cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2025): December 2025" : 10 Documents clear
Melampaui Pengulangan: Deteritorial Medium Fotografi Angki Purbandono dalam Pandangan Deleuze Mocodompis, Jeannete Lauren; Yuliadi, Koes
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.14999

Abstract

Karya seni kontemporer dipahami juga sebagai hasil dari pengulangan bentuk dan gagasan. Angki Purbandono dalam proses kreatifnya menjadikan pengulangan bentuk dan gagasan ini sebagai strategi untuk melampaui batas representasi dalam fotografi konvensional. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis proses kreatif Angki Purbandono melalui teori difference and repetition serta konsep Body without Organs (BwO) yang dikembangkan Gilles Deleuze dan Félix Guattari. Fokus utama artikel ini tidak hanya pada penggunaan teknik eksperimental Angki Purbandono seperti kamar gelap, scanography, dan motase stiker. Lebih dari itu, artikel ini juga membahas bagaimana pendekatan visual tersebut mengganggu struktur representasional dan membuka ruang visual yang bersifat nonhierarkis. Dalam konteks ini, teknik Angki Purbandono tidak hanya variasi estetis, tetapi juga bentuk deteritorialisasi terhadap sistem produksi citra yang membekukan makna. Lewat eksperimentasi ini, “tubuh” fotografi konvensional dirombak, dan karya-karya Angki Purbandono beroperasi sebagai “tubuh tanpa organ” yang merupakan suatu jaringan intensitas, hasrat, dan potensi yang tidak tunduk pada struktur yang tetap. Pengalaman residensi dan kolaborasi lintas disiplin Angki Purbandono juga memperkaya bentuk-bentuk ekspresi. Proses tersebut memperlihatkan bahwa pengulangan yang dilakukan Angki Purbandono bukanlah reproduksi pasif, melainkan produksi perbedaan yang aktif. Melalui pendekatan tersebut, artikel ini menempatkan proses kreatif Angki Purbandono sebagai upaya membayangkan ulang lanskap visual kontemporer yang tidak lagi berpusat pada identitas tunggal dan sistem yang tetap. Beyond Repetition: Angki Purbandono's Creativity through the Lens of DeleuzeABSTRACTContemporary art is also understood as the result of the repetition of forms and ideas. In his creative process, Angki Purbandono employs this repetition as a strategy to transcend the limits of representation in conventional photography. This article aims to analyse Angki Purbandono’s creative process through the lens of theory of difference and repetition as well as the concept of the Body without Organs (BwO), developed by Gilles Deleuze and Félix Guattari. This article’s primary focus is not solely on Angki Purbandono’s use of experimental techniques such as darkroom processes, scanography, and sticker montage. More importantly, it examines how these visual strategies disrupt representational structures and open up non-hierarchical visual spaces. In this context, Angki Purbandono’s works function as a “Body without Organs”, a network of intensities, desires, and potentials that resists fixed structures. His experiences in residences and cross-disciplinary collaborations also enrich the modes of visual expression. This process reveals that Angki Purbandono’s repetition is not a passive reproduction but an active production of difference. Through this approach, the article situates Angki Purbandono’s creative process as an effort to reimagine the contemporary visual landscape beyond singular identities and static systems.
Perancangan Buku Interaktif Siri’ Na Pesse (Falsafah Hidup Masyarakat Suku Bugis) Amir, Widya Devilowa
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.12551

Abstract

Perancangan ini dibuat untuk memberi informasi sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat Bugis tentang hakikat nilai filosofis dalam siri’ na pesse,  sebuah falsafah hidup yang menjadi pondasi budaya masyarakat suku Bugis. Meskipun nilai-nilai dari siri’ na pesse masih dipertahankan, pergeseran dalam penerapan sistem nilai yang dianut muncul dan mengakibatkan konflik di masyarakat. Salah satu penyebabnya akibat pemahaman yang kurang komprehensif. Berdasarkan pada fenomena tersebut, dikembangkan media buku ilustrasi interaktif yang berbasis pada teknis paper engineering (movable book). Mengintegrasikan narasi bermuatan nilai budaya dengan pendekatan desain cetak yang interaktif. Konten buku yang dirancang berupa kumpulan kisah berdasarkan teori nilai budaya dan falsafah hidup masyarakat Bugis, sementara metode perancangan mengadopsi kerangka teori design thinking. Proses perancangan diawali dengan menerapkan metode pengumpulan data antara lain meliputi kajian pustaka, observasi partisipatoris, dan wawancara. Data dianalisis menggunakan metode analisis 5W+1H untuk memastikan kedalaman dan relevansi konten. Hasil perancangan berupa buku interaktif dengan 9 kisah pendek dan 1 epilog yang menggambarkan implementasi siri’ na pesse di berbagai konteks zaman. Buku interaktif dipilih sebagai media karena mampu mengakomodasi kebutuhan penyampaian informasi secara menarik, memfasilitasi interaksi aktif pembaca, juga memiliki potensi daya saing. Melalui pendekatan yang ringan dan imersif, buku ini mengajak pembaca untuk merenungi kembali makna mendalam dari siri’ na pesse tanpa terasa menggurui atau membosankan. Design of the Interactive Book Siri' Na Pesse (Philosophy of Life for the Bugis Tribe)ABSTRACTThis design was developed to provide information as an effort to enhance the understanding of the Bugis community regarding the philosophical values embedded in siri’ na pesse, a life philosophy that forms the cultural foundation of the Bugis people. Although the values of siri’ na pesse are still preserved, shifts in the application of these values have emerged over time, leading to social conflicts within the community. One of the main contributing factors is the lack of comprehensive understanding. In response to this phenomenon, an interactive illustrated book was developed, utilizing paper engineering (movable book) techniques. The design integrates culturally meaningful narratives with an interactive print-based approach. The book’s content, structured as a collection of stories, was designed based on theories of cultural values and the life philosophy of the Bugis community, while the design process adopted the design thinking framework. The design process began with data collection through literature review, participatory observation, and in-depth interviews. Collected data were analyzed using the 5W+1H method to ensure depth and relevance of content. The final outcome is an interactive book comprising nine short stories and one epilogue, illustrating the application of siri’ na pesse across various historical and contemporary contexts. The interactive book was selected as the medium due to its ability to deliver information in an engaging way, facilitate active reader interaction, and offer competitive potential. Through a light-hearted and immersive approach, the book invites readers to reflect meaningfully on the deeper essence of siri’ na pesse without feeling didactic or monotonous.
Telaah Artistik Penggunaan Cahaya UV dan Cat Fluorescent dalam Lukisan Galam Zulkifli T, Abd Kirno
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.14854

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah penggunaan cahaya ultraviolet (UV) dan cat fluorescent dalam karya lukisan Galam Zulkifli, seniman asal Sumbawa, serta bagaimana elemen-elemen tersebut membentuk pengalaman artistik yang unik, imajinatif, dan memukau para penonton atau audiens. Dengan merujuk padabadan pemikiran John Dewey dalam Art as Experience, penelitian ini menekankan pentingnya pengalaman estetis sebagai proses interaktif antara seniman, karya, dan penonton. Metode yang digunakan bersifat kualitatif dengan pendekatan studi kasus terhadap karya Seri Iluminasi milik Galam Zulkifli. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap karya di studio (Iniseum) miliknya, wawancara mendalam dengan seniman, serta dokumentasi visual. Analisis dilakukan secara deskriptif-interpretatif dengan menelusuri keterkaitan antara bentuk visual, medium, dan pengalaman perseptual yang ditimbulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan cahaya UV dan cat fluorescent tidak hanya menciptakan efek visual yang memukau dalam gelap, tetapi juga membuka ruang kontemplatif yang merangsang persepsi dan emosi audiens. Karya ini menjembatani antara tampilan visual yang kasat mata dengan lapisan makna tersembunyi yang hanya muncul dalam kondisi pencahayaan tertentu. Hal ini memperlihatkan bagaimana teknologi dapat digunakan secara kreatif untuk memperluas kemungkinan artistik. Dengan demikian, Seri Iluminasi menjadi contoh konkret dari perpaduan antara teknologi, imajinasi, dan nalar logis dalam membangun pengalaman estetis yang mendalam, khas dalam praktik seni rupa kontemporer Indonesia. The Artistic Exploration of UV Illumination and Fluorescent Materials in Galam Zulkifli’s PaintingsABSTRACTThis study aims to examine the use of ultraviolet (UV) light and fluorescent paint in the paintings of Galam Zulkifli, an artist from Sumbawa, and how these elements create a unique, imaginative, and captivating artistic experience for viewers or audiences. Drawing on John Dewey's ideas in Art as Experience, this study emphasizes the importance of aesthetic experience as an interactive process between the artist, the artwork, and the audience. The method used is qualitative, employing a case study approach to Galam Zulkifli's Illumination Series. Data was collected through direct observation of the works in his studio (Iniseum), in-depth interviews with the artist, and visual documentation. The analysis is descriptive-interpretative, exploring the connections between visual form, medium, and the perceptual experience evoked. The research findings show that the use of UV light and fluorescent paint not only creates stunning visual effects in the dark but also opens up a contemplative space that stimulates the audience's perception and emotions. This work bridges the gap between the visible visual display and the hidden layers of meaning that only emerge under specific lighting conditions. This demonstrates how technology can be creatively utilized to expand artistic possibilities. Thus, the Illumination Series serves as a concrete example of the fusion of technology, imagination, and logical reasoning in crafting a profound aesthetic experience, characteristic of contemporary Indonesian visual art practice. 
Produksi Film Dokumenter sebagai Penggambaran Kehidupan Sosial di Kantin Politeknik Negeri Jakarta Ryu Pambudi, Fahrur; Setiawan, Rifki; Satria Praka, Yoseph; Rosyid, Muhammad Ibnu; Yuly, Ade Rahma
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.17533

Abstract

Penelitian ini bertujuan memproduksi film dokumenter berjudul “Dari Ucapan, ke Hati, dan Menjadi Rasa” yang merepresentasikan kehidupan sosial di kantin Politeknik Negeri Jakarta. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana dokumenter dapat mengangkat relasi sosial antara pedagang dan mahasiswa serta nilai-nilai moral yang sering terabaikan. Landasan teoretis penelitian mencakup konsep representasi sosial dalam media dokumenter dan penerapan model pengembangan MDLC (Multimedia Development Life Cycle) sebagai pendekatan sistematis dalam produksi multimedia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tahapan konsep, desain, pengumpulan materi, perakitan, pengujian, dan distribusi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi audiovisual yang merekam aktivitas keseharian di kantin. Hasil penelitian berupa film dokumenter berdurasi 9 menit 40 detik yang menampilkan dinamika interaksi antara pedagang dan mahasiswa, serta nilai perjuangan, pelayanan, dan kejujuran yang muncul dalam kehidupan kantin. Film telah melalui tahap alpha dan beta testing, dengan evaluasi 26 responden yang menunjukkan tingkat kepuasan 77,77%, sehingga dinyatakan berkualitas baik dan layak ditayangkan. Film kemudian didistribusikan melalui platform YouTube agar dapat diakses secara luas. Kesimpulannya, media dokumenter efektif sebagai sarana penyampaian pesan sosial dan penggambaran kehidupan keseharian dengan pendekatan visual yang jujur dan humanis. Documentary Film Production as a Portrayal of Social Life in the Cafeteria of Jakarta State Polytechnic ABSTRACTThis research aims to produce a documentary film entitled “Dari Ucapan, ke Hati, dan Menjadi Rasa”, which represents social life in the canteen of Politeknik Negeri Jakarta. The focus of the study is on how documentary media can highlight social relations between vendors and students, as well as moral values that are often overlooked in everyday interactions. The theoretical foundation of this research includes the concept of social representation in documentary media and the application of the MDLC (Multimedia Development Life Cycle) model as a systematic approach to multimedia production. This study employs a qualitative method consisting of the stages of concept, design, material collection, assembly, testing, and distribution. Data were collected through observation, interviews, and audiovisual documentation that recorded daily activities in the canteen. The research result is a documentary film with a duration of 9 minutes and 40 seconds, portraying the dynamics of interaction between vendors and students, along with values of perseverance, service, and honesty that emerge in the canteen environment. The film has passed both alpha and beta testing stages, with an evaluation from 26 respondents indicating a satisfaction level of 77.77%, thus confirming that the film is of good quality and suitable for public screening. The documentary was subsequently distributed via the YouTube platform to ensure wider accessibility. In conclusion, documentary media is effective as a means of delivering social messages and portraying everyday life through an honest and humanistic visual approach. 
Perancangan Instalasi Algaerium sebagai Pemanfaatan Mikroalga di Halte Bus Yogyakarta Husna, Inayatul; Krida Mustika, Candra; Aryton Seno, Riant
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.17766

Abstract

Halte Bus Yogyakarta merupakan fasilitas transportasi umum yang banyak titiknya berlokasi di arus padat dengan tingkat emisi gas buang kendaraan yang tinggi. Tingginya arus kendaraan yang beroperasi memengaruhi tingginya emisi kendaraan bergerak berupa gas rumah kaca, salah satunya CO2. Penelitian ini bertujuan untuk merancang desain instalasi ramah lingkungan dari mikroalga untuk dapat diterapkan pada halte di Yogyakarta. Instalasi ini bertujuan untuk melengkapi fungsi ekologis pada area halte melalui proses penyerapan CO2 dan fungsi artistik untuk memberikan sentuhan karakter lokalitas Yogyakarta. Sumbangsih halte yang kurang berpengaruh untuk lingkungan dan desain yang kurang mengandung unsur lokalitas secara visual menjadi urgensi untuk inovasi halte di Yogyakarta dengan solusi artistik dan ekologi. Penelitian ini didasarkan pada jenis pendekatan design research yang berpijak pada perancangan artistik, adaptif, dan ekologis. Alur metode penciptaan karya ini menggunakan tahap design thinking Plattner et al (2010) dengan proses pendekatan eksplorasi dan ekperimentasi. Kombinasi bioteknologi dan desain diwujudkan dalam perancangan desain instalasi bernama Algaerium pada halte khususnya di Yogyakarta. Hasil pengujian kuantitatif menunjukkan bahwa mikroalga mampu menyerap konsentrasi CO2 secara substantial. Meskipun daya serap mengalami penurunan setelah hari keempat, analisis kritis membuktikan bahwa pengendalian suhu di bawah 24⁰C adalah faktor kunci untuk mempertahankan kultur yang pekat dan kinerja fiksasi CO2 yang tinggi di iklim tropis. Secara desain, instalasi Algaerium berhasil mengintegrasikan fotobioreaktor halte dengan ornamen motif Kawung yang estetis, menjadikannya solusi mitigasi ekologis yang inovatif dan adaptif terhadap identitas lokal Yogyakarta. Algaerium Installation Design as Utilization of Microalgae at Yogyakarta Bus StopABSTRACTYogyakarta Bus Stops, often situated in heavy traffic areas, are exposed to high levels of vehicular emissions, particularly greenhouse gases such as CO2. This research aims to develop an ecologically sound installation design utilizing microalgae for application in bus stops across Yogyakarta. The installation is intended to supplement the ecological function of the transit areas through $CO_2$ absorption, while simultaneously enhancing the artistic function by incorporating local Yogyakarta cultural characteristics. The current lack of environmental impact and visual absence of local elements in existing bus stop designs creates an urgency for innovative, ecologically, and aesthetically driven solutions. This study adopts a Design Research approach rooted in artistic, adaptive, and ecological principles. The methodology follows the Design Thinking stages proposed by Plattner et al. (2010), encompassing exploration and experimentation processes. The synergy between biotechnology and design is realized in the development of the installation named Algaerium for bus stops, specifically in the Yogyakarta region. Quantitative test results indicate that microalgae substantially absorb CO2 concentration. Although the absorption rate was observed to decline after the fourth day, critical analysis demonstrated that controlling the temperature below 24⁰C is the key factor for maintaining a dense culture and high CO2 fixation performance in a tropical climate. Architecturally, the Algaerium installation successfully integrates the photobioreactor into the bus stop structure using the aesthetic Kawung motif ornament, making it an innovative ecological mitigation solution that is adaptive to Yogyakarta's local identity. 
Analisis Komparatif Pertunjukan Tari Ratéb Meusekat: UPGRIS dan Sanggar Tari Banda Aceh Wijayanto, Wasis; Salsabila Salwa Darin, Ulimmachkrisa; Lintang Permatasari, Aurellyna
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.14955

Abstract

Fokus utama penelitian ini adalah menekankan aspek pemahaman gerak tarian dalam Ratéb Meusekat serta perbedaan pola penyajian di Universitas PGRI Semarang, jika dibandingkan dengan pola penyajian sanggar tarian di Banda Aceh.  Selain itu, penelitian ini juga menggali sejarah Tari Ratéb Meusekat, serta nilai-nilai budaya dan sudut pandang agama. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, bertujuan untuk meneliti kondisi objek secara alami dengan menerapkan metode etnografi berbasis budaya melalui pendekatan studi literatur. Penelitian ini berusaha mengungkap lebih dalam tentang Tari Ratéb Meusekat. Data diperoleh dari berbagai sumber seperti jurnal ilmiah, hingga informasi resmi dari pemerintah Aceh dan pengamat budaya. Selanjutnya data didapatkan juga dari kegiatan observasi penyajian tari Ratéb Meusekat di Universitas PGRI Semarang. Teknik analisis data ini menggunakan metode Miles dan Huberman melalui tahapan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyajian Tari Ratéb Meusekat di Universitas PGRI Semarang memiliki tiga gerakan yang sama dengan penyajian di Sanggar Euncien Meuligoe dan Sanggar Aneuk Ceria, mulai dari hitungan awal hingga hitungan akhir. Namun, terdapat perbedaan dalam penyajian di ketiga tempat tersebut, terlihat dari 15 gerakan yang berbeda sepanjang keseluruhan tari.   Comparative Study of Ratéb Meusekat Dance at PGRI University Semarang with Ratéb Meusekat Dance at Banda Aceh Dance StudiosABSTRACTThe main focus of this study is to emphasize the aspect of understanding dance movements in Ratéb Meusekat and the difference in presentation patterns at PGRI Semarang University, when compared to the presentation patterns of dance studios in Banda Aceh. In addition, this research also explores the history of the Ratéb Meusekat Dance, as well as cultural values and religious viewpoints. The research method used is qualitative research, aiming to research the condition of the object naturally by applying culture-based ethnographic methods through a literature study approach. This research seeks to reveal more deeply about the Ratéb Meusekat Dance. Data was obtained from various sources such as scientific journals, to official information from the Aceh government and cultural observers. Furthermore, data was also obtained from observation activities of the presentation of the Ratéb Meusekat dance at PGRI University Semarang. The data analysis technique of this study uses the Miles and Hubermen method through the stages of observation, interviews and documentation. The results of the study showed that the presentation of the Ratéb Meusekat Dance at the University of PGRI Semarang had the same three movements as the presentation at the Euncien Meuligoe Studio and the Aneuk Ceria Studio, starting from the initial count to the final count. However, there are differences in the presentation in the three places, as can be seen from the 15 different movements throughout the entire dance.
Makna dalam Ketidakjelasan: Kajian Kritik Atas Karya Fotografi Abstrak Daisuke Yokota Maulana, Riki; Wisetrotomo, Suwarno; Sucitra, I Gede Arya
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.15527

Abstract

Kajian kritik seni ini bertujuan untuk menelaah visual karya fotografi dari Daisuke Yokota yang melepaskan narasi, bentuk, dan visual fotografi secara konvensional. Permasalahan utama yang dikaji terdapat pada bagaimana makna dapat muncul ketika bentuk visual tidak jelas bahkan dihapuskan. Kritik ini mengarah pada penelusuran kemungkinan terwujudnya pengalaman secara perasaan, emosi, atau sikap yang bersifat individual dalam wahana visual yang bermakna ganda. Dengan menggunakan metode kritik yang menggabungkan observasi visual, interpretasi teoretis, dan refleksi kritis, kajian ini memetakan hubungan antara kekosongan visual, respons, dan intensitas emosional yang muncul terhadap karya. Kajian dilakukan pada beberapa karya visual Yokota yang direpresentasikan melalui suasana, emosi, atau kesan yang tidak jelas dan efek pada residu kimia yang digunakan sebagai medium pengganti dalam representasi. Hasil dan kesimpulan pada kajian kritik ini menunjukkan bahwa karya Daisuke Yokota tidak mewujudkan makna secara langsung, tetapi membuka peluang untuk membentuk sebuah ruang wahana yang melibatkan perasaan dan emosional penikmat karya.  Ketiadaan bentuk dan makna secara konvensional pada karya justru memberi ruang untuk melibatkan batin penonton agar dapat direfleksikan dan membentuk makna baru secara personal.Meaning in Ambiguity: A Critical Study of Daisuke Yokota's Abstract PhotographyABSTRACTThis art critique aims to examine the visual aspects of Daisuke Yokota's photographic works, which depart from conventional narratives, forms, and visual photography. The main issue explored is how meaning can emerge when visual forms are unclear or even eliminated. This critique leads to an exploration of the possibility of realizing individual experiences, emotions, or attitudes in a visual medium that has multiple meanings. Using a critical method that combines visual observation, theoretical interpretation, and critical reflection, this study maps the relationship between visual emptiness, response, and the emotional intensity that arises in relation to the work. The study was conducted on several of Yokota's visual works, which are represented through ambiguous atmospheres, emotions, or impressions and the effects of chemical residues used as a substitute medium in representation. The results and conclusions of this critical study show that Daisuke Yokota's works do not directly convey meaning but open up opportunities to create a space that involves the feelings and emotions of the viewer. The absence of conventional form and meaning in the work provides space for the viewer's inner self to be involved in reflecting on and forming new personal meanings. 
Fotografi Tanpa Fotograf sebagai Sebuah Titik Lebur Pemahaman Fotografi Thirafi, Radhi Nibras; Wisetrotomo, Suwarno; Sucitra, I Gede Arya
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.15531

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis karya seniman Akiq Aw dalam pameran After Ça-a-été sebagai respons terhadap redefinisi medium fotografi melalui pendekatan konseptual “fotografis”. Berangkat dari gagasan Roland Barthes tentang ça-a-été sebagai bukti ontologis keberadaan dalam fotografi, karya-karya Akiq Aw justru menunjukkan pembalikan terhadap representasi visual konvensional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotik dan kritik visual terhadap empat karya utama yang menghilangkan elemen-elemen mendasar fotografi: ikon, objek, subjek, dan fotograf itu sendiri. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan “fotografis” berupaya membebaskan praktik pencitraan dari batasan teknis, menggeser makna fotografi sebagai media menuju sifat konseptual. Hasil ini memperlihatkan bahwa batas-batas medium dalam seni kontemporer semakin cair dan menuntut pendekatan pemaknaan yang lebih kontekstual dan interaktif. Kajian ini diharapkan memberi kontribusi terhadap pemahaman mengenai transformasi epistemologis dalam praktik seni visual kontemporer Indonesia.Photography Without Photograph as a Melting Point of Understanding Photography ABSTRACTThis study aims to analyze the works of artist Akik AW featured in the After Ça-a-été exhibition as a response to the redefinition of photography through the conceptual approach of the “photographic.” Building on Roland Barthes’ idea of ça-a-été as ontological proof in photography, Akik AW’s works invert conventional representational logic. This research applies a qualitative descriptive method with semiotic and visual critique approaches to four primary works that remove fundamental photographic elements: icon, object, subject, and the photograph itself. The findings indicate that the “photographic” approach seeks to liberate the image-making process from technical constraints, shifting the understanding of photography from a medium to a conceptual quality. These results suggest that medium boundaries in contemporary art are increasingly fluid and require contextual and interactive interpretative frameworks. This study contributes to the understanding of epistemological transformation within contemporary Indonesian visual art practices. 
Perancangan Sustainable Bag Melalui Eco-Art Framework: Kreasi Kolaboratif dengan Siswa Penyandang Disabilitas Pratiwi, Diah Indah; Mahardhika, Cholis; Sepsilia Elvera, Resi; Tersinaningsih, Rily
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.17191

Abstract

Penelitian ini mengkaji proses kreatif dalam merancang tas berkelanjutan dengan menerapkan Eco-Art Framework melalui kolaborasi bersama siswa disabilitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan practice-based research yang menitikberatkan pada kesadaran ekologis, eksplorasi estetika, partisipasi inklusif, dan penggunaan material yang berkelanjutan. Eco-Art Framework diterapkan melalui enam tahapan: (1) Kesadaran Lingkungan, (2) Eksplorasi Estetika Ekologis, (3) Keterlibatan Komunitas, (4) Konstruksi Berkelanjutan, (5) Ekspresi Naratif, dan (6) Evaluasi Reflektif. Setiap tahap dilaksanakan melalui lokakarya partisipatif bersama siswa disabilitas dengan memanfaatkan material limbah seperti perca kain batik dan limbah kayu. Hasilnya adalah serangkaian prototipe tas ramah lingkungan yang mengintegrasikan motif budaya tradisional dengan tampilan desain kontemporer berkelanjutan. Studi ini menyoroti potensi eco-art sebagai pendekatan pedagogis yang kreatif dan inklusif, yang mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan, ekspresi artistik, serta pemberdayaan sosial. Temuan menunjukkan bahwa penciptaan karya seni, ketika berlandaskan etika ekologi dan kolaborasi inklusif, dapat menjadi alat yang efektif dalam pendidikan desain berkelanjutan dan pengembangan komunitas.Designing Sustainable Bags Through the Eco-Art Framework: A Collaborative Creation with Students with Disabilities ABSTRACTThis research aims to explores the creative process of designing sustainable bags by applying the Eco-Art Framework in collaboration with students with disabilities. The study adopts a practice-based research methodology that emphasizes ecological awareness, aesthetic experimentation, inclusive participation, and sustainable material use. The Eco-Art Framework guided the process through six stages: (1) Environmental Awareness, (2) Eco-Aesthetic Exploration, (3) Community Engagement, (4) Sustainable Construction, (5) Narrative Expression, and (6) Reflective Evaluation. Each stage was implemented through participatory workshops involving students with disabilities, using waste materials such as fabric scraps and repurposed plastic. The result is a series of eco-friendly bag prototypes that integrate traditional cultural motifs with a contemporary sustainable design. This study highlights the potential of eco-art as both a creative and inclusive pedagogical approach, fostering environmental consciousness, artistic expression, and social empowerment. The findings demonstrate that artistic creation, when grounded in ecological ethics and inclusive collaboration, can serve as an effective tool for sustainable design education and community development.  
Seni sebagai Entitas Aktif, Sebuah Kajian terhadap Transformasi Kreativitas Hakim, Fitro Nur
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.15092

Abstract

Seni tidak lagi dipahami sebagai entitas statis, melainkan sebagai medium dinamis yang terus berevolusi seiring perubahan sosial, politik, dan budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana seni berfungsi sebagai sarana ekspresi, komunikasi, dan perlawanan terhadap realitas sosial kontemporer. Objek penelitian mencakup berbagai bentuk seni modern dan kontemporer, termasuk praktik seni digital yang diperkaya oleh teknologi kecerdasan buatan. Dengan menggunakan pendekatan analitis berbasis kajian teori seni dan teori revolusi, penelitian ini menelaah hubungan antara seniman, medium, dan audiens dalam proses penciptaan karya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seni berperan signifikan dalam pembentukan identitas, membuka ruang dialog sosial, serta mendorong transformasi pada tatanan masyarakat. Kesimpulannya, seni bukan sekadar produk akhir, tetapi merupakan proses interaktif yang mencerminkan dinamika sosial dan potensi perubahan yang terus berkembang. Art as an Active Entity: A Critical Study of Creative Transformation ABSTRACTArt is no longer understood as a static entity, but rather as a dynamic medium that continually evolves in response to social, political, and cultural change. This study aims to analyze how art functions as a vehicle for expression, communication, and resistance to contemporary social realities. The objects of inquiry encompass various forms of modern and contemporary art, including digital art practices enriched by artificial intelligence technologies. Employing an analytical approach grounded in art theory and theories of revolution, this research examines the relationship between the artist, the medium, and the audience within the process of artistic creation. The findings indicate that art plays a significant role in shaping identity, opening spaces for social dialogue, and driving transformations within societal structures. In conclusion, art is not merely a finished product, but an interactive process that reflects social dynamics and the ever-developing potential for change.

Page 1 of 1 | Total Record : 10