cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25979272     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 510 Documents
Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Bidang Penataan Ruang di Era Pandemi Covid-19 Menggunakan Metode E-Learning Dan Blended Learning Deni Santo; Bambang Gunawan; Kariyono Kariyono; Toto Hernawo
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 17, No 3 (2021): JPWK Volume 17 No. 3 September 2021
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v17i3.36251

Abstract

Sampai dengan Agustus 2020 RDTR yang telah ditetapkan sebanyak 67 RDTR dari total kebutuhan kurang lebih 2.000 RDTR. Untuk mencapai target penyelesaian RDTR tersebut dibutuhkan kurang lebih 8.000 Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu memahami dan/atau mampu menyusun RDTR. Percepatan penyusunan RDTR, salah satu strateginya adalah dengan penetapan standar kompetensi penyusun RDTR melalui sertifikasi keahlian SDM. Dalam era pandemi Covid-19 ini tidak membatasi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) untuk terus meningkatkan kapasitas SDM di bidang penataan ruang baik dari kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) pusat dan daerah, akademisi, maupun praktisi agar mampu memahami dan menyusun produk Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang berkualitas dan tepat waktu dengan mengikuti Pelatihan Dasar penyusun RDTR tingkat dasar yang telah menggunakan metode e-learning dan RDTR Menengah metode blended learning (gabungan e-learning dan tatap muka/distance learning). Keunggulan kedua metode tersebut adalah peserta pelatihan dapat mengikuti pelatihan tanpa meninggalkan pekerjaannya, waktu pelatihan yang fleksibel namun tetap terjadwal untuk jangka waktu pelaksanaan, sinkronus, serta uji kompetensinya dan menghemat anggaran karena peserta tidak perlu datang ke lokasi pelatihan. Tujuan pelatihan RDTR tingkat dasar, peserta akan dilatih memahami muatan dan prosedur penyusunan RDTR  sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sedangkan tujuan pelatihan RDTR tingkat menengah, peserta diharapkan mampu menyusun konsep RDTR dengan baik dan benar sehingga dapat membantu percepatan penyelesaian RDTR Kabupaten/Kota dari masing-masing peserta. Tingkat kelulusan pelatihan RDTR Tingkat Dasar tahun 2019 3,5 %, Angkatan I tahun 2020  77,8% dan angkatan II tahun 2020 70,4%. Tingkat kelulusan pelatihan RDTR Tingkat Menengah tahun 2019 adalah 100% dan tahun 2019 adalah 95%. Dalam rangka peningkatan SDM bidang penataan ruang, selain dengan pelatihan, Direktorat Jenderal Tata Ruang dapat bekerjasama dengan perguruan tinggi  dalam mendukung program magang kampus merdeka. Hasil dari program kampus merdeka tersebut diharapkan dapat membantu percepatan penyelesaian penyusunan RDTR dan memberikan rekomendasi ke dinas terkait (sesuai dengan fokusan magang) untuk dapat memanfaatkan mahasiswa di kegiatan penataan ruang hingga pemberdayaan mahasiswa dalam penyusunan RDTR.
Indeks Keberlanjutan Kawasan Industri ditepi Air Agus Fitrianto; Abdul Rachman Rasyid; Slamet Trisutomo
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 17, No 3 (2021): JPWK Volume 17 No. 3 September 2021
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v17i3.34230

Abstract

Kawasan industri di tepi air bertujuan meningkatkan perekonomian kota dengan pendekatan keekonomian di area tepi air. Perubahan tersebut memiliki dampak pencemaran lingkungan, sengketa kepemilikan lahan, keterbatasan akses masyarakat terhadap tepi pantai dan perubahan sosial masyarakat. Saat ini keberlanjutan kawasan industri ditepi air belum mampu dinilai dan diukur berdasarkan indeks keberlanjutan yang sudah ada. Tujuan penelitian ini untuk merumuskan indikator indeks kawasan industri tepi air yang mampu mengukur keberlanjutan kawasan industri ditepi air dari pilar utama aspek keberlanjutan yaitu sosial, ekonomi dan lingkungan. Penelitian dimulai dengan mengkaji indeks yang ada untuk menilai keberlanjutan, kemudian mengevaluasi indeks tersebut dengan pemilihan kriteria aspek ekonomi, sosial dan lingkungan, dilanjutkan dengan metode analisis Analytic Hierarchy Process (AHP)  dan expert choice dari data primer kuesioner para ahli perkotaan. Hasil penelitian ini adalah rumusan indeks keberlanjutan IKKITA yang terdiri dari sembilan indikator dan bobot penilaian  dari tiga aspek pilar utama keberlanjutan  aspek sosial; koefisine GINI (0.326), ketersediaan sumber air PDAM (0.260), tingkat penggangguran setiap tahun dari Angkatan kerja (0.171), kemudian pada aspek ekonomi; kerapatan bangunan permukiman (0.257), taraf kehidupan hunian (0.205), ketersedaiaan transportasi publik (0.183), dan pada aspek lingkungan; ketersediaan konservasi air (0.269), rata rata ruang terbuka hijau (0.227), jarak dari lingkungan sensitive atau hutan lindung (0.159).
Memahami Perkembangan Kota Melalui Urban Morphology Diana Ayudya; Ikaputra Ikaputra
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 18, No 3 (2022): JPWK Volume 18 No. 3 September 2022 (in progress)
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v18i3.36135

Abstract

Tujuan dari kajian ini adalah membangun suatu pemahaman mengenai peran urban morphology dalam mengamati dan mengkaji perkembangan kota. Banyak sekali isu dalam perencanaan dan perancangan kota, khususnya mengenai bentuk fisik kota dan perubahan yang terjadi. Morfologi sebuah kota sebagai formasi obyek bentuk kota akan selalu berubah, karena merefleksikan kehidupan masyarakat kota yang akhirnya akan merubah kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatnya. Sebagai sebuah cabang ilmu perkotaan, Urban Morphology mengkaji seluruh aspek, baik fisik maupun non fisik, dari ekspresi bentuk keruangan kota. Dengan memahami Morfologi Kota, gambaran fisik arsitektural kota yang berkaitan dengan sejarah, pembentukan, perkembangan, dan kondisi masyarakatnya akan didapatkan. Studi literatur di dalam kajian ini dilakukan melalui sebuah proses, yaitu membahas pengertian masing-masing kata pembentuk Urban Morphology hingga menemukan parafrasenya untuk membangun pemahaman. Didapatkan bahwa Urban Morphology berperan dalam mengetahui apa yang ada di balik isu-isu perkembangan kota; perubahan bentuk kota secara historis-geografis, struktural, fungsional, maupun visual. Lebih lanjut, Urban Morpfology berperan untuk mengetahui tipe, pola, kondisi fisik, keruangan, dan elemen-elemen pembentuk kota yang berperan dalam perkembangan kota.
Tipologi Transformasi Perdesaan dan Implikasinya terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Perbatasan Sukoharjo – Surakarta Jessica Ayu Eka Pramudita; Iwan Rudiarto
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 18, No 3 (2022): JPWK Volume 18 No. 3 September 2022 (in progress)
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v18i3.45153

Abstract

Transformasi desa ditandai dengan adanya pergeseran karakteristik dari wilayah perdesaan menjadi perkotaan. Hubungan desa-kota yang semakin erat juga mendorong terjadinya aglomerasi daerah pada wilayah peri-urban. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengkaji transformasi desa berdasarkan aspek tipologi zona dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Tipologi zona kawasan perdesaan yang dimaksud berdasarkan Zona Wilayah Peri-Urban dikategorikan menjadi tiga, yaitu zona peri-urban primer, zona peri-urban sekunder, dan zona rural peri-urban. Data yang digunakan melitputi data komposisi guna lahan dengan menggunakan data citra satelit tahun 2000, 2010, dan 2020, aksesibilitas, infrastruktur, kependudukan, dan struktur ekonomi masyarakat. Analisis yang dilakukan adalah analisis perubahan penggunaan lahan, analisis tipologi transformasi desa, dan analisis implikasi transformasi desa.  Hasil penelitian menunjukkan total dari 40 desa di wilayah studi, terdapat 6 desa yang bertransformasi dan mengalami perubahan tipologi selama 10 tahun terakhir. Keenam desa ini semula masuk dalam tipologi zona rural peri-urban pada tahun 2010 berubah menjadi zona peri-urban sekunder pada tahun 2020. Implikasi dari tranformasi yang tejadi pada 6 desa tersebut adalah menurunnya jumlah keluarga petani, jumlah penduduk pendatang tinggi, dan pendapatan bulanan yang sudah diatas Upah Minimum Rata-Rata. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mendapat dampak yang positif dari transformasi desa yang terjadi di wilayah studi.
Dampak Penerapan Kebijakan Free Trade Zone di Indonesia Terhadap Penanaman Modal Asing Puri Diah Santyarini; Maddaremmeng A. Panennungi
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 17, No 3 (2021): JPWK Volume 17 No. 3 September 2021
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v17i3.34236

Abstract

Economic zones are always considered to be a strategy for a country to attract FDI, including Indonesia that has designated several regions as FTZ, namely Sabang and Batam (2000) also Bintan and Karimun (2007). Therefore, this study tries to see the impact of FTZ policies on the entry of FDI in Indonesia. Using fixed effect panel data method for the period 1999-2018 and focusing on policies, characteristics, and socioeconomic conditions of FTZ in Indonesia. It shows that the FTZ has positive impact on increasing FDI in Indonesia only if the region has socioeconomic characteristics and conditions that are stable and supportive toward investment climate 
Sinergi Implementasi Nilai Kearifan Lokal Dalam Konsep Kota Banda Aceh sebagai Islamic Smart City M Andrian Kevin Fuady; MIrza Fuady; Cut Dewi
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 17, No 3 (2021): JPWK Volume 17 No. 3 September 2021
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v17i3.36526

Abstract

Beberapa kota di Indonesia termasuk Kota Banda Aceh sudah mulai menerapkan konsep  smart  city sebagai alternatif solusi berbagai persoalan kota. Penerapan konsep smart city yang sarat dengan teknologi pengolahan data yang kompleks menuntut kesiapan pemerintah dan warga kota untuk saling bersinergi mendukung konsep kota pintar. Keberhasilan penerapan konsep ini tidaklah dengan ketergantungan hanya pada teknologi sehingga mengabaikan nilai-nilai kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat. Sinergi dari teknologi dan nilai-nilai kearifan lokal akan berdampak positif bagi keberlangsungan kota. Untuk itu, penelitian  ini  bertujuan  mengetahui  dan mendeskripsikan bentuk sinergi penerapan nilai-nilai kearifan lokal dalam rangka  mewujudkan konsep Islamic Smart City  di Kota Banda Aceh.  Peneliti menggunakan  metode  kualitatif  dengan  pendekatan deskriptif dalam  mengumpulkan  dan menganalisis data terkait implementasi  konsep smart city di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep smart city secara umum memberikan dampak yang positif  bagi pemerintah dan masyarakat. Konsep smart city belum seutuhnya berhasil diwujudkan oleh pemerintah kota di Indonesia namun penyempurnaannya terus dilakukan secara bertahap. Demikian pula kota Banda Aceh, yang keberhasilannya perlu dukungan berbagai pihak dalam menerapkan sinergi teknologi dan nilai-nilai kearifan lokal islami untuk mewujudkan Banda Aceh sebagai Islamic Smart City. 
Konsep Pengembangan Kebun Raya Balikpapan Sebagai Destinasi Wisata Alam Unggulan Rizky Arif Nugroho; Elin Diyah Syafitri; Rahmi Yorika
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 17, No 3 (2021): JPWK Volume 17 No. 3 September 2021
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v17i3.33569

Abstract

Balikpapan Botanical Garden, which was established in 1994, held potential to be developed more. It was possible since Balikpapan Botanical Garden had 300 hectare wide area. The development of Balikpapan Botanical Garden supported East Kalimantan Government plan to enhanced their tourism sector. Therefore, the concept of Balikpapan Botanical Garden development was necessary. By using descriptive qualitative analysis, the concept formulated as followed. Ensuring safety and security of tourist, creating special zone for interaction between tourist and nature, holding event, providing transportation mode, and deploying trained and professional staff.
Penanganan Bencana Banjir di Kota Kediri Melalui Mitigasi Non-Struktural Guna Mendukung Keamanan Insani Titisari Haruming Tyas; Sobar Sutisna; Makmur Supriyatno; Syamsul Maarif; Ahmad Fatkul Fikri
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 18, No 2 (2022): JPWK Volume 18 No. 2 June 2022
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v18i2.35564

Abstract

Bencana banjir menjadi salah satu kejadian yang mengancam keselamatan manusia. Termasuk terjadinya bencana banjir di Kota Kediri tidak terlepas dari kurangnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Terjadinya bencana banjir di Kota Kediri pada masa lampau harus menjadikan pemerintah dan masyarakat lebih siap dalam menghadapi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan penanganan bencana banjir di Kota Kediri melalui mitigasi non-struktural guna mendukung keamanan insani. Analisis yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pengolahan data secara spasial dengan bantuan software ArcGIS 10.3. Dari analisis overlay didapatkan hasil bahwa Kota Kediri memiliki kerawanan terhadap bencana banjir. Kelas rawan banjir terbesar ada pada kategori tinggi sebesar 64,62% dari luas wilayah; sebesar 16,08% memiliki risiko sangat tinggi; kategori sedang sebesar 14,35%; kategori sangat rendah sebesar 3,12%; dan kategori rendah sebesar 1,83%. Tingginya risiko bencana banjir yang ada di Kota Kediri mengharuskan pemerintah daerah untuk merencanakan mitigasi bencana banjir non-struktural seperti membuat peta rawan bencana banjir sebagai wujud informasi dan tertuang dalam RTRW Kota Kediri, memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai langkah untuk tetap menjaga lingkungan, mengadakan penyuluhan kepada masyarakat mengenai hal-hal yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri dari bencana banjir, dan melakukan penataan ruang di kawasan rawan bencana banjir sebagai upaya mengurangi risiko bencana.
Perkembangan Morfologi Gresik Kota Bandar dengan Pendekatan Analisa Diakronik Gratia Ananda Sinaga; Karina Pradinie Tucunan; Putu Rudy Satiawan; Dian Rahmawati
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 17, No 3 (2021): JPWK Volume 17 No. 3 September 2021
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v17i3.34417

Abstract

Gresik Regency as a Bandar has been known since the Majapahit Empire because of its strategic location and high trading activities that have made Gresik a Bandar City. The existence of Bandar Gresik is one of the reasons for the diversity of history and culture contained in it because of the acculturation of the immigrant culture caused by the Bandar itself. Bandar is one of the triggers for community and economic development which is increasingly seen in the morphology of the City of Gresik Regency. The existence of various historical relics, both tangible and intangible, describes historical events that have occurred in Gresik Regency in the past and city developments that have occurred to the present. This historical event of Gresik Regency can then become its own identity and uniqueness for Gresik Regency. Therefore, it is necessary to conduct a study on the development of Gresik with the aim of seeing what the development of Gresik Regency looks like from year to year to find out the morphological form that existed at that time and how important it is for spatial regeneration in the future. This study uses a content analysis (CA) analysis approach and Diankronik analysis. The results of this study found 5 stages of the main period consisting of the Majapahit Empire, the Islamic Development Period, the Colonial Period, the Japanese Occupation Period, and the Early Independence Period. Based on the development period, they are grouped into four historical areas, namely the Bandar Gresik area, the Giri area, the Bandar Jaratan area and the Bawean area.
Transformasi Wilayah Kota Mandiri pada Kawasan Permukiman (Studi Kasus : Perkampungan Karawaci, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten) Wahyu Ika Nur Fitriyani; Arfani Priyambodo; Joseph Edward Timothy Siahaan; Misbahul Hayat Fathul Husni
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 17, No 3 (2021): JPWK Volume 17 No. 3 September 2021
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v17i3.37948

Abstract

The increasing population that occurs in the metropolis of Indonesia often causes problems with the structure of urban space utilization. It’s triggered by the phenomenon of urban sprawl that occurs in the outskirts of Jakarta, especially Tangerang, causing a transformation of the landscape. The existence of Lippo Karawaci which is supported by road accessibility and supporting facilities and infrastructures encourages the growth of a new city center titled independent city. The development of independent cities has the potential to change the structure of urban spaces that cause changes in the pattern of development of residential areas, especially in rural areas. This research emphasizes the condition of distance in the residential areas in Karawaci, namely Kampung Bencongan, Binong Village, Dadap Village, and Kampung Kelapa Dua as icons of traditional settlements associated with the city center. The purpose of this research is to know the transformation of land use and analyze spatial patterns of independent urban settlements in Karawaci Village. In conducting the analysis, the method used is descriptive spatial analysis with NNA (Nearest Neighbor Analysis) method to produce the pattern of settlements formed and land use transformation in residential areas through ArcMap 10.8 software. The required data was obtained through participatory mapping using the Google Earth platform for the 2003-2020 recording year as well as field observations by comparing the conditions of village distance to independent cities. The results showed an increase in settlement area of 11.4% (2.51 ha) in Binong Village, 14.2% (2.08 ha) in Dadap Village, 15.7% (4.84 ha) in Kampung Kelapa Dua, and 9.7% (3.67 ha) in Kampung Bencongan from 2003 to 2020. Spatial patterns formed in residential areas in Karawaci Village show that the closer the residential area with an independent city center will form a cluster settlement pattern. Meanwhile, the further the residential area from the city center independently will form a pattern of random settlements. So, it can be concluded that the transformation of the city space structure with the development of independent cities increases the area of settlements and forms different patterns of settlements to the city center.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 4 (2025): JPWK Volume 21 No. 4 December 2025 Vol 21, No 3 (2025): JPWK Volume 21 No. 3 September 2025 Vol 21, No 2 (2025): JPWK Volume 21 No. 2 June 2025 Vol 21, No 1 (2025): JPWK Volume 21 No. 1 March 2025 Vol 20, No 4 (2024): JPWK Volume 20 No. 4 December 2024 Vol 20, No 3 (2024): JPWK Volume 20 No. 3 September 2024 Vol 20, No 2 (2024): JPWK Volume 20 No. 2 June 2024 Vol 20, No 1 (2024): JPWK Volume 20 No. 1 March 2024 Vol 19, No 4 (2023): JPWK Volume 19 No. 4 December 2023 Vol 19, No 3 (2023): JPWK Volume 19 No. 3 September 2023 Vol 19, No 2 (2023): JPWK Volume 19 No. 2 June 2023 Vol 19, No 1 (2023): JPWK Volume 19 No. 1 March 2023 Vol 18, No 4 (2022): JPWK Volume 18 No. 4 December 2022 Vol 18, No 3 (2022): JPWK Volume 18 No. 3 September 2022 (in progress) Vol 18, No 2 (2022): JPWK Volume 18 No. 2 June 2022 Vol 18, No 1 (2022): JPWK Volume 18 No. 1 March 2022 Vol 17, No 4 (2021): JPWK Volume 17 No. 4 December 2021 Vol 17, No 3 (2021): JPWK Volume 17 No. 3 September 2021 Vol 17, No 2 (2021): JPWK Volume 17 No. 2 June 2021 Vol 17, No 1 (2021): JPWK Volume 17 No. 1 March 2021 Vol 16, No 4 (2020): JPWK Vol. 16 No. 4 December 2020 Vol 16, No 3 (2020): JPWK Vol 16. No. 3 September 2020 Vol 16, No 2 (2020): JPWK Vol 16. No. 2 June 2020 Vol 16, No 1 (2020): JPWK Vol 16. No. 1 March 2020 Vol 15, No 4 (2019): JPWK Vol. 15 No. 4 Desember 2019 Vol 15, No 3 (2019): JPWK Vol. 15 No. 3 September 2019 Vol 15, No 2 (2019): JPWK Vol 15 No 2 June 2019 Vol 15, No 1 (2019): JPWK Vol 15 No 1 March 2019 Vol 14, No 4 (2018): JPWK Vol 14 No 4 Desember 2018 Vol 14, No 3 (2018): JPWK Vol 14 No 3 September 2018 Vol 14, No 2 (2018): JPWK Vol 14 No 2 June 2018 Vol 14, No 1 (2018): JPWK Vol 14 No 1 March 2018 Vol 13, No 4 (2017): JPWK Vol 13 No 4 December 2017 Vol 13, No 3 (2017): JPWK Vol 13 No 3 September 2017 Vol 13, No 2 (2017): JPWK Vol 13 No 2 June 2017 Vol 13, No 1 (2017): JPWK Vol 13 No 1 March 2017 Vol 12, No 4 (2016): JPWK Vol 12 No 4 December 2016 Vol 12, No 3 (2016): JPWK Vol 12 No 3 September 2016 Vol 12, No 2 (2016): JPWK Vol 12 No 2 June 2016 Vol 12, No 1 (2016): JPWK Vol 12 No 1 March 2016 Vol 11, No 4 (2015): JPWK Vol 11 No 4 December 2015 Vol 11, No 3 (2015): JPWK Vol 11 No 3 September 2015 Vol 11, No 2 (2015): JPWK Vol 11 No 2 June 2015 Vol 11, No 1 (2015): JPWK Vol 11 No 1 March 2015 Vol 10, No 4 (2014): JPWK Vol 10 No 4 December 2014 Vol 10, No 3 (2014): JPWK Vol 10 No 3 September 2014 Vol 10, No 2 (2014): JPWK Vol 10 No 2 June 2014 Vol 10, No 1 (2014): JPWK Vol 10 No 1 March 2014 Vol 9, No 4 (2013): JPWK Vol 9 No 4 December 2013 Vol 9, No 3 (2013): JPWK Vol 9 No 3 September 2013 Vol 9, No 2 (2013): JPWK Vol 9 No 2 June 2013 Vol 9, No 1 (2013): JPWK Vol 9 No 1 March 2013 Vol 8, No 4 (2012): JPWK Vol 8 No 4 December 2012 Vol 8, No 3 (2012): JPWK Vol 8 No 3 September 2012 Vol 8, No 2 (2012): JPWK Vol 8 No 2 June 2012 Vol 8, No 1 (2012): JPWK Vol 8 No 1 March 2012 More Issue