cover
Contact Name
Sarip Hidayat
Contact Email
mohsyarifhidayat@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
metasastra@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bandung,
Jawa barat
INDONESIA
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra
ISSN : 20857268     EISSN : 25032127     DOI : -
Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra is a journal published by Balai Bahasa Jawa Barat, ISSN printed 2085-7268 and ISSN online 2503-2127. This journal is a literary research journal that publishes various research reports, literature studies, and literary papers on literature. Published periodically twice a year in June and December. This journal also serves as a media dissemination of information research results and literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 201 Documents
EMPAT KARAKTER TOKOH DONGENG BUTON “WA NDIUNDIU”: SEBUAH PEMBACAAN PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD (Four Characters on Butonese Fairytale Wa Ndiundiu: A Sigmund Freud Psikoanalysis Interpretation) Gani, Syaifuddin
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.121-138

Abstract

“Wa Ndiundiu” adalah dongeng yang dibangun melalui pergumulan karakter tokohnya. Setiap tokoh menampilkan watak sesuai kondisi kejiwaannya. Psikologi sastra adalah kajian yang memandang sastra sebagai aktivitas kejiwaan pelakunya. Permasalahan penelitian adalah bagaimanakah struktur kepribadian, kecemasan, dan klasifikasi emosi empat tokoh “Wa Ndiundiu”? Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan empat karakter tokoh “Wa Ndiundiu” menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penulis menganalisis data dengan pendekatan tekstual, mengkaji aspek psikologisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Ayah adalah akumulasi karakter yang diliputi kecemasan, tanatos, dominasi id, kemarahan, dan kebencian. Wa Turungkoleo memiliki cinta, kesedihan, dan eros. Kecemasan terkendali oleh ego dan superego-nya. La Mbatambata dikuasai alam bawah sadar dan fase id, muasal dorongan primitif yang belum dipengaruhi kebudayaan. Tokoh Wa Ndiundiu menghimpun beragam kerumitan kejiwaan. Antara id, ego, dan superego saling bersitegang dalam jiwanya. Tiga kecemasan, eros, dan tanatos hadir sekaligus dalam dirinya. Beragam klasifikasi emosi tersebut memengaruhi tindakannya.Abstract:Wa Ndiundiu is a kind of folktale built through the struggle of its characters. Every character shows  some characterizations based on their psychological condition. Literary psy- chology is used to describe psychological fact of their characters. The problems of the study are to find how the structure of personality, the anxiety, the emotional classification of Wa Ndiundiu’s four characters are.  The study is intended to describe the personality of four characters in “Wa Ndiundiu” by using Sigmund Freud Psychoanalysis. This study uses descriptive qualitative method. The writer analyzes the data by applying textual approach. The results of the analysis show that the first character “Ayah” is a character with anxiety, tanatos, id, madness, and hatred. The sec- ond character “Wa Turungkoleo” is a character that has love, sadness, and eros. Her anxiety can be controlled by her ego and super ego. The third character, La Mbatambata is still driven by his subconscious mind and id phase as a place of primitive stimulus which is influenced by the culture. The fourth character, Wa Ndiundiu collects the entire psychological situation in her characteriza- tion. Three types of anxiety, eros, and tanatos exist in her characterization. Many types of emo- tional feeling influence her action.
KEARIFAN LOKAL CERITA SANGKURIANG:MENUJU KETAHANAN BANGSA (Local Wisdom of Sangkuriang Story:Toward The Endurance of Nation) Supriadi, Asep
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2012.v5i1.1-10

Abstract

Nilai-nilai kearifan lokal sebagai pancaran kultural yang dimiliki bangsa Indonesia telah lama dikenal dalam kekayaan budaya dan peradaban yang bermartabat. Nilai-nilai kearifan lokal dalam cerita rakyat nusantara  perlu terus digali, dilestarikan, dan dikembangkan lebih lanjut, misalnya dalam cerita Sangkuriang. Cerita Sangkuriang  merupakan cerita rakyat Sunda yang sudah dikenal masyarakat luas di Indonesia. Cerita ini pernah diangkat ke dalam film layar lebar, film kartun, sinetron, drama, dan buku. Cerita rakyat Sangkuriang mengandung beberapa nilai budaya, di antaranya (1) nilai hedonisme, yaitu nilai yang memberikan kesenangan; (2) nilai artistik, yaitu nilai yang memanifestasikan suatu seni; (3) nilai kultural, yaitu nilai yang berhubungan dengan kemasyarakatan, peradaban, dan kebudayaan; (4) nilai etika, moral, dan agama; (5) nilai praktis.Abstract:Values of local wisdom as cultural reflection of Indonesia have been long known for its cultural richness and dignified civilization.  The values in Indonesian  folklore need to be ex- tracted, preserved, developed further, like Sungkariang story. The story is one of Indonesia Sundanese folklore that has been already known in Indonesia. The story has been made into films, cartoons, TV serial, plays, and books. Sangkuriang folklore has several cultural values, includ- ing, (1) the hedonism value,  the value of giving  pleasure, (2) artistic value, the value of manifest- ing  the art, (3) cultural value,  associated with social values, civilization, and culture,(4)  ethics, morals and religion value, and (5) practical value.
PROFIL NABI MUHAMMAD DALAM NASKAH GELUMPAI DAN BARZANJI (The Profile of Prophet Muhammad in The “Gelumpai” and “Barzanjis” Manuscript) Mastuti, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2014.v7i1.97-108

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan mekanisme penerapan hipogram Gelumpai dengan Barzanji. Ruang lingkupnya adalah dari segi isi yaitu unsur leksikal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif  dan metode komparatif. Langkah-langkah yang ditempuh adalah menganalisis struktur teks Gelumpai dan menghubungkannya dengan teks Barzanji yang menjadi latar penciptaannya. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa teks dalam Gelumpai tersebut mengambil inspirasi dari syair Barzanji.Abstract:The purpose of the  research attempts to describe mechanism of “Gelumpai” hypogram application with “Barzanji”. The focus of the study is  on lexicon analysis. This research applies descriptive and comparative method. The analysis is by  examining  textual structure of Gelumpai and by relating them to Barzanji as the creation background. The result of study reveals that the “Gelumpai” manuscript took inspiration from “Barzanji” verse.
PERSPEKTIF FEMINIS AFRIKA DALAM NOVEL RIWAN OU LE CHEMIN DU SABLE KARYA KEN BUGUL (THE AFRICAN FEMINIST PERSPECTIVE IN THE NOVEL RIWAN CHEMIN OU LE DU SABLE BY KEN BUGUL) Subekti, Mega; Priyatna, Aquarini; Aksa, Yati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i2.91-102

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk mendeskripsikan bagaimana perspektif feminis Afrika ditampilkan dalam karya autobiografis Ken Bugul yang berjudul Riwan ou Le Chemin du Sable (1999). Dalam karya itu, perspektif feminis  ditampilkan melalui kacamata narator sebagai perempuan Senegal ketika dihadapkan pada persoalan poligami. Analisis menggunakan teori feminisme yang kontekstual dengan isu yang dihadapi perempuan di Senegal, terutama yang dipaparkan oleh Hashim dan D’Almeida serta pendekatan naratologi autobiografis. Saya berargumentasi bahwa perspektif feminisme dalam karya Bugul itu adalah konsep famillisme yang merujuk pada penyuaraan rasa solidaritas antarperempuan Senegal dan keterlibatan aktif laki-laki demi terciptanya keberlangsungan dan kesejahteraan sebuah keluarga.Abstract:The present research aims at  describing  how African feminist perspectives features  in Ken Bugul’s  autobiographical work entitling  Riwan ou Le Chemin du Sable (1999). In the paper, the feminist perspective is shown through the eyes of the narrator as Senegalese women when faced with the question of polygamy. The analysis uses the theory of feminism that contextual issues faced by women in Senegal, mainly presented by Hashim and D’Almeida and by applying the approach of autobiographical approach narrathology.  I argue that the feminism perspective in the Bugul’s works  is a familliasm concept that refers to the voicing solidarity among Senegal’s women  and the active involvement of men in order to create sustainability and a well-being  family.
REFLEKSI BUDAYA BALI DALAM CERPEN TOGOG KARYA NYOMAN MANDA Sukrawati, Cokorda Istri
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.249-260

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan aspek budaya Bali yang terkandung dalam salah satu cerpen Bali modern berjudul “Togog” dengan teori antropologi sastra. Teori tersebut merupakan salah satu teori dalam kritik sastra yang menelaah hubungan antara sastra dan budaya. Hal utama yang menjadi fokus pengamatan adalah bagaimana sastra itu digunakan sehari-hari sebagai tindakan bermasyarakat. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode studi pustaka, mengingat sumber data berupa sumber tertulis, sedangkan analisis data dilakukan dengan metode deskriptif analisis. Untuk melancarkan proses pengumpulan data, metode tersebut dibantu dengan teknik catat, yaitu mencatat temuan data yang akan dijadikan model analisis. Data-data yang diperoleh dianalis dengan metode deskripsi, yaitu memerikan, menggambarkan, menguraikan, dan menjelaskan objek yang dikaji. Hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yaitu deskripsi tentang aspek-aspek budaya Bali, yang terefleksi atau tercermin dalam cerpen ”Togog”.Abstract: This paper aimed to describe aspects of Balinese culture that is contained in one of the Balinese modern short story titled "Togog" by using theory of anthropological literature. The theory is one of theory in literature criticism that analyzed the relationship between literature and culture. The main thing that becomes the focus of this study is how literature was used daily as social action. The method used in collecting the data in the study is the method of literature review, since the source of the data is in the form of written sources, while the data analysis was conducted using descriptive analysis.To expedite the process of collecting data, the method assisted with technical note, the recorded and noted data will serve as a model of analysis. The obtained data were analyzed by the descriptive method, which describe, depict, elaborate, and explain the object being studied. The results to be achieved in this study, is the description of aspects of anthropology, such as religion, customs, livelihoods, and traditional arts performing in the short story "Togog".
TRAGEDI DALAM LIMA CERPEN KARYA MARTIN ALEIDA (Tragedy in Martin Aleida’s Five Short Stories) Suwarna, Dadan; Priyatna, Aquarini
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2014.v7i1.13-22

Abstract

Tulisan ini memaparkan teks tragedi sebagai peristiwa atau  keadaan yang dialami tokoh cerita dengan menggunakan pendekatan semiotik guna menjelaskan peristiwa tanda, simbol, serta interpretasi yang menjadi acuan peristiwa kemanusiaan. Tanda, simbol, dan segala ekspresi kebahasaan di dalamnya dipakai sebagai cara teks tragedi dijelaskan. Semioik Eco merupakan model kajian yang menyeluruh karena mengaitkan bahasa, interpretasi maknawi, serta latar belakang yang mengaitkannya dalam kelima cerpen yang dianalisis. Tragedi yang penulis temukan,  antara lain (1) tragedi sebagai keadaan, (2) sebagai akibat perbuatan, dan (3) sebagai pilihan sikap. Landasan yang paling kuat atas terjadinya tragedi adalah perbedaan pandangan keyakinan atau ideologi politik yang tidak menguntungkan pihak-pihak yang dikuasainya itu sebagai dampak psikologis dan sosial yang diterimanya.Abstract:The paper attempts to study a tragedy text either  as the event or as the situation experi- enced by characters. The research  applies semiotic approach. The approach is used to explain events in form of sign, symbol and, interpretation referring to humanity’s. The sign, the symbol, and most language expressions are applied to interpret the tragedy text. Eco semiotic is a model of comprehensive study by connecting language,  meaning interpretation, and background  existing in the five short stories.  From the analysis, the writer concludes three types of tragedy, namely: (1) the tragedy as situation, (2) the tragedy as the result of act, (3)and  the tragedy as behavioral choice. The strong background creating the  tragedy is different perception on belief or disadvan- tageous political ideology for those who were controlled as the psychological and social effects they should take.
SABDOPALON DAN NAYAGENGGONG SEBAGAI VIDŪṢAKA DALAM SERAT BABAD PATI Hakim, Moh. Taufiqul
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.275-288

Abstract

Penelitian ini mendudukkan Serat Babad Pati (selanjutnya disingkat SBP) sebagai teks sastra. Babad, atau sastra babad, diartikan sebagai buku yang membicarakan sejarah suatu daerah dan golongan masyarakat menurut anggapan waktu itu. Melalui gagasan Edward Said, yakni hermeneutika filologi, didapati pemahaman bahwa Sabdopalon dan Nayagenggong berperan sebagai pamong Raden Kembangjaya yang mempunyai sifat jenaka (vidūṣaka). Mereka senantiasa bergurau kala mendampingi sang majikan. Lebih dari itu, Nayagenggong yang juga berperan sebagai ayah Sabdopalon, berkedudukan sebagai yajamāna. Dalam tataran ritual, yajamāna ialah seorang pengatur perang. Sementara, tokoh yang berperan sebagai yajña, atau ‘yang diatur’ di dalam peperangan ialah Raden Kembangjaya, pendiri Kadipaten Pesantenan, cikal bakal Kadipaten Pati. Nayagenggong berjasa atas kemenangan Negeri Carangsoka atas Paranggaruda. Pertapa tua ini menyuruh Raden Sukmayana, raja Negeri Carangsoka untuk menyerahkan keris Kyai Rambut Pinutung kepada Kembangjaya. Dengan begitu, pemimpin Paranggaruda, Adipati Yujopati dapat dikalahkan dan terciptalah perdamaian dunia.Abtract: This study seated Serat Babad Pati (here in after abbreviated SBP) as a literary text. Chronicle, or literary chronicle, defined as books that talk about the history of an area and community groups under the assumption that time. Through the idea of Edward Said, the hermeneutics of philology, found understanding that Sabdopalon and Nayagenggong role as guardian Raden Kembangjaya who have a sense of humor (vidūṣaka). They always joked when accompanying the employer. Moreover, Nayagenggong which also acts as a father Sabdopalon, serves as yajamāna. The level of ritual, yajamāna is a regulator of the war. Meanwhile, the figures serve as Yajna, or 'set' in war is Kembangjaya Raden, founder of the Duchy Pesantenan, the forerunner of the Duchy of Starch. Nayagenggong credited Carangsoka State victory over Paranggaruda. The old hermit told Raden Sukmayana, king Carangsoka State to submit a dagger Kyai Rambut Pinutung to Kembangjaya. By doing so, leaders Paranggaruda, Duke Yujopati can be defeated and creating world peace.
ANALISIS NILAI-NILAI HUMANIS DALAM CERPEN MAJALAH HORISON DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA DI SMA (The Analysis of Humanist Values in Short Stories in Horison Magazine : Literary Psychology Approach as Teaching Material of Literary Appreciation in High School) Taufik, Moh.; Ruganda, Ruganda
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i1.34-44

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang (a) perubahan unsur-unsur cerpen, (b) karakter para tokoh dalam cerpen, dan (c) nilai-nilai humanis dalam cerpen sebagai alternatif bahan pembelajaran apresiasi sastra. Penelitian ini menggunakan metode analisis konten dengan pendekatan psikologi sastra. Tahapan penelitian dilakukan dengan studi dokumentasi, yaitu diawali dengan mempelajari teori, lalu mengumpulkan cerpen-cer pen yang monu mental dari ma jalah Hori son, kemudian menganalisisnya, melakukan uji coba, dan menyimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perkembangan unsur-unsur cerpen: ditemukan berbagai karakter dalam tokoh cerita serta ditemukan juga nilai-nilai luhur dalam cerpen yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran di kelas. Cerpen-cerpen tersebut dapat dijadikan bahan pembelajaran sastra yang menyenangkan bagi siswa dan berguna bagi kehidupan sehari-hari masyarakat.Abstract:This study is aimed at obtaining the description of (a) the changes in the elements of short stories, (b)  a picture of  the characters in short story, and (c)  a picture of humanist values in short story as an alternative learning materials of literary appreciation. This study uses content analysis to psychology literature approach. The stage of the  research is conducted by studying the related theory, collecting short stories from the Horison magazine, and analyzing, conducting trials and error,  and making conclusion. The results of research  shows that there is  the develop- ment of the elements of the short story: finding a variety of  characters and great value in the story that can be applied to the teaching-learning process in the classroom as a fun learning materials for students of literature and useful for everyday social life.
NASKAH KIDUNG NABI: ANALISIS TEMA DAN FUNGSI SOSIAL (The Manuscript of “Kidung Nabi”: Theme and Social Functions Analysis) Nurhata, Nurhata
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 10, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2017.v10i1.45-56

Abstract

KEUNIKAN BAHASA MANTRA BANJAR: PANAH ARJUNA (The Uniqueness of the Expression of Banjarese Spell:Panah Arjuna) Wahyu Nengsih, Sri
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i2.115-124

Abstract

Mantra Panah Arjuna adalah salah satu mantra Banjar berupa mantra cinta untuk menundukkan hati seseorang yang dicintai.  Lazimnya mantra ini dipergunakan oleh laki-laki untuk menaklukkan perempuan pujaan hatinya.  Namun, tradisi bermantra mulai ditinggalkan oleh masyarakat penggunanya. Mantra lebih dianggap sebuah takhayul. Oleh karena itu, perlu langkah konkret untuk mengenalkan kembali keberadaan mantra Banjar kepada generasi muda di Kalimantan Selatan ini. Tulisan ini secara ringkas mendeskripsikan keunikan bahasa mantra Panah Arjuna dilihat dari aspek-aspek kelisanan dengan memanfaatkan teori struktukralisme. Aspek-aspek kelisanan mantra dalam bentuk bahasa meliputi:  sruktur mantra,  formula repetisi,  formula pararelisme, formula sintaksis, dan ekspresi formulaik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik catat, wawancara, dan studi pustaka. Hasil analisis memberikan gambaran singkat mengenai sruktur mantra, formula repetisi, formula pararelisme, formula sintaksis dan ekspresi formulaik pada mantra Panah Arjuna.  Selain itu, formula-formula tersebut dapat dipergunakan sebagai alat bantu untuk mengingat dengan mudah dan cepat mantra dalam rangka melestarikan mantra Banjar.Abstract:The Panah Arjuna spell is one of the Banjarese love spell to win one?s heart. It is com- monly used by men to subjugate women?s heart. However, the tradition of using spell begins to be abandoned by society. Spell is more considered a superstition. Therefore, it is required to do the concrete steps to introduce Banjar spell to young people in South Kalimantan. This paper briefly describes the uniqueness of the  expressions of the  Panah Arjuna spell viewed from the aspects of orality using structuralism theory. Orality aspects in the spell expressions include spell structure, repetition formula, parallelism formula, syntax and expression formula. The method used is de- scriptive qualitative by applying note taking technique, interviews, and literature review. The re- sults of the analysis provide a brief overview of spell structures, repetition formula, parallelism formula, syntax formula, and expression formula of  the panah Arjuna spell . In addition, these formulas can be used as a tool to remember them easily and quickly in order to preserve the Banjarese spell.