cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kandai
ISSN : 1907204X     EISSN : 25275968     DOI : -
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Arjuna Subject : -
Articles 255 Documents
IDENTITAS BUDAYA DAN PRADOKSAL KULINER TRADISIONAL DALAM CERPEN KETIKA SAATNYA DAN KISAH-KISAH LAINNYA (Cultural Identity and Traditional Culinary Paradoxal in the Short Story Ketika Saatnya dan Kisah-Kisah Lainnya) Puji Retno Hardiningtyas; Ni Nyoman Tanjung Turaeni
Kandai Vol 17, No 2 (2021): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v17i2.2811

Abstract

The formulation of the research problem is how literature combines culture, especially Bugis food and culinary delights; local culinary image is juxtaposed with modern food from abroad in a collection of short stories Ketika Saatnya dan Kisah-Kisah by Darmawati Majid. The data of this research are food and culinary-themed texts, namely six short stories entitled “Tentang Hal yang Membawamu ke Sebuah Warung Coto di Pinggiran Kota pada Hari Sekitar Pukul 10 Pagi”, "Ningai", “Kiriman dari Inggris”, "Passampo Siri", "Nasu Likku", and “Kak Sulaeman”. The research data collection used the literature study method with the note-reading technique, which is to create a direct and indirect conversation corpus. Data analysis used an analytical descriptive method with critical interpretative techniques. The theory used in this research is Tobin's gastronomy. The results and discussion of this study indicate that first, literature and gastronomic aspects, namely the art of cooking and serving food, are cultural elements of the Bugis ethnic community. Second, there is an element of paradox and ambiguity when juxtaposing the image of traditional Bugis culinary delights and foreign culinary delights — foreign drinks — which can be felt by the characters in the short story. The two research results reinforce the presence of the image of Bugis traditional culinary and the image of foreign food which has a more practical and cleaner way of serving — as a form of discourse and the struggle for the power of the post-colonial nation's existence. Thus, through culinary literature, it can be a space for the presence of subaltern groups in the context of the regional culture of the Nusantara.Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana sastra meramu budaya, khususnya makanan dan kuliner khas Bugis; citra kuliner lokal disandingkan dengan makanan modern dari luar negeri dalam kumpulan cerpen Ketika Saatnya dan Kisah-Kisah Lainnya karya Darmawati Majid. Data penelitian ini adalah teks cerita bertema makanan dan kuliner, yaitu enam cerpen berjudul “Tentang Hal yang Membawamu ke Sebuah Warung Coto di Pinggiran Kota pada Hari Sekitar Pukul 10 Pagi”, “Ningai”, “Kiriman dari Inggris”, “Passampo Siri”, “Nasu Likku”, dan “Kak Sulaeman”. Pengumpulan data penelitian digunakan metode studi pustaka dengan teknik baca catat, yaitu mencatat korpus percakapan langsung dan tidak langsung. Analisis data digunakan metode deskriptif analitik dengan teknik interpretatif kritis. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah gastronomi Tobin. Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, sastra dan aspek gastronomi, yaitu seni memasak dan menyajikan makanan merupakan unsur budaya masyarakat suku Bugis. Kedua, adanya unsur paradoksal dan ambiguitas ketika menyandingkan citra kuliner tradisional Bugis dan kuliner luar negeri—minuman luar negeri—yang dapat dirasakan para tokoh dalam cerpen tersebut. Kedua hasil penelitian memperkuat kehadiran citra kuliner tradisional Bugis dan citra makanan luar negeri yang memiliki cara penyajian lebih praktis dan lebih bersih—berbanding terbalik sebagai bentuk wacana dan pertarungan kuasa keberadaan bangsa pascakolonial. Dengan demikian, melalui sastra kuliner dapat menjadi ruang hadirnya kelompok subaltern dalam konteks kebudayaan daerah Nusantara.
THE USE OF INDONESIAN LOAN WORDS IN MUNA LANGUAGE (Penggunaan Kata-Kata Serapan Bahasa Indonesia dalam Bahasa Muna) La Aso; La Yani Konisi
Kandai Vol 17, No 2 (2021): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v17i2.3481

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membahas penggunaaan kata-kata serapan bahasa Indonesia dalam bahasa Muna. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui pengamatan, partisipasi, rekaman, catat, dan interpretasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dengan mengklasifikasi data yang dikumpul, menentukan kata-kata serapan, memformulasikan dan menjelaskan kata-kata serapan dan membuat kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kata-kata serapan bahasa Indonesia dalam bahasa Muna selalu dipengaruhi oleh aspek fonologis atau perubahan bunyi. Karakteristik bahasa Muna sebagai bahasa vokalis menyebabkan semua silabel atau kata-kata pinjaman dari bahasa Indonesia ke bahasa Muna senantiasa menjadi silabel terbuka. Hal itu dapat terjadi melalui berbagai perubahan, seperti penambahan dan penghilangan konsonan, penambahan vokal, dan pemecahan kluster atau gugus konsonan.This article aims at discussing the use of Indonesian loan words in the Muna language. The data were collected through observation, participation, recording, noting, and interpretation. The data were then analyzed descriptively by classifying the gathered data, indicating the word classes, formulating and describing loan words, and making a conclusion. The result of this study showed that Indonesian loan words in the Muna language are mostly affected by phonological aspects or sound changes. Muna language's characteristics as vocalist language bring all loan words from Indonesian into Muna language always become open syllable. It occurs both by adding or deleting one of the consonants, adding or inserting vocals, and breaking cluster or consonant cluster.
PENGAPLIKASIAN ANTCONC PADA KORPUS BAHASA MELAYU AMBON (The Application of AntConc on Ambon Malay Language Corpus) Nita Handayani Hasan
Kandai Vol 17, No 2 (2021): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v17i2.2605

Abstract

Development of local language corpus is one way to documenting a local language. Corpus application is one solution to develop a local language corpus. In this paper, researcher using AntConc application to develop Ambon Malay language. In order to develop corpus of Ambon Malay language, this study aims to find out how to use AntConc application in corpus of Ambon Malay language, and to find out the vocabularies that appears on the corpus that has been made. This is aqualitative research which using result of AntConc application. The method in this research is descriptive statistics. The data in this study were sourced from Fuli magazines which containing Ambon Malay language articles. The study found that AntConc application is easy to use. AntConc application starting from enterinf corpus data in txt form; checking words list; checking word position in the sentence; checking the spread eords; checking word use location; checking couples word; and checking the word use combination. The menus in the application can facilitate researcher to analyse corpus source and use it as a dictionary source. The result of the analysis found 1,399 word types and 7.005 word tokens.Pengembangan korpus bahasa daerah merupakan salah satu cara pendokumentasian bahasa daerah. Salah satu cara untuk mengembangkan korpus bahasa daerah yaitu dengan pemanfaatan aplikasi korpus. Aplikasi korpus yang akan digunakan dalam pengembangan korpus bahasa Melayu Ambon pada penelitian ini yaitu AntConc. Agar dapat mengembangkan korpus bahasa Melayu Ambon, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan penggunaan aplikasi AntConc dalam korpus bahasa Melayu Ambon, dan kosakata-kosakata apa saja yang muncul pada korpus yang telah dibuat. Penelitian ini merupkan penelitian kualitatif yang memanfaatkan hasil analisis aplikasi AntCont terhadap korpus bahasa Melayu Ambon. Metode yang digunakan untuk membaca hasil analisis aplikasi AntConc ialah statistik deskriptif. Data pada penelitian ini bersumber dari majalah-majalah Fuli yang berisi artikel berbahasa Melayu Ambon. Hasil yang diperoleh yaitu aplikasi AntConc merupakan aplikasi yang dapat membantu peneliti untuk menemukan kosakata-kosakata bahasa Melayu Ambon dalam majalah Fuli, serta cara penggunaanya. Cara menggunakan aplikasi AntConc dimulai dari memasukkan data korpus dalam bentuk txt.; mengecek jumlah tipe kata yang terdaftar dalam korpus; mengecek posisi kata dalam kalimat; mengecek penyebaran kata dalam teks; mengecek letak penggunaan kata; mengecek pasangan-pasangan kata; dan mengecek kombinasi penggunaan kata. Menu-menu yang terdapat dalam aplikasi AntConc mempermudah peneliti untuk menganalisis sumber korpus dan memanfaatkannya sebagai sumber penyusunan kamus. Hasil analisis lainnya yaitu ditemukan 1.399 tipe kata, dan 7.005 karakter kata.
AKTIVITAS SASTRA DI UNIVERSITAS HALU OLEO (Literature Activity in Halu Oleo University) NFN Rahmawati; Heksa Biopsi Puji Hastuti; NFN Syaifuddin; NFN Mulyadi
Kandai Vol 17, No 2 (2021): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v17i2.2978

Abstract

This study aimed to describe the literary activities carried out at Halu Oleo University (UHO) Kendari in the perspective of the sociology of literature by Pierre Bourdieu. This research is a qualitative descriptive study. Research data were information about literary activities at UHO obtained through questionnaires, interviews, note-taking, and literature studies. The informants' answers from the interviews in the research instrument were recorded. Literature study was used to obtain as much data as possible from relevant books or writings. Data from interviews, recordings, and literature studies were described and then classified according to the research problem. The results showed that literary activities that are often held at UHO include various literary activities that were packaged in an activity. In it, various literary activities were carried out, such as the Gerbang Lastra (Lastra Gate), Pentas Arena (Arena Performances), Pekan Sastra (Literature Week), Hibah Sastra (Literature Grants), Lomba Seni dan Pameran Karya (Lensa) (Art Competitions and Work Exhibitions), and so on. Student organizations that often hold literary activities included the Studio Drama, FKIP UHO, Bengkel Sastra Indonesia (BSI, Indonesian Literature Workshop), Pekerja Puisi Sulawesi Tenggara (Eksis) (Southeast Sulawesi Poetry Worker), Laskar Sastra (Lastra), UK-Seni, Sanggar Katalis, Fista, Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia HMJJPBI (Indonesian Language Education Department Student Association), and Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia (HMSSI) (Indonesian Literature Student Association). Literary activities that were built were born from the correlation between habitus, arena, capital capital, social capital, cultural capital, and symbolic capital. In carrying out literary activities, event organizers are still often constrained by funding, training venues, and secretariat rooms. Funding constraints are overcome by using membership fees, charging competition participants, sponsors, or holding fundraising activities through bazaar activities.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan aktivitas sastra yang dilaksanakan di Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari dalam perspektif sosiologi sastra Pierre Bourdieu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian merupakan informasi mengenai aktivitas sastra di UHO yang diperoleh melalui teknik kuisioner, wawancara, pencatatan, dan studi pustaka. Jawaban informan dari hasil wawancara dalam instrumen penelitian dicatat. Studi pustaka digunakan untuk memperoleh data sebanyak-banyaknya dari buku-buku atau tulisan yang relevan. Data hasil wawancara, pencatatan, dan studi pustaka dideskripsikan kemudian diklasifikasi sesuai dengan permasalahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas sastra yang sering diadakan di UHO meliputi berbagai kegiatan sastra yang dikemas dalam suatu kegiatan. Di dalamnya dilaksanakan berbagai aktivitas sastra, seperti Gerbang Lastra, Pentas Arena, Pekan Sastra, Hibah Sastra, Lomba Seni dan Pameran Karya (Lensa), dan sebagainya. Organisasi kemahasiswaan yang kerap menggelar kegiatan sastra antara lain Studio Drama FKIP UHO, Bengkel Sastra Indonesia (BSI), Pekerja Puisi Sulawesi Tenggara (Eksis), Laskar Sastra (Lastra), UK-Seni, Sanggar Katalis, Fista, Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia HMJJPBI), dan Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia (HMSSI). Aktivitas sastra yang dibangun lahir dari adanya korelasi antara habitus, arena, modal kapital, modal sosial, modal budaya, dan modal simbolik. Dalam menjalankan aktivitas sastra, penyelenggara kegiatan masih sering terkendala dengan pendanaan, tempat latihan, dan ruang sekertariat. Kendala dana diatasi dengan menggunakan iuran anggota, mengenakan biaya pada peserta lomba, sponsor, atau mengadakan kegiatan pencarian dana melalui kegiatan bazar.
PEMERTAHANAN LINGKUNGAN DARI EKSPLOITASI KAPITALIS DI BUKIT BARISAN DALAM NOVEL SI ANAK PEMBERANI KARYA TERE LIYE (Environmental Protection from Capitalist Exploitation Along The Barisan Mountains in Tere Liye's Novel Si Anak Pemberani) Elen Inderasari
Kandai Vol 18, No 1 (2022): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v18i1.2560

Abstract

Literary works have a profound impact on environmental literacy. Through the story of a novel entitled Si Anak Pemberani by Tere Liye, this study aims to determine the environmental preservation of community in the Barisan Mountains found in the novel. This study used a descriptive qualitative method about literary criticism approach. The data employed are text (documents) in the form of quotes, snippets, sentences, dialogues, and others contained in the novel objectively. Data collection techniques are carried out by reading and analyzing the phenomena related to environmental exploitation. Furthermore, the data are analyzed utilizing eco-criticism by reviewing the themes and messages to preserve nature through criticism of environmental damage contained in the novel. As a result, this study shows efforts to protect the environment among four principles of compassion and concern for nature. The four principles are (a) the rights of living things to be protected, (b) the rights of living things to be cared for, (c) the rights of living things not to be hurt, and (d) the obligation to protect and care for all living things.Karya sastra memiliki andil kuat dalam literasi lingkungan. Melalui kisah dalam novel Si Anak Pemberani karya Tere Liye, penelitian ini bertujuan mengetahui pemertahanan lingkungan masyarakat di lembah Bukit Barisan dalam novel Si Anak Pemberani karya Tere Liye. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan kritik sastra. Data yang digunakan adalah teks (dokumen) berupa kutipan, cuplikan, kalimat, dialog, dan lainnya yang terdapat dalam novel secara objektif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membaca dan menganalisis data fenomena di dalam cerita novel terkait eksploitasi lingkungan. Data kemudian dianalisis menggunakan ekokritik dengan tahapan mengkaji tema dan pesan upaya pemertahanan kelestarian alam melalui kritik terhadap kerusakan lingkungan yang terdapat dalam novel. Sebagai hasilnya, penelitian ini menunjukkan adanya upaya pemertahanan lingkungan dengan wujud empat prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam. Keempat prinsip tersebut, yaitu (a) hak makhluk hidup untuk dilindungi, (b) hak makhluk untuk dipelihara, (c) hak makhluk hidup untuk tidak disakiti, dan (d) kewajiban perlindungan dan pemeliharaan terhadap semua makhluk hidup. 
SISTEM FONOLOGI BAHASA TAE (The Phonology System of Tae Language) NFN Suparman; NFN Nurliana
Kandai Vol 18, No 1 (2022): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v18i1.3450

Abstract

This study aims to identify and describe qualitatively the phonological system of Tae Rongkong dialect in North Luwu Regency, South Sulawesi. The analysis was carried out on 200 Swadesh vocabularies carried out in the field. The results of the study were analyzed in four categories. The categories in question are phoneme identification, phoneme distribution, phoneme clusters and tribal patterns in the Tae Rongkong dialect. In the phoneme identification carried out by researchers in the Tae dilaek Rongkong language, 5 vowel phonemes were found, including vowel phonemes [u], [a], [e], [O], and [o], and 9 consonant phonemes. which include consonant phonemes [m], [l], [s], [r], [b], [k], [d], [t], [n] obtained. In the distribution of phonemes in Tae language dialect rongkong found 9 vowel phonemes which include vowel phonemes [a], [i], [u], [I], [e], [é], [o], [ U] and [O], each of which occupies the position of a vowel sound in the Tae Rongkong dialect. In the distribution of consonant phonemes found 15 consonant phonemes in the Tae Rongkong dialect found consonant phonemes consisting of consonant phonemes [b], [d], [g], [j], [k], [l], [ m], [n], [ŋ], [p], [r], [s], [t], [v] and [?].; also found 5  vowel phoneme clusters /ai/, /ia/, /ua/, /ei/, and /oa/; and in the consonant phoneme group found 1 consonant phoneme /ŋk/; The tribal patterns found by researchers in the Tae Rongkong dialect consist of trisyllabic patterns with monosyllabic V, polysyllabic K.V, V.K, trisyllabic K.K.KV and four-syllabic KK.K.K.V.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan secara kualitatif sistem fonologi bahasa Tae dialek Rongkong di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Analisis dilakukan pada 200 kosakata Swadesh yang dilakukan di lapangan. Hasil penelitian dianalisis dalam empat kategori. Kategori yang dimaksud ialah identifikasi fonem, distribusi fonem, gugus fonem, dan pola persukuan dalam bahasa Tae dialek Rongkong. Pada identifikasi fonem yang dilakukan peneliti pada bahasa Tae dilaek Rongkong ditemukan 5 fonem vokal di antaranya fonem vokal [u], [a], [e], [O], dan [o] dan 9 fonem konsonan di antaranya fonem konsonan [m], [l], [s], [r], [b], [k], [d], [t], dan [n]. Pada distribusi fonem yang ada pada bahasa Tae dialek Rongkong ditemukan 9 fonem vokal di antaranya fonem vokal [a], [i], [u], [I], [e], [é], [o], [U], dan [O] yang masing-masing menempati posisi keberadaan bunyi vokal pada bahasa Tae dialek Rongkong. Pada distribusi fonem konsonan ditemukan 15 fonem konsonan dalam bahasa Tae dialek Rongkong dan ditemukan lagi fonem konsonan yang terdiri atas fonem konsonan [b], [d], [g], [j], [k], [l], [m], [n], [ŋ], [p], [r], [s], [t], [v], dan [?]; ditemukan pula 5 gugus fonem vokal /ai/, /ia/, /ua/, /ei/, dan /oa/; dan pada gugus fonem konsonan ditemukan 1 fonem konsonan /ŋk/; pola persukuan yang ditemukan peneliti dalam bahasa Tae dialek Rongkong terdiri atas pola persukuan bersuku satu V, bersuku dua K.V, V.K, bersuku tiga K.K.KV, dan bersuku empat KK.K.K.V.
MITOS ROKAT AENG MANES MASYARAKAT MARITIM SITUBONDO: ANALISIS SKEMA AKTANSIAL DAN STRUKTUR FUNGSIONAL (Myths of Rokat Aeng Manes Situbondo Maritime Community: Analysis of Actional Schemes and Functional Structures) NFN Siswanto; NFN Sukatman
Kandai Vol 18, No 1 (2022): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v18i1.3040

Abstract

This research is focused on the folklore of the maritime community in Situbondo, especially the myth of the Rokat aeng manes in Agel Village. Agel's Aeng Manis skirt is an original Situbondo tradition which has its own peculiarities. This traditional ceremony has been going on for generations in the Agel community. The Aeng Manis Rokat Ceremony in Agel Village is a village clean-up ceremony carried out by the Agel community. This ceremony is held to celebrate the harvest and pray for it to be kept away from various logs, diseases, and disasters. This research discusses the myth of the Rokat Aeng Manis ritual in Agel Asembagus, Situbondo village from the perspective of oral tradition with the theory of the Greimas schema and functional structure and the analysis of interpretation in the context of oral history. The method used was ethnography, which emphasizes the active participation of researchers or is directly involved in the community being studied to obtain field notes that can answer research problems. The results describe the phenomenon of violence against women, namely Princess Mayangsari due to the attack of the King of Bali on the Madura Kingdom which is divided into three stages. This condition was resolved with the emergence of the White Tiger (Helper) who was motivated to restore the dignity and glory of the Madura Kingdom.Penelitian ini difokuskan pada folklor masyarakat maritim di Situbondo, khususnya mitos rokat aeng manes di Desa Agel. Rokat Aeng Manis Agel adalah tradisi asli Situbondo yang mempunyai kekhasan tersendiri. Upacara adat ini telah berlangsung turun temurun di masyarakat Agel. Upacara Rokat Aeng Manis di desa Agel merupakan sebuah upacara bersih desa yang dilaksanakan oleh masyarakat Agel. Upacara ini dilaksanakan untuk mensyukuri hasil  panen dan mendoakan agar dijauhkan dari berbagai bala, penyakit, dan bencana. Penelitian ini mendiskusikan mitos ritual Rokat Aeng Manis di Desa Agel Asembagus Situbondo dari perspektif tradisi lisan dengan teori skema aktan dan struktur fungsional Greimas dan analisis tafsir dalam konteks sejarah lisan. Metode yang digunakan adalah etnografi yang mengedepankan partisipasi aktif peneliti atau terlibat langsung ke masyarakat yang diteliti untuk mendapatkan catatan lapangan yang dapat menjawab permasalahan penelitian. Hasil penelitian mendeskripsikan fenomena kekerasan terhadap perempuan yakni Putri Mayangsari akibat adanya penyerangan Raja Bali pada Kerajaan Madura yang terbagi menjadi tiga babak. Kondisi tersebut terselesaikan dengan munculnya Macan Putih (helper) yang termotivasi untuk mengembalikan martabat dan kejayaan Kerajaan Madura. 
BAHASA LORANG, BAHASA BARAKAI, DAN BAHASA DOBEL DI KEPULAUAN ARU DALAM KAJIAN LEKSIKOSTATISTIK (Lorang Languages, Barakai Languages, and Dobel Languages in Aru Islands in Lexicostatistic Study) NFN Erni; Mujahid Taha; Fida Febriningsih; Dendi Wijaya; Jusmianti Garing
Kandai Vol 18, No 1 (2022): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v18i1.3197

Abstract

This study aims to determine the kinship relationship between Lorang, Barakai, and Double languages in the Aru Islands Regency, Maluku Province through lexicostatistical studies. In addition to this language being in the same geographical area, it also has some of the same vocabularies so that it is very possible to have linguistic kinship both phonemically and lexically. To prove this assumption, linguistic research needs to be done by documenting the three languages. This study uses a quantitative approach with the method lexicostatistics. The purpose of this research is the kinship relationship between Lorang language, Barakai language, and Double language. Data collection was carried out using direct observation, listening, and recording methods. The results showed that the three languages are still related as language families. The percentage of kinship/kinship between Lorang language and Barakai language is 52%, Lorang language is Double language is 46%, and Barakai language is Double language is 68%. Meanwhile, the separation time between the Lorang language and the Barakai language was about six thousand years ago, between the Lorang language and the Double language about 18 thousand years ago, and between the Barakai language and the Double language it is estimated to have separated about two thousand years ago.Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kekerabatan bahasa Lorang, bahasa Barakai, dan bahasa Dobel yang ada di Kabupaten Kepualauan Aru, Provinsi Maluku melalui kajian leksikostatistik. Selain bahasa ini berada pada wilayah geografis yang sama juga memiliki beberapa kosakata yang sama sehingga sangat memungkinkan adanya kekerabatan bahasa, baik secara fonemis maupun leksikal, untuk membuktikan asumsi tersebut perlu dilakukan penelitian kebahasaan dengan cara mendokumentasikan ketiga bahasa tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode leksikostatistik. Tujuan penelitian ini adalah hubungan kekerabatan bahasa Lorang, bahasa Barakai, dan bahasa Dobel. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi langsung, simak, dan perekaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga bahasa tersebut masih berkerabat sebagai keluarga bahasa. Persentase kekognatan/kekerabatan antara bahasa Lorang dengan bahasa Barakai sebesar 52%, bahasa Lorang dengan bahasa Dobel sebesar 46%, dan bahasa Barakai dengan bahasa Dobel sebesar 68%. Sementara itu, waktu pisah antara bahasa Lorang dengan bahasa Barakai, yaitu sekitar 6 ribu tahun yang lalu, antara bahasa Lorang dan bahasa Dobel sekitar 18 ribu tahun yang lalu, dan antara bahasa Barakai dan bahasa Dobel diperkirakan berpisah sekitar dua ribu tahun yang lalu. 
CERITA RAKYAT PUTRI JAMBUL EMAS BAGI MASYARAKAT ACEH: ANALISIS STRUKTURAL LEVI-STRAUSS (Putri Jambul Emas Folklore for Aceh People: Levi-Strauss Structural Analysis) Inung Setyami
Kandai Vol 18, No 1 (2022): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v18i1.2901

Abstract

This study aims to describe the analysis of the Putri Jambul Emas with the Levi-Strauss structural theory. The data source of this research was Putri Jambul Emas, which was originally entitled Putroe Gumbak Meuh which was translated into Indonesian by Ramli Harun. The data collection technique was done by readingand taking notes, namely reading accompanied by careful and thorough recording of the whole story. This research is a qualitative descriptive study. This technique is carried out through 1) identification, 2) classification, 3) interpretation, and 4) inference. The results show that the structural analysis of the myth of Putroe Geumbak Meuh (Putri Jambul Emas) has provided a description of the reality of life of the Acehnese people and can even be linked to the values of local wisdom, history, regional resilience, children's devotion to their parents, choosing a life partner, the religiosity of the Acehnese people, and people's views on virginity.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan analisis Putri Jambul Emas dengan teori Struktural Levi-Strauss. Sumber data penelitian ini Putri Jambul Emas yang semula berjudul Putroe Gumbak Meuh yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ramli Harun. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan baca catat, yaitu pembacaan disertai dengan pencatatn dengan cermat dan teliti keseluruhan cerita. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik ini dilakukan melalui langkah-langkah, 1) identifikasi, 2) pengklasifikasian, 3) interpretasi, dan 4) inferensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis struktural terhadap mitos Putroe Geumbak Meuh (Putri Jambul Emas) ini telah memberikan deskripsi mengenai realitas kehidupan masyarakat Aceh bahkan bisa dikaitkan dengan nilai-nilai kearifan lokal, sejarah, ketahanan wilayah, rasa bakti anak terhadap orang tua, memilih pasangan hidup, religiusitas masyarakat Aceh, dan pandangan masyarakat terhadap virginitas. 
THE MEANING OF “COOKING VERBS” IN MUNA LANGUAGE: NATURAL SEMANTIC METALANGUAGE (Makna “Verba Memasak” dalam Bahasa Muna: Metabahasa Semantik Alami) Haerun Ana; La Yani Konisi
Kandai Vol 18, No 1 (2022): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v18i1.3296

Abstract

Artikel ini membahas makna verba memasak bahasa Muna. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan mengggunakan teknik rekam dan catat. Data tersebut analisis secara kualitatif menggunakan metabahasa semantika lami, sebuah pendekatan untuk mengkaji berbagai bentuk, struktur, dan makna bahasa secara utuh dengan prinsip “satu bentuk untuk satu makna dan satu makna untuk satu bentuk”. Pendekatan ini menggunakan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan sesuatu tanpa berbelit-belit atau berputar-putar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna memasak dalam bahasa Muna dapat diekspresikan dengan berbagai leksikon dan masing-masing leksikon memiliki makna distintif, yakni verba makna memasak menggunakan air seperti pada verba ghaudan to:fi, makna memasak menggunakan minyak seperti pada verba hole: dan sanggarae, dan makna memasak tanpa menggunakan air dan minyak seperti pada verba tunu dan rawue. Sesuatu yang dimasak dan komponennya (air, api, asap, atau minyak) yang digunakan untuk memasak menentukan jenis verba yang akan digunakan. Verba-verba memasak tersebut dapat mengindikasikan atau menggambarkan obyek yang dimasak dan proses memasak. Walaupun demikian, agen atau pelaku sebagai subyek bersifat bebas dan tidak tergantung baik pada predikat maupun obyek, atau sebaliknya.This paper aims at investigating the meaning of cooking verbs in Muna language. The data were collected through interview with recording and noting techniques. It was analyzed qualitatively by using natural semantics metalanguage (NSM), an approach to investigate various forms, structure, and meaning in the whole with principle “one form for one meaning and one meaning for one form”. It uses appropriate words to explain something without using other lexicons or without obscurity. The result of this study shows that meaning of verbs cooking in Muna can be expressed by a number of lexicons and each form has distinctive meaning in expressing the meaning of cooking, namely to cook using water, such as ghau and to,fi: to cook using oil, such as hole and sanggarae, and to cook without using water and oil, such as tunu and rawue. Something that will be cooked and component used to cook determines the kinds of those verbs. Those verb of cooking in Muna language can indicate or describe the object which is cooked and process of cooking. However, actor or agent as subject is independent either predicate or object, and vice versa.