cover
Contact Name
Zainabur Rahmah
Contact Email
medicaljournal@uin-malang.ac.id
Phone
+6285259506000
Journal Mail Official
medicaljournal@uin-malang.ac.id
Editorial Address
Jalan Ir. Soekarno No.34 Dadaprejo, Batu, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Islamic Medicine
ISSN : -     EISSN : 25500074     DOI : https://doi.org/10.18860/jim
Core Subject : Health,
Journal of Islamic Medicine is a medical journal published twice a year in March and September by the School of Medicine, Faculty of Medicine and Medical Sciences, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
Cimetidine Sebagai Terapi Adjuvan pada Pasien Kondiloma Akuminata Perianal Ko-Infeksi Human Immunodeficiency Virus dengan Elektrodesikasi Setyowatie, Lita; Dwiputra Prawira, Muhammad Edel
Journal of Islamic Medicine Vol 9, No 2 (2025): JOURNAL OF ISLAMIC MEDICINE EDISI SEPTEMBER 2025
Publisher : Faculty of Medicine and Health Science, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jim.v9i2.35174

Abstract

Latar belakang: Kondiloma akuminata (KA) perianal merupakan proliferasi jinak dari epitel anogenital yang disebabkan oleh Human Papillomavirus (HPV). Penanganan KA masih menjadi permasalahan dikarenakan angka rekurensi yang cukup tinggi terutama pada pasien dengan HIV. Cimetidine sebagai agen immunomodulator telah banyak diteliti untuk terapi KA. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk mengkaji lebih lanjut efektivitas terapi adjuvan per oral Cimetidine pada kasus KA. Laporan Kasus: Pada studi ini, dilaporkan dua kasus pasien dengan KA yang diterapi dengan elektrodesikasi dan pemberian oral Cimetidine sebagai terapi adjuvan. Kesimpulan:  Pemberian Cimetidine 2x600mg selama 3 bulan dapat membantu perbaikan klinis dan menurunkan angka rekurensi pada pasien. Cimetidine dapat meningkatkan proliferasi limfosit T, produksi sitokin seperti Interleukin(IL)-2 dan interferon-gamma (INF-γ), serta memperbaiki fungsi sel T supresor. Cimetidine juga mempengaruhi respon imun bawaan (innate) dan adaptif. Cimetidine merupakan terapi adjuvan yang efektif pada kasus KA perianal ko-infeksi HIV yang diterapi dengan elektrodesikasi selama 3 bulan.
Pemilihan Krim Imiquimod 5% Sebagai Terapi Kombinasi Enukleasi Pada Genital Molluscum Contagiosum Ko-Infeksi HIV Dinata, Rhea Tiara
Journal of Islamic Medicine Vol 9, No 2 (2025): JOURNAL OF ISLAMIC MEDICINE EDISI SEPTEMBER 2025
Publisher : Faculty of Medicine and Health Science, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jim.v9i2.35234

Abstract

  A b s t r a c t Keyword :  Immiquimod,Genital Molluscum  Contagiosum, HIV,Enucleation,Combination Therapy   Introduction: Molluscum contagiosum (MC) is clinically characterized by dome-shaped, white to skin-colored papules that are typically self-limiting. In immunocompromised individuals, MC lesions tend to delayed clinical resolution. Aims: This case report presents a case of genital MC treated with combination of immiquimod cream 5% with enucleation. Case: A 27-year-old female presented with skin-colored papules in the genital area, accompanied by mild pruritus (VAS 3/10 that has been diagnosed with HIV nine months prior and was adherent to antiretroviral therapy. Physical examination revealed dome-shaped nodules with central umbilication, varying in size and shape. Dermoscopic examination showed central pink-white polylobular amorphous structures surrounded by crown vessels. Absolute CD4 count of 194 cells/μL with non-reactive VDRL and TPHA. Histopathological examination of the nodule revealed foci of epithelium containing intracytoplasmic eosinophilic inclusion bodies (Henderson-Patterson bodies). The patient was diagnosed with genital MC and was treated with 5% imiquimod cream for 12 weeks, then enucleation was performed for persistent lesions. Discussion: In immunocompromised individuals, MC lesions tend to delayed clinical resolution. Immiquimod cr 5% for 12 weeks showed partial clinical cleareance. Enucleation that performed for persistent lesion with total clearance without any recurrence.Conclusion: Combination of Imiquimod 5% cream as immunomodulator with enucleation can be considered a therapeutic option for genital molluscum contagiosum in immunocompromised individuals.   Kata kunci : Immiquimod, Molluscum Contagiosum GenitalHIV,Enukleasi,Terapi kombinasi  A B S T R A KPendahuluan: Moluskum kontagiosum (MK) secara klinis ditandai dengan papul, berbentuk kubah, sewarna kulit hingga berwarna putih yang dapat sembuh dengan sendirinya. Pada imunocompromised perbaikan klinis dapat lebih lama. Tujuan: Laporan kasus ini memaparkan sebuah kasus MK genitalis ko-infeksi HIV yang diberikan terapi kombinasi krim immiquimod 5% dan enukleasi. Kasus: Perempuan, 27 tahun dengan keluhan muncul benjolan sewarna kulit pada area kelamin yang disertai dengan rasa gatal VAS 3/10, telah terdiagnosis HIV sejak 9 bulan sebelumnya dan rutin mengkonsumsi ARV. Pemeriksaan fisik didapatkan lesi nodul berbentuk kubah dengan umbilikalis sentral, bentuk dan ukuran bervariasi. Pemeriksan dermoskopi menunjukkan struktur amorf, polilobular, putih kemerahan di tengah dengan crown of vessels. Jumlah CD4 absolut 194 sel/Μl, tes serologis VDRL dan TPHA non-reaktif. Pemeriksaan histopatologi pada nodul ditemukan intracytoplasmic eosinophilic inclusion bodies (Handerson- Patterson Bodies). Pasien didiagnosis MK genital dan diberikan terapi krim immuquimod 5% selama 12 minggu yang dilanjutkan dengan enukleasi pada beberapa benjolan yang masih menetap. Diskusi: Pada individu dengan immunocompromised, lesi MK dapat muncul dengan ukuran lebih besar dengan perbaikan klinis lebih lama. Krim immiquimod 5% selama 12 minggu memberikan perbaikan klinis namun tidak cukup signifikan. Beberapa lesi yang menetap dilakukan enukleasi dengan perbaikan klinis tanpa terjadinya kekambuhan. Kesimpulan: Kombinasi terapi krim imiquimod 5% dengan enukleasi dapat digunakan sebagai pilihan terapi MK genitalis pada kondisi immunocompromised.  
Injeksi Vaksin Bacillus Calmette-Guérin (BCG) Sebagai Agen Imunoterapi Pada Kasus Kondiloma Akuminata Setyowatie, Lita; Deltania, Rasinta Ayudya
Journal of Islamic Medicine Vol 9, No 2 (2025): JOURNAL OF ISLAMIC MEDICINE EDISI SEPTEMBER 2025
Publisher : Faculty of Medicine and Health Science, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jim.v9i2.35175

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Kondiloma akuminata adalah infeksi menular seksual yang disebabkan Human Papillomavirus (HPV). Bacille-Calmette-Guerin (BCG) adalah vaksin hidup yang dilemahkan dan termasuk salah satu agen imunoterapi yang dapat menjadi alternatif terapi kondiloma akuminata.. Laporan Kasus: Perempuan berusia 23 tahun dengan keluhan muncul kutil sewarna kulit sejak 1 bulan tanpa disertai gatal dan nyeri. Pemeriksaan venereologi tampak papul sewarna kulit, multipel, batas tegas, bentuk dan ukuran bervariasi Acetowhite (+).Pasien didiagnosis kondiloma akuminata dan diberikan terapi vaksin BCG injeksi intralesi 0,5 ml dosis tunggal. Kesimpulan : Vaksin BCG meningkatkan aktivitas berbagai sel imun yang dapat merangsang penyembuhan kutil kelamin. Terapi injeksi intralesi  tunggal 0,5 ml menunjukkan penurunan lesi pasca 1 bulan injeksi. Injeksi vaksin BCG intralesi dapat menjadi pilihan terapi untuk kondiloma akuminata dengan keuntungan seperti keamanan, harga lebih murah, dan mudah didapatkan
Tinjauan Ruang Lingkup Alat Pengukuran Kepatuhan Kemoterapi di Asia: Implikasi untuk Penggunaan di Indonesia Sholihah, Mar'atus; A’la, Muhamad Zulfatul; Asmaningrum, Nurfika
Journal of Islamic Medicine Vol 9, No 2 (2025): JOURNAL OF ISLAMIC MEDICINE EDISI SEPTEMBER 2025
Publisher : Faculty of Medicine and Health Science, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jim.v9i2.32182

Abstract

Latar belakang:  Berbagai alat ukur telah dikembangkan untuk menilai tingkat kepatuhan pasien terhadap kemoterapi, namun belum ada standar yang disepakati secara luas di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang sistematis untuk mengidentifikasi alat ukur kepatuhan kemoterapi yang telah digunakan di Asia dan mengevaluasi kesesuaiannya dalam konteks Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan scoping review terhadap alat ukur kepatuhan kemoterapi yang digunakan di Asia serta mengevaluasi relevansinya bagi penerapan di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan Scoping Review dengan framework Arksey O’Malley. Pencarian artikel dilakukan di PubMed, Scopus, Web of Science, dan Google Scholar. Data diekstraksi menggunakan PRISMA-ScR, dengan variabel utama meliputi nama alat ukur, metode, validitas, reliabilitas, serta konteks penggunaannya. Hasil:.Hasil tinjauan menunjukkan bahwa alat ukur kepatuhan kemoterapi yang paling sering digunakan di Asia adalah Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8), Medication Possession Ratio (MPR), Medication Event Monitoring System (MEMS), Beliefs about Medication Questionnaire (BMQ), dan aplikasi berbasis mobile. Masing-masing alat ukur memiliki kelebihan dan keterbatasan. Kesimpulan: Berdasarkan hasil analisis, tidak ada satu alat ukur yang ideal untuk semua konteks, sehingga kombinasi beberapa metode direkomendasikan. Adaptasi dan validasi lokal diperlukan untuk memastikan alat ukur yang digunakan sesuai dengan konteks budaya dan sistem kesehatan di Indonesia.
Hubungan Academic Burnout dengan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Indra Kusuma, Yossi
Journal of Islamic Medicine Vol 9, No 2 (2025): JOURNAL OF ISLAMIC MEDICINE EDISI SEPTEMBER 2025
Publisher : Faculty of Medicine and Health Science, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jim.v9i2.37760

Abstract

Latar belakang:   Mahasiswa kedokteran sering menghadapi tekanan tinggi dari kurikulum dan jadwal yang padat sehingga mahasiswa kedokteran rentan mengalami stress akademik dalam jangka waktu yang lama (academic burnout). Adanya stress yang ini mempengaruhi sikap mahasiswa dalam proses pembelajaran yang membuat mereka lebih sering memilih untuk menunda pekerjaan yang harus dilakukan. Tujuan: Mengetahui hubungan hubungan academic burnout dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Partisipan dalam penelitian ini adalah penelitian mahasiswa program studi Pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran UIN Maulana malik Ibrahim Malang sebanyak 99 responden. Instrument yang digunakan adalah Maslach Burnout Syndrome Inventory-Student Survey (MBI-SS) untuk menilai tingkat academic burnout dan Academic Procrastination Scale (APS) untuk menilai tingkat prokrastinasi akademik. Hasil: Analisis univariat didapatkan dan (93,5%) mahasiswa yang mengalami prokrastinasi akademik sedang dan (92,5%) mahasiswa mengalami burnout sedang. Hasil analisis bivariat dengan uji korelasi spearman rank didapatkan nilai signifikasi 0,000 (p0.05) dengan nilai korelasi 0,430 yang termasuk dalam kategori sedang. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara academic burnout dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Hasil mengindikasikan semakin tinggi burnout maka semakin tinggi juga prokrastinasi akademik yang tinggi.
The Impact of Wet Cupping on Sleep Quality in Healthy People at Medan City Health Clinic Nasution, Sharlini Desfika
Journal of Islamic Medicine Vol 9, No 2 (2025): JOURNAL OF ISLAMIC MEDICINE EDISI SEPTEMBER 2025
Publisher : Faculty of Medicine and Health Science, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jim.v9i2.35565

Abstract

Background: Sleep quality is an essential need for health and body recovery. Sleep disorders are a serious health problem with a global prevalence reaching 19.1% according to WHO (2020). In Indonesia, the prevalence of sleep disorders among individuals aged ≥15 years is reported at 11.0% for clinically significant insomnia symptoms and 33.3% for sub-clinical insomnia. Cupping therapy as a complementary treatment has been known since ancient civilization and is recommended in Islam, but research on its impact on sleep quality is still limited. Objective:   To determine the impact of wet cupping on sleep quality in healthy people at a health clinic in Medan City. Methods:    This quantitative study used a descriptive analytical design with a one-group pretest-posttest pre-experimental approach, involving 36 respondents at the Medan City Cupping Health Clinic. Sleep quality was measured using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), and data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank test. Results:  Wet cupping intervention resulted in significant improvements in sleep quality. The results of the Wilcoxon Signed-Rank Test showed a significant difference between sleep quality before and after the intervention (p-value = 0.000) with a decrease in the average PSQI score from 9.428 to 5.167. Conclusion: Wet cupping has been proven effective in improving sleep quality in healthy people and can be an alternative non-pharmacological treatment to overcome sleep disorders and improve quality of life.