cover
Contact Name
Maruatal Sitompul
Contact Email
m.sitompoel@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi.oldi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
OLDI (Oseanologi dan Limnologi di Indonesia)
ISSN : 01259830     EISSN : 2477328X     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia is a scientific journal that publishes original research articles and reviews about all aspects of oceanography and limnology. Manuscripts that can be submitted to Oseanologi dan Limnologi di Indonesia is the result of research in marine and inland waters in Indonesia. Submissions are judged on their originality and intellectual contribution to the fields of oceanography and limnology
Arjuna Subject : -
Articles 94 Documents
Beberapa Aspek Reproduksi Siput Lambis lambis di Pesisir Perairan Yenusi, Biak Widyastuti, Andriani; Aji, Ludi Parwadani
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Siput Lambis lambis merupakan salah satu spesies siput yang sangat digemari masyarakat dan selalu diambil dalam semua ukuran yang ditemui. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena dalam jangka waktu panjang, keberadaannya di alam akan semakin berkurang karena tidak ada kesempatan untuk bereproduksi secara alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nisbah kelamin dan tingkat kematangan gonad  L. lambis di perairan Yenusi, sehingga waktu penangkapan yang tepat dapat diatur.  Sampel dikumpulkan setiap bulan dari bulan Januari sampai Desember 2013, dan pengujian serta analisis histologis dilakukan di laboratorium.  Jumlah total sampel yang dikumpulkan sebanyak 99 ekor dengan jumlah siput jantan 45 ekor dan betina 54 ekor. Nisbah kelamin siput jantan dan betina adalah 1,0:1,2.  Tingkat kematangan gonad  yang ditemukan mencakup keempat tahap perkembangan gonad dari TKG I hingga TKG IV. Perkembangan gonad memperlihatkan proses pembentukan dan pematangan gonad serta pemijahan yang terjadi sepanjang tahun, dengan puncak pemijahan pada bulan Januari sampai Maret 2013. Ukuran panjang cangkang yang diperoleh berkisar 4,55–13,72 cm yang mengindikasikan over eksploitasi. Karena kebiasaan penduduk lokal yang mengambil siput dalam semua ukuran yang ditemui, diperlukan strategi pengelolaan yang lestari, di antaranya penutupan area penangkapan pada saat L. lambis berada pada puncak pemijahan, dan penangkapan hanya boleh dilakukan pada individu dewasa dengan  ukuran cangkang minimal 7 cm, dengan mengamati kondisi cangkang yang tebal dan lipatan marjinal yang telah terbentuk.
Table of contents and Editorial board OLDI, Redaksi
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENETAPAN KEBUTUHAN HARIAN PAKAN IKAN RUCAH UNTUK PENGGEMUKAN KEPITING BAKAU Scylla paramamosain DI KERAMBA JARING DASAR Permadi, Sandi; Juwana, Sri
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggemukan kepiting Bakau merupakan bagian dari kegiatan budi daya kepiting yang banyak diminati dan dilakukan petambak karena durasi pemeliharaannya yang relatif pendek, yaitu 14–21 hari per siklus. Ikan rucah merupakan pakan alami kepiting Bakau yang mudah didapat dengan harga terjangkau. Belum diperoleh informasi ilmiah mengenai kebutuhan harian pakan ikan rucah untuk penggemukan kepiting Bakau. Informasi ilmiah mengenai jumlah pemberian pakan harian masih terbatas pada pembesaran kepiting. Oleh karena itu, kajian ilmiah mengenai kebutuhan harian pakan ikan rucah untuk penggemukan kepiting perlu dilakukan. Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu kabupaten penghasil kepiting Bakau dan berpotensi sebagai tempat pengembangan budi daya kepiting Bakau. Oleh karena itu, Probolinggo dipilih sebagai lokasi penelitian ini yang dilakukan pada bulan November–Desember 2014. Kepiting uji yang digunakan memiliki lebar karapas 8–13 cm dan bobot 115–500 g. Kepiting dipelihara dalam keramba jaring dasar (KJD) berukuran 5 x 5 m2 dengan kepadatan 16 kepiting/KJD dan rasio jenis kelamin 1:1. Penelitian ini terdiri dari 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Persentase pemberian pakan harian adalah 10, 15, 20, dan 25% dari berat tubuh kepiting. Parameter yang diamati selama pemeliharaan 13 hari yaitu pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup, dan persentase kepiting gemuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ransum pakan harian ikan rucah sebanyak 10% dan15% dari berat tubuh kepiting memberikan hasil panen terbaik untuk penggemukan kepiting Bakau. Tingkat kelangsungan hidup yang diperoleh yaitu 70% dari kepadatan awal 0,64 kepiting/m2, dengan pertambahan total berat tubuh sebesar 14% selama pemeliharaan.
Potensi Makroalga di Paparan Terumbu Karang Perairan Teluk Lampung Handayani, Tri
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teluk Lampung merupakan daerah strategis yang berkembang cukup pesat. Kondisi ini akan memberikan tekanan terhadap ekosistem pesisir sebagai muara dari seluruh aktivitas daerah di sekitarnya. Makroalga yang merupakan salah satu komponen di ekosistem pesisir juga turut mendapat tekanan. Untuk itu, perlu diketahui kekayaan spesies, potensi, dan sifat hidup makroalga yang ada di perairan Teluk Lampung. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2009, di delapan lokasi, yaitu Piabung, Klagian, Pancur, Limbungan, Puhawang Barat, Puhawang Timur, Puhawang Kecil, dan Kalangan. Sampel makroalga diperoleh dengan metode transek kuadrat. Parameter yang diamati adalah spesies, biomassa, substrat, dan sifat hidup makroalga. Sebanyak 27 spesies makroalga berhasil diidentifikasi yang terdiri dari tiga divisio dan 17 genus. Divisio Chlorophyta sebanyak sembilan spesies, Ochrophyta sebanyak sembilan spesies dan Rhodophyta sebanyak sembilan spesies. Sembilan belas spesies merupakan makroalga yang memiliki nilai ekonomis penting. Jumlah spesies makroalga tertinggi ditemukan di Pancur, sedangkan terendah di Kalangan.Genus yang mendominasi lokasi penelitian adalah Halimeda dan Caulerpa. Biomassa rata-rata tertinggi diPancur 675,5 g/m2, sedangkan di Kalangan tidak ditemukan makroalga. Substrat dasar didominasi oleh pasir. Kondisi substrat dasar berpengaruh terhadap jumlah spesies dan sifat hidup makroalga. Secara umum, sumber daya makroalga di perairan Teluk Lampung tidak berpotensi untuk dikembangkan, sedangkan Sargassum di Pancur memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bibit.
Komunitas Mangrove di Wilayah Pesisir Pulau Tidore dan Sekitarnya Nurdiansah, Doni; Dharmawan, I Wayan Eka
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/oldi.2018.v3i1.63

Abstract

Indonesia memiliki sebaran ekosistem mangrove terluas di dunia. Ekosistem ini menyediakan banyak manfaat langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat pesisir. Penelitian tentang kondisi komunitas mangrove di wilayah Pulau Tidore, Halmahera, Ternate dan sekitarnya dilaksanakan pada bulan Agustus 2015, dengan tujuan untuk mengetahui kondisi terkini komunitas mangrove di wilayah ini. Penilaian kondisi mangrove dilakukan dengan cara menganalisis persentase tutupan kanopinya dengan metode Hemispherical Photography (pengambilan foto ke arah vertikal/langit) dan menganalisis persentase pixel dari foto yang diperoleh dengan menggunakan software Image J dan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan kondisi mangrove di kawasan kepulauan pada perairan Pulau Tidore, Halmahera, Ternate dan sekitarnya termasuk dalam kategori tutupan sedang dengan rata-rata persentase tutupan kanopi komunitas sebesar 73.15±11.78%, nilai rata-rata kerapatan pohon juga termasuk kategori sedang yaitu 1.275±838 pohon/ha. Spesies Sonneratia alba
Amplifikasi pasang surut dan dampaknya terhadap Perairan Probolinggo Hasanudin, Muhammad; Kusmanto, Edi; Budisetyawan, Wahyu
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banjir Rob yang sering melanda Kota Probolinggo merupakan fenomena yang menarik untuk dicermati. Banjir Rob, tidal flat dan sedimentasi sangat berkaitan dengan pasang surut sehingga kajian tentang pasang surut dan amplifikasinya serta prakiraan dampak terhadap perairan pesisir Probolinggo dilakukan. Pengukuran pasang surut dilakukan dengan Tide and Wave Recorder RBR tipe TWR-2050 setiap 5 menit. Pengukuran arus dan kedalaman dilakukan di sepanjang lintasan perahu dengan Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) 1200 KHz. Pengukuran Turbiditas dengan CTD SBE 19 Plus dari permukaan hingga dekat dasar di 19 titik stasiun. Semua peralatan penelitian disinkrosinasi waktunya terhadap waktu GPS Garmin 276C. Hasil pengukuran elevasi permukaan laut mempunyai kisaran 2.8412 m, nilai mean sea level adalah 1.508 m sedangkan variasi bulanan mempunyai kisaran 3 m dengan nilai mean sea level 1.6 m. Berdasarkan nilai Formzahl (0,85) dan analisa power spectra, perairan Probolinggo diklasifikasikan sebagai pasang surut campuran dengan dominasi semi diurnal. Terjadi indikasi amplifikasi pasang surut akibat resonansi periode alami teluk T=12.46 Jam terhadap konstituen pasang surut M2, T=12.42 jam sehingga amplitude pasang surut mencapai 3 m. Dampak amplifikasi tersebut antara lain adalah arah arus yang selalu ke pesisir baik saat pasang maupun saat surut yang mengakibatkan penyebaran sedimen tersuspensi TSS yang relatif tinggi di sepanjang pesisir dan disekitar area pelabuhan. Sedimentasi yang intensif menyebabkan kelandaian dan terbentuknya lokasi lokasi rataan pasang surut (tidal flat) atau sering disebut rataan lumpur (Mudflats) yang luas hingga 3 km dari garis pantai. Selain itu, fenomena amplifikasi pasang surut berdampak pada penggenangan air di daratan rendah ketika terjadi secara simultan antara amplifikasi pasang surut dengan hujan yang intensif akan menyebabkan banjir Rob di desa desa pesisir Probolinggo. 
Komposisi Spesies dan Struktur Komunitas Moluska Bentik Teluk Jakarta Cappenberg, Hendrik
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesatnya pembangunan dan bertambahnya jumlah penduduk di daratan akan memberikan dampak negatif bagi kualitas perairan dan sedimen Teluk Jakarta sebagai habitat moluska bentik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan keragaman spesies moluska bentik di Teluk Jakarta. Pengambilan sampel moluska bentik dilakukan pada bulan Juni dan September 2003 di 30 stasiun pengamatan, dengan menggunakan Smith McIntyre Grab yang memiliki luasan bukaan 0,05 m2 dan diturunkan pada kedalaman 1 – 12 meter. Untuk mendapatkan sampel moluska bentik dan substrat dasar perairan, sampel sedimen disaring memakai ayakan dengan mata saring 0,5 mm. Hasil studi menunjukkan bahwa substrat dasar di lokasi kajian terdiri atas lumpur, lumpur berpasir dan pasir berlumpur. Jumlah moluska bentik yang ditemukan adalah sebanyak 24 spesies yang termasuk dalam 18 genus. Kepadatan moluska bentik berkisar antara 0,3 – 15779,7 individu/m2 pada pengamatan bulan Juni dan 0,3 – 820,3 individu/m2 pada bulan September. Famili Tellinidae memiliki jumlah spesies relatif tinggi, sedangkan Famili Kalliellidae (Alveinus sp.) memiliki sebaran yang relatif luas baik pada bulan Juni dan September. Semua moluska bentik yang ditemukan, merupakan spesies yang umum dan tersebar luas di perairan Indonesia. Pada bulan Juni, nilai indeks keragaman (H’) berkisar antara 0,03 – 0,95 dan kemerataan (J’) berkisar antara  0,05 – 0,69, dan pada bulan September (H’ = 0,01 – 1,08) dan (J’ = 0,01 – 1.00). Hasil perhitungan menunjukkan komunitas moluska bentik di perairan Teluk Jakarta berada dalam kondisi yang rendah.
Moluska di Pulau Kabaena, Muna, dan Buton, Sulawesi Tenggara Cappenberg, Hendrik
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Kabaena, Muna, dan Buton di perairan Sulawesi Tenggara memiliki daerah rataan terumbu (reef flat) yang cukup luas dan kaya akan biota laut, termasuk moluska. Untuk mengetahui kondisi komunitas moluska di perairan tersebut, dilakukan penelitian pada bulan Mei 2006 di lima lokasi, yaitu di Pulau Kabaena (2 stasiun), Pulau Muna (1 stasiun), dan Pulau Buton (2 stasiun). Metode yang digunakan ialah metode transek kuadrat mulai dari tepi pantai tegak lurus ke arah laut (tubir). Dari penelitian ini didapat 74 spesies moluska yang terdiri dari 49 spesies dari kelas Gastropoda dan 25 spesies dari kelas Bivalvia. Polinices tumidus, Engina alveolata, Vexillum sp., dan Morula margariticola dari kelas Gastropoda serta Gafrarium tumidum, Tellina sp.1, dan Barbatia decussata dari kelas Bivalvia adalah moluska yang memiliki penyebaran relatif luas. Kepadatan moluska tertinggi terdapat di Teluk Kalimbungu (19,2 individu/m2) dan yang terendah di Lakeba (3,5 individu/m2). Haelicus variegatus merupakan spesies yang mendominasi substrat pasir di Teluk Kalimbungu. Moluska yang ditemukan dalam penelitian ini adalah spesies yang umum tersebar di perairan tropis. Nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) berkisar 1,54–2,88. Nilai ini menunjukkan keanekaragaman spesies moluska dalam kondisi sedang. Indeks kemerataan jenis (J’) berkisar 0,56–0,92 dan nilai indeks dominasi jenis (C) berkisar 0,08–0,40. Kedua nilai tersebut menunjukkan bahwa komunitas moluska di setiap lokasi penelitian berada dalam kondisi yang cukup baik.
EKSTRAKSI DAN FORMULASI SUSPENSI ORAL TERIPANG Holothuria scabra SEBAGAI SUMBER ANTIOKSIDAN Ardiansyah, Ardi
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teripang telah lama dijadikan sebagai bahan pangan dan obat bagi masyarakat Asia dan Timur Tengah. Indonesia termasuk salah satu pemasok Teripang dalam perdagangan utama di Asia. Di Indonesia, Teripang umumnya hanya dimanfaatkan dalam bentuk bahan mentah. Holothuria scabra merupakan salah satu spesies Teripang yang berpotensi untuk dieksplorasi sebagai sumber antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan Teripang H.scabra dalam bentuk ekstrak dan suspensi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Produk Alam Laut Pusat Penelitian Oseanografi LIPI dari April hingga Desember 2014. Teripang diekstraksi dengan pelarut metanol 96% atau etanol 96%, kemudian diuji aktivitas antioksidannya. Ekstrak Teripang yang memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi dibuat dalam bentuk suspensi untuk selanjutnya dievaluasi kestabilan (organoleptik, pH, mikroorganisme) dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol memiliki aktivitas antioksidan lebih tinggi daripada ekstrak metanol, tetapi masih lebih rendah daripada pembanding, yaitu asam askorbat. Berdasarkan penghitungan, ekstrak metanol dan etanol menunjukkan nilai IC50 sebesar 232,54 ppm dan 157,38 ppm, sedangkan nilai IC50 asam askorbat 30,29 ppm. Formula yang paling stabil (F1a) masih memiliki aktivitas antioksidan, yaitu sebesar 42,11%.
Karakteristik Morfologi Dasar Laut dan Hubungannya dengan Ketebalan Sedimen dan Kecepatan Arus di Selat Flores, Selat Lamakera, Selat Boling, dan Selat Alor Hasanudin, Muhammad
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Morfologi dasar laut suatu selat dapat memengaruhi deposit sedimen dan kecepatan arus di selat tersebut. Selat Flores, Selat Lamakera, Selat Boling, dan Selat Alor menghubungkan Laut Flores dan Laut Sawu di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfologi dasar laut dan hubungannya dengan ketebalan sedimen dan kecepatan arus di selat-selat tersebut. Single Beam Echosounder dan SubBottom Profiler digunakan untuk mengukur kedalaman perairan dan lapisan bawah permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dasar laut Selat Flores berbentuk cekungan pada kedalaman sekitar 250 m, sedangkan dasar laut pada sambungan antara Selat Boling, Selat Lamakera, dan Selat Alor berupa punggungan yang mengarah ke Laut Flores dan Laut Sawu dengan kedalaman hingga 3.000 m. Ketebalan endapan sedimen di Selat Flores mencapai 50 m, sedangkan di Selat Boling, Selat Lamakera, dan Selat Alor endapan sedimen tidak tampak. Di Selat Flores yang berciri selat sempit, kecepatan arus berkisar dari 0,3 hingga 3,8 m/s. Gambaran kondisi bawah permukaan di selat-selat ini dapat digunakan untuk navigasi pelayaran bagi kapal-kapal yang akan melintasi selat-selat tersebut, khususnya kapal yang lebih dari 2.000 ton. Morfologi selat yang sempit mengakibatkan massa air di daerah ini memiliki kecepatan arus yang besar, sehingga proses sedimentasi hanya terjadi di Selat Flores yang dasar lautnya berbentuk cekungan.

Page 4 of 10 | Total Record : 94