cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kandai
ISSN : 1907204X     EISSN : 25275968     DOI : -
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Arjuna Subject : -
Articles 255 Documents
RUANG DAN IDENTITAS DALAM CERPEN “KEMERDEKAAN” KARYA PUTU WIJAYA (Space and Identity in “Kemerdekaan” Short Story by Putu Wijaya) Azizatur Rahma; Muhammad Nur Hanif
Kandai Vol 15, No 1 (2019): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.211 KB) | DOI: 10.26499/jk.v15i1.1289

Abstract

Kemerdekaan dapat menjadi sebuah konsep yang mengandung prasangka. Kemunculan prasangka tersebut bergantung pada identitas individu maupun kelompok. Identitas pun dipahami sebagai sebuah konstruksi ruang. Apabila kemerdekaan adalah milik suatu bangsa, maka semangat kolektivitas tersebut berupaya didekonstruksi dalam cerpen “Kemerdekaan” karya Putu Wijaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konstruksi ruang dan identitasserta terciptanya bangsa (nation) tanpa harus ada negara (nation-state) dalam cerpen tersebut. Sumber data berupa teks cerpen “Kemerdekaan”. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode analisis isi. Teori yang digunakan adalah teori ruang pascakolonial Sara Upstone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang dan identitas pascakolonial dalam cerpen "Kemerdekaan” ditampilkan secara oposisional sebagaimana konsep dasar orientalisme. Ruang dalam sangkar beroposisi dengan ruang luar sangkar. Hal tersebut akhirnya memengaruhi prasangka atas konsep kemerdekaan; di satu sisi sebagai“pembuangan” (alienasi) dan di sisi lain sebagai kebersamaan. Selanjutnya, hasil dari kemerdekaan dapat pula berbentuk bangsa (nation) secara konseptual, tidak harus selalu (nation-state) secara material.(Independency can be a concept which contains the prejudice. The emergence of prejudice depends on individual or group identity. The identity is conceived as a part of space construction. If independency belongs to a nation, then the collectivity zeal is trying to be deconstructed within “Kemerdekaan” short story by Putu Wijaya. This study aims to know the construction of space and identity and the creation of nation without having to have a nation state in the short story. The data source of this study is ”Kemerdekaan” short story. The study is qualitative research and contains analysis method. The teory that used is spatial theory by Sara Upstone. The results of the study indicate that postcolonial space and identity in  “Kemerdekaan” short story are displayed as oppositional, as basic orientalism concept. Space in a cage is an opposition of outside cage space. It affected prejudice over the concept of independence; on one hand as “exile” (alienation) and on the other hand as togetherness. Furthermore, the results of independence can also be in the form of a nation (nation) conceptually, not necessarily (nation-state) materially.)
KONSEPTUALISASI SIFAT DAN PERBUATAN DALAM METAFORA BERUNSUR TUBUH “TANGAN” PADA ALQURAN (Trait and Action Conceptualization in Metaphor of “Hand” at The Koran) Regi Fajar Subhan; Tajudin Nur; Tubagus Chaeru Nugraha
Kandai Vol 15, No 1 (2019): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.221 KB) | DOI: 10.26499/jk.v15i1.1287

Abstract

Makalah ini mendeskripsikan konseptualisasi sifat dan perbuatan yang terbentuk dari metafora di dalam Alquran. Pesan pada ayat Alquran tidak hanya dinyatakan secara eksplisit, tetapi ada juga yang dinyatakan secara implisit dengan menggunakan bahasa kiasan. Ayat-ayat dalam Alquran juga banyak mengimplisitkan konsep sifat dan perbuatan melalui metafora-metafora berunsur anggota tubuh yang salah satunya adalah tangan. Data disajikan secara deskriptif dengan pendekatan analisis semantik kognitif. Analisis tersebutdigunakan untuk melihat hubungan antara sistem konseptual dan struktur semantik yang terkandung dalam bahasa. Sumber data metafora berasal dari kitab suci Alquran. Setelah dilakukan analisis terhadap data, dapat disimpulkan bahwa konseptualisasi sifat terbentuk berdasarkan data metafora dengan ranah sasaran antara lain: sifat kikir, sifat pengasih, sifat benci, dan sifat berlebihan. Sedangkan konseptualisasi perbuatan terbentuk berdasarkan data metafora dengan ranah sasarannya antara lain: tindakan pemalsuan, tindakan maksiat, tindakan menyerang, tindakan menyentuh, dan tindakan pertanggungjawaban.(This paper describes the conceptualization of trait and action which formed by metaphors in the Koran. The messages in the Koranic verses are not only explicitly stated, but also those are implicitly stated using figurative language. The Koran also implicite many concepts of trait and action by metaphors with body elements, one of which is the hand. Data was analyzed by using cognitive semantics analysis. That approach was used to describe the relationship between conceptual systems and semantics structure contained in language. Source data is obtained from the Holy Koran. The conclusion is the conceptualization of trait is formed based on metaphorical data with the target domain, among others: miserly, giver, hate, and excessive. While the conceptualization of action is formed based on metaphorical data with the target domain, among others: forgery, immorality, assault, touch, and responsibility.)
SUNGAI, SAWAH, DAN SENGKETA: TINJAUAN EKOFEMINISME KARYA SASTRA BERLATAR ASIA TENGGARA (River, Rice Field, and Conflict: An Ecofeminist Reading of Fictions Set in Southeast Asia) Novita Dewi
Kandai Vol 15, No 2 (2019): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (999.101 KB) | DOI: 10.26499/jk.v15i2.1466

Abstract

Penelitian ini bertujuan menelisik persamaan dan perbedaan representasi sungai, sawah, dan sengketa dalam novel dan cerpen dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Meskipun sungai dan sawah menjadi simbol kekuatan sebagai pemberi kehidupan, tetapi keduanya juga merupakan situ perlawanan sebagian besar masyarakat Asia Tenggara, terutama pada masa-masa sulit ketika perempuan sering menjadi korban. Masalah penelitian adalah bagaimana sungai dan sawah serta keterlibatan perempuan ditampilkan pada enam karya yang berlatar di negara-negara dalam kawasan tersebut. Metode analisis konten digunakan dalam penelitian ini dengan perspektif teori ekofeminisme. Hasil penelitian menunjukkan adanya relasi erat antara perempuan dan alam yang direpresentasikan dengan keterlibatan dan kepedulian tokoh perempuan dalam merawat sungai dan sawah. Sebaliknya, tokoh laki-laki digambarkan seolah-olah tidak hirau pada keberadaan alam. Hal ini sekaligus menjadi representasi resistensi terhadap budaya patriarkat yang melakukan dominasi atas perempuan dan alam.(This study aims to explore the similarities and differences in the representation of rivers, rice fields, and disputes in novels and short stories from Indonesia, Malaysia, the Philippines, Cambodia, Thailand, and Vietnam. Although rivers and rice fields are symbols of strength as life-giving forces, they are also the sites of resistance for most Southeast Asian people, especially in difficult times when women are often victims. The research problem is how rivers, rice fields, and the involvement of women are depicted in six literary works set in the region. Content analysis method is applied in this study using ecofeminist theory as the standpoint. The analysis result shows that a close relationship between women and nature  which is represented by the involvement and care of women characters in caring for rivers and rice fields. Conversely, male figures are depicted as if they are not bothered by the existence of nature. This is  considered  as representation of resistance to patriarchal culture that has dominated women and nature.)
THE NEUTRALITY OF MAINSTREAM MEDIA IN REPORTING REJECTION OF #2019GANTIPRESIDEN (Kenetralan Media Arus Utama dalam Memberitakan Penolakan #2019Gantipresiden) NFN Aliurridha; Susana Widyastuti
Kandai Vol 15, No 2 (2019): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.437 KB) | DOI: 10.26499/jk.v15i2.1267

Abstract

The #2019gantipresiden movement was a new agenda of the opposition to win the 2019 presidential election. There were many rejections of these movements. The media reported these rejections with different language style so as to articulate their ideologies. The goal of this research is to explain the attitude of mainstream media toward the rejections of #2019gantipresiden and how ideology plays a role in discourse production. This research used CDA with the appraisal system approach to analyze linguistic features. The data in this research were taken from three different online news media, CNN Indonesia, Detik, and Kompas. The data of this research were collected by selected purposive sampling: three tops of news report were chosen in ‘Google search engine’ of each media. The data analysis was done through referential, substitutional and abductive inference method. The result shows that CNN and Kompas marginalize the #2019gantipresiden movement in reporting the rejection while Detik more neutral. CNN was more focused on describing the #2019gantipresiden movement by negative evaluation while others more focused on reporting the rejection. Furthermore, CNN used explicit, provocative, sharp and straightforward language styles; Detik used neutral, emphatic, careful, and objective language styles; Kompas used deep and clear analysis and more delicate language styles in reporting the rejection of the #2019gantipresiden movement.(Gerakan #2019gantipresiden adalah agenda baru pihak oposisi untuk memenangkan pemilihan presiden 2019. Ada banyak penolakan terhadap gerakan ini. Media memberitakan penolakan ini dengan gaya bahasa yang berbeda-beda mewakili ideologi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan sikap media online arus utama dalam memberitakan penolakan ini dan bagaimana ideologi berperan dalam praktik wacana. Penelitian ini menggunakan AWK dengan pendekatan sistem appraisal untuk menganalisis fitur-fitur linguistik. Data dalam penelitian ini diambil dari tiga media berita online (daring) yang berbeda, CNN Indonesia, Detik, dan Kompas. Data penelitian ini dikumpulkan dengan purposive sampling: tiga artikel teratas dipilih pada 'mesin pencari Google' dari masing-masing media. Data dianalisis menggunakan metode referensial, substitusi, dan abduktif inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CNN dan Kompas cenderung memarginalkan gerakan #2019gantipresiden dalam memberitakan penolakan sementara Detik lebih netral. CNN fokus dalam menggambarkan gerakan #2019gantipresiden dengan evaluasi negatif sementara yang lain lebih fokus pada pemberitaan penolakan. Selain itu, CNN menggunakan bahasa yang eksplisit, provokatif, tajam dan langsung; sementara Detik menggunakan bahasa yang lebih netral, empati, hati-hati, dan objektif; Kompas menggunakan analisis yang mendalam, jelas, dan lebih halus dalam memberitakan penolakan terhadap gerakan # 2019gantipresiden.)
KONFRONTASI IDEOLOGI, PERANAN TOKOH INTELEKTUAL, DAN PERANAN FORMATIF ANTOLOGI SAKSI MATA KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA (Ideological Confrontation, The Role of Intellectual Characters, and Formative Roles of Anthology Saksi Mata Written by Seno Gumira Ajidarma) Muhammad Rifa'ie
Kandai Vol 15, No 2 (2019): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.498 KB) | DOI: 10.26499/jk.v15i2.1647

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konfrontasi ideologi, peranan tokoh intelektual, dan peranan formatif antologi Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma. Jenis peneletian ini ialah deskriptif kualitatif. Pendekatan penelitian ialah sosiologi sastra dengan menggunakan teori hegemoni Antonio Gramsci. Pengumpulan data penelitian menggunakan teknik baca-catat. Teknik analisis data ialah model Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, konfrontasi ideologi pada Saksi Mata bertujuan untuk menyangkal ideologi militerisme, anarkisme, dan radikalisme, tetapi ideologi humanisme menjadi mediasi emansipasi Ajidarma terhadap insiden ketidakadilan manusia, sedangkan ideologi nasionalisme, etnonasionalisme, dan nativisme mampu eksis sebagai prasyarat untuk menyampaikan suara nasib korban kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia. Kedua, tokoh intelektual pada Saksi Mata diperankan oleh Ajidarma untuk menyampaikan peristiwa kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia. Ketiga, peranan formatif Saksi Mata sebagai antologi yang secara kritis tidak hanya berlaku sebagai dokumentasi peristiwa historis melainkan juga bermaksud untuk menghubungkan kondisi peristiwa historis tersebut sebagai upaya emansipasi.(The aim of this study is to explain the notions about ideological confrontation, the role of intellectual characters, and formative anthology in Saksi Mata, the anthology of short stories by Seno Gumirah Ajidarma. This study applied the descriptive qualitative design. The study also uses sociology of literature as the approach of the study with specialized implementation of hegemony theory by Antonio Gramsci. In order to get the precision data, the study applied note taking technique in data collection. The technique of data analysis was used Miles and Huberman model. The result of this study conclude to several notions as follows. First, ideological confrontation in Saksi Mata had an aim to refute the militarism, anarchism, and radicalism, while the notion of humanism become mediation of Ajidarma’s emancipation towards inequity incidents in society. Furthermore, nationalism, etnonationalism, and nativism are able to exist as the prerequisites, in order to convey the society regarding the voice of human rights violation victims. Second, intellectual characters in Saksi Mata were created by Ajidarma as the figure or message transmitter with the purpose to convey society regarding the human rights violation incidents. Third, Saksi Mata formative role as an anthology is critically not only valid as a historical documentation but also it intends to link the conditions of historical event as an emancipatory effort.)
EKSPRESI AMIR HAMZAH DAN CHAIRIL ANWAR DALAM PUISI-PUISI PERCINTAAN (The Expression of Amir Hamzah and Chairil Anwar in Romantic-Poetry) NFN Batmang
Kandai Vol 15, No 2 (2019): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.98 KB) | DOI: 10.26499/jk.v15i2.939

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep  kekasih dalam puisi Amir Hamzah “Dalam Matamu” dan puisi Chairil Anwar “Sajak Putih”  serta konsep pengkhianatan kekasih dalam puisi  “Kusangka” karya Amir Hamzah dan puisi  “Penerimaan” karya Chairil Anwar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Data penelitian diperoleh dengan observasi dan studi dokumen. Analisis data dilakukan dengan cara membandingkan puisi hipogram Amir Hamzah  dan puisi transformasi Chairil Anwar.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep kekasih dalam karya Amir Hamzah dan Chairil Anwar dipandang sebagai pembawa kebahagiaan, ketenteraman, keindahan, harapan, dan kemesraan dalam suasana romantis. Namun ekspresi kedua penyair berbeda. Penyair pertama cenderung demokratis karena memandang kekasih itu sebagai ibunya, sedangkan penyair kedua cenderung individualistis karena memandang kekasih sebagai urusan pribadi.  Kemudian, dalam memandang pengkhianatan kekasih, Amir Hamzah menganggapnya sebagai sesuatu yang membawa kekecewaan, kehancuran hati, dan rasa was-was sehingga sulit untuk dimaafkan, sedangkan Chairil Anwar memandangnya sebagai sesuatu yang realistis, harus diterima karena itu kenyataan hidup.(This study aims to examine the concept of lovers in the poem “Dalam Matamu” written by Amir Hamzah and “Sajak Putih” written by Chairil Anwar and the concept of betrayal of lovers in Amir Hamzah’s "Kusangka" and Chairil Anwar's "Penerimaan" poems. This study used  a type of qualitative research using a case study method. Source data was obtained by observation and study of documents. Data analysis were conducted  by comparing the poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar. The results showed that the concept of lover in the work of Amir Hamzah and Chairil Anwar was seen as a bearer of happiness, peace, beauty, hope, and intimacy in romantic situations. But, the expression of the two poets are different. The first poet tends to be democratic because he views the lover as his mother, while the second poet tends to be individualistic because he views lover as a private matter. Then, in view of betrayal of lovers, Amir Hamzah considers it as something that brings disappointment, heartbreak, and anxiety so that it is difficult to be forgiven, while Chairil Anwar sees it as something realistic, but should be accepted because it is a fact of life.)
KATEGORI FATIS DALAM BAHASA SASAK (Phatic Category in Sasak Language) Baiq Haula; NFN Wahya; Abu Sufyan
Kandai Vol 15, No 2 (2019): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.299 KB) | DOI: 10.26499/jk.v15i2.1268

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk kategori fatis, fungsi kategori fatis dalam komunikasi, dan distribusi kategori fatis dalam kalimat.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap bentuk dan fungsi kategori fatis dalam komunikasi serta distribusi kategori fatis dalam kalimat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian adalah film Sasak yang berjudul “Kanak Pondok” yang terdiri atas sembilan episode dengan judul yang berbeda-beda. Kajian teori yang digunakan adalah kategori fatis, bentuk kategori fatis, dan fungsi kategori fatis. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan tujuh belas data, yaitu “lah”, “aro”, “keh”, “woi”, “nah”, “eh”, “dong”, “yaok”, “jak”, “wah”, “pak”, “anih”, “segerah”, “lillah”, “allahuakbar”, “assalamu’alaikum”,  dan “astagfirullah”. Terdapat tiga bentuk kategori fatis yang ditemukan, yaitu partikel, kata, dan frasa fatis. Bentuk kategori fatis tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda ketika digunakan dalam komunikasi, seperti menyatakan sebuah kekesalan, ketidakpercayaan, penekanan terhadap sesuatu, memulai pembicaraan, mengukuhkan suatu pembicaraan agar tetap berlangsung, penolakan, menekankan kesalahan mitra tutur, keheranan, pembuktian, ketidakmungkinan, kesungguhan, dan kekagetan. Dalam distribusinya dalam kalimat, kategori fatis menempati posisi di awal, di tengah, dan di akhir kalimat.(The problem in this research is how the form of the phatic category, function of the phatic category in communication, and distribution of the phatic category in sentences. The study aims to describe the phatic category in Sasak language,  function of phatic category in Sasak language, and distribution of phatic category in Sasak language. The method used in this study is a qualitative descriptive. The data source is Sasak film entitled “Kanak Pondok” and the data taken from nine episodes with different titles. Based on the results of the study, there are seventeen data, which are “lah”, “aro”, “keh”, “woi”, “nah”, “eh”, “dong”, “yaok”, “jak”, “wah”, “pak”, “anih”, “segerah”, “lillah”, “allahuakbar”, “assalamu’alaikum”, and “astagfirullah”. There are three forms of phatic category, they are particles, word, and phrases phatic. The phatic categories have different functions when used in communication, such as said pique, distrust, emphasis on something, start a conversation, maintain the conversation, rejected, emphasize the partner mistakes, amazement, proof, impossibility, sincerity, and shock. The distribution of phatic categories was in the beginning, middle, and the end of the sentence.)
KONSEPTUALISASI PANCASILA DALAM METAFORA BAHASA INDONESIA: SEBUAH KAJIAN AWAL (Conseptualization of Pancasila in Indonesian Metaphor: An Early Study) Bakdal Ginanjar; Chattri Sigit Widyastuti
Kandai Vol 15, No 2 (2019): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.26 KB) | DOI: 10.26499/jk.v15i2.940

Abstract

Pancasila merupakan ideologi Indonesia dan menjadi dasar, pandangan hidup, dan falsafah dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, pemahaman dan penghayatan pada Pancasila dinilai sudah mulai menurun dalam berbagai kehidupan.Berdasarkan realita itu, penelitian ini mengkaji pemetaan konseptualisasi Pancasila akhir-akhir ini dalam media massa cetak dengan perspektif metafora konseptual. Penelitian ini berjenis deskriptif kualitatif dalam linguistik yang berusaha melihat masyarakat menggunakan bahasa secara nyata dalam sebuah wacana untuk mengetahui konseptualisasi dari ide dan emosi yang abstrak. Dari artikel tentang Pancasila dalam media massa cetak yang dikumpulkan dengan metode simak dan teknik catat, metafora tentang Pancasila diidentifikasi dan dianalisis dengan teori metafora konseptual melalui metode padan referensial .Hasil analisis menunjukkan adanya korespondensi antara ranah sumber dengan ranah target. Pancasila dikonseptualkan dengan sesuatu yang lain berdasarkan fungsi, kekuatan, ciri, sifat, dan pengalaman manusia. Berdasarkan perspektif metafora konseptual, Pancasila dipetakan atas “Pancasila Adalah Rumah”, “Pancasila Adalah Wadah Kosong”, “Pancasila Adalah Benteng”, “Pancasila Adalah Pakaian”, dan “Pancasila Adalah Keabadian”.(Pancasila is an Indonesian ideology and becomes the basis, outlook on life and philosophy in social life. However, understanding and appreciation of Pancasila is considered to have begun to decline in various lives. Based on that reality, this study examines the recent Pancasila conceptualization mapping in print mass media with a conceptual metaphor perspective. This research is a qualitative descriptive type in linguistics that seeks to see people use real language in a discourse to find out the conceptualization of abstract ideas and emotions. From articles on Pancasila in the printed mass media that were collected by listening methods and note techniques, metaphors about Pancasila were identified and analyzed with conceptual metaphor theory through the referential equivalent method. The results of the analysis showed a correspondence between the source and target domains. Pancasila is conceptualized with something else based on the functions, strengths, characteristics, traits, and human experience. Based on the conceptual metaphorical perspective, Pancasila is mapped on “Pancasila Is House”, “Pancasila Is Empty Container”, “Pancasila Is Fortress”, “Pancasila Is Clothing”, and “Pancasila Is Evenence”.)
DISKRIMINASI BISSU DALAM NOVEL TIBA SEBELUM BERANGKAT: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA (Bissu Discrimination in Novel Tiba Sebelum Berangkat: Sociological Literature Study) Saharul Hariyono; Maman Suryaman
Kandai Vol 15, No 2 (2019): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.237 KB) | DOI: 10.26499/jk.v15i2.1353

Abstract

Novel Tiba Sebelum Berangkat adalah sebuah karya fiksi yang tidak tercatat dalam sejarah, tetapi peristiwa-peristiwa yang dialami bissu merupakan konstruksi sejarah periode 1960-an. Penelitian ini bertujuan untuk mengangkat permasalahan mengenai bentuk-bentuk diskriminasi manusia bissu serta resistensi bissu terhadap bentuk diskriminasi yang terjadi. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan pendekatan teori sosiologi sastra Ian Watt. Hasil penelitian menunjukkan hal-hal sebagai berikut: Pertama, fenomena diskriminasi dilakukan oleh pemerintah dengan menganggap bissu sebagai kelas gender yang menyalahi kodrat manusia serta dianggap tidak Islami. Kedua, fenomena diskriminasi dilakukan juga oleh masyarakat, sehingga membuat keberadaan bissu tidak lagi dihormati, bahkan dijadikan sasaran lemparan, dan olok-olokan oleh masyarakat Sulawesi Selatan. Ketiga, fenomena diskriminasi dalam bentuk budaya berdatangan secara bersisian dari masyarakat maupun pemerintah setelah berakhirnya huru-hara gerombolan DI/TII. Dari masyarakat sendiri, bissu tidak lagi diposisikan sebagai masyarakat adat. Sementara itu, pemerintah melakukan revitalisasi adat yang menyebabkan bissu dilarang untuk mengadakan upacara karena tidak sesuai dengan nilai dan tradisi. Mereka hanya diperbolehkan sebatas aktivitas seni untuk menarik perhatian para wisatawan. Dari bentuk diskriminasi yang ada, para bissu mencoba melakukan reaksi (resistensi), yang sebenarnya dilakukan untuk bertahan hidup serta mempertahankan kepercayaan mereka kepada dewata.(Novel Tiba Sebelum Berangkat is a fiction work that is not recorded in history, but the events experienced by bissu a historical construction history in the 1960s period. This study aims to raise the issue of bissu human forms discrimination and bissu resistance to the forms of discrimination that occurs. Type research is descriptive qualitative, with the approach the sociology literature study Ian Watt. Results showed: First, the phenomenon of discrimination made by the government about bissu as gender class that violates human nature and considered un-Islamic. Second, the phenomenon of discrimination made by the society, so that makes the existence of bissu no longer respected, even targeted for the throw, and mockery by the society of South Sulawesi. Third, the phenomenon of discrimination in the form of culture came simultaneously both society and government after the end of violence group DI/TII. From society, bissu no longer positioned as indigenous peoples. Meanwhile, the government did cultural revitalization that causes bissu forbidden to hold a ceremony for being incompatible with the values and traditions. They are only allowed to the extent of arts activities to attract tourists. Of the forms of discrimination that exist, the bissu tries to do the reaction (resistance), which does to survive and maintain their belief in dewata.)
CERITA RAKYAT PASER DAN BERAU DALAM TINJAUAN EKOLOGI SASTRA (The Paser’s and Berau’s Folklores in Ecocriticism Review) Tri Amanat
Kandai Vol 15, No 2 (2019): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.934 KB) | DOI: 10.26499/jk.v15i2.956

Abstract

Sastra berhubungan erat dengan lingkungan hidup manusia, demikian juga dengan cerita rakyat yang ada di Paser dan Berau yang didominasi cerita berlatar alam. Penelitian ini berusaha menemukan; unsur ekologi yang terdapat dalam cerita rakyat Paser dan Berau, fungsi dan peran unsur ekologi tersebut, dan nilai-nilai kearifan terhadap unsur ekologi yang ada. Penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif dengan pendekatan ekologi sastra dan folklor. Cerita yang dikaji diambil sebagai sampel dengan pertimbangan telah mewakili latar ekologi yang ada dalam kumpulan cerita rakyat Paser dan Berau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur ekologi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Paser dan Berau. Hal tersebut tergambar dari unsur-unsur ekologis yang diangkat dalam cerita-cerita rakyatnya. Hal ini ditunjukkan oleh munculnya istilah-istilah atau kosakata khas yang mengacu pada nama-nama flora, fauna, dan konsep atau tradisi yang memperkuat pesan cerita yaitu, pentingnya hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Dalam ketiga cerita ditemukan nilai-nilai kearifan yang berhubungan dengan perlakuan terhadap alam, yaitu; hal-hal yang pantang dilakukan saat berada di hutan, pemanfaatan hasil alam dan hutan yang berkelanjutan serta tidak eksploitatif.(Literature is closely related to the human environment, as well as folklore in the Paser and Berau areas which are dominated by stories set in nature. This study tried to find; the ecological elements contained in Paser’s and Berau’s folklores, the functions and roles of these ecological elements, and the values of wisdom on the existing ecological elements. This research is a qualitative descriptive study with a literary ecology and folklore approach. The stories studied were taken as samples with the consideration that they represented the ecological setting in the collection of Paser’s and Berau’s folklores. The results of the study show that forests cannot be separated from the lives of the people of Paser and Berau. This is reflected in the ecological elements that they adopt in their folklores. This is indicated by the emergence of distinctive terms or vocabulary that refers to the names of plants, animals, and concepts or traditions. The concept or traditions that reinforce the message of the story is a harmonious relationship between humans and nature. In the three stories found wisdom values related to the treatment of nature, namely; things that abstain from being in the forest, the use of natural and forest products that are sustainable and not exploitative.)