cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pertanian Agros
Published by Universitas Janabadra
ISSN : 14110172     EISSN : 25281488     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Pertanian Agros (JPA) is published by Faculty of Agriculture, Janabadra University and the Agribusiness Association of Indonesia (AAI). It available online supported by Directorate General of Higher Education - Ministry of Research, Technology, and Higher Education- Republic of Indonesia JPA is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research from all area of agriculture science fields such as crops, horticulture, fisheries, animal husbandary, and forestry.
Arjuna Subject : -
Articles 1,386 Documents
AFRICAN SWINE FEVER (ASF) : ETIOLOGI, PATOGENESIS DAN GEJALA KLINIS, TRANSMISI, PENCEGAHAN SERTA PENGENDALIAN PADA TERNAK BABI Sukoco, Hendro; Salmin, Salmin; Wahyuni, Sri; Utami, Sri; Cahyani, Annisa Putri; Zulfikhar, Rosa; Akbarrizki, Muzizat; Siswanto, Ferbian Milas
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3822

Abstract

African Swine Fever (ASF) is a disease of pigs caused by African Swine Fever virus of the genus Asfvirus and family Asfarviridae. ASF virus has a limited host range and is only capable of affecting pigs. The disease affects all breeds and ages of pigs, although domestic pigs are the most susceptible. The disease is not zoonotic but causes economic losses on pig farms. ASF disease has various forms, ranging from per acute, acute, sub acute and chronic. Pigs infected with ASF will show common clinical symptoms such as high fever, cyanosis, haemorrhage, anorexia and ataxia. The spread of the disease is very rapid with a high mortality rate of more than 90%. The disease can spread through direct, indirect and vector contact. Prevention and control measures for ASF include strict biosecurity, reducing direct contact with contaminated feed or equipment such as feeding contaminated feed, quarantine, restricting pig traffic, depopulation of pigs sick with ASF, vector control, area closure, disposal and decontamination. Keywords:. Afrikan Swine Fever, Pig, Virus INTISARIAfrican Swine Fever (ASF) merupakan salah satu penyakit pada ternak babi yang disebabkan oleh virus African Swine Fever dari genus Asfvirus dan family Asfarviridae. Virus ASF memiliki jangkauan inang yang terbatas dan hanya mampu menyerang hewan babi. Virus ini menyerang semua ras dan umur babi walaupun babi peliharaan (domestik) menjadi jenis yang paling peka terhadap virus tersebut. Penyakit ini tidak bersifat zoonosis namun memberikan kerugian ekonomi bagi peternakan babi. Penyakit ASF memiliki bentuk penyakit yang bervariasi, mulai dari per akut, akut, sub akut dan kronis. Babi yang terinfeksi ASF akan menunjukkan gejala klinis umum seperti demam tinggi, sianosis, hemoragi, anoreksia dan ataksia. Penyebaran penyakit ini sangat cepat dengan tingkat mortalitas yang tinggi sampai mencapai 90% lebih. Penyakit ini dapat meyebar melalui kontak langsung, tidak langsung dan vektor. Untuk tindakan pencegahan dan pengendalian penyakit ASF dapat dilakukan dengan cara biosekuriti yang ketat, mengurangi kontak langsung dengan pakan atau perlatan yang terkontaminasi seperti swill feeding, karantina, membatasi lalu lintas babi, depopulasi babi yang sakit ASF, pengendalian vektor, penutupan daerah, disposal dan dekontaminasi.Kata Kunci :  African Swine Fever, Babi, Virus
THE IMPACT OF CONVERSION OF AGRICULTURAL LAND ON FARMERS' INCOME IN SLEMAN DISTRICT Anggraeni, Rini; Kadarso, Kadarso; Arumndalu, Hanna Syahrina
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3810

Abstract

This research was carried out with the aim of knowing: (1) the impact of the transfer of agricultural land functions on the income of farmers in the Sleman District. and (2) the effect of transfer of the functions of farmland on the value of the production of rice that is lost in the Sleman District. The basic method used in this research is the method of quantitative descriptive analysis. The location of the study is determined by non-probability sampling. The non-probability sampling method is Snowball Sampling. with 15 people moving land and 15 people not moving land. The results of the research showed that: (1) Significant income difference to the impact of the presence of agricultural land function. Farmers income before the land function has an average income of Rp.581.212/UT. or Rp.11.779.477/Ha and after the existence of overload of land function of Rp.4.663.149/UT or Rp.48.190.505/Ha with a difference in income of Rp.4.081.937/year or Rp.340.161/month. (2) The value of grain production that is lost each year increases as a result of the transfer of land functions of Rp.7.509.637.270,00/Kg.Keywords: transfer of agricultural land functions, farmers’ income, rice plantINTISARIPenelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) dampak alih fungsi lahan pertanian terhadap pendapatan petani di Kabupaten Sleman. dan (2) dampak alih fungsi lahan pertanian terhadap nilai produksi padi sawah yang hilang di Kabupaten Sleman. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis desktiptif kuantitatif. Lokasi penelitian ditentukan dengan metode sampling non-probability. Penentuan responden menggunakan metode nonprobability sampling yaitu Snowball Sampling dengan jumlah responden 15 orang mengalihkan lahan dan 15 orang tidak mengalihkan lahan. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Perbedaan pendapatan yang signifikan terhadap dampak adanya alih fungsi lahan pertanian. Pendapatan petani sebelum alih fungsi lahan memiliki pendapatan rata-rata sebesar Rp.581.212/UT atau Rp. 11.779.477/Ha dan setelah adanya alih fungsi lahan sebesar Rp.4.663.149/UT atau sebesar Rp.48.190.505/Ha dengan selisih pendapatan sebesar Rp.4.081.937/Tahun atau sebesar Rp.340.161/Bulan. (2) Nilai produksi padi yang hilang setiap tahun mengalami peningkatan akibat adanya alih fungsi lahan sebesar Rp.7.509.637.270,00/Kg.Kata Kunci: Alih Fungsi Lahan Pertanian, Pendapatan Petani, Padi
STRATEGI PENINGKATAN KAPASITAS SUMBER DAYA MANUSIA PETANI MUDA WONOSOBO DALAM PEMASARAN HASIL PERTANIAN Nur Saudah Al Arifa Dewi
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Edisi APRIL
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.4158

Abstract

Most of the residents of Wonosobo Regency are people in rural areas who earn their income as farmers. During the pandemic, one of the most significant obstacles faced by young farmers is how to market their agricultural products. This research is intended to identify as well as analyze the strategies needed to increase the human resource capacity of the young farmers in Wonosobo Regency in marketing their agricultural products. This research is a qualitative study using descriptive analysis methods. The data were collected through surveys, interviews, and literature studies. The results showed that those farmers have not made the best use of information and communication technology for marketing purposes. The use of information and communication technology has not been properly utilized for agricultural business development due to the marketing dependency on middlemen, the factor of ignorance, and the lack of ICT skills. Some strategies are needed including assistance, utilization of information technology for marketing, and opening access to training and mentoring programs. Keywords: strategy; human resource; young farmer’s;marketing; agriculture INTISARIPenduduk Kabupaten Wonosobo sebagian besar merupakan masyarakat wilayah perdesaan yang berpenghasilan sebagai petani. Pada masa pandemi, salah satu kendala yang sangat dirasakan oleh petani muda adalah terkait dengan pemasaran hasil pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis strategi yang dibutuhkan untuk peningkatan kapasitas SDM petani muda di Kabupaten Wonosobo dalam pemasaran hasil pertanian. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan motode analisi deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik survey, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akses dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi oleh petani muda di Kabupaten Wonosobo sebagian besar belum dimanfaatkan  untuk keperluan pemasaran hasil pertanian. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi belum dimanfaatkan secara baik untuk pengembangan usaha pertanian dikarenakan dalam pemasaran masih bergantung pada tengkulak, faktor ketidaktahuan serta minimnya keterampilan dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa strategi yang dibutuhkan diantaranya adalah melalui pendampingan, pemanfaatan teknologi informasi untuk pemasaran serta membuka akses pelatihan dan pendampingan. Kata kunci: strategi; sumberdaya manusia; petani muda; pemasaran; pertanian
EFEKTIFITAS AIR KELAPA MUDA DAN BIOURIN SEBAGAI ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP VIABILITAS BENIH INDIGOFERA (Indigofera ollingeriana) PADA MEDIA TANAM YANG BERBEDA Ali, Najmah; Dahniar, Dahniar
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3851

Abstract

Indigofera (Indigofera zollingeriana) is a tree legume type of forage that has good nutritional content for ruminants and can be harvested periodically without having to replant it. The aim of the research was to see the effectiveness of soaking seeds in young coconut water and biourine in the planting medium of compost, cocopeat and a combination of compost + cocopeat on the ability to germinate, number of leaves and height of indigofera plants (Indigofera zollingeriana). The materials used are certified indigofera seeds from the Jonggol Livestock Research and Education Unit, Bogor Agricultural Institute, young coconut water, compost, biourine, cocopeat and water. This research used a Completely Randomized Factorial Design. Factor A is coconut water and biourine, factor B is compost, cocopeat and compost+cocopeat planting media. The parameters observed were germination percentage, number of leaves and plant height. The results showed that soaking seeds with young coconut water and biourine had an effect on germination. Compost, cocopeat and compost + cocopeat planting media have an effect on plant height. There is an interaction between soaking seeds using young coconut water and biourine in compost, cocopeat, compost+cocopeat planting media on the percentage of seed germination. Keywords:  coconut water, goat biourine, cocopeat, viability, germination. INTISARIIndigofera (Indigofera zollingeriana) adalah merupakan  hijauan pakan ternak berjenis leguminosa pohon yang memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik untuk ternak ruminansia dan dapat dipanen secara berkala tanpa harus menanamnya kembali.   Tujuan penelitian adalah untuk melihat efektifitas perendaman benih dengan air kelapa muda dan biourin  pada  media tanam kompos, cocopeat dan kombinasi kompos + cocopeat terhadap kemampuan berkecambah, jumlah daun dan tinggi tanaman indigofera (Indigofera zollingeriana). Materi yang digunakan adalah  benih indigofera tersertifikasi dari Unit Penelitian dan Pendidikan Peternakan Jonggol Institut Pertanian Bogor, air kelapa muda, kompos, biourin, cocopeat dan air.  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial. Faktor A adalah air kelapa dan biourin, faktor B adalah media tanam kompos, cocopeat dan kompos+cocopeat.  Parameter yang diamati adalah persentase perkecambahan, jumlah daun dan tinggi tanaman.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman benih dengan air kelapa muda dan biourin berpengaruh terhadap perkecambahan. Media tanam kompos, cocopeat dan kompos + cocopeat  berpengaruh terhadap tinggi tanaman. Terdapat interaksi antara perendaman benih menggunakan air kelapa muda dan biourin  pada media tanam kompos, cocopeat,  kompos+cocopeat  terhadap persentase perkecambahan benih.  Kata-kata kunci: air kelapa muda, biourin kambing, cocopeat, viabilitas dan perkecambahan.
ANALISIS PENERAPAN PREMI DAN DENDA PANEN TANDAN BUAH SEGAR KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PT. XYZ Saragih, Dina Arfianti; Aznur, Tifany Zia; Pulungan, Delyana Rahmawany; Purjianto, Purjianto; Saputra, Ewin
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3918

Abstract

This study aims to determine the application of premiums and fines for harvesting fresh fruit marks of oil palm (Elaeis guineensis Jacq). This research was conducted in PT. XYZ. The time of the research was conducted from December 2022 to January 2023. This research was carried out using a descriptive research method, namely taking secondary data as well as primary data such as observations of harvest errors. Based on the results of this study, the system for giving premiums to harvesters is premium on a wholesale basis which consists of progressive premiums, namely P1 at a rate of IDR 42 per kg, P2 IDR 47 per kg, P3 IDR 52 per kg. Sunday harvest premium at a rate of Rp 84 per Kg and Christmas Day Premium at Rp126 per Kg. Loose fruit premium on weekdays and Sunday loose premium, loose leaf premium is divided into 3 with criteria < 5% IDR100 per Kg, > 5% -7% IDR150 per kg, > 7% IDR 200 per kg. The highest premium is in P2 with an average percentage of 56%. The harvest error that often occurs in PT. XYZ is that the loose fruit is not collected cleanly with a total of 6,434 seeds at a rate of IDR 50/brondolan, fronds are not prepared with a total of 380 fronds at a rate of IDR 1000 / frond, the stalk is not in the shape of the letter V with a total of 675 at a rate of IDR 500/TBS, unidentified FFB with a total of 410 at a rate of IDR 500/TBS. The biggest percentage of errors is in the first rotation with a total of 27%. Keywords:  Premiums, Fines, Harvest, Palm OilINTISARIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan premi dan denda panen tanda buah segar kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq). Penelitian ini dilaksanakan di PT. XYZ. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Desember 2022 sampai Januari 2023.  Penelitian ini dilaksanakan dengan metode penelitian deskriptif yaitu pengambilan data sekunder juga data primer seperti hasil pengamatan kesalahan panen. Berdasarkan hasil penelitian ini, sistem pemberian premi kepada pemanen adalah premi lebih basis borong yang terdiri dari premi progresif yaitu P1 dengan tarif Rp 42 per kg, P2 Rp 47 per kg, P3 Rp 52 per kg. Premi panen hari minggu dengan tarif Rp 84 per kg dan Premi hari Natal dengan tarif Rp 126 per kg. Premi brondolan hari biasa dan premi brondolan hari minggu, premi brondolan terbagi 3 dengan kriteria < 5% sebesar Rp100 per kg, > 5% -7% sebesar Rp150 per kg, > 7% sebesar Rp200 per kg. Premi tertinggi terdapat pada P2 dengan rata-rata persentase senilai 56%. Kesalahan panen yang sering terjadi di PT. XYZ adalah brondolan tidak dikutip bersih dengan total 6.434 butir dengan tarif Rp 50/brondolan, pelepah tidak disusun dengan total 380 pelepah dengan tarif Rp1000/pelepah, pelepah sengkleh/kering tidak diturunkan dengan total 290 pelepah dengan tarif Rp 1000/pelepah, tangkai tidak berbentuk huruf V dengan total 675 dengan tarif Rp 500/TBS, TBS tidak diberi identitas dengan total 410 dengan tarif Rp 500/TBS. Persentase kesalahan terbesar terdapat pada rotasi pertama dengan total 27%. Kata kunci : Premi, Denda, Panen, Sawit. 
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BROKOLI (Brassica oleracea L) TERHADAP PUPUK KOTORAN SAPI DAN PUPUK NPK Siregar, Irmalia Fitri; Nasution, Nurul Mawaddah
Agros Journal of Agriculture Science Vol 24, No 1 (2022): edisi Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v24i1.3942

Abstract

The purpose of this study was to find out: How many doses of cow manure and NPK fertilizer are right for the growth and yield of broccoli (Brassica oleracea L) and what is the right dose of interaction for the growth and yield of broccoli (Brassica oleracea L). This study used a randomized block design (RBD). The factorial consisted of 2 factors studied, namely: the factor of giving cow manure (S) which was given with 4 levels namely S0 : 0 (control), S1 : 100 g/plant, S2 : 150 g/plant, S3 : 200 g/plant plants and the application of NPK (N) fertilizer given with 3 levels, namely N0: 0 (control), N1: 100 ml/plant, N2: 200 g/plant. There were 12 treatment combinations repeated 3 times resulting in 36 experimental plots, the number of plants per plot was 4 plants with 2 sample plants, the total number of plants was 144. The parameters observed were plant height, number of leaves, flower weight per sample and flower weight per plot. The results showed that the application of cow dung fertilizer had no significant effect on all observed parameters and the application of NPK fertilizer had a significant effect on plant height at 7 WAP, number of leaves aged 3 and 7 WAP, sample bubonic flower weight and flower weight per plot, but had no significant effect on plant height at 3 and 5 weeks old and number of leaves at 5 weeks old and the interaction of the two treatments showed no significant effect on all observed parameters. Keywords: Broccoli plants, cow manure, NPK fertilizer INTISARITujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : Berapa dosis pupuk kotoran sapi dan pupuk NPK yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil tanaman brokoli (Brassica oleracea L)dan berapa dosis interaksi yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil tanaman brokoli (Brassica oleracea L). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktorial terdiri dari 2 faktor yang diteliti, yaitu: faktor pemberian pupuk kotoran sapi (S) yang diberikan dengan 4 taraf yaitu S0  : 0 (kontrol), S1 : 100 g/tanaman, S2 : 150 g/tanaman, S3 : 200 g/tanaman dan pemberian pupuk NPK (N) yang diberikan dengan 3 taraf yaitu  N0 : 0 (kontrol), N1 : 100 ml/tanaman, N2 : 200 g/tanaman. Terdapat 12 kombinasi perlakuan yang diulang 3 kali menghasilkan 36 plot percobaan, jumlah tanaman per plot 4 tanaman dengan 2 tanaman sampel, jumlah tanaman keseluruhan 144. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, berat bunga per sampel dan berat bunga per plot. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk kotoran sapi tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati dan pemberian pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 7 mst, jumlah daun umur 3 dan 7 mst, berat bunga pes sampel dan berat bunga per plot, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 3 dan 5  mst dan  jumlah daun umur 5 mst dan interaksi dari kedua perlakuan menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap semua patrameter yang diamati. Kata kunci : Tanaman brokoli, pupuk kotoran sapi, pupuk NPK
PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG MANIS DENGAN PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS DAN JENIS BAHAN MINERAL PADA TANAH GAMBUT Radian, Radian; Abdurrahman, Tatang
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3939

Abstract

The reseacrh aims to determine the best dosage and type of mineral materials to increase the growth and yield of sweet corn on peat soil was carried out in Rasau Jaya District. This reseach used a Factorial Completely Randomized Design (CRD) method consisting of 2 factor and 3 replications. The first factor, namely various dosage (D), consists of: d1= 10 ton ha-1, d2= 20 ton ha-1, d3= 30 ton ha-1. The second factor, namely the type of mineral subtance (M), consists of: m1 = sea mud, m2 = aluvial soil, m3 = wood ash. The results of the study showed that there was no interaction between of various dosage and type of mineral ingredients on all observed variables. Mineral subtance dosage of 30 ton ha-1 provides an increase in root volume, plant dry weight and number of rows per cob, while wood ash is the best type of mineral substance in increasing plant height, stem diameter, number of leaf, root volume, plant dry weight, cob lengh, cob diameter, number of fruits per cob, weight of cobs with husks and weight of cobs without husks. Key-words: growth and yield, mineral subtance, peat soil, sweet cornINTISARIPenelitian bertujuan untuk menentukan dosis dan jenis bahan mineral terhadap pertumbuhan dan hasil jagung manis pada tanah gambut telah dilaksanakan di Kecamatan Rasau Jaya selama empat bulan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok faktorial dengan dua faktor yang diulang sebanyak 3 kali. Faktor pertama adalah dosis bahan mineral terdiri dari 3 taraf, yaitu d1 = 10 ton ha-1  , d2 =20 ton ha-1  , dan d3 = 30 ton ha-1  dan faktor kedua adalah jenis bahan mineral, terdiri dari 4 taraf, yaitu m1 = lumpur laut, m2 = tanah aluvial, m3 = abu kayu, dan m4 = tanah PMK. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara pemberian berbagai dosis dan jenis bahan mineral terhadap semua variabel pengamatan. Dosis bahan mineral 30 ton ha-1 memberikan peningkatan terhadap volume akar, berat kering tanaman dan jumlah baris per tongkol, sedangkan abu kayu merupakan jenis bahan mineral terbaik dalam meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, volume akar, berat kering tanaman, panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah buah per tongkol, berat tongkol berkelobot dan berat tongkol  tanpa kelobot.Kata Kunci: bahan mineral, gambut, hasil, jagung manis, pertumbuhan
PARTISIPASI KELOMPOK WANITA TANI (KWT) MELALUI KEGIATAN PEKARANGAN PANGAN LESTARI (P2L) DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI DESA ASINGI KECAMATAN TINANGGEA KABUPATEN KONAWE SELATAN Nurjihad, Nurjihad; Alsidiq, La ode; Rosmalah, Sitti; Hartati, Hartati; Sufa, Basri
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3984

Abstract

Stunting has become a hot issue in recent years. Stunting is a condition where a child experiences growth problems caused by a lack of nutritional intake, and it can threaten the decline in the quality of human resources in the future. The Sustainable Food Yard Program (P2L) is one of the strategic steps taken by the government to reduce the risk of stunting in Indonesia, targeting various community groups, including Women Farmers Groups. Southeast Sulawesi (Sultra) is a region at risk of experiencing stunting, with 254,546 families in Sultra being at risk. The verification and validation results of villages in 2021 in 17 districts and cities in Sultra showed that Konawe Selatan Regency had the highest number of families at risk of stunting. Out of 51,405 targeted families, 33,014 were identified as at risk of stunting (BKKBN Sultra, 2021). Asingi Village, one of the villages in the Tinanggea sub-district of Konawe Selatan Regency, Sultra Province, with an active Women Farmers Group (KWT), also plays a crucial role in implementing P2L yard activities. The focus is on improving food resilience by utilizing yard areas in this region. The level of participation of the KWT in Asingi Village is interesting to investigate.  The research results indicate that the level of participation in the Women Farmers Group of Asingi Village falls into the category of moderately participative. This is observed through the participation level of the women farmers group in P2L program activities, both in participating in the implementation of activities within the group and providing input/ideas in the evaluation of P2L activities. Keywords: Stunting, Women Farmers Group, Participation, Sustainable Food Yard Program IntisariStunting menjadi isu hangat beberapa tahun ini. Stunting merupakan kondisi dimana seorang anak mengalami masalah pertumbuhan yang disebabkan oleh kekurangan asupan gizi dan bisa mengancam penurunan kualitas Sumber daya manusia dimasa yang akan dating. Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) merupakan salah satu langkah strategis yang diambil oleh pemerintah dalam rangka menurunkan resiko angka stunting di Indonesia diperuntukan bagi kelompok masyarakat salah satunya Kelompok Wanita Tani. Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan wilayah yang beresiko mengalami stunting. Sebanyak 254.546 keluarga di Sultra beresiko mengalami stunting.  Hasil verifikasi dan validasi desa/kelurahan pada 2021 pada 17 kabupaten kota di Sultra menunjukan Kabupaten Konawe Selatan paling tinggi jumlah keluarga berisiko Stunting, yaitu dari 51,405 keluarga yang disasar, 33.014 keluarga diantaranya berisiko stunting (BKKBN Sultra, 2021). Desa Asingi, yang merupakan salah satu desa di kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sultra dengan KWT yang aktif, juga memainkan peran penting dalam pelaksanaan kegiatan pekarangan P2L, yang berfokus pada peningkatan ketahanan pangan dengan memanfaatkan lahan pekarangan di wilayah ini, sejauh mana Tingkat partisipasi KWT desa Asingi Menjadi menarik untuk diteliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  tingkat partisipasi terhadap kelompok Wanita tani Desa Asingi pada kategori yang cukup Partisipatif, hal ini dilihat dari Tingkat partisipasi kelompok wanita tani dalam kegiatan program P2L yaitu Partisipasi pada Pelaksanaan kegiatan didalam kelompok dan partisipasi dalam memberi masukan ide/pendapat dalam evaluasi kegiatan P2L. Kata Kunci : Stunting, Kelompok Wanita Tani, Partisipasi, Pekarangan Pangan Lestari (P2L)
AMINA BIOGENIK SEBAGAI INDIKATOR KEAMANAN PRODUK PANGAN Pawestri, Setyaning; Syahbanu, Fathma; Syahidawati, Ahsanatun
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3832

Abstract

The presence of biogenic amines in food products is a significant indicator of food safety. Consumption of biogenic amines in small quantities is not a problem, but consumption in high levels can endanger the health of consumers. The concentration of biogenic amines in food products is influenced by several factors in the production process, including initial microbial composition, raw material hygiene, fermentation conditions, and duration of fermentation. Biogenic amines can also be formed by the microbiological degradation of high-protein foods during the fermentation process. Two types of biogenic amines that are indicators most often used for safety are histamine and tyramine. Various cases of poisoning with these two substances have been reported, with histamine being associated with fishery product poisoning and tyramine being associated with cheese poisoning. The common methods used to detect biogenic amines are chromatography, such as GC, HPLC, and Thin Layer Chromatography (TLC). The purpose of this literature review is to discuss the phenomenon of the formation of biogenic amines in food products associated with aspects of food product quality, food safety, and methods for detecting the presence of biogenic amine compounds in food products. Keywords: biogenic amines, food safety, fermented food INTISARIKeberadaan amina biogenik pada produk pangan menjadi salah satu indikator keamanan makanan yang signifikan. Konsumsi amina biogenik dalam jumlah kecil tidak menjadi masalah, tetapi konsumsi dalam kadar tinggi dapat membahayakan kesehatan konsumen. Konsentrasi amina biogenik dalam produk pangan dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam proses produksinya, diantaranya komposisi mikroba awal, higienitas bahan baku, kondisi fermentasi, dan lama waktu fermentasi. Amina biogenik juga dapat terbentuk oleh degradasi mikrobiologis dari makanan berprotein tinggi selama proses fermentasi. Dua jenis amina biogenik yang menjadi indikator paling sering digunakan untuk keamanan adalah histamin dan tiramin. Berbagai kasus terkait keracunan 2 zat ini telah dilaporkan, histamin dikaitkan dengan kasus keracunan produk perikanan dan tiramin dikaitkan dengan kasus keracunan keju. Metode yang umum digunakan untuk mendeteksi keberadaan amina biogenik ini yaitu kromatografi, seperti GC, HPLC, maupun kromatografi lapis tipis. Tujuan dari kajian literatur ini adalah membahas fenomena terjadinya pembentukan amina biogenik pada produk pangan dihubungkan dengan aspek kualitas produk pangan, keamanan pangan, serta metode deteksi keberadaan senyawa amina biogenik pada produk pangan. Kata kunci: amina biogenik, produk pangan, keamanan pangan
RESPON PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DENGAN PEMBERIAN BEBERAPA JENIS BIOCHAR PADA TANAH GAMBUT Charloq, Charloq; Yazid, Abu; Yohanes, Alfedro
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3756

Abstract

Utilization of peat soil still has many obstacles due to the physical and chemical properties that are less supportive of plant growth. Constraints of peat soil as a medium for plant growth can be overcome by applying amelioration technology such as the use of biochar. This study aims to determine the growth response of the main nursery oil palm seedlings to the application of various types of biochar on peat soils. The research was carried out from March 2022 to June 2022 at the Experimental Field of the Faculty of Agriculture, University of North Sumatra, Medan with an altitude of ± 25 meters above sea level (asl). The research design used was a Completely Randomized Non-Factorial Design with four replications and five treatment of various types of biochar, namely rice husk biochar 55 g/polybag, oil palm empty fruit bunches biochar 50 g/polybag, coconut shell biochar 37.5 g/polybag, palm frond biochar 25 g/polybag. The results showed that the applycation of various types of biochar from rice husk 55 g/polybag, biochar empty oil palm 50 g/polybag, coconut shell 37.5 g/polybag, and palm fronds 25 g/polybag, were not significant for increasing the growth of oil palm seeds in the main nursery. Keywords: Biochar, Palm Oil, Peat. INTISARIPemanfaatan tanah gambut masih memiliki banyak kendala karena sifat fisik dan kimia yang kurang mendukung terhadap pertumbuhan tanaman.Kendala tanah gambut sebagai media pertumbuhan tanaman dapat diatasi dengan penerapan teknologi ameliorasi seperti penggunaan biochar.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan bibit kelapa sawit main nursery terhadap pemberian berbagai jenis biochar pada media tanam berupa tanah gambut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2022 hingga Juni 2022 di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter di atas permukaan laut (dpl). Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Non Faktorial dengan empat ulangan dan lima perlakuan pemberian berbagai jenis biochar yaitu biochar sekam padi 55 g/polybag, biochar tandan kosong kelapa sawit 50 g/polybag, biochar tempurung 37,5 g/polybag,biochar pelepah kelapa sawit 25 g/polybag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemberian berbagai jenis biochar yang bersumber dari sekam padi 55 g/polybag, biochar tandan kosong kelapa sawit 50 g/polybag, tempurung kelapa 37,5 g/polybag, dan pelepah kelapa 25 g/polybag, belum signifikan untuk meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit.Kata kunci: Biochar, Kelapa Sawit, Gambut.