cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
ISOLASI DAN SELEKSI BAKTERI SALURAN PENCERNAAN IKAN LELE SEBAGAI UPAYA MENDAPATKAN KANDIDAT PROBIOTIK UNTUK EFISIENSI PAKAN IKAN Titin Kurniasih; Angela Mariana Lusiastuti; Zafril Imran Azwar; Irma Melati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.401 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.1.2014.99-109

Abstract

Bakteri yang diisolasi dari saluran pencernaan yang mempunyai aktivitas amilolitik (mencerna karbohidrat), proteolitik (mencerna protein), dan lipolitik (mencerna lemak) dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan daya cerna bahan pakan. Penelitian ini bertujuan mendapatkan bakteri dari saluran pencernaan ikan lele yang memiliki aktivitas amilolitik, proteolitik, dan lipolitik serta berpotensi menjadi probiotik pakan. Tahapan penelitian meliputi kultur dan isolasi bakteri pada media universal dengan penambahan pati, kasein, dan minyak zaitun masing-masing sebanyak 2%, dilanjutkan dengan uji hidrolisis karbohidrat (pati), protein (kasein), dan lemak (minyak zaitun). Hasilnya didapatkan dua isolat dari kelompok bakteri proteolitik, dua isolat dari kelompok amilolitik dan tiga isolat dari kelompok lipolitik. Kandidat bakteri probiotik tersebut berasal dari genus Staphylococcus, Micrococcus, Corynebacterium, Bacillus, Lactobacillus, Aerococcus, dan Streptococcus.
PENGARUH IMPLANTASI HORMON 17a-METIL TESTOSTERON TERHADAP PEMATANGAN GONAD DAN FERTILITAS SPERMA IKAN BAUNG (Mystus nemurus) Sularto Sularto; Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi; Ikhsan Khasani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.303 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.1.2010.53-57

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh implantasi hormon 17a-metiltestosteron terhadap pematangan gonad dan daya fertilitas sperma ikan baung (Mystus nemurus). Ikan uji yang digunakan adalah calon induk ikan baung jantan dengan kisaran bobot antara 187–338,5 g; panjang 21,1–27,5 cm; berumur 2 tahun dari hasil budidaya. Wadah pemeliharaan berupa waring berukuran 2 m x 2 m x 1,25 m yang ditempatkan dalam kolam tembok berukuran 200 m. Perlakuan adalah implantasi pelet hormon 17a-metiltestosteron dengan dosis: 0 (kontrol) (A), 100 (B), 200 (C), 300 (D), dan 400 µg/kg induk (E), setiap perlakuan diulang 4 kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa implantasi pelet hormon 17a-metiltestosteron dapat merangsang pematangan gonad serta meningkatkan produksi sperma ikan baung. Sperma hasil stripping terbukti dapat membuahi telur dengan daya fertilitas masing-masing perlakuan: 27,65% (A); 42,4% (B); 79,0 % (C); 43,95% (D); dan 39,5% (E), dengan daya tetas masing-masing perlakuan: 14,6% (A);  42,2% (B); 69,7 % (C); 43,5% (D); dan 32,5% (E). Dosis 200 µg/kg induk merupakan dosis yang paling efektif untuk pematangan gonad ikan baung jantan
KARAKTERISTIK, KESESUAIAN, DAN PENGELOLAAN LAHAN TAMBAK DI KOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH Rachmansyah Rachmansyah; Akhmad Mustafa; Mudian Paena
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.909 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.505-521

Abstract

Kota Pekalongan memiliki lahan tambak yang produktivitas tambaknya masih tergolong relatif rendah. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk mengetahui karakteristik lahan dalam upaya menentukan kesesuaian dan pengelolaan lahan untuk budidaya tambak demi peningkatan produktivitas tambak di Kota Pekalongan. Faktor yang dipertimbangkan dalam mengetahui karakteristik lahan adalah: tanah, topografi, hidrologi, vegetasi, dan iklim. Analisis spasial dalam Sistem Informasi Geografis digunakan dalam penentuan kesesuaian lahan untuk budidaya tambak. Pengelolaan lahan ditentukan berdasarkan karakteristik lahan yang disesuaikan dengan teknologi dan komoditas yang dapat diaplikasikan di tambak. Tanah tambak di Kota Pekalongan tergolong tanah aluvial non-sulfat masam yang tidak memiliki potensi kemasaman tanah yang tinggi dan sebagian kecil tanah sulfat masam. Sumber air laut untuk tambak tergolong agak keruh dan salinitas air tambak cukup bervariasi sebagai akibat adanya sumber air tawar yang berasal dari Sungai Pekalongan dan sodetan. Vegetasi bakau adalah jenis vegetasi yang dominan di kawasan tambak sebab adanya Program GERHAN (Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan) di Kota Pekalongan. Curah hujan di Kota Pekalongan sebesar 2.300 mm/tahun di mana curah hujan yang rendah dijumpai pada bulan Juli sampai Oktober. Di kawasan pesisir Kota Pekalongan dijumpai tambak, sawah, sawah terintrusi, dan pemukiman yang luasnya masing-masing 332,29; 372,53; 183,83; dan 619,73 ha. Dari luas tambak yang ada di Kota Pekalongan, yaitu 331,292 ha ternyata tidak ada tambak yang tergolong sangat sesuai (kelas S1), 191,856 ha tergolong cukup sesuai (kelas S2) dan 140,436 ha tergolong kurang sesuai (kelas S3). Pada areal yang mengandung unsur atau senyawa penyebab kemasaman yang tinggi disarankan untuk melakukan upaya perbaikan tanah terlebih dahulu berupa remediasi, pemberian pupuk yang mengandung nitrogen pada areal yang memiliki rasio C:N tanah yang tinggi serta pemberian pupuk kandang pada tanah yang mengandung liat lebih besar 60% dan bahan organik kurang dari 8%.Pekalongan City has brackishwater ponds with low productivity. Hence, a survey was conducted to know land characteristics as an effort to determine land suitability and land management to increase the productivity of brackishwater ponds in Pekalongan City, Central Java Province. Factors considered to determine the characteristics of land were soil, topography, hydrology, vegetation, and climate. Spatial analysis in Geographical Information System was used to determine land suitability for brackishwater ponds. Land management was determined based on the characteristics of land conditioned to the types of technology and commodity applied in the brackishwater ponds. Soil of brackishwater ponds in Pekalongan City was dominated by alluvial non-acid sulfate soil in large areas and acid sulfate soil in small areas. Source of sea water for brackishwater ponds has high turbidity and high variation of salinity due to presence of freshwater supply from Pekalongan River and man made canals. Mangrove vegetation is dominant in the coastal area of Pekalongan City, because the presence of GERHAN (National Action for Forest and Land Rehabilitation) Program. The average of rainfall in Pekalongan City is 2,230 mm/year, where low of rainfall occurrs in July until October. The result revealed that the coastal area of Pekalongan City had brackishwater ponds, paddy field, paddy field intruded saline water and settlement of 332.29 ha; 372.53 ha; 183.83ha; and 619.73 ha, respectively. From the total brackishwater ponds in Pekalongan City i.e. 331.292 ha, there were no brackishwater ponds classified as highly suitable (S1 class), but it was found moderately suitable or S2 class (191.856 ha) and marginally suitable or S3 class (140,436 ha). It is suggested to conduct improving soil quality first, including remediation of the areas that contain elements or compounds causing the high acidity of soil, fertilizing with fertilizer containing nitrogen in the areas that have high C:N ratio and applying manure in the soils that contain clay more than 60% and organic matter less than 8%. 
KEANEKARAGAMAN DAN MIGRASI VERTIKAL COPEPODA DI TELUK SUMBERKIMA BALI Media Fitri Isma Nugraha; Gede Suwarthama Sumiarsa; Adi Hanafi; Sudarto Sudarto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1085.045 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.375-383

Abstract

Penelitian keanekaragaman spesies copepoda yang hidup di sekitar keramba jaring apung (KJA) di Teluk Sumberkima, Bali Utara dilaksanakan pada bulan Februari 2007 dengan posisi sampling 50L 0237293 UTM 9101738. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan distribusi vertikal populasi zooplankton khususnya copepoda di sekitar KJA Teluk Sumberkima pada beberapa tingkat kedalaman. Sampling copepoda dilakukan dengan memompa air laut sejumlah volume tertentu pada tingkat kedalaman masing-masing 0 m, 3 m, 6 m, 9 m, 12 m, dan 15 m. Air laut tersebut kemudian disaring pada 200 µm secara terpisah. Sampel copepoda diawetkan dengan formalin 4% untuk analisis mikroskopik di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan secara keseluruhan terdapat 3 ordo yang terdiri atas 22 spesies copepoda. Ordo yang mendominasi adalah Calanoida yang ditemukan pada setiap kedalaman, dilanjutkan oleh ordo Cyclopoida yang ditemukan pada kedalaman 0 m, 3 m, 6 m, 12 m, dan 15 m dan ordo Harpacticoida yang ditemukan di semua lapisan kedalaman. Spesies yang mendominasi di setiap kedalaman adalah Calanus sinicus dan Calanus minor.The aim of this experiment was to study biodiversity and vertical distribution of copepods around floating cage culture in Sumberkima Bay, North Bali, in sea water depth levels of 0, 3, 6, 9, 12, and 15 meters at sampling site of 50L 0237293 UTM 9101738. The observation was done in February 2007. Samples were obtained by pumping and then filtering the seawater through 200 µm membrane filter. Samples were preserved in 4% formaldehyde for microscopic observation. Results showed that there were three orders from 22 copepod species dominated by the order of Calanoida found in any depth level followed by the order of Cyclopoida found at 0, 3, 6, 12, and 15 meters depth. Even though the order of Harpacticoida copepods was found in each observed depth level but this order was in little quantity. Dominant species at each depth level was Calanus sinicus and Calanus minor from the order of Calanoida.
EVALUASI REPRODUKSI TIGA POPULASI IKAN PATIN SIAM Pangasionodon hypophthalmus PADA GENERASI KEDUA Sularto Sularto; Wartono Hadie; Rani Hafsaridewi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 1 (2012): (April 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.819 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.1.2012.11-19

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui keragaan trait reproduksi ikan patin siam generasi F-1. Ikan uji yang digunakan adalah tiga populasi patin siam hasil seleksi pada tahun 2004. Ikan dipelihara dalam jaring yang ditempatkan dalam kolam 6.000 m2 dengan kedalaman antara 1,25-1,5 m. Pakan berupa pelet komersial dengan kadar protein 28% diberikan sebanyak 2% bobot biomassa/hari. Parameter yang diamati adalah perkembangan gonad, fekunditas, fertilitas, dan daya tetas. Parameter pendukung adalah kualitas air dan tingkat curah hujan. Pengamatan perkembangan gonad dilakukan setiap bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan patin populasi Sukamandi mempunyai fekunditas tertinggi yaitu 201.319 butir/kg induk diikuti oleh populasi Jakarta 163.348 butir dan populasi Sukabumi 132.340 butir. Nilai indeks ovosomatik tertinggi terdapat pada populasi Sukamandi sebesar 16,52%, diikuti populasi Jakarta 14,63% dan populasi Sukabumi 10,79%. Diameter oosit terbesar terdapat pada populasi Jakarta yaitu 1,08 mm; demikian pula panjang larva tertinggi pada populasi Jakarta yaitu 3,79 mm. Derajat fertilitas tertinggi terdapat pada populasi Sukamandi yaitu 67,88%; sedangkan derajat penetasan tertinggi terdapat pada populasi Sukabumi yaitu 96,67%.
HORMON ECDYSTERON DARI EKSTRAK DAUN MURBEI, Morus spp. SEBAGAI MOULTING STIMULAN PADA KEPITING BAKAU Herlinah Herlinah; Andi Tenriulo; Emma Suryati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.199 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.3.2014.387-397

Abstract

Murbei terbukti mampu mempercepat moulting pada insekta (ulat sutera). Persamaan filum (Arthropoda) antara kepiting dan ulat sutra memungkinkan efek mekanisme kerja ecdysteron (ECD) daun murbei pada fase moulting ulat sutra juga bekerja pada fase moulting kepiting bakau. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan isolasi dan identifikasi kandungan ECD pada tanaman murbei. Selanjutnya pemanfaatan ekstrak daun murbei sebagai moulting stimulan pada kepiting bakau. ECD dari daun murbei diperoleh melalui isolasi, pemurnian, serta identifikasi secara spektroskopi antara lain pengukuran panjang gelombang sinar ultra violet dan spektrum infra merah untuk menentukan gugus fungsi. Kandungan ECD pada kepiting dari setiap fase moulting dilakukan melalui ekstraksi pada hemolimp menggunakan pelarut diethyl ether kemudian diukur menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Hasil penelitian memperlihatkan kandungan ECD pada tanaman murbei Morus spp. diperoleh pada fraksi kedua (1.058,62 mg/L) dan ketiga (1.088,4 mg/L). Sedangkan kandungan ecdysteron pada haemolimp yang paling tinggi pada fase sebelum moulting (4,53 mg/L) dan sesudah moulting (2,52 mg/L). Aplikasi ecdysteron pada kepiting bakau melalui penyuntikan memperlihatkan dosis yang paling optimal pada 100 mg/L ECD.
PENDEKATAN EKOLOGIS DALAM TEKNIK PENGEMASAN IKAN KELING HIJAU (HALICHOERES CHLOROPTERUS): PENGARUH PENAMBAHAN PASIR DAN SCHOOLING TERHADAP KETAHANAN HIDUP Rory Anthony Hutagalung
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.668 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.447-454

Abstract

Dalam mata rantai pengiriman ikan hias, kondisi optimal lingkungan pengemasan merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan dalam proses pengiriman. Mengoptimalkan kondisi pengemasan dengan menggunakan faktor fisika-kimia seperti salinitas, suhu, pH, dan kesadahan telah dilakukan namun tingkat kematian masih tetap tinggi. Dalam penelitian ini, fokus utama adalah pada pendekatan ekologis untuk mengurangi tingkat kematian ikan keling hijau (Halichoeres chloropterus) selama pengiriman dengan menghadirkan lingkungan asli dalam pengemasan. Pendekatan ekologis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menambahkan pasir dan memanfaatkan kebiasaan atau sifat bergerombol Halichoeres chloropterus. Rancangan faktorial diterapkan dengan menggunakan dua faktor, yakni penambahan pasir dan kebiasaan atau sifat bergerombol. Penambahan pasir dapat meningkatkan ketahanan hidup ikan dan kemasan 2 ikan per kemasan dan penambahan pasir 125 g menunjukkan ketahanan hidup paling tinggi (120.994 ± 0,284 jam). Namun kemasan dengan 3 ekor ikan per kemasan dan penambahan pasir 62,5 g dianggap paling efesien karena dapat mengadopsi kepentingan ekonomi tanpa mengorbankan kepentingan ekologi dan tidak mengganggu kenyamanan ikan selama pengiriman. Lebih jauh lagi, optimalisasi pengemasan dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah air sampai kurang dari setengah kemasan normal (200 gram) dengan syarat pasir ditambahkan. Teknik pengemasan ini dapat memberikan keuntungan ekonomis, juga turut berperan dalam melestarikan lingkungan dengan mengurangi tekanan (ekploitasi) pada alam.In the shipment chain of ornamental fishes, optimum condition of packing environment is the main factor to the success of the process. Optimizing the packing conditions by altering chemical-physical factors, such as varying salinity, temperature, pH and hardness, had been practiced but the mortality rate is still high. In this research, the main attention resides on ecological approach in order to reduce the mortality rate of Halichoeres chloropterus by presenting the natural environment in the packing. The ecological approach used in this research was by adding sand and implementing the schooling habit of Halichoeres chloropterus. The factorial design was applied by using two factors, namely sand and schooling habit. The sand addition improved significantly the resilience and the packing with 2 fishes per pack added with 125 g sand performed the highest resilience (120.994 ± 0.284 hours). But the packing of 3 fishes with 62.5 g sand addition is considered the most efficient way from the economic point of view, ecologically safe and still providing a comfortable condition for the fish during the transport. Furthermore, packing optimization could be done by reducing water quantity less than a half of the container (200 g), as long as the sand was added. The ecological approach in this packing technique is a simple idea but the result can bring a great benefit. This packing technique is economically efficient and contribute a significant role in saving the environment, by reducing the pressure (exploitation) on the natural resources.
RESPON IMUNITAS BENIH LOBSTER, Panulirus homarus DENGAN PENGGUNAAN PROBIOTIK PADA PAKAN MOIST Haryanti Haryanti; Sari Budi Moria Sembiring; Sudewi Sudewi; Zeny Widiastuti; I Nyoman Adiasmara Giri; Ketut Sugama
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.419 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.1.2017.85-97

Abstract

Pemeliharaan benih lobster P. homarus masih menghadapi beberapa permasalahan, di antaranya infeksi penyakit bakteri (red body disease) dan mortalitas yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji respons imunitas benih lobster P. homarus yang diberi pakan pelet basah (moist diets) dengan penambahan probiotik. Pemeliharaan benih lobster dilakukan secara individu (1 ekor/keranjang). Lama pemeliharaan selama tiga bulan. Bobot awal puerulus P. homarus adalah 0,37 ± 0,05 g. Perlakuan meliputi pemberian pakan moist yang ditambahkan (A) ragi Saccharomyces cerevisiae, (B) kombinasi probiotik, Alteromonas sp. BY-9 dan Bacillus cereus BC, dan (C) tanpa probiotik. Respons imunitas dianalisis dengan RT-qPCR melalui tujuh gen target terkait ekspresi imunitas, setelah diuji tantang dengan Vibrio harveyi (penyebab red body disease). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan benih lobster sebesar (A) 32,22%; (B) 29,63%; dan (C) 33,33%. Pertumbuhan panjang dan bobot benih lobster tidak berbeda nyata (P>0,05). Respons imunitas benih lobster P. homarus pada perlakuan A dan B menunjukkan nilai ekspresi imun yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan C (tanpa probiotik). Ekspresi gen penyandi anti lipopolisakarida (ALFHa-1) meningkat pada (A) rata-rata sebesar 3,44 kali dan (B) 3,25 kali dibandingkan dengan perlakuan C (2,43 kali). Kelipatan ekspresi profenoloksidase (proPO) benih lobster meningkat pada perlakuan A (penambahan ragi) rata-rata sebesar 5,27 kali, sedangkan pada perlakuan B (kombinasi probiotik) sebesar 12,92 kali. Ekspresi Clotting sistem (transglutaminase, clotting protein) dan antioxidant defense mechanism (glutathione peroxidase/GPO) dan SAA juga mengalami peningkatan pada perlakuan A dan B.A number of contrains including disease infections and significant mortality have been occurring in lobster aquaculture. The aim of this research was to observe the immune response of juvenile lobster P. homarus culture fed by moist pellet supplemented with probiotic. Experimental juveniles were reared in individual system (one juvenile/basket). The experiment was conducted for three months. The treatments comprised (A) whole cell of yeast Saccharomyces cerevisiae, (B) combination of probiotics Alteromonas sp. BY-9 and Bacillus sp. BC, and (C) without probiotic as control. Initial weight of juveniles were 0.37 ± 0.05 g. Immunity responses were analyzed using seven immunity related genes expression by RT-qPCR. The results showed that the survival rate of juvenile for treatments A, B, and C were 32.22%, 29.63%, and 33.33% respectively. The weight and length gain of the juvenile were not significantly different (P>0.05) among treatments. Based on immunity related gene expression analysis, it revealed that A and B treatments have shown differences in the increament of immunity responses. Expressions of ALFHa-1 genes were increased on (A) treatment with average of 3.44 fold and (B) treatment (3.25 fold) and higher than C treatment (2.03 fold). Prophenoloxidase (ProPO) expression was increase average up to 5.27 fold on A (yeast supplementated) treatment and B (combination of probiotic) were 12.92 fold. Gene expression on Clotting system (transglutaminase, clotting protein) and antioxidant defense mechanism (glutathione peroxidase/GPO) was increased on A and B treatments.
SEDIAAN VAKSIN Mycobacterium fortuitum ISOLAT LOKAL YANG EFEKTIF UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT Mycobacteriosis PADA IKAN GURAMI, Osphronemus gouramy Uni Purwaningsih; Taukhid Taukhid; Angela Mariana Lusiastuti; Desy Sugiani; Tuti Sumiati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 3 (2015): (September 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.914 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.3.2015.423-433

Abstract

Mycobacteriosis merupakan penyakit yang bersifat kronis progresif yang rentan menyerang ikan gurami, dengan tingkat prevalensi mencapai 30%-80%. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan penyakit tersebut dengan menggunakan antibiotik, bahan kimia maupun terapi herbal namun belum memberikan hasil yang optimal. Vaksinasi diharapkan mampu menjadi solusi alternatif dan aplikatif untuk pencegahan penyakit Mycobacteriosis pada ikan gurami. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh jenis sediaan vaksin M. fortuitum yang tepat untuk mencegah penyakit Mycobacteriosis pada ikan gurami. Isolat M. fortuitum kode 31 digunakan sebagai isolat kandidat vaksin. Inaktifasi vaksin dilakukan dengan sonikasi dan neutral buffer formalin 3%. SDS PAGE terhadap sediaan sel utuh dan broth menunjukkan jumlah pita protein yang lebih variatif. Berdasarkan uji innocuity dan uji sterility terhadap berbagai sediaan vaksin menunjukkan bahwa vaksin terbukti aman dan tidak menyebabkan efek samping pada ikan gurami. Peningkatan titer antibodi terjadi 14 hari pasca vaksinasi. Titer antibodi pada perlakuan vaksin menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) dibanding kontrol pasca uji tantang. Kematian ikan pasca uji tantang dengan menggunakan bakteri M. fortuitum 106 cfu/mL menunjukkan pola kematian yang bersifat kronis. Kematian mulai terjadi setelah hari ke-19 pasca uji tantang. Ikan gurami yang divaksinasi dengan vaksin sel utuh M. fortuitum menunjukkan hasil terbaik dengan tingkat sintasan sebesar 83,33% dan relative percent survival (RPS) sebesar 66,67%.
PRODUKSI IKAN JANTAN FUNGSIONAL (NEOMALE) UNTUK MEMBENTUK POPULASI BETINA HOMOGAMET DALAM INDUSTRI TELUR IKAN NILEM Osteochilus hasselti Jojo Subagja; Wartono Hadie; Rudhy Gustiano
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.804 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.4.2015.511-517

Abstract

Ikan nilem (Osteochilus hasselti) dapat dijadikan ikan air tawar penghasil telur seperti halnya caviar, untuk itu, penyediaan ikan monosek betina sangat diperlukan. Benih ikan monoseks betina diperoleh dari persilangan ikan jantan fungsional dengan ikan betina normal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik perbanyakan ikan jantan fungsional dengan sex reversal terhadap benih monoseks betina, menggunakan metiltestosteron (MT) melalui metode perendaman terhadap telur stadia bintik mata sampai umur empat hari dari menetas dengan dosis perendamam 500 μg.L-1 air, dan melalui oral dilakukan selama 21 hari dimulai pada larva umur empat hari, dosis hormon MT yang digunakan 500 μg.kg-1 pakan dan diberikan tiga kali per hari. Ikan uji hasil perlakuan dipelihara hingga mencapai dewasa kelamin. Analisis gonad dini dilakukan terhadap 30 sampel dari masing-masing perlakuan terhadap benih ukuran 4-6 cm, dengan menggunakan pewarnaan aceto-carmin. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pembentukan jantan fungsional terhadap benih monoseks betina mencapai 86,67% dan 96,67% berturut-turut pada metode perendaman dan oral.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025) Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue