cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia
ISSN : 2302187X     EISSN : 26563614     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia adalah publikasi ilmiah berkala yang terbit dua kali dalam satu tahun (September dan Maret) dan menggunakan sistem peer-riview dalam seleksi makalah. Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia menerima naskah publikasi tentang hasil penelitian, survei dan telaah pustaka yang erat kaitanya dengan bidang kefarmasian dan kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 114 Documents
SINTESIS DAN STUDI MOLECULAR DOCKING SENYAWA PIRAZOLO-PIRIDIN TERSUBSTITUSI METOKSI TURUNAN KURKUMIN MONOKARBONIL SEBAGAI INHIBITOR ENZIM SIKLOOKSIGENASE-2 Enda Mora; Adel Zamri; Hilwan Yuda Teruna; Neni Frimayanti; Ihsan Ikhtiarudin; Shafira Melsonia
Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia Vol 12 No 1 (2023): JPFI
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51887/jpfi.v12i1.1763

Abstract

Scaffold pirazol maupun piazolo-piridin telah dilaporkan memiliki potensi aktivitas biologis yang menarik dan terdapat pada berbagai struktur senyawa obat yang telah disetujui oleh food and drug administration (FDA). Pada penelitian ini, senyawa pirazolo-piridin tersubstitusi metoksi sebagai turunan dari analog kurkumin monokarbonil telah disintesis melalui dua tahap reaksi. Tahap pertama adalah sintesis analog kurkumin monokarbonil tersubsitusi metoksi melalui reaksi kondensasi Claisen-Schmidt dengan bantuan iradiasi microwave. Tahap kedua adalah sintesis senyawa pirazolo-piridin melalui reaksi adisi nukleofilik yang diikuti oleh reaksi siklisasi intramolekular dalam reaktor tertutup, monowave 50. Kemurnian produk hasil sintesis telah dipastikan melalui analisis HPLC. Struktur senyawa pyrazolo-piridin telah dikonfirmasi melalui analisis spektroskopi UV-Vis, FT-IR, dan 1H-NMR. Berdasarkan studi molecular docking, senyawa tersebut  tidak menunjukkan potensi aktivitas yang baik sebagai inhibitor enzim siklooksigenase-2 (COX-2), karena hanya memiliki nilai energi bebas pengikatan sebesar -5,98 kcal/mol. Selain itu, pirazolo piridin tersubstitusi metoksi juga tidak dapat membentuk satupun ikatan hidrogen dengan sisi aktif COX-2. Di sisi lain, celecoxib sebagai kontrol positif memiliki energi bebas pengikatan sebesar -11,97 kcal/mol dan dapat membentuk ikatan hidrogen dengan residu asam amino Gln178, Leu338, Arg499, dan Phe504 pada sisi aktif COX-2 (PDB ID: 3LN1). Pyrazol and pyrazolopyridine scaffolds have been reported to have many interesting biological activities and present in various structures of drug compounds that have been approved by the food and drug administration (FDA). In this study, a methoxy-substituted pyrazolo-pyridine compound as derivative of monocarbonyl curcumin analogs was synthesized in two steps of reaction. The first step was the synthesis of monocarbonyl curcumin analog through the Claisen-Schmidt condensation with the assist of microwave irradiation. The second step is the synthesis of pyrazolopyridine through nucleophilic addition followed by intramolecular cyclization in a closed-vessel reactor, monowave 50. The purity of synthesized product was confirmed by HPLC analysis, and the structure has been confirmed through UV-Vis, FT-IR, and 1H NMR spectroscopic analyses. Based on the molecular docking study, the pyrazolo-pyridine did not show good activity as cyclooxygenase-2 (COX-2) inhibitor, because it only has a binding free energy of -5.98 kcal/mol. In addition, methoxy-substituted pyrazolo-pyridin also can not form any hydrogen bonds with the active site of COX-2. On the other hand, celecoxib as a positive control has a binding free energy of -11.97 kcal/mol and can form hydrogen bonds with Gln178, Leu338, Arg499, and Phe504 amino acid residues on the active site of COX-2 (PDB ID: 3LN1).
POTENSI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN VARIASI EKSTRAK ETANOL DAUN KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) DARI DAERAH MUARO LABUH DENGAN METODE DPPH Fathnur Sani Kasmadi; Bima Arya Nugraha; M.Rifqi Efendi; Entang Komalasari; Tri Nadia Putri
Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia Vol 14 No 2 (2025): JPFI
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51887/jpfi.v14i2.1993

Abstract

Antioksidan berfungsi sebagai penstabil dengan cara memberikan elektron yang mampu menghambat reaksi berantai radikal bebas. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa variasi pelarut etanol yang digunakan dan lokasi tumbuh suatu tanaman mempengaruhi aktivitas antioksidan dari tanaman tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi aktivitas antioksidan dari variasi ekstrak etanol daun kayu manis (25%, 50% dan 100%). Metode yang digunakan untuk pengujian aktivitas antioksidan adalah metode DPPH dengan kontrol positif yang digunakan adalah vitamin C. Hasil menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok. Dimana ekstrak etanol 25% memiliki antivitas antioksidan yang sangat kuat (IC50 = 38,24 ± 0,67 ppm), sedangkan ekstrak etanol 50% (IC50 = 123,17 ± 0,83 ppm) dan 100% (IC50 = 136,18 ± 2,51 ppm) dari daun kayu manis memiliki aktivitas sedang. Antioxidants function as stabilizers by providing electrons that can inhibit free radical chain reactions. Previous studies have shown that variations in ethanol solvents used and the location where a plant grows affect the antioxidant activity of the plant. This study aims to identify the antioxidant activity of variations in cinnamon leaf ethanol extract (25%, 50% and 100%). The method used to test antioxidant activity is the DPPH method with the positive control used being vitamin C. The results showed significant differences between groups. Where 25% ethanol extract has very strong antioxidant activity (IC50 = 38.24 ± 0.67 ppm), while 50% ethanol extract (IC50 = 123.17 ± 0.83 ppm) and 100% (IC50 = 136.18 ± 2.51 ppm) from cinnamon leaves have moderate activity.
PROFIL PENGGUNAAN ANTIDIABETES ORAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI POLI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT PEKANBARU MEDICAL CENTER (PMC) TAHUN 2024 Husnawati; Adinda Salwa Nabilla
Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia Vol 14 No 2 (2025): JPFI
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51887/jpfi.v14i2.2098

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau ketika tubuh secara efektif tidak dapat  menggunakan hasil insulinnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penggunaan antidiabetes oral pada pasien DM tipe 2 di poli rawat jalan Rumah Sakit Pekanbaru Medical Center (PMC) tahun 2024. Sampel penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 yang mendapatkan obat oral di poli rawat jalan RS PMC tahun 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan jenis penelitian observasional dengan pengambilan data secara retrospektif dan analisis data dilakukan secara deskriptif untuk melihat gambaran penggunaan antidiabetes oral pada pasien DM tipe 2 di poli rawat jalan RS PMC pada tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (66,27%), dengan penggunaan obat oral terbanyak pada rentang usia pra lansia 45-59 tahun sebanyak 56,63%. Antidiabetes yang paling banyak digunakan di Rumah Sakit Pekanbaru Medical Center (PMC) berdasarkan zat aktif dan golongan obat adalah zat aktif glimepiride sebanyak 48,20% dengan golongan sulfonilurea sebanyak 54,68% dan zat aktif metformin sebanyak 34,53% dengan golongan biguanid. Obat generik dan dagang yang paling banyak digunakan adalah generik sebanyak 100%. Terapi tunggal dan kombinasi yang paling banyak digunakan yaitu terapi kombinasi sebanyak 53,01%, dan kombinasi yang banyak digunakan yaitu kombinasi glimepiride dengan metformin sebanyak 68,18%. Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease that occurs when the pancreas does not produce enough insulin or when the body cannot effectively use its insulin. The purpose of this study was to determine the description of the use of oral antidiabetic drugs in type 2 DM patients in the outpatient clinic of Pekanbaru Medical Center (PMC) Hospital in 2024. The sample of this study was type 2 DM patients who received oral medication in the outpatient clinic of PMC Hospital in 2024. The method used in this study was an observational study with retrospective data collection and descriptive data analysis to see the description of the use of oral antidiabetic drugs in type 2 DM patients in the outpatient clinic of PMC Hospital in 2024. The results showed that the majority of respondents were female (66.27%), with the use of oral medication in the pre-elderly age range of 45-59 years as much as 56.63%. The most widely used antidiabetic drugs at Pekanbaru Medical Center (PMC) Hospital based on active ingredients and drug class are glimepiride (48.20%), sulfonylurea (54.68%), and metformin (34.53%), biguanide (34.53%). Generic and trade names are the most widely used drugs, accounting for 100%. The most commonly used single and combination therapies are combination therapy (53.01%), and the most commonly used combination is glimepiride and metformin (68.18%).
SYNTHESIS AND α-GLUCOSIDASE INHIBITORY EVALUATION OF N-BENZENESULFONYL PYRIDAZINONE Noval Herfindo; Fadila Aisyah
Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia Vol 14 No 2 (2025): JPFI
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51887/jpfi.v14i2.2172

Abstract

Turunan piridazinon diketahui memiliki berbagai aktivitas biologis, termasuk potensi sebagai antidiabetik melalui penghambatan enzim α-glukosidase. Pada penelitian ini, turunan N-benzensulfonil piridazinon, yaitu 6-(3-bromofenil)-2-(fenilsulfonil)piridazin-3(2H)-on (7), telah disintesis dan dikonfirmasi strukturnya menggunakan analisis FTIR, ¹H-NMR, dan HRMS. Studi molecular docking dilakukan menggunakan struktur α-glukosidase lisosomal manusia (PDB ID: 5NN5) untuk memprediksi afinitas ikatan dan interaksi kunci pada sisi aktif enzim. Hasil docking menunjukkan bahwa senyawa 7 memiliki binding score (S) sebesar –10,96, lebih tinggi dibandingkan akarbosa (S = –18,24), serta menghasilkan interaksi ikatan hidrogen yang lebih sedikit. Uji penghambatan α-glukosidase secara in vitro menggunakan enzim α-glukosidase Saccharomyces cerevisiae menunjukkan aktivitas yang lemah, di mana senyawa 7 hanya menghambat enzim sebesar 2,5% pada konsentrasi 50 μM, dibandingkan 47,8% oleh akarbosa. Meskipun sesuai prediksi docking, kelarutan senyawa 7 yang sangat rendah diduga berkontribusi terhadap perbedaan signifikan aktivitas biologis tersebut. Dengan demikian, kerangka piridazinon tetap menjadi struktur yang menjanjikan untuk dimodifikasi lebih lanjut guna meningkatkan potensi dan khususnya kelarutan senyawanya. Pyridazinone derivatives are known for a wide range of biological activities, including potential antidiabetic properties through α-glucosidase inhibition. In this study, the N-benzenesulfonyl pyridazinone derivative, 6-(3-bromophenyl)-2-(phenylsulfonyl)pyridazin-3(2H)-one (7) was synthesized and confirmed its structure by using FTIR, 1H-NMR, and HRMS analyses. Molecular docking was performed using the human lysosomal α-glucosidase structure (PDB ID: 5NN5) to predict its binding affinity and key interactions within the active site. Docking results showed that compound 7 exhibited a binding score (S) of –10.96, lower than that of acarbose (S = –18.24), and formed fewer hydrogen-bond interactions. The in vitro α-glucosidase inhibitory assay using Saccharomyces cerevisiae α-glucosidase demonstrated weak activity, where compound 7 inhibited the enzyme by only 2.5% at 50 μM, compared to 47.8% inhibition by acarbose. Although the result as predicted, the poor solubility of compound 7 may have contributed to significant difference of their biological activity. Therefore, the pyridazinone scaffold remains a promising structural framework for further modification to enhance potency and specifically its solubility.

Page 12 of 12 | Total Record : 114