cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
telaah.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jalan KH. Ahmad Dahlan No 1, Pagesangan, Kota Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Telaah
ISSN : 24772429     EISSN : 26206226     DOI : 10.31764
Core Subject : Education,
Jurnal Ilmiah Telaah adalah wadah publikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Mataram. Artikel/karya tulis yang dimuat dalam jurnal ini adalah karya tulis hasil penelitian dan hasil pemikiran (telaah kritis) mengenai pendidikan, bahasa, serta sastra indonesia. Kontributor yang dapat mempublikasikan tulisanya pada jurnal ini adalah para akademisi (dosen dan guru), praktisi, dan pemerhati dibidang pendidikan, bahasa, dan sastra Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
Pengembangan Bahan Ajar Interaktif Berbasis Virtual Tour Museum pada Materi Jalur Rempah Nusantara di SMP Nimas Yuhyih Wakindiyah; Purwanto Purwanto; Krisna Nanda
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.41136

Abstract

Pembelajaran IPS pada materi Jalur Rempah Nusantara memerlukan bahan ajar yang dapat membantu peserta didik memahami konsep sejarah secara sistematis. Analisis awal penelitian di SMP Negeri 6 Malang menunjukan bahwa pembelajaran masih didominasi dengan metode konvensional, keterbatasan sumber belajar cetak buku pakat maupun LKS, serta minimnya pemanfaatan teknologi oleh pendidik sehingga peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami materi. Tujuan penelitian ini yaitu: 1) mengembangkan bahan ajar interaktif berbasis Virtual Tour Museum pada materi Jalur Rempah Nusantara untuk peserta didik kelas VII SMP; dan 2) untuk mengkaji kelayakan dan kepraktisan bahan ajar yang dikembangakan. Metode yang digunakan yaitu R&D menggunakan model ADDIE, yang dikembangkan melalui 5 tahap yaitu; 1) Analisyze; 2) Design; 3) Development; 4) Implementation, dan; 5) Evaluate. Hasil penelitian menunjukan bahwa bahan ajar interaktif berbasis Virtual Tour Museum memperoleh rata-rata skor validasi sebesar 89,5%, dengan masing-masing perolehan total nilai yaitu pada ahli materi sebesar 89% dan ahli media sebesar 90%, menunjukan bahan ajar termasuk dalam kategori sangar layak. Selanjutnya hasil uji kepraktisan oleh guru dan peserta didik menunjukan rata-rata 90%, yang berarti bahan ajar berapa pada kategori sangat praktis dan layak untuk digunakan dalam pembelajaran IPS pada materi Jalur Rempah Nusantara di SMP. Bahan ajar ini dikembangkan dengan mengintegrasikan berbagai elemen multimedia sehingga tidak hanya efektif secara pedagogis, namun juga mendukung pembelajaran yang lebih interaktif, kontekstual, dan mendorong peserta didik mengksplorasi bahan ajar secara mandiri.
KONSTRUKSI KAUSATIF DAN STRUKTUR KALIMAT DALAM BAHASA KAILI DIALEK DOI: KAJIAN MORFOSINTAKSIS Intan Nuraini; Hadi Purnama; Amalia Rahmi Sani; Atika Theda Muffarihan A
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40824

Abstract

Penelitian mengenai konstruksi kausatif pada bahasa-bahasa daerah di Indonesia masih relatif terbatas, terutama pada bahasa Kaili dialek Doi yang menyimpan karakteristik morfosintaksis penting namun belum banyak terdokumentasikan. Kondisi ini menyebabkan hubungan antara proses pembentukan kausatif dan struktur kalimat dalam bahasa tersebut belum terdeskripsikan secara memadai. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi kausatif dan struktur kalimat bahasa Kaili dialek Doi serta menjelaskan hubungan antara proses morfologis dan perubahan struktur sintaktis yang menyertainya. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan perspektif morfosintaksis. Data berupa tuturan penutur asli bahasa Kaili dialek Doi yang diperoleh di Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Sulawesi Tengah melalui observasi, wawancara, perekaman, dan pencatatan. Data dianalisis melalui tahap identifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi kausatif dibentuk melalui afiks nompa-, nompapa-, nompopo-, dan nompaka- yang beroperasi pada verba intransitif, verba transitif, konstruksi resiprokal, adjektiva, dan adverbia. Proses kausativisasi tidak hanya menghasilkan perubahan bentuk morfologis, tetapi juga meningkatkan valensi verba melalui penambahan argumen baru sebagai penyebab (causer), sehingga mengubah struktur sintaktis klausa. Selain itu, ditemukan enam pola struktur kalimat yang produktif, yaitu aktif, pasif, bitransitif, resiprokal, refleksif, dan semi transitif. Temuan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara morfologi dan sintaksis dalam pembentukan makna gramatikal bahasa Kaili dialek Doi. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan kajian morfosintaksis dan tipologi kausatif bahasa-bahasa Austronesia melalui penyediaan bukti empiris mengenai hubungan antara afiksasi, peningkatan valensi, dan struktur klausa. Temuan penelitian juga memiliki implikasi bagi dokumentasi, pelestarian, dan pengembangan kajian linguistik bahasa daerah di Indonesia.
Sistem Afiksasi dan Pemajemukan dalam Bahasa Kaili Dialek Doi di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah: Sebuah Dokumentasi Morfologi Berbasis Lapangan Idris Patekkai; Nurul Zakia; Indri Saiva; Ade Aslinda; Wildayani Wildayani; Sarah Ayu Hanifa; NI Kadek Juniarti
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.41120

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sistem afiksasi dan pemajemukan dalam Bahasa Kaili Dialek Doi di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, sebagai bentuk dokumentasi linguistik atas bahasa daerah yang mengalami tekanan pergeseran fungsi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan desain dokumentasi linguistik lapangan (field-based linguistic documentation). Data bersumber dari tuturan lisan enam penutur asli berusia 35–55 tahun di Desa Limboro yang dihimpun melalui teknik simak libat cakap, wawancara, serta rekam dan catat, kemudian dianalisis dengan metode padan referensial dan metode agih beserta teknik Bagi Unsur Langsung (BUL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa afiksasi verba direalisasikan melalui prefiks {ma-}, {mo-}, {ne-}, {no-}, dan {ni-} serta sufiks dan konfiks yang memarkahi aspek, valensi, dan relasi semantis tindakan; nominalisasi ditandai prefiks {to-}, {togi-}, dan {po-} serta konfiks {ka+an} dan {no+ka} yang membentuk makna pelaku, hasil, dan keadaan; pada adjektiva dan adverbia, prefiks {na-} berperilaku fleksibel lintas kategori dengan konfiks {ka--na} sebagai pemarkah intensitas superlatif; sementara pemajemukan memperlihatkan pola endosentrik dan eksosentrik yang tidak sekadar struktural, melainkan juga mengandung makna idiomatik dan representasi konseptual penutur. Temuan ini menegaskan bahwa Bahasa Kaili Dialek Doi memiliki sistem morfologi yang produktif, sistematis, dan masih aktif digunakan di tengah tekanan perubahan bahasa, sehingga berkontribusi pada pengembangan kajian morfologi Austronesia dan penguatan dokumentasi bahasa daerah.
Flouting Maxims in Jackson Wang’s Interview on the DIVE Studios Podcast Nouva El Aziza Ardyningrum
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40748

Abstract

This study aims to identify the types of flouting maxims and the reasons behind their use in Jackson Wang’s interview on the DIVE Studios podcast. This research employed a qualitative approach. The data consisted of utterances produced by Jackson Wang that contained flouting maxims. The study applies Grice’s (1975) Cooperative Principle to identify the types of flouting maxims. The findings revealed 38 utterances containing flouting maxims, consisting of 18 instances of flouting maxim of quantity, 13 of flouting maxim of relation, 4 of flouting maxim of quality, and 3 of flouting maxim of manner. The findings also indicate that the speakers flouted conversational maxims for various communicative purposes, including avoiding direct answers, emphasizing ideas, expressing emotions, maintaining privacy, creating humor, and fostering a more natural interaction.
Klausa Independen dan Klausa Dependen dalam Bahasa Kaili Dialek Doi: Dokumentasi Struktur Sintaksis Bahasa Daerah Noverna Badjadji; Putri Nurmulyani; Fitratul Wahda; Fitriani Fitriani
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40844

Abstract

Kajian mengenai struktur klausa pada bahasa Kaili dialek Doi masih relatif terbatas, padahal dokumentasi aspek sintaksis merupakan bagian penting dalam upaya pelestarian dan pengembangan bahasa daerah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur dan fungsi klausa independen serta klausa dependen dalam bahasa Kaili dialek Doi sebagai bagian dari dokumentasi sintaktis bahasa daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data penelitian berupa tuturan lisan penutur asli bahasa Kaili dialek Doi yang dikumpulkan melalui teknik simak, cakap, catat, dan perekaman. Data dianalisis menggunakan metode agih dan metode padan untuk mengidentifikasi struktur serta fungsi sintaktis klausa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klausa independen dalam bahasa Kaili dialek Doi terdiri atas klausa intransitif, klausa transitif, dan klausa ekuatif. Klausa intransitif umumnya berpola Subjek + Predikat (S+P), sedangkan klausa transitif berpola Subjek + Predikat + Objek (S+P+O). Klausa ekuatif memperlihatkan penggunaan kopula nol (Ø) yang memungkinkan hubungan antara subjek dan komplemen terbentuk tanpa kehadiran verba penghubung secara eksplisit. Selain itu, klausa dependen terdiri atas klausa nomina dan klausa adverbia. Klausa nomina berfungsi sebagai subjek, objek, dan komplemen, sedangkan klausa adverbia berfungsi menyatakan hubungan waktu, sebab, dan tujuan antarklausa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa bahasa Kaili dialek Doi memiliki sistem pembentukan klausa yang terstruktur dan produktif, baik dalam konstruksi sederhana maupun kompleks. Penelitian ini berkontribusi pada pengayaan kajian sintaksis bahasa daerah serta menyediakan dokumentasi linguistik yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber data bagi penelitian lanjutan, pengembangan bahan ajar, dan pelestarian bahasa Kaili di Sulawesi Tengah.
Penerapan Discovery Learning Berbasis Etnosains untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Larutan Penyangga pada Murid Kelas XI SMAN 4 Pekanbaru Neni Saputri; Sri Haryati; Sri Wilda Albeta
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40708

Abstract

Pembelajaran kimia yang abstrak sering kali memicu rendahnya pemahaman konsep murid pada materi Larutan Penyangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan dan mendeskripsikan pemahaman konsep murid setelah diterapkan model Discovery Learning berbasis etnosains. Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan desain Randomized Control Group Pretest-Posttest Design. Populasi penelitian mencakup seluruh murid kelas XI SMAN 4 Pekanbaru tahun ajaran 2025/2026. Sampel dipilih secara acak setelah uji homogenitas untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes pemahaman konsep berbentuk soal pretest dan posttest. Analisis data menggunakan uji hipotesis Independent Samples T-Test terhadap nilai N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pemahaman konsep murid kelas eksperimen signifikan lebih tinggi daripada kelas kontrol (Sig. 2-tailed 0,001 < 0,05). Kelas eksperimen mengalami lonjakan nilai posttest yang merata pada aspek memahami (44,902 menjadi 66,547), mengaplikasikan (34,109 menjadi 58,140), dan menganalisis (24,031 menjadi 50,775). Integrasi kearifan lokal Riau terbukti efektif bertindak sebagai jangkar kognitif bagi murid.
Etnopedagogi dalam Cerita Rakyat Putri Yamamore: Rekonstruksi Nilai Pendidikan Karakter dan Kosmologi Ekologis pada Legenda Kaili–Towale, Sulawesi Tengah Idris Patekkai; Defi Rahmatia; Fatimah Al-Zahra; Fadilah Fadilah; Lilis Septiyani; Pratiwi Jawad; Umi Fausia
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.41121

Abstract

Cerita rakyat Kaili di Sulawesi Tengah menghadapi ancaman kepunahan seiring melemahnya transmisi lisan antargenerasi, sementara dokumentasi dan kajian akademis atasnya masih sangat terbatas dibandingkan tradisi Jawa, Sunda, maupun Bugis–Makassar. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi dan menganalisis nilai-nilai etnopedagogis yang terkandung dalam legenda Putri Yamamore dari tradisi Kaili–Towale, dengan menempatkan konten cerita sebagai data pedagogis alih-alih sekadar data sastra. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan strategi cerita-rakyat-sebagai-teks (folklore-as-text) dan analisis isi terhadap transkrip cerita yang dikumpulkan dari informan kunci. Analisis tematik-etnopedagogis diterapkan melalui prosedur reduksi data, kategorisasi, dan interpretasi, kemudian divalidasi melalui triangulasi sumber, investigator, dan metode dengan tokoh adat serta dokumentasi lapangan. Temuan menunjukkan bahwa legenda ini mengandung lima kategori nilai—integritas, resolusi konflik/perdamaian, kepemimpinan, ketangguhan, dan pengetahuan ekologis—yang termanifestasi melalui perilaku tokoh, motif naratif, serta mitos petrifikasi dan asal-usul mata air sebagai penanda etiologis-ekologis. Kebaruan penelitian terletak pada pembacaan kritis bahwa kelima tema tersebut memuat sistem nilai yang saling bersaing (competing value systems), bukan semata komplementer, sehingga polivokalitas justru menjadi ciri hakiki tradisi naratif lisan. Penelitian ini berimplikasi pada penyediaan bahan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Sulawesi Tengah dan pelestarian sastra lisan Kaili yang terancam punah.
Representasi Kebahasaan dalam Pemberitaan Kasus Jasad Dicor di Lombok Barat: Kajian Linguistik Forensik Ahyati Kurniamala Niswariyana; Farianingsih Farianingsih; Baiq Yuliatin Ihsani; Roby Mandalika Waluyan
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40774

Abstract

Kasus penemuan jasad perempuan yang dicor di dalam sumur di Perumahan Griya Perembun Asri, Desa Parampuan, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat pada 23 Agustus 2025 menjadi perhatian luas masyarakat karena diduga merupakan tindak pembunuhan berencana. Korban berinisial NU (27) sebelumnya dilaporkan hilang sejak 10 Agustus 2025. Berdasarkan hasil penyelidikan, pelaku berinisial IM alias IH (31), yang merupakan kekasih korban, diduga melakukan penganiayaan hingga menyebabkan korban meninggal dunia, kemudian menyembunyikan jasad korban di dalam sumur sedalam kurang lebih tiga meter dan menutupnya dengan pasir serta semen berlapis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan secara sistematis rangkaian peristiwa, proses pengungkapan kasus, serta dampak sosial yang ditimbulkan di lingkungan masyarakat. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi terhadap informasi resmi kepolisian dan pemberitaan media yang relevan. Analisis dilakukan dengan mengklasifikasikan data berdasarkan kronologi kejadian, fakta hukum, dan respons sosial masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus ini menimbulkan dampak sosial yang signifikan, ditandai dengan kecaman publik, tuntutan hukuman berat terhadap pelaku, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan lingkungan. Dengan demikian, kasus ini tidak hanya menjadi persoalan hukum, tetapi juga fenomena sosial yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap rasa aman dan kepercayaan dalam lingkungan tempat tinggal. 
Struktur Frasa Bahasa Kaili Dialek Doi: Kajian Sintaktis terhadap Kategori Frasa Faathir Abdillah; Ni Luh Sekardani; Nina Zagina; Greis Resya Laudea; Iren Iren; Krisna Srililianti
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40845

Abstract

Bahasa Kaili dialek Doi merupakan salah satu bahasa daerah di Sulawesi Tengah yang masih digunakan secara aktif oleh masyarakat tutur di Kabupaten Donggala, namun kajian mengenai struktur sintaksisnya, khususnya pada tingkat frasa, masih relatif terbatas. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan akan dokumentasi linguistik yang lebih komprehensif sebagai upaya pelestarian bahasa daerah sekaligus pengembangan kajian sintaksis bahasa-bahasa Nusantara. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis struktur internal frasa bahasa Kaili dialek Doi yang meliputi frasa nomina, frasa verba, frasa adjektiva, frasa adverbia, dan frasa preposisional. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain linguistik lapangan. Data diperoleh dari tuturan penutur asli bahasa Kaili dialek Doi di Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala melalui teknik simak, rekam, dan catat, kemudian dianalisis menggunakan metode agih dengan teknik bagi unsur langsung untuk mengidentifikasi hubungan antarkonstituen dalam setiap konstruksi frasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 222 data frasa yang terdiri atas 48 frasa nomina, 69 frasa verba, 30 frasa adjektiva, 16 frasa adverbia, dan 59 frasa preposisional. Analisis mengungkap bahwa struktur frasa bahasa Kaili dialek Doi dibangun melalui pola hulu + hulu (H+H), hulu + tambahan (H+T), tambahan + hulu (T+H), dan tambahan + hulu + tambahan (T+H+T), sedangkan frasa preposisional memperlihatkan pola yang relatif tetap berupa preposisi yang diikuti unsur nominal sebagai pelengkap. Frasa verba merupakan kategori yang paling produktif, sementara frasa adverbia menjadi kategori yang paling sedikit ditemukan. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa Kaili dialek Doi memiliki sistem pembentukan frasa yang teratur dan produktif serta memperlihatkan variasi hubungan sintaktis yang kompleks dalam berbagai kategori frasa. Penelitian ini berkontribusi pada pengayaan deskripsi sintaksis bahasa Kaili yang masih terbatas dalam literatur linguistik Indonesia dan menyediakan data empiris yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tata bahasa deskriptif, penyusunan bahan ajar bahasa daerah, serta penguatan program dokumentasi dan pelestarian bahasa Kaili di Sulawesi Tengah.
Fan Engagement Through Multilingual Code Practices in SEVENTEEN’s X Dewi Lestari Pambudi; Lina Purwaning Hartanti
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 2: July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i2.40694

Abstract

This study examines fan engagement through multilingual code practices in SEVENTEEN’s official X posts within digital fandom spaces. Using Social Presence Theory (Short et al., 1976), this study analyzes eight official posts uploaded on SEVENTEEN’s X account (@pledis_17) and 400 fan comments collected from the corresponding comment sections through a qualitative descriptive approach. The findings reveal that SEVENTEEN’s official posts predominantly employ immediacy as the primary engagement strategy, while intimacy emerges as the most dominant form of fan engagement in the comment sections. In terms of language use, English is the dominant language in fan responses, followed by mixed-language and other-language comments, indicating active multilingual participation among global fans. These findings suggest that multilingual code practices not only facilitate information dissemination but also encourage emotional interaction and audience participation. Overall, multilingual communication functions not only as a strategic communication practice but also as a mechanism for fostering fan engagement and strengthening digital fandom communities.