DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora
DAR EL-ILMI: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan, dan Humaniora diterbitkan oleh Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul Ulum Lamongan. Terbit pada bulan April dan Oktober setiap tahun.
DAR EL-ILMI: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan, dan Humaniora memuat kajian-kajian ilmiah tentang pemikiran dalam bidang Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora dalam bentuk: 1) Hasil penelitian, 2) Gagasan konseptual, 3) Kajian kepustakaan, dan pengalaman praktis.
Articles
240 Documents
MANAJEMEN PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
Sampiril Taurus Tamaji
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (254.053 KB)
Penulisan artikel ini bertujuan untuk menjelaskan manajemen pembelajaran bahasa arab. Untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa Arab yang telah direncanakan oleh suatu lembaga termasuk madrasah, tentunya dibutuhkan sebuah manajemen pembelajaran bahasa Arab yang baik dan sesuai dengan makna dari manjemen itu sendiri yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan/pengarahan dan pengawasan/evaluasi sehingga tujuan pembelajaran itu dapat tercapai seoptimal mungkin. Dalam artikel ini penulis menggunakan penelitian deskriptif yaitu dengan menyajikan gambaran lengkap dalam bentuk verbal atau numerical dan menyajikan informasi dasar mengenai suatu hubungan serta mengeksplorasi mengenai suatu fenomena dan kenyataan sosial. Berdasarkan pembahasan yang telah di tulis maka penulis memberikan garis besar bahwasannya Manajemen pembelajaran bahasa Arab merupakan usaha untuk mengelola pembelajaran bahasa Arab yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efesien
TELA’AH NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK PADA KISAH SAYYIDATI KHADIJAH ISTRI RASULULLAH
Nurul Indana
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (386.737 KB)
Pendidikan akhlak adalah proses pembinaan budi pekerti anak sehingga menjadi budi pekerti yang mulia (akhlaq karimah). Proses tersebut tidak terlepas dari pembinaan kehidupan beragama peserta didik secara totalitas. Pendidikan akhlak dapat diajarkan melalui metode keteladanan. Sayyidati Khadijah adalah figur ibu rumah tangga yang paling mulia. Ia juga sosok wanita karir dan pengusaha terkaya yang turut mengubah sistem perdagangan yang kotor menjadi sistem perdagangan yang jujur. Ia merupakan sosok yang sangat cerdas dan mempesona. Ia juga pejuang gender dan emansipasi wanita untuk mengangkat harkat dan martabat seorang wanita. Lebih dari itu, khadijah adalah pendamping hidup Nabi Muhammad saw, yang sekaligus merupakan wanita pertama yang dijamin masuk surga serta wanita pertama yang mendapat salam dari Allah SWT. Nilai-nilai pendidikan Akhlak Istri Shalihah (pada Sayyidati Khadijah istri Rasulullah) digambarkan dari perilaku tokoh yang ada dalam cerita. Nilai Pendidikan Akhlak yang ada didalam sejarah yaitu nilai pendidikan akhlak terhadap Allah SWT, nilai pendidikan akhlak terhadap Rasulullah Saw, nilai pendidikan akhlak terhadap diri sendiri, dan nilai pendidikan akhlak terhadap orang tua. Nilai-nilai pendidikan Akhlak dalam kisah Sayyidati Khadijah istri Rasulullah meliputi: pertama nilai pendidikan akhlak terhadap Allah SWT (mentauhidkan Allah dan tidak mempersekutukan –Nya, cinta kepada Allah dan dzikrullah). Kedua nilai pendidikan akhlak terhadap Rasulullah Saw (bersifat santun, memberikan penghormatan yang tinggi kepada rasulullah, mencintai rasulullah), ketiga nilai pendidikan akhlak terhadap diri sendiri (amanah), keempat nilai pendidikan akhlak terhadap keluarga yaitu berbakti kepada orang tua.
BAHTSUL MASAIL SEBAGAI BUDAYA PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING
Siti Lathifatus Sun’iyah
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pendidikan pada era globalisasi, dituntut adanya kemajuan tidak sekedar mencukupi kebutuhan kognisi level rendah. Pendidikan diharapkan berorientasi pada kemampuan aplikatif bahkan analisis. Terjadinya ledakan pengetahuan menuntut perubahan pola mengajar dari yang hanya sekedar mengingat fakta menjadi pengembangan kemampuan berpikir kritis. Bahtsul Masail adalah forum diskusi agama yang mengakar kuat dan menjadi tradisi di kalangan pesantren. Forum ini secara normatif diadopsi dan diatur dalam kelembagaan NU. Bahtsul Masail dalam kelembagaan Syuriah NU merupakan usaha perumusan fatwa kolektif melalui diskusi bersama oleh para pakar, baik yang termasuk anggota struktural maupun dari kalangan para kiai pesantren. Kesepakatan hukum dari fatwa kolektif adalah representasi kelompok yang lebih kuat dari fatwa individu. Fatwa kolektif yang lahir dari ijtihad kelompok memiliki kelebihan, yaitu: menerapkan prinsip musyawarah, serta mewujudkan sikap saling melengkapi. Forum Bahtsul Masail melatih para pesertanya untuk berpikir terbuka dan tidak kaku dalam memutuskan persoalan. Bahtsul Masail merupakan aktivitas yang telah berlangsung sebagai praktik yang hidup di tengah masyarakat muslim nusantara, menjadi pengejawantahan tanggung jawab ulama dalam membimbing dan memandu kehidupan keagamaan masyarakat sekitarnya. Bahtsul Masail merupakan forum yang dinamis, demokratis, berwawasan luas. Karakteristik Bahtsul Masail sebagai pembelajaran Konstruktivistik adalah aplikasi pembelajaran aktif. Hasil nyata Bahtsul Masail adalah rasa tanggung jawab untuk berpartisipasi dalam pemecahan masalah umat melalui pemilihan konten pembelajaran dan pemerluasan konteks pembelajaran yang dihadapkan pada situasi riil.
KAJIAN BUDAYA LAKON WAYANG BIMA PERSPEKTIF ONTOLOGI
Sulhatul Habibah
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (235.552 KB)
Melihat persoalan budaya yang tereduksi akibat modernitas dan globalisasi budaya, maka artikel ini berusaha mengkaji salah satu lakon wayang Bima ditinjau melalui pendekatan ontologis. Masyarakat modern yang gemar menonton tontonan fulgar, akses internet tanpa filter, terjadinya kenakalan remaja sampai penggunaan narkoba, hidup sekedar dimaknai secara materialis, konsumeris dan pragmatis. Nilai-nilai etik dan estetik budaya luntur, terjadilah degradansi moral. Jika hal semacam itu dibiarkan maka akan menjadi pembudayaan baru, tanpa nilai. Pelestarian budaya Indonesia wayang adalah salah satu hal penting untuk menegaskan identitas bangsa. Hidup tidak sekedar mencari kesenangan semata, tapi lakon Bima mengisyaratkan secara ontologis ajaran konsepsi manusia, konsepsi Tuhan, dan bagaimana manusia menuju Tuhannya atau manunggaling kawulo gusti. Melihat wayang seperti melihat kaca rias,begitu pula pentingnya mengambil pesan moral disetiap pagelaran wayang. Mengingat generasi bangsa harus cepat kembali pada identitas bangsa, dan menjadi manusia bermartabat.
OTONOMI DAERAH PRESPEKTIF ASY SYAIBANI
Meriyati Meriyati;
Mohammad Faizal
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (403.873 KB)
Majunya suatu daerah harus ada campur tangan antara pemerintah dan lingkungan sekitar (baca : daerah) dari berbagai aspek. Tanpa keterlibatan keduanya sulit untuk mewujudkan kemajuan. Dengan keterlibatan keduanya, lebih mudah dalam mewujudkan daerah yang maju, aman dan makmur. Dalam upaya membangun suatu negara dan mencapai kemajuannya, akan lebih baik tanpa keterlibatan pihak eksternal yang ikut campur dalam penyelenggaraan negara. Hal ini diharapkan dapat menjadikan negara menjadi independen, tidak mudah didekte oleh pihak luar sehingga kuat dan berdaulat. Dalam upaya menuju pembangunan dan memajukan daerah-daerah di negara, perlu adanya otonomi daerah. Otonomi ini dapat menjadi oase yang baik dan berdampak positif. Jika ekonomi pada suatu daerah otonom berjalan dengan baik, maka akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut, mislanya dengan terpenuhinya kebutuhan pokok. Sebaliknya, apabila otonomi tidak berjalan dengan baik, maka akan melahirkan kesenjangan ekonomi yang signifikan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya golongan masyarakat yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Akibat yang akan muncul adalah kriminalitas meningkat di daerah tersebut. Artinya, bahwa otonomi daerah akan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat kriminalitas pada suatu daerah tersebut. Pelaksanaan otonomi daerah diletakkan pada daerah provinsi dalam kedudukannya sebagai wilayah administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada gubernur sebagai wakil pemerintah.
LINGUISTICS
Khoirul Huda
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (122.087 KB)
Linguistics is the scientific study of natural language and is one of the four subfield of anthropology. Linguistics encompasses a number of sub-fields. An important topical division is between the study of language structure (grammar) and the study of meaning ( semantics and pragmatics). Grammar encompasses morphology (the formation and composition of words ), syntax (the rules that determine how words combine into phrase and sentences) and phonology (the study of sound systems and abstract sound units). Part of linguistics are syntax, morphology, phonology, sociolinguistic and psycholinguistic.
NALAR SUFISTIK ISLAM NUSANTARA DALAM MEMBANGUN PERDAMAIAN
Sauqi Futaqi
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (279.357 KB)
Tulisan ini mencoba menemukan nalar sufistik dalam pemikiran Islam Nusantara. Kajian ini bertujuan untuk (1) melakukan konstruksi nalar sufistik yang sebenarnya memiliki basis historis yang cukup kuat dalam pergumulan Islam di Nusantara; (2) menjadikan nalar sufistik sebagai tawaran dalam membangun perdamaian dunia. Untuk menemukan konstruksi ini, penulis akan memulai dengan pembahasan diskursus Islam Nusantara dalam rangka untuk menemukan legitimasi historis nalar sufistik. Dengan legitimasi historis ini, penulis mencoba menemukan konstruksi nalar sufstik yang dibangun dalam pergumulan Islam di Nusantara. Berdasarkan kajian yang penulis lakukan, konstruksi nalar sufistik ini memuat nalar sufistik yang dominan, yakni 1) nalar sufistik menjadikan Tuhan sebagai pusat; 2) nalar sufistik sangat memperhatikan aspek keikhlasan dan kekhusu’an; 3) nalar sufistik dibangun berdasarkan model keberagamaan berbasis afektif dan rasa, dengan semangat peningkatan moral dan keluhuran budi pekerti; 4) nalar sufistik dikonstruksi melalui pemahaman keagamaan yang inklusif dan toleran. Empat konstruksi nalar sufistik ini menjadi penting dalam membangun perdamaian dunia. Dalam tataran teoritis, kehadirannya dapat menembus tembok-tembok pemisah antara satu disiplin keislaman dengan disiplin keislaman dan antara disiplin keislaman dengan displin keilmuan lainnya. Dalam tataran praktis, konstruksi nalar ini akan berkontribusi dalam mengatasi hambatan atau keterbatasan hubungan yang disebabkan perbedaan keyakinan, agama, paham/aliran dalam internal umat beragama, budaya, adat istiadat, kedaerahan, dan perbedaan lain yang melekat pada individu.
PERBEDAAN KUALITAS MODEL PENSEKORAN KOMPOSIT DAN PENALTI DITINJAU DARI DAYA BEDA DAN RELIABILITAS BUTIR SOAL PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Siti Hajaroh
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan daya beda butir antara sekor siswa yang dihitung dengan menggunakan sekor komposit dan sekor penalti pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, untuk mengetahui perbedaan reliabilitas butir antara sekor siswa yang dihitung dengan menggunakan sekor komposit dan sekor penalti pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini disebut quasi eksperimental karena data-data diperoleh melalui kegiatan eksperimen, Quasi experimen digunakan karena pada kenyataanya sulit mendapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian. Adapun rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan The Posttest-Only Design with nonequivalent Group.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN I Gerung Kabupaten Lombok Barat yang berjumlah 312 siswa yang kemudian diambil secara acak yang dijadikan sebagai sampel. Uji hipotesis penelitian yakni melakukan uji kesamaan dua rerata:kedua kelas berdistribusi normal dan homogen, maka dilakukan uji kesamaan dua rerata (Uji-t) melalui uji dua pihak menggunakan independent sample t-test. Hasil uji hipotesis I menunjukkan bahwa thitung= 0,471 sehingga thitung= 0,471 >Ltabel(0,05:78)=1,669Maka H0 diterima dan H1 ditolak , pada taraf signifikan α=0,05 artinya tidak terdapat perbedaan Daya Beda antara sekor komposit dengan. Penalti. Ini menunjukkan bahwa jika ditinjau dari dari rata-rata kedua sekor, maka penekoran kedua kelompok tersebut adalah relatif sama. Dan hasil uji hipotesis ke 2 menunjukkan bahwa thitung= 4,2 sehingga thitung= 4,2>Ltabel(0,05:10)=1,812, Maka H0 ditolak dan H1 diterima pada taraf signifikan α=0,05 artinya terdapat perbedaan Reliabilitas antara sekor komposit dengan penalti. Melihat perbandingan rata-rata dari kedua model pensekoran menunjukkan sekor penalti lebih tinggi dari pada sekor komposit. Artinya bahwa reliabilitas model pensekoran penalti lebih tinggi di banding dengan komposit
A CONTRASTIVE ANALYSIS OF INTERROGATIVE SENTENCES IN ENGLISH AND INDONESIAN LANGUAGE
Khoirul Huda
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.497 KB)
Human beings are social creatures. They need a language for communication. A human being who came from different country has different language for communication. Although the languages are different, those have some similarities. The similarities of languages make the students easy to learn the languages as second or foreign languages. However, the differences of languages cause students face some difficulties to learn other languages. This research has analyzed some differences of interrogative sentences in English and Indonesian language in order to contribute positively in language learning and teaching. This research uses a method to know the differences between two languages. The method is contrastive analysis. Contrastive Analysis is a method of language analysis that popular in linguistic study in middle of 20th century. This method is used to contrast between two languages that have differences. Through this method, linguists or language learners find the differences which make them find the difficulties of languages which make them find the conveniences in learning. Interrogative sentences that have been analyzed in this research are sentences have essential roles in communications and learning language process too. Through this sentence, questioners obtain some information from respondent and teachers also invite the students’ idea. Before analyze the differences between two languages, this research presents the data presentation that explains the kinds of interrogative sentences in English and Indonesian language clearly. Then, researcher contrast two languages to find out differences of them. The differences between two languages are found, such as in placing of question words, the use of “who”, the form of interrogative sentences, tag questions. Based on this analysis can be known that interrogative sentences in English and Indonesian language have brief differences. The research findings have been found based on the structure and the uses of sentences.
DISKRIMINASI GENDER DALAM KEBIJAKAN PESANTREN
Suwarno Suwarno
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (215.825 KB)
Pondok pesantren Al Muhamad Cepu sebagai lembaga pendidikan Islam yang bercorak salaf dan modern tidak menutup kemungkinan terdapat beberapa kebijakan yang masih di anggap diskriminatif terhadap kesetaraan gender contoh kasus kebijakan seperti adanya penekanan dan memperketat peraturan pada santri putri pada saat izin keluar, dengan alasan menjaga untuk tidak terjadi hubungan ghoiru muhrim (lawan jenis), ruang relasi gender terasa sangat minim sekali di pesantren ini, mengutip pernyataan omid safi bahwa kesetaraan dan keadilan gender harus diberikan kepada kaum wanita bukan sebagai hadiah atau belas kasihan, melainkan mereka adalah bagian dari umat manusia yang memang memiliki hak melekat atas semua yang semestinya mereka dapatkan. Penelitian ini dilakukan untuk memahami secara mendalam kondisi pesantren Al Muhamad Cepu yang menimbulkan perlakuan diskriminatif terhadap santri putri. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan instrument kunci adalah peneliti sendiri. Sedangkan dalam proses pengumpulan datanya peneliti menggunakan alat bantu instrument yaitu berupa lembaran catatan data, tape recorder, foto, dan instrumen lain yang terkait dengan kebutuhan peneliti. Penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa di pondok pesantren Al Muhamad Cepu telah berjalan sebuah peraturan yang baik untuk membentuk pribadi disiplin dengan harapan alumninya akan menjadi insan yang berbudi luhur dan berakhlaqul karimah, karena pesantren bertindak dan berfungsi sebagai bengkel moral. Tetapi apabila dilihat dengan kacamata kesetaraan gender pedoman pengasuh yang masih normatif dan bersifat universal seperti tidak melanggar molimo dan memiliki azas manfaat yang dijadikan landasan oleh pengurus keamanan santri putri. penafsiran dan pengejawantahannya di lapangan masih cenderung bersifat patriarkhi, dengan bukti adanya perbedaan peraturan antara santri putri dengan santri putra dalam hal urusan keluar pesantren. Pesantren putri lebih terasa diperketat daripada pesantren putra, pesantren putri lebih sulit untuk menjalin relasi di luar sedangkan pesantren putra bebas.