cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
telaah.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jalan KH. Ahmad Dahlan No 1, Pagesangan, Kota Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Telaah
ISSN : 24772429     EISSN : 26206226     DOI : 10.31764
Core Subject : Education,
Jurnal Ilmiah Telaah adalah wadah publikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Mataram. Artikel/karya tulis yang dimuat dalam jurnal ini adalah karya tulis hasil penelitian dan hasil pemikiran (telaah kritis) mengenai pendidikan, bahasa, serta sastra indonesia. Kontributor yang dapat mempublikasikan tulisanya pada jurnal ini adalah para akademisi (dosen dan guru), praktisi, dan pemerhati dibidang pendidikan, bahasa, dan sastra Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
Transformasi Media Digital dalam Mendukung Kegiatan Literasi Siswa di SMP Negeri 1 Kajen Dafa Hermafahriza; Roro Lintang Aningtyas; Salma Failasufa; Gina Marwatul Mutmainah; Winda Arya Wijaya; Rissa Shofiani
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40499

Abstract

Abstrak: Perkembangan teknologi digital membawa pengaruh yang sangat signifikan dalam praktik literasi di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi pemanfaatan media digital dalam mendukung kegiatan literasi siswa di SMP Negeri 1 Kajen, mengidentifikasi bentuk media yang digunakan, pengaruh minat baca, peran guru dan petugas perpustakaan, serta kendala yang dihadapi dalam implementasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara kepada guru Bahasa Indonesia, petugas perpustakaan, dan 30 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMP Negeri 1 Kajen sudah mengalami perubahan dari kegiatan literasi konvensional berbasis buku cetak menuju pemanfaatan media digital seperti e-book dan bahan bacaan elektronik yang didistribusikan melalui perangkat digital. Transformasi ini berdampak positif terhadap perkembangan siswa dalam minat baca, khususnya karena kemudahan akses informasi yang sesuai dengan karakteristik Generasi Alpha. Meskipun demikian, pelaksanaannya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan fasilitas digital, waktu yang terbatas, serta rendahnya pemahaman kosakata pada sebagian siswa. Perpustakaan sekolah tetap menjadi tempat yang strategis sebagai pusat literasi di sekolah. Keberhasilan program literasi digital bergantung pada sinergi antara kesiapan fasilitas, kompetensi guru dalam pendampingan, dan keterlibatan seluruh warga sekolah secara berkelanjutan.Abstract:  The development of digital technology has brought a very significant influence on literacy practices within the school environment. This study aims to analyze the transformation of digital media utilization in supporting students' literacy activities at SMP Negeri 1 Kajen, identify the types of media used, the influence on reading interest, the role of teachers and library staff, as well as the challenges faced in implementation. This study uses a descriptive method with interview techniques involving Indonesian language teachers, library staff, and 30 students. The results of the study show that SMP Negeri 1 Kajen has undergone a change from conventional book-based literacy activities toward the utilization of digital media such as e-books and electronic reading materials distributed through digital devices. This transformation has had a positive impact on students' reading interest development, particularly due to the ease of access to information that aligns with the characteristics of Generation Alpha. Nevertheless, its implementation still faces challenges in the form of limited digital facilities, restricted time, and low vocabulary comprehension among some students. The school library continues to serve as a strategic center for literacy within the school. The success of the digital literacy program depends on the synergy between facility readiness, teacher competence in guidance, and the sustained involvement of the entire school community.                    
Internalisasi Nilai-Nilai Sosial Shalat dalam Pembelajaran untuk Penguatan Karakter Peserta Didik: Sebuah Kajian Konseptual Dudi Muharam; Yurna Bachtiar; Amirulloh Amirulloh; Agus Mulyadi; Arif Saipullah; ikbal fatardo
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40364

Abstract

Education is not merely a process of transferring scientific knowledge, but a humanistic endeavor to cultivate noble character. Amidst modern advancements that frequently trigger social fragmentation and moral crises among the younger generation, strengthening students' character has become an urgent priority that cannot be delayed. Prayer (shalat), often understood solely as a vertical ritual between a servant and the Creator, inherently possesses a rich social dimension—encompassing discipline, equality, empathy, and peace. Unfortunately, this transformative potential is still frequently overlooked in Islamic Religious Education (PAI) practices in schools, where ritual worship has not fully manifested into daily social behavior.This conceptual study aims to elaborate on how the internalization of the social values of shalat can be meaningfully integrated into the learning process to strengthen the humanistic character of students. Utilizing a descriptive qualitative research method, this study profoundly examines various literatures, pedagogical concepts, and religious texts to present a comprehensive framework of ideas.The results of the study indicate that internalizing the social values of shalat in learning must touch three dimensions of humanity: cognitive awareness (knowing), emotional resonance (feeling), and behavioral habituation (acting). When PAI learning succeeds in transforming the understanding of shalat from a mere "jurisprudential obligation" into a "social consciousness," students will grow into individuals who are not only personally pious but also courteous, caring, and peaceful in interacting with others. This strategy positions teachers not as rigid instructors, but as facilitators who nurture the human fitrah (nature) of students toward a strong and noble character.
Nilai Moral dalam Dongeng Der Froschkönig oder der eiserne Heinrich karya Brüder Grimm Annisa Muthmainnah; Fauzan Adhima; Ary Fadjar Isdiati
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40561

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeksripsikan nilai-nilai moral dalam dongeng Der Froschkönig oder der eiserne Heinrich karya Brüder Grimm berdasarkan teori moral Lydia Lange (2019). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif dengan pendekatan Moleong (2017). Data penelitian berupa kutipan teks seperti narasi, dialog, monolog, hubungan antar-paragraf yang dikumpulkan melalui teknik analisis isi kualitatif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa dari 6 kategori moral menurut Lange, ditemukan total 4 data, yaitu 2 data nilai moral kebebasan, 1 data nilai moral keadilan, 1 nilai moral kehormatan. Nilai kebebasan tercermin dalam kemampuan sang putri menentukan nasib sendiri ketika ia sedang bermain bola emas di pinggir sungai dan menerima tawaran dari katak untuk menolongnya (kebebasan berkehendak) kemudian nilai kebesan selanjutnya tercermin pada tindakan sang putri yang tidak menepati janji kepada katak ketika ia sudah menolongnya (kebebasan bertindak). Nilai keadilan tercermin melalui tindakan raja yang memerintahkan putrinya secara tegas untuk menepati janji kepada katak. Nilai kehormatan tercemin oleh loyalitas Heinrich kepada pangeran katak. 
Exploring Gender-based Language Features in Instagram Comments Alycia Davina Carter; Denisa Ayu Ardiani; Indri Erlinawati; Levi Rizky; Putri Aurellia Anandyta Az-Zahra; Ryan Farhan Satria
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40472

Abstract

Abstrak: Media sosial telah menjadi platform penting dalam komunikasi karena memungkinkan pengguna untuk mengekspresikan pendapat, emosi, dan respons melalui interaksi daring. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fitur bahasa yang digunakan oleh pengguna perempuan dan laki-laki pada kolom komentar Instagram Reels milik Carson Matranga berdasarkan teori bahasa dan gender dari Lakoff (1975). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi dan dokumentasi dari komentar pada Instagram Reels berjudul "When your daughter asks you for a story, but she is an emath," dan dianalisis menggunakan prosedur yang dikemukakan oleh Miles, Huberman dan Saldaña (2014). Hasil penelitian menunjukan bahwa baik pengguna perempuan maupun laki-laki menggunakan pilihan leksikal, ekspres evaluatif, intensifier, dan bentuk kesantunan. Namun, pengguna perempuan cenderung menunjukkan keterlibatan emosional yang lebih tinggi melalui penggunaan bahasa yang lebih ekspresif, evaluasi lebih kuat, penggunaan intensifier yang lebih sering, serta bentuk kesantunan yang lebih supportif. Sementara itu, pengguna laki-laki umumnya memberikan respons yang lebih singkat, langsung, dan kurang mengekspresikan emosi. Temuan ini menunjukan bahwa penggunaan bahasa dalam kolom komentar Instagram dapat mencerminkan kecenderungan berkomunikasi yang berbeda antara pengguna perempuan dan laki-laki.Abstract:  Social media has become an important communication platform, enabling users to express their opinions, emotions, and reactions through online interactions. This study aims to examine the linguistic characteristics used by female and male users in the comments section of Carson Matranga’s Instagram Reels based on Lakoff’s (1975) theory of language and gender. This study employs a descriptive qualitative method. Data were collected through observation and documentation of comments on an Instagram Reels titled “When your daughter asks you for a story, but she is an empath,” Moreover, The data were analyzed using the procedure proposed by Miles, Huberman, and Saldaña (2014). The findings indicate that both female and male users employ specific vocabulary choices, evaluative expressions, intensifiers, and forms of politeness. However, female users tended to demonstrate greater emotional engagement through more expressive language, stronger evaluations, more frequent use of intensifiers, and supportive forms of politeness. Male users, on the other hand, generally produced shorter, more direct, and less emotionally expressive responses. These findings suggest that language use in Instagram comment sections reflects different communication tendencies between female and male users. 
Implementasi Asesmen Diagnostik dalam Pembelajaran Inklusif di Sekolah Dasar: Tantangan dan Strategi Guru Nurhijriah Nurhijriah; Ruwaidah Ruwaidah; Nurfatanah Nurfatanah
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40733

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi asesmen diagnostik dalam pembelajaran inklusif di sekolah dasar, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi guru, serta mendeskripsikan strategi yang diterapkan dalam mengoptimalkan pelaksanaan asesmen diagnostik. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain convergent parallel. Data kualitatif diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan data kuantitatif diperoleh melalui penyebaran angket kepada guru sekolah dasar penyelenggara pendidikan inklusif. Data kualitatif dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña, sementara data kuantitatif dianalisis secara deskriptif menggunakan nilai rata-rata dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi asesmen diagnostik berada pada kategori baik, ditandai dengan pelaksanaan identifikasi kemampuan awal, karakteristik, dan kebutuhan belajar peserta didik sebagai dasar penyusunan pembelajaran. Tantangan utama yang dihadapi guru meliputi keterbatasan waktu, kesulitan menyusun instrumen asesmen yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, serta terbatasnya pelatihan mengenai asesmen diagnostik. Strategi yang dilakukan guru meliputi observasi berkelanjutan, pemanfaatan hasil asesmen dalam pembelajaran berdiferensiasi, serta kolaborasi dengan orang tua dan guru pendamping khusus. Temuan penelitian menegaskan bahwa asesmen diagnostik berperan penting dalam mendukung pembelajaran yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Abstract:  This study aims to analyze the implementation of diagnostic assessment in inclusive learning at elementary schools, identify the challenges faced by teachers, and describe the strategies employed to optimize diagnostic assessment practices. The study employed a mixed-methods approach using a convergent parallel design. Qualitative data were collected through observations, interviews, and document analysis, while quantitative data were obtained through questionnaires administered to teachers in inclusive elementary schools. Qualitative data were analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña interactive model, whereas quantitative data were analyzed descriptively using mean scores and percentages. The findings indicate that the implementation of diagnostic assessment was categorized as good, as reflected in teachers' efforts to identify students' initial abilities, characteristics, and learning needs prior to instruction. The major challenges included limited time, difficulties in developing assessment instruments tailored to diverse student characteristics, and limited professional training on diagnostic assessment. Teachers addressed these challenges by conducting continuous classroom observations, utilizing assessment results to design differentiated instruction, and strengthening collaboration with parents and special education teachers. The findings highlight the significant role of diagnostic assessment in supporting adaptive, inclusive, and student-centered learning in elementary schools.
Hedging Expressions as Diplomatic Strategies in Joe Biden’s Speeches at the 78th and 79th Sessions of the UN General Assembly Noki Septia Artiva
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40715

Abstract

Political speeches require speakers to communicate carefully, especially in international forums involving diplomatic relations and global cooperation. One of the linguistic strategies used to achieve this goal is hedging expressions. This study aims to identify the types of hedging expressions, analyze their functions, and explain their role as diplomatic strategies in Joe Biden's speeches at the UN General Assembly. This study uses a qualitative approach with data sources in the form of official transcripts of Joe Biden's speeches at the 78th and 79th UN General Assembly sessions. The data were analyzed using the hedging expressions theory by Salager-Meyer (1997) and the diplomacy theory by Berridge (2015). The results show that there are 59 hedging expressions consisting of approximators (29), modal auxiliary verbs (22), introductory phrases (5), modal lexical verbs (1), adjectival modal phrases (1), and compound hedges (1), while if-clauses were not found. Hedging expressions have five functions, with the function of expressing uncertainty being the most dominant. In the context of diplomacy, hedging expressions serve to encourage international negotiations and dialogue, build cooperation and consensus, and maintain diplomatic relations. These findings indicate that hedging expressions are not only a linguistic tool for expressing uncertainty but also an effective diplomatic strategy in conveying sensitive issues in international forums.
Analisis Keaktifan Peserta Didik melalui Penerapan Metode Game Based-Learning Berbantuan Media Uno Stacko Suwarni Insani; Yuswanti Ariani Wirahayu
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.41141

Abstract

Keterlibatan aktif siswa memegang peranan vital dalam keberhasilan pembelajaran. Namun, fakta di lapangan menunjukkan banyak siswa pasif saat berdiskusi, enggan bertanya, serta ragu mengemukakan ide karena kendala krisis rasa percaya diri. Riset ini dilakukan guna menguji efektivitas implementasi metode pembelajaran berbasis gim lewat instrumen Uno Stacko dalam menstimulasi dinamika belajar siswa. Melalui desain deskriptif dengan pendekatan kualitatif, investigasi ini mengamati 33 siswa kelas VIII H di SMP Negeri 15 Kota Malang. Proses pengumpulan data mengandalkan teknik observasi langsung, wawancara mendalam, beserta studi dokumentasi. Peneliti kemudian mengonversi data tersebut lewat prosedur reduksi, display data, dan verifikasi akhir untuk menarik kesimpulan. Temuan empiris membuktikan bahwa penerapan pembelajaran berbasis gim berbantuan Uno Stacko sukses memicu antusiasme siswa untuk terlibat lebih intens dalam kegiatan kelas. Respons positif terlihat dari meningkatnya keberanian siswa dalam mendebat argumen, mengajukan pertanyaan, merespons stimulus guru, serta bekerja sama dalam kelompok. Dengan demikian, integrasi gim Uno Stacko menjadi opsi strategi instruksional yang relevan untuk menciptakan iklim kelas yang komunikatif, menyenangkan, sekaligus interaktif.
Struktur Kalimat Mayor dan Kalimat Minor dalam Bahasa Kaili Donggala Dialek Doi Nurul Sifa; Julia Marfuah; Wahdania Wahdania
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40823

Abstract

Kajian mengenai struktur sintaksis bahasa daerah memiliki peran penting dalam dokumentasi linguistik dan pengembangan pengetahuan tentang keragaman gramatikal bahasa-bahasa di Indonesia. Meskipun bahasa Kaili merupakan salah satu bahasa daerah utama di Sulawesi Tengah, penelitian yang secara khusus mendeskripsikan struktur kalimat mayor dan kalimat minor dalam dialek Doi masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pola kalimat mayor dan kalimat minor dalam bahasa Kaili Donggala dialek Doi berdasarkan tuturan alami penuturnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif linguistik. Data penelitian berupa tuturan lisan yang diperoleh dari penutur asli bahasa Kaili Donggala dialek Doi melalui teknik simak libat cakap, rekam, dan catat. Data dianalisis menggunakan metode agih dengan teknik Bagi Unsur Langsung (BUL) untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan struktur sintaktis yang ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalimat mayor dalam bahasa Kaili Donggala dialek Doi terdiri atas tiga bentuk utama, yaitu kalimat simpel, kalimat majemuk, dan kalimat kompleks yang memiliki struktur sintaktis lengkap. Sementara itu, kalimat minor ditemukan dalam bentuk kata dan frasa yang tetap memiliki fungsi komunikatif meskipun tidak memenuhi kelengkapan struktur sintaksis. Temuan ini menunjukkan bahwa penutur dialek Doi memanfaatkan baik konstruksi lengkap maupun konstruksi eliptis secara fungsional sesuai dengan kebutuhan komunikasi. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris terhadap dokumentasi sintaksis bahasa Kaili, khususnya dialek Doi, yang masih terbatas dalam literatur linguistik Indonesia. Selain memperkaya kajian sintaksis deskriptif bahasa daerah, hasil penelitian ini juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber rujukan dalam upaya pelestarian bahasa daerah dan pengembangan penelitian lanjutan mengenai variasi sintaktis bahasa Kaili.
Apresiasi Puisi Sebatang Lisong Berbasis Aplikasi Teori Serta Refleksi Nilai Pembentukan Karakter Auzi Ilaturahmi; Juliana Sinaga; Nurul Azzara Melani
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40835

Abstract

Penelitian ini mengkaji puisi “Sajak Sebatang Lisong” karya W. S. Rendra dengan menggunakan pendekatan objektif dalam studi sastra. Pemilihan topik ini didasarkan pada pentingnya memahami puisi sebagai struktur otonom yang membangun makna melalui unsur intrinsik tanpa mengaitkannya dengan latar belakang pengarang ataupun konteks sosial secara langsung. Puisi ini dipilih karena memuat kritik sosial yang kuat dan relevan terhadap kondisi masyarakat.  Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) puisi "Sajak Sebatang Lisong" dibangun oleh struktur fisik dan struktur batin yang saling berkaitan, seperti diksi, citraan, bunyi, gaya bahasa, tema, nada, rasa, dan amanat serta permainan bunyi sehingga membangun lapis makna kritis dan reflektif tentang ketimpangan sosial, pendidikan, dan kekuasaan di Indonesia dan 2) Puisi ini mengandung  amanat moral yang kuat bagi pembentukan karakter. Hasil kajian penting karena upaya memahami bagaiamana simbol “Sebatang Lisong” bekerja dalam stuktur puisi dapat membawa peneliti melihat bagaimana pesan sosial dibangun secara artistik dan terencana. Alasan lain adalah memperkaya pemahaman analisis puisi berbasis struktur teks secara mendalam dan sistematis sehingga mengurangi penafsiran bebas tanpa dasar ataupun mengaitkannya dengan latar belakang pengarang. Selain itu, yang juga utama adalah hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan media refleksi sosial.Kata Kunci: Apresiasi Puisi “Sajak Sebatang Lisong”, Aplikasi Teori, Pendekatan Objektif, dan Nilai Pembentukan KarakterAbstract:  This study examines the poem "Sajak Sebatang Lisong" by W. S. Rendra using an objective approach in literary studies. The choice of topic is grounded in the importance of understanding the poem as an autonomous structure that constructs meaning through intrinsic elements, independent of the author's background or direct social context. The poem was selected due to its potent and relevant social critique regarding societal conditions. A descriptive-qualitative research method employing structural analysis was utilized. The findings indicate that: 1) "Sajak Sebatang Lisong" is composed of interconnected physical and inner structures—such as diction, imagery, sound, figurative language, theme, tone, mood, message, and sound play—which establish layers of critical and reflective meaning concerning social inequality, education, and power dynamics in Indonesia; and 2) the poem conveys a strong moral message relevant to character building. This study is significant because understanding the function of the "Sebatang Lisong" (A Single Cigar) symbol within the poem's structure allows for insight into how social messages are constructed in an artistic and deliberate manner. Furthermore, the study enriches the understanding of text-based structural analysis—approached deeply and systematically—thereby minimizing baseless, arbitrary interpretations or reliance on the author's biography. Finally, a key objective is for the research findings to serve as a medium for social reflection.
A Case Study of Unpopular Use of Worodwall for English Teaching in SMA Negeri 1 Tanjunganom Nganjuk Ericha Putri Marchanda; Ahmad Munir
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40718

Abstract

Technology integration for English as a Foreign Language (EFL) instruction was required under the Merdeka curriculum. However, the application of digital learning platforms remained inconsistent. Although Wordwall was known for enhancing vocabulary and grammar instruction, it has demonstrated notable benefits in prior research. However, the adoption remained limited even at schools with adequate ICT infrastructure. Therefore, this qualitative case study aimed to explore specific reasons behind the non-use of Wordwall among English teachers at SMAN 1 Tanjunganom. Data were collected through in-depth interviews and a classroom observation sheet. The findings revealed three main barriers: limited awareness of platform features, unstable internet connectivity, and time limitations in preparing new instructional materials. These obstacles indicated that limited technological knowledge affected technological pedagogical knowledge, preventing teachers from recognizing Wordwall. The research concludes that adequate physical infrastructure alone does not guarantee adoption of digital tools. Ultimately, sustained technology training and reliable internet access were necessary for successful technology integration in EFL classrooms.