Claim Missing Document
Check
Articles

THE DECONSTRUCTION OF THE MASS CULTURAL INDUSTRIAL POWER RELATION OF THE WOODEN STATUE ARTISANS AT KEMENUH VILLAGE, SUKAWATI, BALI Mardika, I Made
E-Journal of Cultural Studies Volume 10, Number 3, August 2017
Publisher : Cultural Studies Doctorate Program, Postgraduate Program of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.155 KB) | DOI: 10.24843/cs.2017.v10.i03.p04

Abstract

It is important to deconstruct the development of the mass wooden statue industry at Kemenuh, Sukawati District, Gianyar, Bali. The reason is that the artisans are presumed to have been marginalized by capital strength. This present study is intended to answer the ideology which has inspired the mass wooden statue industry, the power practice performed by the agencies, and its implication on the life of the artisans. The study used the approach of cultural studies and the critical social theories. The data were analyzed qualitatively. The result of the study shows that, first, the ideology which has inspired the artisans to develop the mass wooden statue industry is the ‘great’ capitalistic ideology which is mixed with the Balinese ideology, causing the synthetic and pluralistic ideology to be formed. Second, the hierarchical and symmetrical power practice performed by the agencies. The capital owners, distributors and consumers dominate and exploit the artisans. Third, the mass cultural industry has economically, socially and culturally affected the life of the artisans. However, their economy has been better but they are getting marginalized; their gender equality is getting stronger but their traditional social structure is getting instable; and their art creativity has improved but the connotation of their mass culture is getting lower.
EKSISTENSI HUKUM ADAT DALAM MENJAGA KEHARMONISAN MASYARAKAT BALI (Penerapan Pararem di Desa Pakraman Jumpai, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung) Mardika, I Made
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol 1, No 2 (2013): Mei
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v1i2.406

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang melatarbelakangi Warga Desa Pakraman Jumpai membuat pararem, (2) Untuk mengetahui efektivitas penerapan pararem di Desa Pakraman Jumpai.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbentuk deskriptif. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Pakraman Jumpai. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dalam menentukan subyek penelitian. Adapun subyek dalam penelitian ini adalah Prajuru Desa Pakraman Jumpai dan Masyarakat Desa Pakraman Jumpai. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, metode pencatatan dokumen, metode wawancara sebagai metode yang utama, dan metode kuisioner sebagai data komplementer, sedangkan dalam mengolah data dilakukan secara kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan, (1) Warga Desa Pakraman Jumpai membuat pararem dilatarbelakangi karena sering terjadi tindakan kekerasan, keonaran, perkelahian, serta konflik yang dilakukan oleh warga Desa Pakraman Jumpai. Tidak jarang konflik yang terjadi meluas menjadi konflik adat yang melibatkan desa pakraman dan atau banjar adat. Sebagai rekasi dari peristiwa tersebut, maka dalam Paruman/Rapat Desa Pakraman Jumpai pada tanggal 2 November 2007 disepakati dan disahkan pararem yang mengatur masalah kekerasan, perkelahian, konflik dan perilaku menyimpang lainnya. (2) Penerapan pararem di Desa Pakraman Jumpai sudah efektif. Hal ini dapat dilihat dari substansi pararem yang sudah disesuaikan dengan perubahan masyarakat saat ini, sehingga dapat menyentuh kehidupan masyarakat. Dilihat dari penegakkannya, para Prajuru Desa Pakraman Jumpai yang dibantu Pecalang sudah menjalankannya dengan bijak dan adil. Kemudian dilihat dari dukungan masyarakatnya, kesedaran akan pararem ini telah dijalankan dan dipatuhi dengan baik oleh masyarakat. Indikasi yang membuktikannya adalah intensitas kekerasan, perkelahian, konflik dan perilaku menyimpang lainnya yang signifikan berkurang.Kata Kunci : Konflik, Efektivitas Pararem
EKSISTENSI HUKUM ADAT DALAM MENJAGA KEHARMONISAN MASYARAKAT BALI (Penerapan Pararem di Desa Pakraman Jumpai, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung) I Made Mardika
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 1 No. 2 (2013): Mei
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v1i2.406

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang melatarbelakangi Warga Desa Pakraman Jumpai membuat pararem, (2) Untuk mengetahui efektivitas penerapan pararem di Desa Pakraman Jumpai.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbentuk deskriptif. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Pakraman Jumpai. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dalam menentukan subyek penelitian. Adapun subyek dalam penelitian ini adalah Prajuru Desa Pakraman Jumpai dan Masyarakat Desa Pakraman Jumpai. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, metode pencatatan dokumen, metode wawancara sebagai metode yang utama, dan metode kuisioner sebagai data komplementer, sedangkan dalam mengolah data dilakukan secara kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan, (1) Warga Desa Pakraman Jumpai membuat pararem dilatarbelakangi karena sering terjadi tindakan kekerasan, keonaran, perkelahian, serta konflik yang dilakukan oleh warga Desa Pakraman Jumpai. Tidak jarang konflik yang terjadi meluas menjadi konflik adat yang melibatkan desa pakraman dan atau banjar adat. Sebagai rekasi dari peristiwa tersebut, maka dalam Paruman/Rapat Desa Pakraman Jumpai pada tanggal 2 November 2007 disepakati dan disahkan pararem yang mengatur masalah kekerasan, perkelahian, konflik dan perilaku menyimpang lainnya. (2) Penerapan pararem di Desa Pakraman Jumpai sudah efektif. Hal ini dapat dilihat dari substansi pararem yang sudah disesuaikan dengan perubahan masyarakat saat ini, sehingga dapat menyentuh kehidupan masyarakat. Dilihat dari penegakkannya, para Prajuru Desa Pakraman Jumpai yang dibantu Pecalang sudah menjalankannya dengan bijak dan adil. Kemudian dilihat dari dukungan masyarakatnya, kesedaran akan pararem ini telah dijalankan dan dipatuhi dengan baik oleh masyarakat. Indikasi yang membuktikannya adalah intensitas kekerasan, perkelahian, konflik dan perilaku menyimpang lainnya yang signifikan berkurang.Kata Kunci : Konflik, Efektivitas Pararem
Warisan Budaya sebagai Ikon Pariwisata dalam Rangka Kalimatan Timur Menjadi Ibukota Negara I Made Mardika
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 2-2 (2019)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi warisan budaya sebagai ikon pariwisata di Kalimantan Timur. Secara khusus menganalisis tentang potensi warisan budaya yang dapat dijadikan alternatif simbol pariwisata Kaltim dan strategi pengembangannya. Kajian ini searah dengan kebijakan pemerintah di bidang pariwisata, terutama terkait dengan UU RI No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, dan UU RI No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Penelitian ini dilakukan di Kalimantan Timur sebagai calon ibu kota Negara, dengan menggunakan metode Field Research yakni terjun langsung untuk meninjau lokasi dilapangan untuk mencermati bentuk bentuk warisan budaya di Kalimantan Timur dan menentukan Strateginya sesuai dengan kondisi di lapangan. Hasil Analisis menemukan Ada tujuh Warisan budaya yang berpeluang menjadi alternative icon pariwisata Kalimantan Timur, yaitu: situs lukisan gua prasejarah, prasasti yupa Kutai, Desa Budaya Pampang, Museum Samarinda, Kampung Tenun Samarinda, Masjid Baitul Muttaqin, Masjid Shirotal Mustaqim. Kedua,untuk dapat dijadikan icon pariwisata Kalimantan Timur maka warisan budaya tersebut perlu dikembangkan secara terintegrasi. Strategi yang penting untuk dikembangkan adalah searah dengan konsep manajemen sumberdaya budaya, yaitu pemanfaatan warisa budaya demi kelestariannya.
Polıcy For Governance Of Balı Fermented And Dıstılled Beverages As An Effort To Improve The Welfare Of Farmers Of Karangasem Dıstrıct: (Study of Bali Governor Regulation No. 1 of 2020 in increasing the production of Balinese arak in Sibetan Village, Uangdem District) Toto Noerasto; A.A. Ayu Dewi Larantika; I Made Mardika; I Made Sanjaya; Ni Putu Dinda Kalpika Putri; Ni Luh Sephia Adnyani Putri
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 4 No. 01 (2024): Pebruary, Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Science ( AJ
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The issuance of Bali Governor's Regulation Number 1 of 2020 concerning the Management of Balinese Fermented and/or Distilled Drinks, which aims to build production standardization to ensure the safety and legality of fermented and/or distilled beverage products, especially Balinese, while preserving the community's ritualistic traditions related to the use of arak. in religious activities. This research aims to analyze the policy of Bali Gubernatorial Regulation No. 1 of 2020 and reviewing the effectiveness of implementation regarding efforts to improve the welfare of farming communities. This descriptive qualitative research uses an ethnographic approach, which examines a group of farming communities with distinctive ethnicities in Sibetan Village, Bebandem District, Karanganyar Regency. Data was collected through interviews and discussions as well as literacy, which was then carried out interpretive analysis. The research results show that Bali Governor Regulation no. 1 of 2020 is running effectively, as evidenced by the community's willingness to utilize and process agricultural products into Balinese arak products of good quality and become export commodities, followed by fulfilling administrative requirements in accordance with laws and regulations regarding alcoholic beverages. The existence of this regulation has been proven to be able to improve the economic welfare of the community, which is also proven by the establishment of cooperatives and collaboration with several companies and turning traditional Balinese wine into an export commodity.
Local Wisdom-Based Ecotourism Development Model In Sambangan Village, Sukasada District, Buleleng Regency Bali province Toto Noerasto; Ayu Dewi Larantika; I Made Mardika; Ni Luh Sephia Adnyani Putri
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 4 No. 04 (2024): Upcoming issues, Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Scien
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the model of ecotourism development based on local wisdom in Sambangan Village, Sukasada District, Buleleng Regency, Bali Province, and identify the role of local wisdom in managing ecotourism. Sambangan Village holds significant ecotourism potential with its natural attractions like Aling-Aling Waterfall, as well as unique local culture and arts. However, the development of ecotourism in this village has been hindered by the lack of appropriate strategies and limited community involvement in maximizing its potential. This research employed a qualitative method with data collection techniques including observation, interviews, documentation, and Focus Group Discussions (FGD). Data analysis followed the stages outlined by Miles, Huberman, and Saldana, which involved data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing and verification. The findings showed that the ecotourism development model in Sambangan Village involved the integration of natural, cultural, and artificial tourism. Local wisdom, such as the spirit of community cooperation (gotong royong) and cultural preservation, plays a vital role in ecotourism management. The community actively participates through institutions like LPHD and POKDARWIS, engaging in sustainable tourism management. Furthermore, infrastructure improvements and accessibility enhancements were needed to support further development. Diversification of tourist attractions and improving community skills through training programs were also recommended to increase the village's appeal as a leading ecotourism destination.
Pelatihan dan Pendampingan Tata Kelola Pengembangan Desa Wisata Kepada Perangkat Desa dan Pokdarwis Wisnumurti, Anak Agung Gede Oka; Antarini, Lilik; Mardika, I Made; Dewi, I Gusti Agung Ayu Yuliartika
International Journal of Community Service Learning Vol. 6 No. 3 (2022): August 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ijcsl.v6i3.51586

Abstract

Desa Cau Belayu dinobatkan menjadi desa wisata pada 19 Agustus 2020 berdasarkan pada Keputusan Bupati Tabanan Nomor 180/1286/03/HK&HAM/2020 tentang Penetapan Desa Cau Belayu sebagai Desa Wisata. Akan tetapi, pengelolaan wisata belum berkembang masih monoton dan minimnya partisipasi masyarkat lokal dalam menunjang kegiatan wisata di Desa Cau Belayu. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan melaksanakan pelatihan strategi pengembangan desa wisata, pelatihan pemberdayaan Pokdarwis, pelatihan pengelolaan website dalam menunjang pemasaran wisata, dan terakhir menyusun buku pengelolaan website desa wisata. Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan metode observasi dan wawancara kepada mitra. Kegiatan ini menyasar masyarakat yang berjumlah 20 orang yang terdiri dari Pokdarwis, sekaa truna truni, dan perangkat desa cau belayu. Kegiatan ini menghasilkan luaran berupa fokus pengembangan desa wisata, roadmap pengembangan desa wisata, sistem perencanaan dan pengembangan desa wisata, sistem kerja kolaboratif antar Pokdarwis, perangkat desa, dan masyarakat. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan dapat mengatasi segala permasalahan yang ada di Desa Wisata Cau Belayu.
Legal Protection and Empowerment of Songket/Endek Fabric Weavers in Gelgel Village Tourism Area, Klungkung Styawati, Ni Komang Arini; Mahendrawati, Ni Luh Made; Laksmi, Anak Agung Rai Sita; Wijaya, I Ketut Kasta Arya; Rideng, I Wayan; Widiati, Ida Ayu Putu; Mardika, I Made; Ekayani, Ni Nengah Seri; Wesna, Putu Ayu Sriasih; Utama, I Wayan Kartika Jaya; Muliana, I Wayan; Susanthi, I Gusti A.A. Dian; I Gusti Putu Ghosadhira Vedhastama; Erawati, Ni Putu Tina; Bongon, Miel S.; Villafuerte, Marcelo Roland C.; Vibandor, Demosthenes B. Vibandor; Sentelices, Leovigildo C.; Raymundo, Carlos M.
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29165/ajarcde.v9i1.523

Abstract

Gelgel Village is one of the villages in Bali known for producing Balinese woven fabrics, namely songket and endek fabrics. Songket/endek fabric is one of the characteristics of Balinese cultural products. In order to preserve songket weaving, legal protection is necessary. Moving on from this matter, there are several problems experienced by participants in this program, namely: 1) Lack of interest of the younger generation in working as weavers, 2) Lack of compatibility of work results required by employers with weavers, and 3) Legal protection for workers and employers of songket/short cloth weaving in Gelgel Village, Klungkung. The activities carried out in this program were to provide counseling on the importance of preserving songket weaving as a cultural characteristic. These activities increased the younger generation's interest in weavers by counseling them on preserving songket weaving as a cultural characteristic. In addition, a good working relationship is needed in the songket/short woven fabric production process so that the weaving results are by the expectations of employers and consumers. Legal protection for weaving workers is to provide their rights as workers by applicable laws and regulations. Entrepreneurs are also encouraged to get legal protection by making Intellectual Property Rights (IPR) in the form of Copyright.
Development and Community Empowerment in Local Wisdom Based Ecotourism in Sambangan Village, Sukasada District, Buleleng Regency, Bali Province Toto Noerasto; Anak Agung Ayu Dewi Larantika; I Made Mardika; I Gusti Agung Istri Anindyagani
International Journal of Education, Vocational and Social Science Vol. 4 No. 04 (2025): September - November, International Journal of Education, Vocational and Socia
Publisher : Cita konsultindo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63922/ijevss.v4i04.2474

Abstract

This study aimed to analyze the development and empowerment of the community in managing ecotourism based on local wisdom in Sambangan Village, Sukasada District, Buleleng Regency, Bali. Initial observations indicated that the village's tourism potential, including ten waterfalls, cultural attractions, and man-made tourism facilities, had not been optimally managed due to limited development strategies and human resource capacity. This study employed a qualitative method, collecting data through in-depth interviews, observations, and document analysis. The results showed that ecotourism development based on local wisdom successfully utilized natural, cultural, and artificial tourism potentials to attract visitors and improve community welfare. Local wisdom, reflected in the spirit of mutual cooperation, agricultural traditions, arts, and culture, strengthened tourism governance, with community members actively participating in village deliberations, training, homestay management, digital marketing, and preservation of traditional arts and handicrafts. Institutions such as LPHD and POKDARWIS served as coordination platforms to maintain environmental sustainability and ensure responsible tourism. The study produced a model of community empowerment that supported local economic improvement while preserving cultural values and environmental sustainability. The findings emphasized the importance of community collaboration and the utilization of local wisdom as a strategy for inclusive, sustainable, and adaptive ecotourism development.
Penerapan Tema Ekologi pada Perencanaan dan Perancangan Pusat Konservasi Penyu di Pulau Serangan Denpasar: Bahasa indonesia Kadek Dwi Yoga Mahendra; Agus Kurniawan; I Made Mardika; Gde Bagus Andhika Wicaksana; Cokorda Istri Arina Cipta Utari
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.12.1.9799.111-118

Abstract

Turtles, endangered marine reptiles, are internationally protected and regulated by national laws in Indonesia. Despite conservation efforts, research indicates a significant decline in turtle populations due to environmentally unfriendly exploitation. Bali has the potential to serve as a turtle nesting site, but existing conservation facilities are not optimal. The facilities in Bali lack attention to the needs of turtles, and limited infrastructure hampers the development of breeding grounds, especially with a shortage of research facilities. This phenomenon is feared to jeopardize the sustainability of turtle populations and damage their habitats. As a solution, a facility is proposed that integrates turtle conservation and educational tourism on Serangan Island, Bali. The design is not only recreational and educational but also meets technical conservation requirements. Serangan Island is chosen for its safety for turtles, being far from settlements, and strategically located for turtle migration. This research is a qualitative descriptive research with data collection methods in the form of observation and literature study. The Turtle Conservation Center on Serangan Island is planned with the basic concept of sustainable architecture, integrating environmental science and architecture to achieve comprehensive sustainability and the theme of Ecological Architecture, maintaining the balance of natural and artificial environments. Thus, the presence of the Conservation Center is expected to not harm the environment and increase public awareness of the importance of turtle conservation.
Co-Authors A. A. Gde Raka A. A. Gde Raka A. A. Gde Raka A.A. Ayu Dewi Larantika A.A. Gede Raka A.A. I Mas Trisnamayuni A.A.Rai Sita Laksmi Agus Kurniawan Agus Kurniawan Agus Kurniawan Alma Cita Calimbo Alma Cita Calimbo Anak Agung Dian Susanti Anak Agung Gde Rai Budiasa Anak Agung Gde Rai Budiasa Anak Agung Gede Oka Wisnumurti Anak Agung Inten Mayuni Antarini, Lilik Bongon, Miel S. Carlos M. Raymundo Demosthenes B. Vibandor Dewa Gede Sudika Mangku Dewi, A.A Sagung Laksmi Dewi, I Gusti Agung Ayu Yuliartika Erawati, Ni Putu Tina Ghea Harta Prayona Ghea Harta Prayona I Gusti Agung Istri Anindyagani I Gusti Ayu Agung Dian Susanthi I Gusti Putu Ghosadhira Vedhastama I Gusti Putu Ghosadhira Vedhastama I Kadek Dede Junaedy I Ketut Irianto I Ketut Kasta Arya Wijaya I Ketut Putra Erawan I Ketut Subagia I Ketut Subagia I Made Sanjaya I Made Suniasta Amertha I Made Suwitra I Made Yudhiantara I Nyoman Kardana I Nyoman Muliana I Nyoman Putu Budiartha I Nyoman Sumardika I Wayan Budiarta I Wayan Dharmawan I Wayan Kartika Jaya Utama I Wayan Landrawan I Wayan Muliawan I Wayan Rideng I Wayan Sudana I Wayan Sudana I Wayan Wesna Astara I Wayan Wesna Astara (Scopus ID: 57211467012) Ida Ayu Ulan Antika Putri Ida Ayu Ulan Antika Putri Ida Bagus Astika Pidada Ida Bagus Udayana Putra Intan Saputra Rini, I Gusti Ayu Johannes Ibrahim Kosasih Kadek Dwi Yoga Mahendra Kadek Silvia Melinda Dewi Kadek Silvia Melinda Dewi Kadek Silvia Melinda Dewi Kadek Yogi Pratama Kadek Yogi Pratama Kadek Yogi Pratama Kiki Nurwahyuni Kim Dongil Leoneto Madeira Martins Leonito Reiro Leonito Reiro Leovegildo V. Santelices Mahayana, I Made Astu Marcelo Roland C. Villafuerte Mateus Ximenes Mateus Ximenes Miel S. Bongon Muliana, I Wayan Muliawan, Made Sani Damayanthi Ni Gusti Ayu Made Marlin Rintha Putri Ni Ketut Sukiani Ni Komang Arini Satyawati Ni Komang Arini Setyawati Ni Luh Made Mahendrawati Ni Luh Pegy Wilantari Ni Luh Putri Jelitayanti Ni Luh Putri Jelitayanti Ni Luh Sephia Adnyani Putri Ni Luh Sephia Adnyani Putri Ni Luh Sephia Adnyani Putri Ni Made Ayu Suardani Singapurwa Ni Made Puspasutari Ujianti Ni Made Puspasutari Ujianti Ni Made Suwendri Ni Nengah Seri Ekayani Ni Putu Dinda Kalpika Putri Ni Putu Laksmi Krisnina Maharani Ni Putu Meira Purnama Yanti Ni Wayan Intan Pradnyawati Ni Wayan Kertiasih Ni Wayan SITIARI Niken Ardila Rehiraky Opirman Waruwu PRABHADIKA, I PUTU YUDI Putu Ayu Sriasih Wesna Putu Ngurah Suyatna Yasa Putu Suryani . Ramayanti Sitanggang Raymundo, Carlos M. Romeo M. Sumayo Romeo O. Sumayo Senastri, Ni Made Jaya Sentelices, Leovigildo C. Sri Indriani Duha Styawati, Ni Komang Arini Susanthi, I Gusti A.A. Dian Suwendri, Ni Made Toto Noerasto Trisnamayuni , A. A. Istri Mas Utari, Cokorda Istri Arina Cipta Vibandor, Demosthenes B. Vibandor Villafuerte, Marcelo Roland C. Wicaksana, Gde Bagus Andhika Widiati, Ida Ayu Putu