cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kandai
ISSN : 1907204X     EISSN : 25275968     DOI : -
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 1 (2023): KANDAI" : 10 Documents clear
KELUHURAN DALAM PUISI “PESAN PENCOPET KEPADA PACARNYA” KARYA W.S. RENDRA: PERSPEKTIF LONGINUS (The Nobility in The Poem “Pesan Pencopet kepada Pacarnya” by W.S. Rendra: Longinus Perspective) Taum, Yoseph Yapi
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4637

Abstract

This study aims to reveal the values of nobility in the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" written by WS Rendra by using the perspective of Longinus theory. This poem seems to give immoral teachings that are conveyed through community trash figures, namely a pickpocket and his girlfriend, a government official's concubine. Reading poetry like this one can spontaneously reject it, because there are no values that seem worthy to be followed or imitated. The main question of this research is what are the noble values in the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" by WS Rendra? This type of research is qualitative by using library data sources. The approach used to answer this research question is an expressive approach, with Longinus' theory of nobility. The results of this study show that the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" by WS Rendra has noble values which include: the power of noble thinking, great emotion or passion, superior rhetoric, special choice of words, and unique compositional structure. The benefit of this research is to demonstrate different textual strategies in reading poetry. This poem has the power to push and elevate the reader to the stage of sublimation, namely the stage of nobility. That is why this poem is worth reading, living, and teaching its values.Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai-nilai keluhuran di dalam puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya W.S. Rendra dengan menggunakan perspektif teori Longinus. Puisi ini terkesan memberikan ajaran yang tidak bermoral yang disampaiakan melalui tokoh-tokoh sampah masyarakat, yakni seorang pencopet dan pacarnya seorang selir pejabat pemerintah. Membaca puisi semacam ini orang dapat secara spontan menolaknya, sebab tidak ada satupun nilai-nilai yang sepertinya layak untuk diikuti ataupun diteladani. Pertanyaan penelitian ini adalah apa sajakah nilai-nilai keluhuran di dalam puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya W.S. Rendra? Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan sumber data pustaka. Pendekatan yang digunakan untuk menjawab masalah penelitian ini adalah pendekatan ekspresivisme, dengan teori keluhuran Longinus. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya WS Rendra memiliki nilai-nilai keluhuran yang mencakup:  daya pemikiran yang luhur, emosi atau passion yang agung, retorika yang unggul, pilihan kata yang istimewa, dan struktur komposisi yang unik. Manfaat penelitian ini adalah mendemonstrasikan strategi tekstual yang berbeda di dalam membaca puisi. Puisi ini memiliki kekuatan untuk mendorong dan mengangkat pembaca ke tahap sublimasi, yakni tahap keluhuran. Itulah sebabnya puisi ini berharga untuk dibaca, dihayati, dan diajarkan nilai-nilainya.
KETIDAKSANTUNAN PELANGGAN TERHADAP CUSTOMER SERVICE PROVIDER INTERNET DI TWITTER PADA AWAL PANDEMI COVID-19 (Customers’ Impoliteness Strategies toward ISP’s Customer Service on Twitter at The Beginning of Covid-19 Pandemic) Rahman, Nadhifa Indana Zulfa; Qonitah, Salma; Fitriany, Suci; Santoso, Tomi
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4086

Abstract

This study aims to describe the use of impoliteness strategies used by customers to  customer service of one of Indonesia’s internet providers. The method used in this study has three stages. The first stage is data collection. Data collection was carried out using the non-participant observation method, tweet scraping using the python package, and note-taking technique with annotation. The second stage is data analysis. Data analysis was carried out by applying Culpeper's impoliteness theory. Third, the presentation of the results of data analysis with formal and informal methods. The results of this study indicate that there are several impoliteness strategies used by customers, namely: 1) insulting, 2) sarcasm, 3) threatening, 4) using taboo words, 5) using inappropriate terms of address, 6) not taking the speech partner seriously, 7) being unsympathetic, 8) using obscure/secretive language, and 9) withholding politeness.  Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan strategi ketidaksantunan pelanggan kepada customer service salah satu provider internet di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ada tiga tahap. Tahap pertama adalah pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap, tweet scraping menggunakan python package, serta teknik catat melalui proses anotasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa twit keluhan pelanggan salah satu provider di Indonesia kepada customer service yang disampaikan melalui akun Twitter resmi provider tersebut yang berjumlah sebanyak 2.500 twit dalam kurun waktu 15 April—30 Juni 2020. Tahap kedua adalah analisis data. Analisis data dilakukan dengan menerapkan teori ketidaksantunan Culpeper. Ketiga, penyajian hasil analisis data dilakukan dengan metode formal dan informal. Hasil penelitian ini menunjukkan ada beberapa strategi ketidaksantunan yang digunakan pelanggan, yaitu: 1) menghina, 2) menyindir, 3) mengancam, 4) menggunakan kata-kata tabu, 5) menggunakan sapaan yang tidak seharusnya, 6) menganggap tidak serius mitra tutur, 7) tidak simpatik, 8) menggunakan bahasa yang tidak jelas, dan 9) menahan kesantunan.
NARASI SUSI PUDJIASTUTI DI MEDIA: SEBUAH PERJUMPAAN DIALEKTIS (Susi Pudjiastuti's Narrative in Media: A Dialectical Encounter) Kholila, Ainun; Hafidzulloh, M
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4819

Abstract

The coverage of Susi Pudiastuti in various online media regarding her ability to become the ministry of marine affairs and fisheries  in the second period has generated various polemics. These problems arise because the narratives built from various media are often different from one another. This distinction has resulted in various perspectives materializing to translate how the discourse construction is behind the statement text. This study will analyze how the discourse form of media content narrates Susi Pudjiastuti as a minister in the second period. The data explored are the media narratives of Kumparan.com, Wartaekonomi.com, Tribunnews, Liputan6.com, Theconversation.com, Kompas.com. Textual data from some of these media will be analyzed using Norman Fairclough's critical discourse analysis approach. Media text narratives that are the research object will be positioned as constructing public discourse by examining and describing discourse practices from online media narratives. This study found that the online media that reported Susi Pudjiastuti's willingness contained discourse production, directing to justification and public opinion formation. The discourse present in the text provides an argumentative basis that always presupposes a social change regarding the perspective produced to find the dialectic of discourse and transformation in the form of discursive practice. Pemberitaan Susi Pudiastuti di berbagai media online terkait kesanggupan menjadi menteri perikanan dan kelautan pada periode kedua menuai beragam polemik. Problematika tersebut hadir karena narasi yang dibangun dari berbagai media seringkali berbeda antar satu dan lainnya. Perbedaan itu menuai beragam perspektif bermunculan untuk menerjemahkan bagaimana konstruksi wacana yang hadir di balik teks berita. Penelitian ini mengupas bagaimana bentuk wacana dari konten media yang menarasikan Susi Pudjiastuti sebagai menteri pada periode kedua. Data yang dianalisis adalah narasi media Kumparan.com, Wartaekonomi.com, Tribunnews.com, Liputan6.com, Theconversation.com, dan Kompas.com. Data tekstual dari beberapa media tersebut dianalisis dengan pendekatan analisa wacana kritis Norman Fairclough. Narasi teks media yang menjadi objek penelitian diposisikan sebagai pembentuk wacana publik dengan menelaah dan mendeskripsikan praktik wacana dari narasi media online. Penelitian ini menemukan bahwa media online yang memberitakan kesediaan Susi Pudjiastuti ini memuat produksi wacana yang mengarah kepada pemberian justifikasi dan membangun opini publik. Ikhwal wacana yang hadir dalam teks memberikan dasar argumentatif yang senantiasa mengandaikan adanya perubahan sosial mengenai perspektif yang dibangun untuk menemukan dialektika wacana dan transformasi dalam bentuk praktik diskursif.
IDENTITAS DAN PERGERAKAN PEREMPUAN PERANAKAN TIONGHOA DALAM NOVEL BERGERAK? KARYA TAN BOEN SOAN (Peranakan Chinese Women’s Identity and Movement in Tan Boen Soan’s Bergerak?) Dewojati, Cahyaningrum; Nurtalia, Nadhilah
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4116

Abstract

The social identity of women of Chinese descent (peranakan) in Dutch East Indies was affected by numerous aspects, which later developed into their consciousness about identity and environment. In the context of the women’s movement, the diversity of social identity of these women of Chinese ancestry contributed to the dynamic development, as portrayed in a novel titled Bergerak? (Let us move?). Through social identity theory, organizational behavior and feminist literary criticism, especially Chandra Mohanty on intersection, this study aims to examine the social categories that affect the identity of women of Chinese descent and the author’s on the problems of Chinese peranakan women in a novel titled Bergerak? The result of the study shows that the social identity of women of Chinese descent is influenced by the social categorization such as social and economic status, culture representation, and ideologies that are intertwined or intersected each other. Nevertheless, the author’s criticism to the problems in the women’s movement organization is also clouded by gender bias affecting the author’s perspective on women’s contribution to the organization Identitas sosial yang dimiliki oleh perempuan peranakan Tionghoa di Hindia Belanda dipengaruhi oleh berbagai aspek. Hal ini kemudian mempengaruhi kesadaran para perempuan tersebut terhadap jati diri dan lingkungan mereka. Dalam konteks pergerakan perempuan, keragaman identitas sosial para perempuan peranakan Tionghoa ini ikut memberikan dinamika tersendiri dalam proses perjalanannya, seperti yang tertuang dalam novel Bergerak?. Melalui teori identitas sosial, perilaku organisasi dan kritik sastra feminis, khususnya Chandra Mohanty tentang intersection, penelitian ini bertujuan mengkaji kategori sosial yang mempengaruhi identitas perempuan peranakan Tionghoa serta sudut pandang pengarang terhadap permasalahan perempuan peranakan Tionghoa di dalam organisasi pergerakan perempuan dalam Bergerak?. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identitas sosial dari para perempuan peranakan Tionghoa dipengaruhi oleh kategori-kategori sosial seperti status sosial dan ekonomi, representasi budaya, dan ideologi yang berkelindan atau interseksi satu sama lainnya. Di sisi lain, kritik pengarang terhadap berbagai permasalahan yang muncul dalam organisasi pergerakan perempuan juga diliputi bias gender yang mempengaruhi sudut pandang pengarang tentang keterlibatan perempuan dalam organisasi pergerakan perempuan.
NEGOSIASI BUDAYA SULAWESI TENGGARA DI ARENA GELANGGANG BUDAYA NEGERI SEMBILAN-MALAYSIA (The Cultural Negotiations of Southeast Sulawesi in the Arena of Gelanggang Budaya Negeri Sembilan-Malaysia) Syaifuddin, NFN; Riana, Derri Ris; Rahmawati, NFN
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.5191

Abstract

The presence of the Southeast Sulawesi arts team at the Negeri Sembilan Cultural Center event in Malaysia in 2017 is interesting to study from the perspective of cultural negotiations. Processed and displayed art has a vital role in building cultural diplomacy missions. This research was conducted to determine the condition of Indonesia-Malaysia diplomatic relations and describe the types of art chosen as a cultural negotiating tool discussed in a descriptive-qualitative approach. The results of this study indicate that there are ups and downs in diplomatic relations between Indonesia and Malaysia. Apart from being caused by geocultural proximity, the same cultural roots sometimes become a potential source of conflict. The Southeast Sulawesi arts team succeeded in playing its role in cultural negotiations by choosing works and works of art, namely traditional and modern music; fine arts from two artists; poetry anthology of poets of two countries; monologue theatrical stage; and Southeast Sulawesi literature and culture magazine. Apart from that, the art team also took part in cultural dialogues and visits to the village library, where the event took place. The greeting and appreciation from Raja Luak Johol and the activity participants demonstrated the distinct achievement of the cultural mission of the activity, which involved three countries: Malaysia, Indonesia, and Singapore. Negeri Sembilan Cultural Center contributes to cultural diplomacy that provides space for equality, humanity, and peace. The relationship between the art network between Malaysia and Indonesia is getting closer. Kehadiran tim kesenian Sulawesi Tenggara pada ajang Gelanggang Budaya Negeri Sembilan di Malaysia pada tahun 2017 menarik untuk dikaji dalam perspektif negosiasi budaya. Kesenian yang diolah dan ditampilkan memiliki peran penting dalam membangun misi diplomasi kebudayaan. Itulah sebabnya, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi hubungan diplomatik Indonesia-Malaysia dan membentangkan jenis kesenian yang dipilih sebagai alat negosiasi budaya yang dibahas dalam pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pasang surut dalam hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia. Selain disebabkan oleh kedekatan geobudaya, juga akar kebudayaan yang sama sehingga kadang menjadi sumber potensi konflik. Tim kesenian Sulawesi Tenggara berhasil memainkan perannnya dalam negosiasi budaya dengan memilih kerja dan karya seni, yakni musik tradisi dan modern; seni rupa dari dua perupa; antologi puisi penyair dua negara; pentas teater monolog; dan majalah sastra dan budaya Sulawesi Tenggara. Selain itu, tim kesenian juga mengikuti dialog budaya dan kunjungan ke perpustakaan desa, tempat pelaksanaan acara berlangsung. Sambutan dan apresiasi dari Raja Luak Johol dan peserta kegiatan menunjukkan pencapaian tersendiri misi kebudayaan pada kegiatan yang melibatkan tiga negara tersebut, yakni Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Gelanggang Budaya Negeri Sembilan memberikan kontribusinya bagi diplomasi budaya yang memberi ruang bagi kesetaraan, kemanusiaan, dan perdamaian. Hubungan jejaring kesenian antara Malaysia dan Indonesia semakin erat terjalin.
KESENYAPAN NARASI KOLONIALISME DALAM NOVEL-NOVEL SUNDA RENTANG 1914—1940: WACANA MENGINGAT DAN MELUPAKAN (The Silent of Colonialism Narratives in Sundanese Novels Circa 1914—1940: Memory Discourse about Remembering and Forgetting) Hudayat, Asep Yusup; Rahayu, Lina Meilinawati; Muhtadin, Teddi A.N.
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4402

Abstract

In the early 20th century circa 1914–1940 were Sundanese novels almost "silent" from the colonialism narratives. This condition shows that memories were forgotten, suppressed, ignored, or even omitted in literary works because of the domination of the Dutch East Indies. However, the colonial traces can be revealed through how the narratives are constructed and presented. Through their works, the authors (from the middle class and educated) told about social reality and themselves in the challenges of social change in the early 20th century. This paper aims to reveal the memory selection process of Sundanese novelists in the early 20th century in producing their works under the dominant forces influences: feudal and colonial. The data analysis techniques were as follows, (a) data instrumens: narrative tools, special expressions, projection, and contruction (b) describing the data instrumens, (c) interpreting the data, (d) conclusions. The analysis results are: (1) the authors positioning (as teachers, natives, and employees of the Balai Pustaka) had an affects on the memories selections that were used to constructing narratives about domination and power, (2) the narratives of colonialism memories in five novels are built in three ways: suppressed, diverted, and even erased, (3) The voices behind the colonialism-narratives silent are expressed through the metaphorical traces of power, the pre-colonial and colonial memories as background, and indigenous marginal discourse. Pada awal abad ke-20 sekitar tahun 1914—1940 novel-novel Sunda nyaris “diam” dari narasi kolonialisme. Kondisi ini menunjukkan bahwa ingatan dilupakan, ditekan, diabaikan, atau bahkan dihilangkan dalam karya sastra karena dominasi Hindia Belanda. Namun, jejak kolonial dapat terungkap melalui bagaimana narasi dibangun dan disajikan. Melalui karya-karyanya, para pengarang (dari kelas menengah dan terpelajar) bercerita tentang realitas sosial dan diri mereka sendiri dalam tantangan perubahan sosial di awal abad ke-20. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap proses seleksi ingatan para novelis Sunda di awal abad 20 dalam menghasilkan karya-karyanya di bawah pengaruh kekuatan dominan: feodal dan kolonial. Teknik analisis data adalah sebagai berikut, (a) instrumen data: alat naratif, ungkapan khusus, proyeksi, dan konstruksi (b) mendeskripsikan instrumen data, (c) menafsirkan data, (d) kesimpulan. Hasil analisis adalah: (1) positioning pengarang (sebagai guru, pribumi, dan pegawai Balai Pustaka) berpengaruh terhadap pemilihan memori yang digunakan untuk mengkonstruksi narasi tentang dominasi dan kekuasaan, (2) narasi memori kolonialisme dalam lima novel dibangun melalui tiga cara: ditekan, dialihkan, dan bahkan dihapus, (3) suara-suara di balik narasi-narasi kolonialisme diekspresikan melalui jejak metaforis kekuasaan, kenangan pra-kolonial dan kolonial sebagai latar, dan marginalisasi pribumi.
PARALU TU MURI MADA (PERLU UNTUK HIDUP): METAFORA KONSEPTUAL NYANYIAN DI ATAS POHON LONTAR (Paralu Tu Muri Mada (Need it for Life): The Conceptual Metaphor of Songs on the Lontar Tree) Sine, Junaity Soften; Mata, Rosdiana
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.5284

Abstract

The oral singing tradition on the Lontar Tree while tapping the flowers of the Lontar Tree in Sabu Island is interesting to be investigated from its metaphorical language use – employing the Conceptual Metaphor Theory by Lakoff and Johnson. Therefore this study investigated (1) the conceptual metaphor mapping; (2) the cultural-historical and social situation that triggers the metaphorical language; and (3) the local wisdom values reflected in the songs. A qualitative approach with ethnography design was applied to the interview, observation, and documentation of six farmers on the Island of Sabu. It found (1) eight conceptual metaphor mappings, namely people are plants, plants are people, people are animals, social relations are containers, happiness is cold river, people are machine, manner is taste, and marriage is a sea journey; (2) contextual factors: history and belief of the local people, flora and fauna from daily life, a sea community of people, and people who travel; (3) local wisdom values: normative values: advice for love and family relation, respect and care for the Lontar Tree, and historical values.  Tradisi menyanyi di atas Pohon Lontar ketika menyadap nira di Pulau Sabu menarik untuk diteliti dari sisi penggunaan kata-kata dalam syair lagu secara metaforis – dengan Conceptual Metaphor Theory Lakoff dan Johnson. Penelitian ini menelisik (1) pemetaan metafora konseptual; (2) latar kultural-historis dan sosial penggunaan metafora konseptual; dan (3) nilai-nilai kearifan lokal yang muncul dalam syair lagu. Desain Etnografi dalam Pendekatan Kualitatif dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi terhadap enam subjek  penyadap nira di Pulau Sabu. Ditemukan (1) pemetaan 8 metafora konseptual yakni manusia adalah tanaman, tanaman adalah manusia, manusia adalah binatang, relasi sosial adalah wadah, kebahagiaan adalah sungai yang dingin, manusia adalah mesin, perilaku adalah cita rasa, dan pernikahan adalah perjalanan laut; (2) Latar penggunaan metafora konseptual: sejarah dan kepercayaan masyarakat, flora dan fauna dalam kehidupan keseharian, kehidupan yang dekat dengan laut, dan masyarakat yang merantau; (3)nilai-nilai kearifan lokal: nilai normative nasihat seputar percintaan dan keluarga, menghargai dan merawat Pohon Lontar, dan nilai historis. 
RESISTANSI PEREMPUAN DALAM BUDAYA PERTUNJUKAN JAWA TRADISIONAL (Women's Resistance in Traditional Javanese Performance Culture) Nirmalawati, Widya; Nurhayati, Sulasih; Wahyuningsih, Titik
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.3949

Abstract

Women in literary works were often presented as a representation of resistance to the their social, cultural and traditional backgrounds. This could also be seen in the novel Tonggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari. This study discussed the resistance of the female character in the novel to her patron-client practices. Using Scott’s patron-client theory, it was revealed that the resistance made by Srintil’s character as ronggeng against her patron, Ki Kartareja, was a rule from the ronggeng tradition that shackles her freedom as a human and a woman. Patron-cient relationships that initially worked out eventually led Srintil to fight back. The rules and prohibitions on falling in love, the desire to marry and having children ordered by Kartareja as a ronggeng shaman benefitted only for the men (the patriarchal culture) legitimated by culture led Srintil to rebel and resist in her own way. Perempuan dalam karya sastra sering dihadirkan sebagai representasi perlawanan terhadap kondisi sosial, budaya dan tradisi yang melatarbelakanginya. Hal tersebut juga terlihat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Penelitian ini akan membahas resistansi yang dilakukan tokoh perempuan dalam novel tersebut terhadap praktik patron-klien yang dijalaninya. Dengan menggunakan teori patron-klien dari Scott, terungkap bahwa resistansi yang dilakukan tokoh Srintil sebagai ronggeng terhadap patronnya, Ki Kartareja, merupakan penolakan Srintil terhadap aturan dari tradisi ronggeng yang membelenggu kebebasannya sebagai manusia dan perempuan. Relasi patron-klien yang awalnya berjalan dengan baik pada akhirnya menuntun Srintil untuk melawan. Aturan berupa larangan jatuh cinta, menikah, dan memiliki anak yang didengungkan oleh Kartareja sebagai dukun ronggeng hanya menguntungkan laki-laki yang terlegitimasi budaya. Hal tersebut membuat Srintil berontak dan melakukan resistansi dengan caranya sendiri.
VITALITAS BAHASA MORONENE DI KABUPATEN BOMBANA (Vitality of Moronene Language in Kabupaten Bombana) Firman, A.D.; Astar, Hidayatul; Nugroho, Mardi
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4551

Abstract

This study aimed to know the vitality of Moronene language in various social domain. Descriptive-quantitative was used to describe ten indicators which become elements of evaluation. In calculating the level of vitality, the SPSS program was used and percentage system was used in describing every indicator. Those quantitative data were synergized with the qualitative data from in-depth interview and observation. The result showed that average index of all indicators was at vitality figures of 0.54 which means Moronene language had a regression. That condition was caused by the high mobility of the speakers. Accessibility and transportation facilities were very good. The speakers of Moronene language can utter two languages or more, so that they have choice of using other languages. The plurality of social situation due to interethnic marriage. The number of documentations about Moronene language are relatively very limited. Moronene language was less used in neighbors, traditional ceremonies, and new media. Besides, the availability of teaching materials was very restricted. There was no also regulation about local language.    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui vitalitas bahasa Moronene dalam berbagai ranah sosial. Ancangan penelitian ini bersifat kuantitatif-desktiptif dengan menggunakan sepuluh indikator penilaian. Untuk menghitung tingkat vitalitas digunakan program SPSS dan untuk mendeskripsikan tiap indikator digunakan sistem persentase. Hasil pengolahan data kuantitatif tersebut disinergikan dengan pengolahan data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks secara rerata dari keseluruhan indikator berada pada angka vitalitas 0,54 dengan kategori mengalami kemunduran. Kondisi tersebut disebabkan oleh mobilitas penutur yang tinggi karena akses dan jalur transportasi yang sangat baik. Masyarakat penutur Moronene cenderung menguasai dua bahasa atau lebih sehingga masyarakat memiliki pilihan bahasa yang lain. Situasi sosial masyarakat yang majemuk menyebabkan terjadinya pernikahan antaretnis. Jumlah dokumentasi mengenai bahasa Moronene relatif sangat terbatas. Bahasa Moronene kurang digunakan dalam ranah tetangga, upacara adat, dan media baru. Selain itu, ketersediaan bahan ajar sangat kurang dan regulasi yang tidak ada. 
POLA STRATEGI KESANTUNAN DALAM INTERAKSI PERDAGANGAN DI WARUNG TRADISONAL (Politeness Strategy Patterns in Trade Interactions in Traditional Stalls) Andriyani, Anak Agung Ayu Dian; Raharjo, Yusuf Muflikh; Putri, I Gusti Ayu Vina Widiadnya
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.3986

Abstract

This study aims to find politeness strategy patterns in Trade Interactions in Traditional Stalls n the interaction between sellers and buyers in traditional stalls. This study used a qualitative descriptive method, a pragmatic equivalent approach by paying attention to the context of the situation in each dialogue that occurs in traditional stalls in Denpasar City and Badung Regency. The method used in this study is the observation method with data collection techniques, namely, recording, listening, and taking notes, as well as interviewing traders. The results showed that there were implementations of positive and negative politeness strategies. Although traders prefer silence, there is no interaction by speaking verbally, when serving consumers, nonverbal interactions occur between speech participants. However, it does not reduce the value of politeness and the form of service from the seller to the buyer. This is due to the same background knowledge among the speech participants and the crowded context of the situation so that buyers understand this condition. Interactions in the trading domain in traditional stores predominantly use short, concise, straightforward speech, and when the shop is crowded, buyers speak more dominantly than sellers. This study implies that the politeness strategy used by the seller to the buyer is largely determined by the context of the situation when the interaction occurs. Although the speech is short, the service is fast, and according to the wishes of consumers, buying and selling interactions can run harmoniously. The contribution of this study can add to the treasures in the study of linguistic politeness. In addition, it is a guideline for language learners that the context of the situation has an important role in determining language politeness strategies. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola strategi kesantunan dalam interaksi perdagangan di warung tradisional pola kesantunan berbahasa pada interaksi antara penjual dan pembeli di warung tradisional. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, pendekatan padan pragmatik dengan memperhatikan konteks situasi dalam setiap dialog yang terjadi di warung tradisional di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi dengan teknik pengumpulan data yaitu, merekam, menyimak dan mencatat, serta mewawancarai para pedagang. Hasil penelitian menunjukkan adanya implementasi dari strategi kesantunan positif dan negatif. Meskipun pedagang lebih banyak memilih diam tidak terjadi interaksi dengan menuturkan secara lisan, ketika melayani konsumen, tetapi terjadi interaksi secara nonverbal di antara peserta tutur. Meskipun demikian, tidak mengurangi nilai kesantunan dan wujud pelayanan dari penjual kepada pembeli. Hal ini disebabkan oleh background knowledge di antara peserta tutur sama dan konteks situasi ramai sehingga pembeli memaklumi kondisi ini. Interaksi dalam domain perdagangan di warung tradisional secara dominan menggunakan tuturan pendek, singkat, tidak bertele-tele, dan ketika warung dalam kondisi ramai, pembeli lebih dominan bertutur dibandingkan penjual. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa strategi kesantunan yang digunakan penjual kepada pembeli sangat ditentukan oleh konteks situasi saat terjadinya interaksi. Meskipun tuturan singkat, tetapi pelayanan yang cepat sesuai keinginan konsumen interaksi jual beli dapat berjalan harmonis. Adapun kontribusi dari hasil penelitian ini dapat menambah khazanah dalam kajian kesantunan berbahasa. Di samping itu, menjadikan suatu pedoman bagi pembelajar bahasa bahwa konteks situasi memiliki peran penting dalam menentukan strategi kesantunan berbahasa.

Page 1 of 1 | Total Record : 10