cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kandai
ISSN : 1907204X     EISSN : 25275968     DOI : -
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Arjuna Subject : -
Articles 255 Documents
PERAHU DAN KUPU-KUPU: ANALISIS POSTMODERN LYOTARD TERHADAP CERPEN KARYA SENO “PERAHU YANG MUNCUL DARI BALIK KABUT” NFN Fitria
Kandai Vol 11, No 2 (2015): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.605 KB) | DOI: 10.26499/jk.v11i2.226

Abstract

Penelitian ini melakukan analisis Postmodern  Lyotard terhadap cerita pendek “Perahu Yang Muncul Dari Balik Kabut”karya Seno Gumira Ajidarma. Dengan menggunakan metode deskriptif ditemukan kepostmodernan cerpen yang terlihat bagaimana kisah perahu dan kupu dapat dijadikan sebagai tanda yang telah bergeser maknanya dari penanda ke petandanya, dari totalitas menjadi fragmentasi, dan dari permainan bahasa yang sublim. Perahu digambarkan hanya sebagai sebuah ’entertainer’ yang memunculkan fenomena dan menghibur banyak orang. Kemudian identitas waktu yang dimunculkan perahu hanya hadir setiap tanggal 0, bulan Teratai, tahun Rembulan yang menunjukkan identitas waktu yang tidak ada dalam kalender secara umum. Sementara itu keindahan kupu-kupu yang dihadirkan dalam cerpen ini dimaknai sebagai kupu-kupu malam. Kupu-kupu yang dihadirkan dalam cerpen ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja, yaitu kaum laki-laki yang seharusnya keindahannya dapat dinikmati oleh semua khalayak.
PERJUANGAN KESETARAAN GENDER TOKOH INTAN DALAM NOVEL ALUN SAMUDRA RASA KARYA ARDINI PANGASTUTI BN (Struggle of Intan Character for Gender Equality in Novel Alun Samudra Rasa by Ardini Pangastuti Bn) Sa'adatun Nuril Hidayah; Slamet Subiyantoro; Nugraheni Eko Wardani
Kandai Vol 15, No 2 (2019): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7139.67 KB) | DOI: 10.26499/jk.v15i2.1364

Abstract

Permasalahan kaum perempuan disebabkan oleh berbagai hal seperti hak dalam pengambilan keputusan, menunjukkan eksistensinya di ruang publik, hak memperoleh kesempatan bekerja, hak memperoleh pendidikan, serta masih banyak hal-hal yang membatasi ruang gerak perempuan untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan Perjuangan kesetaraan gender yang dialami oleh perempuan tergambar dalam karya sastra, Novel Alun Samudra Rasa mengangkat tentang perjuangan kesetaraan gender antara tokoh perempuan dan laki-laki. Penelitian ini menggunakan teori Feminisme. Teori Feminisme digunakan untuk mengkaji bagaimana bentuk perjuangan kesetaraan gender tokoh utama perempuan dalam novel tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif analisis. Sumber data penelitain berupa novel Alun Samudra Rasa karya Ardini Pangastuti Bn. Data penelitian berupa kata, frasa, kalimat dan wacana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk perjuangan kesetaraan gender yang ditemukan dalam novel yaitu peran publik dan produktif, kebebasan bagi perempuan dalam menentukan pilihan, ketegaran dalam menghadapi permasalahan hidup, dan perjuangan dalam menuntut keadilan hak-hak perempuan.(Women's problems are caused by various things such as rights in decision making, showing their existence in the public sphere, the right to get the opportunity to work, the right to education, and many things that limit women's movement to show their existence. This study aims to reveal the struggle for gender equality experienced by women illustrated in literary works, Novel Alun Samudra Rasa about the struggle for gender equality between female and male leaders. This research uses the theory of feminism. The theory of feminism is used to examine the form of the struggle for gender equality of the main female characters in the novel. The method used in this study is qualitative descriptive analysis. The research data source was Alun Samudra Rasa novel by Ardini Pangastuti Bn. Research data in the form of words, phrases, sentences and discourses. The results of this study indicate that the form of gender equality struggle found in the novel is the role of public and productive, freedom for women in making choices, determination in facing life problems, and struggle in demanding justice for women's rights.)
PENGGUNAAN BAHASA REMAJA DALAM KOLOM XPRESI (KOMEN FACEBOOKERS) KENDARI POS Ramlah Mappau
Kandai Vol 9, No 2 (2013): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.805 KB) | DOI: 10.26499/jk.v9i2.296

Abstract

Perhatian surat kabar Kendari Pos tidak hanya difokuskan pada salah satu kelompok umur, media ini telah menyediakan ruang khusus bagi remaja untuk menuangkan ide, pendapat yang biasa disebut dengan komen facebokers. Komen facebokers tidak menggunakan bahasa sebagaimana yang dapat diketahui secara umum, tetapi menggunakan bentuk-bentuk tertentu bagi kelompok tertentu sehingga memunculkan variasi bahasa. Metode yang digunakan untuk menjawab persoalan bagaimana variasi bahasa yang digunakan anak remaja di kolom komen facebokers adalah metode kualitatif dengan teknik simak-catat dengan tujuan mengungkapkan bentuk-bentuk bahasa remaja dalam kolom xpresi (komen facebookers)Kendari Pos. Data yang diperoleh dari surat kabar Kendari Pos (KP) pada bulan Maret 2011 berdasarkan hasil analisis data diperoleh sembilan bentuk-bentuk bahasa remaja, yaitu (1) pergantian huruf dengan angka, (2) pengekalan konsonan dengan pelesapan vokal baik sebagain atau seluruhnya, (3) penggantian huruf dengan huruf sebagai penanda pronomina, (4) penambahan huruf, (5) penggunaan huruf tunggal sebagai lambang kata tertentu, dan (6)  penggunaan kosa kata asing, (7) penggunaan tanda baca sebagai penanda morfem, (8) penggantian diftong, (9) pengekalan konsonan awal baik dengan perubahan maupun tanpa perubahan
MEDAN MAKNA AKTIVITAS TANGAN “MENYAKITI” DALAM VERBA BAHASA SUNDA (The Meaning Field of Hand “Hurting” Activity in Sundanese Verb) Emma Maemunah
Kandai Vol 15, No 2 (2019): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.686 KB) | DOI: 10.26499/jk.v15i2.1239

Abstract

Verba aktivitas tangan “menyakiti” dalam bahasa Sunda memiliki banyak leksem. Meskipun makna leksem aktivitas tangan “menyakiti” pada umumnya adalah memukul, fungsi semantis leksem-leksem tersebut berbeda bergantung pada komponen makna yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan komponen makna verba aktivitas tangan “menyakiti” dalam bahasa Sunda dan menjelaskan fungsi semantis medan makna verba aktivitas tangan tersebut. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh dari sumber tertulis, yaitu Kamus Bahasa Sunda. Data berupa daftar kosakata (kognat) yang bermedan makna “menyakiti” dalam bahasa Sunda. Data dianalisis dengan teknik parafrase dan  pengklasifikasian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas tangan “menyakiti” dalam bahasa Sunda dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yakni berdasarkan komponen makna generik dan alat yang digunakan dan tiga subkelompok, yaitu aktivitas tangan menyakiti badan, aktivitas menyakiti kepala dan bagiannya, dan aktivitas menyakiti leher. Aktivitas tangan menyakiti badan sebanyak 24 leksem terdiri atas 14 leksem aktivitas menggunakan alat dan  10 leksem aktivitas menyakiti badan  tanpa menggunakan alat. Aktivitas menyakiti kepala dan bagiannya sebanyak 17 leksem terdiri atas 2 leksem aktivitas menyakiti kepala dan bagiannya menggunakan alat dan 15 leksem aktivitas tangan “menyakiti” kepala dan bagiannya tanpa  menggunakan alat. Leksem aktivitas tangan menyakiti leher terdiri atas 1 leksem aktivitas menyakiti leher menggunakan alat dan 2 leksem aktivitas menyakiti leher tanpa menggunakan alat.(Verbs of hand activities of "hurting" in Sundanese have many lexemes. Although the meaning of the lexemes of "hurting" in general is hitting, the semantic function of the lexemes differs depending on the component of meaning they have. This study aims to describe the component meaning of the hand activity of "hurting" in Sundanese and explain the semantic function of those hand activities. Data are obtained from written sources, namely the Dictionary of Sundanese Language. The data of this qualitative research with descriptive method is a list of vocabulary (cognate) based on the meaning of "hurting" in Sundanese. Data are analyzed by paraphrasing and classifying techniques. The analyses result shows that the hand activities of "hurting" in Sundanese could be divided into two groups, based on the components of generic meanings and the tools used and into three subgroups, namely hand activities of hurting the body, hand activities of hurting the head and its parts, and hand activities of hurting the neck. Tha hand activities of  hurting the body as much as 24 lexemes consist of 14 lexemes of activity using a tool and 10 lexemes of activity without using tools. The activities of hurting the head and its parts are 17 lexemes which consist of 2 lexemes are using tools and 15 lexemes are without using tools. The lexeme of hand activites hurting the neck consists of 1 lexeme using a tool and 2 lexeme without using tools.)
IKLAN POLITIK DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH BALI 2018: KAJIAN SEMIOTIKA (Political Advertisement of Bali Election: Semiotic Study) Sang Ayu Putu Eny Parwati
Kandai Vol 16, No 1 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i1.1406

Abstract

Penggunaan bahasa pada ranah politik sebagai sarana kampanye bertujuan untuk mempromosikan tokoh politik. Bahasa iklan politik biasanya berisi ungkapan dalam bentuk kalimat imperatif dan deklaratif. Selain itu, iklan politik juga menampilkan tanda-tanda nonverbal yang mengandung mitos yang berkembang di dalam masyarakat. Penelitian ini mengungkap masalah makna tanda pada iklan politik Pilkada Bali 2018 melalui kajian semiotika Ronald Barthes. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan secara lugas makna tanda verbal dan nonverbal pada iklan politik pada Pilkada Bali 2018. Metode yang digunakan adalah metode simak dengan didukung oleh teknik rekam dan catat. Kajian ini menemukan bahwa pesan tanda verbal dan konvensi-konvensi yang ditampilkan pada iklan pilkada 2018 yang ditulis oleh berbagai elemen masyarakat, baik sebagai pendukung pasangan calon maupun lembaga formal di Bali pada umumnya memiliki makna yang hampir sama, yakni bertolak dari sosiokultural dan sosioreligius masyarakat Bali pada umumnya, seperti penggunaan BS, BJK, dan aksara Bali yang pada intinya harapan yang ingin dicapai adalah kedamaian dan keharmonisan Bali pada umumnya. Pada sisi yang lain, makna tanda nonverbal dalam bentuk ilustrasi, logo, warna, dan tokoh yang memiliki kekuatan makna masing-masing yang bersumber pada mitos yang masih dipercaya oleh masyarakat Bali hingga saat ini, seperti tradisi Pengerebongan, warna putih, merah, dan hitam sebagai perlambangan warna dalam Trimurti, serta tokoh pahlawan nasional.The use of language in the political realm as a means of campaigning aims to promote political figures. The language of political advertising usually contains expressions in the form of imperative and declarative sentences. In addition, political advertising also displays nonverbal signs that contain myths that develop in society. This study revealed the problem of the meaning of the sign in the 2018 Bali regional election political advertising through the study of Roland Barthes's semiotics. The aim to be achieved in this research is to describe the meaning of verbal and nonverbal signs in political advertisements explicitly in the 2018 Bali regional election. The method used is the referral method supported by recording and recording techniques. This study found that the verbal signs and conventions displayed in the 2018 regional election advertisement written by various elements of society, both as supporters of the candidate pairs and formal institutions in Bali in general have almost the same meaning, namely from the sociocultural and socioreligious Balinese community in general, such as the use of BS, BJK, and Balinese script which is essentially the hope to be achieved is Balinese peace and harmony in general. On the other hand, the meaning of nonverbal signs in the form of illustrations, logos, colors, and characters who have the power of their respective meanings are based on myths that are still believed by the Balinese to this day, such as the tradition of Pengerebongan, white, red, and black as color symbolization in Trimurti, as well as national hero figures.
IDENTIFIKASI AHOK DAN PESAN SATIRE DALAM CERPEN “KORUPTOR KITA TERCINTA” KARYA AGUS NOOR (Identification of Ahok’s Character and Satire Message in The Short Story “Our Beloved Corruptors” by Agus Noor) Chafit Ulya
Kandai Vol 16, No 1 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i1.1797

Abstract

Lahirnya sebuah karya sastra tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial, budaya, ataupun politik yang melingkupinya karena sastra merupakan mimesis kehidupan. Dalam menyikapi persoalan korupsi, Agus Noor dalam karya cerpennya menghadirkan dimensi lain, yakni realitas korupsi dan aktor politik yang ada di dalamnya dengan muatan humor satire yang khas. Yang menjadi tujuan dalam penelitian ini ialah mendeskripsikan dan menjelaskan (1) indentifikasi sosok Ahok dalam cerpen KKT karya Agus Noor; (2) pesan satire dalam cerpen KKT karya Agus Noor.Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif-kualitatif dengan pendekatan mimesis sastra. Sumber data berupa buku kumpulan cerpen Lelucon Para Koruptor. Data diambil dengan teknik rekam-catat untuk selanjutnya dianalisis dengan model analisis interaktif. Dari hasil kajian, dihasilkan simpulan bahwa (1) Tokoh utama dalam cerpen KKT memiliki identifikasi yang erat dengan sosok Ahok. Identifikasi tersebut didasarkan pada peristiwa yang dialami tokoh dalam cerita dengan realitas Ahok serta melalui karakter keras, lugas, berani, dan bicara ceplas-ceplos apa adanya. (2) Pesan satire dalam cerpen digunakan sebagai media kritik oleh pangarang terhadap realitas korupsi yang dilakukan para koruptor. Pesan satire digunakan oleh pangarang sebagai media alternatif dalam menyampaikan kritik tentang korupsi melalui guyonan “asem” yang segar nan miris.An art work is strongly related to social context, culture, or politic because it reflects the condition of life. For example, in responding corruption problem, Agus Noor in his literary works shows other dimensions such as the reality of corruption and political actors involved inside with the touch of a unique satire humor. The main purpose of this study was to describe and explain (1) the identification of Ahok’s character in the short story “Koruptor Kita Tercinta” (KKT) by Agus Noor; (2) the satire message in short story KKT by Agus Noor. The method used in this study was  descriptive-qualitative method with the main data source was taken from the short story collection  entitled Jokes of The Corruptors. The data were taken by using “recording-noting” technique to be further analyzed using analysis-interactive model. From the study, there were some conclusions: (1) the main character in the short story jokes of the corruptors has a strong identification with Ahok. That identification was based on the  act experienced by the main character in the story which was compared with the reality and also through some characteristics described such as assertive, straightforward, to be brave, and to speak frankly. (2) The satire message contained in the short story was used as the media of critic by the author toward the corruption reality in Indonesia. Satire message was used by the author as an alternative way in conveying critics on corruption in a fresh and ironic way.
MEMORIZING PROPAGANDA OF EQUALITY IN NGULANDARA AND KIRTI NDJOENJOENG DRADJAT, NOVELS OF BALAI POESTAKA (Mengingat Kembali Propaganda Kesetaraan dalam Novel-Novel Balai Poestaka, Ngulandara dan Kirti Ndjoenjoeng Dradjat) Yohanes Adhi Satiyoko
Kandai Vol 16, No 1 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i1.1410

Abstract

Equality of men is a great issue to maintain every country all the time. Indonesia is one of them which should struggle to maintain it so far. Fictional work is one of the aesthetical means to support it. The way of struggle can be memorized through the time of independence era in fictional works of Balai Poestaka publisher. Javanese language novels, Ngulandara and Kirti NdjoendjoengDradjat are two literary works published by BalaiPoestaka that were written in the dominance times of Balai Poestaka activities as commission for people’s reading in Dutch colonial era in Indonesia (Dutch Indies). Kepriyayian (nobility) was the theme of Ngulandara (1936) and Kirti NdjoendjoengDradjat(1924) novels. As seen from propaganda point of view, ideologically the portrayal of priyayi (nobleman) was analogy symbol of Dutch colonial government that ruled social system. Ngulandara and Kirti Njunjung Drajat showed a “struggle” through literary works as portrayed in wong cilik (Javanese: lower class people) who struggled against the existence of the authorities. The struggle emerged in the way of wong cilik behaved intellectually, morally, even mannerly better than the nobles (priyayi). This research used the theory of literature and propaganda using a sociological approach. Those oppositional relationships between deconstruction nobles and the raise of wong cilik in the field of intellectual, moral, and manner show the propaganda of equality of men through the voice of Jasawidagdo and Margana Djajaatmadja.Kesetaraan manusia merupakan isu besar yang harus selalu dijaga di setiap negara. Indonesia adalah salah satu negara yang harus tetap berjuang menjaga isu tersebut. Karya fiksi berfungsi sebagai salah satu peranti estetis untuk mendukung isu tersebut. Cara memperjuangkan isu tersebut ialah dengan mengingat kembali masa kemerdekaan melalui penerbit Balai Poestaka. Novel-novel berbahasa Jawa, Ngulandara dan Kirti Ndjoendjoeng Dradjat ialah dua karya sastra yang diterbitkan oleh Balai Poestaka yang ditulis pada waktu dominasi Balai Poestaka sebagai komisi bacaan rakyat di era kolonial Belanda di Indonesia (Hindia Belanda). Kepriyayian merupakan tema novel Ngulandara (1936) dan Kirti Njoendjoeng Dradjat (1924). Dilihat dari sudut pandang propaganda, penggambaran priyayi merupakan analogi simbol pemerintah kolonial Belanda yang berkuasa mengatur sistem sosial kemasyarakatan. Ngulandara dan Kirti Ndjoendjoeng Dradjat menunjukkan sebuah “perjuangan” melalui karya sastra seperti digambarkan melalui wong cilik yang berjuang melawan kemapanan penguasa. Perjuangan tersebut muncul dengan cara wong cilik tersebut bertindak secara intelektual, bermoral, bahkan bersikap lebih terhormat daripada para priyayi. Penelitian ini menggunakan teori sastra dan propaganda dengan pendekatan sosiologi. Relasi oposisional antara dekonstruksi priyayi dan bangkitnya wong cilik dalam ranah intelektual, moral, dan sikap menunjukkan propaganda kesetaraan manusia melalui suara Jasawidagdo dan Margana Djajaatmadja.  
ELEMENTARY SCHOOL TEACHERS ABILITY IN WRITING INDONESIAN LANGUAGE SENTENCES STRUCTURE (Kemampuan Guru Sekolah Dasar dalam Menulis Struktur Kalimat Bahasa Indonesia) Apri Damai Sagita Krissandi
Kandai Vol 16, No 1 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i1.1260

Abstract

This research aims to describe the Mahakam Ulu District elementary school teachers ability in writing sentence structure of Indonesian language. This research is adescriptive qualitative research. The subject of this study consisted of 20 elementary school teachers in Mahakan Ulu District. The data were collected by surveys. The instrument was in the form of an instruction to make three sentences with structure of: 1) S-P-O; 2) S-P-O-K; 3) K-S-P-O. The data validity was obtained trough triangulation. The results show that the writing ability of teachers in Mahakam Ulu, East Kalimantan is still lacking. This can be seen from the conformity of the sentences produced with the instructions given. The sentences that correspond to the instructions are 36.7%, while the percentage of sentences that do not correspond to the instructions is 63.3%. The instruction is to make sentences with S-P-O, S-P-O-K, and K-S-P-O patterns. Sentences correspond to the S-P-O pattern are 55%, while the percentage of sentences that do not correspond to the S-P-O pattern is 45%. The sentences correspond to the S-P-O-K pattern are 30%, while the sentences that do not correspond to the S-P-O-K pattern are 70%. The sentences correspond to the K-S-P-O pattern are 25%, while the sentences that do not correspond to theK-S-P-O pattern are 75%. Errors made by teachers are: 1) errors in objectfunction; 2) errors in adverbfunction; 3) errors in complementfunction; and 4) errors in punctuations, prepositions, and dictions.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan menulis guru SD Kabupaten Mahakam Ulu dalam menulis struktur kalimat bahasa Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitiatif deskriptif. Strategi pengumpulan data menggunakan survei. Subjek penelitian ini terdiri atas 20 orang guru SD Kabupaten Mahakan Ulu. Instrumen penelitian berupa soal. Instrumen soal berupa perintah membuat tiga kalimat dengan struktur: (1) S-P-O; (2) S-P-O-K; (3) K-S-P-O. Keabsahan data diperoleh dengan menggunakan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menulis guru-guru Mahakam Ulu, Kalimantan Timur masih tergolong kurang. Hal ini dapat dilihat dari kesesuaian kalimat-kalimat yang diproduksi dengan instruksi yang diminta. Kalimat yang sesuai instruksi sebanyak 36,7%, sedangkan persentase kalimat yang tidak sesuai dengan instruksiberjumlah 63,3%. Persentase kesesuaian kalimat dengan pola (1) adalah 55%, sedangkan kalimat yang tidak sesuai dengan pola sebanyak 45%; persentase kesesuaian kalimat yang sesuai dengan pola (2) adalah 30%, sedangkan yang tidak sesuai adalah 70%; persentase kesesuaian kalimat yang sesuai dengan pola (3) berjumlah 25%, sedangkan yang tidak sesuai berjumlah 75%. Kesalahan yang dilakukan para guru meliputi kesalahan fungsi objek, kesalahan fungsi keterangan, kesalahan fungsi pelengkap, dan 4) kesalahan tanda baca, kata depan, dan diksi.
MAKIAN BAHASA WAKATOBI DIALEK KALEDUPA (Invective Wakatobi Language Kaledupa Dialect) NFN Susiati
Kandai Vol 16, No 1 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i1.1413

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis makian bahasa Wakatobi dialek Kaledupa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan metode observasidengan teknik observasi partisipatif moderat, teknik rekam, dan teknik catat. Data dianalisis secara deskriptif sesuai dengan teori makianWijana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis makian bahasa Wakatobi dialek Kaledupa ada lima belas, yakni (1) makian yang bertalian dengan agama/kepercayaan; (2) makian yang bertalian dengan gaib; (3) makian yang bertalian dengan kelamin; (4) makian yang bertalian dengan bagian tubuh; (5) makian yang bertalian dengan fungsi tubuh; (6) makian yang bertalian dengan bentuk tubuh; (7) sinonim kata bodoh; (8) makian yang bertalian dengan nama binatang; (9) makian yang bertalian dengan nama orang dungu; (10) makian yang bertalian dengan kekerabatan; (11) makian yang bertalian dengan profesi rendah; (12) makian yang bertalian dengan suku/etnis; (13) makian yang bertalian dengan  asal daerah terpencil; (14) makian yang bertalian dengan benda abstrak; (15) makian yang bertalian pada penyakit yang menjangkiti subjek. Berbagai jenis makian tersebut ditemukan dalam bentuk piranti linguistik seperti kata, frasa, dan bentuk gramatikal.This study aimed to describe the inverse type of Wakatobi Kaledupa dialect. This research was a qualitative research. Data were collected using observation methods with moderate participatory observation techniques, recording techniques, and note taking techniques. Data were analyzed descriptively according to Wijana's. The results showed that there were fifteen types of Wakatobi language dialects in the dialect, namely (1) invective related to religion/belief; (2) invective related to unseen; (3) invective related to sex; (4) invective relating to parts of the body; (5) invective relating to bodily functions; (6) invective relating to body shape; (7) synonym for the word stupid; (8) invective relating to the name of the animal; (9) invective relating to the name of an ignorant person; (10) invective related to kinship; (11) invective relating to low professions; (12) invective related to ethnicity; (13) invective relating to the origin of remote areas; (14) invective relating to abstract objects; (15) invective related to a disease that affects the subject. Various types of invective are found in linguistic devices such as words, phrases, and grammatical forms. 
SUBJEK PSIKOTIK DALAM CERPEN “KELUARGA M” KARYA BUDI DARMA (Psychotic Subjects in The Short Story “Keluarga M” by Budi Darma) Galih Pangestu Jati
Kandai Vol 16, No 1 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i1.1989

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan pergerakan subjek dalam cerpen “Keluarga M”. Selain itu, penelitian ini juga melihat subjektivitas Budi Darma. Adapun objek material yang digunakan di dalam penelitian ini adalah cerpen “Keluarga M” karya Budi Darma, sedangkan teori yang digunakan adalah teori mengenai subjek dan gaze atau tatapan yang dikembangkan oleh tokoh post-marxist, Slavoj Žižek. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Adapun hasil dari penelitian ini adalah subjek di dalam cerpen “Keluarga M” karya Budi Darma terus mengalami pergerakan. Ia terus-menerus berusaha untuk keluar dari dimensi simbolik dan sosial dan usaha ini pun berhasil. Subjek pun sempat mengalami lack dan mencoba untuk meraih yang imajiner. Akibatnya, subjek sempat mengalami sinis, yakni sadar melakukan hal yang salah, tetapi tetap ia lakukan. Selanjutnya, pada satu saat, subjek sempat masuk dalam momen kosong dan menjadi subjek psikotik karena bisa berjarak terhadap dimensi simbolik dan sosial. Namun, subjek hanya mampu bergerak sampai di situ, ia tidak mampu melakukan tindakan radikal apa pun. Subjek malah kembali kepada dimensi simbolik dan sosial. Kemudian, subjektivitas Budi Darma tampak dari kegagalannya dalam membentuk subjek radikal dan hanya membentuk subjek psikotik.This study aimed to explain the movement of the subject in a short story. In addition, this study also looked at the subjectivity of Budi Darma. The material object used in this study is the short story "Keluarga M" by Budi Darma, while the theory used is a theory about the subject and gaze developed by a post-marxist figure, Slavoj Žižek. The method used in this research is qualitative method. The results of this study showed that the subject in the short story "Keluarga M" by Budi Darma continues to experience movement. He constantly tried to get out of the symbolic and social dimensions and this effort was successful. The subject also had experienced lack and tried to reach the imaginary. As a result, the subject had experienced cynicism, which was conscious of doing the wrong thing, but still he did. Furthermore, at one time, the subject had entered in an empty moment and became a psychotic subject because it could be distance from the symbolic and social dimensions. However, the subject was only able to move there, he was unable to carry out any radical actions. The subject instead returns to the symbolic and social dimensions. Then, Budi Darma's subjectivity appeared from his failure to form a radical subject and only formed a psychotic subject.