cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol 70% Kulit Pisang Kepok Kuning (Musa acuminata x Musa balbisiana) dengan Metode Ekstraksi Sokhletasi Putri Eka Sari; Indri Astuti Handayani; Senny Listy K.F.; Ade Saranita
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.81861

Abstract

Jerawat merupakan infeksi kulit yang biasa muncul pada wajah, leher, dada dan punggung. Penggunaan antibiotik untuk jerawat dalam jangka panjang dapat menyebabkan resistensi bakteri serta dapat menimbulkan kerusakan organ dan imuno hipersensitivitas. Pisang kepok kuning (Musa acuminata x Musa balbisiana) merupakan tanaman yang banyak di konsumsi di Indonesia, namun produk samping berupa kulit belum dimanfaatkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol 70% kulit pisang kepok kuning (Musa acuminata x Musa balbisiana) yang diperoleh dari metode ekstraksi sokhletasi terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ekstraksi sokhletasi. Konsentrasi yang lebih tinggi dari senyawa flavonoid akan terdeteksi dengan etanol 70% karena polaritas yang lebih tinggi daripada etanol murni. Dengan penambahan air pada etanol murni sampai 30% untuk menjadi etanol 70% polaritas pelarut menjadi meningkat. Uji aktivitas aktibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram dengan klindamisin sebagai kontrol positif dan etanol 70% sebagai kontrol negatif. Penggunaan etanol 70% sebagai kontrol negatif karena menyesuaikan dengan pelarut yang digunakan untuk ekstraksi. Klindamisin sebagai kontrol positif digunakan sebagai pembanding aktivitas antibakteri. Hasil dari penelitian ini menunjukkan aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% kulit pisang kepok kuning (Musa acumintana x Musa balbisiana) didapatkan zona hambat bakteri  pada konsentrasi 100x103 µg/mL.
Pharmacist Experience in Discovering Forged Prescriptions in Pharmacies In the Special Region of Yogyakarta Muvita Rina Wati; Istiqomah Dwi Oktaviani; Ahmad Fahmy bin Yahya; Bondan Ardiningtyas; Anna Wahyuni Widayati
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.83383

Abstract

Pharmacies were a source of narcotics and other addictive agents by 2.1% of respondents to a survey conducted by BNN and LIPI in 2019. One way for drug abusers to obtain drugs is to use forged prescriptions. Therefore, the accuracy of pharmacists in prescription's screening is needed to reduce the prevalence of drug abuse. Research on prescription counterfeiting has been carried out in various developed countries, but similar research has never been conducted in Indonesia.          This study aims to determine the patterns, characteristics, and experience of pharmacists in the Special Region of Yogyakarta (DIY) pharmacy in responding to counterfeit prescription findings. This research is an observational study with a survey method using a research instrument in the form of a questionnaire. A total of 152 pharmacists in DIY were involved as respondents and filled out questionnaires both online using the Google Form and offline from November to December 2019. The research data were analyzed descriptively.          Based on the results of the study, most of respondents 85%) had encountered counterfeit prescriptions. They were identified by the following characteristics, including the doctor's writings that were not the same as usual (60%), the amount of medicine was irrational/added with 'iter' (59%), absence of doctor’s registration number (41%), stamp (44%), and doctor's signature (32%). The most common drug classes written on fake prescriptions include psychotropics, followed by other drug classes, namely drugs that are often abuse, narcotics, antibiotics, and other ethical drugs (misoprostol and levonogestrel). In identifying counterfeit prescriptions, pharmacists need a guideline, training, and coaching. In addition, clear supervision and reporting channels are needed so that prescription counterfeiting can be reported and seriously followed up by involving Indonesian Pharmacist Association (IAI), Health Office (Dinas Kesehatan), and Indonesia Food and Drug Administration (POM).
Perbandingan Luaran Klinik Penggunaan Sacubitril-Valsartan dengan ARB pada Pasien Gagal Jantung Febriana Trisnaputri Rahajeng; Fita Rahmawati; Probosuseno Probosuseno
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i2.67051

Abstract

Sacubitril-valsartan merupakan kelas pertama golongan angiotensin receptor-neprilysin inhibitor (ARNI) yang direkomendasikan sebagai pengganti angiotensin-converting enzyme inhibitors (ACEI) untuk menurunkan resiko kejadian hospitalisasi akibat penyakit kardiovaskuler dan kematian pada pasien gagal jantung dengan penurunan fraksi ejeksi yang masih bergejala walaupun sudah mendapatkan terapi optimal. Penelitian ini bertujuan membandingkan luaran klinik penggunaan terapi sacubitril-valsartan dengan ARB pada pasien gagal jantung.Penelitian ini menggunakan rancangan kohort retrospektif melibatkan 105 pasien dengan diagnosis gagal jantung dengan  LVEF ≤ 40% yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok terapi sacubitril-valsartan (26 orang) dan ARB (79 pasien) di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Data penelitian diperoleh dari rekam medik pasien tahun 2018-2019. Luaran klinik berupa kejadian hospitalisasi akibat penyakit kardiovaskuler dan adverse  event  yang diamati dalam waktu enam bulan sejak pertama kali diresepkan. Hubungan antara jenis terapi dengan luaran klinik dianalisis menggunakan Chi-square, analisis Kaplan-Meier dan cox regression.Hasil penelitian menunjukkan hospitalisasi akibat penyakit kardiovaskuler terjadi pada 80,7% kelompok sacubitril-valsartan dan 69,6% kelompok ARB (p=0,383). Pada analisis Kaplan-Meier didapatkan mean survival time kejadian hospitalisasi akibat penyakit kardiovaskuler kelompok sacubitril-valsartan 12,7 minggu dan ARB 15 minggu, dimana kelompok sacubitril-valsartan lebih cepat mengalami kejadian hospitalisasi namun tidak bermakna secara statistik (p=0,178; HR(95% CI): 0,717[0,433-1,186]). Adverse events yang timbul dari penggunaan sacubitril-valsartan berupa peningkatan serum kreatinin (satu kejadian), sedangkan pada ARB ditemukan peningkatan serum kreatinin (tujuh kejadian) dan hiperkalemi (lima kejadian). Luaran klinik kedua regimen memberikan hasil yang sama, pertimbangan biaya dan kondisi klinik pasien diperlukan sebagai dasar dalam pemilihan regimen   
Modifiable Comorbidity as a Risk Factor for DRPs and Unimproved NIHSS Score in Ischemic Stroke Patients FIRDHA APRILLIA WARDHANI
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i2.73924

Abstract

Drug-related problems are problems that are often encountered in stroke patients because of the complex management of stroke therapy due to comorbidities. Research shows that 90% of stroke patients experience drug-related problems (DRPs). However, there was limited information regarding the effect of comorbidity as both a risk factor for DRPs prevalence and worse outcomes in an ischemic stroke patient. This research was conducted to see whether modifiable comorbidities indeed had a significant impact as a risk factor for DRPs and clinical outcomes in hospitalized ischemic stroke patients at a tertiary hospital in Indonesia during January 2020-October 2021. This study was conducted retrospectively using cross-sectional analysis, with the subject being the patient's medical record. This study found no significant relationship between the presence of comorbidities in patients with the incidence of DRPs. Diabetes mellitus was found to have a significant association with no improvement in NIHSS scores in ischemic stroke patients. In patients with diabetes mellitus, there is an increased risk of non-improvement NIHSS score 2,987 times compared to patients without diabetes mellitus. The second increased risk was the presence of comorbid hypertension (OR 1.361, 95% CI 0.598-3.095, p-value=0.463), and the third was dyslipidemia (OR 1.125, 95% CI 0.505-2.502, p-value=0.774).
Efektivitas Ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum) dalam Mengatasi Gout di Indonesia Yobelin Lebang Somalinggi; Belinda Regi Maloa; Oktavin Nini Suarti Dorkas Bani; Teofilus Josafat Dion Putra; Maria Nofinita Nge Lau; Dita Maria Virginia
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i2.74044

Abstract

Penyakit gout timbul karena adanya penumpukan asam urat dalam tubuh secara berlebihan atau yang disebut dengan hiperurisemia. Daun salam (Syzygium polyanthum) merupakan salah satu tanaman yang banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia serta memiliki potensi untuk mengatasi gout karena adanya kandungan senyawa berupa flavonoid, yang menyebabkan terjadinya penghambatan kerja enzim hipoxantin sehingga tidak terjadi pembentukan asam urat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai informasi dari beberapa hasil penelitian terkait efektivitas ekstrak daun salam dalam pengobatan gout di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa daun salam mampu memberikan efektivitas yang baik dalam menurunkan kadar asam urat sehingga mencegah timbulnya penyakit gout. Metode maserasi merupakan metode ekstraksi yang baik dalam melarutkan senyawa fitokimia pada daun salam terutama flavonoid. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa daun salam mengandung senyawa aktif berupa saponin, tanin, triterpenoid, flavonoid, alkaloid, dan glikosida. 
Perbandingan Efektivitas Glikuidon dengan Insulin pada Pengobatan Diabetes Pasien Penyakit Ginjal Kronik Amanda Anggraini
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i2.74631

Abstract

Penurunan fungsi ginjal pada pasien penyakit ginjal konik (PGK) menyebabkan perlunya pemilihan terapi pengobatan diabetes melitus (DM) yang efektif dan aman. Di Indonesia, glikuidon merupakan salah satu terapi pilihan DM pasien PGK yang dinilai aman karena diekskresikan melalui sistem bilier, selain itu insulin merupakan terapi DM yang juga direkomendasikan pada keadaan PGK. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan efektivitas dan profil keamanan terapi antidiabetika glikuidon dengan insulin pada pasien diabetes dengan penyakit ginjal kronik. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan kohort retrospektif di RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang pada periode Juli hingga Desember 2020. Analisis efektivitas terapi yang diukur berdasarkan kontrol glukosa darah selama terapi antidiabetika menggunakan independent t-test dan profil keamanan diukur berdasarkan insidensi efek samping hipoglikemik selama terapi antidiabetika. Penelitian ini terdiri dari 70 pasien dengan 34 pasien mendapat terapi glikuidon dan 36 pasien mendapat terapi insulin. Hasil analisis deskriptif penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan karakteristik pasien antara kelompok glikuidon maupun insulin (p>0,05). Rata-rata glukosa darah sewaktu (GDS) setelah penggunaan glikuidon 142,76±21,79 dan kelompok insulin 143,92±21,95 (p = 0,826). Rata-rata glukosa darah puasa (GDP) setelah penggunaan glikuidon 102,23±13,70 dan kelompok insulin 101,00±5,68 (p = 0,667). Hasil dari penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan efektivitas dan profil keamanan dengan pemberian glikuidon maupun insulin pada pasien diabetes dengan penyakit ginjal kronik.Kata Kunci: penyakit ginjal kronik; diabetes; glikuidon; insulin
Evaluasi Rasionalitas Terapi Antibiotik Pasien Osteomielitis di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta Taufiq Ramadhan; Ika Puspitasari; Rizka Humardewayanti Asdie
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i2.75285

Abstract

Osteomielitis adalah salah satu penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Salah satu komponen penting dalam pengobatan osteomielitis adalah terapi antimikroba yang rasional dari segi pemilihan obat, durasi, hingga dosis untuk masing-masing pasien. Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif yang bertujuan untuk mengevaluasi rasionalitas regimen terapi antibiotik pada pasien osteomielitis dengan algoritma Gyssens. Data dikumpulkan secara retrospektif melalui pencarian rekam medis pada pasien RSUP Dr Sardjito Yogyakarta yang terdiagnosis osteomielitis pada kurun waktu 1 Januari 2016 hingga 31 Desember 2020, yang dipilih dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian dari 198 terapi antibiotik yang diberikan 13 pasien menunjukkan bahwa hanya ada 52 terapi (26,3 %) yang tergolong rasional menurut algoritma Gyssens (kategori 0). Durasi pemberian antibiotik yang terlalu singkat (kategori IIIb) merupakan jumlah terbesar dengan 94 regimen (47,5 %), disusul oleh adanya antibiotik lain yang lebih efektif (kategori IVa) sebanyak 37 regimen (18,7 %). Rendahnya jumlah terapi yang rasional menunjukkan perlunya evaluasi lebih mendalam terkait rasionalitas terapi antibiotik pada kasus osteomielitis serta hubungannya dengan luaran klinis pasien. 
Pengukuran Kualitas Hidup Menggunakan Instrumen Quality of Well Being Self-Administered Scale (QWB-SA) pada Pasien Hipertensi Afrizal Wahyu Darma Syahyeri; Dwi Endarti; Tri Murti Andayani
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i2.75595

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang akan menyertai hidup pasien sehingga berdampak pada kualitas hidup. Pengukuran kualitas hidup dapat dilakukan dengan pendekatan kuesioner generik, salah satunya adalah kuesioner Quality of Well Being Self–Administered Scale (QWB–SA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai utilitas masyarakat dengan penyakit hipertensi yang diukur menggunakan kuesioner QWB–SA; mengetahui sensitivitas kuesioner serta untuk mengetahui hubungan antara karakteristik responden dengan nilai utilitas. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan observasional menggunakan rancangan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan yaitu convenience sampling terhadap 120 responden pada rentang waktu Juli – September 2021 pada masyarakat dengan penyakit hipertensi yang menjadi anggota Prolanis di puskesmas yang berada di wilayah Kabupaten Gunungkidul, Kota Surakarta, Kota Surabaya, dan Kabupaten Madiun yang mewakili regional I dari BPJS. Kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner QWB–SA. Analisis data menggunakan uji independent t-test serta kajian sensitivitas menggunakan kurva ROC dan effect size. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai utilitas rata-rata QWB-SA adalah 0,664 (SD: 0,120; SE: 0,011; Range: 0,309-1,000; Median: 0,651). Kuesioner QWB-SA memiliki sensitivitas sedang – besar dilihat dari nilai kurva ROC (0,715 dan 0,73) dan nilai effect size (0,819 dan 0,798). Responden yang sudah menikah (0,676); pendidikan terakhir SMA–Perguruan Tinggi (0,695); bekerja/ pensiun (0,685) secara signifikan terkait dengan skor keseluruhan QWB-SA memiliki nilai utilitas yang lebih tinggi. Responden yang memiliki riwayat penyakit penyerta (0,608); kebiasaan olahraga jarang/ tidak pernah (0,637) secara signifikan terkait dengan skor keseluruhan QWB-SA memiliki nilai utilitas yang lebih rendah.
Pengaruh Lokasi Tumbuh Terhadap Komponen Senyawa Minyak Atsiri serta Aktivitas Antibakteri Rimpang Zingiber montanum (J. Koenig) Link. ex. A. Dietr Laily Mega Rahmawati; Djoko Santosa; Purwanto Purwanto
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i2.76712

Abstract

Tanaman bengle atau Zingiber montanum (J. Koenig) Link. ex A. Dietr, telah banyak digunakan dalam pengobatan tradisional di beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan India. Rimpang bengle bersifat aromatis karena memiliki kandungan minyak atsiri yang tinggi. Artikel ini membahas aktivitas antibakteri pada rimpang bengle dari beberapa daerah, dengan melihat profil senyawa metabolit sekunder pada minyak atsiri berbasis jurnal ilmiah. Pada umumnya kandungan senyawa utama pada bengle yang berasal dari beberapa daerah yang berbeda memiliki kandungan senyawa utama yang sama dengan kadar yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan jenis tanah, suhu, kelembaban dan lokasi tempat tumbuh rimpang bengle berbeda. Berdasar hasil penelusuran artikel ilmiah, rimpang bengle yang tumbuh didataran rendah memiliki kadar senyawa yang lebih tinggi dibandingkan dengan rimpang bengle yang tumbuh di dataran tinggi. Perbedaan komposisi senyawa minyak atsiri berpengaruh pada variasi kadar hambat minimum aktivitas antibakterinya.
ANALISIS PRAKTEK DISTRIBUSI OBAT OLEH APOTEK DI WILAYAH KABUPATEN JEMBER Nanang Munif Yasin; Eko Agus Budi Darmawan; Satibi Satibi
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i2.77300

Abstract

Dengan keterbatasan cakupan pengawasan pemerintah dan sebaran fasilitas pelayanan kefarmasian, praktek distribusi obat oleh apotek tumbuh subur di wilayah Kabupaten Jember. Berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan, belum ditemukan penelitian mengenai praktek distribusi obat oleh apotek. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui praktek distribusi obat oleh apotek. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan pendekatan case study dengan sampel penelitian adalah apotek-apotek yang ditentukan berdasarkan hasil Focused Group Discussion (FGD) bersama Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) di Kabupaten Jember, Dinas Kesehatan Kabupaten Jember dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Pengurus Cabang Jember (purposive sampling). Cara pengumpulan data dilakukan dengan observasi apotek dan wawancara mendalam kepada PSA dan APA masing-masing apotek yang diobservasi.  Dari hasil observasi dan wawancara didapatkan hasil bahwa subyek melakukan pengadaan dalam jumlah besar dan tanpa pembatasan jumlah dari Pedagang Besar Farmasi (PBF), sedangkan pada penyalurannya seluruh subyek melakukan penyerahan obat kepada tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan) ataupun sarana pelayanan kefarmasian lain (apotek, Puskesmas, klinik, rumah sakit). Dalam menjalankan proses bisnisnya, subyek melakukan pengadaan dalam jumlah besar untuk mendapatkan potongan harga. Subyek juga melakukan evaluasi terhadap pesanan pelanggan walaupun jika stok tersedia sebagian subyek tetap akan melayani pesanan sesuai jumlah permintaan. Penyerahan obat selain diambil langsung di apotek juga dapat dilakukan dengan pengiriman oleh pegawai apotek maupun jasa ekspedisi. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa apotek dengan praktek distribusi obat di Kabupaten Jember melakukan pengadaan obat dari PBF dan menyalurkan obat ke tenaga kesehatan/sarana lain dalam jumlah besar, mendapatkan potongan harga khusus dari PBF, dapat melayani pemesanan maupun pengiriman obat ke pelanggan dengan bantuan sales apotek, dan adanya pilihan pembayaran secara kredit