cover
Contact Name
I Ketut Sudarsana
Contact Email
ulakan82@gmail.com
Phone
+6287823334582
Journal Mail Official
ganaya.jurnalilmusoshum@gmail.com
Editorial Address
Jalan Antasura Gang Dewi Madri I Blok A / 3, Peguyangan Kangin, Kec. Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali 80115
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Published by Jayapangus Press
ISSN : -     EISSN : 26150913     DOI : -
Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora is a journal published by Jayapangus Press which contains the results of research in the field of social sciences and humanities. The purpose of this journal is to publish and disseminate writings in the social sciences and humanities that can contribute to the development of science. Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora published twice a year in March and September. Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora accepts writings in the form of quantitative and qualitative research from academics, practitioners, researchers, and students relevant to the topic of social science and humanities.
Articles 633 Documents
Model Konseptual Pemertahanan Bahasa Lokal di Kalimantan Timur sebagai Ibukota Negara yang Baru Mirsa Umiyati
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-2 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemertahanan bahasa-bahasa lokal di Kalimantan Timur menjadi isu sentral yang harus segera diatasi mengingat keberadaan bahasa-bahasa lokal yang beragam, jumlah penutur dari kalangan muda yang menyusut, serta rencana pemindahan ibukota negara ke Kalimantan Timur yang akan menyebabkan problem ini menjadi lebih kompleks. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan teori managemen P-O-A-C dalam menyusun model konseptual pemertahanan bahasa-bahasa lokal di Kalimantan Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa teori P-O-A-C mampu memberikan landasan yang kuat dalam merumuskan model konseptual pemertahanan Bahasa-bahasa lokal di Kalimantan Timur. Paparan diatas juga menyimpulkan bahwa model konseptual pemertahanan Bahasa-bahasa lokal di Kalimantan Timur dengan mengadopsi teori P-O-A-C mampu memberi arah yang terukur dan sistematis.
Implikasi Hukum Pertanahan Terhadap Pemindahan Ibu Kota Negara Republik Indonesia Dari Jakarta Ke Kalimantan Timur Simon Nahak
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-2 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Implikasi hukum pertanahan terhadap pemindahan ibukota Negara berimplikasi langsung terhadap pengaturan Hak Nominee Dalam Hukum Agraria untuk investasi berdasarkan harapan masyarakat dan kearifan lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencermati implikasi hukum agraria terhadap pemindahan ibukota negara ke Kalimantan Timur dan untuk mencermati pengaturan hak nominee dalam hukum agraria untuk investasi berdasarkan harapan masyarakat dan kearifan lokal terhadap pemindahan ibukota negara ke Kalimantan Timur. Metode yang digunakan metode yuridis normative. Konsep/teori yang digunakan untuk menganalisis penelitian ini adalah teori kewenangan, teori penjenjangan norma, teori sistem hukum dan teori perlindungan hukum. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan secara langsung hukum pertanahan terhadap pemindahan ibukota Negara diatur berdasarkan kewenangan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah, Pusat, warga masyarakat (adat/suku), badan hukum pemerintah dan swasta. Pengaturan terhadap penormaan yang konflik dan kabur diatur berdasarkan tahapan formulasi (kebijakan legislatif), merancang, membentuk hingga pengesahan sebuah Undang-Undang Tahapan Aplikasi (kebijakan yudikatif/yudisial), mengimplementasikan peraturan yang telah dibentuk dan disahkan, Tahapan Eksekusi (Kebijakan eksekusi/administrasi), melaksanakan Undang-Undang yang berlaku dan sah mengikat semua warga masyarakat terutama setiap orang/badan hukum yang terbukti melakukan menggunakan tanah untuk kepentingan umum dan kepentingan privat.
Pembatasan Alih Fungsi Lahan Pertanian Terhadap Rencana Pemindahan Ibu Kota Negara Putu Suma Gita
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-2 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di satu sisi, rencana pemindahan ibu kota Negara merupakan upaya yang cukup baik untuk mobilisasi pemerintahan, namun di sisi lain terdapat dampak alih fungsi lahan khususnya alih fungsi lahan pertanian yang perlu ditanggapi serius oleh pemangku kepentingan dan masyarakat sebagai upaya mempertahankan ketahanan pangan nasional. Oleh sebab itu, upaya pemerintah daerah dan peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk membatasi alih fungsi lahan pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak kota pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur, dan merekomendasikan kepada pemerintah daerah terhadap upaya-upaya yang perlu dilakukan salah satunya membentuk peraturan daerah. Penelitian ini menggunakan teori kepastian hukum yang bermuara pada dibentuknya peraturan daerah mengenai pembatasan alih fungsi lahan pertanian untuk mencegah alih fungsi lahan ketika dipindahkannya ibu kota Negara ke Kalimantan timur agar tercapainya kepastian hukum. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa dampak yang dirasakan terhadap alih fungsi lahan pertanian memang saat ini belum keseluruhan dirasakan oleh masyarakat dan lingkungan namun di masa depan akan benar terjadi sebab dampak-dampak tersebut telah terjadi di berbagai wilayah di Indonesia terhadap pelaksanaan alih fungsi lahan terutama lahan pertanian pangan. Dengan direncanakannya pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dampak-dampak yang akan terjadi kedepannya dapat diminimaliris oleh pemerintah daerah setempat dan masyarakat di wilayah tersebut. Upaya pembatasan alih fungsi lahan pertanian sangat perlu dilakukan dengan upaya preventif, upaya represif dan peran serta masyarakat. Secara nyata membuat suatu regulasi berupa peraturan daerah yang lebih mementingkan perlindungan terhadap lahan pertanian sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penetapan dan Laih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan sebagai turunan dari Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan pemerintah daerah bersama masyarakat harus berkomitmen terhadap wilayah dan kawasan pertanian yang dianggap penting dan perlu perlindungan secara utuh dan tidak dapat diganggugugat.
Penguatan Hak Penguasaan Tanah Adat Masyarakat Hukum Adat di Kalimantan Timur sebagai Rencana Ibu Kota Negara I Nyoman Sujana
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-2 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perpindahan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur sudah pasti akan diikuti oleh adanya perubahan sosial dan budaya, termasuk masuknya pengaruh globalisasi yang tidak terkendali. Hal inilah yang menjadi suatu dilema dimana pada satu sisi akan membuka peluang dan pada sisi yang lain akan sekaligus merupakan sebuah tantangan yang dihadapai oleh masyarakat hukum adat seiring dengan realisasi lokasi pemilihan tanah sebagai tempat kedudukan Ibu Kota negara yang baru; untuk itulah penelitian ini menganalisis perlindungan hukum penguasaan tanah Adat oleh masyarakat hukum adat di Kalimantan Timur sebagai rencana tempat Ibu Kota Negara Republik Indonesia serta tantangan dan peluang masyarakat hukum Adat di Kalimantan Timur dalam upaya memanfaatkan tanah adat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat. Penelitian ini menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual yang dikaji dengan teori hukum pembangunan dari Mochtar Kusumaatmadja; yang menyimpulkan bahwa penguasaan tanah Adat oleh masyarakat hukum adat di Kalimantan Timur sebagai rencana tempat Ibu Kota Negara Republik Indonesia, perlu dilakukan dengan mengimplementasikan berbagai pengaturan yang mengakui penguasaan eksistensi tanah adat oleh masyarakat hukum adat seperti yang tertuang didalam konstitusi, hal ini dilakukan agar penguasaan tanah-tanah adat oleh masyarakat hukum adat benar-benar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat hukum adat dengan tanpa menghambat pembangunan Ibu Kota Negara yang merupakan kepentingan yang harus diutamakan. Dan selain itu pula karena Rencana pembangunan Ibu Kota Negara di Kaltim adalah merupakan Tantangan dan sekaligus peluang bagi masyarakat hukum Adat di Kalimantan Timur,maka dalam upaya memanfaatkan tanah adat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat, perlu adanya pengaturan yang menguatkan pengusaan tanah-tanah adat oleh masyarakat hukum adat, khususnya pengaturan penguasan hutan adat untuk mencegah kerusakan lingkungan, sehingga pengaturan ini menjadi alat penjaga keseimbangan dan keharmonisan antara kepentingan negara dengan kepentingan masyarakat hukum adat.
Warisan Budaya sebagai Ikon Pariwisata dalam Rangka Kalimatan Timur Menjadi Ibukota Negara I Made Mardika
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-2 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi warisan budaya sebagai ikon pariwisata di Kalimantan Timur. Secara khusus menganalisis tentang potensi warisan budaya yang dapat dijadikan alternatif simbol pariwisata Kaltim dan strategi pengembangannya. Kajian ini searah dengan kebijakan pemerintah di bidang pariwisata, terutama terkait dengan UU RI No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, dan UU RI No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Penelitian ini dilakukan di Kalimantan Timur sebagai calon ibu kota Negara, dengan menggunakan metode Field Research yakni terjun langsung untuk meninjau lokasi dilapangan untuk mencermati bentuk bentuk warisan budaya di Kalimantan Timur dan menentukan Strateginya sesuai dengan kondisi di lapangan. Hasil Analisis menemukan Ada tujuh Warisan budaya yang berpeluang menjadi alternative icon pariwisata Kalimantan Timur, yaitu: situs lukisan gua prasejarah, prasasti yupa Kutai, Desa Budaya Pampang, Museum Samarinda, Kampung Tenun Samarinda, Masjid Baitul Muttaqin, Masjid Shirotal Mustaqim. Kedua,untuk dapat dijadikan icon pariwisata Kalimantan Timur maka warisan budaya tersebut perlu dikembangkan secara terintegrasi. Strategi yang penting untuk dikembangkan adalah searah dengan konsep manajemen sumberdaya budaya, yaitu pemanfaatan warisa budaya demi kelestariannya.
Komunikasi Dialektik Dalam Relasi Hindu Dan Islam Di Bali I Nyoman Yoga Segara
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-3 (2020)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article on Hindu and Islamic relations is the result of research observed in Bukit Tabuan and SegaraKaton Village in Karangasem, Sindu Village in Gianyar, and Bugis Village, Denpasar. The result of this study shows a similar pattern, especially how Muslim responds to their existence with adaptation, imitation and self-preservation. The use of language, following traditions and customs, and building architecture are the most frequently used media as a strategy for building dialectic communication.The acculturation of the culture has strengthened the strategy, which runs smoothly to this day, especially by the early Muslims who came to Bali, and Muslims who were soldiers and occupied tanah catu given by the king. In its relationship that lasted for hundreds of years, Hindus and Muslims also experienced dynamics. But in general, the dynamics are mostly caused by political factors and the power of economic resources, especially in the tourism sector, as well as migrants in several heterogeneous regions. Research at the four locations was carried out with a qualitative approach through interview techniques, observation and document studies.
Gojek Re-Branding Menyasar Pangsa Pasar Milenial (Studi Kasus Rebranding Gojek) Yoyoh Hereyah; Rafika Andriani
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-3 (2020)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi pemasaran bertujuan untuk mengeksplorasi sifat dan karakteristik branding dan mengidentifikasi cara bagaimana komunikasi pemasaran dapat digunakan untuk mengembangkan dan mempertahankan merek yang melibatkan audiens target masing-masing. Merek (brand) merupakan salah satu asset tidak berwujud, sehingga bagi perusahaan merek dan segala yang dimilikinya merupakan asset yang paling penting karena merek merupakan dasar keuntungan kompetitif dan sumber penghasilan masa depan. Sebuah merek mempunyai kekuatan untuk memikat hati konsumen agar membeli produk maupun jasa yang dimilikinya. Merek juga di ibaratkan sebagai sebuah nyawa bagi keberhasilan suatu produk dalam mencapai target penjualan. Maka Merek sangat penting bagi sebuah perusahaan itu sebagai identitas. Di salah satu perusahaan e-commerce yang sangat pesat ia sangat memperhatikan sebuah merek. Hal mendasar yang membedakan antara Gojek dan ojek lainnya adalah pelabelan nama “Gojek”. Brand merupakan senjata yang sangat ampuh dalam dunia periklanan. Brand merupakan bentuk identitas yang akan menjadi pembeda dengan competitor lain. Identitas yang menunjukkan kelebihan yang dimiliki produk dan tidak dimiliki oleh produk lain. Ketika orang menyebut Gojek, akan langsung teringat ojek yang tidak biasa bernuansa hijau-hijau yang bisa dipanggil dengan aplikasi di android. Dengan sebuah merek, maka bisa dibilang Gojek tidak memiliki saingan yang sepadan.
Objek Wisata Pura Tirta Empul Sebagai Media Pendidikan Multikultural Bagi Generasi Milenial Pada Era 4.0 Ni Wayan Karmini; Ni Putu Dyatmikawati; Gusti Ayu Ayu Suasthi; Ni Ketut Srie Kusuma Wardhani; Gede Yoga Kharisma Pradana
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-3 (2020)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This scientific work discusses the existence of the tourism object Tirta Empul as a venue for the economic development of local communities, as well as a multicultural education media for millennials in the 4.0 era. This paper is the result of qualitative research. Data was collected through observation, literature study and in-depth interviews with 11 informants managing Tirta Empul attractions, observers of Balinese culture and tourists visiting Tirta Empul attractions. Data analysis was conducted descriptively-interpretative by applying the theory of tourism development and the theory of commodification. The results of the study show that through promotion in the 4.0 era cybermedia network, the tourism objects of Tirta Empul are increasingly known by local and foreign tourists. Commodification of tourism objects Tirta Empul has aroused manners of entrepreneurship and supports the development of the local Indigenous Village. In addition, the cultural tourism object of Tirta Empul is also a special multicultural education media for millennials. Tourism activities in Tirta Empul that are able to generate social-economic activities and foster multicultural awareness need to be maintained and developed.
Tradisi Megoak-Goakan Sebagai Media Penguat Karakter Berbasis Kearifan Lokal Di Era Industri 4.0 Ni Putu Candra Prastya Dewi
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-3 (2020)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Along with the development of technology in the industrial era 4.0, there is also a growing foreign culture going to Indonesia. But people need to preserve the wisdom of local culture by studying their own culture. One of the cultures in Bali is the Megoak-goakan tradition. Megoak-goakan is a tradition held by the people of Panji village, Sukasada District, Buleleng Regency. This tradition was carried out as a form of respect for Ki Gusti Panji Sakti, King of Buleleng. The cultural tradition is still developing until now in the form of traditional games that were held on the day of Ngembak Geni the day after Nyepi. There are cultural values ​​in the tradition of mutuality, namely religious values, the value of unity, socio-cultural values, and the value of mutual cooperation. This Megoak-goakan tradition instills character in the community, namely religious character, mutual cooperation, nationalism, integrity, and independence. The implementation of the tradition of Megoak-goakan in the form of traditional games can be carried out in schools to instill character in students or in the community to reduce the negative behavior of the community, thereby creating a peaceful and upholding community. So it can be concluded that Megoak-goakan can be a local wisdom-based character reinforcement media in the face of the swift flow of globalization due to technological developments in the industrial era 4.0.
Whatsapp Group Sebagai Media Komunikasi Dalam Tradisi Mapengarah Berbaris Tri Hita Karana Pada Era Revolusi Industri 4.0 Ni Rai Vivien Pitriani
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-3 (2020)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The writing of this article was composed to reveal the use of whatsapp groups as a medium of communication in the traditional mapengarah based teachings of Tri Hita Karana in the era of the industrial revolution 4.0. The results of this study reveal that the traditional mapengarah tradition is usually carried out to convey information from one house to another to channel important information relating to joint activities both religious activities and local traditional activities that are important to be known and carried out by the community, all of these activities based on the teachings of Tri Hita Karana and focuses on the younger generation or generation Y. Tri Hita Karana which in Hinduism teachings, it is a cause of happiness in the world, happiness starts from the existence of good and directed communication. In the era of the industrial revolution 4.0, the young generation or generation Y has been able to answer the challenges of the times by using whatsapp groups as a medium of communication in the tradition of direction, because whatsapp groups are in great demand today and how to use them easily, quickly in receiving information without having to waste a lot of time. Besides that the information accessed is right on target, in the sense that it is directly directed at the person who will be given the information.

Page 8 of 64 | Total Record : 633