cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kandai
ISSN : 1907204X     EISSN : 25275968     DOI : -
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Arjuna Subject : -
Articles 255 Documents
REFLEKSI REFORMASI PERILAKU MASYARAKAT DALAM CERPEN “KARANGAN BUNGA DARI MENTERI” KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA (Reflection on Community Behavior Reform in The Short Story “Karangan Bunga dari Menteri” by Seno Gumira Ajidarma) Ninawati Syahrul
Kandai Vol 16, No 2 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i2.1126

Abstract

Masalah yang diungkap dalam karya tulis ilmiah ini adalah bagaimanakah kritik sosial atas kebobrokan perilaku pejabat negara dan/atau anggota masyarakat yang terkandung dalam cerpen “Karangan Bunga dari Menteri” karya Seno Gumira Ajidarma? Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk mendeskripsikan kritik sosial atas kebobrokan perilaku pejabat negara dan/atau anggota masyarakat yang terkandung dalam cerpen “Karangan Bunga dari Menteri” karya Seno Gumira Ajidarma. Karya tulis ilmiah ini menggunakan metode deskriptif kualitatif interpretatif.  Dikaji menggunakan pendekatan sosiologi sastra dari tinjauan aspek sosial dan budaya. Data karya tulis ilmiah berupa teks narasi dan dialog dalam “Karangan Bunga dari Menteri” karya Seno Gumira Ajidarma. Teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka dengan cara menyimak dan mencatat pokok persoalan yang akan dikaji. Teknik analisis data menggunakan metode pembacaan heuristik dan hermeneutika. Hasil karya tulis ilmiah menunjukkan kritik sosial yang dimaksud adalah kritikan terhadap pemerintahan yang disajikan dengan cara yang cukup halus, tetapi terbuka. Dalam hal ini, pengarang melambangkannya dengan sosok seorang menteri yang sangat sibuk dengan urusan pekerjaannya sehingga menganggap undangan pernikahan yang dialamatkan kepadanya tidak penting. Dalam cerpen itu, tampak kepiawaian Seno Gumira Ajidarma dalam mengolah kritik sosial yang dibalut dengan alur cerita dan penokohan yang apik. Pengarang tampil sebagai sosok “hakim sosial kemasyarakatan” dalam merawat dan mengawal kehidupan masyarakat yang berbudaya. The problem revealed in this study is how is social criticism of the depravity of the behavior of state officials and / or members of the community itself contained in the short story "Garlands of Ministers" by Seno Gumira Ajidarma? This study aims to describe the social criticism of the depravity of the behavior of state officials and / or members of the community itself contained in the short story "Wreath of the Minister" by Seno Gumira Ajidarma. This study uses a descriptive qualitative interpretive method. The elaboration uses a sociological approach to literature from the viewpoint of social and cultural aspects. The research data are in the form of narrative texts and dialogues in "Garlands of Ministers" by Seno Gumira Ajidarma. Data collection techniques using literature study by listening and noting the main issues that will be decomposed. Data analysis techniques used heuristic and hermeneutic reading methods. The results showed that the social criticism concerned was criticism of government presented in a fairly subtle, but open way. In this case the author symbolizes it with the figure of a minister who is so busy with his work affairs that he considers the marriage invitation addressed to him unimportant. In this short story, Seno Gumira Ajidarma's expertise in processing his social criticism was wrapped with neat storylines and characterizations. The author appears as a figure of "social social judge" in caring for and guarding the life of a civilized society.
RELEVANSI EFIKASI DIRI TOKOH IDROES MOERIA DALAM NOVEL GADIS KRETEK UNTUK PEMBELAJARAN KEWIRAUSAHAAN (Self-Efication Relevance of Idroes Moeria in Novel Gadis Kretek for Entrepreneurship Learning ) Nadya Rizqi Hasanah Devi; Else Liliani
Kandai Vol 16, No 2 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i2.2123

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji novel Gadis Kretek sebagai pembelajaran kewirausahaan. Metode penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan strukturalisme naratologi AJ Greimas digunakan untuk mengkajinya dengan teori psikologi efikasi diri pada tokoh Idroes Moeria. Hasil penelitian menunjukkan proses efikasi diri yang positif karena Idroes Moeria mampu menghadapi  pengalaman yang sulit dan menantang dalam perjalanan usahanya. Ida juga pintar mempelajari pengalaman orang lain. Suasana hati  buruk tidak  menjadi halangan karena ia memiliki lingkungan keluarga yang mendukung usahanya. Berdasarkan pendekatan naratologi AJ Greimas terlihat bahwa tindakan Idroes Moeria sebagai subjek telah menerima kesuksesan dari bisnis kretek sebagai objeknya. Pada aktan sender yang merupakan keinginannya untuk berwirausaha dimudahkan dengan persuasi verbal dan suasana hati yang baik sebagai helper. Opposant yang merupakan penghalang dengan berbagai pengalaman yang menantang dapat diatasi oleh Idroes Moeria dengan mudah.  Proses efikasi diri  menumbuhkan karakter yang dapat menunjang keberhasilan berwirausaha, seperti percaya diri, berani mengambil risiko, berorientasi pada hasil dan masa depan, berani berinovasi. Cara Idroes Moeria menjalankan usaha juga dapat menjadi pelajaran seperti strategi branding produk dan pemasaran.This study aims to examine the novel Kretek Girls as learning of entrepreneurship. A descriptive qualitative research method using AJ Greimas's narratology structuralism approach was used to study the psychological self-efficacy theory of Idroes Moeria character. The results showed a positive self-efficacy process because Idroes Moeria was able to deal with difficult and challenging experiences in their business journey. Ida is also good at learning other people's experiences. A bad mood is not an obstacle, because he has a family environment that supports his business. Based on AJ Greimas's narratology approach, the actions of Idroes Moeria as a subject have received success from the kretek business as its object. The sender act which is his desire to become entrepreneurs is facilitated by verbal persuasion and a good mood as a helper. Opponents that are a barrier with a variety of challenging experiences can be overcome by the Idroes Moeria easily. The process of self-efficacy fosters character that can support entrepreneurial success, such as self-confidence, risk-taking, results-oriented, and future-oriented, bold innovation. How to run a business can also be lessons like product branding and marketing strategies.
FENOMENA CAMPUR KODE DALAM NOVEL METROPOP ANTOLOGI RASA KARYA IKA NATASSA (Mixed-codes Phenomenon in the Metropop Novel of Antologi Rasa by Ika Natassa) Tania Intan; Vincentia Tri Handayani
Kandai Vol 16, No 2 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i2.1285

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengungkap fenomena campur kode di dalam novel Antologi Rasa karya Ika Natassa dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan sosiolinguistik. Kerangka konsep penelitian ini dilandasi oleh referensi teoretis yang mengaitkan sosiolinguistik, bilingualisme-plurilingualisme, dan alih kode-campur kode. Dari data yang dikumpulkan, terdapat wujud campur kode berupa (1) penyisipan kata yang kemudian dibagi atas kelas kata, yaitu nomina, adjektiva, konjungsi, dan interjeksi, (2) penyisipan frasa berupa frasa nominal, frasa preposisional, dan frasa adjektival, (3) penyisipan baster, (4) penyisipan klausa, dan (5) penyisipan idiom. Penelitian juga menunjukkan bahwa para tokoh dan narator di dalam novel Antologi Rasa, yaitu: Keara, Harris, dan Ruly, ditampilkan sebagai sosok-sosok muda metropolitan bilingual yang secara aktif dan konsisten menggunakan kombinasi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Para tokoh, terutama Keara dan Harris, tampak sangat leluasa mempraktikkan campur kode, baik saat berbicara dengan tokoh-tokoh lain, maupun ketika bertutur di dalam hati. Penggunaan campur kode dapat dianggap menunjang kategorisasi dan labelisasi novel Antologi Rasa sebagai sebuah karya metropolitan-populer (metropop).This research was conducted to uncover the phenomenon of code mixing in the Ika Natassa’s novel of Antologi Rasa by using descriptive qualitative method and sociolinguistic approach. The frame of research concept  is based on theoretical references that relate sociolinguistics, bilingualism-plurilingualism, with code-mixed-code switching. From the data collected, there are mixed codes in the form of (1) word insertion which is then divided into word classes, namely nouns, adjectives, conjunctions, and interjections, (2) insertion of phrases in nominal phrases, prepositional phrases, and adjunctival phrases, (3) baster insertion, (4) clause insertion, and (5) idiom insertion. The research also shows that the characters and narrators in the novel of Antologi Rasa, namely: Keara, Harris, and Ruly, are shown as bilingual metropolitan young figures who actively and consistently use a combination of Indonesian and English to communicate. The characters, especially Keara and Harris, seem very free to practice code mixing, both when talking to other characters and speaking inwardly. The use of mixed code can be considered to support the categorization and labeling of the Antologi Rasa novel as a popular metropolitan work.
VITALITAS BAHASA TOLAKI DI KOTA KENDARI (The Vitality of Tolaki Language in Kendari) Firman A.D.; NFN Asri; NFN Sukmawati
Kandai Vol 16, No 2 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i2.2188

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui vitalitas bahasa Tolaki dalam berbagai ranah sosial. Penelitian itu berancangan kuantitatif-desktiptif dengan menggunakan dua belas indikator penelitian. Untuk mengetahui tingkat vitalitas, digunakan perhitungan frekuensi dan persentase dengan menggunakan program SPSS. Hasil pengolahan data kuantatif tersebut disinergikan dengan pengolahan data kualitatif yang diperoleh dari wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks rerata dari keseluruhan indikator berada pada angka 0,42% dengan kategori mengalami kemunduran. Namun, angka tersebut hampir mendekati posisi terancam punah. Hal tersebut didukung oleh mobilitas penutur dan etnis Tolaki ke daerah lain termasuk tinggi karena akses dan jalur transportasi yang sangat baik. Masyarakat penutur bahasa Tolaki cenderung dwibahasawan. Dalam berbagai ranah sosial, bahasa Tolaki tidak atau jarang dipergunakan. Masyarakat masih lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia. Jumlah dokumentasi mengenai bahasa Tolaki relatif sudah banyak, tetapi banyak yang belum mengetahui hasil dokumentasi tersebut karena tidak tersebar secara merata. Masyarakat Tolaki cenderung memiliki sikap positif terhadap bahasanya. Mereka merasa bangga dan menganggap bahasa Tolaki masih lebih penting dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain. Selain itu, mereka juga menghargai penutur bahasa lain dan keberadaan bahasa lain di Kendari.This research aimed to know the vitality of Tolaki language in all social domains. This was descriptive-quantitative research by using twelve research indicators. Frequency and percentage determination using SPSS program was applied to find out the level of vitality. Then, those quantitative data were synergized with the qualitative data from in-depth interview. The results showed that the average index of all indicators was 0.42% with the category is in decline. However, that number of percentages was nearing extinction. It appears as the mobility of native speakers and Tolakinese people to other regions is high since the transportation access and routes are excellent.Tolakinese people tend to be bilingual. In any social domains, Tolaki language is not or rarely used. People prefer using Indonesian. Actually, there are many documentations regarded to Tolaki language, yet many still do not know about them as they are not evenly distributed. Tolakinesspeople tend to have a positive attitude towards their language. They are proud and assume that Tolaki language is still more important than other languages. Furthermore, they also respect to the speakers of other languages and the existence of other languages in Kendari.
FILOSOFI MASYARAKAT KERINCI DALAM KENDURI SKO (Philosophy of Kerinci Community in Kenduri Sko) Ricky Aptifive Manik
Kandai Vol 17, No 1 (2021): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v17i1.2240

Abstract

Kenduri Sko merupakan tradisi lisan masyarakat Kerinci yang masih dipertahankan sampai saat ini karena mengandung nilai-nilai filosofi sebagai praktik sosialkultural masyarakatnya. Oleh sebab itu, tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan filosofi masyarakat Kerinci yang terdapat di dalam tradisi kenduri sko. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, yaitu wawancara mendalam dengan pemangku adat dan ahli bahasa, serta membaca literatur yang relevan. Observasi partisipasi akan dilengkapi dengan alat rekam dan kamera sebagai dokumentasi. Selisik data menggunakan konsep falsafah ABS-SBK. Hasil selisik dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kenduri Sko adalah prosesi pengukuhan gelar adat yang dilaksanakan pada saat habis penen. Adapun filosofi masyarakat Kerinci dalam Kenduri Sko, yaitu1) filosofi keagamaan yang mewujud dalam bentuk ungkapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan karena telah memberikan hasil panen sebagai sko; 2) filosofi kemanusiaan terimplementasi dalam ucapan syukur kepada Tuhan dan kepada leluhur yang telah memberikan sko ico pakai berupa tanah dan gelar adat, serta bagaimana nilai-nilai kemanusiaan itu dipraktikkan seperti menghargai, mengasihi, bekerja sama, dan menolong orang lain; 3) filosofi demokrasi dan musyawarah yang terimplementasi dalam pemberian gelar adat dengan sistem kerapatan; 4) filosofi sosial kemasyarakatan yang mewujud dalam bentuk penghargaan, penghormatan kepada Tuhan dan leluhur, tenggang rasa dan menghormati orang lain dalam musyawarah, kerja sama, gotong royong, dan hidup rukun di dalam masyarakat.Kenduri sko is an oral tradition of the Kerinci community which is still preserved today due to its philosophical values as the socio-cultural practice of the community. Therefore, this study aims to describe the philosophy of the Kerinci community in kenduri sko tradition. This study uses a qualitative method with data collection techniques using research instruments, namely in-depth interviews with traditional stakeholders, linguists, as well as reading relevant literature. Participant observation was conducted by using recording devices and cameras as documentation. Data of this study were analyzed using the philosophy of ABS-SBK. The result of this study shows that Kenduri Sko is a procession of the inauguration of traditional titles carried out at the end of harvest time. The philosophy of Kerinci community that appears in Kenduri Sko namely: 1) The religious philosophy which manifests in the form of expressions of gratitude and thanks to God for giving the harvest as sko; 2) The philosophy of humanity is implemented in gratitude to God and ancestors who have given sko ico pakai in the form of land and traditional titles, as well as how human values are practiced such as respecting, loving, cooperating, and helping others; 3) The philosophy of democracy and deliberation implemented in the granting of custom titles through the customary deliberation system; 4) The social community philosophy that manifests in the form of appreciation, respect for God and ancestors, tolerance and respect for others in deliberation, cooperation, and harmony of life in the community.
ANALISIS WACANA KRITIS MODEL FAIRCLOUGH DAN WODAK PADA PIDATO PRABOWO (Critical Discourse Analysis of Fairclough’ and Wodak’s Model Within Prabowo’s Speech) Erna Megawati
Kandai Vol 17, No 1 (2021): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v17i1.1551

Abstract

Banyak masyarakat ketika membaca berita di media tidak menggunakan kerangka berpikir kritis sehingga apa yang dibaca langsung saja diyakini atau dipercayai tanpa mempertanyakan kebenaran berita tersebut atau apa kepentingan di balik berita itu. Hal inilah yang menimbulkan pergolakan di masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis wacana meggunakan pendekatan kritis yaitu AWK model Fairclough dan model pendekatan sejarah Wodak. Metodologi penelitian ini berupa kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan dengan cara pencatatan kemudian dianalisis dengan model AWK Fairclough dan model Wodak. Sumber data diambil dari pidato Prabowo pada berita Tempo pada tanggal 14 Mei 2019 dan 12 April 2014. Unit analisis kajian ini berupa kosa kata dan struktur tata bahasa. Temuan penelitian menunjukkan representasi, relasi dan identitas yang ada di dalam wacana pidato serta adanya hubungan sejarah dari wacana pidato tersebut.Most people do not think critically when they read news in a media so that they tend to directly believe it without questioning the truth or what interest may lay beyond it. This is what causes upheal in society.  The goal of this research is to analyze discourses using critical approach such as CDA model Fairclough and DHA Wodak. The methodology of research was descriptive qualitative. Data is collected using noting technique an analyzed by CDA model Fairclough and DHA Wodak. the source data was taken from Prabowo’s speeches at 14 Mei 2019 and 12 April 2014. The unit being analyzed was vocavuaries and grammar. The findings show representation, relation, and identity within the speeches and the historical relation among those speeches.
GRAMMATICAL SHIFTING OF DETERMINER PHRASE IN TRANSLATION OF DRAMA MACBETH AS THE RESULT OF USING TRANSLATION TECHNIQUE (Perubahan Struktur Gramatikal Frasa Determiner dalam Teks Terjemahan Drama Macbeth sebagai Dampak Penggunaan Teknik Penerjemahan) Firda Zuldi Imamah; Agus Subiyanto
Kandai Vol 17, No 1 (2021): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v17i1.2228

Abstract

”Macbeth” is one of Shakespeare’s works that has deeper conceptual references to expression. Those expression were well delivered in the determiner phrases. The translation techniques use gave impact to the grammatical shift of the phrases. This study aims to discuss the patterns of grammatical structure shift that happened on the translation of determiner phrases in the drama “Macbeth” as the impact of using certain translation techniques. This study is a descriptive qualitative research. The data are 50 determiner phrases and their translated version in Bahasa Indonesia. Those data are taken from an English drama manuscript the source text, and the target text are retrieved from the translated version. The result shows that there are three forms of grammatical shift which are omission, addition and the shift of source language adjunct. These shifts were generally caused by different grammatical system of the two languages and specifically caused by the use of thirteen translation techniques. The techniques include adaptation, compensation, reduction, particularization, generalization, established equivalent, modulation, calque, transposition, amplification, linguistic amplification, discursive creation, and linguistic compression. The techniques that caused omission are reduction, linguistic compression, transposition, adaptation and particularization. The addition was caused by amplification, modulation, generalization, and amplification technique. The technique that caused the shift of adjunct is discursive creation.  “Macbeth” adalah salah satu karya sastra dari penulis Shakespeare yang memiliki penyampaian ekspresi yang memiliki referensi konseptual yang kompleks. Ekspresi tersebut salah satunya ada dalam frasa determiner. Penggunaan teknik penerjemahan cukup memengaruhi perubahan struktur gramatikal frasa determiner. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola pergeseran struktur gramatikal yang terjadi pada hasil terjemahan frasa determiner dalam drama “Macbeth” yang merupakan akibat dari dampak penggunaan teknik terjemahan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian merupakan 50 frasa determiner dan versi terjemahan Indonesianya. Data tersebut diambil dari naskah drama Bahasa Inggris sebagai teks bahasa sumber dan teks bahasa sasaran diambil dari versi terjemahannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga bentuk pergeseran tata bahasa yaitu pelesapan, penambahan dan perubahan bentuk adjung bahasa sumber. Pergeseran ini umumnya karena sistem tata bahasa yang berbeda dari dua bahasa dan secara khusus juga disebabkan oleh penggunaan tiga belas teknik terjemahan. Teknik-teknik tersebut meliputi adaptasi, kompensasi, reduksi, partikulasi, generalisasi, kesepadanan lazim, modulasi, kalke, transposisi, amplifikasi, kompilifikasi linguistik, kreasi diskursif, dan kompresi linguistik. Teknik yang menyebabkan penghilangan adalah reduksi, kompresi linguistik, transposisi, adaptasi, dan partikulasi. Bentuk penambahan disebabkan oleh teknik amplifikasi, modulasi, generalisasi, dan amplifikasi. Teknik yang menyebabkan perubahan bentuk adjung adalah kreasi diskursif.
CITRA PEREMPUAN DALAM KUMPULAN PUISI IBU MENDULANG ANAK BERLARI KARYA CYNTHA HARIADI (Women’s Image in Ibu Mendulang Anak Berlari Poetry Collection by Cyntha Hariadi) Anna Wandira; Alfian Rokhmansyah; Irma Surayya Hanum
Kandai Vol 17, No 1 (2021): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v17i1.1847

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap citra perempuan dalam kumpulan puisi Ibu Mendulang Anak Berlari karya Cyntha Hariadi, yang meliputi citra fisik, citra psikis, dan citra sosial perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif desktiptif. Data berupa kutipan-kutipan yang diduga mengandung citra perempuan. Data dikumpulkan dengan teknik baca dan catat. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis pembacaan retroaktif (hermeneutik) untuk memperoleh gambaran secara mendalam mengenai persoalan yang diangkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra fisik perempuan ditemukan pada 6 puisi. Citra fisik perempuan meliputi penggambaran organ biologis perempuan saat mengalami proses kehamilan, persalinan, serta menyusui anaknya. Citra psikis perempuan ditemukan pada 17 puisi. Citra psikis perempuan meliputi penggambaran perempuan yang mengalami keadaan psikis seperti merasa sedih, cemas, takut, gembira dan keadaan emosional lainnya. Citra sosial perempuan ditemukan pada 6 puisi. Citra sosial perempuan meliputi penggambaran perempuan sebagai makhluk sosial serta perannya dalam keluarga dan masyarakat.This study aimed to uncover the image of women in a collection of poems Ibu Mendulang Anak Berlari by Cyntha Hariadi, which includes physical images, psychological images, and social images of women. Descriptive qualitative research was used in this study. Data were quotations that allegedly contained images of women. Data collected by reading and note taking techniques. Data were analyzed by using a retroactive (hermeneutic) analysis technique to obtain an in-depth overview of the issues raised. The results showed that the physical image of women was found in 6 poems. Women’s physical image included the depiction of a biological female organ during the process of pregnancy, childbirth, and breastfeeding her child. Women’s psychic images were found in 17 poems. Psychic image of women included sportrayals of women who experience psychological states such as feeling sad, anxious, afraid, happy and othe remotional states. Women’s social image was found in 6 poems. Women’s social image included the depiction of women as social creatures and their role in the family and society.
REPRESENTASI ATAS PENGAKUAN KULTURAL MASYARAKAT PERANAKAN TIONGHOA INDONESIA DALAM NOVEL MISS LU KARYA NANING PRANOTO (Representation of the Cultural Recognition of Indonesian Chinese in Miss Lu by Naning Pranoto) Dwi Susanto
Kandai Vol 17, No 1 (2021): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v17i1.2370

Abstract

Miss Lu karya Naning Pranoto merupakan refleksi dan respons terhadap situasi sosial masyarakat Indonesia pasca-1998 atas pengakuan kultural etnik peranakan Tionghoa. Kajian ini bertujuan untuk menginterpretasikan tanggapan sosial teks Miss Lu atas situasi kultural-sosial di era pasca-Mei 1998 atau reformasi dengan prespektif sosiologi sastra. Data dalam penelitian ini adalah isi atau isu dari novel Miss Lu, latar sosial, dan biografi sosiologis Naning Pranoto. Teknik pengumpulan dilakukan dengan cara membaca dan mencatat informasi dari sumber data. Metode analisis data dilakukan dengan menghubungkan latar sosial, biografi pengarang, dan isi teks untuk melihat representasi dunia sosial yang dihadirkan novel. Hasil yang diperoleh adalah teks ini mewakili kelompok sosial moderat dan mencerminkan situasi sosial 2000-an. Teks ini juga menyuarakan dan mendukung hak dan pengakuan kultural kelompok yang termarginalkan, terutama peranakan Tionghoa-Indonesia. Jadi, teks ini merupakan interpretasi dari semangat reformasi atau Mei 1998.Miss Lu by Naning Pranoto represents the social situation of Indonesian society after the 1998s and provides an answer to the Chinese Indonesians' cultural recognition. This study aimed  to interpret the social responses of Miss Lu text on the socio-cultural situation in the post-May 1998 era or reformation through sociology literature perspective. The data in this study were the content or issues of the Miss Lu novel, social background, sociological biography of Naning Pranoto. The data were technically collected through reading and recording information from data sources. The data analysis method was carried out by linking the social background, author's biography, and text content to see the social mirror presented by the novel.  The result showed that this text portrays moderate social groups and reflects the social situation of the 2000s. This text also voices and supports the rights and recognition of the cultural of marginalized groups, especially the Chinese-Indonesian. Thus, this text is an interpretation of the heart of reform or May 1998.
DISKRIMINASI DAN RESISTENSI DIFABEL DALAM NOVELET RATNA INDRASWARI IBARHIM “BATU SANDUNG” (Discrimination and Resistance of Diffablein Ratna Indraswari Ibrahim “Batu Sandung”) Muhammad Rosyid Husnul Waro'i
Kandai Vol 17, No 1 (2021): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v17i1.2174

Abstract

Novelet Batu Sandung karya Ratna Indraswari Ibrahim merupakan salah satu karya sastra yang membahas tentang kaum difabel. Sebagai seorang difabel, Ratna menuliskan karya yang menggambarkan kehidupan sosial pengidap difabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bentuk-bentuk diskriminasi terhadap kaum difabel serta resistensi mereka. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teori sosiologi sastra Ian Watt. Teori ini mempercayai bahwa sastra mencerminkan realitas sosial. Dari hasil kajian yang telah dilakukan, novelet ini memotret dua bentuk diskriminasi terhadap kaum difabel, yaitu perhatian yang terlalu istimewa dan ketiadaan pengakuan akan kemampuan mereka. Untuk merespon diskriminasi tersebut, difabel melakukan dua resistensi yang berupa: menyembunyikan diri dan membuktikan kemampuan. Studi ini juga membuktikan bahwa difabel dalam Batu Sandung adalah individu yang mampu mengatasi diskriminasi sosial dengan membangun resistensi positif dalam bentuk kegigihan dan usaha untuk menampilkan kemampuan terbaik.Ratna Indraswari Ibrahim's Novelet Batu Sandung is one of the literary works that discusses the disabled people. As a person with a disability, Ratna wrote works that described the social life of people with disabilities. This study aims to uncover the forms of discrimination against people with disabilities and their resistance. This research uses a descriptive qualitative method by using Ian Watt’s sociological literature theory. This theory believes that literature reflects social reality. The result of this study is that this novelet portrays two forms of discrimination against people with disabilities, namely overly special attention and lack of recognition of their capabilities. To respond to this discrimination, the disabled perform two resistances in the form of: hiding herself and proving capability. This study also proves that the disabled in Batu Sandung is an individual who is able to overcome social discrimination by building positive resistance in the form of persistence and efforts to show her best capabilities.