cover
Contact Name
eko subaktiansyah
Contact Email
eko.subaktiansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@inajog.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia)
ISSN : 23386401     EISSN : 23387335     DOI : -
Core Subject : Health,
The Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology is an official publication of the Indonesian Society of Obstetrics and Gynekology. INAJOG is published quarterly.
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Volume. 30, No. 3, July 2006" : 17 Documents clear
Peran Laparoskopi Operatif pada Nyeri Pelvis Kronis HADISAPUTRA, W.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 3, July 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.515 KB)

Abstract

Tujuan: Mengkaji peran laparoskopi operatif pada beberapa kelainan sebagai penyebab nyeri pelvis kronis, seperti endometriosis, perlekatan pelvis dan endosalpingiosis. Rancangan/rumusan data: Kajian pustaka. Hasil: Pada pemeriksaan laparoskopi untuk tujuan pengobatan nyeri pelvis, 33% ditemukan endometriosis, 24% perlekatan genitalia interna sisanya tidak ditemukan kelainan. Ditemukan bahwa skor AFS pada endometriosis tidak berkorelasi dengan lamanya nyeri, beratnya nyeri maupun keterbatasan aktivitas. Operator harus waspada terhadap beberapa tampilan visual laparoskopi yang menyerupai lesi endometriosis. Endosalpingiosis merupakan temuan baru lesi di peritoneum pelvis yang mungkin merupakan salah satu penyebab dari nyeri pelvis. Kesimpulan: Penyebab nyeri pelvis kronis yang paling sering adalah perlekatan pelvis, endometriosis, dan endosalpingiosis. Laparoskopi baik diagnosis maupun operatif merupakan intervensi ginekologik penting dalam menangani nyeri pelvis kronis. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-3: 152-5] Kata kunci: perlekatan genitalia, endometriosis, endosalpingiosis.
Translokasi AKDR ke dalam Vesika Urinaria Disertai dengan Vesikolithiasis (Laporan Kasus) HADISAPUTRA, W.; KASMARA, E.; SUSKHAN, SUSKHAN; ROCHANI, ROCHANI
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 3, July 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.639 KB)

Abstract

Tujuan: Melaporkan satu kasus translokasi alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) ke dalam vesika urinaria disertai dengan pembentukan batu intravesika. Tempat: Klinik Kesehatan Reproduksi Raden Saleh Jakarta, Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM, Jakarta dan Kamar Operasi Khusus Departemen Urologi FKUI/RSCM, Jakarta. Bahan dan cara kerja: Laporan satu kasus, seorang wanita, 43 tahun, P4A1 dengan translokasi AKDR ke dalam vesika urinaria selama 10 tahun disertai dengan pembentukan batu vesika. Hasil: Pasien dirujuk oleh SpOG dengan keterangan translokasi AKDR, disertai keluhan nyeri saat buang air kecil sejak 3 tahun lalu. Pasien memiliki riwayat dipasang AKDR 10 tahun lalu. Delapan bulan pasca pemasangan AKDR, uji kehamilan positif dan ia menjalani induksi haid dan mendapatkan pemasangan AKDR kedua. Saat itu tidak ditemukan AKDR pertama. AKDR kedua telah dilepaskan 2 tahun yang lalu. Dari pemeriksaan ultrasonografi tidak didapatkan AKDR intrauterin. Pemeriksaan foto polos abdomen menunjukkan AKDR di pelvis minor, 10 cm di anterior promontorium dengan bayangan massa kalsifikasi. Foto polos pelvis dengan marker menunjukkan AKDR kedua terletak agak jauh dari AKDR pertama, yang overlapping dengan bayangan kalsifikasi. Eksplorasi per laparoskopi tidak menemukan AKDR di rongga pelvis. Dari pemeriksaan sistoskopi tampak AKDR intravesika yang diselubungi batu. Pasien menjalani litotripsi dan pengambilan AKDR intravesika dengan sistoskopi. Pasien dirawat selama satu hari dan pulang dalam keadaan baik. Kesimpulan: Translokasi AKDR ke dalam vesika merupakan hal yang jarang dijumpai. AKDR dalam vesika menjadi sarang infeksi dan proses pembentukan batu. Adanya AKDR intravesika haruslah dipikirkan jika seorang wanita dengan riwayat pemasangan AKDR mengalami infeksi saluran kemih berulang dan/atau pembentukan batu vesika. AKDR intravesika dapat dikeluarkan dengan sistotomi suprapubik atau sistoskopi. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-3: 186-90] Kata kunci: translokasi AKDR, AKDR intravesika, batu vesika
Pengaruh Isoflavon Terhadap Profil Lipid pada Perempuan Menopause/pascamenopause LASMINI, P. S.; HESTIANTORO, A.; RACHMAN, I. A.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 3, July 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.261 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk menentukan efek perubahan profil lipid pada perempuan menopause/pascamenopause yang diberi fitoestrogen (isoflavon). Tempat: Poliklinik Menopause RSCM/FKUI Jakarta. Rancangan/rumusan data: Uji klinis cara tersamar ganda dengan desain paralel tanpa matching. Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu April 2005 - September 2005, terkumpul 48 orang perempuan menopause/pascamenopause berusia < 65 tahun yang sehat, telah mengalami henti haid minimal selama 1 tahun dengan kadar FSH ≥ 30 mIU/L. Setelah dilakukan randomisasi sederhana dengan tabel random dan tersamar ganda, subjek penelitian dibagi dua kelompok, kelompok pertama diberi obat fitoestrogen isoflavon oral 100 mg/hari (2 x 50 mg), kelompok kedua diberi plasebo oral. Sebelum minum obat, diperiksa kadar lipid serum berupa kolesterol total, LDL kolesterol, HDL kolesterol dan trigliserida. Pemeriksaan kadar lipid serum kedua diperiksa setelah minum obat selama 12 minggu untuk melihat perubahan profil lipid setelah minum obat. Hasil: Dari 48 orang yang ikut penelitian, 2 orang dikeluarkan dari penelitian. Ditemukan kenaikan rerata kadar kolesterol total serum setelah 12 minggu pada kelompok obat sebesar -17,21 mg/dl (8,1%), tetapi secara statistik tidak bermakna. Pada kelompok plasebo sebesar -33,04 mg/dl (15%), secara statistik tidak bermakna. Pada kelompok obat ditemukan kenaikan kadar LDL sebesar -20,43 mg/dl, lebih sedikit dibanding kelompok plasebo sebesar -30,92 dan secara statistik bermakna setelah minum obat. Ditemukan penurunan kadar rerata HDL sebesar 3,99 mg/dl, secara statistik tidak bermakna pada kelompok obat setelah 12 minggu. Pada kelompok plasebo ditemukan kenaikan sebesar 1,40 dan tidak bermakna secara statistik. Pada kedua kelompok obat dan plasebo terdapat kenaikan rerata kadar trigliserida (secara statistik tidak bermakna) yaitu berturut-turut sebesar 3,54 mg/dl dan 4,16 mg/dl. Kesimpulan: Tidak ditemukan perubahan profil lipid pada pemberian isoflavon 100 mg/hari selama 12 minggu pada perempuan menopause/ pascamenopause yang sehat. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-3: 156-63] Kata kunci: profil lipid, perempuan menopause/pascamenopause, isoflavon.
Dengan kesehatan perempuan menuju Indonesia sehat AZINAR, L. D.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 3, July 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.006 KB)

Abstract

N/A
Efektivitas Tes Pap pada Tes IVA Positif sebagai Usaha Penapisan Dua Tahap dalam Skrining Kanker Serviks AGUSDIN, N. L.; OCVIYANTI, D.; MOEGNI, E. M.; KUSUMA, F.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 3, July 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.55 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui efektivitas (sensitivitas dan spesifisitas) tes pap pada tes IVA positif sebagai usaha penapisan dua tahap dalam skrining kanker serviks. Bahan dan cara kerja: Uji diagnostik dengan baku emas histopatologi. Merupakan studi deskriptif, desain penelitian potong lintang. Populasi penelitian adalah wanita seksual aktif berusia berusia 25 - 45 tahun, de-ngan kriteria eksklusi: (1) penampakan serviks mencurigai suatu kega-nasan atau memperlihatkan infeksi; (2) pada pemeriksaan tidak dapat dikenali daerah SSK; (3) dan sudah menjalani pengobatan atau tindakan pada serviks atau rahim. Dalam kurun waktu bulan Oktober 2004 hingga Maret 2005 dilakukan tes IVA di puskesmas/balkesmas oleh bidan yang telah mendapatkan pelatihan IVA. Wanita dengan tes IVA positif dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di poliklinik kolposkopi Departemen Obstetri Ginekologi FKUI-RSCM yakni tes pap dan kolposkopi, serta biopsi bila ditemukan lesi. Pengolahan dan pembacaan sediaan pap dan biopsi dilakukan di laboratorium Sitologi dan Patologi Obstetri dan Ginekologi FKUI RSCM. Hasil: Telah dilakukan pemeriksaan IVA terhadap 1156 wanita, 1 orang tidak dimasukkan ke dalam sampel penelitian karena secara makroskopik didiagnosis sebagai kanker serviks stadium IIA. Dari 1155 didapatkan IVA negatif 1057 sampel dan IVA positif 98 sampel. Angka positif palsu tes IVA yang dilakukan Bidan sebesar 50%. Sensitivitas pemeriksaan serial dua tahap IVA-Pap berdasarkan histopatologi yang dikelompokkan atas ada/tidaknya lesi intraepitel skuamosa (LIS) adalah 22,45% dan 8,16%, dan spesifisitasnya adalah 93,88% dan 100%. Sedangkan bila hasil histopatologi dikelompokkan atas ada tidaknya lesi intraepitel skuamosa derajat tinggi (LISDT) maka sensitivitasnya adalah 50% dan 25% dan spesifisitasnya adalah 87,23% dan 96,81%. Faktor-faktor risiko yang mempunyai hubungan bermakna dengan temuan lesi prakanker serviks (histopatologi LISDR/LISDT) pada penelitian ini adalah adalah usia saat hubungan seks pertama kali di bawah 20 tahun, menikah lebih dari 1 kali, pengguna kontrasepsi pil, keputihan, merokok, dan wanita PSK. Kesimpulan: Efektivitas pemeriksaan serial dua tahap IVA-Pap lebih baik daripada pemeriksaan satu tahap, dalam hal spesifisitas dan menurunnya angka positif palsu. Rendahnya sensitivitas tes pap pada kasus IVA positif perlu penelitian lebih lanjut, salah satu kemungkinan adalah karena semua lesi pada penelitian ini adalah lesi-lesi kecil (< 10% area SSK), yang mengakibatkan tingginya angka negatif palsu tes pap. Spesifisitas pemeriksaan dua tahap IVA-Pap sangat baik, sehingga bila sensitivitas pemeriksaan serial ini diperbaiki maka dapat digunakan sebagai alternatif penyaring kasus-kasus lesi prakanker yang akan dikirim/ dirujuk untuk tindak lanjut. {Maj Obstet Ginekol Indone 2006; 30-3: 164-74] Kata kunci: tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat), tes pap, histopatologi, efektivitas, sensitivitas, spesifisitas.
Manajemen Risiko Klinik UTAMI, T. W.; ANDRIJONO, ANDRIJONO; KAMPONO, N.; JUNIZAF, JUNIZAF
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 3, July 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.159 KB)

Abstract

Tujuan: Memberi pemahaman tentang manajemen risiko klinik. Bahan dan cara kerja: Kajian literatur. Hasil: Manajemen risiko klinik merupakan proses yang terencana dan sistematik untuk menurunkan dan atau mengendalikan kemungkinan kerugian akibat segala risiko yang ada dalam manajemen pasien. Manajemen risiko melibatkan kultural, proses, dan struktur yang ditujukan ke arah manajemen efektif dan pengendalian efek samping. Prinsipnya adalah identifikasi akar permasalahan, mengarah pada penilaian risiko medik dalam situasi klinik untuk dapat mengambil langkah yang rasional dalam rangka mengontrol risiko. Tahap-tahap manajemen risiko terdiri dari identifikasi, analisa, pengendalian, evaluasi risiko, yang ditujukan untuk menurunkan risiko serta morbiditas dan mortalitas. Pada dasarnya, tahapan tersebut berlaku dalam setiap kasus medik, namun pada situasi gawat darurat diperlukan kecepatan dan kecermatan yang tinggi untuk memecahkan masalah klinik serta menentukan tindakan dan terapi yang tepat dalam situasi yang terbatas. Kesimpulan: Manajemen risiko klinik merupakan suatu metode untuk mengidentifikasi, mengontrol, memonitor, serta meminimalisasi semua aspek risiko melalui proses yang terencana dan sistematik untuk menurunkan dan atau mengendalikan kemungkinan kerugian akibat risiko yang ada dalam manajemen pasien sehingga terwujud sistem pelayanan medik yang aman, efektif, dan berkualitas. Dalam menjalankan praktik kedokteran harus senantiasa berdasarkan pedoman pelayanan yang berlaku serta pokok-pokok etika kedokteran sesuai dengan Kode Etik Kedokteran Indonesia. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-3: 141-4] Kata kunci: manajemen risiko klinik.
Pergeseran Kausa Kematian Ibu Bersalin di RSU Sanglah Denpasar, Selama Lima Tahun, 1996 - 2000 KARKATA, M. K.; SEPIDIARTA, SEPIDIARTA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 3, July 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.748 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui pergeseran kausa kematian maternal di RSU Sanglah dalam periode 1996 - 2000 dibandingkan dengan hasilhasil penelitian sebelumnya. Rancangan/rumusan data: Penelitian dilakukan secara deskriptif. Data yang didapat ditabulasi dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan narasi dan diberikan bahasan sesuai dengan keperluannya. Tempat: Bagian Obstetri dan Ginekologi RSU Sanglah Denpasar. Bahan dan cara kerja: Data sekunder seluruh kematian ibu yang dibahas dalam audit kematian ibu, laporan mingguan serta hasil rekapitulasi data di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSU Sanglah yang terjadi antara 1 Januari 1996 sampai dengan 31 Desember 2000 dan dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya. Hasil: Didapatkan 48 kasus kematian dari 28.872 persalinan (170/100.000). Dari jumlah itu 33,33% oleh karena perdarahan, 12,5% oleh karena infeksi dan 35,42% karena preeklampsia/eklampsia dan 18,75% karena kelainan medis lain. Telah terjadi pergeseran kausa kematian ibu dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kematian ibu karena perdarahan telah bergeser dari 68,5% (1969 - 1971) menjadi 47,62% (1972 - 1974), 51,61% (1975 - 1977), 28,6% (1988 - 1990), menurun tajam menjadi 7,14% (1993 - 1995). Kematian karena infeksi mengalami naik turun dari 14,8% (1969 - 1971) menjadi 38,09% (1972 - 1974), 12,9% (1975 - 1977), 14,3% (1988 - 1990) dan 7,14% (1993 - 1995). Yang menyolok adalah pergeseran kematian karena preeklampsia/ eklampsia yang meningkat dari 10,8% (1969 - 1971), 22,59% (1975 - 1977), 38,1% (1988 - 1990) dan tertinggi 78,57% (1993 - 1995). Kelainan medis yang menyertai ibu hamil mulai meningkat sebagai penyebab kematian sebesar 10,4% (1969 - 1971), 12,9% (1975 - 1977), 19,1% (1988 - 1990) dan menjadi 18,75% (1996 - 2000). Penyakit medis tersebut misalnya penyakit jantung, gagal ginjal, penyakit hati, stroke, anemia hemolitik dan peritonitis. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-3: 175-8] Kata kunci: angka kematian ibu, penyebab kematian.
Uji Mutu Papsmear Sediaan Kering Sebagai Altenatif Pembuatan Sediaan Sitologi Serviks SITUMORANG, H.; INDARTI, J.; KUSUMA, F.; WIKNJOSASTRO, G. H.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 3, July 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.226 KB)

Abstract

Tujuan: Menguji mutu sediaan papsmear yang dibuat dengan metode "sediaan kering". Bahan dan cara kerja: Penelitian dilakukan di laboratorium sitologi Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI-RSCM Jakarta. Dibuat dua buah slide papsmear dari setiap pasien yang datang untuk melakukan pemeriksaan papsmear. Pada kelompok pertama sediaan diproses secara konvensional menggunakan alkohol 95% sebagai larutan fiksasi, sedangkan kelompok kedua sediaan papsmear dikeringkan di udara terbuka kemudian dilakukan rehidrasi menggunakan NaCl 0,9% sebelum dilakukan pewarnaan. Dilakukan perbandingan mutu sediaan ditinjau dari segi densitas seluler, adanya artefak akibat pengeringan di udara terbuka, serta ada tidaknya gangguan akibat latar belakang eritrosit dan latar belakang sel radang. Hasil: Didapatkan 210 pasang sediaan yang dapat dievaluasi. Teknik kering mempunyai adekuasi sediaan yang sama baiknya dengan teknik konvensional. Tidak didapatkan perbedaan bermakna pada kedua kelompok ditinjau dari segi densitas seluler, adanya artefak akibat pengeringan di udara terbuka, serta ada tidaknya gangguan akibat latar belakang eritrosit dan latar belakang sel radang. Kesimpulan: Papsmear sediaan kering dapat dipakai sebagai alternatif pembuatan sediaan sitologi serviks saat larutan alkohol 95% tidak tersedia sebagai larutan fiksasi. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-2: 145-51] Kata kunci: papsmear sediaan kering, rehidrasi, adekuasi sediaan.
Dengan kesehatan perempuan menuju Indonesia sehat L. D. AZINAR
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 3, July 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.006 KB)

Abstract

N/A
Manajemen Risiko Klinik T. W. UTAMI; ANDRIJONO ANDRIJONO; N. KAMPONO; JUNIZAF JUNIZAF
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 3, July 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.159 KB)

Abstract

Tujuan: Memberi pemahaman tentang manajemen risiko klinik. Bahan dan cara kerja: Kajian literatur. Hasil: Manajemen risiko klinik merupakan proses yang terencana dan sistematik untuk menurunkan dan atau mengendalikan kemungkinan kerugian akibat segala risiko yang ada dalam manajemen pasien. Manajemen risiko melibatkan kultural, proses, dan struktur yang ditujukan ke arah manajemen efektif dan pengendalian efek samping. Prinsipnya adalah identifikasi akar permasalahan, mengarah pada penilaian risiko medik dalam situasi klinik untuk dapat mengambil langkah yang rasional dalam rangka mengontrol risiko. Tahap-tahap manajemen risiko terdiri dari identifikasi, analisa, pengendalian, evaluasi risiko, yang ditujukan untuk menurunkan risiko serta morbiditas dan mortalitas. Pada dasarnya, tahapan tersebut berlaku dalam setiap kasus medik, namun pada situasi gawat darurat diperlukan kecepatan dan kecermatan yang tinggi untuk memecahkan masalah klinik serta menentukan tindakan dan terapi yang tepat dalam situasi yang terbatas. Kesimpulan: Manajemen risiko klinik merupakan suatu metode untuk mengidentifikasi, mengontrol, memonitor, serta meminimalisasi semua aspek risiko melalui proses yang terencana dan sistematik untuk menurunkan dan atau mengendalikan kemungkinan kerugian akibat risiko yang ada dalam manajemen pasien sehingga terwujud sistem pelayanan medik yang aman, efektif, dan berkualitas. Dalam menjalankan praktik kedokteran harus senantiasa berdasarkan pedoman pelayanan yang berlaku serta pokok-pokok etika kedokteran sesuai dengan Kode Etik Kedokteran Indonesia. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-3: 141-4] Kata kunci: manajemen risiko klinik.

Page 1 of 2 | Total Record : 17


Filter by Year

2006 2006


Filter By Issues
All Issue Volume 13. No. 3 July 2025 Volume 13. No. 2 April 2025 Volume 13. No. 1 January 2025 Volume 12 No. 4 October 2024 Volume 12 No. 3 Jully 2024 Volume 12 No. 2 April 2024 Volume 12 No. 1 January 2024 Volume 11 No. 4 October 2023 Volume 11 No. 3 July 2023 Volume 11 No. 2 April 2023 Volume 11 No. 1 January 2023 Volume 10 No. 4 Oktober 2022 Volume 10 No. 3 July 2022 Volume 10 No. 2 April 2022 Volume 10 No. 1 January 2022 Volume 9 No. 4 October 2021 Volume 9 No. 3 July 2021 Volume 9 No. 2 April 2021 Volume 9 No. 1 January 2021 Volume 8 No. 4 October 2020 Volume 8 No. 3 July 2020 Volume 8 No. 2 April 2020 Volume 8 No. 1 January 2020 Volume 7 No. 4 October 2019 Volume 7 No. 3 July 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume. 37, No. 1, January 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 More Issue