjian TRIPs pada Ketersediaan Obat dan Vaksin Covid-19 Mario Franky Joris; Kadek Maylena Putri Yuliawan; Dwi Endarti
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.71576

Abstract

ABSTRAKAdanya perjanjian TRIPs membuat aksesibilitas obat dan pelayanan kesehatan menjadi terhambat karena dibatasi oleh adanya paten, terutama pada masa pandemi Covid-19. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dampak dari implementasi TRIPs terhadap ketersediaan obat dan vaksin Covid-19 pada beberapa negara selama masa pandemi. Studi ini dilakukan dengan menggunakan metode studi pustaka, dimana dilakukan pencarian literatur menggunakan berbagai macam database dan kata kunci. Hasilnya, dalam pelaksanaan TRIPs, TRIPs menghalangi ketersediaan obat-obatan esensial, terutama di negara berkembang. Maka dari itu, muncul fleksibilitas TRIPs yang dianggap dapat menjadi opsi dan solusi dalam mengatasi aksesibilitas pelayanan kesehatan, terutama obat dan vaksin Covid-19 selama masa pandemi. Dengan adanya fleksibilitas TRIPs, banyak negara dan juga perusahaan farmasi yang memanfaatkan fleksibilitas ini sehingga menjamin ketersediaan obat dan vaksin esensial untuk penanganan pandemi Covid-19. Kata Kunci: Covid-19; fleksibilitas TRIPs; ketersediaan obat; TRIPs; vaksin Covid-19. ABSTRACTThe existence of the TRIPs agreement has hampered the accessibility of drugs and health services because they are limited by the existence of patents, especially during the Covid-19 pandemic. This study aims to analyze the impact of implementing TRIPs on the availability of Covid-19 drugs and vaccines in several countries during the pandemic. This study was conducted using the literature study method, where a literature search was carried out using various databases and keywords. As a result, in the implementation of TRIPs, TRIPs hinder the availability of essential medicines, especially in developing countries. Therefore, the TRIPs flexibility has emerged which is considered to be an option and solution in overcoming the accessibility of health services, especially drugs and Covid-19 vaccines during the pandemic. With the flexibility of TRIPs, many countries as well as pharmaceutical companies are taking advantage of this flexibility to ensure the availability of essential drugs and vaccines for handling the Covid-19 pandemic.Keyword: Covid-19; TRIPs flexibility; drug availability; TRIPs; Covid-19 vaccine.
The Use of Antibiotics in COVID-19 Therapy in RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Putri Dina Mahera Laily; Tri Murti Andayani; Ika Puspitasari
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.71638

Abstract

As a newly emerging disease initially identified at the end of 2019 in Wuhan, China, COVID-19 has various therapeutic options. The current COVID-19 treatment in Indonesia refers to the licensed treatment based on the Emergency Used Authorization from BPOM, which lists many approved antibiotic therapies. However, inappropriate use of antibiotics is known to have an adverse impact of resistance. Therefore, studies on the use of antibiotics in health care facilities, including hospitals, are pivotal, especially in the management of newly emerging disease of COVID-19. This study aims to describe the use of antibiotics as a therapeutic option for COVID-19 treatments in RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. The research used descriptive analytic method by involving patients, who were tested positive for COVID-19 in the period of February to September 2020 in Dr. RSUP Sardjito Yogyakarta, as the research subjects. Data were collected retrospectively using the drug use listed in the medical records. Data were analyzed based on patient characteristics, antibiotic profile, and final prognosis of treatment outcome. This study revealed that the highest cases occurred in men with 69.4%. The productive age group of 21 to 60 years old was known to be the age group with the highest COVID infection (64%). The most widely used antibiotics were azithromycin (56.5%) and levofloxacin (32.9%). The use of antibiotic therapy in COVID-19 patients at RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta has proven to be quite effective with a prognostic rate of 76.5% for patients experiencing recovery.
ASSOCIATION OF DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) OCCURRENCE WITH CLINICAL OUTCOME IN ISCHEMIC STROKE PATIENTS FIRDHA APRILLIA WARDHANI; ZULLIES IKAWATI; NANANG MUNIF YASIN
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.74413

Abstract

Ischemic stroke is one of the main causes of death and disability in Indonesia and in the world whose prevalence continues to increase. One of the factors that increase disability in ischemic stroke patients is poor stroke management, and the incidence of DRPs plays a role in it. This study was conducted to determine whether there is a significant relationship between the incidence of DRPs in ischemic stroke patients, and the patient's clinical outcome, which is described by the patient's NIHSS status. It is known that NIHSS is an outcome parameter with the best accuracy and sensitivity compared to other outcome parameters. The study was conducted with a retrospective cross-sectional design, involving 111 samples sourced from the medical records of patients who met the inclusion criteria in the April-October 2021 period. The DRPs analyzed in this study were medication errors, the need for additional drugs, too low drug doses, and drug side effects occur. In this study, DRPs occurred in 88.2% of patients, with the most common type being the need for additional drugs in patients. This study found that the presence of DRPs in ischemic stroke patients, has the potential to increase the risk of patients experiencing clinical outcomes that do not improve as described by the NIHSS status (OR 3,714; p-value<0,05).
The Effect of Simvastatin Use on Decreased Child-Pugh Score in Patients With Liver Cirrhosis Nurifahmi, Rahmaningtyas; Ikawati, Zullies; Andayani, Tri Murti
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.74541

Abstract

Simvastatin is an antihyperlipidemic known to have pleiotropic effects and is currently being used as adjunctive therapy in patients with liver cirrhosis. Mechanism of action of simvastatin is to increase the availability of nitric oxide (NO), improve hepatic microvascular dysfunction, and improve the degree of liver fibrosis. Long-term use of simvastatin is expected to improve the prognosis in patients with liver cirrhosis as shown by a decrease of Child-Pugh score. This study aims to determine the difference in the decrease in Child-Pugh scores between groups of patients who consumed simvastatin 10 mg, simvastatin 20 mg, and the group of patients who did not consume simvastatin. The method used in this study was analytic observational with a retrospective cohort design and was performed on outpatients diagnosed with liver cirrhosis at Dr. Sardjito Yogyakarta Hospital in the period January 2017 to December 2021. Child-Pugh scores were observed to decrease after 3 months of patients using simvastatin. A total of 40 samples were obtained consisting of 13 samples as the control group, 13 samples in the simvastatin 10 mg group, and 14 samples in the simvastatin 20 mg group. The difference of the decrease in Child-Pugh scores between 3 sample groups were analyzed using the Kruskal Wallis test. The result showed that there was no difference in the reduction in Child-Pugh scores between the group of patients not taking simvastatin, the group of patients taking simvastatin 10 mg, and the group of patients taking simvastatin 20 mg for 3 months (p=0.964). Further research with a larger sampel size is needed to confirm this result.
Gambaran dan Luaran Klinik Terapi Anemia Pada Pasien Chronic Kidney Disease Dengan Hemodialisis Di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Nurfina Dian Kartikawati; Tri Murti Andayani; Dwi Endarti
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.74877

Abstract

Adanya penurunan fungsi pada ginjal dapat mempengaruhi proses eritropoiesis yang beresiko terjadinya anemia. Prevalensi anemia meningkat seiring meningkatnya stage penyakit ginjal kronik. Penelitian ini untuk melihat gambaran terapi anemia dan luaran klinis terapi eritropoetin pada pasien CKD dengan hemodialisis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian dilakukan dengan design cohort retrospektif secara observasional-analitik. Kriteria inklusi berupa pasien dengan usia >18 tahun, pasien penyakit ginjal kronik stage 4 dan 5  yang menjalani rawat jalan dan hemodialisis rutin minimal selama 3 bulan dengan kondisi yang stabil, pasien dengan diagnosis anemia normositik normokromik dan mendapatkan terapi anemia berupa eritropoetin, tersedia data rekam medis. Pengumpulan data dilakukan dilakukan selama 3 bulan berdasarkan rekam medis periode Januari – Desember 2020. Analisis statistik independent t-test dilakukan untuk membandingkan perbedaan peningkatan kadar Hb antara eritropoetin alfa dan beta dalam 3 bulan. Terdapat 113 pasien memenuhi kriteria inklusi. Karakteristik pasien didominasi pasien laki-laki (58%); rentang usia 41-60 tahun (44%); CKD stage V (98%); frekuensi hemodialisis 2x setiap minggu (92%); dan terapi menggunakan epoetin alfa (85%). Rata-rata nilai Hb selama 3 bulan pada kelompok epoetin beta (9,51 mg/dl) lebih tinggi dibandingkan pada kelompok epoetin alfa (8,73 mg/dl) dan berbeda signifikan secara statistik (p<0,005). 
Penyesuaian Dosis Obat Pasien Penyakit Ginjal Kronik di RSUD Kardinah Tegal Nur Amalia Rosyada; Purwantiningsih Purwantiningsih; Tri Murti Andayani
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.75249

Abstract

Adanya gangguan pada ginjal dapat menyebabkan akumulasi obat dan dapat menginduksi nefrotoksisitas. Hal ini dapat dihindari dengan pemilihan dan penyesuaian dosis obat yang tepat untuk memastikan luaran klinik yang optimal dan mencegah terjadinya efek samping obat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan melihat prevalensi kesesuaian dosis obat pada pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) dan hubungan kesesuaian dosis obat dengan luaran klinik di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kardinah. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan kohort dan pengambilan data secara retrospektif. Subjek penelitian adalah pasien PGK rawat inap di RSUD Kardinah periode tahun 2019, data diperoleh dari rekam medik. Perhitungan estimasi laju filtrasi glomerulus menggunakan formula Chronic Kidney Disease Epidemiology Collaboration (CKD-EPI) dan kesesuaian obat dibandingkan dengan pustaka dan formula Giusti Hayton. Analisis data statistik dalam penelitian ini menggunakan chi square test untuk mengetahui hubungan antara kesesuaian dosis obat dengan luaran klinik pasien PGK di RSUD Kardinah. Analisis data multivariat menggunakan multiple logistic regression untuk melihat hubungan variabel perancu dengan luaran klinik. Hasil penelitian menunjukkan dari 84 rekam medik sejumlah 829 obat diresepkan, 427 obat (51,5%) diantaranya memerlukan penyesuaian dosis. Dari 427 obat tersebut, obat yang sesuai dosis sebanyak 376 obat (88%) dengan luaran klinik membaik 336 obat (89%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kesesuaian dosis dengan luaran klinik (RR=1,222, 95% CI=0,994-1,503, p=0,074). Variabel perancu yang mempengaruhi luaran klinik adalah hemodialisis (RR = 4,643, 95% CI=1,11-19,425, p=0,036).