cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
POLA EKSPRESI GEN ENHANCED GREEN FLUORESCENT PROTEIN PADA EMBRIO DAN LARVA IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypophthalmus) Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi; Alimuddin Alimuddin; Agus Oman Sudrajat; Komar Sumantadinata; Erma Primanita Hayuningtyas
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1107.512 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.3.2013.339-346

Abstract

Penelitian ekspresi sementara (transient expression) dari transgen secara in vivomenggunakan gen reporter berguna untuk mendesain konstruksi gen yang akan digunakan pada penelitian transgenesis. Gen reporter yang umum digunakan dalam penelitian ekspresi sementara transgen adalah gen GFP (green fluorescent protein). Pengamatan gen EGFP (enhanced green fluorescent protein) pada embrio dan larva ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) ditujukan untuk mendapatkan informasi mengenai kemampuan promoter -aktin ikan mas dalam mengendalikan ekspresi gen EGFP. Gen EGFP diintroduksikan ke dalam sperma ikan patin siam menggunakan metode elektroporasi. Sperma yang telah dielektroporasi digunakan untuk membuahi sel telur ikan patin siam. Pengamatan ekspresi gen EGFP dilakukan setiap enam jam dimulai dari embrio fase 2 sel sampai larva. Berdasarkan hasil penelitian, gen EGFP terekspresi pada fase embrio dan larva ikan patin siam. Puncak ekspresi gen EGFP terjadi pada fase neurula dan menurun pada fase larva. Berdasarkan penelitian ini maka ikan patin siam transgenik telah berhasil dibentuk dan promoter -aktin ikan mas terbukti aktif dalam mengarahkan ekspresi gen asing (GFP) di dalam tubuh ikan patin siam.
KEBUTUHAN ASAM AMINO LISIN UNTUK BENIH IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) Nyoman Adiasmara Giri; Ketut Suwirya; Muhammad Marzuqi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.693 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.143-150

Abstract

Percobaan penentuan kebutuhan asam amino lisin untuk benih ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) telah dilakukan dengan metode pemeliharaan ikan menggunakan pakan yang mempunyai kandungan lisin berbeda. Ikan dengan bobot rata-rata 4,4 ± 0,3 gram dipelihara dalam bak polikarbonat volume 100 L dengan kepadatan 12 ekor ikan per bak. Setiap bak dilengkapi dengan sistem air mengalir dan aerasi. Pakan percobaan dibuat dalam bentuk pelet kering dengan kandungan protein 49% yang bersumber dari kasein dan tepung ikan serta campuran asam amino murni sehingga menyerupai komposisi asam amino tubuh ikan kerapu bebek, kecuali untuk lisin. Pakan percobaan mempunyai kandungan lisin berbeda, yaitu 1,77%; 2,27%; 2,77%; 3,27%; 3,77%; dan 4,27%. Ikan diberi pakan percobaan 2 kali sehari pada level satiasi selama 63 hari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa bobot ikan akhir, persen pertambahan bobot, laju pertumbuhan spesifik, efisiensi pakan, retensi protein, dan kandungan protein tubuh ikan dipengaruhi oleh kandungan lisin pakan. Kadar optimum lisin dalam pakan untuk benih ikan kerapu bebek dihitung dengan regresi broken line berdasarkan data persen pertambahan bobot. Dari perhitungan ini diperoleh bahwa kebutuhan lisin untuk benih ikan kerapu bebek mencapai 2,77% dalam pakan atau setara dengan 5,63% dari protein pakan.The experiment to find out an amino acid lysine requirement for growth of  humpback grouper  juvenile has been conducted in 18 polycarbonate tanks, 100 liters volume. Each tank is equipped with flow-through water system. Twelve juveniles of humpback grouper (4.4 ± 0.3 gram in body weight), which were produced in hatchery, were randomly selected, and stock in each tank. Fish fed with experimental diets twice everyday at satiation level for 63 days. Experimental diets were prepared as dry pellet with casein and fish meal as the intact protein sources, and the mixture of crystalline amino acids to reach protein level of 49% and the composition of amino acid similar to the amino acid composition of whole body protein of humpback grouper, except for lysine content. Basal diet (diet-1) contains 1.77% lysine that was supplied from casein and fish meal. Graded level (0.5%) of crystalline lysine was added to the basal diet to get the final lysine level in each diet of 1.77%, 2.27%, 2.77%, 3.27%, 3.77%, and 4.27%. The experiment was designed according to completely random design (CRD) with 6 treatments (lysine levels) and three replicates for each treatment. Result of the experiment showed that dietary lysine content influenced final weight, weight gain, specific growth rate, feed efficiency, protein retention, and body protein content of  humpback grouper juvenile. Optimum dietary lysine for  humpback grouper juvenile was calculated using broken line regression analysis. Optimum dietary lysine requirement for growth of juvenile humpback grouper is 2.77% or equal to 5.63% of dietary protein.
PERBAIKAN METODE IDENTIFIKASI POTENSI PENGEMBANGAN LAHAN UNTUK TAMBAK AIR PAYAU SISTEM EKSTENSIF LEWAT INTEGRASI LOGIKA SAMAR DAN PENGINDERAAN JAUH Tarunamulia Tarunamulia; Jesmond Sammut; Akhmad Mustafa
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.09 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.2.2010.317-323

Abstract

Tersedianya data potensi lahan tambak yang cepat, akurat dan lengkap untuk kebutuhan pengelolaan kawasan pengembangan perikanan budidaya air payau harus didukung oleh metode identifikasi yang efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengupayakan peningkatan kualitas metode klasifikasi multispektral dalam penginderaan jauh dalam mengidentifikasi potensi lahan tambak ekstensif dengan mengintegrasikan logika samar dalam proses klasifikasi citra. Citra landsat-7 ETM+ (30 m), data elevasi digital dan data pengecekan lapang untuk wilayah pantai (kawasan tambak ekstensif/tradisional) Kecamatan Kembang Tanjung, Pidie, Nangroe Aceh Darussalam (NAD) digunakan sebagai bahan utama dalam penelitian ini. Klasifikasi multispektral standar secara terbimbing diperbaiki melalui pengambilan data training secara cermat, yang diikuti dengan uji keterpisahan objek, pemrosesan pasca-klasifikasi dan analisis tingkat ketelitian. Hasil klasifikasi dengan tingkat ketelitian terbaik dari berbagai algoritma yang diujikan untuk tiga saluran selanjutnya dibandingkan dengan hasil klasifikasi dengan menggunakan logika samar. Dari hasil penelitian diketahui bahwa klasifikasi multispektral standar dengan algoritma Maximum Likelihood mampu menghasilkan informasi penutup lahan yang cukup lengkap dan rinci pada wilayah pertambakan dengan ketelitian yang cukup baik (>86%). Tingkat ketelitian yang sama juga masih dijumpai walaupun hanya melibatkan kombinasi 3 saluran terbaik (5,4, dan 3) yang dipilih berdasarkan analisis statistik nilai kecerahan piksel. Dengan membandingkan hasil terbaik dari metode klasifikasi standar yang berbasis logika biner (boolean) dengan hasil klasifikasi citra dengan logika samar dalam pengklasifikasian wilayah tambak, diketahui bahwa klasifikasi citra dengan logika samar mampu memperlihatkan hasil klasifikasi yang sangat baik untuk menentukan batas wilayah tambak yang tidak bisa dilakukan secara langsung bahkan oleh metode standar dengan algoritma terbaik. Dan dengan penambahan satu variabel kunci untuk tambak ekstensif seperti elevasi dalam klasifikasi, klasifikasi dengan logika samar dapat digunakan untuk memprediksi potensi pengembangan lahan budidaya tambak ekstensif dan kemungkinan tumpang tindih dengan penggunaan lahan lainnya.The availability of immediate, accurate and complete data on potential pond area as a baseline data for land management of brackishwater aquaculture must be supported by effective and efficient identification methods. The objective of this study was to explore the possibility of improving the quality of multispectral image classification methods in identifying potential areas for extensive brackishwater aquaculture through the integration of fuzzy logic and classification of remotely sensed data. 2002 Landsat-7 Enhanced Thematic Mapper Data (30-m pixels), digital elevation data, and groundtruthing of training data (region of interest/ROI) of Kembang Tanjung coastal areas (Pidie, NAD) were used as the primary data in this study. Standard supervised multispectral classification methods were enhanced by collecting appropriate and unbiased training data, applying separability measures of ROI pairs, employing post-classification analysis, and assessing the accuracy of classification results. Different types of standard supervised classification algorithms were evaluated and a classification output with the highest accuracy was selected to be compared with the result from fuzzy logic classification. The study showed that a supervised classification method based on maximum likelihood analysis produced the best classification output of land use-cover over the coastal region (overall accuracy > 86%). The accuracy remained at the same level although it involved only the best composite of 3 bands (5,4, and 3) determined by a rigorous statistical analysis of brightness values of pixels. It was clear that the fuzzy-based classification method was more effective in identifying potential extensive brackishwater pond areas compared to the best standard image classification based on binary logic (maximum likelihood). Also, by integrating elevation data as another key variable to determine the suitability of land for extensive brackishwater aquaculture, the fuzzy classification can be used to more accurately predict potential area suited for brackishwater aquaculture ponds and any possible overlapping activity with other land uses.
ANALISIS RASIO RNA/DNA UDANG WINDU Penaeus monodon HASIL SELEKSI TUMBUH CEPAT Andi Andi Parenrengi; Syarifuddin Tonnek; Andi Tenriulo
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.163 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.1.2013.1-12

Abstract

Seleksi udang windu Penaeus monodon tumbuh cepat menggunakan marker DNA telah berhasil dilakukan dalam upaya perakitan strain unggul udang windu. Udang windu hasil seleksi menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan dibandingkan dengan tanpa seleksi (kontrol). Rasio RNA/DNA merupakan salah satu parameter yang telah banyak digunakan dalam menentukan kualitas ikan/udang di antaranya adalah pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasio RNA/DNA pada udang windu hasil seleksi tumbuh cepat dan kontrol (tanpa seleksi). Sampel udang windu tumbuh cepat yang digunakan berukuran bobot 50,66±16,51 g dan panjang 17,55±1,93 cm; sedangkan udang kontrol berukuran bobot 29,64±11,93 g dan panjang 14,78±2,53 cm. Metode isolasi total RNA dilakukan dengan menggunakan kit isogen, sedangkan genom DNA menggunakan metode konvensional fenol kloroform. Konsentrasi RNA dan DNA hasil isolasi diukur menggunakan GeneQuant. T-test dari Statistix Versi 3,0 digunakan untuk membedakan rasio RNA/DNA antara kedua perlakuan yang dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genom DNA dan total RNA mempunyai tingkat kemurnian yang tinggi. Hasil analisis t-test menunjukkanbahwa rasio RNA/DNA udang windu tumbuh cepat (4,51) berbeda secara nyata (P<0,05) dengan udang windu kontrol (3,19). Kecenderungan rasio RNA/DNA semakin tinggi dengan semakin beratnya bobot badan, di mana rasio RNA/DNA udang betina (4,96) lebih tinggi (P<0,05) dari udang jantan (2,93). Analisis regresi menunjukkan bahwa rasio RNA/DNA udang windu memiliki hubungan erat dengan panjang (R=0,5628) dan bobot (R=0,6539). Hasil penelitian ini berimplikasi bahwa parameter rasio RNA/DNA dapat dijadikan sebagai indikator pertumbuhan udang windu.
FREKUENSI VAKSINASI UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT PADA BUDI DAYA UDANG WINDU ( Penaeus monodon Fabr.) DI TAMBAK Arifuddin Tompo; Endang Susianingsih; Mun Imah Madeali
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.484 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.1.2007.93-101

Abstract

Pencegahan dan penanggulangan penyakit pada budi daya udang windu dewasa ini dilakukan dengan cara merangsang kekebalan spesifik udang dengan menggunakan immunostimulan, namun optimalisasi penggunaannya masih perlu dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk mengoptimalisasikan penggunaan immunostimulan untuk dapat memberikan hasil yang efektif terhadap pencegahan penyakit pada budi daya udang windu. Immunostimulan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil ekstraksi dari bakteri, Vibrio harveyii yang dilemahkan dengan formalin 1%. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan: A= vaksinasi empat kali sebulan, B= vaksinasi dua kali sebulan, C= vaksinasi sekali sebulan, dan D= tanpa vaksin (kontrol) yang diulang sebanyak tiga kali. Aplikasi dolomit diberikan dua kali per minggu untuk semua perlakuan dengan dosis 5—10 mg/L untuk tiap kali penggunaan. Padat penebaran sebanyak 60.000 ekor/ha dengan pola tradisional plus. Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa perlakuan B (vaksinasi dua kali sebulan) memberikan sintasan yang tertinggi yaitu 91,5% dengan produksi tertinggi yaitu 84,0 kg. Pengamatan terhadap populasi bakteri Vibrio sp. pada lingkungan berada pada kisaran 102—103 cfu/mL yang masih layak bagi lingkungan dan budi daya udang sedangkan untuk kualitas air pada beberapa parameter juga berada pada kisaran yang layak untuk budi daya udang.In recent years the prevention and control of diseases on tiger shrimp culture has been stimulated by specific immunostimulan such as vaccine. How ever the optimalization used of immunostimulan have to be conducted. Based on that information, the study aims to optimalized the using of immunostimulan to give the effective result on diseases prevention on tiger shrimp culture. The immunostimulan used in this research was extracted from vibrio by formalin killed 1% with four treatments i.e. A= four times of vaccination a month, B= two times of vaccination a monts, C= once of vaccination a month and, D= control (non vaccination). Dolomite application was given two times a week for all treatments with the dosage 5—10 mg/ L. The results shows that the treatment B (two times of vaccination a month) exhibit the survival rate i.e. 91.5% it is higher than A, C, and D treatments with highest production 84.0 kg. Observation on the population of Vibrio sp. value range 102—103 cfu/mL that’s normally condition both on environmental and shrimp culture, and water quality parameters was still in normal condition.
KAJIAN BIOLOGI DAN PEMBENIHAN UDANG Penaeus semisulcatus DENGAN MANAJEMEN PROBIOTIK Alteromonas BY-9 Ida Komang Wardana; Haryanti Haryanti; Gusti Ngurah Permana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1914.954 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.3.2006.447-460

Abstract

Udang Peneaus semisulcatus merupakan salah satu kandidat spesies udang budidaya yang berpeluang memiliki nilai ekonomis tinggi disamping sebagai upaya diversivikasi produk perikanan budidaya
PENINGKATAN SINTASAN KRABLET RAJUNGAN (Portunus pelagicus) MELALUI PERBAIKAN MANAJEMEN PAKAN Bambang Susanto; Irwan Setyadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.436 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.329-338

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen pemberian pakan yang sesuai agar diperoleh pertumbuhan krablet yang baik serta dapat mereduksi kanibalisme. Wadah yang digunakan berupa bak fiber glass yang diisi air laut dengan volume 400 L, yang diberi batu karang dan waring sebagai shelter pada dasar bak. Setiap bak ditebar megalopa rajungan dengan kepadatan 3 ekor/L dengan perlakuan yaitu A: pakan komersial (PK) + ikan; B: PK + ikan + rebon + cumi; C: ikan + rebon + cumi + kerang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan dan sintasan krablet rajungan. Dari hasil pengamatan lebar karapas krablet rajungan pada hari ke-15 menunjukkan bahwa perlakuan A: 8,40 mm berbeda dengan perlakuan B: 9,45 mm dan C: 9,51 mm; sementara pengamatan lebar karapas hari ke-30 walaupun tidak memberikan perbedaan yang nyata (P>0,05) di antara ketiga perlakuan, tetapi perlakuan C: 26,08 mm memiliki ukuran lebar karapas yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan B: 25,42 mm dan A: 25,96 mm. Persentase sintasan pada hari ke-15 (D-15) untuk perlakuan C lebih baik (60,58%) dibanding perlakuan A: 52,33% dan B: 55,83%. Persentase sintasan pada D-30 dari ke-3 perlakuan berturut-turut adalah A: 4,50%; B: 5,17%; dan C: 5,25%.This trial was carried out with the aim to improve survival rate and growth of crablet as well as to reduce cannibalism. Fiber glass tank of 400 L were equipped with coral reef and net were put on the tank botton serving as shelter. Initial density of megalopa in each tank was 3 ind/L. Three treatments were A: commercial feed (PK) + fish, B: PK+ fish + mysid + squid, C: fish + mysid + squid + cockle. Result of the experiment showed that giving different feeds gave significant effect (P<0.05) on growth and survival rate of crablet. Treatment C at D-15 gave the best growth compared to treatments A and B. Carapace width for three treatments were A: 8.40 mm different than treatment B: 9.45 mm and C: 9.51 mm, while at D-30 of treatment C: 26.08 mm, treatment B: 25.42 mm and A: 25.96 mm. Survival rate on D-15 for treatment C was higher (60.58%) compared to treatments A: 52.33% and B: 55.83%. Percentage of survival rate on D-30 were A: 4.50%; B: 5.17%; and C: 5.25% respectively.
EVALUASI VARIASI FENOTIPE DAN GENOTIPE POPULASI IKAN TAMBAKAN DARI JAWA BARAT, KALIMANTAN TENGAH, DAN JAMBI DENGAN TRUSS MORFOMETRIK DAN RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHIC DNA (RAPD) Anang Hari Kristanto; Jojo Subagja; Wahyulia Cahyanti; Otong Zenal Arifin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 3 (2017): (September 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.197 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.3.2017.203-211

Abstract

Ikan tambakan (Helostoma temminckii) digemari sebagai ikan konsumsi, di daerah Sumatera dan Kalimantan. Dalam rangka pengembangan budidayanya melalui program domestikasi, informasi terkait variasi fenotipe dan genotipe induk asal perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik fenotipe dan genotipe ikan tambakan dari Jawa Barat, Kalimantan Tengah, dan Jambi. Penelitian dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP), Bogor. Data diperoleh melalui pengukuran jarak bagian tubuh berdasarkan metode truss morphometric dan analisis DNA menggunakan metode RAPD. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai polimorfisme (81,25%) dan heterozigositas (0,3544) tertinggi terdapat pada populasi ikan tambakan asal Kalimantan Tengah. Jarak genetik tertinggi antara populasi Jambi dengan Kalimantan Tengah sebesar 0,1452; sedangkan jarak genetik terendah adalah 0,1044 yaitu antara populasi Jambi dengan Jawa Barat. Berdasarkan uji karakter morfometrik diketahui terdapat 13 karakter yang berbeda nyata yaitu A1, A2, A4, A5, B3, C1, C3, C4, C5, D3, D4, D5, dan D6. Populasi Jambi dengan Jawa Barat memiliki hubungan kekerabatan lebih dekat dibanding dengan populasi Kalimantan Tengah.Kissing gouramy (Helostoma temminckii) is a favored fish for consumption in Sumatra and Kalimantan area. Currently, information related to phenotypic variation and genotypes of the original broodstocks of kissing gouramy is limited to develop the fish’s culture technology through a domestication program. Therefore, the study was conducted to determine the characteristics of phenotype, and genotype of original kissing gouramy broodstocks. The research was conducted at the Institute for Freshwater Aquaculture Research and Development, Bogor. Data collection was carried out by measuring the body length using truss morphometric method and DNA analysis using the RAPD method. The results showed that the highest polymorphism (81.25%) and heterozygosity (0.3544) were found in the Central Kalimantan fish population. The highest genetic distance between Jambi and Central Kalimantan populations was 0.1452, while the lowest genetic distance was 0.1044 between Jambi and West Java population. Based on the trust morphometric measurement, it was identified 13 different characters on A1, A2, A4, A5, B3, C1, C3, C4, C5, D3, D4, D5, and D6. The Jambi and West Java populations are genetically close to each other while the Central Kalimantan population is relatively separated from the two.
PROTEKSI VAKSIN MONOVALEN DAN KOKTAIL SEL UTUH TERHADAP KO-INFEKSI Mycobacterium fortuitum DAN Aeromonas hydrophila PADA IKAN GURAME, Osphronemus gouramy Uni Uni Purwaningsih; Agustin Indrawati; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.793 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.2.2014.283-294

Abstract

Vaksinasi merupakan salah satu upaya aplikatif untuk melindungi ikan terhadapserangan agen patogen. Pemberian vaksin diharapkan dapat merangsang respons imun spesifik dan non spesifik pada ikan. Keberhasilan vaksinasi dipengaruhi oleh konsentrasi antigen, reaksi silang dan kompetisi di antara antigen yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis level proteksi vaksin monovalen dan koktail sel utuh terhadap ko-infeksi M. fortuitum dan A. hydrophila pada ikan gurame. Respons imun perlakuan vaksin monovalen maupun koktail pada gurame pasca ko-infeksi menunjukkan nilai parameter-parameter yaitu: hematokrit, hemoglobin, indeks fagositik, persentase fagositik, titer antibodi, uji respiratory burst (NBT), aktivitas komplemen, dan diferensial leukosit yang berbeda nyata (P<0,05) dibanding kontrol. Vaksin monovalen A. hydrophila menunjukkan nilai RPS sebesar 92,3% dan monovalen M. fortuitum sebesar 78,6% setelah ditantang dengan infeksi tunggal bakteri homolog namun menunjukkan proteksi yang rendah terhadap ko-infeksi. Vaksin koktail 50Mf :50Ah memberikan proteksi yang lebih baik dari vaksin monovalen pasca uji tantang dengan ko-infeksi bakteri M. fortuitum dan A. hydrophila.
KEPADATAN TELUR SEBAGAI INDIKATOR KEMATANGAN GONAD PADA INDUK LOLA (Trochus niloticus) YANG AKAN DIPIJAHKAN Ricky Gimin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1336.04 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.147-156

Abstract

Teknologi pembenihan lola (Trochus niloticus) dibutuhkan untuk pemulihan sediaan alaminya. Dalam rangka memperbaiki teknologi pembenihannya, telah dikembangkan suatu metode yang dapat menentukan tingkat kematangan gonad pada individu betina yang akan dipijahkan tanpa harus membunuh keong ini. Pada segmen ketiga dari puncak cangkang, dibuat suatu lubang berukuran 5 mm x 8 mm menggunakan diamond saw. Melalui lubang tersebut, kepadatan telur pada permukaan gonad individu betina dapat dihitung dengan bantuan square-lattice graticule (grid 1 mm x 1 mm), yang dipasang pada buluh okuler dissecting microscope. Pengamatan kepadatan telur (butir/mm2) dilakukan pada 88 ekor lola betina dewasa (diameter dasar cangkang 65—88 mm). Untuk mencari hubungan antara kepadatan telur dengan tingkat kematangan, setiap individu tersebut dikeluarkan dari cangkangnya dan gonadnya dipisahkan untuk diproses secara histologis. Masing-masing preparat gonad lalu dikelompokkan ke dalam salah satu tingkat kematangan yaitu: aktif awal, aktif, aktif lanjut, dan matang. Kepadatan telur kemudian diplotkan untuk setiap kelompok tingkat kematangan gonad. Uji Kruskal-Wallis memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan nyata (P<0,05) kepadatan telur antar tingkat kematangan gonad. Metode ini mampu membedakan individu pada tingkat kematangan aktif lanjut sampai tingkat matang. Individu yang tergolong aktif lanjut memiliki kepadatan telur berkisar 21 ± 3 butir/mm2, sedangkan yang matang berkisar 29 ± 3 butir/mm2. Pembuatan lubang pada cangkang yang kemudian ditutupi, tidak menyebabkan kematian pada hewan uji. Seluruh lola yang cangkangnya telah dilubangi, lalu ditutupi plastik atau lilin bertahan hidup hingga satu bulan sama seperti lola yang cangkangnya tidak dilubangi. Dengan menerapkan metode ini untuk menyeleksi induk betina yang akan dirangsangpijahkan dengan stimulus suhu, keberhasilan pemijahan secara konsisten dapat mencapai sekitar 60%.Development of hatchery technology for trochus (Trochus niloticus) is required for reseeding of its natural stock. In order to improve its hatchery technique, a new method to determine maturity of trochus females without sacrificing them has been developed. The shell was cut on the third whorl from the apex using diamond saw to make a hole of 5 mm x 8 mm. Through this hole, eggs on the surface of female gonad can be counted using a square-lattice graticule (grid 1mm x 1mm) attached to ocular lens of a dissecting microscope. There were 88 adult trochus (65—88 mm basal shell diameter) subjected to this procedure. To establish relationship between the egg density and maturity, all animals were killed and their gonads were separated and processed for histology. Each gonad slide was grouped into one of maturity stages as follows: early active, active, late active, and ripe. The egg density values were then plotted against the maturity stage. The Kruskal-Wallis test showed that the maturity stage differed significantly (P<0.05) in egg density. This method was only valid to distinguish between late active and ripe gonads. The late active gonad had density of 21±3 eggs/mm2, while ripe had 29±3 eggs/mm2. All individuals whose shells had hole and were then sealed with either plastic film or bee wax survived after one month as  healthy as individuals who did not receive the treatment. By applying this method in selecting female broodstock for temperature induced spawning, spawning success rate can consistently be achieved up to 60%.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025) Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue