cover
Contact Name
I Ketut Sudarsana
Contact Email
ulakan82@gmail.com
Phone
+6287823334582
Journal Mail Official
ganaya.jurnalilmusoshum@gmail.com
Editorial Address
Jalan Antasura Gang Dewi Madri I Blok A / 3, Peguyangan Kangin, Kec. Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali 80115
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Published by Jayapangus Press
ISSN : -     EISSN : 26150913     DOI : -
Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora is a journal published by Jayapangus Press which contains the results of research in the field of social sciences and humanities. The purpose of this journal is to publish and disseminate writings in the social sciences and humanities that can contribute to the development of science. Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora published twice a year in March and September. Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora accepts writings in the form of quantitative and qualitative research from academics, practitioners, researchers, and students relevant to the topic of social science and humanities.
Articles 633 Documents
Komunikasi Bahasa Bali dalam Paruman Adat di Desa Bunutan Karangasem (Perspektif Sosiolinguistik) I Wayan Jatiyasa
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-1 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is a qualitative research that aims to describe: (1) the form of communication in the Balinese language in the paruman adat in Bunutan Karangasem Village; (2) the obstacles faced when communicating Balinese in the paruman adat in Bunutan Karangasem Village; and (3) a strategy to overcome the obstacles of communicating Balinese language in the paruman adat in Bunutan Karangasem Village. Data collection methods use the look and interview method. The referral method is done with basic techniques and advanced techniques. The basic technique, namely tapping technology assisted with recording instruments, while the follow-up technique, which is using competent involvement-free listening techniques and note taking techniques are assisted with notebook instruments. The interview method uses a standardized interview. Based on the results and discussion, it can be concluded that: (1) the form of communication in the Balinese language in the paruman adat in the village of Bunutan Karangasem, namely using Balinese Madia language and pointing at the dialect of Bunutan Karangasem Village; (2) constraints when communicating Balinese language in paruman adat in Bunutan Karangasem Village are influenced, namely: directly (lack of knowledge about anggah- ungguhing basa Bali, no Balinese education, Indonesian/English language use is cooler, spontaneity due to forgetfulness, and habits) and indirectly (the impact of tourism, economic demands, and population heterogeneity); (3) a strategy undertaken to overcome the constraints of communicating Balinese language in the paruman adat in Bunutan Karangasem Village, namely: empowerment of Bali Provincial Bali Language Instructor; giving dharma discourse or counseling of Hinduism; free tutoring at the Indonesian Children’s Foundation in Lean; and further study to college.
Pergeseran Kosakata Bahasa Bali Pada Ranah Nelayan Di Kecamatan Karangasem Ni Komang Aryani
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-1 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk : 1) mengidentifikasi kosakata bahasa Bali yang digunakan pada ranah nelayan di Kecamatan Karangasem; 2) mengetahui bentuk pergeseran kosakata bahasa Bali ranah nelayan di Kecamatan Karangasem. Data diperoleh dari Teknik observasi, wawancara kepada beberapa nelayan yang masih aktif dan bebrapa nelayan yang sudah tidak aktif, dan dokumentasi. Hasil pembahasan dalam penelitian ini menunjukkan bentuk kosakata Bahasa Bali yang dipakai dalam ranah nelayan ada 2 yaitu : 1) kata benda (ampÝn, bayungan, bau, bÝbaluh, babulu, bÝndera, bumbung, bidak, cÝdik, cungkil, Olah/dayung, dayung kalimat, dolos, grondongan, gandok, garut, jaring, jukung kayu, jukung palong, kancuh, katir/kantih, kerek, lopÝr, plampung, panggiling, pampan, pamikulan, pancÝr, pancing, patiangan, tajog, tapÝl jukung, tasi, tÝbÝng, timah, ris, sÝrang, sÝnÝng, SÝnÝng korog, sumpe). 2) kata kerja (malabuh, mulang jaring, nayung, nikul jukung, ngancun, ngarawe, ngalimun, ngÝlusin, ngÝdÝngin, nyalain, nyilÝm). Bentuk pergeseran kosakata Bahasa Bali pada ranah nelayan yaitu : 1) dayung kalimat sudah tidak terpakai tergantikan oleh penggunaan mesin, 2) gandok sudah tidak ditemukan semenjak penggunaan mesin, 3) tajog sudah tidak digunakan karena perubahan mode perahu yang semakin modern, 4) SÝrang sudah tidak digunakan karena perubahan mode perahu yang semakin modern, 5) AmpÝn tergantikan oleh penggunaan tasi dan jaring, 6) Bidak sudah mulai tergantikan oleh fungsi mesin, 7) Grondongan mulai diganti dengan kayu lainnya yang dianggap berpotensi lebih kuat dan tahan jika digunakan dalam air
Implementasi Model Pembelajaran Langsung (The Direct Instruction Model) Dalam Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa Terhadap The Simple Past Tense Pada Siswa Kelas Xi IPS 2 Di SMA Jagadhita Amlapura Tahun Pelajaran 2016/2017 I Ketut Wiriawan
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-1 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam Penelitian yang dilakukan berawal atas dasar banyak siswa yang bermasalah terhadap penguasaan bahasa inggris baik secara individual maupun secara klasikal. Hal ini dibuktikan dengan masih banyak siswa yang belum terkategori menguasai bahasa inggris baik dari segi penguasaan terhadap materi pembelajaran kususnya dalam penguasaan adjective phrases. Terkait dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis mengenai pemahaman siswa terhadap The Simple Past tense, dalam pengmpulan data penulis menggunakan rancangan Class room Action Research design, data yang diperoleh kemudian di analisis dengan analisis diskriftif sehinggga lebih mudah dalam menentukan predikat kategori penilaian kepada siswa apakah siswa mendapatkan predikat penilaian cukup, rendah, kurang ataupun mendapat nilai dalam kategori tinggi atau sangat tinggi. Terkait dengan predikat nilai yang diberikan kepada siswa, penulis selaku peneliti dapat menentukan strategi pembelajaran terkait proses pembelajaran untuk mencapai indikator peningkatan terhadap materi yang dijadikan sebagai pokok permasalahan dalam proses belajar mengajar. Dalam penelitian yang dilakukan penulis menggunakan Clssroom Actions Research Design ( penelitian Tindakan Kelas) untuk memperoleh data dalam penelitian yang di rangkum ke dalam 3 (tiga) siklus penelitian dimana pada inisial refleksi diperoleh skor rata rata pencapaian oleh siswa sebesar 53,82. Ini berarti pencapaian siswa masih rendah dan dalam penelitian yang dilakukan pada siklus1 (satu), dengan rata rata perolehan skor oleh seluruh siswa sebesar 66,18 pada siklus ini dapat disimpulkan bahwa dalam penelitia sudah mengalami peningkatan,yaitu perolehan skor semula adalah 53,82 dan menjadi 66,18. pada siklus ini dapatlah diketahui dan dapat diberikan atribut pada perolehanskor siswa sesuai dengan kategori penilaian yang telah ditetapkan yaitu dengan predikat pencapaian nilai tinggi. Dilanjutkan dengan kegiatan penelitian pada siklus berikutnya yaitu pada siklus 2 (dua) rata rata skor pencapaian siswa mengalami peningkatan dimana dalam siklus ini rata rata skor perolehan oleh siswa sebesar 72,35. dengan predikat rata rata perolehan skor tinggi, dan perolehan skor rata rata siswa pada siklus 3 sebesar 79,118 dengan kategori sangat tinggi. Jadi secara jelas dapat disimpulkan bahwa hasil pencapaian siswa terhadap the simple past tense memgalami peningkatan signifikan dan dapat diperjelas bahwa implementasi model pembelajaran langsung sangat efektif meningkatkan pemahaman siswa terhadap The Simple Past Tense.
Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Agama Hindu Berbasis Kearifan Lokal Pada Jenjang SMA Di Amlapura I Komang Badra
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-1 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pengembangan bahan ajar Pendidikan Agama Hindu berbasis kearifan lokal yang mudah dilakukan oleh para guru Agama Hindu tingkat SMA di Amlapura dan prosedur pengembangan bahan ajar Pendidikan Agama Hindu berbasis kearifan lokal yang efektif dan efesien sesuai dengan kebutuhan peserta didik tingkat SMA di Amlapura. Data dalam penelitian dikumpulkan dengan cara studi dokumen, observasi, dan wawancara. Datanya dianalisis secara kualitatif. Temuan dalam penelitian ini sebagai berikut. Model pengembangan bahan ajar yang efektif dilaksanakan adalah model pengembangan bahan ajar sesuai dengan model Dick and Carey, karena model ini dipandang paling relevan digunakan. Prosedur penyusunan bahan ajar dimulai dari analisis situasi di lapangan. Berdasarkan hasil analisis situasi tersebut, barulah disusun bahan ajar, sehingga bahan ajar yang disusun sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik para peserta didik sebagai pengguna bahan ajar tersebut
Penerapan Pendekatan Elaborasi Untuk Meningkatkan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Hindu Dalam Menyusun Silabus Dan RPP Ni Kadek Juliantari
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-1 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru Pendidikan Agama Hindu dalam menyusun silabus dan RPP setelah diterapkan pendekatan elaborasi dalam proses pembinaan. Data dikumpulkan dengan observasi dengan cara mencermati atau mengamati silabus dan RPP yang disusun oleh guru setelah kegiatan pembinaan dengan pendekatan elaborasi dilaksanakan. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif sehingga diperoleh kategori kompetensi guru dalam menyusun silabus dan RPP. Hasilnya menunjukkan bahwa bahwa persentase jumlah guru yang berkompeten dalam menyusun silabus mengalami peningkatan sebesar 22,22%; sedangkan persentase jumlah guru yang berkompeten dalam menyusun RPP mengalami 33,33%. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penerapan pendekatan elaborasi dapat meningkatkan kompetensi guru Pendidikan Agama Hindu dalam menyusun silabus dan RPP.
Analisis Tindak Tutur Masyarakat Hindu-Islam Dalam Proses Upacara Di Pura Bhur Bwah Swah, Karangasem Putu Andyka Putra Gotama
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-1 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa sebagai wahana komunikasi digunakan setiap saat. Dengan demikian, kajian mengenai bahasa menjadi suatu kajian yang tidak pernah habis untuk dibicarakan. Salah satu yang menarik untuk dikaji adalah mengenai tindak tutur. Penelitian ini akan mengkaji fenomena bahasa yaitu tindak tutur yang dapat dikatakan cukup unik. Hal ini disebabkan karena peneliti akan mencoba mengkaji tuturan yang terjadi dalam situasi lintas agama. Diketahui bersama bahwa Indonesia sedang dilanda oleh konflik sara. Di sisi lain, ada wilayah di Bali, tepatnya di Desa Seraya, Kabupaten Karangasem, hidup sekelompok masyarakat yang memiliki latar belakang Agama yang berbeda yaitu Hindu dan Muslim, namun dapat hidup rukun bahkan masyarakat Muslim juga terlibat dalam serangkaian Upacara di Pura Bhur Bwah Swah. Kerukunan tersebut tentu disebabkan oleh salah satu faktor, yaitu komunikasi yang baik. Berdasarkan hal tersebut, timbul ketertarikan untuk menganalisis Tindak Tutur Masyarakat Hindu-Islam dalam Proses Upacara di Pura Bhur Bwah Swah, Karangasem. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana lokusi, ilokusi, dan perlokusi dalam komunikasi Masyarakat Hindu-Islam pada Proses Upacara di Pura Bhur Bwah Swah di Karangasem. Subjek dari penelitian ini adalah masyarakat Hindu- Muslim yang terlibat dalam proses upacara di Pura Bur Bwah Swah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi yang dibantu dengan teknik pencatatan dan perekaman. Kemudian, data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif. Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ternyata kutipan komunikasi masyarakat Hindu dan Muslim pada persiapan dan pelaksanaan upacara di Pura Bhur Bwah Swah mengandung tindak tutur baik lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Dari sisi lokusi, seluruh kutipan komunikasi di atas memiliki makna yang tersirat jelas dalam ujaran. Kemudian, ilokusi setiap kutipan komunikasi memiliki daya atau makna yang memuat pemberitahuan, pengingat, perintah atau anjuran yang jelas sehingga berdampak pada perlokusi. Artinya, mitra tutur dapat melaksanakan apa yang diminta oleh penutur sesuai dengan ilokusi yang terkandung di masing-masing kutipan komunikasi. Hal tersebut tentunya dapat mewujudkan komunikasi yang baik sehingga bermuara pada hubungan individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok yang baik pula. Kejelasan komunikasi inilah yang menjaga kerukunan masyarakat Hindu dan Muslim di daerah tersebut, baik pada saat melaksanakan kegiatan upacara maupun pada kehidupan sehari-hari. Berorientasi dari hasil penelitian di atas, disarankan kepada umat Hindu di Seraya, Karangasem disarankan untuk tetap menjaga komunikasi yang baik sehingga dapat tercipta kerukunan hidup antarumat beragama, lembaga pencetak tenaga guru Agama Hindu diharapkan dapat membuat program kegiatan yang berorientasi lapangan sehingga dapat memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa dalam mengenal Pura Kahyangan Jagat dan kehidupan masyarakat di sekitarnya, tenaga guru atau dosen bahasa Indonesia kejelasan tindak tutur sangat penting untuk diajarkan karena dengan hal tersebut dapat menciptakan komunikasi yang baik, tenaga guru atau dosen Pendidikan Agama Hindu diharapkan dapat memberikan contoh-contoh nyata ketika menjelaskan materi Pura Kahyangan Jagat termasuk kehidupan masyarakat sekitarnya, dan peneliti lain diharapkan tetap untuk meneliti keragaman bahasa dan budaya yang nantinya akan berujung pada pemertahanan eksistensinya
Tradisi Masatua Pada Keluarga Hindu Kade Restika Dewi
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-1 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The existence of masatua tradition has been increasingly marginalized in this modern era. Even though the tradition has enormous benefits for the growth and development of children, especially for building character. Therefore, research that examines the existence of masatua tradition especially in Hindu families is important to do. The purpose of this study was to describe the existence of masatua tradition in Hindu families in Amlapura City, describing the constraints faced by Hindu families in Amlapura City in masatua, and describing the efforts made by Hindu Families in Amlapura City to maintain the existence of masatua Tradition. This research will be conducted in Amlapura City by taking samples in the housing area (perumnas) of Karangasem Regency. The data collection method used in this study there are 3 (three) namely the questionnaire method, observation and interview. The collected data will then be analyzed. The data in this study will be analyzed using a qualitative description approach. The technique used in data analysis in this study is inductive and argumentative techniques with steps: (1) data reduction, (2) data presentation, and (3) conclusions.
Eksistensi Bahasa Lokal Terkait Pemindahan Ibu Kota Negara Ke Kalimantan Timur: Ancaman dan Strategi Pemertahanannya I Wayan Budiarta
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-2 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi ancaman terhadap bahasa daerah terkait rencana pemindahan ibu kota. Di samping itu, artikel ini juga menguraikan tentang cara atau langkah yang harus ditempuh dalam mempertahankan eksistensi bahasa lokal. Data dan sumber data dari penelitian ini adalah dokumentasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, maka hasil yang diperoleh adalah ancaman terhadap bahasa lokal dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu pengaruh bahasa mayoritas, kondisi masyarakat penuturnya, globalisasi, migrasi/urbanisasi, perkawinan antar etnik, bencana, kurangnya perhargaan dan kecintaan generasi muda terhadap bahasa daerah, intensitas rendah penggunaan bahasa daerah, ekonomi, dan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Sementara itu, upaya pemertahanan yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan konsentrasi penutur, kesinambungan pengalihan bahasa ibu, loyalitas terhadap bahasa ibu, khazanah bahasa generasi muda, sikap bahasa generasi muda, dan penggunaan bahasa oleh kelompok (guyub tutur). Faktor-faktor yang membuat bertahannya bahasa dapat bersumber dari dalam tubuh kelompok penutur bahasa itu atau dari luarnya. Sebuah bahasa yang mampu bertahan tentulah bukan hanya oleh faktor tunggal saja, melainkan banyak dan beragam. Faktor eksternal meliputi (1) lingkungan alam, (2) lingkungan masyarakat generasi tua, (3) lingkungan masyarakat generasi muda, (4) sikap atau perilaku masyarakat mayoritas.
Pemajuan Kebudayaan Dalam Rangka Menjadikan Kalimantan Timur Sebagai Tujuan Wisata Berkelas Dunia I Ketut Widia
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-2 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Istilah “pemajuan kebudayaan” tidak muncul tiba-tiba. Istilah tersebut sudah digunakan para pendiri bangsa pada UUD 1945 dalam Pasal 32, yaitu “Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia”, untuk menegaskan bahwa kebudayaan merupakan pilar kehidupan bangsa. Pasal 32 UUD 1945 dikembangkan menjadi, “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.” Dengan kehadiran UU Pemajuan Kebudayaan, cita-cita pendiri bangsa agar Indonesia menjadi bangsa dengan masyarakat berkepribadian secara budaya, berdikari secara ekonomi, serta berdaulat secara politik, kini siap diwujudkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis kebudayaan yang mendesak untuk dikembangkan dan dimajukan dalam rangka menjadikan Kalimantan Timur menjadi tujuan wisata berkelas dunia dan untuk mendeskripsikan upaya pemajuan kebudayaan itu sendiri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian hukum normative. Maksudnya adalah penelitian berdasarkan hasil kajian kepustakaan dan dokumen yang relevan dan mendukung materi penelitian. Berdasarkan analisis, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa macam kebudayaan Kalimantan Timur yang mendesak untuk dimajukan yaitu suku, bahasa daerah, lagu daerah, senjata tradisional, pakaian adat, rumah adat, alat musik (kedire, klentengan (sluding), sampek, jatung utang, uding/uring), desa adat. Adapun upaya yang dapat dilakukan dalam pemajuan kebudayaan yaitu menyumbang pokok pikiran kebudayaan daerah kepada perwakilan ahli yang ditunjuk di masing-masing daerah, mencatat dan mendokumentasikan objek kebudayaan melalui sistem pendataan kebudayaan terpadu, melakukan pemutakhiran data objek pemajuan kebudayaan secara kontinu atau berkelanjutan, masyarakat harus berperan aktif untuk mengamankan objek kebudayaan untuk menghindari terjadinya klaim kebudayaan dari pihak asing, masyarakat harus turut berperan aktif untuk memelihara objek-objek kebudayaan, ikut berperan aktif menyelamatkan objek pemajuan kebudayaan melalui revitalisasi, repatriasi, atau restorasi, mengambangkan objek pemajuan kebudayaan melalui penyebarluasan, pengkajian, dan pengayaan keberagaman, mempublikasikan segala informasi yang berkaitan dengan inventarisasi, pengamanan, pemeliharaan, dan penyelamatan objek pemajuan kebudayaan.
Dampak Pengelolaan Lingkungan Hidup Bagi Kalimantan Timur Sebagai Ibu Kota Negara Serta Penyelesaian Sengketa Hukumnya I Gde Suranaya Pandit
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-2 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kalimantan Timur sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia dalam mengelola lingkungan hidup akan memiliki dampak terhadap kelangsungan hidup segenap makluk hidup di bumi. Adapun tujuan pemindahan ibu kota Negara adalah untuk pemerataan dan keadilan serta pengurangan pemacetan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak pengelolaan lingkungan hidup bagi Kalimantan Timur sebagai ibu kota negara serta penyelesaian sengketa hukumnya. Penelitian ini menggunakan teori kepastian hukum yang mengarah pada pengelolaan lingkungan hidup bagi Kalimantan Timur sebagai ibu kota Negara serta penyelesaian sengketa hukumnya agar tercapainya kepastian hukum. Hasil yang diperoleh adalah berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya. Bentuk-bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: Kerusakan Lingkungan Hidup akibat Peristiwa Alam dan Kerusakan Lingkungan Hidup karena akibat Faktor Manusia. Dampak pembangunan oleh manusia ada yang memiliki dampak positif, dan dampak negatif. Dampak kegiatan manusia terhadap lingkungan hidup telah menimbulkan berbagai masalah antara lain mutasi gen, dampak rumah kaca, hujan asam dan pencemaran air. Untuk mengantisipasi dampak pembangunan berkelanjutan adalah dengan melestarikan lingkungan hidup dengan perwujudan 30% dari luas wilayah kota untuk ruang terbuka hijau (RTH), mendorong pemanfaatan transportasi publik, mengendalikan terjadinya urbanisasi masif (termasuk industrialisasi) dan migrasi dari kawasan pedesaan ke kawasan perkotaan. Untuk terwujudnya hal tersebut perlu penegak hukum terhadap kegiatan manusia yang memiliki dampak terhadap kerusakan lingkungan hidup sesuai dengan jenis pelanggaran yang telah ditetapkan.

Page 7 of 64 | Total Record : 633