cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kandai
ISSN : 1907204X     EISSN : 25275968     DOI : -
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Arjuna Subject : -
Articles 255 Documents
NASKAH MANTRA PENGOBATAN: SUNTINGAN, KRITIK, DAN EDISI TEKS (Manuscript of Medication Mantra: Editing, Criticism, and Text Edition) Dede Hidayatullah
Kandai Vol 16, No 1 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i1.985

Abstract

Naskah Mantra Pengobatan (MP) merupakan naskah yang memuat pengobatan baik secara herbal ataupun dengan bacaan, mantra, azimat, dan rajah. Naskah MP ini dimiliki secara perorangan oleh Abu Najib di Teluk Selong Martapura, Kalimantan Selatan. Penyalinan dan penyuntingan teks naskah pengobatan harus dilakukan seteliti mungkin sehingga tidak terjadi penambahan atau pengurangan kalimat-kalimat yang disajikannya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif pada bidang filologi. Data penelitian ini adalah naskah MP yang dimiliki oleh Abu Najib. Penelitian ini membahas suntingan teks dan kritik teks dengan menggunakan edisi standar untuk mendapatkan naskah yang terbebas dari kesalahan dalam penyalinan naskah. Penelitian ini bertujuan  menguraikan suntingan teks dan mengulas kesalahan dalam penyalinan naskah terdapat dalam naskah MP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada tiga buah kesalahan yang ditemukan dalam naskah MP berupa lakuna (lacunae), substitusi (substitution), dan adisi. Kesalahan penyalinan dalam naskah MP ini dapat dibagi dua, yaitu kesalahan dalam pengantar pengobatan dan kesalahan dalam isi pengobatan. Kesalahan dalam pengantar pengobatan yang tidak menyebabkan perubahan makna ini berupa substitusi, sedangkan kesalahan dalam isi yang bisa menyebabkan perubahan makna dan menyebabkan hilangnya daya magis mantra berupa lakuna dan adisi. Kesalahan dalam isi ini bisa mengubah makna.Manuscript of Medication (Mantra Pengobatan; MP) is a manuscript containing herbal medication, mantra, spells, amulets, and rajah (tattoo). This manuscript is privately owned by Abu Najib in Teluk Selong, Martapura, South Kalimantan. The medication manuscript must go through careful text copying and editing; it keeps the sentences on the manuscript from addition or omission. This is a qualitative  philology study.. The data of this study comes from MP manuscripts owned by Abu najib. This study discusses text editing and criticism by using standard edition to get free of errors in the copying process of the manuscript. The objective of this study is to describe text editing and review errors from the copying process of the text of the MP manuscript. The result shows that there are three kinds of errors found in the MP mansucript, namely, lacunae, substitution, and addition. There are two copy errors of this MP manuscript, namely errors in the introduction part of medication and errors in the content part of medication. Errors in the introduction part of medication that do not change the meaning are in the form of substitution, while errors in content that may change the meaning and make the loss of magical power of mantra are in the form of lacunae and addition. Errors in the content may change the meaning.
KEMAMPUAN SINTAKSIS ANAK TUNA RUNGU: STUDI KASUS EZRA (The Syntactic Ability of A Child with Listening Disability: A Case Study of Ezra) Pipiet Palestin Amurwani
Kandai Vol 16, No 1 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i1.1470

Abstract

 Bahasa sebagai instrumen komunikasi berperan dalam menyampaikan pesan dari penutur kepada petuturnya. Salah satu faktor yang mendukung lancarnya komunikasi menggunakan bahasa adalah susunan kalimat atau sintaksis yang benar. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan sintaksis Ezra setelah menjalani terapi wicara selama satu tahun. Subyek penelitian adalah seorang anak berusia tujuh tahun dengan gangguan pendengaran berat (kanan 95 dB, kiri 85 dB), bernama Ezra.  Data diperoleh dengan cara merekam dan mencatat ujaran-ujaran yang diucapkan Ezra. Data berupa ujaran dianalisis menggunakan teori sintaksis bahasa Indonesia oleh Chaer (2009). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ezra dapat mengungkapkan keinginan, kemampuan, dan kesukaannya menggunakan pola kalimat dasar S+Adverbial+P, S+Adverbial+P+O, dan S+P+O. Dalam mengungkapan aktivitas yang sudah dia lakukan, Ezra menggunakan pola yang terbalik antara predikat dan adverbial “sudah”. Ezra belum bisa merespon pertanyaan dengan benar. Ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan tidak relevan dengan pertanyaan. Dalam mengungkapkan pertanyaan, Ezra cenderung menggunakan kata benda sebagai pengganti kata kerja.Language as an instrument of communication plays a role in conveying messages from speakers to their listeners. One of the factors that support the smooth communication using language is the correct sentence structure or syntax. This paper aims to describe the syntactic abilities of Ezra after undergoing speech therapy for one year. The study subjects were a 7-year-old child with severe hearing loss (right 95 dB, left 85 dB), named Ezra. Data obtained by recording and recording utterances uttered by Ezra. Data in the form of speech are analyzed using the syntactic theory of Indonesian Chaer (2009). The results showed that Ezra could express his desires, abilities, and preferences using basic sentence patterns S + Adverbial + P, S + Adverbial + P + O, and S + P + O. In expressing the activities that he has done, Ezra uses an inverse pattern between predicate and adverbial "sudah". Ezra hasn't been able to respond to questions correctly. This can be seen from the answers given that are not relevant to the question. In expressing the question Ezra tends to use nouns instead of verbs.
PENANDA KALA ABSOLUT DALAM BAHASA MAKASSAR (Absolute Tense Markers in Makassarese Language) NFN Mustafa
Kandai Vol 16, No 1 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i1.1152

Abstract

Bahasa Makassar, sebagaimana bahasa daerah di Sulawesi Selatan pada umumnya, juga mengenal penanda kala yang digunakan dalam percakapan sehari-hari oleh masyarakat pendukungnya. Penelitian ini membahas kala absolut dalam bahasa Makassar, khususnya mengenai ciri-ciri kala, identifikasi bentuk kala, dan makna yang diungkapkan.  Tujuan penelitian memperoleh deskripsi yang memadai tentang pernyataan kala absolut dalam bahasa Makassar, yang diungkapkan secara leksikal, beserta makna yang dikandung oleh pernyataan kala absolut tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan beberapa tahapan, yaitu (1) pengumpulan data dengan menerapkan teknik wawancara langsung dan seterusnya dengan narasumber kemudian mencocokan dengan bahasa yang dikuasai oleh peneliti sebagai penutur bahasa Makassar, lalu merekam dan mencatat hasil wawancara tersebut, (2) pengolahan data, pertama-tama dilakukan transkripsi data dari bahasa lisan ke bahasa tulis, lalu diklasifikasikan berdasarkan bentuk dan makna yang dikandungnya, dan (3) tahap penganalisisan data. Data yang sudah dikumpulkan dianalisis dengan menerapkan teknik distribusi untuk menguji keterangan letak antara leksem yang satu dengan leksem yang lainnya, berdasarkan waktu yang ditunjukkan. Sumber data diperoleh dari bahasa lisan dan bahasa tertulis. Bahasa lisan diperoleh dari narasumber (informan) dan bahasa tertulis yang diperoleh dari hasil penelitian dan buku-buku yang relevan dengan penelitian ini sebagai sumber acuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanda kala absolut dibentuk dari adverbia temporal yang dinyatakan dalam bentuk leksikal.The language of Makassarese, as well as regional language in South Sulawesi in general, also recognizes the markers used in conversations by the support community. This study discusses the absolute tense in Makassar language, especially regarding the characteristics of tense, tense identification, aspect, and modalities; as well as form, and meaning expressed. The purpose of this study to obtain an adequate description of the absolute tense makers in Makasarese language, which is expressed lexically, along with the meaning contained in the absolute tense markers. This research uses descriptive method with several techniques. (1) Data is collected by recording the direct interview with language informant then the data collected is matched with the language mastered by the researcher as a native speaker of Makassarese language.(2) The data is then transcribed is the analyzed; based on the from spoken language to written language; the it is classified according to the form and the meaning it contains. (3) The data is then analyzed based on the time it is designated. The data is collected from spoken and written languages. Oral language is derived from informants and written language is obtained from research results and books relevant to this research, i.e. as references. The results show that absolute tense markers are found in the form of temporal adverbs expressed in lexical forms.
PEMBACAAN BERPERSPEKTIF EKOFEMINISME ATAS SAJAK “ISTERI” KARYA DARMANTO JATMAN (Ecofeminism Reading on Darmanto Jatman’s Poem “Isteri”) Dipa Nugraha; NFN Suwondo; NFN Suyitno
Kandai Vol 16, No 1 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i1.1758

Abstract

Pendekatan ekofeminisme di dunia akademia Indonesia sudah mulai marak digunakan oleh beberapa akademisi, tetapi masih terdapat sedikit kerancuan di dalam penggunaannya di dalam kajian sastra. Artikel ini menyuguhkan pembacaan berperspektif ekofeminisme yang menekankan pada kebergantungan konteks dan menolak adanya narasi tunggal ala Warren dan Cheney. Karya sastra yang dipilih adalah sajak “Isteri” karya Darmanto Jatman. Data dikumpulkan dengan pembacaan cermat dan analisis dilakukan menggunakan analisis tekstual. Temuan dari penelitian ini adalah pandangan hidup Jawa yang menempatkan istri sebagai sakti, sumber berkah, sumber rezeki, dan sumber hidup. Di dalam kerangka berpikir patriarkis Jawa, perempuan (istri) dan alam menjadi bagian penting dari eksistensi laki-laki. Konteks sosial dan budaya Jawa yang terdapati di dalam sajak menunjukkan deskripsi relasi gender dalam kehidupan domestik yang berbeda dengan apa yang berlaku di Barat. Temuan penelitian ini memberi pijakan arah bagaimana gerakan ekofeminisme bisa lebih tepat menyesuaikan konteks sistem patriarki Jawa yang berbeda dengan Barat dan kemungkinan bagaimana wacana bangun ulang relasi gender antara laki-laki dan perempuan Jawa dapat digugah jika diinginkan. Temuan penelitian ini menjadi pembuka jalan bagi penelitian lanjutan atas karya-karya sastra pengarang Jawa lainnya.Despite the growing number of Indonesian academia using ecofeminism approach in their literary criticism, some misunderstandings on ecofeminism still exist. This article provides a reference on ecofeminism perspective and gives an example how ecofeminism perspective from Warren and Cheney is applied in literary criticism. A well-known poem entitled “Isteri” (Wife) written by a Javanese poet, Darmanto Jatman, is chosen. Close reading is used to gather data which is relevant to ecofeminism issues. Textual analysis is then used in the analysis. The Javanese men see their wives as their source of power, blessing, wealth, and life. Nature and women, for Javanese men, are parts of men’s existence and cosmic balance. It shows evidence of how ecofeminism criticism, which emphasises diversities on the relation and issues between humans, their environment, and their social contexts, in Javanese context should be applied differently to Western context. The poem displays a gender relation between husband and wife in Javanese household life which is different to the West. The implication of this finding may give a reference and direction towards the possibilities of Javanese ecofeminism further discussions and renegotiation of gender relation between men and women in Javanese society. To have a more comprehensive view of how Javanese patriarchy works, further research on other Javanese literary works is needed.
STRATEGI KESANTUNAN POSITIF PRESIDEN JOKO WIDODO DALAM PIDATONYA BERKONTEKS DIPLOMASI LUAR NEGERI (The Positive Politeness Spoken by President Joko Widodo in A Context of International Diplomacy) Rangga Asmara; Widya Ratna Kusumaningrum
Kandai Vol 16, No 2 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i2.1929

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi kesantunan positif Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam pidatonya berkonteks diplomasi luar negeri. Penelitian ini menggunakan ancangan pragmatis. Data dalam studi ini berupa kata, frasa, dan kalimat yang memenuhi rumusan strategi kesantunan positif yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson (1987). Sumber data dalam penelitian ini bersumber dari video dan teks transkripsi pidato Presiden Jokowi pada Forum APEC CEO Summit dan Konferensi Asia Afrika. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan metode simak. Teknik analisis yang dipergunakan adalah model analisis interaktif. Hasil kajian ini menunjukkan Presiden Jokowi menggunakan tiga belas substrategi kesantunan positif yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson dalam pidatonya berkonteks diplomasi luar negeri, yaitu (1) memperhatikan kesukaan, keinginan, dan kebutuhan pendengar,      (2)membesar-besarkan perhatian, persetujuan, dan simpati kepada pendengar, (3) mengintensifkan perhatian pendengar dengan pendramatisiran peristiwa atau fakta, (4) menggunakan penanda identitas kelompok (bentuk sapaan, dialek, jargon, atau slang), (5) mencari persetujuan dengan  topik yang umum atau mengulang sebagian atau seluruh ujaran, (6) menghindari ketidaksetujuan dengan pura-pura setuju, persetujuan yang semu (psedo agreement), menipu untuk kebaikan (white-lies), dan pemagaran opini (hedging opinions), (7)  menggunakan  basa-basi (small talk) dan presuposisi, (8) menggunakan lelucon, (9) memberikan tawaran atau janji, (10) menunjukkankeoptimisan,(11) melibatkan penutur dan pendengar dalam aktivitas, (12) memberikan pertanyaan atau meminta alasan, dan (13) memberikan hadiah (barang, simpati, perhatian, kerja sama) kepada pendengar. This research aims to describe the positive politeness strategy spoken by President Jokowi in his speech in a context of international diplomacy. This study uses a pragmatic approach. The data were words, phrases and sentences in President Jokowi's speech at the APEC CEO Summit Forum and the Asia Africa Conference. The data were collected by using documentation and note-taking. These data were analyzed using an interactive analysis model. The results of this study indicated that President Jokowi used 13 positive politeness sub-strategies developed by Brown and Levinson (1987) in his speech in the context of international diplomacy, namely (1) paying attention to the likes, desires and needs of listeners, (2) exaggerating attention, approval, and sympathy for listeners, (3) intensifying the listener's attention by dramatizing events or facts, (4) using group identity markers (greeting, dialect, jargon, or slang), (5) seeking an agreement on a general topic by repeating parts or all of the utterances, (6) avoiding disagreement by pretending to agree, pseudo agreement, white-lies, and hedging opinions, (7) using small talk and presupposition, (8) using jokes, (9) giving offers or promises, (10) showing optimism, (11) involving speakers and listeners in the activities, (12) giving questions or asking for reasons, and (13) giving gifts (goods, sympathy, attention, cooperation) to the listener.
PRESERVASI NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM TRADISI LISAN TEDA MASYARAKAT KABIZU BEIJELLO MELALUI RANAH PENDIDIKAN (Preservation of Local Wisdom Teda Oral Tradition of Kabizu Beijello Community through the Domain of Education) Yuliana Sesi Bitu; R. Kunjana Rahardi
Kandai Vol 16, No 2 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i2.2195

Abstract

Penelitian ini memiliki dua tujuan yakni mendeskripsikan nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat dalam tradisi lisan Teda pada upacara Padede Uma Kalada dan merumuskan strategi preservasi tradisi lisan Teda melalui ranah pendidikan. Analisis nilai kearifan lokal dalam penelitian ini dikaji dengan menggunakan perspektif ekolinguistik metaforis. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode simak, wawancara etnografis dan studi pustaka. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan lima nilai kearifan lokal, yakni nilai ketaatan, religius, persatuan, rekonsiliasi dan syukur. Upaya preservasi nilai kearifan lokal dalam tradisi lisan Teda melalui ranah pendidikan dapat dilakukan melalui kegiatan kurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan kurikuler dapat dilakukan melalui kegiatan pembelajaran bahasa dan sastra serta muatan lokal. Sementara itu, kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dengan membentuk kelompok minat dan bakat yang mengikutsertakan unsur kebudayaan di dalamnya. This research has two objectives namely to describe the values of local wisdom contained in the Teda oral tradition at the Padede Uma Kalada ceremony and to formulate a preservation strategy of the Teda oral tradition through the realm of education. The analysis of the value of local wisdom in this study is studied using a metaphorical ecolinguistic perspective. The methods used to collect data are observation, etnography interview methods and literature review. Based on the research results, it was found that there were five values of local wisdom, namely the values of obedience, religion, unity, reconciliation and gratitude. The preservation of local wisdom values in the Teda oral tradition through the realm of education can be done through curricular activities and extracurricular activities. Curricular activities can be carried out through language and literature learning activities as well as local content. Meanwhile, extracurricular activities can be carried out by forming interest and talent groups that include cultural elements in them.
KOMPOSITUM IDIOMATIS DALAM BAHASA MANDAR (Idiomatic Compound in Mandarese Language) Jerniati Indra
Kandai Vol 16, No 2 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i2.2024

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan kompositum idiomatis bahasa Mandar. Tulisan ini menggunakan teori morfologi struktural dengan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data: observasi,pencatatan, dan retrospeksi. Hasil kajian menunjukkan bahwa konstruksi kompositum idiomatis bahasa Mandar dapat dibentuk dari beberapa pola, yaitu pola (kata dasar+kata dasar), (kata berimbuhan+kata dasar), (kata dasar+ kata berimbuhan), (kata ulang+kata dasar), dan (kata dasar+kata ulang). Konstruksi unik ditemukan pada pola (kata berimbuhan+kata dasar), komponen kedua kompositum ini semuanya diisi oleh nama binatang yang menjadi analogi bagi bentuk, keadaan, dan sifat manusia. Muatan makna kompositum adalah solidaritas dan pendidikan di samping muatan yang bersifat positif dan negatif. Kompositum idiomatis bahasa Mandar dapat menduduki fungsi subjek, predikat, objek, dan keterangan dalam konstruksi kalimat.The writing aims at uncovering idiomatic compounds in Mandarese language. It applies structural morphology theory using descriptive qualitative through technique of collecting data such as: observation, taking note, and retrospection. Result of research shows that the construction of idiomatic compound in Mandarese language could be formed based on some patterns, namely (base form+base form), (affixes word+base form), (base form+affixes word), (repetition+base form), and (base form+repetition) patterns. Unique construction is found in (affixes word+base form) pattern, the component of both compounds consists of animal names that become analogy of form, situation and nature of human being. The meaning of compound is solidarity and education but also implies positive and negative meaning. Idiomatic compound of Mandarese language places the function of subject, predicate, object, and adverb in construction of sentence.
NILAI LINGKUNGAN DALAM CERPEN “APAKAH RUMAH KITA AKAN TENGGELAM” KARYA ANAS S MALO MELALUI TANGGAPAN MAHASISWA (KAJIAN EKOKRITIK) (Environmental Value in the Short Story “Apakah Rumah Kita Akan Tenggelam” by Anas S Malo through Student’s Responses (Ecocritical Study)) Iswan Afandi; NFN Juanda
Kandai Vol 16, No 2 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i2.2326

Abstract

Penelitian ini bertujuan, yaitu: (1) mendeskripsikan tanggapan mahasiswa dalam cerita pendek “Apakah Rumah Kita Akan Tenggelam” melalui tema dan penokohan; (2) mendeskripsikan tanggapan mahasiswa mengenai fenomena lingkungan dalam cerpen. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian, yakni tanggapan mahasiswa. Sumber data penelitian, yakni: (1) angket; (2) teks cerita pendek diunduh secara daring melalui web lakonhidup.com. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori resepsi sastra dan teori ekokritik. Populasi penelitian berjumlah 247 mahasiswa. Sampel penelitian berjumlah 80 mahasiswa. Instrumen penelitian, yakni angket dan cerpen. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik angket, baca, dan catat. Teknik penarikan sampel, yakni teknik purposive sampling (pengambilan data secara acak). Hasil penelitian sebagai berikut: (1) tema dan penokohan. Dalam tanggapan mahasiswa ditemukan tema banjir, tema bencana alam, dan tema variatif; selanjutnya (2) fenomena lingkungan yang ditemukan dalam tanggapan mahasiswa, yakni fenomena bencana alam dan binatang. This study aimed, namely: (1) to describe students' responses in the short story "Is Our House Will Drown" through themes and characterizations; (2) describe student responses about environmental phenomena in short stories. This type of research is descriptive qualitative research. Research data, namely student responses. The sources of research data, namely: (1) questionnaire; (2) short story texts can be downloaded boldly through the web lakonhidup.com. The theory used in this research was the theory of literary reception and ecocritic theory. The population investigated was from 247 students. The research sample was 80 students. Research instruments, namely questionnaires and short stories. Data collection was carried out through questionnaire techniques, reading, and taking notes. The sampling technique used was the purposive sampling technique (random data collection). The results of the research were as follows: (1) themes and characterizations. The students' responses found themes of natural disasters and varied themes; then (2) environmental phenomena found in student responses, namely natural disasters and animals.
MOTIF GENDER DALAM TIGA CERITA RAKYAT TOLAKI (Gender Motif in Three Tolakinese Folktales) Zakiyah Mustafa Husba; Heksa Biopsi Puji Hastuti; NFN Rahmawati; NFN Uniawati
Kandai Vol 16, No 2 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i2.2104

Abstract

Cerita yang melibatkan tokoh perempuan ini memuat motif gender baik sebagai motif utama maupun motif bawahan. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini ialah bagaimana motif gender yang terkandung dalam tiga cerita rakyat Tolaki dan bertujuan mengungkap motif gender yang terdapat di dalam cerita “Wekoila”, “Haluoleo”, dan “Pasaeno”. Data berupa cerita rakyat Tolaki diperoleh melalui teknik wawancara dan penelusuran pustaka. Data dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis struktural Levi-Straus dengan mengurai mitem-mitem cerita. Selanjutnya, analisis motif dilakukan dengan fokus motif gender. Dari hasil analisis diketahui bahwa cerita “Wekoila” menunjukkan bahwa tokoh perempuan diposisikan superior. Cerita “Haluoleo” memuat bahwa tidak ada konsep baku bagi pemosisian perempuan. Sementara itu, cerita “Pasaeno” menunjukkan tokoh perempuan yang ditempatkan sebagai pihak yang diabaikan hak-haknya. Dengan demikian, motif gender dalam ketiga cerita rakyat Tolaki ini disimpulkan tidak memiliki keseragaman.Stories that involve female characters contain both genders as the primary motive and subordinate motives. The problem raised in this study was how the gender motives were contained in the three Tolaki folktales and aimed to uncover the gender motives contained in the "Wekoila", "Haluoleo", and "Pasaeno" stories. Tolaki folklore was obtained through interview techniques and library research. Data were analyzed qualitatively by using  Levi-Strauss structural analysis approach by breaking down myths. Then motive analysis was carried out with a focus on gender motives. The results of the analysis were known that the Wekoila story showed the gender motive in which female character was placed in the superior position. Haluoleo's story contained the gender motive in which there were no fixed concepts for women positioning. Meanwhile, Pasaeno's story showed the gender motive in which female characters were placed as whose rights were ignored. Thus it was concluded that the gender motives in the three Tolakinese folktales were lack of uniformity.
NEGOSIASI IDEOLOGI PUISI “KAU INI BAGAIMANA ATAU AKU HARUS BAGAIMANA” KARYA K.H. A. MUSTOFA BISRI: KAJIAN HEGEMONI GRAMSCI (The Ideological Negotiation of The Poet “Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana” Works K.H. A. Mustofa Bisri: Gramsci Hegemony Study) Heny Anggreini; Muharrina Harahap; NFN Jakaria
Kandai Vol 16, No 2 (2020): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v16i2.2329

Abstract

Puisi “Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana” adalah bentuk perlawanan kelompok subordinat terhadap kelompok dominan (penguasa) yang melakukan penindasan dan tidak memberikan kemerdekaan (kesejahteraan) walau rakyat telah merdeka. Kelompok penguasa memberikan kebebasan kepada rakyat, tetapi juga mengekang rakyat untuk tunduk kepada perintah penguasa. Oleh karena itu, kaum intelektual (penyair) melakukan resistensi untuk keluar dari ketertindasan yang dialami oleh kaum subordinat karena sikap otoriter penguasa. Tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mengetahui formasi dan negosiasi ideologi puisi sehingga terjelaskan bahwa kontestasi dan negosiasi ideologi yang dilakukan penyair dalam puisinya sebagai bentuk keinginan kaum intelektual (mahasiswa, penyair, dan peneliti) untuk menjadikan rakyat kritis dan bermoral dengan memengaruhi pola pikir (cara pandang) dan pola perilakunya melalui karya sastra. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berfokus pada analisis isi dengan menggunakan teori hegemoni Gramsci. Hasil penelitian ini adalah tokoh “aku” adalah kelompok subordinat yang juga sebagai konter hegemonik (pembawa hegemoni tandingan) atas militerisme yang dipegang oleh kelompok dominan. Gus Mus mencoba untuk menegosiasikan nasionalisme-humanis yang religius kepada rakyat melalui puisinya karena manusia memerlukan ideologi religius dalam membentuk pola pikir dan perilakunya. Namun di samping itu, Gus Mus secara tersirat menegosiasikan ideologi Pancasila yang harus dipegang kembali oleh negara dan mulai meluluhkan militerisme yang otoriter karena Pancasila merupakan dasar negara Indonesia.The poem “Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana” is a form of struggle by the subordinate group to the dominant (authority holder) that suppresses freedom (wealth) despite the status of independence as a nation. The authority seems to give freedom however at the same time controlling the people for absolute obedience. In that circumstance, the intellectuals (poets) do act of resistance to escape from the oppression by the authoritarian. This research aims to see ideology formation and negotiation of the poem to explain the contestation and negotiation by the poet, as a reflection of the intellectuals (college students, poets, researchers) to stimulate a shifting point of view through literature. This research applies a descriptive qualitative method focusing on concepts of hegemony by Gramsci. The result shows that the character of “Aku” represents the subordinates and as a counter of hegemony (conveyor of counter-hegemony) against militarism by the dominant. Gus Mus tried to negotiate religious nationalist-humanism ideology to people through his poem arguing that people need religious ideology to form thoughts and behavior. Nonetheless, Gus Mus implicitly negotiated Pancasila as a state ideology to be re-embraced and shattered the authoritarian militarism because Pancasila is the foundation of Indonesia.