cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Mikologi Indonesia
ISSN : 25798766     EISSN : 25798766     DOI : -
Jurnal Mikologi Indonesia (JMI) adalah jurnal nasional tentang diversitas Fungi di Indonesia yang mempublikasi artikel penelitian, review, metodologi, dan artikel-artikel taksonomi seperti monograf, jenis baru, catatan baru, checklist yang terkait dengan diversitas dan penyebaran Fungi, termasuk Lichen. Bahasa resmi yang digunakan adalah bahasa Indonesia. JMI akan mempublikasi setiap manuskrip sesegera mungkin setelah diterima oleh editor dan melalui proses peer review.
Arjuna Subject : -
Articles 62 Documents
Efek Jamur Endofit Asal Daun dan Akar Kacang Tanah terhadap Pertumbuhan dan Penghambatan Patogen Inangnya Noor Istifadah; I P Sari
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 1, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v1i2.20

Abstract

Keberadaan jamur endofit dalam jaringan tanaman dapat menguntungkan, merugikan atau tidak berpengaruh terhadap tanaman inangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh jamur endofit yang diisolasi dari akar dan daun kacang tanah terhadap pertumbuhan tanaman kacang tanah dan kemampuannya dalam menghambat patogen inangnya yaitu Sclerotium rolfsii dan Cercospora sp. secara in vitro. Sampel tanaman diperoleh dari daerah Panyingkiran (Kabupaten Majalengka), Jatinangor (Kabupaten Sumedang) dan Arjasari (Kabupaten Bandung). Isolat jamur endofit akar yang diperoleh diuji patogenesitasnya terhadap kecambah dan bibit tanaman kacang tanah. Isolat jamur endofit dari daun diuji patogenesitasnya dengan menginokulasikannya pada daun kacang tanah. Isolat jamur endofit akar yang bersifat non patogenik diuji kemampuan antagonistiknya terhadap S. rolfsii, sedangkan isolat yang berasal dari daun diuji terhadap Cercospora sp.secara in vitro. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dari 13 isolat jamur endofit asal daun kacang tanah yang diperoleh, tiga isolat bersifat patogenik dan 10 isolat bersifat non patogenik. Semua isolat dari daun kurang efektif menekan pertumbuhan Cercospora sp. Diantara 10 isolat jamur endofit asal akar kacang tanah, sembilan isolat dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman kacang tanah. Sebagian besar isolat jamur endofit asal akar yang diuji kurang efektif menghambat pertumbuhan S. rolfsii secara in vitro. Diperoleh satu isolat jamur endofit akar yaitu isolat SAE (Aspergilus sp.) yang dapat menekan pertumbuhan patogen tersebut sebesar 66.9%.
Keanekaragaman Makrofungi di Arboretum Inamberi Lisna Khayati; H Warsito
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v2i1.30

Abstract

Jamur makro merupakan salah satu keanekaragaman hayati yang penting di hutan tropis Indonesia. Jamur makro memiliki peran penting dalam siklus biogeokimia tanah, siklus hara, pendekomposer sehingga membantu proses dekomposisi bahan organik dalam ekosistem hutan. Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi jamur makro yang tumbuh di kawasan Arboretum Inamberi dan dapat memberikan informasi tentang potensi keanekaragaman yang ada di kawasan tersebut yang diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan, obat, dan pendekomposer. Metode pengumpulan jamur makro yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode jelajah (Cruise Method) pada bulan Agustus-September 2016. Identifikasi jenis makrofungi dilakukan dengan menggunakan ciri morfologi. Hasil survey menunjukkan terdapat 34 jenis dari 17 famili yang termasuk kedalam 2 divisi makrofungi. cendawan yang banyak ditemukan berasal dari divisi Basidiomikota dengan jumlah spesies sebanyak 31 spesies dan yang paling sedikit dari divisi Askomikota dengan jumlah 3 spesies. Sebagian besar cendawan Basidiomikota yang ditemukan berada pada pohon mati/kayu lapuk dan serasah daun/tanah.
Inventarisasi Penyakit Tanaman Pisang Koleksi Kebun Plasma Nutfah, Cibinong Science Center-BG Indira Riastiwi
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 1, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v1i1.12

Abstract

Kebun Plasma Nutfah Pisang Cibinong Science Center (CSC) merupakan koleksi pisang ha-sil dari eksplorasi ke seluruh wilayah Indonesia. Koleksi ini kemudian diperbanyak untuk pe-nelitian lebih lanjut. Dalam proses pengelolaannya monitoring kesehatan tanaman pisang per-lu dilakukan untuk meningkatkan kualitas koleksi tersebut. Untuk keperluan tersebut dilaku-kan inventarisasi terhadap jenis-jenis penyakit yang menyerang tanaman koleksi, dengan ha-rapan untuk mempertahankan kualitasnya sebagai bahan dasar penelitian lebih lanjut. Pe-nelitian diawali dengan (1) Identifikasi kerusakan tanaman pisang dengan menggunakan hasil modifikasi metode Forest Health Monitoring (FHM), kemudian dilanjutkan dengan (2) me-ngukur intensitas serangan dan luas serangan pada tanaman pisang. Hasil penelitian menun-jukkan bahwa koleksi pisang di kebun plasma nutfah CSC terserang penyakit Layu Fusarium (2,9%), penyakit bercak Cordana (2%), penyakit Black Sigatoka (5,62%) dan penyakit Yel-low Sigatoka (4,68%). Luas serangan terjadinya penyakit sebesar 30,89%.
Efektivitas Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.) untuk Mengendalikan Penyakit Antraknosa yang Disebabkan oleh Jamur Colletotrichum sp.pada Cabai (Capsicum annuum L.) Yulianty Yulianty; M L Lande; T T Handayani
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v2i1.40

Abstract

Cabai merupakan salah satu komoditas tanaman yang sangat penting dan banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Namun produksi buah cabai menurun karena serangan penyakit yang disebabkan oleh jamurColletotrichum sp.. Salah satu cara untuk mengendalikan penyakit ini yaitu dengan menggunakan ekstrak daun tumbuhan seperti Carica papaya L. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh getah papaya yang berasal dari daun dalam mengendalikan penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp.dan menentukan konsentrasi yang optimum dari daun papaya dalam menekan pertumbuhan dan perkembangan jamur Colletotrichum sp. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan yaitu konsentrasi ekstrak daun pepaya : 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5%. Selanjutnya dilakukan analisis ragam dan dilanjutkan dengan Uji BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun pepaya 5% mampu memperlambat munculnya gejala serta mampu menurunkan intensitas serangan dan susutnya bobot buah cabai
Pemanfaatan Kapang Rhizopus sp. sebagai Agen Hayati Pengapung Pakan Ikan Catur Sriherwanto; Imam Suja'i; Soraya Soraya
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 1, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v1i2.21

Abstract

Rhizopus sp. dikenal sebagai kapang tempe kedelai, dan juga banyak digunakan dalam fermentasi substrat selain kedelai. Aktivitas metabolisme Rhizopus sp. memberikan sifat fisik baru pada substrat yang difermentasi, termasuk kemampuan mengapung pada permukaan air dan kekompakan dalam air karena miselianya merajut dan menyatukan butiran-butiran substrat. Sifat ini berpotensi diterapkan dalam pembuatan pakan ikan apung. Dalam penelitian ini, Rhizopus sp. digunakan sebagai agen pengapung hayati pada pakan ikan melalui fermentasi padat dimana pakan ikan tenggelam komersial digunakan sebagai substrat. Pakan fermentasi yang dihasilkan lalu dikeringkan di dalam oven dan diuji untuk mengetahui kualitas fisiknya dibandingkan dengan pakan ikan apung komersial (kontrol positif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik pakan ikan apung fermentasi dan pakan ikan apung komersial memiliki daya apung ≥ 95% selama 60 menit, dengan stabilitas dalam air tanpa aerasi masingmasing 80,3-87,1% dan 85,6%. Namun, dalam air beraerasi, daya apung pakan fermentasi menurun menjadi 0-2,5%, sedangkan pada pakan kontrol 82,5%. Daya serap air pakan fermentasi berkisar antara 108% sampai 144%, yakni lebih rendah dari pada pakan komersial (260%). Dapat disimpulkan bahwa fermentasi padat menggunakan Rhizopus sp. berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai agen pengapung hayati dalam pembuatan pakan ikan apung.
Medium Tapioka untuk Preservasi Kapang yang Bermanfaat untuk Veteriner Riza Zainudin Ahmad
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v2i1.36

Abstract

Preservasi mempunyai arti penting bagi kelestarian jamur khususnya kapang. Pemilihan media preservasi umumnya bergantung kepada tujuannya. Tujuan dari percobaan ini untuk menguji tapioka sebagai komponen utama preservasi kapang yang bermanfaat, khususnya untuk veteriner. Kapang yang digunakan dalam penelitian ini adalah Duddingtonia flagrans dan Purpureocillium lilacinum. Percobaan dilakukan selama 15 bulan, di Laboratorium Mikologi Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor. Disiapkan 72 tabung, diisi dengan 4 gram tapioka dan 2 mL air, lalu diinokulasikan kapang yang berisi 1 × 105 spora. Setiap bulan secara berurutan satu tabung dibuka hingga tabung ke-12. Uji ini dilakukan sebanyak 3 ulangan, dengan 2 isolat kapang di atas. Hasil percobaan menunjukkan bahwa D.flagrans dapat dipreservasi hingga 12 bulan, dan P.lilacinus selama 8 bulan.
Isolasi Spora Tunggal Iman Hidayat
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 1, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v1i1.13

Abstract

-
Uji Aktivitas Antimikroba Kombucha Teh Hitam dan Kombucha Teh Kulit Manggis Berdasarkan Lama Fermentasi Syarilla Asri; A Martina
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.77 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v2i2.48

Abstract

Kombucha merupakan minuman hasil fermentasi dengan bantuan simbiosis antara bakteri dan beberapa jenis khamir yang memiliki manfaat sebagai antimikrob. Substrat umum kombucha adalah teh hitam yang mengandung polifenol dan memiliki efek antimikrob.Tanaman dan ramuan herbal lain dapat digunakan sebagai substrat kombucha salah satunya kulit manggis. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu optimal pada fermentasi kombucha teh hitam dan kombucha teh kulit manggis dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis, Salmonella typhi, dan Microsporum canis. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Uji aktivitas antimikrob kombucha dengan metode sumuran. Hasil penelitian menunjukkan semakin lama waktu fermentasi maka nilai pH akan semakin menurun dan zona hambat yang terbentuk akan semakin besar. Zona hambat kombucha teh hitam dan kombucha teh kulit manggis dengan lama fermentasi 14 hari berbeda nyata dan merupakan fermentasi yang optimal serta memiliki potensi kategori daya hambat kuat. Zona hambat paling besar terhadap S.epidermidis dihasilkan pada kombucha teh kulit manggis fermentasi 14 hari dengan luas zona hambat14,84 mm dibandingkan S.typhi dengan luas zona hambat 13,81 mm. Kombucha teh hitam dan kombucha teh kulit manggis berpotensi menghambat pertumbuhan S.epidermidis dan S.typhi namun tidak mampu menghambat pertumbuhan M.canis.
Karakterisasi dan Klasifikasi Numerik Khamir dari Madu Hutan Sulawesi Tengah Meilia Prihartini; Miftahul Ilmi
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.662 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v2i2.41

Abstract

Khamir merupakan fungi uniseluler yang memiliki habitat hidup di hampir semua tempat seperti wilayah akuatik, daratan, dan udara termasuk dalam makanan. Madu merupakan salah satu makanan dengan kandungan gula tinggi dan aktivitas air (aw) yang rendah. Madu hutan Sulawesi Tengah merupakan salah satu jenis madu asal Indonesia yang dihasilkan oleh lebah madu Apis dorsata. Madu mengandung mikroorganisme, terutama khamir, yang berasal dari nektar yang dihisap oleh lebah madu. Penelitian karakterisasi dan klasifikasi khamir dalam madu hutan Sulawesi Tengah dilakukan untuk memperoleh informasi mengenaikeragaman isolat khamir dalam madu hutan dan untuk mengetahui karakteristikisolat khamir dalam madu hutan Sulawesi Tengah. Khamir diisolasi dari sampel madu hutan menggunakan medium Bean Sprouts Extract Agar (BSEA). Isolat dikarakterisasi meliputi uji karakter morfologi koloni, morfologi sel, dan uji karakter fisiologi-biokimia. Masing-masing karakter yang diuji dikodekan dengan1 apabila hasil positif dan 0 apabila negatif dan dibuat matriks n × t. Data dianalisisdengan metode taksonomi numerik dengan tingkat kemiripan ditentukan menggunakan Jaccard coefficient (SJ) dan Simple Matching coefficient (SSM). Sementara pengelompokkan (clustering)digunakan metode UPGMA. Data diolah menggunakan program MVSP dan disajikan dalam bentuk dendrogram. Dari 11sampel madu hutan berhasil diisolasi 27 jenis khamir yang dikelompokkan menjadi 6 genus dan 1 outlier berdasarkan nilai indeks kesamaan ≥ 70% menunjukkan keragaman yang rendah. Karakteristik isolat khamir dalam madu hutan Sulawesi Tengah yaitu merupakan khamir Ascogenous yang bersifat osmofilik, mampu mengasimilasi 8 jenis karbon, tumbuh pada suhu 37°C, memfermentasi glukosa, non-fermentatif terhadap galaktosa, laktosa, dan sukrosa, serta mengasimilasi nitrogen khususnya KNO3.
Jenis-Jenis Jamur Makroskopis Anggota Kelas Basidiomycetes Di Hutan Bayur, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat Rahmawati Rahmawati; Riza Linda; Nina Yuni Tanti
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1046.898 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v2i2.35

Abstract

Jamur makroskopis dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan obat.Pada ekosistem hutan, jamur makroskopis berperan sebagai dekomposer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis jamur makroskopis anggota kelas Basidiomycetes yang terdapat di Hutan Bayur, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Metode yang digunakan dalam penentuan stasiun sampling adalah purposive sampling dengan memilih 3 stasiun berdasarkan perbedaan rona lingkungan. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode jelajah (Cruise Method). Identifikasi jamur makroskopis dengan mencocokkan karakteristik morfologis sampel dengan buku identifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 18 jenis jamur makroskopis yang termasuk ke dalam empat Ordo, yaitu Aphyllophorales, Agaricales, Auriculariales dan Polyporales. Jamur makroskopis yang ditemukan mendominasi berasal dari Ordo Aphyllophorales, seperti Pycnoporus sanguineus, Polyporus versicolor, Polyporus varius, Schizophyllum commune, Thelephora palmata, Earliella scabrosa, Lignosus rhinocerus, Trametes versicolor, Heterobasidion annosum dan Ganoderma applanatum. Beberapa jenis jamur makroskopis yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan oleh masyarakat setempat adalah spesies Auricularia polytricha, Hygrocybe conica, Pleurotus ostreatus dan Schizophyllum commune.